5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

45 Tahun Rasa itu Tak Mati-mati: Ini Kisah Siobak Seririt Penakluk Hati

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
May 14, 2025
in Kuliner
45 Tahun Rasa itu Tak Mati-mati: Ini Kisah Siobak Seririt Penakluk Hati

Yudianto dan Tik di Depot Siobak Seririt

SIANG itu, langit Seririt menumpahkan rintik hujan tanpa henti. Tiba-tiba, ibu saya melontarkan keinginan yang tak terbantahkan.

”Mang, rasanya enak sekali kalau siang ini makan siobak,” kata Ibu.

”Oke!” sahut saya.

Saya pun bergegas memenuhi permintaan sang ibu. Tujuan saya sudah jelas. Depot Siobak di Seririt, Buleleng, Bali.  Siobak, adalah sebuah nama menu yang melegenda di telinga para pencinta kuliner Buleleng, juga Bali.

Warung makan itu berdiri bersahaja, bertetangga dengan sebuah Indomaret di Jalan Raya Seririt-Singaraja. Tak ada kemewahan di sana, hanya sebuah warung makan yang jujur dalam kesederhanaannya, seolah menyimpan rahasia rasa yang diwariskan turun-temurun.

Depot Siobak Seririt | Foto: Puja

Memasuki warung, aroma khas masakan langsung menyergap indera penciuman, membangkitkan selera. Sambutan hangat langsung saya terima dari sepasang suami istri, Yudianto (74) dan Heti (62), atau yang akrab disapa Tik.

Sembari tangan cekatan Tik menyiapkan pesanan saya dan pelanggan lain, matanya tak lepas dari talenan dan blakas Bali. Dengan fokus yang luar biasa, ia memastikan setiap irisan daging babi terpotong dengan sempurna. Sebuah dedikasi yang terlihat jelas dalam setiap gerakannya. Di usianya yang tak lagi muda, semangat melayani dan menjaga kualitas tetap membara.

Sensasi Rasa yang Tak Tertandingi

Bicara soal siobak, Depot Siobak Seririt memang memiliki kelas tersendiri. Dibuka sejak tahun 1980. Sudah 45 tahun lamanya warung ini berdiri kokoh, menjaga cita rasa autentik yang tak tergantikan. Setiap suapan membawa perpaduan antara manis, gurih, dan sedikit sentuhan pedas yang menggelitik. Daging babinya begitu empuk di lidah, disempurnakan dengan kulit yang renyah sempurna di setiap gigitan.

Kuah siobaknya? Ahh…, itu adalah mahakarya tersendiri. Berwarna cokelat pekat, kental, dan kaya rempah, memeluk setiap potongan daging dan menyatu sempurna. Siobak ini tak pernah disajikan sendiri, selalu ditemani kerupuk babi yang garing renyah, acar timun segar yang memberikan sentuhan asam, dan potongan cabai segar bagi mereka yang ingin sensasi lebih menantang. Sungguh, ini bukan sekadar makanan, melainkan pengalaman kuliner yang memanjakan seluruh indra.

Dengan harga yang cukup terjangkau, Rp 30 ribu per porsi, pelanggan bahkan diberi keleluasaan dengan selera masing-masing.

“Kalau saya jualan sesuai request pelanggan, misalnya siobak full daging. Kasihan kalau makanannya dibuang-buang, nggak dihabiskan,” ucap Heti dengan senyum ramahnya, menunjukkan perhatiannya pada kepuasan pelanggan dan kepedulian agar tak ada makanan yang tersia-sia.

Yudianto

Depot Siobak Seririt buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 20.00 WITA. Namun, persiapan di dapur sudah dimulai jauh lebih pagi. Dibantu oleh dua orang karyawannya, Heti dan Yudianto mulai meracik bumbu dan menyiapkan bahan sejak pukul 05.00 WITA.

Yang menarik, proses memasak di Depot Siobak ini masih sangat tradisional, menggunakan kayu bakar. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Heti berkisah, ia pernah mengalami trauma ketika kompor yang dulu digunakannya meledak di warung.

“Dari kejadian itu ada positifnya, jadi pakai kayu bakar juga dapat cita rasa makanan berbeda, karena ada rasa khas memasak menggunakan kayu bakar,” ungkap Heti sambil tersenyum, menyiratkan setiap musibah pun bisa membawa berkah. Memang, aroma dan rasa yang dihasilkan dari masakan kayu bakar memiliki kekhasan tersendiri.

Keluhan yang paling sering dialami selama 45 tahun berdagang adalah kenaikan harga daging babi yang tak kunjung turun setiap tahunnya. ”Biasanya beli daging di Pasar Seririt dengan anak. Kalau di langganan beli harganya Rp 110 ribu per kg, sedangkan yang nggak langganan biasanya Rp 120 ribu,” tutur Yudianto.

Kisah Perjalanan dan Warisan Khelok

Di balik kesuksesan Depot Siobak Seririt, tersimpan kisah panjang perjalanan hidup Yudianto. Sebelum mendirikan warung ini, ia merantau selama 15 tahun, berpindah-pindah tempat mulai dari Surabaya, Solo, dan terakhir di Klaten. Profesi yang dilakoninya pun beragam.

Pelanggan yang mengantre | Foto: Puja

“Saya kerjanya mulai kerja di Surabaya di pabrik sepatu, di Solo pabrik bensin, di Klaten pabrik minyak bakar yang buat pembakaran kapur, karena saat itu rumah pakai bahan kapur,” tutur Yudianto.

Namun, sebuah peristiwa kelam di tahun 1979 mengubah jalan hidupnya. Saat itu, di Klaten sedang marak isu penembak misterius (petrus) yang menebar ketakutan.

“Saat itu saya mau nagih uang di pabrik Parkarejo dan muncul kejadian itu, saya langsung pulang,” kenangnya dengan raut serius, mengingat kembali momen yang mengubah haluan hidupnya kembali ke kampung halaman.

Hidangan siobak yang menggiurkan | Foto: Puja

Depot Siobak ini bertahan hingga kini karena merupakan satu-satunya mata pencarian mereka, untuk makan sehari-hari. Yudianto adalah anak kelima dari sembilan bersaudara dari keluarga Khelok. Siobak ini bukan sekadar usaha, melainkan warisan nenek moyang yang terus ia jaga hingga saat ini.

”Kedua anak saya dan menantu saya berjualan siobak juga, dan sudah membuka gerai mandiri tidak satu gerai dengan saya,” tuturnya dengan bangga, menunjukkan bahwa tradisi kuliner ini telah berhasil diturunkan ke generasi berikutnya. Heti pun memiliki harapan besar agar makanan warisan keluarga ini bisa semakin tersebar luas dan menjadi ciri khas cita rasa siobak legendaris yang dikenal banyak orang.

Melihat warung sederhana itu, ingatan saya melayang pada kenangan ibu saya bersama almarhum bapak, saat mereka menikmati siobak di musim hujan.

”Tiap makan sesuap siobak ini, jadi ingat bapakmu yang dulu suka menyuapi ibu,” kenang ibu dengan senyum manis yang menyimpan rindu. [T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Mengenal Singaraja Melalui Kulinernya
Ada Nasi Kuning Vegan di Singaraja — Carilah di Warung Laksmi, di Jalan Laksamana
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Nasi Kuning: Warisan Intangible | Pintu Akselerasi Perempuan Mewujudkan Mimpi Pemberdayaan
Mahasiswa di Singaraja: Nasi Kuning “Pahlawan Kepagian”, juga “Pahlawan Kemalaman”
Tags: bulelengkulinerkuliner babiSeriritsiobak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Puisi Visual’ I Nyoman Diwarupa

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co