2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
April 26, 2020
in Esai
Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

Ilustrasi foto: Mursal Buyung

Puisi adalah keindahan. Sepenuhnya mengenai keindahan. Tidak ada di luar itu. Puisi adalah puisi, bukan kata-kata puitis.

Ia keindahan di dalam, lebih dalam dari pikiran. Puisi ada sebelum pikiran. Ia syahdu dalam letupan inspirasi. Ia sesuatu yang bermula dari getaran spirit. Ia semacam fenomena spiritual.

Keindahan puisi itu misterius, seperti kilatan cahaya di bawah horizon yang jauh tapi menjangkau mata hati. Terkadang ia berkilau secerah layar perahu yang berlayar di nadi. Kadang-kadang seterang rembulan yang muncul di suatu tempat di ruang batin.

Maka penyair adalah seorang  pertapa. Ia bertapa untuk merenungi keindahan yang halus, syahdu dan spiritual, kemudian membahasakannya.

Puisi adalah puisi. Ia bagian yang misterius dari warna sekuntum mawar atau melodi lagu yang secara rahasia bergetar di hati membawa pesan-pesan kehidupan sebagai keindahan. Ia adalah impuls halus dari dalam putaran kehidupan yang kompleks. Ia selalu memiliki momennya sendiri untuk datang. Seperti tamu yang berkunjung, kadang-kadang pada saat kita sedang sendiri, meskipun tidak selalu. Ia datang dengan sendirinya. Tidak ada yang mengantarnya. Ia seakan bayangan dari hidup, emosi, impian kita.

Sewaktu menulis puisi, penyair bekerja dengan teknik yang melibatkan pikiran atau keterampilan. Itu tugas yang berat. Pekerjaan sulit. Tidak mudah sama sekali. Dibutuhkan ketekunan dan kekuatan besar untuk bekerja dengan kata-kata. Dibutuhkan kejujuran untuk menjangkau dan menyerap keindahannya dengan bahasa. Hal ini kemudian jadi semacam proses bermeditasi yang melibatkan suara hati, kedalaman imajinasi, pikiran, serta keterampilan menulis untuk merangkum dan meramu getaran puisi hingga sampai ke titik yang jernih.

Kata-kata puisi memiliki sukmanya sendiri. Ia dunia yang tumbuh dan bergerak dengan suara hati. Fenomena keindahan itu benar-benar tidak dapat diungkapkan secara verbal meski bisa dijangkau dan diolah oleh perasaan.  Karena itu, penyair menggunakan simbol atau metafora untuk mencapainya. Lewat metafora, puisi dapat tersampaikan ke luar dan ditangkap pikiran, setidaknya sebagai persepsi puitis. Di sini puisi kadang memerlukan pengamat, kritikus atau pengurai puisi untuk mengungkap, mengomunikasikan, dan mencairkan puisi dari berbagai sisi ilmu pengetahuan. 

Begitulah puisi. Itu sebabnya puisi bukan kata-kata puitis. Kata-kata menjadi puitis semata-mata karena dia membawa dalam dirinya getaran puisi. Kita tidak dapat mengatakan kata-kata puitis sebagai puisi, tetapi kata-kata puitis terbentuk karena merupakan bayangan puisi. 

Ketika menulis puisi, penyair akan menyerahkan dirinya kepada energi alam semesta yang sepenuhnya menggerakkan hatinya. Setiap puisi adalah fenomena rohani, suara kesunyian, kerinduan, atau keterasingan yang gemanya abadi di ruang batin. Kalimat puisi adalah metafora yang membawa dunia dan pengertiannya sendiri. Sewaktu menulis puisi, penyair sepenuhnya sedang mengekplorasi keindahan melalui metafora.

Tidak sulit meramu kata menjadi kalimat puitis tetapi puisi yang dibangun dari ramuan kata-kata puitis adalah puisi hampa. Puisi adalah manifestasi keindahan yang lahir dari kontemplasi yang mendalam. Puisi yang membentuk rimbunan kata-kata puitis.

Puisi mengabadikan pengalaman yang mendalam dari rasa keterasingan, kehampaan, kerinduan, ataupun kegelisahan dari lapisan emosi kuno di alam bawah sadar. Ia muncul sebagai fenomena puitik yang tak habis-habisnya di ruang tak terbatas. Puisi  mengangkatnya ke ruang pikiran sadar yang terbatas.

Teks, kata-kata, atau metafora memiliki keterbatasan dalam mengaktualisasikan fenomena puitik ke alam pikiran sadar. Karena itu, puisi hanyalah indikator dari keindahan puitik di alam bawah sadar. Ia ibarat puncak sebuah gunung es yang tampak di permukaan yang merupakan bagian gunung es yang jauh lebih besar di alam bawah sadar. Pada dasarnya setiap puisi adalah upaya untuk mengekplorasi keindahan di alam bawah sadar.

Tetapi penyair memerlukan tema untuk menyalurkan getaran puitik. Meski tidak terlalu relevan, namun tema adalah triger yang dapat membantu untuk masuk dan merasakan getaran puisi. Itu bagian dari teknik. Tema puisi memang tak lebih dari agregasi keterasingan, kerinduan, pencarian, atau kegelisahan jiwa manusia.

Puisi adalah puisi. Ia semata-mata keindahan. Keindahan yang jauh, dalam, redup di ruang batin. Ia mengajari kita mengenali atau memahami banyak hal namun tanpa memiliki satu kesimpulan. Ia seakan berada di ruang yang terpencil dan sunyi namun ketika kita memasukinya, kita akan dibawa untuk memahami kehidupan yang luas dan riuh. Puisi ibarat benih api dari ruang bawah sadar yang kemudian meledak, menyulut dan membakar ruang kesadaran estetika kita. Puisi terus menerus bekerja di ruangan ini.

Penyair mungkin tidak banyak berbicara mengenai teknik, tapi teknik adalah bagian dari proses kreatif dan penemuan individual. Penyair bekerja dengan tekniknya masing-masing untuk mengadopsi keindahan yang menginspirasi. Penyair mendalami tekniknya sesuai visinya. 

Puisi itu unik dan misterius. Puisi bukan cerpen atau novel yang dipadatkan. Puisi bisa hadir dalam cerpen atau novel. Puisi bisa hadir dalam lukisan atau musik. Ia bukan risalah, surat pembaca, atau pamflet protes yang ditulis dengan kalimat puitis. Juga bukan sekadar kata-kata puitis. Puisi adalah puisi. Ia adalah spirit keindahan tersendiri.

Setiap penyair menulis larik, membentuk bait-bait, dan dengan gaya bahasa yang dihidupi oleh pengalaman individual. Di sini, penyair akan berhadapan dengan dirinya sendiri dan dipaksa menjadi dirinya sendiri. 

Jika penyair disamakan dengan pelukis akan mudah untuk memahami betapa beragamnya teknik itu, dan bagaimana setiap seniman memroses visi artistiknya. Dapat dilihat Paul Gauguin, Vincent van Gogh, Pablo Picasso, Amedeo Modigliani, atau Marc Chagall yang dengan tekniknya masing-masing menghadirkan puisi yang sangat intens dalam karya lukis mereka yang berbeda. Demikian juga dengan penyair mesti mengeksplorasi teknik untuk dapat mengekspresikan puisi mereka secara mendalam.

Namun perpuisian kita hari ini kelihatannya hidup dalam dunia yang seragam, dibentuk oleh selera dan teknik seragam. Itu mudah dilihat dari puisi-puisi yang menguasai media mainstream. Puisi berkerumun dalam teknik senada dan dalam spirit pertemanan. Penyair dilahirkan dan dipromosikan oleh pertemanan. Para penyair sibuk membangunan persekutuan. Orang-orang awam bertindak sebagai kurator atau redaktur dan menilai puisi berdasar selera pribadi, “teknik” yang sedang tren, atau karena pertemanan.

Pekerjaan penyair sekarang adalah sibuk mengumpulkan kata-kata dan istilah dari kamus. Kata-kata itu disusun, dirangkai, dibolak-balik, menjadi larik dan digabung-gabung dengan membuat bayangan benang merah di baliknya seakan mereka sedang menceritakan sesuatu. Kalimat-kalimatnya dibiarkan tanggung atau sengaja dipotong supaya jadi puitis. Penyair lebih suka menjadi produktif dan tergesa-gesa dan tidak mendalami spirit puisinya. Bila sekarang mereka masih menulis puisi seperti itu, sebagai teknik menulis puisi bagi pemula, walau mungkin mendapat apresiasi dari beberapa kalangan, tentu tidak lama lagi hati nurani mereka akan merasa dengan sendirinya bahwa yang ditulisnya itu adalah puisi hampa yang tidak berakar pada keorisinalan puisi sejati. [T]

Tags: keindahanPuisisastra
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Tenggelam Dalam Janji dan Narasi yang Tak Pernah Sejalan dengan Realisasi; Itulah Indonesia

Next Post

Mari Kita Bercermin; Politik Pandemi

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Mari Kita Bercermin; Politik Pandemi

Mari Kita Bercermin; Politik Pandemi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co