24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Balada Cinta dalam Sepotong Rekaman

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
July 4, 2019
in Opini

Seorang teman tampak asik memainkan gadged miliknya. Selang beberapa lama, dia memulai pembicaraan. “Bro, tahu Hanna Annisa?”

Saya jawab, “Tidak, Bro, kenapa?”

Dia menimpali, “Itu lho, mahasiswi UI, noh video mesumnya tersebar luas di medsos, lagi viral nih. Saking  penasaran, beberapa kali aku searching di youtube. Yang muncul sih gambar salah satu adegan ranjangnya, tetapi setelah kubuka, eh isinya malah tayangan siksa kubur bagi manusia-manusia penyuka bokep,”.

Sontak saya terkekeh mendengar pengakuan polos kawan ini. Peristiwa tersebut saya alami sekitar Oktober 2017 lalu ketika menjadi salah satu juri dalam ajang Lomba Debat SMA se-Bali yang diadakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha Singaraja.

Setelah kegiatan lomba usai, saya ikut penasaran dengan sosok Hanna Annisa. Mungkin karena saking viralnya, pencarian Hanna Annisa segera menjadi trending topic di youtube dan twitter. Di chanel Youtube misalnya, banyak saya temukan video yang menautkan kata pencarian “Hanna Annisa”. Durasinya tidak lebih dari 5 menit. Gambarnya sih sepertinya salah satu adegan ranjang, tetapi kontenya jauh panggang dari api. Isinya justru salawatan disertai ajakan pertobatan dari kemaksiatan.

Belum lenyap kegegeran video ranjang yang diduga Hanna Annisa dengan pacarnya, publik tanah air kembali dikejutkan dengan beredarnya rekaman intim yang mirip Marion Jola, salah seorang peserta Indonesia Idol 2018 yang masih berumur 17 tahun. Untuk meredakan rumor yang beredar, perempuan yang akrab dipanggil Lala itu sampai harus membuat postingan klarifikasi di akun instagram miliknya. Isinya menyatakan bahwa sosok perempuan yang ada di dalam rekaman itu bukan dirinya.

Kemunculan dua video di atas mengingatkan saya dengan video “panas” Ariel Noah bersama Luna Maya dan Cut Tari di tahun 2010. Seluruh pelosok negeri dibuat heboh, berita tentang ketiganya bahkan mengalahkan hingar bingar Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Pada akhirnya, ketiganya duduk di kursi pesakitan, didakwa pasal-pasal pornografi dan pornoaksi yang proses pengundangannya telah disahkan sejak tahun 2008. Ariel divonis 3 tahun penjara, Cut Tari dan Luna Maya melenggang bebas. Ariel dengan grup bandnya Peterpan terpaksa vakum, sedangkan Luna Maya dan Cut Tari, meski tak ikut merasakan dinginnya jeruji besi harus ikhlas mendapatkan caci maki dan sanksi sosial yang tidak kalah hebat.

Sebenarnya masih banyak skandal seksual yang melibatkan publik figur, namun  hanya beberapa saja yang saya cantumkan untuk mengantar tulisan ini. Ada semacam kecanduan psikis yang bersifat personal, khususnya generasi milenial dalam merespon modernitas.

Unsur-unsur modernitas ini beraneka macam, contohnya perkembangan handphone. Benda ini adalah barang wajib yang menemani aktivitas milenial kapan dan dimanapun berada. Handphone yang di awal kehadirannya diperuntukan untuk sms dan telfon, seiring bertambahnya kebutuhan manusia, ikut mengalami perkembangan dengan penambahan fitur-fitur aplikatif yang bisa diterapkan secara mandiri. Aplikasi foto dan video menjadi contoh bagaimana handphone telah berhasil merespon keinginan manusia yang tanpa batas.

Modulasi foto dan video yang tersemat di dalam handphone dibuat dengan harapan mampu mengabadikan pengalaman dan momen-momen indah bersama orang terdekat. Aktivitas intim di ranjang tanpa pengecualian tidak luput juga dari pendokumentasian. Meski awalnya sebagai “konsumsi” pribadi, oleh sebab-sebab tertentu, aktivitas yang telah terdokumentasikan itu tersebar sehingga menimbulkan gejolak sosial di masyarakat.

Ada beberapa hal yang membuat orang terinspirasi untuk merekam satu momen hidupnya lewat bantuan teknologi, baik berupa foto maupun video. Selembar foto adalah sekeping peristiwa yang terekam di dalamnya. Secara sederhana bisa dikatakan sebagai karya dokumentasi, sebagai kenang-kenangan. Sebuah foto lama mungkin akan membangkitkan nostalgia tentang lokasi tempat pengambilan foto, dan bagaimana perubahan wujud lokasi itu sekarang.

Teknologi yang diperbarui terus menerus juga melahirkan kesempatan dan menyediakan sarana mengawetkan peristiwa dengan lebih lama dan abadi. Bahkan,  teknonologi semacam itu bisa digandakan, dimassalkan dan disimpan.

Selain berfungsi sebagai perekam, momen sebuah foto atau rekaman video juga berperan untuk menunjukkan kemesraan ruang pribadi kepada publik yang lebih luas. Kemesraan, kedekatan, atau keintiman kadang-kadang terasa begitu abstrak sehingga dengan adanya foto atau rekaman video, semuaya tampak lebih nyata.

Sebuah foto lecek yang tersimpan di dompet sekalipun bisa berperan sebagai penanda kenangan yang kita miliki dan keintiman yang terjalin antara aku, kamu, kita dan mereka. Selembar foto menunjukkan sifatnya yang paradoks karena ia sekaligus berperan untuk menyembunyikan ketidakharmonisan suatu hubungan.

Ketiga kasus asusila di atas mengingatkan kita tentang batas ruang privat dan ruang publik serta pergeseran-pergeseran yang terjadi selama ini sangat tipis dan kian buram. Terdapat batas-batas yang tidak selalu berupa aturan tertulis dan tegas. Batas-batas tersebut justru tidak tertulis, hanya bisa dirasakan dengan hati dan dari norma-norma yang berlaku pada suatu masyarakat.

Jika terjadi pelanggaran, atau jika salah satu batas-batas tersebut kita langgar, besar kemungkinan akan terjadi goncangan sosial. Rekaman video itu dengan jelas memperlihatkan aktivitas “ranjang” yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pasangan yang belum menikah. Pada masyarakat Timur, seperti Jawa dan Bali, hubungan seks yang dilakukan oleh pasangan yang belum menikah akan menjadi persoalan besar karena norma-norma yang berlaku di masyarakat memang tidak mengijinkannya.

Pada level permukaan sebetulnya katup-katup ruang-ruang privat ini disadari atau tidak semakin lama semakin terbuka. Sebagai contoh misalnya pengalaman saya di tahun 2011 ketika berolahraga di sekitaran Renon Denpasar. Banyak muda-mudi yang menjadikan aktivitas olahraga di ruang publik hanya alibi.

Mereka memanfaatkan momen itu untuk bertemu. Tempat duduk taman yang letaknya agak tersembunyi menjadi ajang pelampiasan rindu. Bagi saya yang termasuk generasi milenial awal (dimulai sejak 1980-an), perilaku tersebut tergolong biasa, tetapi tidak bagi orang lain yang berlalu lalang dan kebetulan berasal dari generasi yang lebih tua.

Mereka memalingkan muka pertanda malu menyaksikan adegan intim di ruang publik. Bagaimana mungkin muda-mudi itu bisa melakukan perilaku terlarang dengan orang yang belum dinikahi?

Persoalan intimasi termasuk di dalamnya persoalan seksualitas di Indonesia tidak bisa dilihat sebagai persoalan yang sederhana. Kasus di atas menandakan adanya beragam pendapat dan tingkat gradasi penerimaan terhadap modernitas. Penerimaan terhadap intimasi dan seksualitas selalu lentur, tidak pernah seragam, tergantung kepada tempat dan kelas sosial tertentu yang melakukannya, juga sangat tergantung kepada kuasa-kuasa pengetahuan yang berperan pada suatu kelompok masyarakat.

Meski demikian, nampaknya ada semacam kesepakatan tak tertulis pada generasi milenial bahwa perilaku seks pra nikah dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan tidak lagi dipertanyakan atau dipertentangkan. Kumpul kebo misalnya, menjadi semacam simbol perlawanan generasi muda terhadap nilai-nilai lama mengenai seksualitas yang diwariskan oleh orang tua dan akhirya diperkuat melalui media massa dan cetak. Kumpul kebo bisa dianggap gejala umum pada masyarakat urban kosmopolit di kota-kota besar.

Secara ideal, hidup bersama akan menekan resiko penularan penyakit kelamin seperti HIV AIDS.  Hal tersebut dikarenakan aktivitas seksual hanya dilakukan dengan pacar sendiri. [T]

Tags: media sosialPendidikanSeksualitassex
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Starbucks Buka Gerai di Labuan Bajo – Bagaimana Nasib Kopi Lokal?

Next Post

Lestari Ledok, Lestari Jagung – Makanan Kampung Nusa Penida Go to Jakarta

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Lestari Ledok, Lestari Jagung – Makanan Kampung Nusa Penida Go to Jakarta

Lestari Ledok, Lestari Jagung - Makanan Kampung Nusa Penida Go to Jakarta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co