12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Langgam Perlawanan | Cerpen Made Bryan Mahararta

Made Bryan Mahararta by Made Bryan Mahararta
January 30, 2026
in Cerpen
Langgam Perlawanan | Cerpen Made Bryan Mahararta

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DARI kota Malang, Aga melanjutkan perjalanannya ke Semarang. Sebuah kota pergerakan yang tak kalah ramainya dengan kisah perjuangan menuju bangsa yang merdeka. Laju kereta berjalan perlahan menuju wilayah tengah. Pesisir utara pulau Jawa tepatnya. Rusli setia mengantar ke stasiun. Syukurnya, cuaca pagi itu cerah menyilaukan.

Kota Semarang adalah panggung riuh di awal abad ke-20. Dimana peluit kereta dan debur ombak pelabuhan berpadu dengan bisik-bisik perlawanan. Hampir di tiap sudut jalan perkampungan. Jalan-jalan berdebu bukan sekadar penghubung antarkampung, melainkan lorong tempat ide-ide tentang keadilan dan kemerdekaan beredar dari mulut ke mulut, dari pamflet ke pamflet. Lebih tepatnya lagi, dari obrolan warung ke warung.

Pada masa itu, Semarang hidup sebagai kota buruh dan pelabuhan. Rel-rel kereta milik Staatsspoorwegen membelah kota, membawa gula, kopi, dan hasil bumi ke kapal-kapal besar. Namun juga mengangkut kemarahan para pekerja pribumi yang upahnya tak sebanding dengan keringat mereka. Di tepian bengkel-bengkel kereta api, para buruh mulai belajar membaca dunia dengan cara baru.

Di tengah denyut itulah nama Semaoen kerap disebut. Seorang pemuda cerdas dan berani, ia berdiri di antara kaum buruh sebagai penggerak dan penghubung “keadilan”. Dengan suara yang lantang dan penuh energi, Semaoen berbicara tentang kelas pekerja yang harus bersatu melawan ketidakadilan kolonialisme.

Sementara itu, di Kauman dan kampung-kampung sekitarnya, Serikat Islam tumbuh sebagai kekuatan rakyat yang berakar pada etika, solidaritas, dan perdagangan pribumi. Para pedagang kecil, santri, dan buruh menemukan rumah dalam organisasi itu. Rapat-rapat Serikat Islam di Semarang dipenuhi semangat persaudaraan; ayat-ayat agama dan seruan keadilan sosial berdampingan dalam satu tarikan napas.

Masa pergerakan kemerdekaan, perjumpaan tak selalu tenang. Gagasan kiri yang dibawa Semaoen dan kawan-kawan beririsan, lalu berseberangan dengan arus besar Serikat Islam. Semarang menjadi laboratorium sejarah, tempat persatuan nasional diuji oleh perbedaan arah perjuangan.

Kereta Matarmaja mengantarkan pikiran-pikiran liar itu sampai sebuah tujuan stasiun Tawang, Semarang. Sesampainya disana, kenangan peradaban kota masa kolonial menyambut para pengunjung dengan ikonik bangunan tua: Kota Lama. Di sana sudah ada Hendy yang menunggu kedatangan Aga.

“Bli Aga!” teriak Hendy dari kejauhan. Lalu, Hendy bergegas menghampiri Aga yang tampak seperti akan mengetik sebuah chat whatsapp melalui ponselnya.

“Wah, makasih ya Hen. Sory sudah merepotkan,” sahut Aga.

Hendy Winoto adalah junior Aga yang berkuliah di Bali dan memang berasal dari Semarang. Liburan semester membuatnya untuk pulang sejenak setelah sekian lama tidak sempat ke kampung halaman.

“Selamat datang di Semarang ya,Bli, semoga berkesan. Kita langsung singgah di kafe sepupu dulu yah,” kata Hendy sambil menuntun Aga menaiki skuternya.

Dengan menunggangi vespa matic merah miliknya, Hendy mengajak Aga sembari menyusuri kota Semarang yang cukup lengang siang itu. Mulai dari Kota Lama, Simpang Lima, Lawang Sewu, sampai Pecinan. Semarang masih tergolong cukup ramah dibandingkan kota besar lainnya.

Begitulah Semarang pada masa pergerakan, semua bertumbuh dan saling melengkapi. Bertemunya keberanian kaum buruh dan Serikat Islam menanamkan kekuatan umat serta toleransi antaretnik saling beriringan. Di antara perbedaan dan pertentangan, kota ini membuktikan satu hal bahwa sejarah kebangsaan Indonesia lahir dari denyut kota-kota seperti Semarang.

Semarang tak lain adalah buah rumah yang berani menjadi ruang bertemunya gagasan, konflik, dan harapan akan kemerdekaan sejati. Sebuah bangsa yang besar dan beragam, namun penuh dengan semangat toleransi.

***

“Ini orde paling baru! Kandang banteng mau jadi kandang gajah!,” kelakar Aga mengawali perbincangan setibanya di kafe. Siang itu, Hendy mengajaknya ke sebuah kafe milik sepupunya di sekitar Jalan Pemuda. Kafenya tampak sederhana namun bernuansa bangunan Eropa klasik.

Tampak teman-teman Hendy yang lain sudah lebih dulu berada di kafe itu. Selang beberapa menit, segelas butterscotch, caramel machiato dan cookies milik Aga dan Hendy siap dihidangkan. Diskusipun dilanjutkan kembali.

Demokrasi Indonesia pasca-reformasi telah mengalami transformasi signifikan, namun bukan tanpa paradoks. Di satu sisi, prosedur demokratis seperti pemilu dan kebebasan berpendapat tetap berlangsung. Di sisi lain, kekuatan oligarki justru semakin mengakar dalam struktur politik dan ekonomi.

Seperti halnya kondisi bangsa saat ini. Kecenderungan oligarkis dalam ruang praktik demokrasi dilakukan melalui pendekatan struktural dan kultural. Tak jarang, netizen menyoroti respons kritis yang berasal dari kalangan aktivis muda maupun influencer terhadap krisis representasi dan akuntabilitas politik yang diwariskan oleh sisa-sisa rezim Orde Baru.

Sebagai salah satu pencapaian besar pasca-Orde Baru, reformasi di Indonesia juga menjadi salah satu studi kasus yang sering dicontohkan oleh negara lain. Namun, dalam praktiknya, demokrasi di Indonesia mulai menunjukkan gejala oligarkis yang mengkhawatirkan.

Oligarki saat ini merujuk pada dominasi segelintir elite politik dan ekonomi dalam proses pengambilan keputusan publik. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai kondisi demokrasi Indonesia apakah benar-benar mewakili rakyat, atau hanya menjadi instrumen kekuasaan bagi elite terpilih?

“Dalam sebuah demokrasi, oligarki bukanlah anomali. Melainkan potensi laten yang muncul ketika institusi demokratis gagal menjalankan fungsi kontrol termasuk distribusi kekuasaan secara merata,” ungkap Aga.

Indonesia disebut sebagai “oligarchic democracy” oleh Jeffrey Winters, di mana kekuasaan ekonomi sangat menentukan arah politik. Dalam konteks ini, partai politik, parlemen, dan bahkan lembaga penegak hukum kerap menjadi alat reproduksi kekuasaan oligarki.

“Setuju. Terdapat beberapa indikator oligarki yang terjadi dalam politik Indonesia seperti Partai politik, Patronase, dan Privatisasi ruang publik. Ketiga hal ini yang selalu melekat seperti benalu,” sahut Tito menimpali Aga.

Menurutnya, sebagai mahasiswa Hubungan Internasional, menanggapi situasi pemerintahan saat ini tampak terlihat konsentrasi kekuasaan dalam partai politik menunjukkan bagaimana Partai-partai besar di Indonesia cenderung dikuasai oleh figur sentral atau dinasti politik yang mengendalikan pencalonan dan arah kebijakan.

Hal ini tentu saja mengkhawatirkan, baik untuk masa depan demokrasi politik maupun pertumbuhan ekonomi nasional atas peningkatan investasi di dalam negeri. Meskipun corak politik kita bebas-aktif, namun tanpa adanya dorongan terhadap hal-hal yang prinsipil tentu ini hanya akan menjadi bom waktu.

Hanya tinggal menunggu waktu sampai suatu saat akan benar-benar meledak dan mengakibatkan krisis kepercayaan terhadap pemangku kepentingan. Stabilitas politik nasional terancam, gangguan disintegrasi bangsa mulai muncul kepermukaan oleh karena adanya gap kesenjangan antar warga satu dengan warga lainnya.

Sedangkan, dalam proses elektoral sering kali kesuksesan seorang politisi ditentukan oleh kekuatan finansial, bukan kualitas gagasan atau rekam jejak selain dari garis dinasti politik. Sehingga, seringkali yang dirasakan adanya sebuah kooptasi terhadap lembaga legislatif.

“DPR yang seharusnya menjadi representasi rakyat justru sering terlibat dalam kompromi politik yang hanya menguntungkan elite,” kata Hendy geram menyimak penjelasan Aga dan Tito.

Tito mengamini. Sependek yang pernah ia telusuri, ruang digita juga rentan dibelokkan oleh pemerintah. “Termasuk juga bagaimana media dan ruang diskusi publik saat ini semakin mudah dikendalikan oleh kepentingan korporatis, membatasi suara-suara alternatif. Generasi muda, khususnya aktivis mahasiswa dan komunitas sipil harus kompak bersatu,” ujarnya.

Hal ini untuk menunjukkan semangat perlawanan dan resistensi terhadap kecenderungan oligarkis yang semakin menunjukkan adanya jurang antara si kaya dan si miskin. Aksi-aksi seperti #ReformasiDikorupsi dan penolakan terhadap revisi UU KPK mencerminkan kegelisahan terhadap demokrasi yang semakin kehilangan substansi.

Beragam tuntutan telah menjadi topik pembicaraan secara dialektis. Seperti transparansi dan akuntabilitas dalam proses legislasi, reformasi partai politik agar lebih inklusif dan meritokratis serta perlindungan terhadap kebebasan sipil dan hak atas informasi selalu menggema di berbagai ruang publik terutama media sosial.

Hal ini menandakan bagaimana kecenderungan oligarki politik bukan sekadar akibat dari elite yang dominan, tetapi juga refleksi dari lemahnya institusi dan partisipasi publik yang belum optimal. Aktivis muda memainkan peran penting sebagai katalis perubahan, namun membutuhkan dukungan struktural dan kultural agar demokrasi tidak hanya menjadi ritual lima tahunan, melainkan ruang hidup yang adil dan bermakna.

***

Konon, Jawa Tengah merupakan barometer politik kaum nasionalis. Tapi, Tito meragukan hal itu. “Zaman berubah. Lanskap politik saat ini sangat meresahkan. Algoritma bisa jadi penentu,” celetuknya.

“Ya, sangat setuju,” sahut yang lain menganggukan kepala seolah menyadari betapa situasi politik saat ini begitu bising di media sosial.

Pembicaraan mulai mengarah pada sosok Ratu Adil, bahkan tak sedikit sosok Diponegoro diucapkan beberapa kali. Pangeran Diponegoro sebagai tokoh kharismatik tanah Jawa sangatlah menginspirasi bagi pejuang kemerdekaan untuk mengusir penjajah. Salah satunya, Sang Proklamator, Bung Karno.

Spirit perjuangan Diponegoro untuk mempertahankan kedaulatan dan martabat rakyat Jawa sungguh luar biasa. Pangeran Diponegoro adalah tokoh penting dalam sejarah Indonesia yang memimpin Perang Jawa (1825–1830) melawan kolonialisme Belanda. Perang ini bukan sekadar konflik bersenjata, tetapi juga simbol perlawanan terhadap penindasan, ketidakadilan, dan penghinaan terhadap budaya serta agama masyarakat Jawa.

Ketidakpuasan terhadap kebijakan kolonial Belanda seperti pajak yang tinggi, kerja paksa, dan perampasan tanah rakyat menimbulkan penderitaan luas. Belanda juga  dianggap merusak nilai-nilai tradisi Jawa dan mengganggu kehidupan religius masyarakat. Diponegoro, yang dikenal religius, merasa terpanggil untuk melindungi rakyat dan keyakinannya.

Untuk itu, Pangeran Diponegoro sangat menolak dan menentang gaya hidup istana yang terlalu dekat dengan Belanda. Ia memilih hidup sederhana di luar keraton sambil membangun basis perjuangan.

“Lantas, apakah masih ada sosok ksatria seperti Pangeran Diponegoro yang menjadi role model negarawan kita? Atau bangsa ini memang sedang krisis negarawan?”, tanya Hendi.

Kali ini kedua mata Aga tampak berkunang. Tatapannya menandakan ia meragukan akan sosok negarawan yang benar-benar merepresentasikan kondisi bangsa saat ini. “Entahlah,” jawabnya singkat. Bahkan untuk sosok pemimpin yang dianggap mengidolakan Diponegoro.

Tak terasa hari kian gelap, namun masing-masing seakan enggan untuk beranjak. Meskipun begitu, Semarang hanyalah tempat persinggahan sementara bagi Aga. Dua hari setelah ini ia harus kembali melanjutkan perjalanan ke Jakarta sebelum ia benar-benar pulang untuk segera menyelesaikan studinya. [T]

Penulis: Made Bryan Mahararta
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Yoga Wismantara | Selamat jalan, senja akan turun

Next Post

Tiga UPTD pada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Gali Masukan Lewat Forum Konsultasi Publik

Made Bryan Mahararta

Made Bryan Mahararta

Made Bryan Mahararta atau akrab disapa Ibenk adalah seorang pegiat literasi dan advokasi kebangsaan yang berasal dari Buleleng. Aktif menjadi podcaster dan salah satu pendiri Sociocorner, sebuah komunitas media alternatif yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu kebangsaan dan keberagaman. Lahir di Surabaya, 22 Februari 1991 memiliki hobi menonton film dan pementasan budaya. Saat ini, penulis menetap di Jakarta dan aktif menjadi pembicara maupun kolumnis media online yang memiliki konsentrasi terhadap demokrasi, partisipasi anak muda, dan moderasi beragama. Buku yang pernah diterbitkan antara lain: Ruang Baru Masyarakat Digital (2020) dan Candradimuka Gerakan Intelektual (2022).

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Tiga UPTD pada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Gali Masukan Lewat Forum Konsultasi Publik

Tiga UPTD pada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Gali Masukan Lewat Forum Konsultasi Publik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co