3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Percaya Tidak Percaya Covid

Krisna Aji by Krisna Aji
July 23, 2021
in Opini
Percaya Tidak Percaya Covid

Foto ilustrasi: Vaksinasi Covid-19 [Foto Dok Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Pemkab Buleleng]

Ledakan angka kesakitan akibat virus SARS-CoV-2 di pertengahan tahun 2021 sebenarnya bukanlah hal yang di luar prediksi. Saat awal kemunculannya, telah diketahui bahwa sifat alamiah dari virus ini adalah penyebarannya yang sangat cepat melalui udara. Lebih tepatnya, persebaran penyakit akan mudah terjadi jika ada pertemuan manusia secara langsung, dengan jarak yang relatif dekat, dan tanpa menggunakan masker.

Disiplin dalam mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer juga adalah hal yang tidak bisa ditinggalkan. Pada perjalanannya, penyebaran virus yang diharapkan terkontrol, pada akhirnya seperti jauh panggang dari api. Tentu saja, hal tersebut berkaitan dengan perilaku memutus rantai penularan yang tidak kompak dilakukan oleh masyarakat.

Aturan mengenai protokol kesehatan dan larangan untuk berkumpul pada fase awal ternyata dapat sedikit mengontrol rantai penularan. Walaupun demikian, lonjakan kasus sempat beberapa kali terjadi pada beberapa musim liburan dan hari raya besar keagamaan. Larangan untuk mudik dan upacara adat dan keagamaan–contohnya–memang diberlakukan.

Tetapi, sesaat setelah larangan tersebut dicabut, arus mobilitas manusia tetap saja berjalan. Larangan hanya berfungsi untuk menunda waktu penyebaran penyakit, bukan menghentikannya. Realita dan kemungkinan buruk yang bisa terjadi seolah dianggap tidak ada oleh beberapa kalangan masyarakat.

Tidak sedikit yang menyangkal fakta pandemi yang terjadi. “Covid tidak ada” atau “Ini hanya konspirasi kalangan atas” adalah hal yang paling sering terdengar. Beberapa orang–tidak dapat mewakili seluruh populasi–yang ditanyai mengenai alasan dari pernyataan tersebut ternyata merasa tertekan dengan kondisi yang terjadi dan memilih untuk tidak percaya dengan fakta.

Saat argumentasinya dibantah dengan data dan fakta yang valid, beberapa dari mereka tetap mempertahankan argumentasinya yang tidak berdasar–sisanya menyerah dan mau mengakui realita.

Tekanan ekonomi dan tidak terbiasa melakukan kebiasaan baru memang hal yang nyata. Terlepas dari tekanan yang ada, apa yang membuat pandangan yang salah mengenai realita tersebut terjadi? Banyak argumentasi yang bisa dipakai untuk menjabarkannya. Salah satunya dengan menggunakan teori tahap perkembangan kognitif Piaget.

Tahap perkembangan kognitif ini melibatkan proses terjadinya pemahaman manusia terhadap sesuatu yang beranjak dari pemahaman induktif ke deduktif. Dari mengerti hanya jika sesuatu dapat dirasakan oleh panca indera sampai ke tahap mengerti hanya dari runtutan logika dari data dan fakta yang ada di saat ini untuk memrediksi masa depan.

Menurut Piaget, tahap perkembangan kognitif manusia sudah dimulai sejak awal dilahirkan hingga berusia 2 tahun. Pada tahap itu–disebut tahap sensori motor–manusia memahami dunia hanya melalui apa yang dapat dirasakan oleh panca indera. Semesta yang dipahami manusia hanya sebatas segala sesuatu yang benar-benar dapat dirasakannya: sangat induktif.

Contoh praktis dari hal ini adalah seorang anak hanya paham bahwa ibunya benar – benar ada saat ia dapat mendengar suara, menyentuh, atau melihat langsung ibunya di saat itu. Saat ibu pergi meninggalkannya walaupun hanya sekedar pergi ke pasar untuk membeli sayur, manusia pada tahap itu akan menganggap ibunya tidak ada sama sekali di dunia ini.

Pada tahap selanjutnya di usia 2 tahun sampai 7 tahun dan disebut tahap pra operasional, manusia mulai dapat memahami bahwa segala hal tidak hanya terletak pada objek yang dapat dipersepsikan oleh indera. Pemahaman terhadap premis – premis dan penggabungannya menuju silogisme juga sudah mulai dipahami pada fase ini. Ibu yang sedang pergi ke pasar dan tidak berada di sisi anak tidak lagi diartikan sebagai ketiadaan ibu. Perkembangan yang terjadi belum sempurna betul pada tahap ini. Silogisme yang dibuat sering kali masih bolong, tidak lengkap, dan kurang sempurna.

Ketidaksempurnaan dari silogisme yang dibuat dan tidak sesuai dengan kenyataan akan dilengkapi dengan menggunakan imajinasi dan fantasi. Mengatakan seseorang yang meninggal dengan kalimat “Orang itu tidur untuk selamanya” adalah salah satu pendekatan yang perlu dilakukan pada tahap ini. Pada tahap ini pun manusia belum dapat memahami sudut pandang dari orang lain: egosentris dan menang sendiri masih sangat terlihat.

Setelah itu, pada usia 7 tahun sampai 12 tahun, secara normal manusia mulai dapat mengalisis secara lebih dalam mengenai realita yang terjadi di saat ini. Sebab yang mengakibatkan realita di saat ini sudah dapat dipahami. Walaupun demikian, kemampuan untuk melakukan prediksi di masa depan yang akan terjadi belum dapat dilakukan secara sempurna.

Di titik puncak, perkembangan kognitif manusia mulai terlihat di usia 12 tahun ke atas. Manusia pada usia ini sudah dapat memberikan prediksi dari masa depan. Tentu saja, dari segala data dan fakta yang dimiliki di saat ini. Persentase dari berapa besar hal yang akan terjadi dan apa yang tidak akan terjadi sudah dapat dilakukan: cara berpikir deduktif mulai muncul secara sempurna.

  Keseluruhan tahap perkembangan kognitif tersebut secara normal memang terjadi pada manusia. Walaupun demikian, sering kali usia tidak menjamin seseorang berpikir sesuai dengan kenormalan yang sewajarnya terjadi. Beberapa kali ditemui adanya oknum dengan usia dewasa–bahkan tua–yang masih menggunakan cara berpikir tahap pertama: hanya percaya dengan sesuatu yang benar – benar sudah ia rasakan secara langsung. Seperti seorang anak kecil yang tidak paham akan panasnya api dan baru menyesal saat tangannya hangus terbakar, beberapa orang baru paham betapa mengerikannya pandemi saat ada keluarga dekatnya yang sakit atau bahkan meninggal karena penyakit ini.

Sejalan dengan itu, Kahn–sebagai perwakilan dari filsafat rasionalitas–melakukan kritik dan sindiran terhadap pandangan empirisme Hume–yang menekankan bahwa kebenaran hanya ada pada segala sesuatu yang dapat dicerap oleh indera. Kahn mengatakan bahwa manusia tidak berbeda dengan binatang jika hanya menggantungkan pengetahuan hanya pada sesuatu yang bisa dirasakan indera. Rasionalitas adalah pembeda manusia dengan binatang. [T]

Tags: covid 19kesehatanpandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warung Kecil di Toya Pakeh | Dulu Dapat Banyak, Kini Sedikit Tapi Bertahan

Next Post

Pronomina Persona “Eda” dan “Kola” dalam Dialek Nusa Penida

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails
Next Post
Pronomina Persona “Eda” dan “Kola” dalam Dialek Nusa Penida

Pronomina Persona “Eda” dan “Kola” dalam Dialek Nusa Penida

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin
Ulas Buku

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

by Chusmeru
September 3, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co