23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Covid: Antara Kedukaan dan Merelakan

Krisna Aji by Krisna Aji
August 3, 2021
in Opini
Covid: Antara Kedukaan dan Merelakan

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Pandemi yang mulai terjadi di awal tahun 2020 diharapkan akan cepat selesai. Walaupun demikian, pandemi masih berjalan hingga tahun 2021 dengan kemunculan berbagai varian baru; terlihat beberapa kali lonjakan angka kesakitan dan kematian; kabar meninggal yang awalnya bersumber dari orang yang tidak dikenal makin mendekat ke orang – orang yang dikenal, dan bahkan, keluarga sendiri.

Cuaca tidak selamanya cerah. Sesekali angin kencang datang. Bahkan, badai pun kadang datang. Angin kencang dan badai juga merupakan entitas yang tidak kekal dan akan pergi. Suatu saat, cuaca akan cerah kembali. Tetapi, bagaimana jika orang-orang yang berharap badai pergi juga ikut berlalu bersama badai? Bagaimana jika orang-orang tidak sempat melihat cuaca yang akhirnya cerah kembali? Misalkan saja, pada akhirnya, pandemi menyebabkan orang-orang terdekat meninggal dan membuat luka mental yang mendalam terhadap orang-orang yang ditinggalkan. Atau, bisa jadi, kitalah yang akhirnya berlalu dan hilang bersama pandemi.

Kedukaan akibat orang-orang terdekat yang pergi bersama pandemi nyatanya memang meninggalkan luka yang mendalam. Secara normal, rasa kehilangan tersebut akan sembuh kurang dari enam bulan: berganti dengan keiklasan. Tetapi, pada beberapa orang, luka tidak hilang dan berubah bentuk menjadi gangguan kejiwaan yang lama, bahkan permanen. Kedukaan akan semakin kuat saat hubungan dengan orang yang meninggal semakin dekat. Sadar atau tidak, kelekatan dengan suatu hal akan membuat luka yang mendalam saat objek kelekatan tersebut pergi. Semakin melekat akan membuat seseorang semakin berduka.

Proses dari kehilangan adalah hal yang wajar terjadi dan terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan hal tersebut. Dua di antaranya akan dijabarkan pada tulisan berikut ini: teori Catherine Sander dan Kubler – Ross.

Sander menyatakan bahwa proses kehilangan terdiri dari beberapa tahap: “shock”, di mana seseorang merasa tidak percaya, bingung, gelisah, dan secara psikologis mengambil jarak terhadap kenyataan yang ada; lalu mulai menyadari kondisi kehilangan, di mana konflik emosional yang berbentuk rasa marah, bersalah, ataupun menyalahkan segala hal di luar dirinya terjadi; kemudian menarik diri dari lingkungan, merasa lelah, dan adanya kesedihan yang besar–fase ini mirip dengan depresi; beranjak ke masa penyembuhan, di mana seseorang mulai mengambil kendali terhadap respons dirinya dalam menanggapi kenyataan; dan terakhir, terlahir kembali menjadi “manusia baru” yang sudah dapat membangun kesadaran diri dalam menerima realita sebagaimana adanya.

Mirip dengan pernyataan dari Sander, Kubler – Ross menyebutkan bahwa proses penerimaan akan sebuah kehilangan bermula dari penyangkalan terhadap realita; dilanjutkan dengan rasa marah yang muncul akibat kenyataan yang tidak sesuai harapan;  beranjak ke berbagai percobaan untuk menawar realita yang menggelinding apa adanya; kemudian terjadi depresi akibat menyadari bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah realita; dan terakhir, menerima dengan iklas atas segala realita yang nyatanya tidak bisa diubah. Secara normal, semua proses tersebut akan berjalan sampai ke tahap akhir: penerimaan. Walaupun demikian, tidak jarang pertumbuhan menuju penerimaan tersebut maju – mundur–bahkan stagnan–sehingga hasil akhir yang sempurna terasa jauh panggang dari api.

Lalu, apakah yang dapat dilakukan agar proses penerimaan akan sebuah kehilangan dapat berakhir dengan baik dan sempurna?

Tidak ada jawaban absolut untuk pertanyaan tersebut. Hal tersebut karena manusia memiliki keunikannya yang sangat khas sehingga tidak ada satu pun metodologi yang dapat dipakai secara absolut pada semua manusia. Walaupun demikian, terdapat beberapa cara yang mungkin bisa dicoba: memandang dari sisi orang yang meninggalkan dan memaklumi bahwa tidak ada yang kekal.

Meninggal adalah hal yang pasti; yang tidak pasti adalah waktu untuk meninggal. Jika bukan kerabat terdekat yang lebih dahulu meninggal, bisa saja, kitalah yang meninggal terlebih dahulu. Semua hanya masalah waktu dan orang terdekat yang ditinggalkan — siapapun itu — pasti akan merasa sedih. Kemudian, bagaimana jika kita berada pada posisi orang yang meninggal. Saat itu terjadi, tentu saja posisi kesedihan akibat ditinggalkan akan digantikan oleh kerabat dekat yang masih hidup. Kemudian, jika kita benar-benar menyayangi kerabat terdekat tersebut, apakah kita rela jika orang terdekat tersebut yang pada akhirnya menggantikan diri kita untuk bersedih? Sebenarnya, posisi bersedih karena ditinggalkan — dari sisi ini — sejatinya merupakan posisi berkorban. Dari sisi ini pula, tanggungan beban kesedihan yang menimpa bukanlah tanpa alasan. Orang yang ditinggalkan — dan akhirnya merasa sedih — sebenarnya memang mampu untuk menanggung beban kesedihan tersebut.

Cara lain yang dapat digunakan adalah mulai beranjak dari kesadaran bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Sama seperti badai,  segala hal yang pernah dilahirkan pada akhirnya akan mati. Semua hanya masalah waktu. Waktu juga tidak akan menunggu manusia untuk siap menerima kondisi yang menghampirinya. Realita pada dasarnya muncul apa adanya dan intervensi manusia hanya sebatas memperkecil ataupun memperbesar kemungkinan dan bukan mengubah hasil akhir secara total.

Berhubungan dengan sifat alami dari realita, terdapat tiga jenis hak manusia atas pengendalian terhadap sebuah kondisi: tidak dapat dikendalikan sama sekali; dikendalikan sebagian dengan cara memodulasi realita di saat ini; ataupun dikendalikan sepenuhnya oleh manusia. Contoh dari hal yang tidak dapat dikendalikan sama sekali adalah kematian. Sedangkan hal yang sebagian dapat dikendalikan adalah kesehatan. Saat upaya untuk mengendalikan sebagian hal yang dapat dikendalikan — seperti kesehatan — sudah mencapai titik jenuh, maka kondisi di mana kendali sama sekali tidak dapat dilakukan — seperti kematian — akan terjadi. Terlepas dari realita tersebut, manusia tetap memiliki kendali penuh yang terakhir: mengendalikan respons diri terhadap realita yang hadir apa adanya. Mengetahui bahwa sumber kedukaan berawal dari kelekatan terhadap sesuatu yang tidak kekal adalah kunci awal dari pengendalian respons tersebut.  Faktanya, tidak ada satu hal pun yang kekal di dunia ini. Mengetahui bahwa kelekatan terhadap segala hal–yang pada dasarnya tidak ada satu pun hal di dunia ini yang kekal — merupakan sumber masalah dapat menjadi langkah selanjutnya dalam mengubah respons terhadap realita.

Mengetahui saja sebenarnya tidak cukup. Sejak kecil, sejatinya manusia sudah diperkenalkan dengan ketidakkekalan oleh orang tua. Lahir, besar, tua, kemudian mati adalah contoh hal sederhana yang diajarkan sejak kecil. Walaupun demikian, kebanyakan manusia hanya akan memaklumi saat ketidakkekalan terjadi pada orang lain dan tidak rela saat perubahan menghampiri dirinya sendiri. Oleh karena itu, perlu pemahaman yang berujung pada keiklasan untuk menjadikan ketidakkekalan sebagai bagian dari diri sendiri. Saat keiklasan muncul, respons yang baik terhadap realita akan hadir dan membawa manusia ke proses akhir dari kehilangan: penerimaan yang paripurna. [T]

BACA JUGA:

Percaya Tidak Percaya Covid
  • Percaya Tidak Percaya Covid
Tags: covid 19kesehatanpandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Les | Persentuhan Warga Asing dan Lokal Munculkan Kreativitas Kelola Sampah

Next Post

Bersiap “Patah Hati” Ketika Sedang Asyik-asyiknya Menikah

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails
Next Post
Bersiap “Patah Hati” Ketika Sedang Asyik-asyiknya Menikah

Bersiap “Patah Hati” Ketika Sedang Asyik-asyiknya Menikah

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co