20 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Covid: Antara Kedukaan dan Merelakan

Krisna Aji by Krisna Aji
August 3, 2021
in Opini
Covid: Antara Kedukaan dan Merelakan

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Pandemi yang mulai terjadi di awal tahun 2020 diharapkan akan cepat selesai. Walaupun demikian, pandemi masih berjalan hingga tahun 2021 dengan kemunculan berbagai varian baru; terlihat beberapa kali lonjakan angka kesakitan dan kematian; kabar meninggal yang awalnya bersumber dari orang yang tidak dikenal makin mendekat ke orang – orang yang dikenal, dan bahkan, keluarga sendiri.

Cuaca tidak selamanya cerah. Sesekali angin kencang datang. Bahkan, badai pun kadang datang. Angin kencang dan badai juga merupakan entitas yang tidak kekal dan akan pergi. Suatu saat, cuaca akan cerah kembali. Tetapi, bagaimana jika orang-orang yang berharap badai pergi juga ikut berlalu bersama badai? Bagaimana jika orang-orang tidak sempat melihat cuaca yang akhirnya cerah kembali? Misalkan saja, pada akhirnya, pandemi menyebabkan orang-orang terdekat meninggal dan membuat luka mental yang mendalam terhadap orang-orang yang ditinggalkan. Atau, bisa jadi, kitalah yang akhirnya berlalu dan hilang bersama pandemi.

Kedukaan akibat orang-orang terdekat yang pergi bersama pandemi nyatanya memang meninggalkan luka yang mendalam. Secara normal, rasa kehilangan tersebut akan sembuh kurang dari enam bulan: berganti dengan keiklasan. Tetapi, pada beberapa orang, luka tidak hilang dan berubah bentuk menjadi gangguan kejiwaan yang lama, bahkan permanen. Kedukaan akan semakin kuat saat hubungan dengan orang yang meninggal semakin dekat. Sadar atau tidak, kelekatan dengan suatu hal akan membuat luka yang mendalam saat objek kelekatan tersebut pergi. Semakin melekat akan membuat seseorang semakin berduka.

Proses dari kehilangan adalah hal yang wajar terjadi dan terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan hal tersebut. Dua di antaranya akan dijabarkan pada tulisan berikut ini: teori Catherine Sander dan Kubler – Ross.

Sander menyatakan bahwa proses kehilangan terdiri dari beberapa tahap: “shock”, di mana seseorang merasa tidak percaya, bingung, gelisah, dan secara psikologis mengambil jarak terhadap kenyataan yang ada; lalu mulai menyadari kondisi kehilangan, di mana konflik emosional yang berbentuk rasa marah, bersalah, ataupun menyalahkan segala hal di luar dirinya terjadi; kemudian menarik diri dari lingkungan, merasa lelah, dan adanya kesedihan yang besar–fase ini mirip dengan depresi; beranjak ke masa penyembuhan, di mana seseorang mulai mengambil kendali terhadap respons dirinya dalam menanggapi kenyataan; dan terakhir, terlahir kembali menjadi “manusia baru” yang sudah dapat membangun kesadaran diri dalam menerima realita sebagaimana adanya.

Mirip dengan pernyataan dari Sander, Kubler – Ross menyebutkan bahwa proses penerimaan akan sebuah kehilangan bermula dari penyangkalan terhadap realita; dilanjutkan dengan rasa marah yang muncul akibat kenyataan yang tidak sesuai harapan;  beranjak ke berbagai percobaan untuk menawar realita yang menggelinding apa adanya; kemudian terjadi depresi akibat menyadari bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah realita; dan terakhir, menerima dengan iklas atas segala realita yang nyatanya tidak bisa diubah. Secara normal, semua proses tersebut akan berjalan sampai ke tahap akhir: penerimaan. Walaupun demikian, tidak jarang pertumbuhan menuju penerimaan tersebut maju – mundur–bahkan stagnan–sehingga hasil akhir yang sempurna terasa jauh panggang dari api.

Lalu, apakah yang dapat dilakukan agar proses penerimaan akan sebuah kehilangan dapat berakhir dengan baik dan sempurna?

Tidak ada jawaban absolut untuk pertanyaan tersebut. Hal tersebut karena manusia memiliki keunikannya yang sangat khas sehingga tidak ada satu pun metodologi yang dapat dipakai secara absolut pada semua manusia. Walaupun demikian, terdapat beberapa cara yang mungkin bisa dicoba: memandang dari sisi orang yang meninggalkan dan memaklumi bahwa tidak ada yang kekal.

Meninggal adalah hal yang pasti; yang tidak pasti adalah waktu untuk meninggal. Jika bukan kerabat terdekat yang lebih dahulu meninggal, bisa saja, kitalah yang meninggal terlebih dahulu. Semua hanya masalah waktu dan orang terdekat yang ditinggalkan — siapapun itu — pasti akan merasa sedih. Kemudian, bagaimana jika kita berada pada posisi orang yang meninggal. Saat itu terjadi, tentu saja posisi kesedihan akibat ditinggalkan akan digantikan oleh kerabat dekat yang masih hidup. Kemudian, jika kita benar-benar menyayangi kerabat terdekat tersebut, apakah kita rela jika orang terdekat tersebut yang pada akhirnya menggantikan diri kita untuk bersedih? Sebenarnya, posisi bersedih karena ditinggalkan — dari sisi ini — sejatinya merupakan posisi berkorban. Dari sisi ini pula, tanggungan beban kesedihan yang menimpa bukanlah tanpa alasan. Orang yang ditinggalkan — dan akhirnya merasa sedih — sebenarnya memang mampu untuk menanggung beban kesedihan tersebut.

Cara lain yang dapat digunakan adalah mulai beranjak dari kesadaran bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Sama seperti badai,  segala hal yang pernah dilahirkan pada akhirnya akan mati. Semua hanya masalah waktu. Waktu juga tidak akan menunggu manusia untuk siap menerima kondisi yang menghampirinya. Realita pada dasarnya muncul apa adanya dan intervensi manusia hanya sebatas memperkecil ataupun memperbesar kemungkinan dan bukan mengubah hasil akhir secara total.

Berhubungan dengan sifat alami dari realita, terdapat tiga jenis hak manusia atas pengendalian terhadap sebuah kondisi: tidak dapat dikendalikan sama sekali; dikendalikan sebagian dengan cara memodulasi realita di saat ini; ataupun dikendalikan sepenuhnya oleh manusia. Contoh dari hal yang tidak dapat dikendalikan sama sekali adalah kematian. Sedangkan hal yang sebagian dapat dikendalikan adalah kesehatan. Saat upaya untuk mengendalikan sebagian hal yang dapat dikendalikan — seperti kesehatan — sudah mencapai titik jenuh, maka kondisi di mana kendali sama sekali tidak dapat dilakukan — seperti kematian — akan terjadi. Terlepas dari realita tersebut, manusia tetap memiliki kendali penuh yang terakhir: mengendalikan respons diri terhadap realita yang hadir apa adanya. Mengetahui bahwa sumber kedukaan berawal dari kelekatan terhadap sesuatu yang tidak kekal adalah kunci awal dari pengendalian respons tersebut.  Faktanya, tidak ada satu hal pun yang kekal di dunia ini. Mengetahui bahwa kelekatan terhadap segala hal–yang pada dasarnya tidak ada satu pun hal di dunia ini yang kekal — merupakan sumber masalah dapat menjadi langkah selanjutnya dalam mengubah respons terhadap realita.

Mengetahui saja sebenarnya tidak cukup. Sejak kecil, sejatinya manusia sudah diperkenalkan dengan ketidakkekalan oleh orang tua. Lahir, besar, tua, kemudian mati adalah contoh hal sederhana yang diajarkan sejak kecil. Walaupun demikian, kebanyakan manusia hanya akan memaklumi saat ketidakkekalan terjadi pada orang lain dan tidak rela saat perubahan menghampiri dirinya sendiri. Oleh karena itu, perlu pemahaman yang berujung pada keiklasan untuk menjadikan ketidakkekalan sebagai bagian dari diri sendiri. Saat keiklasan muncul, respons yang baik terhadap realita akan hadir dan membawa manusia ke proses akhir dari kehilangan: penerimaan yang paripurna. [T]

BACA JUGA:

Percaya Tidak Percaya Covid
  • Percaya Tidak Percaya Covid
Tags: covid 19kesehatanpandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Les | Persentuhan Warga Asing dan Lokal Munculkan Kreativitas Kelola Sampah

Next Post

Bersiap “Patah Hati” Ketika Sedang Asyik-asyiknya Menikah

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails
Next Post
Bersiap “Patah Hati” Ketika Sedang Asyik-asyiknya Menikah

Bersiap “Patah Hati” Ketika Sedang Asyik-asyiknya Menikah

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses Tebal: vii + 138...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]
Ulas Musik

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur
Pameran

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026
Panggung

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño
Esai

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae
Pop

Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

SEBULAN setelah pulang dari Prancis, Morbid Monke belum berniat mengendurkan langkah. Unit art punk asal Denpasar, Bali, itu kembali membawa...

by Dede Putra Wiguna
September 19, 2026
Ramai Penulis Menjadi Pelukis
Esai

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

by Angga Wijaya
September 19, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co