23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Persatu Tuban Hancur Lebur di Kandang Sendiri

Jaswanto by Jaswanto
January 10, 2026
in Esai
Menonton Persatu Tuban Hancur Lebur di Kandang Sendiri

Persatu (kuning) vs Pasuruan United (hijau) | Foto: Dok. Instagram Pasuruan United

GOL cepat Husyen setelah memanfaatkan umpan jauh yang gagal diantisipasi lini pertahanan Persatu Tuban, membuat saya berhenti berharap. Skor berubah menjadi 0-1 untuk Pasuruan United—tim gergasi kelas Liga 4 Jawa Timur. Sekadar informasi, di ajang liga semi amatir itu, Pasuruan United menjadi tim yang jarang kebobolan. Bayangkan, setelah menghancurkan Persatu dengan skor 3-0, klub bola yang dilatih oleh Bio Paulin itu—penonton Liga Super era 2010-an tentu sudah tidak asing dengan nama ini—dalam enam pertandingan mereka meraih enam kemenangan dengan 26 goal tanpa satu pun kebobolan. Edan.

Saya tahu Pasuruan United datang ke stadion bukan sekadar bermodal strategi menyerang, melainkan dengan kepastian lolos babak 16 besar. Mereka sudah mengamankan tiket sejak awal dan sebenarnya cukup bermain aman melawan Persatu Tuban—sebuah pernyataan bahwa motivasi kadang lebih penting daripada kemampuan teknis di lapangan. Jika sebuah pertandingan harus jadi ujian motivasi, sore itu Pasuruan United lulus dengan nilai cukup, sementara Persatu Tuban tampak gagal menjawab panggilan itu.

Oleh karena itu, Jumat, 9 Januari 2026 kemarin, rasanya ada jenis kesedihan yang tidak butuh hujan untuk terasa muram. Cukup duduk di tribun Tuban Sport Center atau menatap siaran PSSI Jatim di kanal YouTube, melihat papan skor yang memamerkan angka 0–3, dan kita tahu, ini bukan sekadar kekalahan, ini semacam upacara kecil untuk merayakan kegagalan yang sudah lama dipelihara bertahun-tahun.

Ya, sekali lagi, Persatu Tuban kalah dari Pasuruan United, dan orang-orang pulang dengan kekecewaan, meski lainnya dengan kemarahan. Tapi saya tidak terkejut. Di Kota Tuban, kita sudah terlalu lama belajar berdamai dengan kenyataan bahwa sepak bola lebih sering menjadi cerita tentang niat baik yang tersesat, daripada kisah tentang rencana yang benar-benar matang.

Pertandingan itu sendiri berjalan seperti lakon yang naskahnya bocor sejak menit pertama. Pasuruan United tampak tahu kapan harus menunggu, kapan harus memukul. Sedangkan Persatu Tuban sebaliknya, tampak seperti orang yang datang ke medan tempur sambil membawa daftar alasan kenapa mereka seharusnya tidak kalah. Bola lebih sering bergulir tanpa maksud, operan lebih sering seperti pengakuan ragu-ragu, dan setiap kali lawan menyerang, kita bisa menebak akhirnya: ada kepanikan kecil, ada bek yang terlambat setengah langkah, lalu ada gol yang terasa seperti keputusan takdir.

Persatu Tuban jelas bukan lawan tanding Pasuruan United yang memang punya momentum bagus di fase grup. Tapi lebih dari itu, skor 3–0 bukan hanya karena lawan lebih baik, melainkan karena Persatu terlalu pasif, terlalu mudah dibaca dan kurang agresif dari awal hingga akhir. Sebagai tuan rumah, Persatu mestinya punya keuntungan psikologis. Tapi keuntungan itu tak dipakai semaksimal mungkin.

Saya kira, tiga gol itu bukan sekadar tiga kesalahan teknis. Mereka seperti ringkasan musim, dipadatkan menjadi sembilan puluh menit yang kejam. Kita boleh menyebut soal kurangnya persiapan, mental yang rapuh, atau taktik yang mudah dibaca. Tapi semua itu hanya gejala. Penyakitnya lebih tua, lebih dalam, dan lebih malas untuk diobati: sepak bola di Tuban ini terlalu sering dijalankan dengan cinta, tapi jarang dengan pikiran yang dingin.

Di kota ini, stadion bisa berdiri megah, tapi visi sering kali berjalan pincang. Kita rajin bicara soal kebangkitan, tapi malas mengurus fondasi. Kita bangga menyebut diri tuan rumah, tapi lupa bahwa menjadi tuan rumah tidak otomatis membuat kita jadi tuan di lapangan. Menjadi tuan rumah tanpa kesiapan hanya berarti menyediakan panggung yang bagus untuk orang lain berpesta. Sungguh menggelikan.

Sore itu, Persatu Tuban bermain seperti tim yang takut kalah lebih besar daripada ingin menang sebesar-besarnya. Dan itu selalu menjadi tanda paling jujur dari sebuah klub yang tidak sepenuhnya percaya pada dirinya sendiri. Sepak bola, pada akhirnya, bukan hanya soal kaki dan paru-paru, tapi juga soal isi kepala. Dan kepala Persatu sore itu tampak penuh oleh pikiran-pikiran kecil, seperti jangan salah, jangan blunder, jangan dipermalukan. Tapi hasilnya justru sebaliknya, permainan menjadi kaku, keputusan menjadi terlambat, dan rasa takut menjadi strategi tak tertulis.

Yang lebih menyedihkan, kekalahan ini tidak datang sebagai kecelakaan. Ia datang sebagai kelanjutan yang logis. Menurut saya, melihat cara main Persatu yang amburadul—untuk tidak mengatakan busuk—gagal lolos ke babak 16 besar bukan tragedi, melainkan konsekuensi. Seperti seseorang yang jarang belajar lalu heran kenapa nilainya jelek. Kita boleh marah, boleh kecewa, tapi diam-diam kita tahu, ini hasil yang sudah lama diendapkan oleh cara kerja yang setengah-setengah.

Sepak bola di Tuban selama ini lebih mirip acara seremonial ketimbang proyek jangka panjang. Musim datang, tim dibentuk, harapan digantungkan, lalu ketika semua selesai, kita kembali ke titik nol, seolah tidak ada yang perlu dicatat selain skor terakhir. Pembinaan usia muda terdengar seperti slogan, bukan kerja sunyi yang sabar. Manajemen lebih sering terdengar saat pembukaan, tapi lebih jarang terlihat saat evaluasi.

Dan suporter? Mereka adalah orang-orang paling setia dalam hubungan yang paling tidak adil. Datang, berharap, kecewa, lalu datang lagi. Kesetiaan mereka seperti air sumur yang terus diambil, tapi jarang dipikirkan bagaimana menjaganya tetap ada.

Kekalahan 0–3 ini seperti tamparan sekaligus pernyataan bahwa sepak bola Tuban tidak kekurangan semangat, hanya kekurangan arah. Tidak kekurangan orang yang mau berteriak, tapi kekurangan orang yang mau duduk berlama-lama untuk merancang masa depan.

Masa depan itu, kalau mau jujur, sekarang sedang berdiri di persimpangan yang membosankan. Kita bisa memilih untuk mengulang pola lama: ganti pemain, ganti pelatih, ganti jargon, lalu berharap keajaiban turun dari langit kompetisi. Atau kita bisa mulai melakukan hal yang lebih tidak populer: membangun perlahan, dari bawah, dari hal-hal yang tidak kelihatan di spanduk dan tidak terdengar di pengeras suara.

Tapi membangun selalu butuh kesabaran, dan kesabaran adalah barang langka di tempat yang lebih suka hasil cepat.

Sore itu, orang-orang meninggalkan stadion dengan langkah pelan. Beberapa menghadap manajemen dengan kemaraha yang sangat—seperti unggahan di media sosial. Sepak bola, seperti hidup, kadang tidak memberi kita apa yang kita mau, tapi selalu memberi apa yang pantas kita dapatkan. Dan Persatu Tuban, dengan segala cinta yang mengelilinginya, tampaknya sedang mendapat pelajaran yang pahit bahwa stadion besar tidak pernah cukup untuk menutupi tim yang belum selesai dibangun.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Jawa TimurLiga 4Pasuruan UnitedPersatu TubanSEPAK BOLA
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S. | Ilham – Raras

Next Post

Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co