13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

I Putu Ardiyasa by I Putu Ardiyasa
January 23, 2026
in Ulas Pentas
Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

Uji Komposisi Karya Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH) Institut Mpu Kuturan, 3-4 Januari 2026, di Gedung Sasana Budaya Singaraja

PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di ruang kelas. Tantangan abad ke-21 menuntut kemampuan untuk berkolaborasi dan berinovasi. Pendidikan Seni  di perguruan tinggi tidak hanya membicarakan cara menciptakan seni. Tetapi memahami konteks belajar dan pembelajaran dalam ruang di mana karya dipertemukan dengan panggung dan penontonya.

Dalam konteks inilah Uji Komposisi Karya Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH) Institut Mpu Kuturan, 3-4 Januari 2026, di Gedung Sasana Budaya Singaraja, hadir tidak hanya sebagai perayaan akhir semester, melainkan sebagai sebuah “laboratorium hidup” yang terus bertumbuh dan menumbuhkan daya kreatif, daya kritis dan daya saing mahasiswa.

Karya-karya dalam Uji Komposisi Karya Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH) Institut Mpu Kuturan, 3-4 Januari 2026, di Gedung Sasana Budaya Singaraja

Program ini menjadi ruang validisi kurikulum dalam mencetak lulusan yang kompetitif dalam perkembangan industri budaya yang seakan selalu membenturkan antara tradisi dan modernitas. Selain itu program ini berupaya menerjemahkan teks akademis menjadi peristiwa yang menuntut mahasiswa untuk memahami kemampuan diri  dalam memproduksi karya yang diperlukan saat memasuki di dunia kerja.

Alih Wahana Pengetahuan Budaya Lokal, Agama dan Kebiasaan Menjadi Karya

Kekuatan utama dari produksi ini terletak pada fondasi intelektual nilai keagamaan Hindu sebagai identitas prodi Pendidikan Seni yang bercirikan budaya Hindu di Bali Utara.  Fondasi intelektual itu sangat terasa pada karya-karya yang ditampilkan baik pertunjukan maupun seni rupa. Karya mahasiswa tidak lahir dari ruang hampa namun dari pengalaman mahasiswa yang hidup di dalam masyarakat adat dengan berbagai ritus, tradisi dan kesenian sakral yang ada di desanya.

Karya-karya yang lahir, baik karya tari, tabuh, musik, teater dan seni rupa mencerminkan keberagaman ide yang selalu bertumbuh. Dalam karya tari misalnya, mahasiswa mampu menerjemahkan ritus sakral seperti di Desa Kedis yang memiliki tari Rejang Keraman, atau Banjar Paketan dengan Baris Sakral saat upacara Pitra Yadnya, termasuk tokoh pewayangan Mahabharata, ukiran menjangan relief di Pura dan sesajen gebogan juga menginspirasi karya tari.

Yang tidak kalah menarik juga ungkapan  perasaan pribadi mahasiswa  memperkaya karya mahasiswa, misalnya mahasiswa dari Palembang yang mencoba memvisualkan kebudayaan Bali dan Melayu dalam karyanya.

Seremonial pembukaan dalam Uji Komposisi Karya Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH) Institut Mpu Kuturan, 3-4 Januari 2026, di Gedung Sasana Budaya Singaraja

Tidak jauh beda dari pada karya tari, kehadiran karya-karya tabuh dan musik juga menghadirkan ritus-ritus seperti yang ada di Desa Selat, juga Rejang Sakral di Desa Bubunan, tradisi unik di Gerogak. Ada juga campuhan (pertemuan air dari beberapa sisi menjadi 1 aliran) termasuk pengalaman pribadi mahasiswa yang diungkapkan dalam berbagai instrument seperti gong kebyar, gong  semarpagulingan, joged ataupun instrumental sederhana. Karya-karya teater juga tidak kalah menarik, karena mahasiswa terlihat mengungkapkan pengalaman batinnya atau dalam istilah lain sering disebut keresahan yang dialaminya pada setiap karya.

Dari sebelah kanan (sisi barat) panggung Sasana Budaya digelar pameran karya seni rupa mahasiswa semester 3 yang memajang luaran mata kuliahnya berupa gambar nirmana, lukisan yang dipadukan dengan karya patung  ogoh-ogoh. Dan, yang membuat saya “heran” dari mahasiswa ini adalah karya Patung Menjangan dengan dimensi yang cukup besar.

Tantangan terbesarnya adalah transisi dari teks kuno, tradisi lokal atau pengalaman pribadi ke panggung, atau dalam pandangan Sapardi Djoko Darmono dalam bukunya Alih Wahana (2012) menyebut alih wahana teks, tradisi dan sejenisnya ke dalam pertunjukan sebagai transformasi budaya. Beberapa karya berhasil menyajikan dramaturgi yang kuat, namun ada kalanya narasi terasa terlalu verbal atau simbolik yang sulit dipahami audiens awam.

Di sinilah peran mata kuliah Komposisi Seni diuji: bagaimana menyederhanakan kompleksitas filosofis ajaran agama, ritus adat dan seni sakral menjadi bahasa visual dan audio yang komunikatif tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Selain itu kurasi dan pencahayaan pada area pertunjukan dan pameran seni rupa saya sadari perlu mendapatkan perhatian agar menjadi sajian panggung yang profesional. Beberapa instalasi dengan pencahayaan yang tepat akan mampu mengundang audiens untuk datang, mengingat seni rupa adalah gerbang pertama yang menyapa audiens sebelum pertunjukan dimulai.

Hal lain yang perlu diperhatikan jika Prodi Pendidikan Seni ingin membangun daya saing yang kuat, mahasiswa didorong kemampuan presentasi tidak hanya pada visual karyanya yang harus memenuhi standar profesional, tetapi juga kemampuan verbal yang mampu mempersuasi audiens tentang karyanya.

Menjelajah Kurikulum: Benang Merah Penjahit Pengetahuan

Bagi saya, karya yang dipanggungkan dalam program ini merupakan tarikan  benang merah yang kuat sebagai upaya menjahit pengetahuan pada setiap mata kuliah seperti Itihasa Purana dan  Folklor sebagai basis narasi (ide gagasan) kemudian diwujudkan dalam bentuk karya  Komposisi Seni. Untuk mewujudkan karya dalam bentuk pemanggungan, mahasiswa wajib menerapkan  tata kelola produksi karya dan acara sebagai metode  yang lahir dari proses integrasi  pembelajaran pada mata kuliah Manajemen Seni

Untuk membayangkan pola integrasinya, saya ingin menjelaskan tentang cara kerja kurikulum di prodi PSBKH.

Prodi PSBKH memfasilitasi sebaran mata kuliah pada semester ganjil yang diharapkan dapat menyediakan ruang kolaborasi lintas semester yang mengintegrasikan luaran mata kuliahnya dalam satu program bersama. Misalnya bagi mahasiswa di semester 3 (tiga), mendapakat mata kuliah Seni Rupa dengan luaran mata kuliah Pameran Karya di akhir semester dan Seni Teater yang mengajarkan mahasiswa Tata Kelola produksi Acara, sehingga kedua mata kuliah ini dapat memberikan pengetahuan teori dan praktek serta bekalmenjadi Tim Produksi Acara.

Lain halnya mahasiswa pada Semester 5 (lima) mereka mendapat tugas lebih berat karena harus belajar menciptakan karya seni melalui mata kuliah Komposisi, tetapi juga harus belajar manajemen seni yang berupaya mengajarkana mahasiswa untuk menerjemahkan ide, konsep, gagasannya, menyusun anggaran  dan  kemampuan menyampaikan idenya di depan umum dalam sebuah proposal karya seni.

Karya Instrumental berjudul Trio Kiu oleh Kadek Candra Gunawan

Di sisi yang lain, mahasiswa semester satu sebagai adik palling bungsu maka wajib melihat dan membantu kakak tingkatnya sebagai tim produksi teknis. Pada fase awal ini adalah kesempatan mereka untuk belajar  memproduksi acara termasuk menciptakan karya seperti kakak tingkat semester 5, karena pada saatnya nanti mereka (mahasiswa semester 1) akan sampai pada titik penciptaan karya.

Bagaimana cara mereka kerja? Begitu gumam saya sambil mellihat pamerannya dan menonton karya mahasiswa. Karena tugas mata kuliah lain pasti akan mengganggu proses ini. Biayanya dari mana? Apakah keluarganya mendukung?

Pertanyaan seperti ini selalu berkeliaran dalam pikiran saya.

Apakah itu sebab jargon mereka adalah “prodi cenik keneh gede” (prodi kecil angan-angan besar)? Mungkin saja, sambil saya menghela nafas meyakinkan diri bahwa program ini  “cocok” untuk sebuah prodi yang masih belia.

Kemudian saya mencoba memaknai jargon mahasiswa itu sebagai bentuk gugatan terhadap legitimasi bahwa prodi yang baru berdiri tahun 2022 itu berarti ibarat anak kecil, tapi memiliki cita-cita  yang besar. Seperti Taipan sukses yang bercerita di salah satu podcast di usia 8 (delapan) tahun sudah menghasilkan 100 juta pertamanya.

Tapi jargon itu bukanlah isapan jempol semata, itu mereka buktikan lewat karya-karya mahasiswa pada setiap semesternya, termasuk kontribusinya diluar perkuliahan.  Yang membuat saya terharu adalah kedatangan keluarga dari mahasiswa, orang tua, kakek, nenek, saudara dan kerabatnya duduk di tangga-tangga Gedung sasana budaya untuk menyaksikan karya anak-anaknya. Bahkan Belasan Sekaa hadir mendukung baik sebagai penampil, dan tim produksi karya mahasiswa.

Secara umum, semangat kerja kolektif ini menjadi permulaan yang baik untuk mengelola event berskala besar lainnya. Namun, daya saing di industri budaya sat ini menuntut proses yang lebih detail, terutma pada aspek promosi digital dan audience engagement perlu didorong lebih agresif.

Misalnya, dalam satu kesempatan saya menyapa keluarga yang datang ataupun mengundang penonton untuk dilibatkan dalam diskusi pentas, agar expo ini tidak hanya dinikmati oleh kalangan internal kampus, tetapi juga masyarakat umum dan penikmat seni di Bali Utara.

Kenapa Harus  Penciptaan dan Pameran?

Ujian Komposisi Karya dan pameran sejatinya adalah etalase pembuktian ketercapaian profil lulusan Prodi  PSBKH. Melalui satu event, prodi bisa membedah  wajah masa depan mahasiswa sebagai calon guru seni budaya yang memiliki kecakapan dalam belajar mengajar termasuk memiliki kemampuan pendukung dalam mencipta pertunjukan dan/atau pameran seni budaya.  

Karya Instalasi Ogoh-ogoh oleh Mahasiswa Semester 3 Prodi PSBKH

Karya Padma Tantri oleh Putu Ratih Fani

Ketika sebelum memberikan sambutan sebelum acara inti dimulai, saya membuka poin sambutan dengan sebuah pertanyaan “kenapa guru harus bisa mencipta”?

Saya memulainya pada profil lulusan pertama, yaitu sebagai guru Seni Budaya. Mahasiswa dibekali mata kuliah pendidikan terutama pemahaman Mata Kuliah Inti Keilmuan Prodi, yaitu Pendidikan Tari, Musik, Drama Dari Seni Rupa yang berbasis budaya keagamaan. Untuk mendalaminya lagi, mahasiswa diberikan pembelajaran  tentang manajemen pendidikan, strategi pendidikan termasuk bagaimana mahasiswa mengembangkan kurikulum, perangkat pembelajaran, media pembelajaran hingga praktek mengajar. Mahasiswa juga diajak kesanggar-sanggar untuk magang (belajar mengajar di sanggar) mencatat bagaimana guru mengajar dan murid belajar.

Patung Menjangan karya Mahasiswa Semester 3 PSBKH

Lebih penting dari pada itu saat mahasiswa menyajikan karya yang sarat nilai filosofis Hindu kepada penonton, mereka sedang “mengajar”. Kemampuan mereka menyampaikan pesan moral melalui keindahan seni adalah modal utama seorang guru seni budaya yang inspiratif, bukan guru yang hanya teoritis.

Profil lulusan kedua adalah sebagai Peneliti dan/atau Pencipta Seni. Mahasiswa membuktikan diri mereka mampu melakukan proses pengamatan, peniruan, modifikasi dan komposisi. Kemampuan meriset konten, lalu mentransformasikannya menjadi karya komposisi baru, adalah bukti kompetensi riset artistik yang jujur dan penuh rasa tanggungjawab.

Nah, kenapa mencipta? Bayangkan jika guru seni budaya hanya mengajar teori di kelas, tanpa sekalipun pernah praktek atau bahkan membuat kreasi dalam berbagai event seni.

Sambil menulis catatan ini saya coba memejamkan mata dan membayangkan pola belajar seperti itu. itu ibarat orang tua yang mengajar bayi untuk berjalan tapi hanya permintaan saja, tanpa pernah dibantu dan diajak berjalan. Percayalah anak itu tidak akanbisa berjalan, yang dia bisa hanya mengucapkan kata “berjalan”.

Momen-momen dalam Uji Komposisi Karya Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH) Institut Mpu Kuturan, 3-4 Januari 2026, di Gedung Sasana Budaya Singaraja

Studi sederhana yang saya lakukan dalam 3 tahun terakhir menemukan bahwa, guru tidak hanya dituntut memiliki kemampuan mengajar teori, tetapi juga kemampuan praktek dan kecakapan dalam mencipta atau dasar-dasar kreativitas yang sesuai dengan kebutuhan murid.

Jika guru dan murid sudah memiliki karya, kira-kira mau dibawa ke mana? Atau jika tidak menjadi guru, mau jadi apa, ya? 

Nahh, mungkin jawabannya ada pada profil lulusan ketiga yaitu Pengelola dan Wirausaha dibidang kebudayaan. Dalam kacamata wirausaha maka panggung adalah pasar mereka, dan penonton adalah konsumen. Kemampuan mengorganisir tim, mencari dana, mempromosikan karya, dan memanajemen produksi adalah simulasi nyata dunia industri kreatif wajib dipahami. Daya saing mereka ditentukan oleh seberapa profesional mereka menangani tekanan produksi ini dan menemukan pemecahan masalah. Mereka belajar bahwa seni tidak lagi dipandang hanya sebagai hobi, melainkan juga adalah industri yang harus menghidupi.

Pada sisi ini manajerial, mahasiswa belajar berjejaring dan membangun relasi, jika mengutip pandangan Matew Isaac Cohen dalam buku berjudul Selepas Napas memandang kesenian tidak hanya tentang pentas di panggung, tetapi juga tentang menghubungkan antara karya dengan penontonnya hingga sama-sama memilki tanggung jawab tentang bagaimana seni kedepan.

Karya Cabang Tatuka oleh Komang Satria Pardnya

Pandangan Prof Matew itu bagi saya sangat tepat dibelajarkan untuk mahasiswa khususnya di prodi PSBKH, sehingga program Ujian Komposisi dan pameran karya ini bermakna ganda, selain sebagai pembuktian proses kreatif, tetapi juga upaya untuk membangun reputasi lewat karya-karyanya yang berkualitas dari lubuk hati yang paling dalam, hingga mendapatkan kepercayaan dari publik dengan penuh tanggungjawab. Harapannya peristiwa lain bisa berlintasan kembali mempertemukan karya mahasiswa dengan panggung dan audiens yang baru.

Menakar Daya Saing

Produksi dan Pentas Karya Mahasiswa PSBKH Institut Mpu Kuturan adalah sebuah langkah progresif. Sinergi antara content (Itihasa, Folklor), form (Komposisi, Seni Rupa), dan context (Manajemen Seni) telah berhasil membangun kerangka berpikir yang holistik.

Tari Kekebyaran Menjangan oleh Dewa Ayu Nyoman Ariantini

Untuk meningkatkan daya saing, mahasiswa perlu terus didorong untuk berani keluar dari zona nyaman estetika, mempertajam manajemen produksi standar industri, dan memperluas jangkauan audiens. Jika konsistensi dan kualitas kritis ini dipertahankan, lulusan PSBKH Institut Mpu Kuturan tidak hanya akan menjadi guru atau seniman lokal, melainkan pemimpin kultural yang mampu menjaga marwah seni budaya Hindu di panggung global.

Mengutip pandangan Eko Supriyanto (koreografer) menjadi mahasiswa harus selalu lapar seperti ikan Hiu yang selalu lapar mencari mangsanya. Selalu merasa lapar sehingga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan memicu sikap kritis.

Apa Tugas Dosen? Sal Murgiyanto merekomendasikan untuk Memfasilitasi dan menginspirasi mahasiswa supaya bisa menemukan jatidiri, keterhubungan dan ide gagasan. Bagaimana Caranya? Pertemukan lulusan terbaik dengan kesempatan kerja, Bawalah karya terbaik mahasiswa ke festival-festival besar. Mungkin ini belum cukup, tapi setidaknya sudah ada usaha.

Tok…tok….tok… suara pintu ruang kerja berbunyi. Suara perempuan memanggil. Ternyata terlalu lama saya memejamkan mata, membayangkan guru seni hanya mengajar teori itu membuat saya tertidur.

Artinya saya harus segera menyelesaikan tulisan ini.

Tanceb Kayonan [T]

Penulis: Putu Ardiyasa
Editor: Adnyana Ole

Tags: IMK BaliInstitut Agama Hindu Mpu Kuturankarawitan balikesenian baliPendidikanseni pertunjukanSeni Rupaseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendidik Sebuah Kota dengan Kebutuhan Membaca —Soft launching Anima tokobuku di Kota Singaraja

Next Post

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

I Putu Ardiyasa

I Putu Ardiyasa

Dalang, Dosen STAHN Mpu Kuturan

Related Posts

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
0
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

Read moreDetails

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co