12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Covid: Antara Kedukaan dan Merelakan

Krisna Aji by Krisna Aji
August 3, 2021
in Opini
Covid: Antara Kedukaan dan Merelakan

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Pandemi yang mulai terjadi di awal tahun 2020 diharapkan akan cepat selesai. Walaupun demikian, pandemi masih berjalan hingga tahun 2021 dengan kemunculan berbagai varian baru; terlihat beberapa kali lonjakan angka kesakitan dan kematian; kabar meninggal yang awalnya bersumber dari orang yang tidak dikenal makin mendekat ke orang – orang yang dikenal, dan bahkan, keluarga sendiri.

Cuaca tidak selamanya cerah. Sesekali angin kencang datang. Bahkan, badai pun kadang datang. Angin kencang dan badai juga merupakan entitas yang tidak kekal dan akan pergi. Suatu saat, cuaca akan cerah kembali. Tetapi, bagaimana jika orang-orang yang berharap badai pergi juga ikut berlalu bersama badai? Bagaimana jika orang-orang tidak sempat melihat cuaca yang akhirnya cerah kembali? Misalkan saja, pada akhirnya, pandemi menyebabkan orang-orang terdekat meninggal dan membuat luka mental yang mendalam terhadap orang-orang yang ditinggalkan. Atau, bisa jadi, kitalah yang akhirnya berlalu dan hilang bersama pandemi.

Kedukaan akibat orang-orang terdekat yang pergi bersama pandemi nyatanya memang meninggalkan luka yang mendalam. Secara normal, rasa kehilangan tersebut akan sembuh kurang dari enam bulan: berganti dengan keiklasan. Tetapi, pada beberapa orang, luka tidak hilang dan berubah bentuk menjadi gangguan kejiwaan yang lama, bahkan permanen. Kedukaan akan semakin kuat saat hubungan dengan orang yang meninggal semakin dekat. Sadar atau tidak, kelekatan dengan suatu hal akan membuat luka yang mendalam saat objek kelekatan tersebut pergi. Semakin melekat akan membuat seseorang semakin berduka.

Proses dari kehilangan adalah hal yang wajar terjadi dan terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan hal tersebut. Dua di antaranya akan dijabarkan pada tulisan berikut ini: teori Catherine Sander dan Kubler – Ross.

Sander menyatakan bahwa proses kehilangan terdiri dari beberapa tahap: “shock”, di mana seseorang merasa tidak percaya, bingung, gelisah, dan secara psikologis mengambil jarak terhadap kenyataan yang ada; lalu mulai menyadari kondisi kehilangan, di mana konflik emosional yang berbentuk rasa marah, bersalah, ataupun menyalahkan segala hal di luar dirinya terjadi; kemudian menarik diri dari lingkungan, merasa lelah, dan adanya kesedihan yang besar–fase ini mirip dengan depresi; beranjak ke masa penyembuhan, di mana seseorang mulai mengambil kendali terhadap respons dirinya dalam menanggapi kenyataan; dan terakhir, terlahir kembali menjadi “manusia baru” yang sudah dapat membangun kesadaran diri dalam menerima realita sebagaimana adanya.

Mirip dengan pernyataan dari Sander, Kubler – Ross menyebutkan bahwa proses penerimaan akan sebuah kehilangan bermula dari penyangkalan terhadap realita; dilanjutkan dengan rasa marah yang muncul akibat kenyataan yang tidak sesuai harapan;  beranjak ke berbagai percobaan untuk menawar realita yang menggelinding apa adanya; kemudian terjadi depresi akibat menyadari bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah realita; dan terakhir, menerima dengan iklas atas segala realita yang nyatanya tidak bisa diubah. Secara normal, semua proses tersebut akan berjalan sampai ke tahap akhir: penerimaan. Walaupun demikian, tidak jarang pertumbuhan menuju penerimaan tersebut maju – mundur–bahkan stagnan–sehingga hasil akhir yang sempurna terasa jauh panggang dari api.

Lalu, apakah yang dapat dilakukan agar proses penerimaan akan sebuah kehilangan dapat berakhir dengan baik dan sempurna?

Tidak ada jawaban absolut untuk pertanyaan tersebut. Hal tersebut karena manusia memiliki keunikannya yang sangat khas sehingga tidak ada satu pun metodologi yang dapat dipakai secara absolut pada semua manusia. Walaupun demikian, terdapat beberapa cara yang mungkin bisa dicoba: memandang dari sisi orang yang meninggalkan dan memaklumi bahwa tidak ada yang kekal.

Meninggal adalah hal yang pasti; yang tidak pasti adalah waktu untuk meninggal. Jika bukan kerabat terdekat yang lebih dahulu meninggal, bisa saja, kitalah yang meninggal terlebih dahulu. Semua hanya masalah waktu dan orang terdekat yang ditinggalkan — siapapun itu — pasti akan merasa sedih. Kemudian, bagaimana jika kita berada pada posisi orang yang meninggal. Saat itu terjadi, tentu saja posisi kesedihan akibat ditinggalkan akan digantikan oleh kerabat dekat yang masih hidup. Kemudian, jika kita benar-benar menyayangi kerabat terdekat tersebut, apakah kita rela jika orang terdekat tersebut yang pada akhirnya menggantikan diri kita untuk bersedih? Sebenarnya, posisi bersedih karena ditinggalkan — dari sisi ini — sejatinya merupakan posisi berkorban. Dari sisi ini pula, tanggungan beban kesedihan yang menimpa bukanlah tanpa alasan. Orang yang ditinggalkan — dan akhirnya merasa sedih — sebenarnya memang mampu untuk menanggung beban kesedihan tersebut.

Cara lain yang dapat digunakan adalah mulai beranjak dari kesadaran bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Sama seperti badai,  segala hal yang pernah dilahirkan pada akhirnya akan mati. Semua hanya masalah waktu. Waktu juga tidak akan menunggu manusia untuk siap menerima kondisi yang menghampirinya. Realita pada dasarnya muncul apa adanya dan intervensi manusia hanya sebatas memperkecil ataupun memperbesar kemungkinan dan bukan mengubah hasil akhir secara total.

Berhubungan dengan sifat alami dari realita, terdapat tiga jenis hak manusia atas pengendalian terhadap sebuah kondisi: tidak dapat dikendalikan sama sekali; dikendalikan sebagian dengan cara memodulasi realita di saat ini; ataupun dikendalikan sepenuhnya oleh manusia. Contoh dari hal yang tidak dapat dikendalikan sama sekali adalah kematian. Sedangkan hal yang sebagian dapat dikendalikan adalah kesehatan. Saat upaya untuk mengendalikan sebagian hal yang dapat dikendalikan — seperti kesehatan — sudah mencapai titik jenuh, maka kondisi di mana kendali sama sekali tidak dapat dilakukan — seperti kematian — akan terjadi. Terlepas dari realita tersebut, manusia tetap memiliki kendali penuh yang terakhir: mengendalikan respons diri terhadap realita yang hadir apa adanya. Mengetahui bahwa sumber kedukaan berawal dari kelekatan terhadap sesuatu yang tidak kekal adalah kunci awal dari pengendalian respons tersebut.  Faktanya, tidak ada satu hal pun yang kekal di dunia ini. Mengetahui bahwa kelekatan terhadap segala hal–yang pada dasarnya tidak ada satu pun hal di dunia ini yang kekal — merupakan sumber masalah dapat menjadi langkah selanjutnya dalam mengubah respons terhadap realita.

Mengetahui saja sebenarnya tidak cukup. Sejak kecil, sejatinya manusia sudah diperkenalkan dengan ketidakkekalan oleh orang tua. Lahir, besar, tua, kemudian mati adalah contoh hal sederhana yang diajarkan sejak kecil. Walaupun demikian, kebanyakan manusia hanya akan memaklumi saat ketidakkekalan terjadi pada orang lain dan tidak rela saat perubahan menghampiri dirinya sendiri. Oleh karena itu, perlu pemahaman yang berujung pada keiklasan untuk menjadikan ketidakkekalan sebagai bagian dari diri sendiri. Saat keiklasan muncul, respons yang baik terhadap realita akan hadir dan membawa manusia ke proses akhir dari kehilangan: penerimaan yang paripurna. [T]

BACA JUGA:

Percaya Tidak Percaya Covid
  • Percaya Tidak Percaya Covid
Tags: covid 19kesehatanpandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Les | Persentuhan Warga Asing dan Lokal Munculkan Kreativitas Kelola Sampah

Next Post

Bersiap “Patah Hati” Ketika Sedang Asyik-asyiknya Menikah

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails
Next Post
Bersiap “Patah Hati” Ketika Sedang Asyik-asyiknya Menikah

Bersiap “Patah Hati” Ketika Sedang Asyik-asyiknya Menikah

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co