2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
in Opini
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme kekuasaan, maraknya praktik korupsi, serta berbagai bentuk penyimpangan dalam penyelenggaraan pemerintahan menunjukkan melemahnya fondasi etika dalam kehidupan politik. Fenomena ini kerap tercermin dalam praktik politik bermuka dua, yakni adanya jarak menjauh antara retorika moral yang dikemukakan di ruang publik dan tindakan nyata dalam pengelolaan kekuasaan. Akibatnya, nilai-nilai luhur kebangsaan termasuk Pancasila dan etika budaya politik Indonesia—semakin terpinggirkan dalam praktik politik sehari-hari.

Dalam kerangka etika demokrasi, politik sejatinya merupakan ruang pengabdian untuk memperjuangkan kepentingan umum dan mewujudkan keadilan sosial. Namun, realitas politik kontemporer menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Politik direduksi menjadi instrumen pencapaian dan pelestarian kekuasaan yang bersifat pragmatis, sementara prinsip integritas, transparansi, dan tanggung jawab kepemimpinan kerap dikorbankan. Ketika nilai-nilai tersebut tidak lagi menjadi rujukan utama, institusi politik kehilangan daya representatifnya dan semakin menjauh dari aspirasi rakyat.

Kondisi ini diperkuat oleh menguatnya relasi transaksional dalam demokrasi elektoral. Burhanuddin Muhtadi menilai bahwa pragmatisme politik dan praktik klientelisme menciptakan insentif struktural yang mendorong elite mengabaikan etika demi kepentingan elektabilitas jangka pendek (Burhanuddin Muhtadi, Politik Uang dan Dinamika Elektoral di Indonesia, Gramedia, 2019). Pandangan tersebut sejalan dengan kritik Tjipta Lesmana, yang menegaskan bahwa demokrasi tanpa etika dan konstitusionalisme berisiko berubah menjadi mekanisme legitimasi penyalahgunaan kekuasaan, bukan sarana pengabdian kepada kepentingan publik (Tjipta Lesmana, Dari Otoritarianisme ke Demokrasi, Gramedia, 2008).

Dari sisi kelembagaan,  Maswadi Rauf menekankan bahwa kemerosotan moral elite politik tidak dapat dilepaskan dari kegagalan partai politik menjalankan fungsi kaderisasi dan pendidikan politik. Partai yang oligarkis dan pragmatis cenderung melahirkan elite yang miskin etika publik serta memandang jabatan politik sebagai sumber privilese, bukan sebagai amanah demokratis (Maswadi Rauf, Konsolidasi Demokrasi dan Peran Partai Politik, LP3ES, 2016).

Dalam konteks yang lebih luas, Evi Fitriani mengingatkan bahwa krisis moral elite politik tidak hanya berdampak pada tata kelola domestik, tetapi juga pada kredibilitas negara di tingkat internasional. Demokrasi yang lemah secara moral mencerminkan ketidakpastian komitmen negara dalam menjalankan kebijakan luar negeri dan kerja sama global (Evi Fitriani, “Demokrasi dan Kredibilitas Politik Luar Negeri Indonesia,” Jurnal Hubungan Internasional UI, 2018). Sementara itu,  I Gede Wahyu Wicaksana melihat degradasi moral elite sebagai krisis etika kepemimpinan di tengah dinamika politik global yang menuntut tidak hanya kecakapan teknokratis, tetapi juga kompas moral yang kuat agar kebijakan publik tetap berpihak pada keadilan sosial dan kepentingan jangka panjang bangsa (I Gede Wahyu Wicaksana, Etika Kepemimpinan dan Politik Global, Pustaka Pelajar, 2020).

Degradasi Moral Elite Politik dan Krisis Etika Demokrasi

 Ahmad Syafi’i Ma’arif dalam kata pengantar buku Zainuddin Malik mengatakan , menempatkan karya tersebut sebagai refleksi kritis atas perjalanan demokrasi Indonesia pasca-Reformasi. Demokrasi yang lahir dengan harapan besar untuk menghadirkan keadilan, keterbukaan, dan kesejahteraan rakyat, dalam praktiknya kerap terjebak pada prosedur formal belaka, sementara dimensi etik dan moral justru terabaikan (Ahmad Syafi’i Ma’arif, Kata Pengantar dalam Zainuddin Maliki, Politikus Busuk, Galang Press, 2004). Syafi’i Ma’arif menegaskan bahwa persoalan mendasar politik Indonesia bukan sekadar kegagalan sistem, melainkan krisis moral elite politik. Elite yang seharusnya menjadi teladan justru menunjukkan gejala insensibilitas moral, yakni ketumpulan nurani terhadap penderitaan rakyat dan pengabaian terhadap tanggung jawab kebangsaan . Politik kemudian dipraktikkan sebagai arena perebutan kekuasaan dan akumulasi kepentingan pribadi atau kelompok, bukan sebagai sarana pengabdian kepada kepentingan publik.

Pandangan ini sejalan dengan Max Weber, yang menekankan bahwa politik menuntut ethics of responsibility. Weber mengingatkan bahwa kekuasaan yang dijalankan tanpa kesadaran moral atas dampak sosialnya akan melahirkan dominasi yang merusak dan kehilangan legitimasi etis (Max Weber, Politics as a Vocation, Oxford University Press, 1946). Lebih lanjut, Hannah Arendt menjelaskan bahwa degradasi moral elite sering muncul ketika aktor politik berhenti menggunakan pertimbangan etis dalam pengambilan keputusan. Melalui konsep banality of evil, Arendt menunjukkan bahwa kejahatan politik dapat tumbuh dari kepatuhan pada prosedur dan hukum formal tanpa refleksi moral yang memadai (Hannah Arendt, Eichmann in Jerusalem, Viking Press, 1963).

Sementara itu, Jürgen Habermas menilai bahwa demokrasi yang kehilangan dimensi etika komunikatif akan mengalami krisis legitimasi. Ketika elite politik tidak lagi mendasarkan kebijakan pada rasionalitas moral dan kepentingan publik, ruang publik berubah menjadi arena manipulasi dan dominasi kepentingan sempit (Jürgen Habermas, Between Facts and Norms, MIT Press, 1996). Di sisi lain, pemerintah kerap memosisikan momentum politik sebagai kesempatan untuk menata ulang arah pembangunan demi tujuan yang lebih baik. Namun, dalam konteks Indonesia, resolusi politik sering kali berhenti sebagai retorika simbolik, bukan sebagai komitmen substantif terhadap perubahan struktural. Terdapat jurang yang menganga antara narasi negara dan pengalaman warga: negara mengumumkan keberhasilan melalui deretan angka statistik dan indikator makro, sementara rakyat merasakan kegagalan melalui kenaikan harga pangan, iklim berusaha yang semakin berbelit, menyempitnya lapangan kerja, bencana yang datang berulang, serta menurunnya kualitas hidup.

Kondisi ini sejalan dengan kritik James C. Scott dalam Seeing Like a State (1998), yang menyatakan bahwa negara modern cenderung “melihat” masyarakat melalui skema penyederhanaan administratif—indikator statistik, target numerik, dan laporan teknokratis—alih-alih melalui kompleksitas pengalaman hidup rakyat (James C. Scott, Seeing Like a State, Yale University Press, 1998). Ketika klaim keberhasilan terus direproduksi meskipun realitas sosial menunjukkan kegagalan, negara memasuki wilayah paham institusional, yakni delusi yang terkonstruksi dan dilembagakan dalam praktik pemerintahan.

Menjelang tahun 2026, bayang-bayang delusi tersebut semakin terbuka. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mewarisi problem struktural yang terakumulasi setidaknya selama satu dekade sebelumnya. Namun, alih-alih melakukan koreksi mendasar, pemerintahan justru tampak masih terjebak dalam euforia kemenangan politik. Program-program prioritas dikejar lebih sebagai simbol ketimbang strategi pembangunan berbasis daya ungkit ekonomi dan ketahanan sosial. Perlambatan ekonomi tahun 2025 menjadi penanda awal bahwa negara berjalan dengan logika yang keliru—mengutamakan efek visual, pencitraan kebijakan, dan loyalitas politik alih-alih fondasi kesejahteraan jangka panjang. Dalam kerangka Scott, situasi ini mencerminkan kegagalan epistemik negara, bukan semata kesalahan kebijakan teknis.

Pada akhirnya, degradasi moral elite politik tidak hanya tercermin dalam praktik korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan, tetapi juga dalam cara negara memahami dan merespons realitas sosial yang hendak diatur. Ketika demokrasi direduksi menjadi prosedur, keberhasilan diukur semata melalui statistik, dan kebijakan diperlakukan sebagai simbol politik, maka etika kehilangan tempatnya dalam pengambilan keputusan publik.

Menurut penulis, pembenahan demokrasi Indonesia menuntut koreksi moral dan koreksi epistemik secara simultan. Koreksi moral diperlukan untuk memulihkan etika kekuasaan, keteladanan elite, dan orientasi pada kepentingan publik. Sementara itu, koreksi epistemik dibutuhkan agar negara kembali berpijak pada pengalaman hidup warga, bukan sekadar pada klaim keberhasilan teknokratis. Tanpa kedua koreksi tersebut, demokrasi akan terus hidup secara prosedural, namun kehilangan makna substantifnya sebagai sarana mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan bersama. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

Next Post

Sanggar Wahyu Semara Shanti Konsisten dan Mandiri: Gunakan Gong ‘Mapacek’, Tanpa ‘Bon-bonan’ untuk Kukuhkan Identitas Seni Bali Utara

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Sanggar Wahyu Semara Shanti Konsisten dan Mandiri: Gunakan Gong ‘Mapacek’, Tanpa ‘Bon-bonan’ untuk Kukuhkan Identitas Seni Bali Utara

Sanggar Wahyu Semara Shanti Konsisten dan Mandiri: Gunakan Gong 'Mapacek', Tanpa 'Bon-bonan' untuk Kukuhkan Identitas Seni Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co