24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
August 13, 2022
in Cerpen
Keris | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

Temanku, Nengah Sukerta, sangat menyukai keris.

“Memiliki keris, lebih berharga dari mempunyai uang, membuat tidurku nyenyak!” Begitu kata Nengah Sukerta sambil tergelak tertawa.

Yah, tak jelas apa yang membuatnya tertawa, aku tak pernah tahu pasti. Entah apa yang dia harapkan dari keris-keris itu, aku tak pernah paham. 

“Pokoknya…. suka! Aku sangat menyukai keris, tak perlu alasan apa pun!” Kata-katanya selalu pedas kalau aku bertanya. 

Kalau dipikir-pikir boleh-boleh saja Nengah Sukerta sangat menyukai keris. Pada saat kondisi dunia sulit seperti saat ini, dagangan Nengah Sukarta semakin banyak, kekayaannya juga makin berlimpah. Ya, kaya raya begitu orang menyebutnya. 

Berbeda dengan orang kaya pada umumnya, Nengah Sukerta tidak menunjukkannya dengan memamerkan motor di garasenya. Ia juga tidak mencari banyak istri. Yang selalu ia cari adalah keris. Di manapun ia mendengar ada yang menjual keris angker, sakti, dikejarnya. Jatuh bangun ia mengejar sampai meninggalkan pekerjaan.

Di manapun ia mendengar ada orang yang pandai membuat keris bertuah, dicarinya. Diupah agar membuatkannya keris. Tetapi sekian lama aku berteman dengannya, begitu banyaknya Nengah Sukerta memiliki keris yang katanya sakti, tak ada yang aku lihat terbukti kesaktiannya. Secuil pun, tak pernah terbukti. Yang kudengar hanya sebatas sakti katanya, bisa begini, bisa begitu katanya. 

Kemarin malam, sekitar jam sebelas aku dijemput. 

“Yan, mari ikut pergi, ” katanya.

Aku belum sepakat, diseretnya tanganku. 

“Jangan lagi bilang begini begitu, kamu ikut saja, ada keris sakti sekali. Tetapi harus dimohonkan jam dua belas malam, baru akan muncul tuahnya,” kata Nengah Sukerta, sambil berbisik di telinga kananku. 

Seperti biasanya, aku hanya diam, tak memberi jawaban. Kubiarkan Nengah Sukerta bercerita berbusa-busa, menjelaskan kehebatan keris itu. 

“Keris itu bernama keris Nagapasha, dibuat oleh Mpu Bhaja dari Kerajaan Daha. Itu lho, jaman Erlangga menjadi raja di Kediri, kan kerajaannya dibelah dua menjadi Daha dan Jenggala. Keris ini katanya keris pusaka Raja Daha.” Semangat sekali Nengah Sukerta menjelaskan. 

Sambil menyetir mobil Hartop-nya, sepertinya sudah panjang lebar ia bercerita. Entah sampai di mana ceritanya, terdengar lagi, hilang lagi, terdengar lagi, hilang lagi. 

Aku kaget saat mobil berhenti. 

“Yan, bangun, sudah sampai,” kata Nengah Sukerta.

Telingaku terasa panas. Aku bangun mengusap-usap mata.  “Di mana ini, Bli, kenapa gelap gulita?” bisikku sambil meraba-raba. 

“Di kuburan Madura,” jawabnya.

Dari nada bicaranya, kutangkap ia merasa takut, seperti gemetar. 

“Lalu mencari siapa, Bli? Kenapa tak ada orang?” tanyaku halus, sambil tolah-toleh. Aku tak melihat siapa-siapa. Hanya ada pohon randu besar, dan daunnya yang bertumpukan hitam. 

“Yan, kamu turunlah dahulu!” Ia memberi perintah.

Aku pun turun dari mobil. 

“Kemarilah…!”

Lagi Nengah Sukerta memerintahkanku agar mendekati jendela mobil tempatnya duduk. Kudengar suara berisik. Dari bagian belakang mobilnya, ia mengeluarkan canang, daksina dan keris. 

“Ini tolong Bli, Yan. Ini keris Nagapasha itu, kudapatkan di Jawa, tapi sekarang hilang tuahnya karena tidak dirawat dan diupacarai. Sekarang beri sajian dan hidupkan ya. Bli tak berani!” Begitu kata Nengah Sukerta sambil menyerahkan banten dan keris itu.

Aku bingung tak bisa berkata apa-apa. Aku tak pernah melakukan  pekerjaan aneh seperti ini. Kalau sebatas melintas tengah malam di tengah kuburan aku pernah lakukan. Melewati tempat yang dikatakan angker aku tidaklah takut karena aku merasa tak pernah berniat buruk. Karena aku selalu ingat akan keberadaan Tuhan yang menciptakan  segala yang ada di dunia, yang baik maupun yang buruk. Tapi kalau diminta menghidupkan tuah keris dengan sarana canang dan daksina, yahh aku tak pernah. Merasa tidak bisa, tapi bukannya tidak berani. 

“Kumohon tolonglah, Yan!” Kembali Nengah Sukerta minta tolong dari dalam mobil. 

Kutenangkan diri. Bukannya aku tak mau menolong, tapi apa yang aku katakan, aku tidak bisa mengucapkan mantra. Kalau bicara seperti biasa aku bisa. 

“Mohon saja kehadapan Sanghyang Pasupati yang berstana di sini agar tuah keris ini kembali seperti sedia kala,” seru Nengah Sukerta

Aku mengangguk. Anggukanku pasti tak jelas dilihat oleh Nengah Sukerta. Kuheningkan pikiran dan perasaan, menghaturkan daksina juga canang dan meletakan keris itu di sampingnya. 

Apapun yang diperintahkan oleh Nengah Sukerta kuikuti. Tetapi sebelum mengucapkan permohonan aku minta maaf terlebih dahulu karena hanya membantu Nengah Sukerta. 

“Tuhan ampunilah kebodohan hamba, hamba mohon pengampunan atas kebodohan hamba. Hamba hanya utusan yang dimintakan untuk memohon agar isi dan kekuatan keris Nagapasha ini kembali seperti semula!” Demikian permohonan bodohku. 

Ada tiga puluh menit aku bertahan di atas gundukan tanah tempat pembakaran mayat di kuburan itu. Kalau ada yang lewat pasti aku akan disangka sedang mempraktekkan  ilmu hitam. Kakiku terasa pegal. Aku menoleh. Nengah Sukerta hanya diam, seperti bisu tuli. Aku sudah merasa capek bersila di gundukan pembakaran mayat itu, ya akhirnya kuputuskan sendiri untuk permisi, memohon diri dan berterima kasih. Ya, kuanggap saja permohonan Nengah Sukerta yang aku wakili diterima. Nengah Sukerta kaget melihat aku kembali ke mobil. 

“Yah sudah selesai Yan, kok cepat sekali?” tanya Nengah Sukerta. 

“Sudah, Bli, sudah dari tadi. Kenapa juga lama-lama, kan permintaannya sedikit, bantennya juga sedikit, ” jawabku.

Sejatinya aku hanya ingin cepat pulang, di mata terbayang tempat tidurku. Mataku terasa berat, sangat mengantuk, ya jangan-jangan mimpiku sudah hadir di sana.

Pulang dari kuburan, aku langsung diantar pulang. Suara Nengah Sukerta yang berkali-kali mengucapkan terima kasih, tak kuhiraukan. Yang kuinginkan hanya satu. Tidur dan berkelana ke alam mimpi. 

Matahari makin panas, menusuk kaca jendela kamar. Baru saja aku berusaha membuka mata, kudengar suara Nengah Sukerta. 

“Yan, keluarlah, ada yang ingin Bli tanyakan,” katanya tergesa.

Aku bangun, membuka pintu. Baru sebelah kakiku ke luar pintu, seketika bersujud Nengah Sukerta di kakiku. 

“Aduh, Yan, kamu tidak apa-apa kan? Benar-benar sakti keris itu. Kemarin saat kembali dari mengantar kamu, Bli baru saja bersiap tidur. Seketika keris itu hidup, bersinar, terang benderang, setelah itu keris berubah menjadi ular. Bli hampir dipatuk. Karena teramat takut, agar Bli tidak dipatuk, lantas Bli katakan saja kalau Wayan yang menghidupkan keris itu, agar Wayan yang dicari. Lantas ular itu pergi. Keris itu juga hilang. Apa Wayan tidak dicari?  Aduh, Wayan, maafkanlah kesalahan Bli!” Demikian kata Nengah Sukerta sambil menangis minta maaf.

Aku bingung, sesak, dadaku terasa penuh. Sudah mau menolong, malah bisa kena celaka. Kubiarkan Nengah Sukerta menguras air matanya di kakiku. 

“Bli takut sekali, mulai sekarang Bli tak lagi mencari keris yang benar-benar sakti, lebih baik Bli menjadi pedagang keris antik saja,” janji Nengah Sukerta. 

Sesudah Nengah Sukerta pulang, aku kembali masuk kamar, bukannya aku ingin tidur lagi. Aku hanya ingin mengingat-ngingat kembali mimpiku semalam. Kedua tangan kulipat di atas bantal, lalu kujadikan alas kepala. Lama kelamaan kurasakan keanehan, bantalku kasar dan keras. Seperti ada yang menonjol di sana. Kuraba-raba. Kupegang, kukeluarkan. Aku kaget, keris Nagapasha itu ada di bawah bantalku.[T]

  • Catatan: Cerpen ini adalah terjemahan dari cerpen berbahasa Bali yang berjudul Keris, diambil dari buku Luh Jalir yang diterbitkan Pustaka Tarukan Agung (2008). Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Made Adnyana Ole

_____

Baca cerpen-cerpen lain

Mahar Nikah Paling Mahal | Cerpen Ni Wayan Wijayanti
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Ni Wayan Kristina | Lenyap, Sudut Jendela Surga

Next Post

SMAN 1 Singaraja Juara | Bupati Suradnyana: Lanjutkan Tradisi Gerak Jalan 45 Kilometer

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
SMAN 1 Singaraja Juara | Bupati Suradnyana: Lanjutkan Tradisi Gerak Jalan 45 Kilometer

SMAN 1 Singaraja Juara | Bupati Suradnyana: Lanjutkan Tradisi Gerak Jalan 45 Kilometer

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co