17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Percaya Tidak Percaya Covid

Krisna Aji by Krisna Aji
July 23, 2021
in Opini
Percaya Tidak Percaya Covid

Foto ilustrasi: Vaksinasi Covid-19 [Foto Dok Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Pemkab Buleleng]

Ledakan angka kesakitan akibat virus SARS-CoV-2 di pertengahan tahun 2021 sebenarnya bukanlah hal yang di luar prediksi. Saat awal kemunculannya, telah diketahui bahwa sifat alamiah dari virus ini adalah penyebarannya yang sangat cepat melalui udara. Lebih tepatnya, persebaran penyakit akan mudah terjadi jika ada pertemuan manusia secara langsung, dengan jarak yang relatif dekat, dan tanpa menggunakan masker.

Disiplin dalam mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer juga adalah hal yang tidak bisa ditinggalkan. Pada perjalanannya, penyebaran virus yang diharapkan terkontrol, pada akhirnya seperti jauh panggang dari api. Tentu saja, hal tersebut berkaitan dengan perilaku memutus rantai penularan yang tidak kompak dilakukan oleh masyarakat.

Aturan mengenai protokol kesehatan dan larangan untuk berkumpul pada fase awal ternyata dapat sedikit mengontrol rantai penularan. Walaupun demikian, lonjakan kasus sempat beberapa kali terjadi pada beberapa musim liburan dan hari raya besar keagamaan. Larangan untuk mudik dan upacara adat dan keagamaan–contohnya–memang diberlakukan.

Tetapi, sesaat setelah larangan tersebut dicabut, arus mobilitas manusia tetap saja berjalan. Larangan hanya berfungsi untuk menunda waktu penyebaran penyakit, bukan menghentikannya. Realita dan kemungkinan buruk yang bisa terjadi seolah dianggap tidak ada oleh beberapa kalangan masyarakat.

Tidak sedikit yang menyangkal fakta pandemi yang terjadi. “Covid tidak ada” atau “Ini hanya konspirasi kalangan atas” adalah hal yang paling sering terdengar. Beberapa orang–tidak dapat mewakili seluruh populasi–yang ditanyai mengenai alasan dari pernyataan tersebut ternyata merasa tertekan dengan kondisi yang terjadi dan memilih untuk tidak percaya dengan fakta.

Saat argumentasinya dibantah dengan data dan fakta yang valid, beberapa dari mereka tetap mempertahankan argumentasinya yang tidak berdasar–sisanya menyerah dan mau mengakui realita.

Tekanan ekonomi dan tidak terbiasa melakukan kebiasaan baru memang hal yang nyata. Terlepas dari tekanan yang ada, apa yang membuat pandangan yang salah mengenai realita tersebut terjadi? Banyak argumentasi yang bisa dipakai untuk menjabarkannya. Salah satunya dengan menggunakan teori tahap perkembangan kognitif Piaget.

Tahap perkembangan kognitif ini melibatkan proses terjadinya pemahaman manusia terhadap sesuatu yang beranjak dari pemahaman induktif ke deduktif. Dari mengerti hanya jika sesuatu dapat dirasakan oleh panca indera sampai ke tahap mengerti hanya dari runtutan logika dari data dan fakta yang ada di saat ini untuk memrediksi masa depan.

Menurut Piaget, tahap perkembangan kognitif manusia sudah dimulai sejak awal dilahirkan hingga berusia 2 tahun. Pada tahap itu–disebut tahap sensori motor–manusia memahami dunia hanya melalui apa yang dapat dirasakan oleh panca indera. Semesta yang dipahami manusia hanya sebatas segala sesuatu yang benar-benar dapat dirasakannya: sangat induktif.

Contoh praktis dari hal ini adalah seorang anak hanya paham bahwa ibunya benar – benar ada saat ia dapat mendengar suara, menyentuh, atau melihat langsung ibunya di saat itu. Saat ibu pergi meninggalkannya walaupun hanya sekedar pergi ke pasar untuk membeli sayur, manusia pada tahap itu akan menganggap ibunya tidak ada sama sekali di dunia ini.

Pada tahap selanjutnya di usia 2 tahun sampai 7 tahun dan disebut tahap pra operasional, manusia mulai dapat memahami bahwa segala hal tidak hanya terletak pada objek yang dapat dipersepsikan oleh indera. Pemahaman terhadap premis – premis dan penggabungannya menuju silogisme juga sudah mulai dipahami pada fase ini. Ibu yang sedang pergi ke pasar dan tidak berada di sisi anak tidak lagi diartikan sebagai ketiadaan ibu. Perkembangan yang terjadi belum sempurna betul pada tahap ini. Silogisme yang dibuat sering kali masih bolong, tidak lengkap, dan kurang sempurna.

Ketidaksempurnaan dari silogisme yang dibuat dan tidak sesuai dengan kenyataan akan dilengkapi dengan menggunakan imajinasi dan fantasi. Mengatakan seseorang yang meninggal dengan kalimat “Orang itu tidur untuk selamanya” adalah salah satu pendekatan yang perlu dilakukan pada tahap ini. Pada tahap ini pun manusia belum dapat memahami sudut pandang dari orang lain: egosentris dan menang sendiri masih sangat terlihat.

Setelah itu, pada usia 7 tahun sampai 12 tahun, secara normal manusia mulai dapat mengalisis secara lebih dalam mengenai realita yang terjadi di saat ini. Sebab yang mengakibatkan realita di saat ini sudah dapat dipahami. Walaupun demikian, kemampuan untuk melakukan prediksi di masa depan yang akan terjadi belum dapat dilakukan secara sempurna.

Di titik puncak, perkembangan kognitif manusia mulai terlihat di usia 12 tahun ke atas. Manusia pada usia ini sudah dapat memberikan prediksi dari masa depan. Tentu saja, dari segala data dan fakta yang dimiliki di saat ini. Persentase dari berapa besar hal yang akan terjadi dan apa yang tidak akan terjadi sudah dapat dilakukan: cara berpikir deduktif mulai muncul secara sempurna.

  Keseluruhan tahap perkembangan kognitif tersebut secara normal memang terjadi pada manusia. Walaupun demikian, sering kali usia tidak menjamin seseorang berpikir sesuai dengan kenormalan yang sewajarnya terjadi. Beberapa kali ditemui adanya oknum dengan usia dewasa–bahkan tua–yang masih menggunakan cara berpikir tahap pertama: hanya percaya dengan sesuatu yang benar – benar sudah ia rasakan secara langsung. Seperti seorang anak kecil yang tidak paham akan panasnya api dan baru menyesal saat tangannya hangus terbakar, beberapa orang baru paham betapa mengerikannya pandemi saat ada keluarga dekatnya yang sakit atau bahkan meninggal karena penyakit ini.

Sejalan dengan itu, Kahn–sebagai perwakilan dari filsafat rasionalitas–melakukan kritik dan sindiran terhadap pandangan empirisme Hume–yang menekankan bahwa kebenaran hanya ada pada segala sesuatu yang dapat dicerap oleh indera. Kahn mengatakan bahwa manusia tidak berbeda dengan binatang jika hanya menggantungkan pengetahuan hanya pada sesuatu yang bisa dirasakan indera. Rasionalitas adalah pembeda manusia dengan binatang. [T]

Tags: covid 19kesehatanpandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warung Kecil di Toya Pakeh | Dulu Dapat Banyak, Kini Sedikit Tapi Bertahan

Next Post

Pronomina Persona “Eda” dan “Kola” dalam Dialek Nusa Penida

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails
Next Post
Pronomina Persona “Eda” dan “Kola” dalam Dialek Nusa Penida

Pronomina Persona “Eda” dan “Kola” dalam Dialek Nusa Penida

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co