6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Starbucks Buka Gerai di Labuan Bajo – Bagaimana Nasib Kopi Lokal?

Armin Bell by Armin Bell
July 4, 2019
in Opini
Starbucks Buka Gerai di Labuan Bajo – Bagaimana Nasib Kopi Lokal?

Diolah dari sumber foto Google

Korin Nera (39), melihat kehadiran Starbucks di banyak tempat dapat berarti dua hal. Pertama, keputusan perusahaan kopi dan jaringan kedai kopi global yang berkantor pusat di Seattle, Washington itu membuka gerai adalah penjelasan bahwa mereka melihat pasar potensial. Kedua, daya beli masyarakat di tempat itu, oleh Starbucks, dipercaya akan membuat mereka ‘hidup’.

Korin adalah pengelola Kopi Mane, kedai kopi di Ruteng – Flores yang kini telah memiliki cabang di Maumere dan Labuan Bajo. Komentar itu dia sampaikan menyusul keputusan Starbucks membuka gerai di Labuan Bajo. Anthony Cottan, Direktur Starbucks Indonesia pada kesempatan peluncuran kedai kopi tersebut di Labuan Bajo (18/5) menjelaskan bahwa tempat itu adalah kota ke-32 di Indonesia di mana kedai kopi mereka hadir. Launching tersebut serentak ramai dibicarakan.

Tidak hanya soal peluncurannya, ada dua ‘highlight lain’ dari peristiwa kehadiran tempat minum kopi waralaba ini di destinasi wisata andalan baru Indonesia itu: soal komentar bahwa Starbucks adalah ikon baru pariwisata Labuan Bajo, dan kekhawatiran sebagian orang terhadap matinya kedai-kedai kopi lokal oleh kehadiran brand internasional itu.

Benarkah Starbucks Pantas Dianggap Ikon Pariwisata?

Publik segera bereaksi atas komentar Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch. Dula. Situs resmi Humas Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menyiarkan liputan berjudul “Bupati Mabar: Starbucks Coffee Ikon Baru Parwisata Mabar” (tautan: http://humas.manggaraibaratkab.go.id/bupati-mabar-starbucks-coffee-ikon-baru-parwisata-mabar/).

Penggunaan frasa ‘ikon baru pariwisata’, oleh publik dianggap berlebihan.

“Ikon? Mungkin pengaruh nama besar (Starbucks) dan terkenal. Mungkin. Semoga banyak yang berwisata ke Labuan Bajo, obyek wisata di sana banyak yang (lebih) pantas jadi ikon,” tutur Ary Djehatu, pemuda asal Ruteng yang bersama seorang temannya sedang menyiapkan peluncuran kedai kopi baru di Borong, Manggarai Timur.

Diberitakan, usai meresmikan Starbucks Coffee Company di Kawasan Terpadu Marina Labuan Bajo, Sabtu (18/05) malam, Bupati Manggarai Barat kepada wartawan menyampaikan: “Kita patut berbangga, karena kopi Starbucks yang gerainya hampir ada di seluruh dunia sudah ada di Labuan Bajo. Dan Starbucks coffee atau kopi starbucks menjadi salah satu ikon baru Pariwisata Labuan Bajo.”

Menurut Dula, kehadiran Starbucks adalah perubahan baik dalam mendukung pengembangan destinasi super prioritas Labuan Bajo; “Setidaknya ada penambahan ikon baru, artinya apabila ada wisatawan ke Labuan Bajo dan mencari tempat minum kopi kelas dunia, ada starbucks.”

Komentar Dula nampak berbeda dengan niat Starbucks sendiri yang semata ingin membawa ‘pengalaman Strubucks’ dan bukan ‘kopi kelas dunia’. “Kami senang sekali dapat menghadirkan dan membawa lebih dekat Starbucks Experience di seluruh Indonesia, khususnya di Labuan Bajo,” kata Anthony Cottan (tautan: https://lifestyle.kompas.com/read/2019/05/20/064700920/sentuhan-khas-ntt-di-gerai-starbucks-labuan-bajo).

Sebelumnya dia menjelaskan: “Setiap gerai yang kami bangun, kami buat sedemikian rupa agar selalu mengundang, nyaman dan memiliki sentuhan lokal. Menggabungkan desain modern dan sentuhan lokal adalah yang membedakan kami di antara yang lain.”

Kegagalan diksi Bupati Dula—yang bisa saja berasal dari perasaan gembira (untuk tidak menyebutnya inferioritas) atas hadirnya korporasi besar di Labuan Bajo, tentu bertentangan dengan keinginan memopulerkan kearifan lokal/kebudayaan dalam narasi besar promosi pariwisata kita. Kecuali, apabila hal tersebut disampaikan sebagai warning agar kedai-kedai kopi lokal mulai berbenah, sesuatu yang justru melahirkan pertanyaan lain: sejauh mana pengusaha lokal di Labuan Bajo telah disiapkan (oleh pemerintah) untuk bersaing dan ‘hidup’ dari objek wisatanya sendiri?

Mungkinkah Starbucks Mematikan Kedai Kopi Lokal?

Starbucks, meski sering disinis sebagai perwakilan kapitalisme yang dianggap memiliki dengan kecenderungan berlaku tak adil (bdk.: https://theconversation.com/anak-muda-zaman-sekarang-menolak-kapitalisme-lalu-apa-penggantinya-94644), dikenal dengan program corporate social rensponsibility (CSR) serta komitmennya melibatkan ‘orang-orang lokal’. Delapan dari sekitar barista Starbucks Labuan Bajo adalah penduduk lokal yang mengikuti pelatihan barista selama tiga puluh hari di Bali, demikian Kompas.com.

Namun, tetap saja kehadiran korporasi internasional dianggap mengkhawatirkan dan mengancam lokalitas. Edel Djenarut (44), misalnya. Ibu muda asal Manggarai yang kini menetap di Jakarta ini khawatir, Starbucks hadir ketika masyarakat lokal belum siap bersaing. “Pemerintah daerah boleh mengeluarkan ijin bagi perusahaan besar bila sudah menyiapkan masyarakat lokal bersaing,” papar Edel.

Menurutnya, tugas pemerintah daerah adalah menggerakkan dan menyiapkan masyarakat daerah agar bergegas bersiap diri menghadapi serangan pasar global. “Supaya tidak selalu menjadi bulan-bulanan mereka doang. Apalagi invasi pelaku pasar global selalu tak terelakkan,” paparnya.

Barangkali yang melandasi kekhawatiran senada adalah imej kapitalis(me) yang kerap dilekatkan pada bisnis ini. Tidak hanya di Indonesia. Di Amerika, jendela Starbucks (bersama McDonald dan Bank of America) dipecahkan oleh para demonstran pada hari Inaugurasi Donald Trump sebagai presiden negara itu. Aulia Adam mereportase peristiwa itu dalam tulisan berjudul “Rentetan Protes dalam Sejarah Pelantikan Presiden Amerika” di Tirto.id, (tautan: https://tirto.id/rentetan-protes-dalam-sejarah-pelantikan-presiden-amerika-chsh), dengan tambahan penjelasan: ….; semua yang dianggap sebagai simbol kapitalisme Amerika.

Kekhawatiran demikian sering dipercakapkan. Kekuatan modal (capital) yang besar milik korporasi internasional dianggap akan secara cepat mematikan geliat Usaha Kecil Menengah di daerah-daerah.

Korin Nera melihat munculnya kekhawatiran seperti itu sebagai sesuatu yang wajar; ada pesaing. Meski demikian, menurutnya, kekhawatiran seperti itu terlambat muncul.

“Seharusnya, melihat perkembangan Labuan Bajo lima tahun belakangan, kita sudah memprediksi kehadiran bisnis berskala internasional seperti ini. Bukan sekarang baru khawatir. Itu artinya kita tidak siap bersaing,” kata Korin.

Korin memilih melihat kehadiran Starbucks secara positif. “Mungkin saja kehadiran Starbucks dapat meningkatkan nilai jual kopi lokal, kenapa tidak? Belum lagi soal penerapan tenaga kerja lokal, pajak restoran dan pajak yang lainnya. Juga CSR dari bisnis yang sudah mendunia seperti Starbucks,” tuturnya.

Senada dengan Korin, pemilik kedai kopi Toto Kopi di Ruteng, Jeli Jehaut (38), mengaku optimis. Dirinya yakin, kopi yang akan ditonjolkan di gerai Starbucks di Labuan Bajo adalah Kopi Arabika Flores Manggarai, yang baru saja meraih Sertifikat Indikasi Geografis.

“Soal Starbucks bakal mematikan pengusaha kopi lokal, saya kok tidak yakin. Pasar ini luas sekali. Antara Starbucks dan pengusaha kedai kopi lokal jelas beda pasarnya,” papar Jeli.

Marta Muslin Tulis (38), seorang pelaku pariwisata di Labuan Bajo, juga menganggap kehadiran Starbucks biasa-biasa saja. “Ruginya di mana? Memang, kita rugi kalau berusaha menahan kehadiran mereka seperti usaha menahan gelombang besar. Yang harus dibuat adalah mengambil papan surfing dan bermain di atasnya,” jelas Marta.

Marta adalah pegiat di Indonesia Waste Platform, Board Management of Eco Flores, koordinator Flores Homestay Network, manajer Wicked Diving, dan terlibat aktif dalam agenda advokasi lingkungan dan kaum muda di Labuan Bajo. Baginya, salah satu cara agar kehadiran korporasi internasional bermanfaat bagi masyarakat lokal adalah dengan menjalin kerja sama mutualisme.

“Bisa dengan memanfaatkan CSR mereka untuk program-program pemberdayaan. Pemerintah membuat dan menegakkan regulasi agar tidak ada yang dirugikan. Atau apa saja, bisa kita lakukan. Gelombang jangan dihadang. Kita bermain di atasnya dan menaklukannya,” ungkapnya.

Apakah Kita Perlu Khawatir?

Rasa khawatir itu manusiawi. Bahkan jika kita telah sangat siap, beberapa perubahan/situasi baru tetap saja mendatangkan kekhawatiran. Namun, mengatasinya dengan penolakan, tidak akan menyelesaikan persoalan. Alih-alih membendung laju bisnis global, masyarakat lokal harus memperkuat dirinya sendiri.

“Satu sisi kita kaget dan reaksional dengan adanya Starbucks di (Labuan) Bajo tapi satu sisi kita tidak sadar sudah terjebak dalam pasar yang dibentuk industri kopi. Kalau mau dukung petani dan pengusaha lokal yang harus minum dan menikmati kopi dengan cara yang benar to. Supaya paham di mana kelasnya kopi Manggarai,” kata Jeli. “Saya belum lihat satu pun penikmat kopi yang berkomentar. Saya yakin, alasannya karena Starbucks bukan tentang tempat minum kopi. Kenapa takut?” katanya lagi.

Jeli bisa jadi benar. Dalam penjelasannya, Antony tidak banyak bicara tentang kopi. Yang sedang mereka hadirkan adalah pengalaman ber-starbucks (kadang dipakai sebagai pendanda kelas sosial tertentu). Starbucks Experience, kata Antony; sesuatu yang telah menjadi fokus mereka sejak dahulu.

Artinya, kekhawatiran—menghubungkannya dengan kesejahteraan petani kopi dan matinya kedai kopi lokal—tidak harus muncul dan memicu perdebatan, apalagi sampai jadi polemik. Debat kusir yang muncul di ruang publik (media sosial), dapat saja berujung pada menurunnya minat berkunjung para pelancong.

Namun, mengkhawatirkan (baca: memikirkan) nasib masyarakat lokal di tengah laju industri pariwisata adalah sesuatu yang harus dilakukan. Menempatkan brand internasional sebagai ikon baru pariwisata adalah narasi yang keliru. Meminta mereka turut berkontribusi dalam derap pembangunan daerah adalah keharusan.

Bupati Dula, misalnya, telah meminta agar Starbucks memperhatikan potensi kopi lokal. “Starbukcks sebagai gerai kopi terbaik dunia harus mengoptimalkan potensi yang ada di Manggarai Barat dan tidak lagi menggunakan kopi luar,” kata Dula. Harapan serupa ini akan lebih kuat dampaknya jika dituangkan dalam bentuk Peraturan Daerah—yang jelas jauh lebih mengikat daripada sekadar harapan yang disampaikan di acara peluncuran. [T]

Tags: FloreskopiLabuan BajoNTT
Share115TweetSendShareSend
Previous Post

Tren Kekinian Memutihkan Gigi

Next Post

Balada Cinta dalam Sepotong Rekaman

Armin Bell

Armin Bell

Blogger, tinggal di Ruteng. Tahun 2018 menerbitkan kumpulan cerpen “Perjalanan Mencari Ayam” (Komunitas Sastra Dusun Flobamora). Bergiat di Komunitas Saeh Go Lino dan Klub Buku Petra.

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post

Balada Cinta dalam Sepotong Rekaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co