23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
August 13, 2022
in Cerpen
Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

Temanku, Nengah Sukerta, sangat menyukai keris.

“Memiliki keris, lebih berharga dari mempunyai uang, membuat tidurku nyenyak!” Begitu kata Nengah Sukerta sambil tergelak tertawa.

Yah, tak jelas apa yang membuatnya tertawa, aku tak pernah tahu pasti. Entah apa yang dia harapkan dari keris-keris itu, aku tak pernah paham. 

“Pokoknya…. suka! Aku sangat menyukai keris, tak perlu alasan apa pun!” Kata-katanya selalu pedas kalau aku bertanya. 

Kalau dipikir-pikir boleh-boleh saja Nengah Sukerta sangat menyukai keris. Pada saat kondisi dunia sulit seperti saat ini, dagangan Nengah Sukarta semakin banyak, kekayaannya juga makin berlimpah. Ya, kaya raya begitu orang menyebutnya. 

Berbeda dengan orang kaya pada umumnya, Nengah Sukerta tidak menunjukkannya dengan memamerkan motor di garasenya. Ia juga tidak mencari banyak istri. Yang selalu ia cari adalah keris. Di manapun ia mendengar ada yang menjual keris angker, sakti, dikejarnya. Jatuh bangun ia mengejar sampai meninggalkan pekerjaan.

Di manapun ia mendengar ada orang yang pandai membuat keris bertuah, dicarinya. Diupah agar membuatkannya keris. Tetapi sekian lama aku berteman dengannya, begitu banyaknya Nengah Sukerta memiliki keris yang katanya sakti, tak ada yang aku lihat terbukti kesaktiannya. Secuil pun, tak pernah terbukti. Yang kudengar hanya sebatas sakti katanya, bisa begini, bisa begitu katanya. 

Kemarin malam, sekitar jam sebelas aku dijemput. 

“Yan, mari ikut pergi, ” katanya.

Aku belum sepakat, diseretnya tanganku. 

“Jangan lagi bilang begini begitu, kamu ikut saja, ada keris sakti sekali. Tetapi harus dimohonkan jam dua belas malam, baru akan muncul tuahnya,” kata Nengah Sukerta, sambil berbisik di telinga kananku. 

Seperti biasanya, aku hanya diam, tak memberi jawaban. Kubiarkan Nengah Sukerta bercerita berbusa-busa, menjelaskan kehebatan keris itu. 

“Keris itu bernama keris Nagapasha, dibuat oleh Mpu Bhaja dari Kerajaan Daha. Itu lho, jaman Erlangga menjadi raja di Kediri, kan kerajaannya dibelah dua menjadi Daha dan Jenggala. Keris ini katanya keris pusaka Raja Daha.” Semangat sekali Nengah Sukerta menjelaskan. 

Sambil menyetir mobil Hartop-nya, sepertinya sudah panjang lebar ia bercerita. Entah sampai di mana ceritanya, terdengar lagi, hilang lagi, terdengar lagi, hilang lagi. 

Aku kaget saat mobil berhenti. 

“Yan, bangun, sudah sampai,” kata Nengah Sukerta.

Telingaku terasa panas. Aku bangun mengusap-usap mata.  “Di mana ini, Bli, kenapa gelap gulita?” bisikku sambil meraba-raba. 

“Di kuburan Madura,” jawabnya.

Dari nada bicaranya, kutangkap ia merasa takut, seperti gemetar. 

“Lalu mencari siapa, Bli? Kenapa tak ada orang?” tanyaku halus, sambil tolah-toleh. Aku tak melihat siapa-siapa. Hanya ada pohon randu besar, dan daunnya yang bertumpukan hitam. 

“Yan, kamu turunlah dahulu!” Ia memberi perintah.

Aku pun turun dari mobil. 

“Kemarilah…!”

Lagi Nengah Sukerta memerintahkanku agar mendekati jendela mobil tempatnya duduk. Kudengar suara berisik. Dari bagian belakang mobilnya, ia mengeluarkan canang, daksina dan keris. 

“Ini tolong Bli, Yan. Ini keris Nagapasha itu, kudapatkan di Jawa, tapi sekarang hilang tuahnya karena tidak dirawat dan diupacarai. Sekarang beri sajian dan hidupkan ya. Bli tak berani!” Begitu kata Nengah Sukerta sambil menyerahkan banten dan keris itu.

Aku bingung tak bisa berkata apa-apa. Aku tak pernah melakukan  pekerjaan aneh seperti ini. Kalau sebatas melintas tengah malam di tengah kuburan aku pernah lakukan. Melewati tempat yang dikatakan angker aku tidaklah takut karena aku merasa tak pernah berniat buruk. Karena aku selalu ingat akan keberadaan Tuhan yang menciptakan  segala yang ada di dunia, yang baik maupun yang buruk. Tapi kalau diminta menghidupkan tuah keris dengan sarana canang dan daksina, yahh aku tak pernah. Merasa tidak bisa, tapi bukannya tidak berani. 

“Kumohon tolonglah, Yan!” Kembali Nengah Sukerta minta tolong dari dalam mobil. 

Kutenangkan diri. Bukannya aku tak mau menolong, tapi apa yang aku katakan, aku tidak bisa mengucapkan mantra. Kalau bicara seperti biasa aku bisa. 

“Mohon saja kehadapan Sanghyang Pasupati yang berstana di sini agar tuah keris ini kembali seperti sedia kala,” seru Nengah Sukerta

Aku mengangguk. Anggukanku pasti tak jelas dilihat oleh Nengah Sukerta. Kuheningkan pikiran dan perasaan, menghaturkan daksina juga canang dan meletakan keris itu di sampingnya. 

Apapun yang diperintahkan oleh Nengah Sukerta kuikuti. Tetapi sebelum mengucapkan permohonan aku minta maaf terlebih dahulu karena hanya membantu Nengah Sukerta. 

“Tuhan ampunilah kebodohan hamba, hamba mohon pengampunan atas kebodohan hamba. Hamba hanya utusan yang dimintakan untuk memohon agar isi dan kekuatan keris Nagapasha ini kembali seperti semula!” Demikian permohonan bodohku. 

Ada tiga puluh menit aku bertahan di atas gundukan tanah tempat pembakaran mayat di kuburan itu. Kalau ada yang lewat pasti aku akan disangka sedang mempraktekkan  ilmu hitam. Kakiku terasa pegal. Aku menoleh. Nengah Sukerta hanya diam, seperti bisu tuli. Aku sudah merasa capek bersila di gundukan pembakaran mayat itu, ya akhirnya kuputuskan sendiri untuk permisi, memohon diri dan berterima kasih. Ya, kuanggap saja permohonan Nengah Sukerta yang aku wakili diterima. Nengah Sukerta kaget melihat aku kembali ke mobil. 

“Yah sudah selesai Yan, kok cepat sekali?” tanya Nengah Sukerta. 

“Sudah, Bli, sudah dari tadi. Kenapa juga lama-lama, kan permintaannya sedikit, bantennya juga sedikit, ” jawabku.

Sejatinya aku hanya ingin cepat pulang, di mata terbayang tempat tidurku. Mataku terasa berat, sangat mengantuk, ya jangan-jangan mimpiku sudah hadir di sana.

Pulang dari kuburan, aku langsung diantar pulang. Suara Nengah Sukerta yang berkali-kali mengucapkan terima kasih, tak kuhiraukan. Yang kuinginkan hanya satu. Tidur dan berkelana ke alam mimpi. 

Matahari makin panas, menusuk kaca jendela kamar. Baru saja aku berusaha membuka mata, kudengar suara Nengah Sukerta. 

“Yan, keluarlah, ada yang ingin Bli tanyakan,” katanya tergesa.

Aku bangun, membuka pintu. Baru sebelah kakiku ke luar pintu, seketika bersujud Nengah Sukerta di kakiku. 

“Aduh, Yan, kamu tidak apa-apa kan? Benar-benar sakti keris itu. Kemarin saat kembali dari mengantar kamu, Bli baru saja bersiap tidur. Seketika keris itu hidup, bersinar, terang benderang, setelah itu keris berubah menjadi ular. Bli hampir dipatuk. Karena teramat takut, agar Bli tidak dipatuk, lantas Bli katakan saja kalau Wayan yang menghidupkan keris itu, agar Wayan yang dicari. Lantas ular itu pergi. Keris itu juga hilang. Apa Wayan tidak dicari?  Aduh, Wayan, maafkanlah kesalahan Bli!” Demikian kata Nengah Sukerta sambil menangis minta maaf.

Aku bingung, sesak, dadaku terasa penuh. Sudah mau menolong, malah bisa kena celaka. Kubiarkan Nengah Sukerta menguras air matanya di kakiku. 

“Bli takut sekali, mulai sekarang Bli tak lagi mencari keris yang benar-benar sakti, lebih baik Bli menjadi pedagang keris antik saja,” janji Nengah Sukerta. 

Sesudah Nengah Sukerta pulang, aku kembali masuk kamar, bukannya aku ingin tidur lagi. Aku hanya ingin mengingat-ngingat kembali mimpiku semalam. Kedua tangan kulipat di atas bantal, lalu kujadikan alas kepala. Lama kelamaan kurasakan keanehan, bantalku kasar dan keras. Seperti ada yang menonjol di sana. Kuraba-raba. Kupegang, kukeluarkan. Aku kaget, keris Nagapasha itu ada di bawah bantalku.[T]

  • Catatan: Cerpen ini adalah terjemahan dari cerpen berbahasa Bali yang berjudul Keris, diambil dari buku Luh Jalir yang diterbitkan Pustaka Tarukan Agung (2008). Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Made Adnyana Ole

_____

Baca cerpen-cerpen lain

Mahar Nikah Paling Mahal | Cerpen Ni Wayan Wijayanti
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Ni Wayan Kristina | Lenyap, Sudut Jendela Surga

Next Post

SMAN 1 Singaraja Juara | Bupati Suradnyana: Lanjutkan Tradisi Gerak Jalan 45 Kilometer

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
SMAN 1 Singaraja Juara | Bupati Suradnyana: Lanjutkan Tradisi Gerak Jalan 45 Kilometer

SMAN 1 Singaraja Juara | Bupati Suradnyana: Lanjutkan Tradisi Gerak Jalan 45 Kilometer

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co