2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyalakan Harapan di Tengah Luka Warga yang Menganga

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
January 19, 2026
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

JIKA disimak secara lebih mendalam, bahkan sejak awal tahun 2025 negara tidak absen memberi luka kepada warganya. Tidak tinggal diam, warga negara yang terdiri dari mahasiswa, buruh, aktivis, dan warga sipil turun ke ruang publik (dari jalanan, hingga ruang digital) dengan satu pesan yang sama: mereka tidak lagi diakomodir. Warga negara menuntut dihadirkannya kanal partisipasi yang terlembaga untuk mengakomodir pelbagai aspirasi mereka. Sayangnya, negara merespons aspirasi warga bukan dengan dialog, melainkan direspons secara koersif—barikade aparat, gas air mata, hingga kendaraan rantis seolah tak segan untuk merampas nyawa warga sipil.

Aksi Kolektif Anak Negeri

Fenomena ini jelas harus dibaca sebagai alarm bagi demokrasi di era reformasi. Ditambah lagi, ini dapat dibaca sebagai krisis kemanusiaan dalam perspektif politik. Negara tampak tidak memiliki rasa bersalah atas kebijakan yang diambil, juga pernyataan yang dilontarkan ke muka publik padahal telah berdampak pada hilangnya nyawa warga negara. Tidak hanya kehilangan kanal untuk menyalurkan aspirasi sebagai subjek demokrasi, warga pun harus kehilangan nyawa sebagai konsekuensi atas upaya merawat nalar demokrasi.

Dalam kerangka contentious politics, seperti yang dirumuskan oleh Charles Tilly, aksi kolektif muncul ke permukaan di saat struktur peluang politik semakin menyempit. Alih-alih membungkam perlawanan, negara yang dengan sengaja menutup ruang dialog justru menyuburkan perlawanan publik. Hal ini dibuktikan dengan demonstrasi pada bulan Agustus hingga September lalu. Perlawanan ini bukanlah sebuah anomali, tetapi sebagai konsekuensi dari sistem yang gagal menyerap ketidakpuasan secara institusional.

Sedang menurut Habermas dalam perspektif demokrasi deliberatif, krisis yang dialami Indonesia belakangan ini disebabkan oleh buntunya komunikasi antara negara dan warganya. Dengan sendirinya, kekuasaan kehilangan legitimasi—entitas penting dalam kepemimpinan di sebuah negara demokrasi. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari upaya kekuasaan memaksakan monolog dan menegasikan dialog di ruang publik. Bahasa yang keluar dari pihak pemerintah menjadi teknokratis dan normatif, sementara bahasa warga berangkat dari pengalaman empiris, mulai dari harga pangan, sulitnya mencari pekerjaan, rumitnya menjangkau kesamaan hak di mata hukum, hingga lambannya pemulihan wilayah terdampak bencana yang dirasakan oleh warga terdampak. Ironisnya, dua bahasa tersebut tidak pernah bertemu, sehingga konflik pun tak terhindarkan.

Sayangnya Negara Tidak Belajar dari Sejarah

Tersumbatnya kanal institusional yang semestinya mewadahi aspirasi publik pun pada akhirnya mencari kanal lain. Warga negara tumpah ruah ke jalanan untuk menyampaikan pengalaman empirisnya—kesulitan hidup dan dalam waktu bersamaan menyaksikan begitu banyak pejabat publik melontarkan pernyataan nir-empati. Belum usai luka warga negara pasca aksi kolektif warga negara di bulan Agustus – September (baca: aksi 17 + 8), kekuasaan kembali menempuh jalan yang bertentangan dengan warga. Kali ini, pada peringatan hari Pahlawan Nasional, pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto.

Tidak hanya berhenti di sana, penganugerahan Soeharto sebagai pahlawan nasional juga dibarengi penganugerahan kepada Marsinah. Secara simbolik, keputusan ini terlihat di permukaan sebagai upaya untuk merangkul semua spektrum sejarah masa lalu bangsa. Tetapi, secara politik, apa yang disuguhkan pemerintah jelas sebagai puncak ironi negeri yang ngeri. Di masa orde baru, Soeharto adalah pusat kekuasaan yang bertanggung jawab atas hilangnya nyawa Marsinah. Dan menempatkan keduanya dalam satu bingkai kehormatan tanpa menghadirkan proses keadilan adalah upaya kekuasaan untuk memanipulasi ingatan warganya.

Seolah-olah kekuasaan mencoba untuk mengatakan bahwa semuanya telah berlalu, telah selesai, dan waktunya untuk berdamai. Dan upaya tersebut tidak boleh dibenarkan—harus diingat bahwa pusat kekuasaan rezim orde baru sama sekali tidak diseret ke pengadilan HAM, tidak ada upaya serius dalam pengungkapan kebenaran, termasuk tidak ada pertanggungjawaban di dalamnya.

Inilah politik ingatan yang terus bekerja di bawah bayang-bayang impunitas yang selalu dilakukan oleh penguasa. Stabilitas dan pembangunan jadi prioritas sembari berupaya melupakan kekerasan dan pembungkaman kepada warga negaranya. Dan menjadikan Marsinah sebagai simbol perlawanan atas kejahatan negara terhadap warga negaranya adalah salah satu jalan merawat ingatan kolektif.

Habis Krisis Politik, Terbitlah Krisis Ekologis

Di saat negara tengah sibuk mengatur narasi dan ingatan, di sisi lain, muncul krisis lain yang tidak kalah serius—bencana ekologis di pelbagai wilayah Indonesia, Sumatera jadi salah satu daerah yang menerima dampak sangat serius. Alih-alih memberi tanggapan secara serius, di masa-masa awal, beberapa pejabat publik justru melontarkan pernyataan yang memberi kesan remeh terhadap bencana yang dialami warganya. Dalam perspektif politik lingkungan, apa yang Sumatera, dan secara massive terjadi di daerah lain dapat disebut sebagai bencana kebijakan.

Daya dukung lingkungan terus didorong hingga melampaui batas kemampuannya. Deforestasi, ekspansi industri kreatif, hingga tata kelola ruang yang serampangan terus digenjot dengan mengatasnamakan pertumbuhan ekonomi. Alhasil, ketika batas ekologis ditembus, alam pun merespons dengan menghancurkan dirinya. Barangkali bagi penguasa, kerusakan sistemik yang terpampang nyata di depan mata bukan jadi masalah serius, toh yang jadi korban bukan mereka, tetapi kelompok rentan: petani, masyarakat adat, dan warga desa. Bukankah begitu wahai pejabat yang terhormat?

Meski pelbagai jenis bantuan dan upaya pemulihan di daerah terdampak terus dilakukan, tetapi struktur kebijakan yang menyebabkan terjadinya bencana ekologis, seperti izin-izin tambang, pembukaan tutupan lahan, dan pelbagai proyek-proyek besar tidak pernah benar-benar disentuh dan ditindaklanjuti secara serius. Krisis ekologis ini jelas memperdalam krisis kemanusiaan—sekaligus memperpanjang catatan hitam kemanusiaan dalam negeri.

Refleksi dan Harapan

Indonesia Gelap, Aksi 17+8, Gelar Pahlawan Nasional Soeharto, hingga bencana ekologis Sumatera adalah segelintir kisah kelam di tahun 2025 yang tidak bisa dibaca sebagai rangkaian peristiwa yang terpisah. Seluruh peristiwa tersebut terhubung oleh satu pola, yakni negara telah menjalankan kekuasaan tanpa refleksi dan menegasikan empati. Kekuasaan kini dijalankan hanya dengan berorientasi pada stabilitas simbolik tinimbang menghadapi realitas ketidakadilan yang dihadapi oleh warga negara.

Penguasa lebih memilih bercakap-cakap di depan cermin, tinimbang membuka ruang dialog kepada warganya. Kegagalan dalam menghormati batas-batas kemanusiaan pun diperparah dengan gagalnya negara dalam menghormati batas-batas ekologis yang begitu krusial dalam menentukan masa depan.

Membuka ruang deliberasi seluas-luasnya adalah kebutuhan mendesak yang mesti segera direalisasikan negara—tidak hanya membuka kanal partisipasi kepad warga negara, langkah ini juga upaya untuk negara bercermin, merefleksikan, dan memperbaiki kebijakan selanjutnya. Dan perlu dipahami bahwa demokrasi tidak hidup dalam legitimasi semu, melainkan hidup di tengah keberanian untuk mengakui kesalahan, membuka percakapan, dan melindungi ruang hidup warganya. [T]

Tags: Politikrakyatwarga negara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

Next Post

‘Down in Brazil’: Membawa Kita ke Surga Tropis

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
‘Down in Brazil’: Membawa Kita ke Surga Tropis

'Down in Brazil': Membawa Kita ke Surga Tropis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co