12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Tidurlah Sejenak”, Pendidikan!

Putu Nata Kusuma by Putu Nata Kusuma
April 25, 2020
in Esai
“Tidurlah Sejenak”, Pendidikan!

Nata Kusuma (penulis)

Tatkala sektor pariwisata dan perekonomian  diberhentikan sejenak, sektor pendidikan dengan gagahnya masih terus melaju hingga detik ini. Kadang disisi hati tergelap ingin rasanya lebih memilih menjadi pengangguran daripada masih bekerja namun dengan sistem yang berbeda seperti saat ini.

Ya, bagi saya pribadi menjadi seorang pengangguran setidaknya lebih jelas dari segi sistem, “gak kerja, gak ada uang” sewajar itu. Hal ini tentunya bukan tanpa musabab yang jelas. Pasca sebulan kebijakan WFH (Work From Home) mulai diberlakukan, banyak sektor mata pencaharian yang seperti mulai atau bahkan sudah kehilangan inangnya (baca: penghasilan). Pariwisata, perekonomian bahkan pendidikan.

Tak tanggung-tanggung, banyak hotel yang sudah memberlakukan PHK masal kepada karyawannya dengan dalil sudah “matinya” pariwisata di daerahnya. Adapula yang mengambil keputusan besar untuk menutup hotel. Memang, beberapa hotel ada yang tetap buka akan tetapi itu bisa dihitung dengan jari dan karyawan yang dipekerjakan pun merupakan kalangan staff ke atas. Sisanya? Ya, dirumahkan.

Di sektor perekonomian pun demikian adanya. Toko-toko diberikan kebijakan agar sudah menutup usahanya pukul 16.00 WITA. Hal ini guna meminimalisir jumlah masyarakat yang berkeliaran hingga malam hari agar penyebaran wabah corona bisa berkurang. Lantas, bagaimana dengan dunia pendidikan di Indonesia khususnya di Bali?

Saya adalah seorang guru di salah satu sekolah dasar swasta. Terhitung sejak 16 Maret 2020, kebijakan BDR (Belajar Dari Rumah) telah diberlakukan keseluruh jenjang pendidikan. Sedari hari itu, banyak pelaku-pelaku pendidikan mulai menyusun strategi atau kebijakan tentang bagaimana pembelajaran dapat berlangsung kedepan selama masa covid-19 ini berlangsung. Mulai dari orang-orang di Kementerian Pendidikan hingga orang-orang di lingkungan sekolah, semua mendiskusikan hal ini.

Singkat cerita, pembelajaran berbasis daring (online) pun terpilih sebagai alternative yang sangat bijak untuk diterapkan selama pandemi ini. Tentu, ada pro dan kontra terkait hal tersebut mengingat teknologi tidak merambah secara menyeluruh ke semua pelosok di seluruh negeri, namun ini satu-satunya pilihan yang sangat mungkin untuk dilakukan.

Jikalau ada kekurangan seperti halnya masalah tadi, hal itu diserahkan kembali ke masing-masing sekolah agar bisa diadaptasikan sesuai kemampuan masing-masing sekolah. Menteri Pendidikan pun berpesan agar pembelajaran via daring ini benar-benar menjadi pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Lalu jikalau memungkinkan, pembelajaran haruslah diselipkan dengan materi-materi yang memberikan edukasi tentang Covid-19 ini. Seperti halnya, cara menjaga kesehatan tubuh, membersihkan lingkungan, dan lain-lain.

Hari demi hari, minggu demi minggu pun berlalu. Pembelajaran berbasis daring berlangsung secara lancar dan aman jika dilihat dari kacamata umum. Bagaimana tidak? Nyatanya, beberapa permasalahan pun mulai muncul di beberapa sekolah. Mulai dari kurangnya kreatifitas guru dalam memberikan materi ajar via daring hingga SDM dari siswa, orang tua ataupun guru yang masih jauh dari kata “mampu” menghadapi teknologi.

Tidak hanya itu, keluhan tentang jadwal pembelajaran yang diberikan pihak sekolah kepada siswa pun mulai dikeluhkan oleh beberapa pihak orang tua. Ada pihak orang tua yang menyarankan pihak sekolah agar tak terlalu banyak memberikan tugas yang ujung-ujungnya merepotkan orang tua juga. Ada pula pihak orang tua yang menyesalkan mengapa anak mereka hanya mendapatkan sedikit mata pelajaran per harinya sedangkan mereka tetap membayar SPP secara normal?

Benar, pihak-pihak pengadu ini merasa tidak adil rasanya jika demikian. Saya tak menyalahkan juga keadaan ini mengingat banyak dari orang tua siswa pun terutama yang bekerja diswasta tlah kehilangan pekerjaan nya akibat wabah ini. tak heran, jika hal ini juga yang membuat beberapa sekolah swasta dengan sangat berat hati harus memangkas gaji guru menimbang kondisi ekonomi orang tua siswa yang juga sedang kacau. Memikirkan bagaimana menghidupi keluarga selama beberapa bulan kedepan saja rasanya sudah berat, ditambah lagi harus memikirkan tugas anak-anak mereka.

Nasib baik bagi anak-anak yang ditemani orang tuanya dirumah mengerjakan tugas. Namun, kadang tak semua tugas mampu dibantu oleh orang tua. Semisal, ketika sang anak memiliki tugas bahasa inggris, maka orang tua yang tak mahir dalam pelajaran tersebut akan kesulitan membantu si anak. Beruntung jika anaknya penurut mau disuruh mengerjakan tugas, jika tidak? Beberapa faktor inilah yang membuat beberapa pihak orang tua merasa jenuh dan stress selama proses BDR ini berlangsung.

Tak hanya orang tua, anak-anak pun sama demikian. Aktifitas yang monoton, tak berjumpa dengan teman-teman mereka ditambah tugas yang banyaknya entah berapa menyebabkan mereka juga mengalami fase jenuh di masa-masa BDR ini. Lantas, apakah itu berarti para guru adalah pihak yang paling santai dalam kasus ini? Pastinya TIDAK JUGA! Justru guru adalah orang yang jauh-jauh hari harus memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.

Guru memikirkan bagaimana harus menyelesaikan materi yang tersisa melalui cara menyenangkan dengan sisa waktu yang ada dan tetap memprioritaskan kesehatan siswa maupun orang tua selama masa BDR ini berlangsung. Tak hanya menyiapkan pembelajaran, administrasi pun turut dipersiapkan mengingat adanya arahan untuk menyimpan arsip dan segala dokumentasi pembelajaran selama masa BDR ini dilaksanakan.

Lumayan berat sesungguhnya tugas seorang pendidik di masa-masa sulit ini. Tanpa ada maksud untuk mengeluh terhadap kewajiban yang ada, namun inilah kenyataan yang ada. Bahwa benar adanya kejenuhan ini tleah kami; guru, siswa dan orang tua rasakan selama masa pandemi ini berlangsung yang sudah sebulan dan entah sampai kapan.

Bahwa benar adanya kondisi rumit ini menyebabkan kami, tenaga pendidik terkadang berpikir “apa yang selama ini kami kejar? Validasi kah atau apa?”. Tanpa bermaksud menyepelekan pekerjaan lain, beberapa dari kami tenaga kependidikan pun kini merasa bahwa tekanan yang kami dapat, baik dari aturan Kementerian maupun kritikan orang tua tak selaras dengan pendapatan yang kami dapatkan selama masa pandemi ini.

Kembali pada apa yang saya sampaikan diawal tulisan ini, hal inilah yang menjadi dasar pemikiran saya agar bagaimana jika sebaiknya pendidikan atau BDR kita saat ini “ditidurkan sejenak”. Toh, hal ini juga demi kesehatan pihak para tenaga pendidik, siswa ataupun orang tua yang juga tlah mengalami beban pikiran terkait pekerjaan mereka.

Tak harus berlama-lama, setidaknya cukup untuk kembali memulihkan kondisi psikis kami dalam menjalankan BDR. Disamping itu, agar “istirahat” kami tenang maka berikan pula kami arahan yang jelas, kemana fokus anak-anak kami akan dibawa. Jikalau dari awal fokusnya adalah kenyamanan dalam belajar, maka jangan tuntut kami agar harus memiliki segudang data nilai dari anak tersebut yang kelak kami jadikan pondasi untuk kelulusan ataupun kenaikan kelas sang anak.

Namun, jika memang angka (nilai) masih penting untuk dimiliki ditengah kondisi belajar seperti ini, maka berikanlah guru dan siswa keringanan dalam memperolehnya. Prihal pesangon (pendapatan) para guru yang harus dipotong atau tidak diberikan jikalau benar dunia pendidikan “ditidurkan sejenak”, maka biarlah itu menjadi resiko dari keputusan tersebut. Itu rasanya lebih baik, daripada banyak memiliki tanggung jawab kerja namun pendapatan tak seberapa bahkan menurun.

Bagi saya, apalah artinya kita tak sakit karena corona jika pada akhirnya kita sakit karena pikiran merana? Itu sama saja. Sekali lagi, kami hanya ingin beristirahat sejenak sama halnya seperti Hotel-hotel yang menutup usaha mereka sejenak selama wabah ini berlangsung. Akhir tulisan saya ucapkan maaf dan terimakasih. Tetaplah sehat, tetaplah waras! [T]

Tags: belajar di rumahcovid 19Pendidikan
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Bocah Jaga Portal Kampung: Biar Corona Gak Masuk, Om! – [Catatan dari Ibukota]

Next Post

Tenggelam Dalam Janji dan Narasi yang Tak Pernah Sejalan dengan Realisasi; Itulah Indonesia

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma, S.Pd., Mahasiswa S2 Pascasarjana Program Ilmu Manajemen Undiksha. Hobi: menulis, menyanyi, membuat video, dan mencintai diam-diam.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Bali dan Covid-19: Titik Balik Bali Untuk Masa Depan

Tenggelam Dalam Janji dan Narasi yang Tak Pernah Sejalan dengan Realisasi; Itulah Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co