13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Persatu Tuban Hancur Lebur di Kandang Sendiri

Jaswanto by Jaswanto
January 10, 2026
in Esai
Menonton Persatu Tuban Hancur Lebur di Kandang Sendiri

Persatu (kuning) vs Pasuruan United (hijau) | Foto: Dok. Instagram Pasuruan United

GOL cepat Husyen setelah memanfaatkan umpan jauh yang gagal diantisipasi lini pertahanan Persatu Tuban, membuat saya berhenti berharap. Skor berubah menjadi 0-1 untuk Pasuruan United—tim gergasi kelas Liga 4 Jawa Timur. Sekadar informasi, di ajang liga semi amatir itu, Pasuruan United menjadi tim yang jarang kebobolan. Bayangkan, setelah menghancurkan Persatu dengan skor 3-0, klub bola yang dilatih oleh Bio Paulin itu—penonton Liga Super era 2010-an tentu sudah tidak asing dengan nama ini—dalam enam pertandingan mereka meraih enam kemenangan dengan 26 goal tanpa satu pun kebobolan. Edan.

Saya tahu Pasuruan United datang ke stadion bukan sekadar bermodal strategi menyerang, melainkan dengan kepastian lolos babak 16 besar. Mereka sudah mengamankan tiket sejak awal dan sebenarnya cukup bermain aman melawan Persatu Tuban—sebuah pernyataan bahwa motivasi kadang lebih penting daripada kemampuan teknis di lapangan. Jika sebuah pertandingan harus jadi ujian motivasi, sore itu Pasuruan United lulus dengan nilai cukup, sementara Persatu Tuban tampak gagal menjawab panggilan itu.

Oleh karena itu, Jumat, 9 Januari 2026 kemarin, rasanya ada jenis kesedihan yang tidak butuh hujan untuk terasa muram. Cukup duduk di tribun Tuban Sport Center atau menatap siaran PSSI Jatim di kanal YouTube, melihat papan skor yang memamerkan angka 0–3, dan kita tahu, ini bukan sekadar kekalahan, ini semacam upacara kecil untuk merayakan kegagalan yang sudah lama dipelihara bertahun-tahun.

Ya, sekali lagi, Persatu Tuban kalah dari Pasuruan United, dan orang-orang pulang dengan kekecewaan, meski lainnya dengan kemarahan. Tapi saya tidak terkejut. Di Kota Tuban, kita sudah terlalu lama belajar berdamai dengan kenyataan bahwa sepak bola lebih sering menjadi cerita tentang niat baik yang tersesat, daripada kisah tentang rencana yang benar-benar matang.

Pertandingan itu sendiri berjalan seperti lakon yang naskahnya bocor sejak menit pertama. Pasuruan United tampak tahu kapan harus menunggu, kapan harus memukul. Sedangkan Persatu Tuban sebaliknya, tampak seperti orang yang datang ke medan tempur sambil membawa daftar alasan kenapa mereka seharusnya tidak kalah. Bola lebih sering bergulir tanpa maksud, operan lebih sering seperti pengakuan ragu-ragu, dan setiap kali lawan menyerang, kita bisa menebak akhirnya: ada kepanikan kecil, ada bek yang terlambat setengah langkah, lalu ada gol yang terasa seperti keputusan takdir.

Persatu Tuban jelas bukan lawan tanding Pasuruan United yang memang punya momentum bagus di fase grup. Tapi lebih dari itu, skor 3–0 bukan hanya karena lawan lebih baik, melainkan karena Persatu terlalu pasif, terlalu mudah dibaca dan kurang agresif dari awal hingga akhir. Sebagai tuan rumah, Persatu mestinya punya keuntungan psikologis. Tapi keuntungan itu tak dipakai semaksimal mungkin.

Saya kira, tiga gol itu bukan sekadar tiga kesalahan teknis. Mereka seperti ringkasan musim, dipadatkan menjadi sembilan puluh menit yang kejam. Kita boleh menyebut soal kurangnya persiapan, mental yang rapuh, atau taktik yang mudah dibaca. Tapi semua itu hanya gejala. Penyakitnya lebih tua, lebih dalam, dan lebih malas untuk diobati: sepak bola di Tuban ini terlalu sering dijalankan dengan cinta, tapi jarang dengan pikiran yang dingin.

Di kota ini, stadion bisa berdiri megah, tapi visi sering kali berjalan pincang. Kita rajin bicara soal kebangkitan, tapi malas mengurus fondasi. Kita bangga menyebut diri tuan rumah, tapi lupa bahwa menjadi tuan rumah tidak otomatis membuat kita jadi tuan di lapangan. Menjadi tuan rumah tanpa kesiapan hanya berarti menyediakan panggung yang bagus untuk orang lain berpesta. Sungguh menggelikan.

Sore itu, Persatu Tuban bermain seperti tim yang takut kalah lebih besar daripada ingin menang sebesar-besarnya. Dan itu selalu menjadi tanda paling jujur dari sebuah klub yang tidak sepenuhnya percaya pada dirinya sendiri. Sepak bola, pada akhirnya, bukan hanya soal kaki dan paru-paru, tapi juga soal isi kepala. Dan kepala Persatu sore itu tampak penuh oleh pikiran-pikiran kecil, seperti jangan salah, jangan blunder, jangan dipermalukan. Tapi hasilnya justru sebaliknya, permainan menjadi kaku, keputusan menjadi terlambat, dan rasa takut menjadi strategi tak tertulis.

Yang lebih menyedihkan, kekalahan ini tidak datang sebagai kecelakaan. Ia datang sebagai kelanjutan yang logis. Menurut saya, melihat cara main Persatu yang amburadul—untuk tidak mengatakan busuk—gagal lolos ke babak 16 besar bukan tragedi, melainkan konsekuensi. Seperti seseorang yang jarang belajar lalu heran kenapa nilainya jelek. Kita boleh marah, boleh kecewa, tapi diam-diam kita tahu, ini hasil yang sudah lama diendapkan oleh cara kerja yang setengah-setengah.

Sepak bola di Tuban selama ini lebih mirip acara seremonial ketimbang proyek jangka panjang. Musim datang, tim dibentuk, harapan digantungkan, lalu ketika semua selesai, kita kembali ke titik nol, seolah tidak ada yang perlu dicatat selain skor terakhir. Pembinaan usia muda terdengar seperti slogan, bukan kerja sunyi yang sabar. Manajemen lebih sering terdengar saat pembukaan, tapi lebih jarang terlihat saat evaluasi.

Dan suporter? Mereka adalah orang-orang paling setia dalam hubungan yang paling tidak adil. Datang, berharap, kecewa, lalu datang lagi. Kesetiaan mereka seperti air sumur yang terus diambil, tapi jarang dipikirkan bagaimana menjaganya tetap ada.

Kekalahan 0–3 ini seperti tamparan sekaligus pernyataan bahwa sepak bola Tuban tidak kekurangan semangat, hanya kekurangan arah. Tidak kekurangan orang yang mau berteriak, tapi kekurangan orang yang mau duduk berlama-lama untuk merancang masa depan.

Masa depan itu, kalau mau jujur, sekarang sedang berdiri di persimpangan yang membosankan. Kita bisa memilih untuk mengulang pola lama: ganti pemain, ganti pelatih, ganti jargon, lalu berharap keajaiban turun dari langit kompetisi. Atau kita bisa mulai melakukan hal yang lebih tidak populer: membangun perlahan, dari bawah, dari hal-hal yang tidak kelihatan di spanduk dan tidak terdengar di pengeras suara.

Tapi membangun selalu butuh kesabaran, dan kesabaran adalah barang langka di tempat yang lebih suka hasil cepat.

Sore itu, orang-orang meninggalkan stadion dengan langkah pelan. Beberapa menghadap manajemen dengan kemaraha yang sangat—seperti unggahan di media sosial. Sepak bola, seperti hidup, kadang tidak memberi kita apa yang kita mau, tapi selalu memberi apa yang pantas kita dapatkan. Dan Persatu Tuban, dengan segala cinta yang mengelilinginya, tampaknya sedang mendapat pelajaran yang pahit bahwa stadion besar tidak pernah cukup untuk menutupi tim yang belum selesai dibangun.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Jawa TimurLiga 4Pasuruan UnitedPersatu TubanSEPAK BOLA
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S. | Ilham – Raras

Next Post

Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co