2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyalakan Harapan di Tengah Luka Warga yang Menganga

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
January 19, 2026
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

JIKA disimak secara lebih mendalam, bahkan sejak awal tahun 2025 negara tidak absen memberi luka kepada warganya. Tidak tinggal diam, warga negara yang terdiri dari mahasiswa, buruh, aktivis, dan warga sipil turun ke ruang publik (dari jalanan, hingga ruang digital) dengan satu pesan yang sama: mereka tidak lagi diakomodir. Warga negara menuntut dihadirkannya kanal partisipasi yang terlembaga untuk mengakomodir pelbagai aspirasi mereka. Sayangnya, negara merespons aspirasi warga bukan dengan dialog, melainkan direspons secara koersif—barikade aparat, gas air mata, hingga kendaraan rantis seolah tak segan untuk merampas nyawa warga sipil.

Aksi Kolektif Anak Negeri

Fenomena ini jelas harus dibaca sebagai alarm bagi demokrasi di era reformasi. Ditambah lagi, ini dapat dibaca sebagai krisis kemanusiaan dalam perspektif politik. Negara tampak tidak memiliki rasa bersalah atas kebijakan yang diambil, juga pernyataan yang dilontarkan ke muka publik padahal telah berdampak pada hilangnya nyawa warga negara. Tidak hanya kehilangan kanal untuk menyalurkan aspirasi sebagai subjek demokrasi, warga pun harus kehilangan nyawa sebagai konsekuensi atas upaya merawat nalar demokrasi.

Dalam kerangka contentious politics, seperti yang dirumuskan oleh Charles Tilly, aksi kolektif muncul ke permukaan di saat struktur peluang politik semakin menyempit. Alih-alih membungkam perlawanan, negara yang dengan sengaja menutup ruang dialog justru menyuburkan perlawanan publik. Hal ini dibuktikan dengan demonstrasi pada bulan Agustus hingga September lalu. Perlawanan ini bukanlah sebuah anomali, tetapi sebagai konsekuensi dari sistem yang gagal menyerap ketidakpuasan secara institusional.

Sedang menurut Habermas dalam perspektif demokrasi deliberatif, krisis yang dialami Indonesia belakangan ini disebabkan oleh buntunya komunikasi antara negara dan warganya. Dengan sendirinya, kekuasaan kehilangan legitimasi—entitas penting dalam kepemimpinan di sebuah negara demokrasi. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari upaya kekuasaan memaksakan monolog dan menegasikan dialog di ruang publik. Bahasa yang keluar dari pihak pemerintah menjadi teknokratis dan normatif, sementara bahasa warga berangkat dari pengalaman empiris, mulai dari harga pangan, sulitnya mencari pekerjaan, rumitnya menjangkau kesamaan hak di mata hukum, hingga lambannya pemulihan wilayah terdampak bencana yang dirasakan oleh warga terdampak. Ironisnya, dua bahasa tersebut tidak pernah bertemu, sehingga konflik pun tak terhindarkan.

Sayangnya Negara Tidak Belajar dari Sejarah

Tersumbatnya kanal institusional yang semestinya mewadahi aspirasi publik pun pada akhirnya mencari kanal lain. Warga negara tumpah ruah ke jalanan untuk menyampaikan pengalaman empirisnya—kesulitan hidup dan dalam waktu bersamaan menyaksikan begitu banyak pejabat publik melontarkan pernyataan nir-empati. Belum usai luka warga negara pasca aksi kolektif warga negara di bulan Agustus – September (baca: aksi 17 + 8), kekuasaan kembali menempuh jalan yang bertentangan dengan warga. Kali ini, pada peringatan hari Pahlawan Nasional, pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto.

Tidak hanya berhenti di sana, penganugerahan Soeharto sebagai pahlawan nasional juga dibarengi penganugerahan kepada Marsinah. Secara simbolik, keputusan ini terlihat di permukaan sebagai upaya untuk merangkul semua spektrum sejarah masa lalu bangsa. Tetapi, secara politik, apa yang disuguhkan pemerintah jelas sebagai puncak ironi negeri yang ngeri. Di masa orde baru, Soeharto adalah pusat kekuasaan yang bertanggung jawab atas hilangnya nyawa Marsinah. Dan menempatkan keduanya dalam satu bingkai kehormatan tanpa menghadirkan proses keadilan adalah upaya kekuasaan untuk memanipulasi ingatan warganya.

Seolah-olah kekuasaan mencoba untuk mengatakan bahwa semuanya telah berlalu, telah selesai, dan waktunya untuk berdamai. Dan upaya tersebut tidak boleh dibenarkan—harus diingat bahwa pusat kekuasaan rezim orde baru sama sekali tidak diseret ke pengadilan HAM, tidak ada upaya serius dalam pengungkapan kebenaran, termasuk tidak ada pertanggungjawaban di dalamnya.

Inilah politik ingatan yang terus bekerja di bawah bayang-bayang impunitas yang selalu dilakukan oleh penguasa. Stabilitas dan pembangunan jadi prioritas sembari berupaya melupakan kekerasan dan pembungkaman kepada warga negaranya. Dan menjadikan Marsinah sebagai simbol perlawanan atas kejahatan negara terhadap warga negaranya adalah salah satu jalan merawat ingatan kolektif.

Habis Krisis Politik, Terbitlah Krisis Ekologis

Di saat negara tengah sibuk mengatur narasi dan ingatan, di sisi lain, muncul krisis lain yang tidak kalah serius—bencana ekologis di pelbagai wilayah Indonesia, Sumatera jadi salah satu daerah yang menerima dampak sangat serius. Alih-alih memberi tanggapan secara serius, di masa-masa awal, beberapa pejabat publik justru melontarkan pernyataan yang memberi kesan remeh terhadap bencana yang dialami warganya. Dalam perspektif politik lingkungan, apa yang Sumatera, dan secara massive terjadi di daerah lain dapat disebut sebagai bencana kebijakan.

Daya dukung lingkungan terus didorong hingga melampaui batas kemampuannya. Deforestasi, ekspansi industri kreatif, hingga tata kelola ruang yang serampangan terus digenjot dengan mengatasnamakan pertumbuhan ekonomi. Alhasil, ketika batas ekologis ditembus, alam pun merespons dengan menghancurkan dirinya. Barangkali bagi penguasa, kerusakan sistemik yang terpampang nyata di depan mata bukan jadi masalah serius, toh yang jadi korban bukan mereka, tetapi kelompok rentan: petani, masyarakat adat, dan warga desa. Bukankah begitu wahai pejabat yang terhormat?

Meski pelbagai jenis bantuan dan upaya pemulihan di daerah terdampak terus dilakukan, tetapi struktur kebijakan yang menyebabkan terjadinya bencana ekologis, seperti izin-izin tambang, pembukaan tutupan lahan, dan pelbagai proyek-proyek besar tidak pernah benar-benar disentuh dan ditindaklanjuti secara serius. Krisis ekologis ini jelas memperdalam krisis kemanusiaan—sekaligus memperpanjang catatan hitam kemanusiaan dalam negeri.

Refleksi dan Harapan

Indonesia Gelap, Aksi 17+8, Gelar Pahlawan Nasional Soeharto, hingga bencana ekologis Sumatera adalah segelintir kisah kelam di tahun 2025 yang tidak bisa dibaca sebagai rangkaian peristiwa yang terpisah. Seluruh peristiwa tersebut terhubung oleh satu pola, yakni negara telah menjalankan kekuasaan tanpa refleksi dan menegasikan empati. Kekuasaan kini dijalankan hanya dengan berorientasi pada stabilitas simbolik tinimbang menghadapi realitas ketidakadilan yang dihadapi oleh warga negara.

Penguasa lebih memilih bercakap-cakap di depan cermin, tinimbang membuka ruang dialog kepada warganya. Kegagalan dalam menghormati batas-batas kemanusiaan pun diperparah dengan gagalnya negara dalam menghormati batas-batas ekologis yang begitu krusial dalam menentukan masa depan.

Membuka ruang deliberasi seluas-luasnya adalah kebutuhan mendesak yang mesti segera direalisasikan negara—tidak hanya membuka kanal partisipasi kepad warga negara, langkah ini juga upaya untuk negara bercermin, merefleksikan, dan memperbaiki kebijakan selanjutnya. Dan perlu dipahami bahwa demokrasi tidak hidup dalam legitimasi semu, melainkan hidup di tengah keberanian untuk mengakui kesalahan, membuka percakapan, dan melindungi ruang hidup warganya. [T]

Tags: Politikrakyatwarga negara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

Next Post

‘Down in Brazil’: Membawa Kita ke Surga Tropis

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
‘Down in Brazil’: Membawa Kita ke Surga Tropis

'Down in Brazil': Membawa Kita ke Surga Tropis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co