24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tenggelam Dalam Janji dan Narasi yang Tak Pernah Sejalan dengan Realisasi; Itulah Indonesia

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
April 25, 2020
in Opini
Bali dan Covid-19: Titik Balik Bali Untuk Masa Depan

Saya sangat beruntung karena besar ketika Indonesia sudah memasuki era reformasi. Ya, era dimana kebebasan berpendapat diakomodir oleh negara tanpa terkecuali, asal tidak melenceng dengan dasar negara saja (Pancasila dan UUD 1945). Era yang dulu diperjuangkan oleh mahasiswa dan kaum terpinggirkan (marjinal) pada awal-awal tahun 1998. Tidak hanya membaca maupun mendengar penuturan teman setongkrongan saja, tetapi saya juga sempat melihat beberapa foto situasi saat tahun 1998 di sebuah kedai kopi di tengah kota Denpasar.

Mengerikan, itu kata yang terlitas pertama setelah melihat bagaimana chaosnya situasi kala itu. Mahasiswa adu jotos dengan aparat keamanan, api berkobar dimana-mana, batu melayang bagaikan bintang jatuh. Bedanya jika bintang jatuh kita memejamkan mata dan memanjatkan permohonan, kalau batu jatuh ya kita harus membuka mata agar bisa berkelit tak terkena hantaman batu yang seukuran kepalan tangan orang dewasa.

Singkat cerita, mahasiswa berhasil mewujudkan reformasi, The Smilling General akhirnya legowo melepaskan mandat rakyat (katanya) yang ia pegang selama 32 tahun. Sebagai pengganti sang Jenderal, si Jenius pun ditunjuk yang kala itu mendampingi sang Jenderal. Si Jenius pun langsung membuat gebrakan, membebaskan kehidupan pers yang selama era sang Jenderal dikekang dan semenjak saat itu terbukalah keran demokrasi. Indonesia menuju negara yang menjunjung tinggi demokrasi.

Dari sinilah muncul fenomena baru yang tidak akan pernah ditemukan pada era sebelumnya. Wacana pemilihan umum secara langsung digodok di gedung dewan dengan sangat serius, tiap fraksi menyiapkan gagasan unggul untuk diadu di ruang sidang dewan, saling adu gagasan terjadi di mana di sanalah proses meramu kebijakan yang paling baik.

Tahun 2004 kembali lahir sejarah baru, setelah pemilihan umum pada tahun 1999 yang hanya diperuntukan untuk memilih wakil rakyat, lima tahun berikutnya berlangsung pemilihan umum secara langsung oleh masyarakat Indonesia yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden. Masyarakat tentu sangat antusias untuk menggunakan hak pilihnya yang pertama setelah berada dalam hegemoni sang Jenderal.

Setiap peserta pemilu hadir di desa-desa, warga dengan sangat antusias datang ke lapangan desa untuk memeriahkan kampanye sang peserta pemilu. Baju kaos, payung, jam dinding dan merchandise lainnya dibagikan secara cuma-cuma tentu saja dengan tanda gambar sang peserta pemilu. Brosur juga telah tersebar rata dan dipegang oleh setiap warga, di sana berisi list yang akan dikerjakan oleh sang peserta pemilu. Sambil baca brosur, sambil warga mendengarkan pidato dari peserta pemilu dari atas panggung. Suara yang lantang, nada yang tegas dan keyakinan mantap sang peserta pemilu berhasil membuat warga manggut-manggut, entah paham dengan apa yang dikatakan peserta pemilu atau tidak yang penting manggut-manggut dulu.

Inilah fenomena baru yang saya maksud, sebagai generasi yang masih baru dalam melihat dunia, saya melihat ada keterkaitan yang sangat kuat antara janji dan narasi. Bahkan sampai hari ini saya melihat metodenya masih sama, hanya saja bagi-bagi kaos, payung, jam dinding, serta merchandise lainnya sudah dikurangi dengan amplop yang berisikan kertas berwarna merah dengan gambar sang proklamator bangsa.

Janji-janji yang dibawa oleh peserta pemilu entah itu presiden dan wakil presiden maupun calon anggota legislatif itu selalu diperkuat dengan narasi-narasi yang mampu meyakinkan rakyat bahwa segala yang dikatakan itu mampu untuk dilakukan dalam kurun waktu satu periode masa jabatan (5 tahun). Sang peserta pemilu dengan sangat jitu memilih juru bicara yang bisa mewakili pemikirannya dan tentu mampu meyakinkan rakyat yang menjadi lumbung suara. Apalagi melihat fenomena saat Pemilu tahun 2019 lalu, sepertinya masyarakat tak melihat bahkan tak tahu apa visi, misi, dan program kerja yang dicanangkan oleh peserta pemilu.

Kalaupun ada yang tahu, mungkin hanya sekadar baca atau sekadar lewat saja tetapi tidak untuk didalami dan dipahami secara khusus. Maka dari itu yang muncul dipermukaan hanya perang narasi yang berujung pada tendensi. Tak ada unsur pencerdasan kepada masyarakat dalam adu narasi yang ditayangkan di berbagai TV nasional, mungkin yang ada di kepala politisi itu hanya “bagaimana memenangkan kepentingan kelompok saya dan terlihat lebih baik di mata masyarakat”. Hanya itu, bukan untuk pencerdasan melainkan hanya untuk kepentingan. Bukankah begitu?

Tak hanya dari sisi elit saja yang menurut saya yang jadi masalah. Dari sisi pemilih pun demikian. Lebih tertarik dengan adu narasi, argumen yang berujung tendensi yang melibatkan emosional. Esok harinya, di kedai kopi dengan asik membicarakan dan menganalisis bagaimana jalannya debat tak berujung yang disiarkan oleh salah satu TV nasional sehari sebelumnya. Selain lebih suka melihat perdebatan, nampaknya masyarakat memang lebih suka hal yang instan (wajar saja mie instan banyak peminatnya) maksudnya lebih suka melihat hasil nyata dengan waktu yang cepat, bukan cepat lebih tepatnya sangat cepat.

Hal ini sepertinya selalu terjadi di setiap kontestasi politik, bagi peserta pemilu yang turun ke desa untuk melakukan sosialisasi diri harus menyiapkan kantong yang cukup dalam, karena bukan apa program yang akan diusung, bukan juga pembaharuan yang akan dibawa, melainkan masyarakat akan menanyakan “apa yang bisa bapak/ibu bantu untuk pembangunan infrastruktur di desa ini?” jika tak siap, jangan harap suara akan direngkuh dengan mudah.

Saya melihat ini sebuah hal yang nantinya bisa saja menjadi kebiasaan. Disaat peserta pemilu dipaksa untuk menyiapkan dana yang besar untuk menggaet suara rakyat yang memang inginnya serba instan. Maka yang terjadi adalah program-program maupun pembaharuan yang awalnya mau dibawa oleh caleg dikesampingkan dulu oleh caleg ketika ia sudah berhasil menduduki kursi dewan yang terhormat. Karena tentu yang ada di pikirannya adalah bagaimana mengembalikan modal awal nyaleg untuk digunakan sebagai modal untuk kampanye di pemilu selanjutnya. Hal itu sudah pasti, karena duduk di kursi dewan hari ini sangatlah mahal. Dengan sistem pendaftaran terbuka, kontestan dipaksa untuk tarung bebas tidak hanya dengan kontestan dari partai lain, tetapi juga dengan kawan satu partai.

Sudahlah, dengan fenomena tadi jangan terlalu banyak berharap semua janji dan narasi yang manis bak madu yang baru di panen itu dapat direalisasikan dalam satu periode. Hal ini membuat saya sedikit tersadar, ternyata yang menciptakan iklim politik ini tidak hanya oleh elit politik saja, tetapi si pemilik hak suara atau masyarakat memiliki peran yang begitu besar dalam hal ini. Tentu dengan berbagai hal instan yang diharapkannya.

Saya sampai hari ini masih yakin hanya sedikit anggota dewan yang mau mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang kepentingan pribadi jika iklim politik masih seperti ini. Itu bisa dilihat dari pola pergerakan yang hanya gencar saat menjelang perhelatan pemilihan saja. baik pemilihan presidan dan wakil presiden, anggota dewan hingga pemilihan kepala daerah. Sisanya kemana? Oh iya sibuk nabung untuk persiapan kontestasi berikutnya. Karena menjaga konstituen itu tidak murah. [T]

Denpasar, 13 April 2020

Tags: Orde BaruPolitikReformasi
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

“Tidurlah Sejenak”, Pendidikan!

Next Post

Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co