25 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Percaya Tidak Percaya Covid

Krisna Aji by Krisna Aji
July 23, 2021
in Opini
Percaya Tidak Percaya Covid

Foto ilustrasi: Vaksinasi Covid-19 [Foto Dok Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Pemkab Buleleng]

Ledakan angka kesakitan akibat virus SARS-CoV-2 di pertengahan tahun 2021 sebenarnya bukanlah hal yang di luar prediksi. Saat awal kemunculannya, telah diketahui bahwa sifat alamiah dari virus ini adalah penyebarannya yang sangat cepat melalui udara. Lebih tepatnya, persebaran penyakit akan mudah terjadi jika ada pertemuan manusia secara langsung, dengan jarak yang relatif dekat, dan tanpa menggunakan masker.

Disiplin dalam mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer juga adalah hal yang tidak bisa ditinggalkan. Pada perjalanannya, penyebaran virus yang diharapkan terkontrol, pada akhirnya seperti jauh panggang dari api. Tentu saja, hal tersebut berkaitan dengan perilaku memutus rantai penularan yang tidak kompak dilakukan oleh masyarakat.

Aturan mengenai protokol kesehatan dan larangan untuk berkumpul pada fase awal ternyata dapat sedikit mengontrol rantai penularan. Walaupun demikian, lonjakan kasus sempat beberapa kali terjadi pada beberapa musim liburan dan hari raya besar keagamaan. Larangan untuk mudik dan upacara adat dan keagamaan–contohnya–memang diberlakukan.

Tetapi, sesaat setelah larangan tersebut dicabut, arus mobilitas manusia tetap saja berjalan. Larangan hanya berfungsi untuk menunda waktu penyebaran penyakit, bukan menghentikannya. Realita dan kemungkinan buruk yang bisa terjadi seolah dianggap tidak ada oleh beberapa kalangan masyarakat.

Tidak sedikit yang menyangkal fakta pandemi yang terjadi. “Covid tidak ada” atau “Ini hanya konspirasi kalangan atas” adalah hal yang paling sering terdengar. Beberapa orang–tidak dapat mewakili seluruh populasi–yang ditanyai mengenai alasan dari pernyataan tersebut ternyata merasa tertekan dengan kondisi yang terjadi dan memilih untuk tidak percaya dengan fakta.

Saat argumentasinya dibantah dengan data dan fakta yang valid, beberapa dari mereka tetap mempertahankan argumentasinya yang tidak berdasar–sisanya menyerah dan mau mengakui realita.

Tekanan ekonomi dan tidak terbiasa melakukan kebiasaan baru memang hal yang nyata. Terlepas dari tekanan yang ada, apa yang membuat pandangan yang salah mengenai realita tersebut terjadi? Banyak argumentasi yang bisa dipakai untuk menjabarkannya. Salah satunya dengan menggunakan teori tahap perkembangan kognitif Piaget.

Tahap perkembangan kognitif ini melibatkan proses terjadinya pemahaman manusia terhadap sesuatu yang beranjak dari pemahaman induktif ke deduktif. Dari mengerti hanya jika sesuatu dapat dirasakan oleh panca indera sampai ke tahap mengerti hanya dari runtutan logika dari data dan fakta yang ada di saat ini untuk memrediksi masa depan.

Menurut Piaget, tahap perkembangan kognitif manusia sudah dimulai sejak awal dilahirkan hingga berusia 2 tahun. Pada tahap itu–disebut tahap sensori motor–manusia memahami dunia hanya melalui apa yang dapat dirasakan oleh panca indera. Semesta yang dipahami manusia hanya sebatas segala sesuatu yang benar-benar dapat dirasakannya: sangat induktif.

Contoh praktis dari hal ini adalah seorang anak hanya paham bahwa ibunya benar – benar ada saat ia dapat mendengar suara, menyentuh, atau melihat langsung ibunya di saat itu. Saat ibu pergi meninggalkannya walaupun hanya sekedar pergi ke pasar untuk membeli sayur, manusia pada tahap itu akan menganggap ibunya tidak ada sama sekali di dunia ini.

Pada tahap selanjutnya di usia 2 tahun sampai 7 tahun dan disebut tahap pra operasional, manusia mulai dapat memahami bahwa segala hal tidak hanya terletak pada objek yang dapat dipersepsikan oleh indera. Pemahaman terhadap premis – premis dan penggabungannya menuju silogisme juga sudah mulai dipahami pada fase ini. Ibu yang sedang pergi ke pasar dan tidak berada di sisi anak tidak lagi diartikan sebagai ketiadaan ibu. Perkembangan yang terjadi belum sempurna betul pada tahap ini. Silogisme yang dibuat sering kali masih bolong, tidak lengkap, dan kurang sempurna.

Ketidaksempurnaan dari silogisme yang dibuat dan tidak sesuai dengan kenyataan akan dilengkapi dengan menggunakan imajinasi dan fantasi. Mengatakan seseorang yang meninggal dengan kalimat “Orang itu tidur untuk selamanya” adalah salah satu pendekatan yang perlu dilakukan pada tahap ini. Pada tahap ini pun manusia belum dapat memahami sudut pandang dari orang lain: egosentris dan menang sendiri masih sangat terlihat.

Setelah itu, pada usia 7 tahun sampai 12 tahun, secara normal manusia mulai dapat mengalisis secara lebih dalam mengenai realita yang terjadi di saat ini. Sebab yang mengakibatkan realita di saat ini sudah dapat dipahami. Walaupun demikian, kemampuan untuk melakukan prediksi di masa depan yang akan terjadi belum dapat dilakukan secara sempurna.

Di titik puncak, perkembangan kognitif manusia mulai terlihat di usia 12 tahun ke atas. Manusia pada usia ini sudah dapat memberikan prediksi dari masa depan. Tentu saja, dari segala data dan fakta yang dimiliki di saat ini. Persentase dari berapa besar hal yang akan terjadi dan apa yang tidak akan terjadi sudah dapat dilakukan: cara berpikir deduktif mulai muncul secara sempurna.

  Keseluruhan tahap perkembangan kognitif tersebut secara normal memang terjadi pada manusia. Walaupun demikian, sering kali usia tidak menjamin seseorang berpikir sesuai dengan kenormalan yang sewajarnya terjadi. Beberapa kali ditemui adanya oknum dengan usia dewasa–bahkan tua–yang masih menggunakan cara berpikir tahap pertama: hanya percaya dengan sesuatu yang benar – benar sudah ia rasakan secara langsung. Seperti seorang anak kecil yang tidak paham akan panasnya api dan baru menyesal saat tangannya hangus terbakar, beberapa orang baru paham betapa mengerikannya pandemi saat ada keluarga dekatnya yang sakit atau bahkan meninggal karena penyakit ini.

Sejalan dengan itu, Kahn–sebagai perwakilan dari filsafat rasionalitas–melakukan kritik dan sindiran terhadap pandangan empirisme Hume–yang menekankan bahwa kebenaran hanya ada pada segala sesuatu yang dapat dicerap oleh indera. Kahn mengatakan bahwa manusia tidak berbeda dengan binatang jika hanya menggantungkan pengetahuan hanya pada sesuatu yang bisa dirasakan indera. Rasionalitas adalah pembeda manusia dengan binatang. [T]

Tags: covid 19kesehatanpandemi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warung Kecil di Toya Pakeh | Dulu Dapat Banyak, Kini Sedikit Tapi Bertahan

Next Post

Pronomina Persona “Eda” dan “Kola” dalam Dialek Nusa Penida

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails
Next Post
Pronomina Persona “Eda” dan “Kola” dalam Dialek Nusa Penida

Pronomina Persona “Eda” dan “Kola” dalam Dialek Nusa Penida

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co