6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Stasiun | Cerpen Satria Aditya

Satria Aditya by Satria Aditya
January 29, 2022
in Cerpen
Stasiun | Cerpen Satria Aditya

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

“Kapan kau akan kembali, Stev?” tanya wanita itu dengan muka masam.

“Entah. Tunggu saja sampai aku kembali, Ann!”

“Jika tidak kembali?” tanya wanita itu kembali.

“Jangan tunggu aku lagi!”

Anna meneteskan air matanya. Ia memeluk erat Stev untuk pertemuan terakhir mereka. Stasiun kala itu sangat ramai. Orang lalu-lalang melewati kedua pasangan itu. Mereka tidak peduli, karena ada yang lebih penting daripada menyaksikan roman picisan anak muda.

Anna menatap wajah kekasihnya dengan linangan air mata. Berbeda dengan Stev, ia bersikap sangat dingin sekali.

Waktu sudah tiba, kereta kekasihnya datang. Pelukan Ann semakin erat. Tak ingin melepas sedikitpun. Tapi kekasihnya itu harus bergegas berangkat. Ia lantas memegang pundak Ann dan mendorongnya sedikit demi sedikit. Ann melawan. Tidak ia lepaskan sedikitpun, tapi apalah arti tenaga Ann untuk bisa selalu memeluk kekasihnya.

Akhirnya pelukan itu terlepas. Tangis Ann semakin menjadi ketika pelukan itu terlepas.

“Aku akan kembali, Ann. Tapi entah kapan!”

“Aku akan menunggumu. Selamanya!” jawab wanita itu.

“Jangan. Pun jika aku kemari lagi, kita tidak akan bisa menyatu!” ucap kekasihnya itu sembari mebalikkan badannya.

“Aku akan selalu menunggu, Stev!”

“Aku pergi, Ann. Jaga dirimu. Aku akan kembali pada waktunya tiba!”

Sejak itu, Ann selalu menunggu di stasiun. Setiap hari. Ia berdiri sedemikian rupa dan memandang setiap laki-laki yang turun dari kereta.

Ann mengenal Stev pada suatu hari yang kacau. Malam hari di kota Koln, Ann sedang berjalan di lorong kecil, di antara dua buah gedung. Ia membawa barang belanjaan yang banyak sekali saat itu. Tetapi mendadak, di ujung lorong itu sebuah truk berhenti. Ann terkejut dan untungnya langsung dapat bersembunyi di sela gedung saat itu.

Dentuman peluru membabi buta malam hari itu. Ann masih bersembunyi di lorong gelap itu dengan ketakutan yang luar biasa. Ledakan di mana-mana. Gedung di depannya mulai hancur karena sebuah ledakan. Ann semakin ketakutan kala ada tapak kaki yang mulai berlarian dari ujung lorong ke ujung lainnya. Sangat banyak. Mereka berteriak, suara dentuman dan peluru masih sangat terdengar jelas. Ann semakin ketakutan. Ia memeluk erat barang belanjaannya dan meringkuk di celah gedung itu agar tidak ada yang tahu bahwa ia ada di sana.

Beberapa saat kemudian, Ann sudah tak sanggup lagi untuk bertahan di sana. Wajahnya pucat layu, nafasnya mulai pendek dan tenaganya sudah mulai habis untuk bertahan di sana. Tak lama, seorang pria bersenjata melihat Ann yang sudah lemas di celah gedung itu. Saat itu juga Anna ditolong dan dibawa ke tempat yang lebih aman untuk bersembunyi saat itu.

Keesokan harinya, Ann terbangun. Ia sangat terkejut ketika baru terbangun ada di tempat yang sama sekali tak ia kenal. Ia lantas melihat seseorang pria tertidur sembari memeluk senjata. Ann terkejut dan berteriak keras. Akhirnya, pria itu bangun dan menutup mulut Ann. Mereka berdua sama-sama panik.

“Dimana aku? Dan kau siapa?” tanya Ann.

“Hela napasmu dulu. Akan aku katakan siapa aku saat kau sudah tenang,” ucap pria itu dengan berbisik.

Pria itu lantas beranjak dari tempat tidur Ann, membuat secangkir teh dan memberikannya pada Ann. Ia saat itu sangat ketakutan. Tapi dengan melihat gelagat pria itu sepertinya Ann mulai terbiasa.

“Kau sudah tenang?” tanya pria itu.

“Sudah lebih baik. Jadi, siapa kau sebenarnya dan ada di mana aku saat ini?” tanya Ann kembali

“Pertama, aku Stev. Kedua, kau berada di kota kecil bernama Laix. Pertanyaanmu sudah semua aku jawab. Jadi, aku akan membuat sarapan!”

“Kenapa jauh sekali? Ada apa dengan tempatku?” tanya Ann kembali kebingungan.

Stev belum menjawab. Ia menuju dapur dan mulai memasak. Sembari menghela napas untuk menjawab pertanyaan Ann.

“Ini adalah tempat yang lumayan aman saat ini. Tempatmu sudah rata dengan tanah. Hanya sedikit gedung yang ada di sana. Jika kau ingin kembali, aku persilakan. Tapi, di sana ada banyak orang bersenjata yang siap menembak tubuhmu kapan saja,” jawab dingin Stev.

Anna termanggu mendengar jawaban Stev. Ia juga menghela napas dan bergegas mencuci mukanya.

“Oh ya. Aku Ann, tidak sopan rasanya saat berada di rumah orang lain aku tidak meperkenalkan diri!”

“Ya. Kamar mandi ada di selatan sana!”

Setelah kejadian dan perkenalan itu, Ann mendapatkan tempat untuk tinggal sementara waktu. Ia juga semakin erat menjalin hubungan dengan Stev. Ann menjalani harinya seperti biasa. Tapi, masih ada saja kenangan-kenangan buruk saat kejadian hari itu. Ia terus memikirkan keluarga dan teman-temannya. Padahal, sekutu tidak akan berani untuk menyerang kotanya. Ini aneh. Dan Ann masih terbawa kekhawatiran jika Stev kembali ke medan pertempuran lagi.

Tahun berikutnya, ada surat yang ditujukan untuk Stev. Setelah Stev tahu tentang isi surat itu ia bergegas mengemas beberapa pakaiannya dan menitipkan surat pada Ann. Ia cepat-cepat menuju stasiun saat itu.

Di tengah perjalanan menuju stasiun, Stev tak sengaja bertemu dengan Ann. Ia panik, karena kepergiannya sebenarnya harus disembunyikan dari Ann. Tapi, ia tak bisa mengelak lagi. Untuk beberapa saat tatapan Stev dan Ann mulai erat kala itu.

“Mau kemana?” tanya Ann kebingungan.

“Pergi jauh. Tidak tahu akan ke mana!” jawab Stev dingin.

“Tapi kenapa terburu-buru?”

“Hanya tidak ingin kau khawatir!”

Ann menitikkan air mata pada pertemuan itu. Hal yang ia khawatirkan sejak dulu akhirnya terjadi. Ia harus ditinggalkan oleh kekasihnya tidak tau dalam waktu berapa lama dan ia pun tak tahu kekasihnya itu akan pulang atau tidak.

Stev lantas memeluk Ann. Pelukan perpisahan untuk sementara waktu. Ia sangat berat untuk meninggalkan Ann sendiri. Tak tahu juga akan selamat atau tidak nantinya.

“Sudahlah, aku akan kembali. Kembali memelukmu dan menikmati sore di halaman depan seperti biasa,” ucap Stev di tengah pelukan erat itu.

“Tapi aku takut kau tidak akan kembali memenuhi janjimu,” ucap Ann sembari terisak dalam pelukan Stev.

“Aku akan kembali. Aku buat sepucuk surat. Ingat Ann, surat itu kau buka setelah aku kembali!”

“Jika kau tidak kembali?”

“Aku akan pulang. Kita berdua berharap tidak ada lagi peperangan di masa depan. Dan sudah tugasku untuk menjadikan dunia ini damai kembali.”

“Aku akan menunggu. Sampai kapanpun, Stev”

“Ya, tunggu aku. Aku mencintaimu Ann!”

Mereka berdua melepaskan pelukan itu. Meluapkan ciuman perpisahan untuk terakhir kalinya. Ann masih terisak dan Stev harus dengan langkah yang berat meniggalkan Ann.

Stev pergi, beranjak dari pelukan Ann menuju stasiun. Di sana, semua prajurit sudah menunggu untuk berangkat memenuhi tugasnya. Meninggalkan kekasih, istri dan keluarganya.

Beberapa tahun kemudian, Stev tak juga kembali. Ann selalu menunggu. Hingga akhirnya ia tak bisa lagi menghiraukan surat itu. Penggalan kata dari surat yang paling diingat Ann adalah “Saat aku tidak juga kembali, tunggu aku di stasiun”.[T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Mettarini | Aku Mencumbu Waktu

Next Post

Tumpek Uye, Warga di Buleleng Lepaskan 6.991 Burung, 170.267 Ikan, 6.497 Tukik

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Uye, Warga di Buleleng Lepaskan 6.991 Burung, 170.267 Ikan, 6.497 Tukik

Tumpek Uye, Warga di Buleleng Lepaskan 6.991 Burung, 170.267 Ikan, 6.497 Tukik

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co