2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Persatu Tuban Hancur Lebur di Kandang Sendiri

Jaswanto by Jaswanto
January 10, 2026
in Esai
Menonton Persatu Tuban Hancur Lebur di Kandang Sendiri

Persatu (kuning) vs Pasuruan United (hijau) | Foto: Dok. Instagram Pasuruan United

GOL cepat Husyen setelah memanfaatkan umpan jauh yang gagal diantisipasi lini pertahanan Persatu Tuban, membuat saya berhenti berharap. Skor berubah menjadi 0-1 untuk Pasuruan United—tim gergasi kelas Liga 4 Jawa Timur. Sekadar informasi, di ajang liga semi amatir itu, Pasuruan United menjadi tim yang jarang kebobolan. Bayangkan, setelah menghancurkan Persatu dengan skor 3-0, klub bola yang dilatih oleh Bio Paulin itu—penonton Liga Super era 2010-an tentu sudah tidak asing dengan nama ini—dalam enam pertandingan mereka meraih enam kemenangan dengan 26 goal tanpa satu pun kebobolan. Edan.

Saya tahu Pasuruan United datang ke stadion bukan sekadar bermodal strategi menyerang, melainkan dengan kepastian lolos babak 16 besar. Mereka sudah mengamankan tiket sejak awal dan sebenarnya cukup bermain aman melawan Persatu Tuban—sebuah pernyataan bahwa motivasi kadang lebih penting daripada kemampuan teknis di lapangan. Jika sebuah pertandingan harus jadi ujian motivasi, sore itu Pasuruan United lulus dengan nilai cukup, sementara Persatu Tuban tampak gagal menjawab panggilan itu.

Oleh karena itu, Jumat, 9 Januari 2026 kemarin, rasanya ada jenis kesedihan yang tidak butuh hujan untuk terasa muram. Cukup duduk di tribun Tuban Sport Center atau menatap siaran PSSI Jatim di kanal YouTube, melihat papan skor yang memamerkan angka 0–3, dan kita tahu, ini bukan sekadar kekalahan, ini semacam upacara kecil untuk merayakan kegagalan yang sudah lama dipelihara bertahun-tahun.

Ya, sekali lagi, Persatu Tuban kalah dari Pasuruan United, dan orang-orang pulang dengan kekecewaan, meski lainnya dengan kemarahan. Tapi saya tidak terkejut. Di Kota Tuban, kita sudah terlalu lama belajar berdamai dengan kenyataan bahwa sepak bola lebih sering menjadi cerita tentang niat baik yang tersesat, daripada kisah tentang rencana yang benar-benar matang.

Pertandingan itu sendiri berjalan seperti lakon yang naskahnya bocor sejak menit pertama. Pasuruan United tampak tahu kapan harus menunggu, kapan harus memukul. Sedangkan Persatu Tuban sebaliknya, tampak seperti orang yang datang ke medan tempur sambil membawa daftar alasan kenapa mereka seharusnya tidak kalah. Bola lebih sering bergulir tanpa maksud, operan lebih sering seperti pengakuan ragu-ragu, dan setiap kali lawan menyerang, kita bisa menebak akhirnya: ada kepanikan kecil, ada bek yang terlambat setengah langkah, lalu ada gol yang terasa seperti keputusan takdir.

Persatu Tuban jelas bukan lawan tanding Pasuruan United yang memang punya momentum bagus di fase grup. Tapi lebih dari itu, skor 3–0 bukan hanya karena lawan lebih baik, melainkan karena Persatu terlalu pasif, terlalu mudah dibaca dan kurang agresif dari awal hingga akhir. Sebagai tuan rumah, Persatu mestinya punya keuntungan psikologis. Tapi keuntungan itu tak dipakai semaksimal mungkin.

Saya kira, tiga gol itu bukan sekadar tiga kesalahan teknis. Mereka seperti ringkasan musim, dipadatkan menjadi sembilan puluh menit yang kejam. Kita boleh menyebut soal kurangnya persiapan, mental yang rapuh, atau taktik yang mudah dibaca. Tapi semua itu hanya gejala. Penyakitnya lebih tua, lebih dalam, dan lebih malas untuk diobati: sepak bola di Tuban ini terlalu sering dijalankan dengan cinta, tapi jarang dengan pikiran yang dingin.

Di kota ini, stadion bisa berdiri megah, tapi visi sering kali berjalan pincang. Kita rajin bicara soal kebangkitan, tapi malas mengurus fondasi. Kita bangga menyebut diri tuan rumah, tapi lupa bahwa menjadi tuan rumah tidak otomatis membuat kita jadi tuan di lapangan. Menjadi tuan rumah tanpa kesiapan hanya berarti menyediakan panggung yang bagus untuk orang lain berpesta. Sungguh menggelikan.

Sore itu, Persatu Tuban bermain seperti tim yang takut kalah lebih besar daripada ingin menang sebesar-besarnya. Dan itu selalu menjadi tanda paling jujur dari sebuah klub yang tidak sepenuhnya percaya pada dirinya sendiri. Sepak bola, pada akhirnya, bukan hanya soal kaki dan paru-paru, tapi juga soal isi kepala. Dan kepala Persatu sore itu tampak penuh oleh pikiran-pikiran kecil, seperti jangan salah, jangan blunder, jangan dipermalukan. Tapi hasilnya justru sebaliknya, permainan menjadi kaku, keputusan menjadi terlambat, dan rasa takut menjadi strategi tak tertulis.

Yang lebih menyedihkan, kekalahan ini tidak datang sebagai kecelakaan. Ia datang sebagai kelanjutan yang logis. Menurut saya, melihat cara main Persatu yang amburadul—untuk tidak mengatakan busuk—gagal lolos ke babak 16 besar bukan tragedi, melainkan konsekuensi. Seperti seseorang yang jarang belajar lalu heran kenapa nilainya jelek. Kita boleh marah, boleh kecewa, tapi diam-diam kita tahu, ini hasil yang sudah lama diendapkan oleh cara kerja yang setengah-setengah.

Sepak bola di Tuban selama ini lebih mirip acara seremonial ketimbang proyek jangka panjang. Musim datang, tim dibentuk, harapan digantungkan, lalu ketika semua selesai, kita kembali ke titik nol, seolah tidak ada yang perlu dicatat selain skor terakhir. Pembinaan usia muda terdengar seperti slogan, bukan kerja sunyi yang sabar. Manajemen lebih sering terdengar saat pembukaan, tapi lebih jarang terlihat saat evaluasi.

Dan suporter? Mereka adalah orang-orang paling setia dalam hubungan yang paling tidak adil. Datang, berharap, kecewa, lalu datang lagi. Kesetiaan mereka seperti air sumur yang terus diambil, tapi jarang dipikirkan bagaimana menjaganya tetap ada.

Kekalahan 0–3 ini seperti tamparan sekaligus pernyataan bahwa sepak bola Tuban tidak kekurangan semangat, hanya kekurangan arah. Tidak kekurangan orang yang mau berteriak, tapi kekurangan orang yang mau duduk berlama-lama untuk merancang masa depan.

Masa depan itu, kalau mau jujur, sekarang sedang berdiri di persimpangan yang membosankan. Kita bisa memilih untuk mengulang pola lama: ganti pemain, ganti pelatih, ganti jargon, lalu berharap keajaiban turun dari langit kompetisi. Atau kita bisa mulai melakukan hal yang lebih tidak populer: membangun perlahan, dari bawah, dari hal-hal yang tidak kelihatan di spanduk dan tidak terdengar di pengeras suara.

Tapi membangun selalu butuh kesabaran, dan kesabaran adalah barang langka di tempat yang lebih suka hasil cepat.

Sore itu, orang-orang meninggalkan stadion dengan langkah pelan. Beberapa menghadap manajemen dengan kemaraha yang sangat—seperti unggahan di media sosial. Sepak bola, seperti hidup, kadang tidak memberi kita apa yang kita mau, tapi selalu memberi apa yang pantas kita dapatkan. Dan Persatu Tuban, dengan segala cinta yang mengelilinginya, tampaknya sedang mendapat pelajaran yang pahit bahwa stadion besar tidak pernah cukup untuk menutupi tim yang belum selesai dibangun.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Jawa TimurLiga 4Pasuruan UnitedPersatu TubanSEPAK BOLA
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S. | Ilham – Raras

Next Post

Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co