4 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
in Esai
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

Salah satu pantai di kawasan Nusa Dua

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan Desa Adat Kampial. Setelah Kemerdekaan Indonesia ada dua desa adat yang dimekarkan di Kecamatan Kuta Selatan, yaitu Desa Adat Kampial  dengan pemekaran Desa Adat Bualu dan Desa Adat Tanjung dengan pemekaran Desa Adat Tengkulung yang hanya terdiri atas satu Banjar.

Istimewanya,  Desa Adat Bualu adalah nama salah satu banjar sekaligus. Bualu negen dua nama : Banjar dan Desa Adat.  Di Desa Adat  Bualu terdapat 8 Banjar : Banjar Bualu, Banjar Terora, Banjar Peken, Banjar Bale Kembar, Banjar Pande, Banjar Celuk, Banjar Penyarikan, dan Banjar Mumbul. Dari 8 banjar itu, hanya Banjar Mumbul yang letaknya dimel dan wilayahnya secara geografis paling luas. Sebutan lokal untuk orang-orang Mumbul adalah Nak Dimel atau Nak Beduur karena wilayahnya sebagian terluas di atas perbukitan.

Sementara itu, 7 banjar lainnya berada di daerah dataran dan lebih rendah maka lebih sering disebut Nak Betenan atau Nak Jumah. Wilayah Nak Betenan relatif datar tanpa tanjakan dan berlimpah air. Wilayah Nak Buduur banyak tanjakan lagi pula airnya sulit. Tongos kubune di leke-lekene. Mirip daerah terisolasi  seperti Suku Badui Dalam di Jawa Barat.  Banjar Mumbul letaknya paling jauh dari pusat Desa Bualu. Apalagi sebelum By Pass I Ngusti Ngurah Rai dibuka (1984), Mumbul memang jarang dilirik.  Itu cerita dari Mumbul zaman ilu.

Mumbul kini seperti tertulis dalam kidung Warga Sari : Muncrat Mumbul. Di Banjar Mumbul-lah tokoh arsitek tradisional Adat Bali lahir, Ir. I Nyoman Glebet. Banyak penerusnya melanjutkan keahliannya di bidang arsitek dan sipil. Bahkan Ir. I Nyoman Glebet menjadi bintang penjuru rujukan arsitek tradisional Bali dengan sukat sikut Asta Kosala Kosali.

Pada pertengahan dekade ketiga tahun 2000-an, Mumbul malah jadi sumber inspirasi. Bandesa Adat Bualu dari Banjar Mumbul. Ketua LPM Kelurahan Benoa juga dari Banjar Mumbul. Tokoh Pendidikan yang pernah dipunyai Bali, Drs.  I Ketut Wija, M.M. (alm.) juga dari Banjar Mumbul. Banyak tokoh dari Banjar Mumbul yang cerdas, berbudaya, dan berdaya saing. Sangat menarik mengulik orang-orang Mumbul dari dulu, kini, dan ke depan di tengah perubahan global.

Perlu pula dicatat, Kecamatan Kuta Selatan adalah buah pemekaran dari Kecamatan Kuta, pada awal reformasi yang persiapannya dimulai sejak 1999. Pada awalnya, Kecamatan hasil pemekaran disebut Kecamatan Pembantu Kuta Utara dan Kecamatan Pembantu Kuta Selatan, sedangkan Kecamatan Kuta sebagai kecamatan induk. Kecamatan Kuta resmi mekar menjadi menjadi 3 Kecamatan definitif : Kuta, Kuta Utara, dan Kuta Selatan sejak 2001.

Siswa-siswa SMAN 2 Kuta Selatan di Nusa Gede Nusa Dua usai melepas tukik serangkaian HUT VII Toska [3/9/2026) dan menyambut Perayaan Tumpek Uye (5/9/2026)

Seiring dengan perkembangan pariwisata yang kian masif, Kecamatan Kuta Selatan yang terdiri atas 9 Desa Adat dan 6 Desa/Kelurahan adalah pemasok devisa tertinggi di Kabupaten Badung dari sektor pariwisata dengan Nusa Dua sebagai magnet utama pada awalnya. Seiring waktu berjalan, pengembangan Nusa Dua yang berada di daerah dataran sering disebut beten  ke arah menek alias beduur yang tinggi disebut bukit. Sejak 1990-an daerah beduur berkembang secara masip. Pemblokiran tanah terjadi besar-besaran.

Tidak pernah rakyat tahu, apakah tanah yang diblokir ratusan hektar dan mangkrak puluhan tahun itu membayar pajak soalnya itu pasti milik Nak Gede, yang awalnya milik Nak Cenik yang taat pajak. Memang sesaat pemblokiran,  Orang Kaya Baru (OKB) lahir mendadak dan Orang Miskin Baru (OMB) tidak disadari segera menjemput. Kini mereka menjerit, tanah leluhurnya berpindah kepemilikan. Bahkan ada di antara mereka yang krama wed, indekost di perumahan milik pendatang. Sungguh memperihatinkan.  Frase “pembangunan pariwisata budaya berkelanjutan” terdengar indah di permukaan, tetapi menyisakan sesak di kedalaman.  Substansi yang diidealkan masih perlu diperjuangkan  berdasarkan fakta lapangan.

   Di kawasan BTDC (kini : ITDC) juga dilengkapi dengan Lembaga Pendidikan.  Lembaga Pendidikan yang mula-mula bernama Trainning School menjadiPusat Pendidikan dan Pelatihan Pariwisata Bali (P4B) berdiri 1987 lalu berubah menjadi Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata (BPLP)  Bali (1982). Itu juga berubah menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali (STPNB), kemudian sejak 2019 menjadi Poltekpar Bali. Lembaga Pendidikan itu pada awalnya berada beten di Kawasan ITDCdipindah ke beduur di Kawasan Bukit Desa Adat Kampial.

Tranning School pada 1978 menerima tamatan SD untuk dilatih sebagai tenaga di bidang pariwisata. Banyak juga yang sukses. Dari strategi pengembangan, Poltekpar dipindah ke beduur sungguh tepat paling tidak dari sejumlah alasan. Pertama, ketersesakan ruang di Kawasan ITDC Nusa Dua yang tingkat kepadatan penduduknya terlalu rapat. Kedua, lokasi Poltekpar beduur ke Kawasan Nusa Dua tidak terlalu jauh sebagai Laboratorium Pariwisata Bali yang dikagumi dunia. Sebagai Laboratorium Pariwisata, Poltekpar Bali adalah tempat memasak dan mematangkan SDM Pariwisata Bali untuk dunia.  Ketiga, hubungan resiprokal antara Pendidikan dan Pariwisata bersifat mutualistik, saling mengadakan dan saling mendukung. Oleh karena pariwisata identik dengan dunia perjalanan dan glamour, dunia Pendidikan diniatkan  hadir mengedukasi  agar menjadi humanis.

Sejumlah hotel di Kawasan ITDC Nusa Dua Bali adalah hotel berbintang 5 bertaraf Internasional. Tak pelak lagi, hotel-hotel di sini menjadi tempat pertemuan berskala Internasional yang dihadiri pemimpin seluruh dunia. Dalam lima tahun terakhir, misalnya Nusa Dua menjadi episentrum pelenggaraan  Konferensi G-20 dan World Water Forum (WWF). Mengapa Nusa Dua menjadi magnet, bukan tempat lain? Pertama, Nusa Dua  menyajikan lanskap keindahan dengan fasilitas hotel berarsitektur Bali dengan jumlah  yang memadai.

Sesuai dengan namanya, Nusa Dua memiliki dua nusa : Nusa Dharma/Nusa Dajanan/Nusa Cenik dan Nusa Peninsula/Nusa Delodan/Nusa Gede. Labeling Nusa Dharma persembahan dari pengelola ITDC. Disebut Nusa Dajanan karena berada di sebelah Utara Nusa Gede. Disebut Nusa Cenik karena lebih kecil daripada Nusa Gede. Sementara itu, Nusa Peninsula adalah nama persembahan dari pihak ITDC. Disebut Nusa Delodan karena berada di sebelah Selatan Nusa Cenik. Disebut Nusa Gede karena lebih besar daripada Nusa Cenik.

Di antara kedua nusa itu biasa disebut Selagan Nusa. Ada puisi dan lagunya pula. Jadi, Nusa Dua memang inspiratif sejak dahulu kala. Puisi “hikayat nusa dua” ditulis oleh Kambali Zutas (2022) menggambarkan Nusa Dua yang indah bersejarah. Melegenda.  Puisi ini terdiri atas lima bait. Bait ketiga tertulis “… hikayat selagan nusa dua/menghitung jejak-jejak mereka/bercengkrama, canda tawa,gembira ria/berbaring berselimut panorama/air bercampur buih tertawa mengeja/di bentangan bibir pesisir mengukir nostalgia”.

Bait kelima sebagai berikut. “datang seorang pemangku/bertutur mengingatkan hikayat selagan nusa dua/cerita haru kayu kelor Kebo Iwa/dilanjutkan kisah  Babah Ketut Jaya/pertapaan larut menanti air laut surut/mengukir prasasti Nusa Dharma”

Sementara itu, lagu Melali ke Nusa Dua sebagai tembang rare menggambarkan suasana yang damai layak dikunjungi sebagai tempat melali. Aura positif Nusa Dua adalah resultante dari kumpulan doa yang selalu digemakan setiap saat secara kontinu dan konsisten  karena di situ ada tempat suci seperti Pura Lamun, Pura Taman Sari, dan Pura Bias Tugel.  Itulah alasan kedua.

Alasan ketiga, napak tilas Pujangga Jawa Dang Hyang Nirartha yang melahirkan kakawin  berlatar pantai Nusa Dua adalah Kakawin Anyang Nirartha. Sang Pujangga melukiskan secara apik dan estetik alam pantai dan laut yang menjadi refleksi spiritual  mendalam sebagai langkah penyatuan batin Sang Kawi Wiku dengan Semesta Alam. 

Wangi bunga pudak  pandan di atas batu Nusa Dua adalah representasi pertapa yang penyair, tak ubahnya meminang bidadari kata-kata merasuk ke suksma Sang Penyair. Semua itu tampaknya ikut memberi andil untuk Nusa Dua makin tenar berbinar ke seantero dunia. Napak Tilas Sang Pujangga memberikan getaran yang mampu menembus ruang tanpa batas. Itulah hebat Pujangga Pengawi melaksanakan yoga sastra dengan mendirikan Pondok Sastra. Abadi sepanjang masa sebagai prasasti. “Tulisan mengendap, ucapan menguap,” kata Prof. Darma Putra.

Salah satu pantai di kawasan Nusa Dua

Begitulah Nusa Dua dikapling untuk menjadi kawasan elit berduit. Krama wed ada yang mendapat ampas akibat ketidakberdayaan. Krama wed menjadi elit yang lain dalam arti  ekonomi sulit. Indekost di rumah pendatang. Pendatang menjadi majikan, krama wed menjadi kulinya. Semua tergantung pada Pendidikan. Kemajuan mendadak tanpa Pendidikan memadai berpotensi menjadi anak salah asuhan.

Gemerlap pariwisata Nusa Dua yang mendunia telah banyak menghibupi keluarga Bali khususnya dan Indonesia umumnya. Kesenjangan yang terjadi seyogyanya dipersempit jaraknya. Kalau bisa tanpa jarak. Aliran dana dari bisnis pariwisata seyogyanya menyelamatkan Nak Cenik yang tidak berdaya. Nusa Dua di bawah ITDC seharusnya bisa untuk itu. Jangan ada ayam mati kelaparan di lumbung padi yang penuh. Begitulah seharusnya manfaat optimal dari Kawasan elit Nusa Dua Bali.

Nusa Dua memang tidak ada satunya di dunia. Nusa Dua mendunia karena dua nusanya. Nusa Dua pun menenggelamkan nama Desa Adat Bualu yang nota bena penjaga tradisi dan budaya Bali. Itu juga tanda dominannya branding pariwisata yang memperkuat posisi Nusa Dua. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: desa adat bualuDesa Adat KampialNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot
Ulas Pentas

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

by Asmaran Dani
September 4, 2026
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin
Ulas Buku

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

by Chusmeru
September 3, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co