22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Starbucks Buka Gerai di Labuan Bajo – Bagaimana Nasib Kopi Lokal?

Armin Bell by Armin Bell
July 4, 2019
in Opini
Starbucks Buka Gerai di Labuan Bajo – Bagaimana Nasib Kopi Lokal?

Diolah dari sumber foto Google

Korin Nera (39), melihat kehadiran Starbucks di banyak tempat dapat berarti dua hal. Pertama, keputusan perusahaan kopi dan jaringan kedai kopi global yang berkantor pusat di Seattle, Washington itu membuka gerai adalah penjelasan bahwa mereka melihat pasar potensial. Kedua, daya beli masyarakat di tempat itu, oleh Starbucks, dipercaya akan membuat mereka ‘hidup’.

Korin adalah pengelola Kopi Mane, kedai kopi di Ruteng – Flores yang kini telah memiliki cabang di Maumere dan Labuan Bajo. Komentar itu dia sampaikan menyusul keputusan Starbucks membuka gerai di Labuan Bajo. Anthony Cottan, Direktur Starbucks Indonesia pada kesempatan peluncuran kedai kopi tersebut di Labuan Bajo (18/5) menjelaskan bahwa tempat itu adalah kota ke-32 di Indonesia di mana kedai kopi mereka hadir. Launching tersebut serentak ramai dibicarakan.

Tidak hanya soal peluncurannya, ada dua ‘highlight lain’ dari peristiwa kehadiran tempat minum kopi waralaba ini di destinasi wisata andalan baru Indonesia itu: soal komentar bahwa Starbucks adalah ikon baru pariwisata Labuan Bajo, dan kekhawatiran sebagian orang terhadap matinya kedai-kedai kopi lokal oleh kehadiran brand internasional itu.

Benarkah Starbucks Pantas Dianggap Ikon Pariwisata?

Publik segera bereaksi atas komentar Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch. Dula. Situs resmi Humas Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menyiarkan liputan berjudul “Bupati Mabar: Starbucks Coffee Ikon Baru Parwisata Mabar” (tautan: http://humas.manggaraibaratkab.go.id/bupati-mabar-starbucks-coffee-ikon-baru-parwisata-mabar/).

Penggunaan frasa ‘ikon baru pariwisata’, oleh publik dianggap berlebihan.

“Ikon? Mungkin pengaruh nama besar (Starbucks) dan terkenal. Mungkin. Semoga banyak yang berwisata ke Labuan Bajo, obyek wisata di sana banyak yang (lebih) pantas jadi ikon,” tutur Ary Djehatu, pemuda asal Ruteng yang bersama seorang temannya sedang menyiapkan peluncuran kedai kopi baru di Borong, Manggarai Timur.

Diberitakan, usai meresmikan Starbucks Coffee Company di Kawasan Terpadu Marina Labuan Bajo, Sabtu (18/05) malam, Bupati Manggarai Barat kepada wartawan menyampaikan: “Kita patut berbangga, karena kopi Starbucks yang gerainya hampir ada di seluruh dunia sudah ada di Labuan Bajo. Dan Starbucks coffee atau kopi starbucks menjadi salah satu ikon baru Pariwisata Labuan Bajo.”

Menurut Dula, kehadiran Starbucks adalah perubahan baik dalam mendukung pengembangan destinasi super prioritas Labuan Bajo; “Setidaknya ada penambahan ikon baru, artinya apabila ada wisatawan ke Labuan Bajo dan mencari tempat minum kopi kelas dunia, ada starbucks.”

Komentar Dula nampak berbeda dengan niat Starbucks sendiri yang semata ingin membawa ‘pengalaman Strubucks’ dan bukan ‘kopi kelas dunia’. “Kami senang sekali dapat menghadirkan dan membawa lebih dekat Starbucks Experience di seluruh Indonesia, khususnya di Labuan Bajo,” kata Anthony Cottan (tautan: https://lifestyle.kompas.com/read/2019/05/20/064700920/sentuhan-khas-ntt-di-gerai-starbucks-labuan-bajo).

Sebelumnya dia menjelaskan: “Setiap gerai yang kami bangun, kami buat sedemikian rupa agar selalu mengundang, nyaman dan memiliki sentuhan lokal. Menggabungkan desain modern dan sentuhan lokal adalah yang membedakan kami di antara yang lain.”

Kegagalan diksi Bupati Dula—yang bisa saja berasal dari perasaan gembira (untuk tidak menyebutnya inferioritas) atas hadirnya korporasi besar di Labuan Bajo, tentu bertentangan dengan keinginan memopulerkan kearifan lokal/kebudayaan dalam narasi besar promosi pariwisata kita. Kecuali, apabila hal tersebut disampaikan sebagai warning agar kedai-kedai kopi lokal mulai berbenah, sesuatu yang justru melahirkan pertanyaan lain: sejauh mana pengusaha lokal di Labuan Bajo telah disiapkan (oleh pemerintah) untuk bersaing dan ‘hidup’ dari objek wisatanya sendiri?

Mungkinkah Starbucks Mematikan Kedai Kopi Lokal?

Starbucks, meski sering disinis sebagai perwakilan kapitalisme yang dianggap memiliki dengan kecenderungan berlaku tak adil (bdk.: https://theconversation.com/anak-muda-zaman-sekarang-menolak-kapitalisme-lalu-apa-penggantinya-94644), dikenal dengan program corporate social rensponsibility (CSR) serta komitmennya melibatkan ‘orang-orang lokal’. Delapan dari sekitar barista Starbucks Labuan Bajo adalah penduduk lokal yang mengikuti pelatihan barista selama tiga puluh hari di Bali, demikian Kompas.com.

Namun, tetap saja kehadiran korporasi internasional dianggap mengkhawatirkan dan mengancam lokalitas. Edel Djenarut (44), misalnya. Ibu muda asal Manggarai yang kini menetap di Jakarta ini khawatir, Starbucks hadir ketika masyarakat lokal belum siap bersaing. “Pemerintah daerah boleh mengeluarkan ijin bagi perusahaan besar bila sudah menyiapkan masyarakat lokal bersaing,” papar Edel.

Menurutnya, tugas pemerintah daerah adalah menggerakkan dan menyiapkan masyarakat daerah agar bergegas bersiap diri menghadapi serangan pasar global. “Supaya tidak selalu menjadi bulan-bulanan mereka doang. Apalagi invasi pelaku pasar global selalu tak terelakkan,” paparnya.

Barangkali yang melandasi kekhawatiran senada adalah imej kapitalis(me) yang kerap dilekatkan pada bisnis ini. Tidak hanya di Indonesia. Di Amerika, jendela Starbucks (bersama McDonald dan Bank of America) dipecahkan oleh para demonstran pada hari Inaugurasi Donald Trump sebagai presiden negara itu. Aulia Adam mereportase peristiwa itu dalam tulisan berjudul “Rentetan Protes dalam Sejarah Pelantikan Presiden Amerika” di Tirto.id, (tautan: https://tirto.id/rentetan-protes-dalam-sejarah-pelantikan-presiden-amerika-chsh), dengan tambahan penjelasan: ….; semua yang dianggap sebagai simbol kapitalisme Amerika.

Kekhawatiran demikian sering dipercakapkan. Kekuatan modal (capital) yang besar milik korporasi internasional dianggap akan secara cepat mematikan geliat Usaha Kecil Menengah di daerah-daerah.

Korin Nera melihat munculnya kekhawatiran seperti itu sebagai sesuatu yang wajar; ada pesaing. Meski demikian, menurutnya, kekhawatiran seperti itu terlambat muncul.

“Seharusnya, melihat perkembangan Labuan Bajo lima tahun belakangan, kita sudah memprediksi kehadiran bisnis berskala internasional seperti ini. Bukan sekarang baru khawatir. Itu artinya kita tidak siap bersaing,” kata Korin.

Korin memilih melihat kehadiran Starbucks secara positif. “Mungkin saja kehadiran Starbucks dapat meningkatkan nilai jual kopi lokal, kenapa tidak? Belum lagi soal penerapan tenaga kerja lokal, pajak restoran dan pajak yang lainnya. Juga CSR dari bisnis yang sudah mendunia seperti Starbucks,” tuturnya.

Senada dengan Korin, pemilik kedai kopi Toto Kopi di Ruteng, Jeli Jehaut (38), mengaku optimis. Dirinya yakin, kopi yang akan ditonjolkan di gerai Starbucks di Labuan Bajo adalah Kopi Arabika Flores Manggarai, yang baru saja meraih Sertifikat Indikasi Geografis.

“Soal Starbucks bakal mematikan pengusaha kopi lokal, saya kok tidak yakin. Pasar ini luas sekali. Antara Starbucks dan pengusaha kedai kopi lokal jelas beda pasarnya,” papar Jeli.

Marta Muslin Tulis (38), seorang pelaku pariwisata di Labuan Bajo, juga menganggap kehadiran Starbucks biasa-biasa saja. “Ruginya di mana? Memang, kita rugi kalau berusaha menahan kehadiran mereka seperti usaha menahan gelombang besar. Yang harus dibuat adalah mengambil papan surfing dan bermain di atasnya,” jelas Marta.

Marta adalah pegiat di Indonesia Waste Platform, Board Management of Eco Flores, koordinator Flores Homestay Network, manajer Wicked Diving, dan terlibat aktif dalam agenda advokasi lingkungan dan kaum muda di Labuan Bajo. Baginya, salah satu cara agar kehadiran korporasi internasional bermanfaat bagi masyarakat lokal adalah dengan menjalin kerja sama mutualisme.

“Bisa dengan memanfaatkan CSR mereka untuk program-program pemberdayaan. Pemerintah membuat dan menegakkan regulasi agar tidak ada yang dirugikan. Atau apa saja, bisa kita lakukan. Gelombang jangan dihadang. Kita bermain di atasnya dan menaklukannya,” ungkapnya.

Apakah Kita Perlu Khawatir?

Rasa khawatir itu manusiawi. Bahkan jika kita telah sangat siap, beberapa perubahan/situasi baru tetap saja mendatangkan kekhawatiran. Namun, mengatasinya dengan penolakan, tidak akan menyelesaikan persoalan. Alih-alih membendung laju bisnis global, masyarakat lokal harus memperkuat dirinya sendiri.

“Satu sisi kita kaget dan reaksional dengan adanya Starbucks di (Labuan) Bajo tapi satu sisi kita tidak sadar sudah terjebak dalam pasar yang dibentuk industri kopi. Kalau mau dukung petani dan pengusaha lokal yang harus minum dan menikmati kopi dengan cara yang benar to. Supaya paham di mana kelasnya kopi Manggarai,” kata Jeli. “Saya belum lihat satu pun penikmat kopi yang berkomentar. Saya yakin, alasannya karena Starbucks bukan tentang tempat minum kopi. Kenapa takut?” katanya lagi.

Jeli bisa jadi benar. Dalam penjelasannya, Antony tidak banyak bicara tentang kopi. Yang sedang mereka hadirkan adalah pengalaman ber-starbucks (kadang dipakai sebagai pendanda kelas sosial tertentu). Starbucks Experience, kata Antony; sesuatu yang telah menjadi fokus mereka sejak dahulu.

Artinya, kekhawatiran—menghubungkannya dengan kesejahteraan petani kopi dan matinya kedai kopi lokal—tidak harus muncul dan memicu perdebatan, apalagi sampai jadi polemik. Debat kusir yang muncul di ruang publik (media sosial), dapat saja berujung pada menurunnya minat berkunjung para pelancong.

Namun, mengkhawatirkan (baca: memikirkan) nasib masyarakat lokal di tengah laju industri pariwisata adalah sesuatu yang harus dilakukan. Menempatkan brand internasional sebagai ikon baru pariwisata adalah narasi yang keliru. Meminta mereka turut berkontribusi dalam derap pembangunan daerah adalah keharusan.

Bupati Dula, misalnya, telah meminta agar Starbucks memperhatikan potensi kopi lokal. “Starbukcks sebagai gerai kopi terbaik dunia harus mengoptimalkan potensi yang ada di Manggarai Barat dan tidak lagi menggunakan kopi luar,” kata Dula. Harapan serupa ini akan lebih kuat dampaknya jika dituangkan dalam bentuk Peraturan Daerah—yang jelas jauh lebih mengikat daripada sekadar harapan yang disampaikan di acara peluncuran. [T]

Tags: FloreskopiLabuan BajoNTT
Share115TweetSendShareSend
Previous Post

Tren Kekinian Memutihkan Gigi

Next Post

Balada Cinta dalam Sepotong Rekaman

Armin Bell

Armin Bell

Blogger, tinggal di Ruteng. Tahun 2018 menerbitkan kumpulan cerpen “Perjalanan Mencari Ayam” (Komunitas Sastra Dusun Flobamora). Bergiat di Komunitas Saeh Go Lino dan Klub Buku Petra.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Balada Cinta dalam Sepotong Rekaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co