3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tenggelam Dalam Janji dan Narasi yang Tak Pernah Sejalan dengan Realisasi; Itulah Indonesia

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
April 25, 2020
in Opini
Bali dan Covid-19: Titik Balik Bali Untuk Masa Depan

Saya sangat beruntung karena besar ketika Indonesia sudah memasuki era reformasi. Ya, era dimana kebebasan berpendapat diakomodir oleh negara tanpa terkecuali, asal tidak melenceng dengan dasar negara saja (Pancasila dan UUD 1945). Era yang dulu diperjuangkan oleh mahasiswa dan kaum terpinggirkan (marjinal) pada awal-awal tahun 1998. Tidak hanya membaca maupun mendengar penuturan teman setongkrongan saja, tetapi saya juga sempat melihat beberapa foto situasi saat tahun 1998 di sebuah kedai kopi di tengah kota Denpasar.

Mengerikan, itu kata yang terlitas pertama setelah melihat bagaimana chaosnya situasi kala itu. Mahasiswa adu jotos dengan aparat keamanan, api berkobar dimana-mana, batu melayang bagaikan bintang jatuh. Bedanya jika bintang jatuh kita memejamkan mata dan memanjatkan permohonan, kalau batu jatuh ya kita harus membuka mata agar bisa berkelit tak terkena hantaman batu yang seukuran kepalan tangan orang dewasa.

Singkat cerita, mahasiswa berhasil mewujudkan reformasi, The Smilling General akhirnya legowo melepaskan mandat rakyat (katanya) yang ia pegang selama 32 tahun. Sebagai pengganti sang Jenderal, si Jenius pun ditunjuk yang kala itu mendampingi sang Jenderal. Si Jenius pun langsung membuat gebrakan, membebaskan kehidupan pers yang selama era sang Jenderal dikekang dan semenjak saat itu terbukalah keran demokrasi. Indonesia menuju negara yang menjunjung tinggi demokrasi.

Dari sinilah muncul fenomena baru yang tidak akan pernah ditemukan pada era sebelumnya. Wacana pemilihan umum secara langsung digodok di gedung dewan dengan sangat serius, tiap fraksi menyiapkan gagasan unggul untuk diadu di ruang sidang dewan, saling adu gagasan terjadi di mana di sanalah proses meramu kebijakan yang paling baik.

Tahun 2004 kembali lahir sejarah baru, setelah pemilihan umum pada tahun 1999 yang hanya diperuntukan untuk memilih wakil rakyat, lima tahun berikutnya berlangsung pemilihan umum secara langsung oleh masyarakat Indonesia yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden. Masyarakat tentu sangat antusias untuk menggunakan hak pilihnya yang pertama setelah berada dalam hegemoni sang Jenderal.

Setiap peserta pemilu hadir di desa-desa, warga dengan sangat antusias datang ke lapangan desa untuk memeriahkan kampanye sang peserta pemilu. Baju kaos, payung, jam dinding dan merchandise lainnya dibagikan secara cuma-cuma tentu saja dengan tanda gambar sang peserta pemilu. Brosur juga telah tersebar rata dan dipegang oleh setiap warga, di sana berisi list yang akan dikerjakan oleh sang peserta pemilu. Sambil baca brosur, sambil warga mendengarkan pidato dari peserta pemilu dari atas panggung. Suara yang lantang, nada yang tegas dan keyakinan mantap sang peserta pemilu berhasil membuat warga manggut-manggut, entah paham dengan apa yang dikatakan peserta pemilu atau tidak yang penting manggut-manggut dulu.

Inilah fenomena baru yang saya maksud, sebagai generasi yang masih baru dalam melihat dunia, saya melihat ada keterkaitan yang sangat kuat antara janji dan narasi. Bahkan sampai hari ini saya melihat metodenya masih sama, hanya saja bagi-bagi kaos, payung, jam dinding, serta merchandise lainnya sudah dikurangi dengan amplop yang berisikan kertas berwarna merah dengan gambar sang proklamator bangsa.

Janji-janji yang dibawa oleh peserta pemilu entah itu presiden dan wakil presiden maupun calon anggota legislatif itu selalu diperkuat dengan narasi-narasi yang mampu meyakinkan rakyat bahwa segala yang dikatakan itu mampu untuk dilakukan dalam kurun waktu satu periode masa jabatan (5 tahun). Sang peserta pemilu dengan sangat jitu memilih juru bicara yang bisa mewakili pemikirannya dan tentu mampu meyakinkan rakyat yang menjadi lumbung suara. Apalagi melihat fenomena saat Pemilu tahun 2019 lalu, sepertinya masyarakat tak melihat bahkan tak tahu apa visi, misi, dan program kerja yang dicanangkan oleh peserta pemilu.

Kalaupun ada yang tahu, mungkin hanya sekadar baca atau sekadar lewat saja tetapi tidak untuk didalami dan dipahami secara khusus. Maka dari itu yang muncul dipermukaan hanya perang narasi yang berujung pada tendensi. Tak ada unsur pencerdasan kepada masyarakat dalam adu narasi yang ditayangkan di berbagai TV nasional, mungkin yang ada di kepala politisi itu hanya “bagaimana memenangkan kepentingan kelompok saya dan terlihat lebih baik di mata masyarakat”. Hanya itu, bukan untuk pencerdasan melainkan hanya untuk kepentingan. Bukankah begitu?

Tak hanya dari sisi elit saja yang menurut saya yang jadi masalah. Dari sisi pemilih pun demikian. Lebih tertarik dengan adu narasi, argumen yang berujung tendensi yang melibatkan emosional. Esok harinya, di kedai kopi dengan asik membicarakan dan menganalisis bagaimana jalannya debat tak berujung yang disiarkan oleh salah satu TV nasional sehari sebelumnya. Selain lebih suka melihat perdebatan, nampaknya masyarakat memang lebih suka hal yang instan (wajar saja mie instan banyak peminatnya) maksudnya lebih suka melihat hasil nyata dengan waktu yang cepat, bukan cepat lebih tepatnya sangat cepat.

Hal ini sepertinya selalu terjadi di setiap kontestasi politik, bagi peserta pemilu yang turun ke desa untuk melakukan sosialisasi diri harus menyiapkan kantong yang cukup dalam, karena bukan apa program yang akan diusung, bukan juga pembaharuan yang akan dibawa, melainkan masyarakat akan menanyakan “apa yang bisa bapak/ibu bantu untuk pembangunan infrastruktur di desa ini?” jika tak siap, jangan harap suara akan direngkuh dengan mudah.

Saya melihat ini sebuah hal yang nantinya bisa saja menjadi kebiasaan. Disaat peserta pemilu dipaksa untuk menyiapkan dana yang besar untuk menggaet suara rakyat yang memang inginnya serba instan. Maka yang terjadi adalah program-program maupun pembaharuan yang awalnya mau dibawa oleh caleg dikesampingkan dulu oleh caleg ketika ia sudah berhasil menduduki kursi dewan yang terhormat. Karena tentu yang ada di pikirannya adalah bagaimana mengembalikan modal awal nyaleg untuk digunakan sebagai modal untuk kampanye di pemilu selanjutnya. Hal itu sudah pasti, karena duduk di kursi dewan hari ini sangatlah mahal. Dengan sistem pendaftaran terbuka, kontestan dipaksa untuk tarung bebas tidak hanya dengan kontestan dari partai lain, tetapi juga dengan kawan satu partai.

Sudahlah, dengan fenomena tadi jangan terlalu banyak berharap semua janji dan narasi yang manis bak madu yang baru di panen itu dapat direalisasikan dalam satu periode. Hal ini membuat saya sedikit tersadar, ternyata yang menciptakan iklim politik ini tidak hanya oleh elit politik saja, tetapi si pemilik hak suara atau masyarakat memiliki peran yang begitu besar dalam hal ini. Tentu dengan berbagai hal instan yang diharapkannya.

Saya sampai hari ini masih yakin hanya sedikit anggota dewan yang mau mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang kepentingan pribadi jika iklim politik masih seperti ini. Itu bisa dilihat dari pola pergerakan yang hanya gencar saat menjelang perhelatan pemilihan saja. baik pemilihan presidan dan wakil presiden, anggota dewan hingga pemilihan kepala daerah. Sisanya kemana? Oh iya sibuk nabung untuk persiapan kontestasi berikutnya. Karena menjaga konstituen itu tidak murah. [T]

Denpasar, 13 April 2020

Tags: Orde BaruPolitikReformasi
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

“Tidurlah Sejenak”, Pendidikan!

Next Post

Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co