25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Stasiun | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
January 29, 2022
in Cerpen
Stasiun | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

“Kapan kau akan kembali, Stev?” tanya wanita itu dengan muka masam.

“Entah. Tunggu saja sampai aku kembali, Ann!”

“Jika tidak kembali?” tanya wanita itu kembali.

“Jangan tunggu aku lagi!”

Anna meneteskan air matanya. Ia memeluk erat Stev untuk pertemuan terakhir mereka. Stasiun kala itu sangat ramai. Orang lalu-lalang melewati kedua pasangan itu. Mereka tidak peduli, karena ada yang lebih penting daripada menyaksikan roman picisan anak muda.

Anna menatap wajah kekasihnya dengan linangan air mata. Berbeda dengan Stev, ia bersikap sangat dingin sekali.

Waktu sudah tiba, kereta kekasihnya datang. Pelukan Ann semakin erat. Tak ingin melepas sedikitpun. Tapi kekasihnya itu harus bergegas berangkat. Ia lantas memegang pundak Ann dan mendorongnya sedikit demi sedikit. Ann melawan. Tidak ia lepaskan sedikitpun, tapi apalah arti tenaga Ann untuk bisa selalu memeluk kekasihnya.

Akhirnya pelukan itu terlepas. Tangis Ann semakin menjadi ketika pelukan itu terlepas.

“Aku akan kembali, Ann. Tapi entah kapan!”

“Aku akan menunggumu. Selamanya!” jawab wanita itu.

“Jangan. Pun jika aku kemari lagi, kita tidak akan bisa menyatu!” ucap kekasihnya itu sembari mebalikkan badannya.

“Aku akan selalu menunggu, Stev!”

“Aku pergi, Ann. Jaga dirimu. Aku akan kembali pada waktunya tiba!”

Sejak itu, Ann selalu menunggu di stasiun. Setiap hari. Ia berdiri sedemikian rupa dan memandang setiap laki-laki yang turun dari kereta.

Ann mengenal Stev pada suatu hari yang kacau. Malam hari di kota Koln, Ann sedang berjalan di lorong kecil, di antara dua buah gedung. Ia membawa barang belanjaan yang banyak sekali saat itu. Tetapi mendadak, di ujung lorong itu sebuah truk berhenti. Ann terkejut dan untungnya langsung dapat bersembunyi di sela gedung saat itu.

Dentuman peluru membabi buta malam hari itu. Ann masih bersembunyi di lorong gelap itu dengan ketakutan yang luar biasa. Ledakan di mana-mana. Gedung di depannya mulai hancur karena sebuah ledakan. Ann semakin ketakutan kala ada tapak kaki yang mulai berlarian dari ujung lorong ke ujung lainnya. Sangat banyak. Mereka berteriak, suara dentuman dan peluru masih sangat terdengar jelas. Ann semakin ketakutan. Ia memeluk erat barang belanjaannya dan meringkuk di celah gedung itu agar tidak ada yang tahu bahwa ia ada di sana.

Beberapa saat kemudian, Ann sudah tak sanggup lagi untuk bertahan di sana. Wajahnya pucat layu, nafasnya mulai pendek dan tenaganya sudah mulai habis untuk bertahan di sana. Tak lama, seorang pria bersenjata melihat Ann yang sudah lemas di celah gedung itu. Saat itu juga Anna ditolong dan dibawa ke tempat yang lebih aman untuk bersembunyi saat itu.

Keesokan harinya, Ann terbangun. Ia sangat terkejut ketika baru terbangun ada di tempat yang sama sekali tak ia kenal. Ia lantas melihat seseorang pria tertidur sembari memeluk senjata. Ann terkejut dan berteriak keras. Akhirnya, pria itu bangun dan menutup mulut Ann. Mereka berdua sama-sama panik.

“Dimana aku? Dan kau siapa?” tanya Ann.

“Hela napasmu dulu. Akan aku katakan siapa aku saat kau sudah tenang,” ucap pria itu dengan berbisik.

Pria itu lantas beranjak dari tempat tidur Ann, membuat secangkir teh dan memberikannya pada Ann. Ia saat itu sangat ketakutan. Tapi dengan melihat gelagat pria itu sepertinya Ann mulai terbiasa.

“Kau sudah tenang?” tanya pria itu.

“Sudah lebih baik. Jadi, siapa kau sebenarnya dan ada di mana aku saat ini?” tanya Ann kembali

“Pertama, aku Stev. Kedua, kau berada di kota kecil bernama Laix. Pertanyaanmu sudah semua aku jawab. Jadi, aku akan membuat sarapan!”

“Kenapa jauh sekali? Ada apa dengan tempatku?” tanya Ann kembali kebingungan.

Stev belum menjawab. Ia menuju dapur dan mulai memasak. Sembari menghela napas untuk menjawab pertanyaan Ann.

“Ini adalah tempat yang lumayan aman saat ini. Tempatmu sudah rata dengan tanah. Hanya sedikit gedung yang ada di sana. Jika kau ingin kembali, aku persilakan. Tapi, di sana ada banyak orang bersenjata yang siap menembak tubuhmu kapan saja,” jawab dingin Stev.

Anna termanggu mendengar jawaban Stev. Ia juga menghela napas dan bergegas mencuci mukanya.

“Oh ya. Aku Ann, tidak sopan rasanya saat berada di rumah orang lain aku tidak meperkenalkan diri!”

“Ya. Kamar mandi ada di selatan sana!”

Setelah kejadian dan perkenalan itu, Ann mendapatkan tempat untuk tinggal sementara waktu. Ia juga semakin erat menjalin hubungan dengan Stev. Ann menjalani harinya seperti biasa. Tapi, masih ada saja kenangan-kenangan buruk saat kejadian hari itu. Ia terus memikirkan keluarga dan teman-temannya. Padahal, sekutu tidak akan berani untuk menyerang kotanya. Ini aneh. Dan Ann masih terbawa kekhawatiran jika Stev kembali ke medan pertempuran lagi.

Tahun berikutnya, ada surat yang ditujukan untuk Stev. Setelah Stev tahu tentang isi surat itu ia bergegas mengemas beberapa pakaiannya dan menitipkan surat pada Ann. Ia cepat-cepat menuju stasiun saat itu.

Di tengah perjalanan menuju stasiun, Stev tak sengaja bertemu dengan Ann. Ia panik, karena kepergiannya sebenarnya harus disembunyikan dari Ann. Tapi, ia tak bisa mengelak lagi. Untuk beberapa saat tatapan Stev dan Ann mulai erat kala itu.

“Mau kemana?” tanya Ann kebingungan.

“Pergi jauh. Tidak tahu akan ke mana!” jawab Stev dingin.

“Tapi kenapa terburu-buru?”

“Hanya tidak ingin kau khawatir!”

Ann menitikkan air mata pada pertemuan itu. Hal yang ia khawatirkan sejak dulu akhirnya terjadi. Ia harus ditinggalkan oleh kekasihnya tidak tau dalam waktu berapa lama dan ia pun tak tahu kekasihnya itu akan pulang atau tidak.

Stev lantas memeluk Ann. Pelukan perpisahan untuk sementara waktu. Ia sangat berat untuk meninggalkan Ann sendiri. Tak tahu juga akan selamat atau tidak nantinya.

“Sudahlah, aku akan kembali. Kembali memelukmu dan menikmati sore di halaman depan seperti biasa,” ucap Stev di tengah pelukan erat itu.

“Tapi aku takut kau tidak akan kembali memenuhi janjimu,” ucap Ann sembari terisak dalam pelukan Stev.

“Aku akan kembali. Aku buat sepucuk surat. Ingat Ann, surat itu kau buka setelah aku kembali!”

“Jika kau tidak kembali?”

“Aku akan pulang. Kita berdua berharap tidak ada lagi peperangan di masa depan. Dan sudah tugasku untuk menjadikan dunia ini damai kembali.”

“Aku akan menunggu. Sampai kapanpun, Stev”

“Ya, tunggu aku. Aku mencintaimu Ann!”

Mereka berdua melepaskan pelukan itu. Meluapkan ciuman perpisahan untuk terakhir kalinya. Ann masih terisak dan Stev harus dengan langkah yang berat meniggalkan Ann.

Stev pergi, beranjak dari pelukan Ann menuju stasiun. Di sana, semua prajurit sudah menunggu untuk berangkat memenuhi tugasnya. Meninggalkan kekasih, istri dan keluarganya.

Beberapa tahun kemudian, Stev tak juga kembali. Ann selalu menunggu. Hingga akhirnya ia tak bisa lagi menghiraukan surat itu. Penggalan kata dari surat yang paling diingat Ann adalah “Saat aku tidak juga kembali, tunggu aku di stasiun”.[T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Mettarini | Aku Mencumbu Waktu

Next Post

Tumpek Uye, Warga di Buleleng Lepaskan 6.991 Burung, 170.267 Ikan, 6.497 Tukik

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Uye, Warga di Buleleng Lepaskan 6.991 Burung, 170.267 Ikan, 6.497 Tukik

Tumpek Uye, Warga di Buleleng Lepaskan 6.991 Burung, 170.267 Ikan, 6.497 Tukik

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co