2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

I Putu Ardiyasa by I Putu Ardiyasa
January 23, 2026
in Ulas Pentas
Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

Uji Komposisi Karya Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH) Institut Mpu Kuturan, 3-4 Januari 2026, di Gedung Sasana Budaya Singaraja

PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di ruang kelas. Tantangan abad ke-21 menuntut kemampuan untuk berkolaborasi dan berinovasi. Pendidikan Seni  di perguruan tinggi tidak hanya membicarakan cara menciptakan seni. Tetapi memahami konteks belajar dan pembelajaran dalam ruang di mana karya dipertemukan dengan panggung dan penontonya.

Dalam konteks inilah Uji Komposisi Karya Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH) Institut Mpu Kuturan, 3-4 Januari 2026, di Gedung Sasana Budaya Singaraja, hadir tidak hanya sebagai perayaan akhir semester, melainkan sebagai sebuah “laboratorium hidup” yang terus bertumbuh dan menumbuhkan daya kreatif, daya kritis dan daya saing mahasiswa.

Karya-karya dalam Uji Komposisi Karya Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH) Institut Mpu Kuturan, 3-4 Januari 2026, di Gedung Sasana Budaya Singaraja

Program ini menjadi ruang validisi kurikulum dalam mencetak lulusan yang kompetitif dalam perkembangan industri budaya yang seakan selalu membenturkan antara tradisi dan modernitas. Selain itu program ini berupaya menerjemahkan teks akademis menjadi peristiwa yang menuntut mahasiswa untuk memahami kemampuan diri  dalam memproduksi karya yang diperlukan saat memasuki di dunia kerja.

Alih Wahana Pengetahuan Budaya Lokal, Agama dan Kebiasaan Menjadi Karya

Kekuatan utama dari produksi ini terletak pada fondasi intelektual nilai keagamaan Hindu sebagai identitas prodi Pendidikan Seni yang bercirikan budaya Hindu di Bali Utara.  Fondasi intelektual itu sangat terasa pada karya-karya yang ditampilkan baik pertunjukan maupun seni rupa. Karya mahasiswa tidak lahir dari ruang hampa namun dari pengalaman mahasiswa yang hidup di dalam masyarakat adat dengan berbagai ritus, tradisi dan kesenian sakral yang ada di desanya.

Karya-karya yang lahir, baik karya tari, tabuh, musik, teater dan seni rupa mencerminkan keberagaman ide yang selalu bertumbuh. Dalam karya tari misalnya, mahasiswa mampu menerjemahkan ritus sakral seperti di Desa Kedis yang memiliki tari Rejang Keraman, atau Banjar Paketan dengan Baris Sakral saat upacara Pitra Yadnya, termasuk tokoh pewayangan Mahabharata, ukiran menjangan relief di Pura dan sesajen gebogan juga menginspirasi karya tari.

Yang tidak kalah menarik juga ungkapan  perasaan pribadi mahasiswa  memperkaya karya mahasiswa, misalnya mahasiswa dari Palembang yang mencoba memvisualkan kebudayaan Bali dan Melayu dalam karyanya.

Seremonial pembukaan dalam Uji Komposisi Karya Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH) Institut Mpu Kuturan, 3-4 Januari 2026, di Gedung Sasana Budaya Singaraja

Tidak jauh beda dari pada karya tari, kehadiran karya-karya tabuh dan musik juga menghadirkan ritus-ritus seperti yang ada di Desa Selat, juga Rejang Sakral di Desa Bubunan, tradisi unik di Gerogak. Ada juga campuhan (pertemuan air dari beberapa sisi menjadi 1 aliran) termasuk pengalaman pribadi mahasiswa yang diungkapkan dalam berbagai instrument seperti gong kebyar, gong  semarpagulingan, joged ataupun instrumental sederhana. Karya-karya teater juga tidak kalah menarik, karena mahasiswa terlihat mengungkapkan pengalaman batinnya atau dalam istilah lain sering disebut keresahan yang dialaminya pada setiap karya.

Dari sebelah kanan (sisi barat) panggung Sasana Budaya digelar pameran karya seni rupa mahasiswa semester 3 yang memajang luaran mata kuliahnya berupa gambar nirmana, lukisan yang dipadukan dengan karya patung  ogoh-ogoh. Dan, yang membuat saya “heran” dari mahasiswa ini adalah karya Patung Menjangan dengan dimensi yang cukup besar.

Tantangan terbesarnya adalah transisi dari teks kuno, tradisi lokal atau pengalaman pribadi ke panggung, atau dalam pandangan Sapardi Djoko Darmono dalam bukunya Alih Wahana (2012) menyebut alih wahana teks, tradisi dan sejenisnya ke dalam pertunjukan sebagai transformasi budaya. Beberapa karya berhasil menyajikan dramaturgi yang kuat, namun ada kalanya narasi terasa terlalu verbal atau simbolik yang sulit dipahami audiens awam.

Di sinilah peran mata kuliah Komposisi Seni diuji: bagaimana menyederhanakan kompleksitas filosofis ajaran agama, ritus adat dan seni sakral menjadi bahasa visual dan audio yang komunikatif tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Selain itu kurasi dan pencahayaan pada area pertunjukan dan pameran seni rupa saya sadari perlu mendapatkan perhatian agar menjadi sajian panggung yang profesional. Beberapa instalasi dengan pencahayaan yang tepat akan mampu mengundang audiens untuk datang, mengingat seni rupa adalah gerbang pertama yang menyapa audiens sebelum pertunjukan dimulai.

Hal lain yang perlu diperhatikan jika Prodi Pendidikan Seni ingin membangun daya saing yang kuat, mahasiswa didorong kemampuan presentasi tidak hanya pada visual karyanya yang harus memenuhi standar profesional, tetapi juga kemampuan verbal yang mampu mempersuasi audiens tentang karyanya.

Menjelajah Kurikulum: Benang Merah Penjahit Pengetahuan

Bagi saya, karya yang dipanggungkan dalam program ini merupakan tarikan  benang merah yang kuat sebagai upaya menjahit pengetahuan pada setiap mata kuliah seperti Itihasa Purana dan  Folklor sebagai basis narasi (ide gagasan) kemudian diwujudkan dalam bentuk karya  Komposisi Seni. Untuk mewujudkan karya dalam bentuk pemanggungan, mahasiswa wajib menerapkan  tata kelola produksi karya dan acara sebagai metode  yang lahir dari proses integrasi  pembelajaran pada mata kuliah Manajemen Seni

Untuk membayangkan pola integrasinya, saya ingin menjelaskan tentang cara kerja kurikulum di prodi PSBKH.

Prodi PSBKH memfasilitasi sebaran mata kuliah pada semester ganjil yang diharapkan dapat menyediakan ruang kolaborasi lintas semester yang mengintegrasikan luaran mata kuliahnya dalam satu program bersama. Misalnya bagi mahasiswa di semester 3 (tiga), mendapakat mata kuliah Seni Rupa dengan luaran mata kuliah Pameran Karya di akhir semester dan Seni Teater yang mengajarkan mahasiswa Tata Kelola produksi Acara, sehingga kedua mata kuliah ini dapat memberikan pengetahuan teori dan praktek serta bekalmenjadi Tim Produksi Acara.

Lain halnya mahasiswa pada Semester 5 (lima) mereka mendapat tugas lebih berat karena harus belajar menciptakan karya seni melalui mata kuliah Komposisi, tetapi juga harus belajar manajemen seni yang berupaya mengajarkana mahasiswa untuk menerjemahkan ide, konsep, gagasannya, menyusun anggaran  dan  kemampuan menyampaikan idenya di depan umum dalam sebuah proposal karya seni.

Karya Instrumental berjudul Trio Kiu oleh Kadek Candra Gunawan

Di sisi yang lain, mahasiswa semester satu sebagai adik palling bungsu maka wajib melihat dan membantu kakak tingkatnya sebagai tim produksi teknis. Pada fase awal ini adalah kesempatan mereka untuk belajar  memproduksi acara termasuk menciptakan karya seperti kakak tingkat semester 5, karena pada saatnya nanti mereka (mahasiswa semester 1) akan sampai pada titik penciptaan karya.

Bagaimana cara mereka kerja? Begitu gumam saya sambil mellihat pamerannya dan menonton karya mahasiswa. Karena tugas mata kuliah lain pasti akan mengganggu proses ini. Biayanya dari mana? Apakah keluarganya mendukung?

Pertanyaan seperti ini selalu berkeliaran dalam pikiran saya.

Apakah itu sebab jargon mereka adalah “prodi cenik keneh gede” (prodi kecil angan-angan besar)? Mungkin saja, sambil saya menghela nafas meyakinkan diri bahwa program ini  “cocok” untuk sebuah prodi yang masih belia.

Kemudian saya mencoba memaknai jargon mahasiswa itu sebagai bentuk gugatan terhadap legitimasi bahwa prodi yang baru berdiri tahun 2022 itu berarti ibarat anak kecil, tapi memiliki cita-cita  yang besar. Seperti Taipan sukses yang bercerita di salah satu podcast di usia 8 (delapan) tahun sudah menghasilkan 100 juta pertamanya.

Tapi jargon itu bukanlah isapan jempol semata, itu mereka buktikan lewat karya-karya mahasiswa pada setiap semesternya, termasuk kontribusinya diluar perkuliahan.  Yang membuat saya terharu adalah kedatangan keluarga dari mahasiswa, orang tua, kakek, nenek, saudara dan kerabatnya duduk di tangga-tangga Gedung sasana budaya untuk menyaksikan karya anak-anaknya. Bahkan Belasan Sekaa hadir mendukung baik sebagai penampil, dan tim produksi karya mahasiswa.

Secara umum, semangat kerja kolektif ini menjadi permulaan yang baik untuk mengelola event berskala besar lainnya. Namun, daya saing di industri budaya sat ini menuntut proses yang lebih detail, terutma pada aspek promosi digital dan audience engagement perlu didorong lebih agresif.

Misalnya, dalam satu kesempatan saya menyapa keluarga yang datang ataupun mengundang penonton untuk dilibatkan dalam diskusi pentas, agar expo ini tidak hanya dinikmati oleh kalangan internal kampus, tetapi juga masyarakat umum dan penikmat seni di Bali Utara.

Kenapa Harus  Penciptaan dan Pameran?

Ujian Komposisi Karya dan pameran sejatinya adalah etalase pembuktian ketercapaian profil lulusan Prodi  PSBKH. Melalui satu event, prodi bisa membedah  wajah masa depan mahasiswa sebagai calon guru seni budaya yang memiliki kecakapan dalam belajar mengajar termasuk memiliki kemampuan pendukung dalam mencipta pertunjukan dan/atau pameran seni budaya.  

Karya Instalasi Ogoh-ogoh oleh Mahasiswa Semester 3 Prodi PSBKH

Karya Padma Tantri oleh Putu Ratih Fani

Ketika sebelum memberikan sambutan sebelum acara inti dimulai, saya membuka poin sambutan dengan sebuah pertanyaan “kenapa guru harus bisa mencipta”?

Saya memulainya pada profil lulusan pertama, yaitu sebagai guru Seni Budaya. Mahasiswa dibekali mata kuliah pendidikan terutama pemahaman Mata Kuliah Inti Keilmuan Prodi, yaitu Pendidikan Tari, Musik, Drama Dari Seni Rupa yang berbasis budaya keagamaan. Untuk mendalaminya lagi, mahasiswa diberikan pembelajaran  tentang manajemen pendidikan, strategi pendidikan termasuk bagaimana mahasiswa mengembangkan kurikulum, perangkat pembelajaran, media pembelajaran hingga praktek mengajar. Mahasiswa juga diajak kesanggar-sanggar untuk magang (belajar mengajar di sanggar) mencatat bagaimana guru mengajar dan murid belajar.

Patung Menjangan karya Mahasiswa Semester 3 PSBKH

Lebih penting dari pada itu saat mahasiswa menyajikan karya yang sarat nilai filosofis Hindu kepada penonton, mereka sedang “mengajar”. Kemampuan mereka menyampaikan pesan moral melalui keindahan seni adalah modal utama seorang guru seni budaya yang inspiratif, bukan guru yang hanya teoritis.

Profil lulusan kedua adalah sebagai Peneliti dan/atau Pencipta Seni. Mahasiswa membuktikan diri mereka mampu melakukan proses pengamatan, peniruan, modifikasi dan komposisi. Kemampuan meriset konten, lalu mentransformasikannya menjadi karya komposisi baru, adalah bukti kompetensi riset artistik yang jujur dan penuh rasa tanggungjawab.

Nah, kenapa mencipta? Bayangkan jika guru seni budaya hanya mengajar teori di kelas, tanpa sekalipun pernah praktek atau bahkan membuat kreasi dalam berbagai event seni.

Sambil menulis catatan ini saya coba memejamkan mata dan membayangkan pola belajar seperti itu. itu ibarat orang tua yang mengajar bayi untuk berjalan tapi hanya permintaan saja, tanpa pernah dibantu dan diajak berjalan. Percayalah anak itu tidak akanbisa berjalan, yang dia bisa hanya mengucapkan kata “berjalan”.

Momen-momen dalam Uji Komposisi Karya Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu (PSBKH) Institut Mpu Kuturan, 3-4 Januari 2026, di Gedung Sasana Budaya Singaraja

Studi sederhana yang saya lakukan dalam 3 tahun terakhir menemukan bahwa, guru tidak hanya dituntut memiliki kemampuan mengajar teori, tetapi juga kemampuan praktek dan kecakapan dalam mencipta atau dasar-dasar kreativitas yang sesuai dengan kebutuhan murid.

Jika guru dan murid sudah memiliki karya, kira-kira mau dibawa ke mana? Atau jika tidak menjadi guru, mau jadi apa, ya? 

Nahh, mungkin jawabannya ada pada profil lulusan ketiga yaitu Pengelola dan Wirausaha dibidang kebudayaan. Dalam kacamata wirausaha maka panggung adalah pasar mereka, dan penonton adalah konsumen. Kemampuan mengorganisir tim, mencari dana, mempromosikan karya, dan memanajemen produksi adalah simulasi nyata dunia industri kreatif wajib dipahami. Daya saing mereka ditentukan oleh seberapa profesional mereka menangani tekanan produksi ini dan menemukan pemecahan masalah. Mereka belajar bahwa seni tidak lagi dipandang hanya sebagai hobi, melainkan juga adalah industri yang harus menghidupi.

Pada sisi ini manajerial, mahasiswa belajar berjejaring dan membangun relasi, jika mengutip pandangan Matew Isaac Cohen dalam buku berjudul Selepas Napas memandang kesenian tidak hanya tentang pentas di panggung, tetapi juga tentang menghubungkan antara karya dengan penontonnya hingga sama-sama memilki tanggung jawab tentang bagaimana seni kedepan.

Karya Cabang Tatuka oleh Komang Satria Pardnya

Pandangan Prof Matew itu bagi saya sangat tepat dibelajarkan untuk mahasiswa khususnya di prodi PSBKH, sehingga program Ujian Komposisi dan pameran karya ini bermakna ganda, selain sebagai pembuktian proses kreatif, tetapi juga upaya untuk membangun reputasi lewat karya-karyanya yang berkualitas dari lubuk hati yang paling dalam, hingga mendapatkan kepercayaan dari publik dengan penuh tanggungjawab. Harapannya peristiwa lain bisa berlintasan kembali mempertemukan karya mahasiswa dengan panggung dan audiens yang baru.

Menakar Daya Saing

Produksi dan Pentas Karya Mahasiswa PSBKH Institut Mpu Kuturan adalah sebuah langkah progresif. Sinergi antara content (Itihasa, Folklor), form (Komposisi, Seni Rupa), dan context (Manajemen Seni) telah berhasil membangun kerangka berpikir yang holistik.

Tari Kekebyaran Menjangan oleh Dewa Ayu Nyoman Ariantini

Untuk meningkatkan daya saing, mahasiswa perlu terus didorong untuk berani keluar dari zona nyaman estetika, mempertajam manajemen produksi standar industri, dan memperluas jangkauan audiens. Jika konsistensi dan kualitas kritis ini dipertahankan, lulusan PSBKH Institut Mpu Kuturan tidak hanya akan menjadi guru atau seniman lokal, melainkan pemimpin kultural yang mampu menjaga marwah seni budaya Hindu di panggung global.

Mengutip pandangan Eko Supriyanto (koreografer) menjadi mahasiswa harus selalu lapar seperti ikan Hiu yang selalu lapar mencari mangsanya. Selalu merasa lapar sehingga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan memicu sikap kritis.

Apa Tugas Dosen? Sal Murgiyanto merekomendasikan untuk Memfasilitasi dan menginspirasi mahasiswa supaya bisa menemukan jatidiri, keterhubungan dan ide gagasan. Bagaimana Caranya? Pertemukan lulusan terbaik dengan kesempatan kerja, Bawalah karya terbaik mahasiswa ke festival-festival besar. Mungkin ini belum cukup, tapi setidaknya sudah ada usaha.

Tok…tok….tok… suara pintu ruang kerja berbunyi. Suara perempuan memanggil. Ternyata terlalu lama saya memejamkan mata, membayangkan guru seni hanya mengajar teori itu membuat saya tertidur.

Artinya saya harus segera menyelesaikan tulisan ini.

Tanceb Kayonan [T]

Penulis: Putu Ardiyasa
Editor: Adnyana Ole

Tags: IMK BaliInstitut Agama Hindu Mpu Kuturankarawitan balikesenian baliPendidikanseni pertunjukanSeni Rupaseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendidik Sebuah Kota dengan Kebutuhan Membaca —Soft launching Anima tokobuku di Kota Singaraja

Next Post

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

I Putu Ardiyasa

I Putu Ardiyasa

Dalang, Dosen STAHN Mpu Kuturan

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co