23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekilas Tentang Banyuwangi: Sosok Buyut Cili Dibalik Desa Kemiren

Mochamad Rifa’i by Mochamad Rifa’i
July 30, 2019
in Tualang
Sekilas Tentang Banyuwangi: Sosok Buyut Cili Dibalik  Desa Kemiren

Penulis di gapura masuk Desa Adat Osing Kemiren (Doc: Mochamad Rifa’i)

Segelas jus alpukat dan tempe penyet lengkap dengan sayur rebusnya menemaniku malam ini di tengah kota Banyuwangi. Taman Sritanjung yang tak pernah sepi dari pengunjung. Di tempat inilah saya mengisi perutku yang sedari tadi keroncongan. Tentu malam ini saya tak sendiri. Selain hidangan makan malam ala kadarnya seorang kawan seperjuangan turut hadir di malam ini.

Dialah Faruq Hasan. Seorang kawan yang doyan selfie tapi hasil gambarnya tak pernah di unggah di wall Instagram. Dan hal yang sering membuat kami cek-cok yaitu ketika dia memintaku untuk memfotonya, ia merasa puas dengan hasil jepretanku. Namun sebaliknya, giliran saya yang minta difoto gambar yang dihasilkan tak sesuai dengan yang kuharapkan. Apes bukan?! Ya, begitulah.

Suasana yang benar-benar berbeda. Jujur, saya merindukan suasana seperti ini. Bersama dengan derunya kendaraan, samar-samar lantunan pujian islami dari masjid agung di seberang jalan yang menyejukkan hati. Kerlap-kerlip lampu kota yang seakan menyiratkan kenangan dimasa lalu. Pandanganku tertuju pada sosok ibu-ibu penjual rujak di ujung trotoar.

Beberapa kali ia tersenyum ramah kepada pelanggannya. Walaupun wajahnya mulai keriput, sungguh senyuman yang hangat. Bukan maksud saya tertarik dengan penjual rujak tersebut, saya hanya merindukan kekasihku yang telah lama meninggalkanku. Oke fix! Maaf jika malam ini aku merindukanmu, ibu… ibu… oh, ibu….

Ini kali pertama saya melangkahkan kaki di Taman Sritanjung. Jadi, Faruq mengajakku untuk diam sejenak menikmati pemandangan malam di kota Banyuwangi. Setelah kami menghabiskan makan malam, kami beranjak dari tempat dan mencari bangku yang kosong untuk beristirahat, dan beberapa kali meributkan hasil gambar yang tak sesuai harapanku. Entahlah, mohon dimaklumi diriku yang anak medsos ini.

Muncar

Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan setelah beberapa kali main jeprat-jepret di pinggir jalan yang dihiasi lampu warna-warni. Tapi zonk, karena hanya menggunakan kamera di gawai jadi hasil jepretan pun tak karuan.

Muncar adalah tujuan kami. Muncar terkenal dengan ikan segarnya. Hal ini karena di Muncar terdapat pelabuhan kapal-kapal para nelayan. Jadi ditempat inilah pusat penghasil ikan segar yang ada di Banyuwangi. Selama ini saya tahunya hanya nama salah satu kecamatan saja, bukan mengenalnya dengan hasil laut yang melimpah.

Jarak tempuh antara tempat tinggal Faruq dan pusat kota Banyuwangi lebih kurang satu jam. Ini adalah kali kedua saya untuk bersilaturahmi di rumah Faruq. Motor astrea hijau hitam ini melaju begitu cepat. Dengan kecepatan yang lumayan, beberapa kali saya tersontak kaget akibat dari jalan yang berlubang. Lebih menariknya lagi, jalan menuju desa dimana Faruq tinggal ini lumayan ekstrim. Sisa-sisa jalan yang diaspal mulai rusak, jika diperhatikan yang terlihat hanya bongkahan-bongkahan batu yang lumayan tak kecil.


Jalan penghubung Dusun Curah Pacul dengan Desa Tapanrejo, Kec Muncar
(Doc: Mochamad Rifa’i)

Tujuan saya bermalam di rumah kawanku ini selain untuk menikmati liburan semester juga mempunyai maksud lain. Yaitu sebagai tempat singgah sesaat ketika saya hendak pulang ke kampung halaman. Jadi memanfaatkan waktu sebelum tiket keberangkatan kereta ke Surabaya. Ya, itung-itung menikmati masa muda juga.

Malam yang di dingin. Rasanya ingin cepat sampai dan merebahkan badan dan tertidur lelap. Di rumah kawanku ini tepatnya di dusun Curah Pacul, desa Tambakrejo, Kecamatan Muncar. Malam itu pun saya dipersilakan tidur setelah kami sampai di rumah.

Ketika bangun pagi, telah terhidang segelas teh hangat dan sepiring gorengan. Rupanya ibunya Faruq telah menghidangkan untukku. Ku seruput segelas teh dan kusantap ote-ote hangat.

Wisata Desa Adat Osing Kemiren

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, maka saya pun diajak jalan-jalan ke salah satu desa bersejarah yang ada di Banyuwangi. Yaitu Desa Adat Osing Kemiren. Untuk menuju ke tempat tersebut berjarak 1 jam berkendara dari rumah Faruq.

Desa Kemiren berasal dari kemiri dan duren. Di mana tempat ini dulunya banyak tumbuh pohon kemiri dan durian. Desa Kemiren dihuni oleh masyarakat Suku Osing yang merupakan suku asli Banyuwangi atau sisa masyarakat Blambangan. Kepala desa yang pertama kali memimpin desa ini adalah Walik yang menjabat pada tahun 1657. Dan bahasa keseharian menggunakan Bahasa Osing.

Bahasa Osing itu sendiri gabungan dari Bahasa Jawa, Bali, dan Madura. Seperti Bahasa Bali “sing nawang” kemudian Bahasa Osing “sing weruh” yang sama-sama memiliki arti “tidak tahu”. Hampir memiliki kesamaan bukan?! Begitu kata salah satu pemuda yang kutemui waktu di desa Kemiren.


Gapura Desa Adat Osing Kemiren

Desa yang sama dengan desa-desa pada umumnya. Berisi pohon-pohon di tepi jalan dan rumah-rumah warga desa jawa timuran. Tapi saya penasaran, kami melanjutkan untuk menyusuri sepanjang desa ini. Saya tak menemukan aroma-aroma adat atau bangunan-bangunan bersejarah. Kami akhirnya memasuki wahana Desa Wisata Using dengan tiket masuk seharga Rp. 10.000,- per orang.


Desa Wisata Using (Doc: Mochamad Rifa’i)

Di dalamnya hanya terdapat kolam renang dan arena perkemahan. Saya tak melihat ada bangunan bersejarah, hanya saja beberapa tempat singgah seperti bangunan-bangunan rumah desa seperti umumnya. Rasa penasaranku masih belum terbayar.

Saya mengajak Faruq untuk keluar dari tempat tersebut. Penasaranku makin memuncak, karena saya tak ingin pulang nanti tidak membawa cerita dari tempat sejarah ini. Kemudian saya bertanya kepada penjaga loket yang ada di tempat ini. Akhirnya saya mendapat petunjuk dari bapak Penjaga Loket. Memang di desa ini ada sebuah rumah peninggalan nenek moyang yang masih ada hingga sekarang ini.

Untuk menempuh ke rumah tersebut harus mesuk ke gang sekitar 200 meter dari jalan utama. Dan benar saja desa ini hanya terdiri dari beberapa rumah saja. Dekat dengan persawahan. Hanya terdapat sekitar 12 rumah di desa yang konon katanya peninggalan Mbah Buyut Cili. Nama rumah ini adalah rumah tikel. Di desa ini masih sangat alami. Hanya terdapat satu kamar mandi umum dan mushola. Itu pun jarang difungsikan. Penghuni desa ini lebih suka beraktifitas di sungai seperti mencuci dan mandi.


Rumah adat Tikel warga suku Osing, desa Kemiren

Lesung untuk menumbuk padi masih bisa kita lihat di desa ini. Dapur yang masih terdapat tungku untuk memasak. Dan warga desa ini semuanya petani. Tradisi yang cukup unik bagiku yaitu ketika warga desa tetangga memiliki hajatan, maka akan terdengan bunyi sound dari tempat orang tersebut punya hajat. Maka secara otomatis bagi siapa saja yang mendegarnya, maka akan datang diacara tersebut. Walaupun tanpa adanya undangan.

Buyut Cili

Kami berbincang-bincang sejenak dengan salah satu pemuda yang ada di desa ini. Bahwa tidak jauh dari area desa ini terdapat punden Buyut Cili. Konon beliau merupakan penghuni pertama di desa Kemiren.

Tinjauan secara mitologi keberadaan dari desa ini tak bisa dilepaskan dengan keberadaan Buyut Cili. Nenek moyang atau danyang desa yang telah menjadi punden desa Kemiren. Masyarakat sekitar percaya bahwa Buyut Cili merupakan orang yang memiliki kekuatan sakti dari Majapahit yang memeluk agama Hindu.

Mitosnya nama “Cili” yang dalam bahasa Osing berarti “pelarian”. Ikhwal kisah, Buyut Cili adalah Pendeta Hindu-Budha. Namun berdasarkan versi lain meriwayatkan bahwa Buyut Cili menghuni ke desa Kemiren akibat tekanan dari kerajaan Demak.

Selain itu dikisahkan pula bahwa konon di desa Kemiren terserang wabah penyakit yang cukup mengerikan. Tidak sedikit dari orang sakit di pagi hari, kemudian sore meninggal. Melihat hal demikian, Buyut Cili segera meminta pertolongan dari Sang Maha Agung. Kemudian didapatkan sebuah petunjuk untuk melakukan selamatan. Dalam melakukan selamatan tersebut hendaknya terlebih dahulu menampilkan arak-arakan Barong untuk menolak bala (bencana). Dulu, Barong itu sendiri disebut sebagai binatang mistis yang merupakan binatang peliharaan Buyut Cili.



Petilasan Buyut Cili (Doc: Mochamad Rifa’i)

Petilasan Buyut Cili terdapat sekitar 50 meter dari perumahan warga. Hingga sekarang petilasan ini masih dikeramatkan dan banyak pengunjung yang berdatangan, terutama malam Jumat dan Minggu sore. Sebelumya petilasan ini menurut kepercayaan warga sekitar, ruh dari Buyut Cili tidak ingin untuk petilasannya dibangun.

Dan anehnya tidak ada aliran listrik yang mengalir di petilasan Buyut Cili. Beberapa kali warga sekitar mencoba untuk memasang listrik, namun tetap saja listriknya mati dan tidak bisa dinyalakan. Terakhir saya berkunjung ke petilasan ini Minggu, 30 Juni 2019 dan masih tidak ada aliran listrik di tempat tersebut.

Menyempatkan bermain di Banyuwangi sebelum menjelang pulang ke kota Tuban kelahiranku hari itu sungguh mengobati rasa penasaranku terhadap desa Kemiren yang menyimpan banyak sejarah dan kemistisannya. Selain itu menambah wawasan dan pengetahuan saya. Cocok deh jika Kabupaten Banyuwangi dijadikan sebagai Kota Welas Asih, yaitu kota yang sangat menghargai nilai-nilai kasih sayang, humanisme, dan kebhinekaan. [T]

Tags: banyuwangiDesa KemirenJawa TimurSuku Osing
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Mari Ulangi Membaca Galungan

Next Post

Disabilitas Tunanetra Siap Menyambut Revolusi Industri 4.0 Melalui Gerakan Literasi

Mochamad Rifa’i

Mochamad Rifa’i

Seorang guru PJOK biasa aja di sebuah sekolah pinggiran kabupaten kecil Tuban, Jawa Timur, yang suka sedikit menulis ketika gabut saja dan mood-moodan. Kepoin saya di TikTok: @pak.arpjok

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Disabilitas  Tunanetra  Siap  Menyambut Revolusi  Industri  4.0  Melalui  Gerakan Literasi

Disabilitas Tunanetra Siap Menyambut Revolusi Industri 4.0 Melalui Gerakan Literasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co