30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

45 Tahun Rasa itu Tak Mati-mati: Ini Kisah Siobak Seririt Penakluk Hati

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
May 14, 2025
in Kuliner
45 Tahun Rasa itu Tak Mati-mati: Ini Kisah Siobak Seririt Penakluk Hati

Yudianto dan Tik di Depot Siobak Seririt

SIANG itu, langit Seririt menumpahkan rintik hujan tanpa henti. Tiba-tiba, ibu saya melontarkan keinginan yang tak terbantahkan.

”Mang, rasanya enak sekali kalau siang ini makan siobak,” kata Ibu.

”Oke!” sahut saya.

Saya pun bergegas memenuhi permintaan sang ibu. Tujuan saya sudah jelas. Depot Siobak di Seririt, Buleleng, Bali.  Siobak, adalah sebuah nama menu yang melegenda di telinga para pencinta kuliner Buleleng, juga Bali.

Warung makan itu berdiri bersahaja, bertetangga dengan sebuah Indomaret di Jalan Raya Seririt-Singaraja. Tak ada kemewahan di sana, hanya sebuah warung makan yang jujur dalam kesederhanaannya, seolah menyimpan rahasia rasa yang diwariskan turun-temurun.

Depot Siobak Seririt | Foto: Puja

Memasuki warung, aroma khas masakan langsung menyergap indera penciuman, membangkitkan selera. Sambutan hangat langsung saya terima dari sepasang suami istri, Yudianto (74) dan Heti (62), atau yang akrab disapa Tik.

Sembari tangan cekatan Tik menyiapkan pesanan saya dan pelanggan lain, matanya tak lepas dari talenan dan blakas Bali. Dengan fokus yang luar biasa, ia memastikan setiap irisan daging babi terpotong dengan sempurna. Sebuah dedikasi yang terlihat jelas dalam setiap gerakannya. Di usianya yang tak lagi muda, semangat melayani dan menjaga kualitas tetap membara.

Sensasi Rasa yang Tak Tertandingi

Bicara soal siobak, Depot Siobak Seririt memang memiliki kelas tersendiri. Dibuka sejak tahun 1980. Sudah 45 tahun lamanya warung ini berdiri kokoh, menjaga cita rasa autentik yang tak tergantikan. Setiap suapan membawa perpaduan antara manis, gurih, dan sedikit sentuhan pedas yang menggelitik. Daging babinya begitu empuk di lidah, disempurnakan dengan kulit yang renyah sempurna di setiap gigitan.

Kuah siobaknya? Ahh…, itu adalah mahakarya tersendiri. Berwarna cokelat pekat, kental, dan kaya rempah, memeluk setiap potongan daging dan menyatu sempurna. Siobak ini tak pernah disajikan sendiri, selalu ditemani kerupuk babi yang garing renyah, acar timun segar yang memberikan sentuhan asam, dan potongan cabai segar bagi mereka yang ingin sensasi lebih menantang. Sungguh, ini bukan sekadar makanan, melainkan pengalaman kuliner yang memanjakan seluruh indra.

Dengan harga yang cukup terjangkau, Rp 30 ribu per porsi, pelanggan bahkan diberi keleluasaan dengan selera masing-masing.

“Kalau saya jualan sesuai request pelanggan, misalnya siobak full daging. Kasihan kalau makanannya dibuang-buang, nggak dihabiskan,” ucap Heti dengan senyum ramahnya, menunjukkan perhatiannya pada kepuasan pelanggan dan kepedulian agar tak ada makanan yang tersia-sia.

Yudianto

Depot Siobak Seririt buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 20.00 WITA. Namun, persiapan di dapur sudah dimulai jauh lebih pagi. Dibantu oleh dua orang karyawannya, Heti dan Yudianto mulai meracik bumbu dan menyiapkan bahan sejak pukul 05.00 WITA.

Yang menarik, proses memasak di Depot Siobak ini masih sangat tradisional, menggunakan kayu bakar. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Heti berkisah, ia pernah mengalami trauma ketika kompor yang dulu digunakannya meledak di warung.

“Dari kejadian itu ada positifnya, jadi pakai kayu bakar juga dapat cita rasa makanan berbeda, karena ada rasa khas memasak menggunakan kayu bakar,” ungkap Heti sambil tersenyum, menyiratkan setiap musibah pun bisa membawa berkah. Memang, aroma dan rasa yang dihasilkan dari masakan kayu bakar memiliki kekhasan tersendiri.

Keluhan yang paling sering dialami selama 45 tahun berdagang adalah kenaikan harga daging babi yang tak kunjung turun setiap tahunnya. ”Biasanya beli daging di Pasar Seririt dengan anak. Kalau di langganan beli harganya Rp 110 ribu per kg, sedangkan yang nggak langganan biasanya Rp 120 ribu,” tutur Yudianto.

Kisah Perjalanan dan Warisan Khelok

Di balik kesuksesan Depot Siobak Seririt, tersimpan kisah panjang perjalanan hidup Yudianto. Sebelum mendirikan warung ini, ia merantau selama 15 tahun, berpindah-pindah tempat mulai dari Surabaya, Solo, dan terakhir di Klaten. Profesi yang dilakoninya pun beragam.

Pelanggan yang mengantre | Foto: Puja

“Saya kerjanya mulai kerja di Surabaya di pabrik sepatu, di Solo pabrik bensin, di Klaten pabrik minyak bakar yang buat pembakaran kapur, karena saat itu rumah pakai bahan kapur,” tutur Yudianto.

Namun, sebuah peristiwa kelam di tahun 1979 mengubah jalan hidupnya. Saat itu, di Klaten sedang marak isu penembak misterius (petrus) yang menebar ketakutan.

“Saat itu saya mau nagih uang di pabrik Parkarejo dan muncul kejadian itu, saya langsung pulang,” kenangnya dengan raut serius, mengingat kembali momen yang mengubah haluan hidupnya kembali ke kampung halaman.

Hidangan siobak yang menggiurkan | Foto: Puja

Depot Siobak ini bertahan hingga kini karena merupakan satu-satunya mata pencarian mereka, untuk makan sehari-hari. Yudianto adalah anak kelima dari sembilan bersaudara dari keluarga Khelok. Siobak ini bukan sekadar usaha, melainkan warisan nenek moyang yang terus ia jaga hingga saat ini.

”Kedua anak saya dan menantu saya berjualan siobak juga, dan sudah membuka gerai mandiri tidak satu gerai dengan saya,” tuturnya dengan bangga, menunjukkan bahwa tradisi kuliner ini telah berhasil diturunkan ke generasi berikutnya. Heti pun memiliki harapan besar agar makanan warisan keluarga ini bisa semakin tersebar luas dan menjadi ciri khas cita rasa siobak legendaris yang dikenal banyak orang.

Melihat warung sederhana itu, ingatan saya melayang pada kenangan ibu saya bersama almarhum bapak, saat mereka menikmati siobak di musim hujan.

”Tiap makan sesuap siobak ini, jadi ingat bapakmu yang dulu suka menyuapi ibu,” kenang ibu dengan senyum manis yang menyimpan rindu. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Mengenal Singaraja Melalui Kulinernya
Ada Nasi Kuning Vegan di Singaraja — Carilah di Warung Laksmi, di Jalan Laksamana
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Nasi Kuning: Warisan Intangible | Pintu Akselerasi Perempuan Mewujudkan Mimpi Pemberdayaan
Mahasiswa di Singaraja: Nasi Kuning “Pahlawan Kepagian”, juga “Pahlawan Kemalaman”
Tags: bulelengkulinerkuliner babiSeriritsiobak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Puisi Visual’ I Nyoman Diwarupa

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
0
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co