2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tenggelam Dalam Janji dan Narasi yang Tak Pernah Sejalan dengan Realisasi; Itulah Indonesia

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
April 25, 2020
in Opini
Bali dan Covid-19: Titik Balik Bali Untuk Masa Depan

Saya sangat beruntung karena besar ketika Indonesia sudah memasuki era reformasi. Ya, era dimana kebebasan berpendapat diakomodir oleh negara tanpa terkecuali, asal tidak melenceng dengan dasar negara saja (Pancasila dan UUD 1945). Era yang dulu diperjuangkan oleh mahasiswa dan kaum terpinggirkan (marjinal) pada awal-awal tahun 1998. Tidak hanya membaca maupun mendengar penuturan teman setongkrongan saja, tetapi saya juga sempat melihat beberapa foto situasi saat tahun 1998 di sebuah kedai kopi di tengah kota Denpasar.

Mengerikan, itu kata yang terlitas pertama setelah melihat bagaimana chaosnya situasi kala itu. Mahasiswa adu jotos dengan aparat keamanan, api berkobar dimana-mana, batu melayang bagaikan bintang jatuh. Bedanya jika bintang jatuh kita memejamkan mata dan memanjatkan permohonan, kalau batu jatuh ya kita harus membuka mata agar bisa berkelit tak terkena hantaman batu yang seukuran kepalan tangan orang dewasa.

Singkat cerita, mahasiswa berhasil mewujudkan reformasi, The Smilling General akhirnya legowo melepaskan mandat rakyat (katanya) yang ia pegang selama 32 tahun. Sebagai pengganti sang Jenderal, si Jenius pun ditunjuk yang kala itu mendampingi sang Jenderal. Si Jenius pun langsung membuat gebrakan, membebaskan kehidupan pers yang selama era sang Jenderal dikekang dan semenjak saat itu terbukalah keran demokrasi. Indonesia menuju negara yang menjunjung tinggi demokrasi.

Dari sinilah muncul fenomena baru yang tidak akan pernah ditemukan pada era sebelumnya. Wacana pemilihan umum secara langsung digodok di gedung dewan dengan sangat serius, tiap fraksi menyiapkan gagasan unggul untuk diadu di ruang sidang dewan, saling adu gagasan terjadi di mana di sanalah proses meramu kebijakan yang paling baik.

Tahun 2004 kembali lahir sejarah baru, setelah pemilihan umum pada tahun 1999 yang hanya diperuntukan untuk memilih wakil rakyat, lima tahun berikutnya berlangsung pemilihan umum secara langsung oleh masyarakat Indonesia yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden. Masyarakat tentu sangat antusias untuk menggunakan hak pilihnya yang pertama setelah berada dalam hegemoni sang Jenderal.

Setiap peserta pemilu hadir di desa-desa, warga dengan sangat antusias datang ke lapangan desa untuk memeriahkan kampanye sang peserta pemilu. Baju kaos, payung, jam dinding dan merchandise lainnya dibagikan secara cuma-cuma tentu saja dengan tanda gambar sang peserta pemilu. Brosur juga telah tersebar rata dan dipegang oleh setiap warga, di sana berisi list yang akan dikerjakan oleh sang peserta pemilu. Sambil baca brosur, sambil warga mendengarkan pidato dari peserta pemilu dari atas panggung. Suara yang lantang, nada yang tegas dan keyakinan mantap sang peserta pemilu berhasil membuat warga manggut-manggut, entah paham dengan apa yang dikatakan peserta pemilu atau tidak yang penting manggut-manggut dulu.

Inilah fenomena baru yang saya maksud, sebagai generasi yang masih baru dalam melihat dunia, saya melihat ada keterkaitan yang sangat kuat antara janji dan narasi. Bahkan sampai hari ini saya melihat metodenya masih sama, hanya saja bagi-bagi kaos, payung, jam dinding, serta merchandise lainnya sudah dikurangi dengan amplop yang berisikan kertas berwarna merah dengan gambar sang proklamator bangsa.

Janji-janji yang dibawa oleh peserta pemilu entah itu presiden dan wakil presiden maupun calon anggota legislatif itu selalu diperkuat dengan narasi-narasi yang mampu meyakinkan rakyat bahwa segala yang dikatakan itu mampu untuk dilakukan dalam kurun waktu satu periode masa jabatan (5 tahun). Sang peserta pemilu dengan sangat jitu memilih juru bicara yang bisa mewakili pemikirannya dan tentu mampu meyakinkan rakyat yang menjadi lumbung suara. Apalagi melihat fenomena saat Pemilu tahun 2019 lalu, sepertinya masyarakat tak melihat bahkan tak tahu apa visi, misi, dan program kerja yang dicanangkan oleh peserta pemilu.

Kalaupun ada yang tahu, mungkin hanya sekadar baca atau sekadar lewat saja tetapi tidak untuk didalami dan dipahami secara khusus. Maka dari itu yang muncul dipermukaan hanya perang narasi yang berujung pada tendensi. Tak ada unsur pencerdasan kepada masyarakat dalam adu narasi yang ditayangkan di berbagai TV nasional, mungkin yang ada di kepala politisi itu hanya “bagaimana memenangkan kepentingan kelompok saya dan terlihat lebih baik di mata masyarakat”. Hanya itu, bukan untuk pencerdasan melainkan hanya untuk kepentingan. Bukankah begitu?

Tak hanya dari sisi elit saja yang menurut saya yang jadi masalah. Dari sisi pemilih pun demikian. Lebih tertarik dengan adu narasi, argumen yang berujung tendensi yang melibatkan emosional. Esok harinya, di kedai kopi dengan asik membicarakan dan menganalisis bagaimana jalannya debat tak berujung yang disiarkan oleh salah satu TV nasional sehari sebelumnya. Selain lebih suka melihat perdebatan, nampaknya masyarakat memang lebih suka hal yang instan (wajar saja mie instan banyak peminatnya) maksudnya lebih suka melihat hasil nyata dengan waktu yang cepat, bukan cepat lebih tepatnya sangat cepat.

Hal ini sepertinya selalu terjadi di setiap kontestasi politik, bagi peserta pemilu yang turun ke desa untuk melakukan sosialisasi diri harus menyiapkan kantong yang cukup dalam, karena bukan apa program yang akan diusung, bukan juga pembaharuan yang akan dibawa, melainkan masyarakat akan menanyakan “apa yang bisa bapak/ibu bantu untuk pembangunan infrastruktur di desa ini?” jika tak siap, jangan harap suara akan direngkuh dengan mudah.

Saya melihat ini sebuah hal yang nantinya bisa saja menjadi kebiasaan. Disaat peserta pemilu dipaksa untuk menyiapkan dana yang besar untuk menggaet suara rakyat yang memang inginnya serba instan. Maka yang terjadi adalah program-program maupun pembaharuan yang awalnya mau dibawa oleh caleg dikesampingkan dulu oleh caleg ketika ia sudah berhasil menduduki kursi dewan yang terhormat. Karena tentu yang ada di pikirannya adalah bagaimana mengembalikan modal awal nyaleg untuk digunakan sebagai modal untuk kampanye di pemilu selanjutnya. Hal itu sudah pasti, karena duduk di kursi dewan hari ini sangatlah mahal. Dengan sistem pendaftaran terbuka, kontestan dipaksa untuk tarung bebas tidak hanya dengan kontestan dari partai lain, tetapi juga dengan kawan satu partai.

Sudahlah, dengan fenomena tadi jangan terlalu banyak berharap semua janji dan narasi yang manis bak madu yang baru di panen itu dapat direalisasikan dalam satu periode. Hal ini membuat saya sedikit tersadar, ternyata yang menciptakan iklim politik ini tidak hanya oleh elit politik saja, tetapi si pemilik hak suara atau masyarakat memiliki peran yang begitu besar dalam hal ini. Tentu dengan berbagai hal instan yang diharapkannya.

Saya sampai hari ini masih yakin hanya sedikit anggota dewan yang mau mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang kepentingan pribadi jika iklim politik masih seperti ini. Itu bisa dilihat dari pola pergerakan yang hanya gencar saat menjelang perhelatan pemilihan saja. baik pemilihan presidan dan wakil presiden, anggota dewan hingga pemilihan kepala daerah. Sisanya kemana? Oh iya sibuk nabung untuk persiapan kontestasi berikutnya. Karena menjaga konstituen itu tidak murah. [T]

Denpasar, 13 April 2020

Tags: Orde BaruPolitikReformasi
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

“Tidurlah Sejenak”, Pendidikan!

Next Post

Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co