2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
in Opini
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme kekuasaan, maraknya praktik korupsi, serta berbagai bentuk penyimpangan dalam penyelenggaraan pemerintahan menunjukkan melemahnya fondasi etika dalam kehidupan politik. Fenomena ini kerap tercermin dalam praktik politik bermuka dua, yakni adanya jarak menjauh antara retorika moral yang dikemukakan di ruang publik dan tindakan nyata dalam pengelolaan kekuasaan. Akibatnya, nilai-nilai luhur kebangsaan termasuk Pancasila dan etika budaya politik Indonesia—semakin terpinggirkan dalam praktik politik sehari-hari.

Dalam kerangka etika demokrasi, politik sejatinya merupakan ruang pengabdian untuk memperjuangkan kepentingan umum dan mewujudkan keadilan sosial. Namun, realitas politik kontemporer menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Politik direduksi menjadi instrumen pencapaian dan pelestarian kekuasaan yang bersifat pragmatis, sementara prinsip integritas, transparansi, dan tanggung jawab kepemimpinan kerap dikorbankan. Ketika nilai-nilai tersebut tidak lagi menjadi rujukan utama, institusi politik kehilangan daya representatifnya dan semakin menjauh dari aspirasi rakyat.

Kondisi ini diperkuat oleh menguatnya relasi transaksional dalam demokrasi elektoral. Burhanuddin Muhtadi menilai bahwa pragmatisme politik dan praktik klientelisme menciptakan insentif struktural yang mendorong elite mengabaikan etika demi kepentingan elektabilitas jangka pendek (Burhanuddin Muhtadi, Politik Uang dan Dinamika Elektoral di Indonesia, Gramedia, 2019). Pandangan tersebut sejalan dengan kritik Tjipta Lesmana, yang menegaskan bahwa demokrasi tanpa etika dan konstitusionalisme berisiko berubah menjadi mekanisme legitimasi penyalahgunaan kekuasaan, bukan sarana pengabdian kepada kepentingan publik (Tjipta Lesmana, Dari Otoritarianisme ke Demokrasi, Gramedia, 2008).

Dari sisi kelembagaan,  Maswadi Rauf menekankan bahwa kemerosotan moral elite politik tidak dapat dilepaskan dari kegagalan partai politik menjalankan fungsi kaderisasi dan pendidikan politik. Partai yang oligarkis dan pragmatis cenderung melahirkan elite yang miskin etika publik serta memandang jabatan politik sebagai sumber privilese, bukan sebagai amanah demokratis (Maswadi Rauf, Konsolidasi Demokrasi dan Peran Partai Politik, LP3ES, 2016).

Dalam konteks yang lebih luas, Evi Fitriani mengingatkan bahwa krisis moral elite politik tidak hanya berdampak pada tata kelola domestik, tetapi juga pada kredibilitas negara di tingkat internasional. Demokrasi yang lemah secara moral mencerminkan ketidakpastian komitmen negara dalam menjalankan kebijakan luar negeri dan kerja sama global (Evi Fitriani, “Demokrasi dan Kredibilitas Politik Luar Negeri Indonesia,” Jurnal Hubungan Internasional UI, 2018). Sementara itu,  I Gede Wahyu Wicaksana melihat degradasi moral elite sebagai krisis etika kepemimpinan di tengah dinamika politik global yang menuntut tidak hanya kecakapan teknokratis, tetapi juga kompas moral yang kuat agar kebijakan publik tetap berpihak pada keadilan sosial dan kepentingan jangka panjang bangsa (I Gede Wahyu Wicaksana, Etika Kepemimpinan dan Politik Global, Pustaka Pelajar, 2020).

Degradasi Moral Elite Politik dan Krisis Etika Demokrasi

 Ahmad Syafi’i Ma’arif dalam kata pengantar buku Zainuddin Malik mengatakan , menempatkan karya tersebut sebagai refleksi kritis atas perjalanan demokrasi Indonesia pasca-Reformasi. Demokrasi yang lahir dengan harapan besar untuk menghadirkan keadilan, keterbukaan, dan kesejahteraan rakyat, dalam praktiknya kerap terjebak pada prosedur formal belaka, sementara dimensi etik dan moral justru terabaikan (Ahmad Syafi’i Ma’arif, Kata Pengantar dalam Zainuddin Maliki, Politikus Busuk, Galang Press, 2004). Syafi’i Ma’arif menegaskan bahwa persoalan mendasar politik Indonesia bukan sekadar kegagalan sistem, melainkan krisis moral elite politik. Elite yang seharusnya menjadi teladan justru menunjukkan gejala insensibilitas moral, yakni ketumpulan nurani terhadap penderitaan rakyat dan pengabaian terhadap tanggung jawab kebangsaan . Politik kemudian dipraktikkan sebagai arena perebutan kekuasaan dan akumulasi kepentingan pribadi atau kelompok, bukan sebagai sarana pengabdian kepada kepentingan publik.

Pandangan ini sejalan dengan Max Weber, yang menekankan bahwa politik menuntut ethics of responsibility. Weber mengingatkan bahwa kekuasaan yang dijalankan tanpa kesadaran moral atas dampak sosialnya akan melahirkan dominasi yang merusak dan kehilangan legitimasi etis (Max Weber, Politics as a Vocation, Oxford University Press, 1946). Lebih lanjut, Hannah Arendt menjelaskan bahwa degradasi moral elite sering muncul ketika aktor politik berhenti menggunakan pertimbangan etis dalam pengambilan keputusan. Melalui konsep banality of evil, Arendt menunjukkan bahwa kejahatan politik dapat tumbuh dari kepatuhan pada prosedur dan hukum formal tanpa refleksi moral yang memadai (Hannah Arendt, Eichmann in Jerusalem, Viking Press, 1963).

Sementara itu, Jürgen Habermas menilai bahwa demokrasi yang kehilangan dimensi etika komunikatif akan mengalami krisis legitimasi. Ketika elite politik tidak lagi mendasarkan kebijakan pada rasionalitas moral dan kepentingan publik, ruang publik berubah menjadi arena manipulasi dan dominasi kepentingan sempit (Jürgen Habermas, Between Facts and Norms, MIT Press, 1996). Di sisi lain, pemerintah kerap memosisikan momentum politik sebagai kesempatan untuk menata ulang arah pembangunan demi tujuan yang lebih baik. Namun, dalam konteks Indonesia, resolusi politik sering kali berhenti sebagai retorika simbolik, bukan sebagai komitmen substantif terhadap perubahan struktural. Terdapat jurang yang menganga antara narasi negara dan pengalaman warga: negara mengumumkan keberhasilan melalui deretan angka statistik dan indikator makro, sementara rakyat merasakan kegagalan melalui kenaikan harga pangan, iklim berusaha yang semakin berbelit, menyempitnya lapangan kerja, bencana yang datang berulang, serta menurunnya kualitas hidup.

Kondisi ini sejalan dengan kritik James C. Scott dalam Seeing Like a State (1998), yang menyatakan bahwa negara modern cenderung “melihat” masyarakat melalui skema penyederhanaan administratif—indikator statistik, target numerik, dan laporan teknokratis—alih-alih melalui kompleksitas pengalaman hidup rakyat (James C. Scott, Seeing Like a State, Yale University Press, 1998). Ketika klaim keberhasilan terus direproduksi meskipun realitas sosial menunjukkan kegagalan, negara memasuki wilayah paham institusional, yakni delusi yang terkonstruksi dan dilembagakan dalam praktik pemerintahan.

Menjelang tahun 2026, bayang-bayang delusi tersebut semakin terbuka. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mewarisi problem struktural yang terakumulasi setidaknya selama satu dekade sebelumnya. Namun, alih-alih melakukan koreksi mendasar, pemerintahan justru tampak masih terjebak dalam euforia kemenangan politik. Program-program prioritas dikejar lebih sebagai simbol ketimbang strategi pembangunan berbasis daya ungkit ekonomi dan ketahanan sosial. Perlambatan ekonomi tahun 2025 menjadi penanda awal bahwa negara berjalan dengan logika yang keliru—mengutamakan efek visual, pencitraan kebijakan, dan loyalitas politik alih-alih fondasi kesejahteraan jangka panjang. Dalam kerangka Scott, situasi ini mencerminkan kegagalan epistemik negara, bukan semata kesalahan kebijakan teknis.

Pada akhirnya, degradasi moral elite politik tidak hanya tercermin dalam praktik korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan, tetapi juga dalam cara negara memahami dan merespons realitas sosial yang hendak diatur. Ketika demokrasi direduksi menjadi prosedur, keberhasilan diukur semata melalui statistik, dan kebijakan diperlakukan sebagai simbol politik, maka etika kehilangan tempatnya dalam pengambilan keputusan publik.

Menurut penulis, pembenahan demokrasi Indonesia menuntut koreksi moral dan koreksi epistemik secara simultan. Koreksi moral diperlukan untuk memulihkan etika kekuasaan, keteladanan elite, dan orientasi pada kepentingan publik. Sementara itu, koreksi epistemik dibutuhkan agar negara kembali berpijak pada pengalaman hidup warga, bukan sekadar pada klaim keberhasilan teknokratis. Tanpa kedua koreksi tersebut, demokrasi akan terus hidup secara prosedural, namun kehilangan makna substantifnya sebagai sarana mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan bersama. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

Next Post

Sanggar Wahyu Semara Shanti Konsisten dan Mandiri: Gunakan Gong ‘Mapacek’, Tanpa ‘Bon-bonan’ untuk Kukuhkan Identitas Seni Bali Utara

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Sanggar Wahyu Semara Shanti Konsisten dan Mandiri: Gunakan Gong ‘Mapacek’, Tanpa ‘Bon-bonan’ untuk Kukuhkan Identitas Seni Bali Utara

Sanggar Wahyu Semara Shanti Konsisten dan Mandiri: Gunakan Gong 'Mapacek', Tanpa 'Bon-bonan' untuk Kukuhkan Identitas Seni Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co