24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Glamping, Staycation, Instagrammable, Babymoon: Leksikon Baru Dalam Geliat Pariwisata Ekonomi Kreatif

Luh Eka Susanti by Luh Eka Susanti
March 28, 2022
in Opini
Glamping, Staycation, Instagrammable, Babymoon: Leksikon Baru Dalam Geliat Pariwisata Ekonomi Kreatif

Foto/ilustrasi tatkala.co | Mursal Buyung

Salam Pariwisata

Salam Hangat dari Bali!

Glamping. Van-Camper. Staycation. Instagrammable. Babymoon.

Istilah-istilah tersebut sudah tidak asing lagi bagi pelaku pariwisata di Indonesia khususnya di Bali. Istilah yang sebelumnya asing terdengar, kini sudah merajalela bahkan sudah menjadi hal yang lumrah dan biasa untuk diungkapkan. Leksikon tersebut muncul sebagai dampak dari perkembangan pariwisata modern.

Jika sebelumnya masyarakat sudah familiar dengan istilah back-packer, kini berbagai macam istilah yang berkorelasi dengan industri pariwisata pun mulai merebak dan digunakan secara luas. Bagi insan pariwisata muda, khususnya kaum milenial dimana travelling merupakan lifestyle, penggunaaan leksikon tersebut sangat mudah dipahami. Bermula dari membaca/mendengar/melihat sampai menggunakan dalam komunikasi sehari-hari.

Masyarakat di era revolusi 4.0 yang dikenal dengan “milenial” adalah masyarakat informasi yang menciptakan suatu nilai tambah yang dinamis dengan upaya menghubungkan asset – asset yang tak kasat mata misalnya melalui jejaring informasi (information networks). Inilah hasil dari perkembangan globalisasi ekonomi, sebab salah satu fenomena penting proses globalisasi adalah lahirnya generasi gadget, istilah yang digunakan untuk menandai munculnya generasi millennial. Selain dalam hal penguasaan teknologi  dibandingkan generasi sebelumnya, salah satu karakteristik generasi milenial ini ditandai dengan gemarnya berwisata dan mengabadikan momen lalu diunggah ke media sosial. Hal ini yang terus berulang dan kemudian diikuti oleh kaum milenial lainnya menjadi  lifestyle dimana di setiap kesempatan berwisata, hal ini tidak boleh luput atau tertinggal.

Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Berwisata tidak harus dilakukan secara berkelompok, baik dengan teman, pasangan, ataupun keluarga, namun hal ini juga dapat dilakukan secara individu (perseorangan). Berwisata bersama teman, pasangan, ataupun keluarga memang memberikanmanfaat tersendiri, tapi memang lebih banyak porsi untuk berbagi dalam beberapa hal seperti finansial, akomodasi, transportasi bahkan  berbagi cerita ataupun pengalaman saat berwisata.

Di lain sisi, berwisata secara mandiri (solo traveling) akan  memberikan esensi yang berbeda jika dibandingkan dengan berwisata bersama orang lain. Hal ini diakibatkan karena apapun akan dilakukan secara mandiri dan lebih mengandalkan diri sendiri. Namun di balik itu, rasa ingin tahu dan berbaur dengan lingkungan sekitar akan menjadi lebih besar jika melakukan kegiatan berwisata secara perseorangan.

Pariwisata bersinergi dengan sejumlah aspek, seperti kebudayaan, ekonomi, sosial, serta perkembangan teknologi. Seiring dengan berkembangnya teknologi, pariwisata mampu menunjukkan eksistensinya dengan beradaptasi dengan pola pikir modern sehingga tercipta jenis pariwisata yang makin bervariasi.

Hal ini juga dilatarbelakangi dengan jenuhnya wisatawan dengan jenis-jenis pariwisata ataupun destinasi pariwisata yang sifatnya monoton. Dengan berkembangannya teknologi yang berimbas pada kemunculan sejumlah platform media sosial, seperti Facebook, Instagram, Tiktok, dll. Saat berwisata pun, media sosial tersebut tentunya akan dijadikan wadah untuk ajang pamer, atau sekedar untuk sebagai sarana untuk menunjukkan eksistensi diri.

Pariwisata Nusa Penida, Menggeser Perspektif Ternak Kaki Empat Menjadi Roda Empat

Setiap daerah yang secara serius mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif akan merasakan dampak langsung, seperti peningkatan kesejahteraan dan pengurangan angka pencari kerja. Dari pernyataan tersebut, diperlukan pembangunan dan pengembangan produk unggulan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di tiap daerah tersebut. Namun, pengembangan sektor pariwisata ini pun terhalang sejumlah kendala atau permasalahan yang harus diatasi untuk meningkatkan kualitas pariwisata dan ekonomi kreatif. 

Permasalahan yang dialami sektor pariwisata antara lain dalam hal infrastruktur, pengembangan destinasi, perluasan pasar wisata di dalam dan luar negeri, kelembagaan, dan sumber daya manusia dan permasalahan yang dialami oleh sektor industri kreatif adalah dalam hal pengembangan industri kreatif, iklim usaha, perluasan pasar produk kreatif, teknologi dan konten, sumber daya baik alam maupun manusia, dan akses pembiayaan bagi pelaku ekonomi kreatif.

Pariwisata kreatif dapat membawa perubahan yang positif dalam sebuah komunitas pada suatu Negara. Meskipun, wisata kreatif seringkali dikaitkan dengan wisata budaya, sebenarnya keduanya sangatlah berbeda. Wisata budaya menitikberatkan pada melihat, merasakan, dan kontemplasi. Sementara fokus wisata kreatif adalah pengalaman otentik yang dialami oleh wisatawan. Dalam memperkenalkan wisata baru dan untuk mengetahui bagaimana daya tarik wisatawan untuk berkunjung maka harus ada strategi dari pengelola untuk mengenalkan dan mempertahankan kepada calon wisatawan.

Pertanian, Pariwisata, Industri Kreatif, Integrasi yang tak Sampai #Kolom Made Metera

Selain faktor budaya hal terpenting lainnya yang bisa menarik wisatawan untuk berkunjung adalah dari tingkat keunikannya. Semakin unik tempat wisata tersebut akan semakin menarik konsumen untuk berkunjung. Hal ini selaras dengan isi Undang-undang no 10 tahun 2009 daya tarik wisata dijelaskan sebagai segala sesuatu yang memiliki keunikan, kemudahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan. Dalam UU No. 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan disebutkan bahwa daya tarik wisata adalah suatu yang menjadi sasaran wisata. Terdapat 3 jenis  daya tarik wisata secara umum, antara lain:

  1. daya tarik wisata alam ciptaan Tuhan (gunung, danau, flora dan fauna)
  2. daya tarik hasil karya manusia yang berwujud museum, peninggalan sejarah, seni dan budaya, wisata agro,wisata buru, taman rekreasi dan kompleks hiburan.
  3. daya tarik wisata minat khusus, seperti berburu, industri dan kerajinan,tempat perbelanjaan, sungai air deras, tempat-tempat ibadah, tempat ziarah dan lain-lain.

Dalam pariwisata ekonomi kreatif, daya tarik wisata minat khusus banyak dilirik dan mulai dikembangkan oleh pemerintah pusat dan daerah. Sebenarnya wisata jenis ini sudah ada sebelumnya, hanya saja semenjak adanya pariwisata modern yang lebih kreatif, pemanfaatan lahan atau tempat-tempat yang berpotensi untuk dijadikan tempat wisata lebih menggeliat untuk dikembangkan. Animo masyarakat dan wisatawan juga menunjukkan pengaruh yang positif sehingga daya Tarik minat khuhus ini dapat berkembang.

Selain itu, seiring dengan perkembangan teknologi, mulai terciptanya leksikon atau kosa kata baru yang menggambarkan bagaimana wisata tersebut. Leksikon tersebut umumnya berbahasa Inggris yang terdiri dari gabungan beberapa kata yang sudah eksis sebelumnya sehingga mempunyai makna yang baru, ataupun kata yang muncul karena pengaruh media sosial. Bahkan kini, leksikon tersebut sangat lumrah digunakan dan dapat dengan mudah dipahami. Leksikon tersebut pun menggambarkan pariwisata kreatif yang mampu mengilustrasikan kegiatan atau aktifitas dalam berwisata dengan cara yang baru. Beberapa leksikon tersebut antara lain glamping, staycation, instagrammable, van-camper dan lain sebagainya.

“Destination Branding”, Potensi Buleleng Luar Biasa, dan Bla Bla Bla…

Leksikon memainkan peran sentral dalam mendefinisikan bahasa pariwisata sebagai bahasa khusus, juga dalam membentuk teks yang berbeda untuk tujuan promosi. Bahasa promosi melibatkan dua  proses interaksi, komunikasi dan persuasi, yang biasanya ditemukan dalam iklan. Tujuannya tidak hanya untuk memberikan informasi yang berguna, tetapi juga untuk memikat dan membujuk calon wisatawan untuk mengunjungi area yang dijelaskan. Teks yang mempromosikan suatu destinasi atau tujuan wisata pada situs web maupun jejaring sosial kaya akan istilah dan kata-kata asing (umumnya dalam bahasa Inggris) yang mendefinisikan produk atau jasa  tertentu.

Dalam kemunculan leksikon baru dalam perkembangan pariwisata kreatif ini dapat dilihat dari beberapa pembentukan makna, antara lain:

  1. blending (kombinasi antara 2 kata menjadi 1 kata yang memunculkan makna baru), contoh: glamping, staycation.
  2. new word (leksikon yang muncul akibat perkembangan suatu aspek lain yang mempengaruhi  pariwisata itu sendiri), contoh:  instagramable 
  3. new meaning (penyandingan 2 kata terpisah untuk memunculkan arti baru), contoh: babymoon, van-camper.

Kedepannya, konsep pariwisata modern akan terus berkembang yang menyesuaikan dengan kebutuhan wisatawan. Perkembangan inilah yang berpotensi untuk memicu berkembangnya leksikon-leksikon baru yang memperkaya kosakata dalam industri pariwisata. Masyarakat tidak bisa menolak dengan adanya perkembangan tersebut; hal yang bisa dilakukan adalah mengetahui, memahami maksud, menyaring, menggunakannya untuk dapat tetap eksis dalam komunikasi dan industri pariwisata ekonomi kreatif.

Let’s see. [T]

Tags: BahasaBahasa Inggrisleksikon pariwisataPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dinz Handmade dari Bali Utara | Mari Bergaya dengan Perca

Next Post

Peduli Air di Desa Adat Glagalinggah Lewat Program Desa Ramah Air Hujan

Luh Eka Susanti

Luh Eka Susanti

Luh Eka Susanti, S.Pd.,M.Pd lahir di Denpasar, 19 Agustus 1988 silam. Ia memperoleh gelar Magister Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Pendidikan Ganesha pada tahun 2013. Karirnya menjadi dosen Bahasa Inggris dimulai sejak tahun 2010. Dia juga mengajar Bahasa Inggris untuk caddy golf, hotelier dan spa therapist, serta menekuni Pembelajaran BIPA. Selain itu, ia pernah menjadi salah satu pemenang dalam lomba Menulis Bahan Ajar Membaca Dini oleh Balai Bahasa Bali Tahun 2019 dan Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Sisa SD Kelas Awal

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Peduli Air di Desa Adat Glagalinggah Lewat Program Desa Ramah Air Hujan

Peduli Air di Desa Adat Glagalinggah Lewat Program Desa Ramah Air Hujan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co