22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyalakan Harapan di Tengah Luka Warga yang Menganga

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
January 19, 2026
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

JIKA disimak secara lebih mendalam, bahkan sejak awal tahun 2025 negara tidak absen memberi luka kepada warganya. Tidak tinggal diam, warga negara yang terdiri dari mahasiswa, buruh, aktivis, dan warga sipil turun ke ruang publik (dari jalanan, hingga ruang digital) dengan satu pesan yang sama: mereka tidak lagi diakomodir. Warga negara menuntut dihadirkannya kanal partisipasi yang terlembaga untuk mengakomodir pelbagai aspirasi mereka. Sayangnya, negara merespons aspirasi warga bukan dengan dialog, melainkan direspons secara koersif—barikade aparat, gas air mata, hingga kendaraan rantis seolah tak segan untuk merampas nyawa warga sipil.

Aksi Kolektif Anak Negeri

Fenomena ini jelas harus dibaca sebagai alarm bagi demokrasi di era reformasi. Ditambah lagi, ini dapat dibaca sebagai krisis kemanusiaan dalam perspektif politik. Negara tampak tidak memiliki rasa bersalah atas kebijakan yang diambil, juga pernyataan yang dilontarkan ke muka publik padahal telah berdampak pada hilangnya nyawa warga negara. Tidak hanya kehilangan kanal untuk menyalurkan aspirasi sebagai subjek demokrasi, warga pun harus kehilangan nyawa sebagai konsekuensi atas upaya merawat nalar demokrasi.

Dalam kerangka contentious politics, seperti yang dirumuskan oleh Charles Tilly, aksi kolektif muncul ke permukaan di saat struktur peluang politik semakin menyempit. Alih-alih membungkam perlawanan, negara yang dengan sengaja menutup ruang dialog justru menyuburkan perlawanan publik. Hal ini dibuktikan dengan demonstrasi pada bulan Agustus hingga September lalu. Perlawanan ini bukanlah sebuah anomali, tetapi sebagai konsekuensi dari sistem yang gagal menyerap ketidakpuasan secara institusional.

Sedang menurut Habermas dalam perspektif demokrasi deliberatif, krisis yang dialami Indonesia belakangan ini disebabkan oleh buntunya komunikasi antara negara dan warganya. Dengan sendirinya, kekuasaan kehilangan legitimasi—entitas penting dalam kepemimpinan di sebuah negara demokrasi. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari upaya kekuasaan memaksakan monolog dan menegasikan dialog di ruang publik. Bahasa yang keluar dari pihak pemerintah menjadi teknokratis dan normatif, sementara bahasa warga berangkat dari pengalaman empiris, mulai dari harga pangan, sulitnya mencari pekerjaan, rumitnya menjangkau kesamaan hak di mata hukum, hingga lambannya pemulihan wilayah terdampak bencana yang dirasakan oleh warga terdampak. Ironisnya, dua bahasa tersebut tidak pernah bertemu, sehingga konflik pun tak terhindarkan.

Sayangnya Negara Tidak Belajar dari Sejarah

Tersumbatnya kanal institusional yang semestinya mewadahi aspirasi publik pun pada akhirnya mencari kanal lain. Warga negara tumpah ruah ke jalanan untuk menyampaikan pengalaman empirisnya—kesulitan hidup dan dalam waktu bersamaan menyaksikan begitu banyak pejabat publik melontarkan pernyataan nir-empati. Belum usai luka warga negara pasca aksi kolektif warga negara di bulan Agustus – September (baca: aksi 17 + 8), kekuasaan kembali menempuh jalan yang bertentangan dengan warga. Kali ini, pada peringatan hari Pahlawan Nasional, pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto.

Tidak hanya berhenti di sana, penganugerahan Soeharto sebagai pahlawan nasional juga dibarengi penganugerahan kepada Marsinah. Secara simbolik, keputusan ini terlihat di permukaan sebagai upaya untuk merangkul semua spektrum sejarah masa lalu bangsa. Tetapi, secara politik, apa yang disuguhkan pemerintah jelas sebagai puncak ironi negeri yang ngeri. Di masa orde baru, Soeharto adalah pusat kekuasaan yang bertanggung jawab atas hilangnya nyawa Marsinah. Dan menempatkan keduanya dalam satu bingkai kehormatan tanpa menghadirkan proses keadilan adalah upaya kekuasaan untuk memanipulasi ingatan warganya.

Seolah-olah kekuasaan mencoba untuk mengatakan bahwa semuanya telah berlalu, telah selesai, dan waktunya untuk berdamai. Dan upaya tersebut tidak boleh dibenarkan—harus diingat bahwa pusat kekuasaan rezim orde baru sama sekali tidak diseret ke pengadilan HAM, tidak ada upaya serius dalam pengungkapan kebenaran, termasuk tidak ada pertanggungjawaban di dalamnya.

Inilah politik ingatan yang terus bekerja di bawah bayang-bayang impunitas yang selalu dilakukan oleh penguasa. Stabilitas dan pembangunan jadi prioritas sembari berupaya melupakan kekerasan dan pembungkaman kepada warga negaranya. Dan menjadikan Marsinah sebagai simbol perlawanan atas kejahatan negara terhadap warga negaranya adalah salah satu jalan merawat ingatan kolektif.

Habis Krisis Politik, Terbitlah Krisis Ekologis

Di saat negara tengah sibuk mengatur narasi dan ingatan, di sisi lain, muncul krisis lain yang tidak kalah serius—bencana ekologis di pelbagai wilayah Indonesia, Sumatera jadi salah satu daerah yang menerima dampak sangat serius. Alih-alih memberi tanggapan secara serius, di masa-masa awal, beberapa pejabat publik justru melontarkan pernyataan yang memberi kesan remeh terhadap bencana yang dialami warganya. Dalam perspektif politik lingkungan, apa yang Sumatera, dan secara massive terjadi di daerah lain dapat disebut sebagai bencana kebijakan.

Daya dukung lingkungan terus didorong hingga melampaui batas kemampuannya. Deforestasi, ekspansi industri kreatif, hingga tata kelola ruang yang serampangan terus digenjot dengan mengatasnamakan pertumbuhan ekonomi. Alhasil, ketika batas ekologis ditembus, alam pun merespons dengan menghancurkan dirinya. Barangkali bagi penguasa, kerusakan sistemik yang terpampang nyata di depan mata bukan jadi masalah serius, toh yang jadi korban bukan mereka, tetapi kelompok rentan: petani, masyarakat adat, dan warga desa. Bukankah begitu wahai pejabat yang terhormat?

Meski pelbagai jenis bantuan dan upaya pemulihan di daerah terdampak terus dilakukan, tetapi struktur kebijakan yang menyebabkan terjadinya bencana ekologis, seperti izin-izin tambang, pembukaan tutupan lahan, dan pelbagai proyek-proyek besar tidak pernah benar-benar disentuh dan ditindaklanjuti secara serius. Krisis ekologis ini jelas memperdalam krisis kemanusiaan—sekaligus memperpanjang catatan hitam kemanusiaan dalam negeri.

Refleksi dan Harapan

Indonesia Gelap, Aksi 17+8, Gelar Pahlawan Nasional Soeharto, hingga bencana ekologis Sumatera adalah segelintir kisah kelam di tahun 2025 yang tidak bisa dibaca sebagai rangkaian peristiwa yang terpisah. Seluruh peristiwa tersebut terhubung oleh satu pola, yakni negara telah menjalankan kekuasaan tanpa refleksi dan menegasikan empati. Kekuasaan kini dijalankan hanya dengan berorientasi pada stabilitas simbolik tinimbang menghadapi realitas ketidakadilan yang dihadapi oleh warga negara.

Penguasa lebih memilih bercakap-cakap di depan cermin, tinimbang membuka ruang dialog kepada warganya. Kegagalan dalam menghormati batas-batas kemanusiaan pun diperparah dengan gagalnya negara dalam menghormati batas-batas ekologis yang begitu krusial dalam menentukan masa depan.

Membuka ruang deliberasi seluas-luasnya adalah kebutuhan mendesak yang mesti segera direalisasikan negara—tidak hanya membuka kanal partisipasi kepad warga negara, langkah ini juga upaya untuk negara bercermin, merefleksikan, dan memperbaiki kebijakan selanjutnya. Dan perlu dipahami bahwa demokrasi tidak hidup dalam legitimasi semu, melainkan hidup di tengah keberanian untuk mengakui kesalahan, membuka percakapan, dan melindungi ruang hidup warganya. [T]

Tags: Politikrakyatwarga negara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

Next Post

‘Down in Brazil’: Membawa Kita ke Surga Tropis

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
‘Down in Brazil’: Membawa Kita ke Surga Tropis

'Down in Brazil': Membawa Kita ke Surga Tropis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co