23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
April 26, 2020
in Esai
Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

Ilustrasi foto: Mursal Buyung

Puisi adalah keindahan. Sepenuhnya mengenai keindahan. Tidak ada di luar itu. Puisi adalah puisi, bukan kata-kata puitis.

Ia keindahan di dalam, lebih dalam dari pikiran. Puisi ada sebelum pikiran. Ia syahdu dalam letupan inspirasi. Ia sesuatu yang bermula dari getaran spirit. Ia semacam fenomena spiritual.

Keindahan puisi itu misterius, seperti kilatan cahaya di bawah horizon yang jauh tapi menjangkau mata hati. Terkadang ia berkilau secerah layar perahu yang berlayar di nadi. Kadang-kadang seterang rembulan yang muncul di suatu tempat di ruang batin.

Maka penyair adalah seorang  pertapa. Ia bertapa untuk merenungi keindahan yang halus, syahdu dan spiritual, kemudian membahasakannya.

Puisi adalah puisi. Ia bagian yang misterius dari warna sekuntum mawar atau melodi lagu yang secara rahasia bergetar di hati membawa pesan-pesan kehidupan sebagai keindahan. Ia adalah impuls halus dari dalam putaran kehidupan yang kompleks. Ia selalu memiliki momennya sendiri untuk datang. Seperti tamu yang berkunjung, kadang-kadang pada saat kita sedang sendiri, meskipun tidak selalu. Ia datang dengan sendirinya. Tidak ada yang mengantarnya. Ia seakan bayangan dari hidup, emosi, impian kita.

Sewaktu menulis puisi, penyair bekerja dengan teknik yang melibatkan pikiran atau keterampilan. Itu tugas yang berat. Pekerjaan sulit. Tidak mudah sama sekali. Dibutuhkan ketekunan dan kekuatan besar untuk bekerja dengan kata-kata. Dibutuhkan kejujuran untuk menjangkau dan menyerap keindahannya dengan bahasa. Hal ini kemudian jadi semacam proses bermeditasi yang melibatkan suara hati, kedalaman imajinasi, pikiran, serta keterampilan menulis untuk merangkum dan meramu getaran puisi hingga sampai ke titik yang jernih.

Kata-kata puisi memiliki sukmanya sendiri. Ia dunia yang tumbuh dan bergerak dengan suara hati. Fenomena keindahan itu benar-benar tidak dapat diungkapkan secara verbal meski bisa dijangkau dan diolah oleh perasaan.  Karena itu, penyair menggunakan simbol atau metafora untuk mencapainya. Lewat metafora, puisi dapat tersampaikan ke luar dan ditangkap pikiran, setidaknya sebagai persepsi puitis. Di sini puisi kadang memerlukan pengamat, kritikus atau pengurai puisi untuk mengungkap, mengomunikasikan, dan mencairkan puisi dari berbagai sisi ilmu pengetahuan. 

Begitulah puisi. Itu sebabnya puisi bukan kata-kata puitis. Kata-kata menjadi puitis semata-mata karena dia membawa dalam dirinya getaran puisi. Kita tidak dapat mengatakan kata-kata puitis sebagai puisi, tetapi kata-kata puitis terbentuk karena merupakan bayangan puisi. 

Ketika menulis puisi, penyair akan menyerahkan dirinya kepada energi alam semesta yang sepenuhnya menggerakkan hatinya. Setiap puisi adalah fenomena rohani, suara kesunyian, kerinduan, atau keterasingan yang gemanya abadi di ruang batin. Kalimat puisi adalah metafora yang membawa dunia dan pengertiannya sendiri. Sewaktu menulis puisi, penyair sepenuhnya sedang mengekplorasi keindahan melalui metafora.

Tidak sulit meramu kata menjadi kalimat puitis tetapi puisi yang dibangun dari ramuan kata-kata puitis adalah puisi hampa. Puisi adalah manifestasi keindahan yang lahir dari kontemplasi yang mendalam. Puisi yang membentuk rimbunan kata-kata puitis.

Puisi mengabadikan pengalaman yang mendalam dari rasa keterasingan, kehampaan, kerinduan, ataupun kegelisahan dari lapisan emosi kuno di alam bawah sadar. Ia muncul sebagai fenomena puitik yang tak habis-habisnya di ruang tak terbatas. Puisi  mengangkatnya ke ruang pikiran sadar yang terbatas.

Teks, kata-kata, atau metafora memiliki keterbatasan dalam mengaktualisasikan fenomena puitik ke alam pikiran sadar. Karena itu, puisi hanyalah indikator dari keindahan puitik di alam bawah sadar. Ia ibarat puncak sebuah gunung es yang tampak di permukaan yang merupakan bagian gunung es yang jauh lebih besar di alam bawah sadar. Pada dasarnya setiap puisi adalah upaya untuk mengekplorasi keindahan di alam bawah sadar.

Tetapi penyair memerlukan tema untuk menyalurkan getaran puitik. Meski tidak terlalu relevan, namun tema adalah triger yang dapat membantu untuk masuk dan merasakan getaran puisi. Itu bagian dari teknik. Tema puisi memang tak lebih dari agregasi keterasingan, kerinduan, pencarian, atau kegelisahan jiwa manusia.

Puisi adalah puisi. Ia semata-mata keindahan. Keindahan yang jauh, dalam, redup di ruang batin. Ia mengajari kita mengenali atau memahami banyak hal namun tanpa memiliki satu kesimpulan. Ia seakan berada di ruang yang terpencil dan sunyi namun ketika kita memasukinya, kita akan dibawa untuk memahami kehidupan yang luas dan riuh. Puisi ibarat benih api dari ruang bawah sadar yang kemudian meledak, menyulut dan membakar ruang kesadaran estetika kita. Puisi terus menerus bekerja di ruangan ini.

Penyair mungkin tidak banyak berbicara mengenai teknik, tapi teknik adalah bagian dari proses kreatif dan penemuan individual. Penyair bekerja dengan tekniknya masing-masing untuk mengadopsi keindahan yang menginspirasi. Penyair mendalami tekniknya sesuai visinya. 

Puisi itu unik dan misterius. Puisi bukan cerpen atau novel yang dipadatkan. Puisi bisa hadir dalam cerpen atau novel. Puisi bisa hadir dalam lukisan atau musik. Ia bukan risalah, surat pembaca, atau pamflet protes yang ditulis dengan kalimat puitis. Juga bukan sekadar kata-kata puitis. Puisi adalah puisi. Ia adalah spirit keindahan tersendiri.

Setiap penyair menulis larik, membentuk bait-bait, dan dengan gaya bahasa yang dihidupi oleh pengalaman individual. Di sini, penyair akan berhadapan dengan dirinya sendiri dan dipaksa menjadi dirinya sendiri. 

Jika penyair disamakan dengan pelukis akan mudah untuk memahami betapa beragamnya teknik itu, dan bagaimana setiap seniman memroses visi artistiknya. Dapat dilihat Paul Gauguin, Vincent van Gogh, Pablo Picasso, Amedeo Modigliani, atau Marc Chagall yang dengan tekniknya masing-masing menghadirkan puisi yang sangat intens dalam karya lukis mereka yang berbeda. Demikian juga dengan penyair mesti mengeksplorasi teknik untuk dapat mengekspresikan puisi mereka secara mendalam.

Namun perpuisian kita hari ini kelihatannya hidup dalam dunia yang seragam, dibentuk oleh selera dan teknik seragam. Itu mudah dilihat dari puisi-puisi yang menguasai media mainstream. Puisi berkerumun dalam teknik senada dan dalam spirit pertemanan. Penyair dilahirkan dan dipromosikan oleh pertemanan. Para penyair sibuk membangunan persekutuan. Orang-orang awam bertindak sebagai kurator atau redaktur dan menilai puisi berdasar selera pribadi, “teknik” yang sedang tren, atau karena pertemanan.

Pekerjaan penyair sekarang adalah sibuk mengumpulkan kata-kata dan istilah dari kamus. Kata-kata itu disusun, dirangkai, dibolak-balik, menjadi larik dan digabung-gabung dengan membuat bayangan benang merah di baliknya seakan mereka sedang menceritakan sesuatu. Kalimat-kalimatnya dibiarkan tanggung atau sengaja dipotong supaya jadi puitis. Penyair lebih suka menjadi produktif dan tergesa-gesa dan tidak mendalami spirit puisinya. Bila sekarang mereka masih menulis puisi seperti itu, sebagai teknik menulis puisi bagi pemula, walau mungkin mendapat apresiasi dari beberapa kalangan, tentu tidak lama lagi hati nurani mereka akan merasa dengan sendirinya bahwa yang ditulisnya itu adalah puisi hampa yang tidak berakar pada keorisinalan puisi sejati. [T]

Tags: keindahanPuisisastra
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Tenggelam Dalam Janji dan Narasi yang Tak Pernah Sejalan dengan Realisasi; Itulah Indonesia

Next Post

Mari Kita Bercermin; Politik Pandemi

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Mari Kita Bercermin; Politik Pandemi

Mari Kita Bercermin; Politik Pandemi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co