2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Heski Dewabrata by Heski Dewabrata
January 10, 2026
in Cerpen
Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

PAGI itu merupakan momen di mana aku mencicipi kopi yang membuatku tenang di kota yang cukup padat ini. Musik instrumen yang mengiringi percakapanku dengan sang peracik kopi di depan bar, dan suara air panas yang dituang secara perlahan dari teko leher angsa menuju bubuk kopi yang berada di atas dripper itu menambah ketenangan dalam pikiranku terhadap hiruk-pikuk modernisasi yang merongrong terus-menerus. Sang peracik menuangkan kopi hasil seduhan manual itu ke gelas dan memberikan segelas kopi hangat itu ke hadapanku.

“Pejamkan matamu ketika meminum ini,” kata lelaki tua itu. Umurnya mungkin 50an. Namun, fisiknya terlihat sehat dan wajahnya terlihat tidak mempunyai beban yang dipikul di pundaknya.

Kopi yang disajikannya memiliki warna ekstraksi yang baik. Aroma yang terhirup memiliki aroma floral dan spektrum buah-buahan kuning. Aku meminumnya sambil memejamkan mata sesuai dengan instruksi lelaki tua itu.

Saat aku seruput, dadaku terasa hangat. Rasa dari kopi ini sungguh berbeda. Entah mengapa, aku tidak dapat mendeskripsikan rasa dari kopi ini karena kenikmatannya.

Aku menyeruput untuk kedua kalinya. Di seruputan kedua ini, ada bayangan aneh yang masuk di kepalaku. Bayangan Lorong rumah sakit, suara monitor jantung yang melambat, dan aroma steril seketika menyusup ke kepalaku.

Aku menurunkan cangkir. Tangan kananku gemetar dan nafasku terengah-engah.

“Ada rasa yang mengganggu?” tanya lelaki tua itu.

“Aku tidak dapat menjelaskannya,” kataku. “Ada ingatan samar yang masuk ke pikiranku, t-tapi itu bukan ingatanku.”

Lelaki tua itu tersenyum tipis seakan telah mengetahui rasa dari kopinya.

Sejak hari itu, aku kembali. Berkali-kali. Sebagai penikmat kopi, aku pernah mencicipi berbagai jenis kopi. Dari berbagai daerah, dan dengan segala jenis proses pasca-panen. Namun kopi ini bukan sekadar diminum. Ia menyusup masuk dan menghuni isi kepalaku.

Aku bertanya pada lelaki tua itu, “Apa yang membuat kopi ini mempunyai rasa yang berbeda?”

“Tidak ada. Semua diproses seperti kopi pada umumnya,” jawabnya dengan senyum yang tipis.

“Apa proses pasca-panennya? Apa varietas kopi ini?” Aku sedikit mencecar.

“Prosesnya natural. Varietasnya Sigararutang seperti kopi yang biasa kau temui di pasar.”

“Tidak mungkin. Pasti proses pasca-panennya menggunakan metode eksperimental,” jawabku dengan keraguan.

“Sama sekali tidak,” jawabnya dengan pasti. “Tanah yang tepat membuat kopi ini tumbuh dengan baik. Dan tentunya hal tersebut memberi sensasi baru ketika meminum kopi ini.”

Aku sama sekali tidak puas dengan jawaban lelaki tua itu. Menurutku jawabannya terlalu diplomatis.

Suatu malam ketika kedai lelaki tua itu sudah tutup, aku melihat lelaki tua itu mengobrol dengan pria misterius. Aku mengawasi mereka dari jauh. Ketika pria misterius itu selesai mengobrol dengan lelaki tua itu, aku melihatnya memasuki mobil pick-up. Aku bergegas menuju motorku dan mencoba mengikutinya dari kejauhan.

Mobilnya melaju keluar kota, melewati jalan tanah yang jarang dilalui kendaraan, hingga sinyal ponselku menghilang. Dari kejauhan aku melihat ia berhenti di hamparan ladang yang sunyi sekali. Namun, ladang tersebut ditanami tanaman kopi dengan sangat subur. Terlalu subur untuk tempat yang sangat sepi.

Setelah menunggu cukup lama agar pria itu pulang terlebih dahulu dari ladang, aku turun. Ketika masuk ke ladang tersebut, aku melihat tanah yang hitam, lembap, dan hangat. Terlihat tanaman kopi yang tumbuh rapat, daunnya tebal dan sehat. Ladang itu hanya diterangi oleh satu lampu.

Rasa penasaranku terhadap kopi lelaki tua itu membuatku mengobservasi tanamannya. Aku mencoba untuk mengecek tanahnya, dan anehnya ada bau menyengat yang mengganggu. Aku menggalinya dengan tangan. Tidak dalam. Aku berhenti menggali saat jariku menyentuh sesuatu yang keras.

Tulang.

Aku mundur perlahan, badanku gemetaran, dan napasku tersengal. Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tanah di ladang itu sedikit bergelombang seperti banyak tubuh yang kembali ke tanah.

Aku mengambil sampel tanah dan satu cherry kopi. Besoknya aku membawa sampel itu ke laboratorium milik kolegaku. Hasil riset yang ku-lakukan membuat badanku lemas dan kepala berputar,

Aku menemukan kandungan protein yang mirip dengan protein di tubuh manusia. Dan yang membuatku semakin tercengang adalah kandungan senyawa organik yang biasanya hanya ditemukan dalam jaringan otak manusia.

Aku menyadari bahwa kopi ini tidak tumbuh di atas kematian. Kopi ini tumbuh dari kematian.

Malam harinya, aku berjalan menuju kedai saat lelaki tua itu sedang membereskan kedai. Ia sama sekali tidak terkejut dengan kedatanganku.

“Kau sudah mengetahuinya?” tanyanya dengan nada lembut.

Ia lalu mengajakku ke ruang belakang. Di sana terlihat foto-foto lama terpasang di dinding, Terlihat foto-foto ladang yang baru saja kudatangi kemarin. Terlihat satu foto hitam-putih seorang lelaki yang wajahnya mirip lelaki tua itu, tetapi versi lebih muda dan lebih segar.

“Siapa itu?” tanyaku dengan ekspresi penasaran.

“Yang bersamamu saat ini,” katanya.

Ia menjelaskan dengan nada lembut seperti seorang guru yang dengan sabar mengajari muridnya. Tentang mikroorganisme yang direkayasa secara genetik untuk menyerap sisa ingatan seluler dari tubuh manusia yang membusuk. Tentang akar kopi yang juga direkayasa untuk menjadi medium penyimpanan biologis. Dan tentang rasa sebagai bentuk memori paling purba.

“Manusia tidak ingin dilupakan,” katanya. “Dan ini adalah upayaku untuk menyimpan memori-memori manusia.”

“Ini pembunuhan.” kataku.

Ia menggelengkan kepala. “Mereka datang dengan sendirinya. Mereka ingin menjadi rasa.”

Aku tertawa. “Lalu kau?”

Ia menatap secangkir kopi di tangannya. “Sudah sejak lama aku selesai diminum.”

Badanku gemetaran dan membuatku mundur selangkah. Saat melihat wajahnya, seketika wajahnya berubah menjadi berlubang seperti tanah yang mengalami erosi.

“Ladang itu butuh orang baru,” katanya dengan suara lirih “Dan sekarang aku sudah terlalu lama berada di luar tanah.”

Badanku membeku. Aku ingin lari. Tapi kakiku berat seperti terbelenggu. Aroma kopi yang pekat memenuhi ruangan. Kepalaku berdengung dan terasa seperti berputar-putar.

“Apa kau merasakannya?” lanjut lelaki tua itu. “Ada rasa yang memanggil-manggilmu.”

Kesadaranku terpecah-pecah seperti potongan puzzle. Aku melihat wajah ibu. Mencium aromanya. Lalu mendengar pesan terakhirnya sebelum menghembuskan nafas terakhir. Air mata jatuh dari mata kiriku tanpa sadar.

“Ko… kopi itu?” tanyaku dengan gemetaran. “Apakah berasal d… da… darinya?”

Lelaki tua itu mengangguk. “Ia memberimu rasa yang lembut, yang membuatmu selalu mencarinya.”

Tidak lama setelah itu, kesadaranku menghilang.

Aku terbangun di ladang dengan tubuh terikat. Tubuhku terkubur tidak dalam. Tanah hangat memeluk seluruh tubuhku. Akar-akar menyentuh kulitku, menyusup masuk ke lapisan endodermis. Dan perlahan menyusup ke dalam pembuluh darahku.

Aku menjerit kesakitan. Tapi suaraku diredam oleh tanah.

Lelaki tua sialan itu terlihat berdiri di tepi lubang dan memperhatikanku dengan ekspresi datar.

“Jangan takut” katanya dengan nada lembut, namun tidak menenangkan. “Rasa takut akan mengacaukan rasanya.”

Aku merasakan sesuatu tumbuh di dadaku. Aku merasakan “proses” baru yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Ingatanku terurai secara perlahan. Satu per satu ingatanku diserap oleh akar.

Sehari berlalu. Tubuhku melemah. Kesadaranku terjaga, tapi mulai terikat pada tanah. Aku mulai bermimpi tentang orang-orang yang datang, mencicipi kopi, dan membawa pulang sedikit rasa dariku untuk di simpan di lidah mereka.

Pagi selanjutnya, aku tidak lagi merasakan kakiku. Lalu secara perlahan seluruh bagian tubuhku tidak dapat kurasakan. Semua terurai perlahan, dan yang tersisa hanyalah rasa.

Di atasku, tanaman kopi berbunga.

Dan di kejauhan, lelaki tua itu sedang menuangkan air panas, menunggu tetesan pertama dari kopi yang tumbuh dengan sangat baik.

Aku harap mereka semua meminumnya sambil memejamkan mata. [T]

Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Persatu Tuban Hancur Lebur di Kandang Sendiri

Next Post

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

Heski Dewabrata

Heski Dewabrata

a sometimes writer

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co