2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Starbucks Buka Gerai di Labuan Bajo – Bagaimana Nasib Kopi Lokal?

Armin Bell by Armin Bell
July 4, 2019
in Opini
Starbucks Buka Gerai di Labuan Bajo – Bagaimana Nasib Kopi Lokal?

Diolah dari sumber foto Google

Korin Nera (39), melihat kehadiran Starbucks di banyak tempat dapat berarti dua hal. Pertama, keputusan perusahaan kopi dan jaringan kedai kopi global yang berkantor pusat di Seattle, Washington itu membuka gerai adalah penjelasan bahwa mereka melihat pasar potensial. Kedua, daya beli masyarakat di tempat itu, oleh Starbucks, dipercaya akan membuat mereka ‘hidup’.

Korin adalah pengelola Kopi Mane, kedai kopi di Ruteng – Flores yang kini telah memiliki cabang di Maumere dan Labuan Bajo. Komentar itu dia sampaikan menyusul keputusan Starbucks membuka gerai di Labuan Bajo. Anthony Cottan, Direktur Starbucks Indonesia pada kesempatan peluncuran kedai kopi tersebut di Labuan Bajo (18/5) menjelaskan bahwa tempat itu adalah kota ke-32 di Indonesia di mana kedai kopi mereka hadir. Launching tersebut serentak ramai dibicarakan.

Tidak hanya soal peluncurannya, ada dua ‘highlight lain’ dari peristiwa kehadiran tempat minum kopi waralaba ini di destinasi wisata andalan baru Indonesia itu: soal komentar bahwa Starbucks adalah ikon baru pariwisata Labuan Bajo, dan kekhawatiran sebagian orang terhadap matinya kedai-kedai kopi lokal oleh kehadiran brand internasional itu.

Benarkah Starbucks Pantas Dianggap Ikon Pariwisata?

Publik segera bereaksi atas komentar Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch. Dula. Situs resmi Humas Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menyiarkan liputan berjudul “Bupati Mabar: Starbucks Coffee Ikon Baru Parwisata Mabar” (tautan: http://humas.manggaraibaratkab.go.id/bupati-mabar-starbucks-coffee-ikon-baru-parwisata-mabar/).

Penggunaan frasa ‘ikon baru pariwisata’, oleh publik dianggap berlebihan.

“Ikon? Mungkin pengaruh nama besar (Starbucks) dan terkenal. Mungkin. Semoga banyak yang berwisata ke Labuan Bajo, obyek wisata di sana banyak yang (lebih) pantas jadi ikon,” tutur Ary Djehatu, pemuda asal Ruteng yang bersama seorang temannya sedang menyiapkan peluncuran kedai kopi baru di Borong, Manggarai Timur.

Diberitakan, usai meresmikan Starbucks Coffee Company di Kawasan Terpadu Marina Labuan Bajo, Sabtu (18/05) malam, Bupati Manggarai Barat kepada wartawan menyampaikan: “Kita patut berbangga, karena kopi Starbucks yang gerainya hampir ada di seluruh dunia sudah ada di Labuan Bajo. Dan Starbucks coffee atau kopi starbucks menjadi salah satu ikon baru Pariwisata Labuan Bajo.”

Menurut Dula, kehadiran Starbucks adalah perubahan baik dalam mendukung pengembangan destinasi super prioritas Labuan Bajo; “Setidaknya ada penambahan ikon baru, artinya apabila ada wisatawan ke Labuan Bajo dan mencari tempat minum kopi kelas dunia, ada starbucks.”

Komentar Dula nampak berbeda dengan niat Starbucks sendiri yang semata ingin membawa ‘pengalaman Strubucks’ dan bukan ‘kopi kelas dunia’. “Kami senang sekali dapat menghadirkan dan membawa lebih dekat Starbucks Experience di seluruh Indonesia, khususnya di Labuan Bajo,” kata Anthony Cottan (tautan: https://lifestyle.kompas.com/read/2019/05/20/064700920/sentuhan-khas-ntt-di-gerai-starbucks-labuan-bajo).

Sebelumnya dia menjelaskan: “Setiap gerai yang kami bangun, kami buat sedemikian rupa agar selalu mengundang, nyaman dan memiliki sentuhan lokal. Menggabungkan desain modern dan sentuhan lokal adalah yang membedakan kami di antara yang lain.”

Kegagalan diksi Bupati Dula—yang bisa saja berasal dari perasaan gembira (untuk tidak menyebutnya inferioritas) atas hadirnya korporasi besar di Labuan Bajo, tentu bertentangan dengan keinginan memopulerkan kearifan lokal/kebudayaan dalam narasi besar promosi pariwisata kita. Kecuali, apabila hal tersebut disampaikan sebagai warning agar kedai-kedai kopi lokal mulai berbenah, sesuatu yang justru melahirkan pertanyaan lain: sejauh mana pengusaha lokal di Labuan Bajo telah disiapkan (oleh pemerintah) untuk bersaing dan ‘hidup’ dari objek wisatanya sendiri?

Mungkinkah Starbucks Mematikan Kedai Kopi Lokal?

Starbucks, meski sering disinis sebagai perwakilan kapitalisme yang dianggap memiliki dengan kecenderungan berlaku tak adil (bdk.: https://theconversation.com/anak-muda-zaman-sekarang-menolak-kapitalisme-lalu-apa-penggantinya-94644), dikenal dengan program corporate social rensponsibility (CSR) serta komitmennya melibatkan ‘orang-orang lokal’. Delapan dari sekitar barista Starbucks Labuan Bajo adalah penduduk lokal yang mengikuti pelatihan barista selama tiga puluh hari di Bali, demikian Kompas.com.

Namun, tetap saja kehadiran korporasi internasional dianggap mengkhawatirkan dan mengancam lokalitas. Edel Djenarut (44), misalnya. Ibu muda asal Manggarai yang kini menetap di Jakarta ini khawatir, Starbucks hadir ketika masyarakat lokal belum siap bersaing. “Pemerintah daerah boleh mengeluarkan ijin bagi perusahaan besar bila sudah menyiapkan masyarakat lokal bersaing,” papar Edel.

Menurutnya, tugas pemerintah daerah adalah menggerakkan dan menyiapkan masyarakat daerah agar bergegas bersiap diri menghadapi serangan pasar global. “Supaya tidak selalu menjadi bulan-bulanan mereka doang. Apalagi invasi pelaku pasar global selalu tak terelakkan,” paparnya.

Barangkali yang melandasi kekhawatiran senada adalah imej kapitalis(me) yang kerap dilekatkan pada bisnis ini. Tidak hanya di Indonesia. Di Amerika, jendela Starbucks (bersama McDonald dan Bank of America) dipecahkan oleh para demonstran pada hari Inaugurasi Donald Trump sebagai presiden negara itu. Aulia Adam mereportase peristiwa itu dalam tulisan berjudul “Rentetan Protes dalam Sejarah Pelantikan Presiden Amerika” di Tirto.id, (tautan: https://tirto.id/rentetan-protes-dalam-sejarah-pelantikan-presiden-amerika-chsh), dengan tambahan penjelasan: ….; semua yang dianggap sebagai simbol kapitalisme Amerika.

Kekhawatiran demikian sering dipercakapkan. Kekuatan modal (capital) yang besar milik korporasi internasional dianggap akan secara cepat mematikan geliat Usaha Kecil Menengah di daerah-daerah.

Korin Nera melihat munculnya kekhawatiran seperti itu sebagai sesuatu yang wajar; ada pesaing. Meski demikian, menurutnya, kekhawatiran seperti itu terlambat muncul.

“Seharusnya, melihat perkembangan Labuan Bajo lima tahun belakangan, kita sudah memprediksi kehadiran bisnis berskala internasional seperti ini. Bukan sekarang baru khawatir. Itu artinya kita tidak siap bersaing,” kata Korin.

Korin memilih melihat kehadiran Starbucks secara positif. “Mungkin saja kehadiran Starbucks dapat meningkatkan nilai jual kopi lokal, kenapa tidak? Belum lagi soal penerapan tenaga kerja lokal, pajak restoran dan pajak yang lainnya. Juga CSR dari bisnis yang sudah mendunia seperti Starbucks,” tuturnya.

Senada dengan Korin, pemilik kedai kopi Toto Kopi di Ruteng, Jeli Jehaut (38), mengaku optimis. Dirinya yakin, kopi yang akan ditonjolkan di gerai Starbucks di Labuan Bajo adalah Kopi Arabika Flores Manggarai, yang baru saja meraih Sertifikat Indikasi Geografis.

“Soal Starbucks bakal mematikan pengusaha kopi lokal, saya kok tidak yakin. Pasar ini luas sekali. Antara Starbucks dan pengusaha kedai kopi lokal jelas beda pasarnya,” papar Jeli.

Marta Muslin Tulis (38), seorang pelaku pariwisata di Labuan Bajo, juga menganggap kehadiran Starbucks biasa-biasa saja. “Ruginya di mana? Memang, kita rugi kalau berusaha menahan kehadiran mereka seperti usaha menahan gelombang besar. Yang harus dibuat adalah mengambil papan surfing dan bermain di atasnya,” jelas Marta.

Marta adalah pegiat di Indonesia Waste Platform, Board Management of Eco Flores, koordinator Flores Homestay Network, manajer Wicked Diving, dan terlibat aktif dalam agenda advokasi lingkungan dan kaum muda di Labuan Bajo. Baginya, salah satu cara agar kehadiran korporasi internasional bermanfaat bagi masyarakat lokal adalah dengan menjalin kerja sama mutualisme.

“Bisa dengan memanfaatkan CSR mereka untuk program-program pemberdayaan. Pemerintah membuat dan menegakkan regulasi agar tidak ada yang dirugikan. Atau apa saja, bisa kita lakukan. Gelombang jangan dihadang. Kita bermain di atasnya dan menaklukannya,” ungkapnya.

Apakah Kita Perlu Khawatir?

Rasa khawatir itu manusiawi. Bahkan jika kita telah sangat siap, beberapa perubahan/situasi baru tetap saja mendatangkan kekhawatiran. Namun, mengatasinya dengan penolakan, tidak akan menyelesaikan persoalan. Alih-alih membendung laju bisnis global, masyarakat lokal harus memperkuat dirinya sendiri.

“Satu sisi kita kaget dan reaksional dengan adanya Starbucks di (Labuan) Bajo tapi satu sisi kita tidak sadar sudah terjebak dalam pasar yang dibentuk industri kopi. Kalau mau dukung petani dan pengusaha lokal yang harus minum dan menikmati kopi dengan cara yang benar to. Supaya paham di mana kelasnya kopi Manggarai,” kata Jeli. “Saya belum lihat satu pun penikmat kopi yang berkomentar. Saya yakin, alasannya karena Starbucks bukan tentang tempat minum kopi. Kenapa takut?” katanya lagi.

Jeli bisa jadi benar. Dalam penjelasannya, Antony tidak banyak bicara tentang kopi. Yang sedang mereka hadirkan adalah pengalaman ber-starbucks (kadang dipakai sebagai pendanda kelas sosial tertentu). Starbucks Experience, kata Antony; sesuatu yang telah menjadi fokus mereka sejak dahulu.

Artinya, kekhawatiran—menghubungkannya dengan kesejahteraan petani kopi dan matinya kedai kopi lokal—tidak harus muncul dan memicu perdebatan, apalagi sampai jadi polemik. Debat kusir yang muncul di ruang publik (media sosial), dapat saja berujung pada menurunnya minat berkunjung para pelancong.

Namun, mengkhawatirkan (baca: memikirkan) nasib masyarakat lokal di tengah laju industri pariwisata adalah sesuatu yang harus dilakukan. Menempatkan brand internasional sebagai ikon baru pariwisata adalah narasi yang keliru. Meminta mereka turut berkontribusi dalam derap pembangunan daerah adalah keharusan.

Bupati Dula, misalnya, telah meminta agar Starbucks memperhatikan potensi kopi lokal. “Starbukcks sebagai gerai kopi terbaik dunia harus mengoptimalkan potensi yang ada di Manggarai Barat dan tidak lagi menggunakan kopi luar,” kata Dula. Harapan serupa ini akan lebih kuat dampaknya jika dituangkan dalam bentuk Peraturan Daerah—yang jelas jauh lebih mengikat daripada sekadar harapan yang disampaikan di acara peluncuran. [T]

Tags: FloreskopiLabuan BajoNTT
Share115TweetSendShareSend
Previous Post

Tren Kekinian Memutihkan Gigi

Next Post

Balada Cinta dalam Sepotong Rekaman

Armin Bell

Armin Bell

Blogger, tinggal di Ruteng. Tahun 2018 menerbitkan kumpulan cerpen “Perjalanan Mencari Ayam” (Komunitas Sastra Dusun Flobamora). Bergiat di Komunitas Saeh Go Lino dan Klub Buku Petra.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Balada Cinta dalam Sepotong Rekaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co