24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sejauh yang Tak Pernah Ibu Capai | Cerpen Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi by Ni Kadek Putri Santiadi
December 13, 2025
in Cerpen
Sejauh yang Tak Pernah Ibu Capai | Cerpen Putri Santiadi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TAHUN pertamaku di bangku SMA sudah berakhir. Besok, para orang tua akan datang ke sekolah untuk mengambil rapor. Malam itu, aku meminta ibu untuk mengosongkan jadwal kerja.

“Ibu, besok rapor akan dibagikan secara serentak. Ibu bisa datang?” tanyaku pelan di sela makan malam. 

“Iya Naya. Besok pagi Ibu ke sekolah,” jawabnya sambil menyuapkan sisa nasi terakhir di piring.

Ayah hanya mengangguk tanpa niat menimpali. Malam itu, ia tampak sibuk, pandangannya terpaku pada layar ponsel, jemarinya tak berhenti bergerak menanggapi pesan-pesan yang berdatangan. Begitu selesai, ia biasanya pergi entah ke mana, dan baru kembali saat langit sudah kembali biru. Aku tahu, kalau urusan sekolah menuntut kehadiran orang tua, hanya ibu yang bisa aku andalkan.

Keesokan harinya.

Namaku dipanggil lantang dari dalam ruangan kelas. “Tanaya Divya!” Suara wali kelasku menggema, membuat ibu segera melangkah masuk dengan wajah penuh harap. Ia menarik kursi di depan meja guru, lalu ibu Pita menyambut dengan senyum tipis dan jabatan tangan yang hangat.

“Bagaimana hasil belajar anak saya, Bu?” tanya ibu dengan suara sedikit bergetar.

Ibu Pita mengangguk pelan sebelum akhirnya berkata, “Selamat! Hasil belajar anak ibu sangat memuaskan. Tanaya sangat pintar, Bu. Ia berhasil memperoleh peringkat satu umum. Sebagai bentuk apresiasi, pihak sekolah memberikan beasiswa.”

Ibu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia masih menggenggam tangan ibu Pita, seakan berita itu terlalu indah untuk dipercaya. Sebelum ibu sempat bicara, guruku kembali menjelaskan, “Tanaya tidak perlu membayar uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) selama enam bulan ke depan. Ini rapor beserta sertifikatnya, Bu. Sampaikan salam saya untuk Tanaya, ya. Saya yakin dia bisa konsisten dalam belajar.” Ia menyerahkan buku rapor dengan lembut ke tangan ibu.

Ibu membuka rapor itu dengan hati-hati, halaman demi halaman seperti lembar emas. Seketika wajahnya berubah cerah dan tersenyum sumringah. “Terima kasih atas bimbingannya, Bu. Tanaya pasti sering merepotkan Ibu,” ucapnya pelan, sebelum benar-benar meninggalkan ruangan kelas. Saking terharunya, pesan singkatku belum dijawab olehnya. Padahal aku sudah mengetik dengan tangan gemetar: “Ibu, bagaimana hasilnya? Aku naik kelas kan?”

Beberapa waktu kemudian, suara motor ibu terdengar begitu jelas. Aku menghampirinya dengan tergesa-gesa. Ibu langsung memelukku kuat-kuat. Air matanya mengalir.

“Ibu…nilaiku buruk ya? Kenapa menangis?” tanyaku panik.

“Tanaya Divya, begitu kata gurumu. Sejak kapan kamu belajar sekeras ini, Naya? Kamu dapat ini.” Ibu menunjukkan sertifikat itu tepat di depan mataku.

Aku terlonjak kaget dan menjerit kecil. “Bu! Aku… aku benarkah ini? Akhirnya, kita tidak perlu khawatir lagi!”

Aku memeluk ibu semakin erat, hingga ia berkata lirih, “Naya…Ibu tidak akan mengulang kesalahan yang dulu, Nak. Bahkan jika beasiswa ini tidak ada, kamu tetap akan melanjutkan sekolah, Naya.”

Aku tidak mengerti maksudnya. Namun, ibu mulai bercerita tentang masa mudanya bertahun-tahun yang lalu.

…….

Namaku Sukrina, begitu ibu memulai kisahnya. Tinggal menghitung hari menjelang kelulusan SMP, aku selalu berdiskusi dengan bapak mengenai sekolah impianku. Duduk di bangku SMA bagi anak perempuan kala itu terasa mustahil, tapi aku tetap bersikeras.

Sepulang sekolah, aku menghampiri bapak yang tengah sibuk mengikat kayu bakar di ladang belakang rumah. Aku berbicara dengan pelan, “Pak, sudah kupikirkan. Aku ingin sekolah di SMA Eka Pratama.”

“Tidak. Bapak hanya ingin kamu sekolah di SMA Jangala!”

“Tapi…prestasiku yang gemilang tidak akan berkembang di sana. Aku juga ingin berada di sekolah favorit seperti kakak. Kenapa kakak diberikan izin, Pak?” tanyaku dengan nada sedikit keras.

Krak…Krak…

Kayu digenggamannya jatuh berserakan. Ia semakin meninggikan suara, membuatku tak kuasa menahan tangis.

“Dia laki-laki. Kamu perempuan. Sudah jelas berbeda, sekolah jauh-jauh akan membuatmu susah, Sukrina!”

“Tapi…”

“Sudah! Beradu denganmu tak akan pernah selesai. Cepat pulang, sudah sandikala. Ibu akan semakin marah jika melihat tungku kosong.”

Aku berlari pulang, sesekali menyeka air mata yang menetes di pipi. Setibanya di rumah, kulihat ibu sudah sibuk di dapur. Langkahku terasa semakin berat, dan suaraku bergetar saat memanggil, “Ibu…aku baru selesai membantu bapak di ladang.”

Praang…..

Wajan melayang tepat di hadapanku. Segala umpatan keluar dari mulutnya, tak terkendali. Adegan ini sudah sering kujalani. Setiap kali ia marah, rasanya aku selalu tak punya pilihan. Sekadar bermain dan bergurau dengan teman pun terasa mustahil.

Ibuku bekerja dari pagi hingga sore. Ia mengantar kayu bakar sampai jauh dari kota kami. Ikut bersama orang-orang, mengendarai mobil kol atau truk, mengangkat kayu ke bak, lalu menurunkannya lagi. Kadang ia pulang larut malam jika mengantar pesanan terlalu jauh. Tak jarang, ia juga ikut membelah gelondongan kayu yang besar dan kuat. Aku pernah ikut menemaninya, tapi di pertengahan jalan aku sudah tak sanggup melanjutkan. Sementara ibu, aku melihatnya masih bisa tertawa bersama teman-temannya di antara tumpukan kayu bakar itu.

Dengan cepat aku menunda amarahnya, “Ibu, aku akan memasak.”

Ia berlalu meninggalkan dapur yang berantakan. Aku menarik napas lega, lalu menyiapkan makan malam untuk kami. Wajan kunaikan ke kompor, memotong sayur-sayuran yang ku bawa dari ladang, dan menggoreng telur. Hanya masakan sederhana dengan nasi bercampur jagung, kesukaan ibu. Ketika semua siap, aku memanggil, “Ibu! Ayo makan. Bapak dan kakak juga sudah datang dari ladang.”

Kami makan bersama sebelum kembali ke pekerjaan masing-masing.

Beberapa waktu kemudian, aku kembali memikirkan cara untuk membujuk bapak. Aku membiarkannya merebahkan diri dan membersihkan tubuh terlebih dahulu, agar pikirannya lebih tenang. Keputusanku sudah bulat, aku tak akan mengikuti perintah bapak.

…….

Malam itu, aku menghampiri bapak dan kakak yang tengah sibuk memperbaiki motor Astrea mereka di teras rumah. “Pak…” suaraku terhenti di tenggorokan.

“Sudahlah, Dik, jangan keras kepala! Bapak hanya ingin kau sekolah, itu sudah bagus. Ikut saja pilihan bapak, toh juga sama-sama sekolah namanya.”

“Kak, sekolah pilihanku lebih bagus. Murid-muridnya pintar, aku yakin bisa lebih berkembang dibandingkan di sekolah pilihan Bapak, yang isinya anak-anak…..”

 “Cukup! Lebih baik kau tidak sekolah saja, belajar di rumah, atau membantu ibu di dapur.” Untuk pertama kalinya, aku mendengar kakak berteriak, sambil menunjuk dengan tegas.

“Kenapa kakak boleh sekolah di sana, sedangkan aku tidak?” Suaraku gemetar karena menahan tangis yang hampir pecah.

“Ya sudah kalau itu maumu….” Bapak mulai bersuara parau, tapi aku tak bisa menahan semangatku. “Aku sekolah ya, Pak,” suaraku terdengar semakin melemah.

“Tidak! Kau tak perlu sekolah!” Kalimat itu keluar begitu ringan, menghancurkan semangat yang membara beberapa detik lalu.

“Sekolah itu hanya angan-angan, Nak.” Bapak melanjutkan ucapan yang sebelumnya tertahan. Ia mengelus pundakku dengan lembut, kemudian aku ditinggalkan seorang diri dengan perasaan berkecamuk. Ibu juga tak akan bisa membantuku, ucapan bapak adalah perintah baginya.

Bapak benar-benar tidak pernah sekalipun mendatangi sekolah pilihanku, hingga tahun ajaran baru dimulai.

……

Aku mengusap pipi ibu yang basah ketika cerita selesai.

“Naya….Ibu cerita ini supaya kamu semakin semangat belajarnya.”

Hanya anggukan yang bisa kuberikan. Aku menahan agar tak menangis lebih keras dari tangis ibu. Meski begitu, aku berjanji akan selalu melanjutkan mimpi-mimpi ibu, walau ia sendiri berkata tak memiliki cita-cita besar, hanya ingin merasakan bangku SMA. Usianya yang sudah rentan hanya bisa mengambil paket C, itu pun jika ibu mau. Namun, kini ia hanya ingin aku tak menyesali pilihanku dan memanfaatkan setiap waktu belajar di sekolah.

“Naya, setelah penolakan itu, ibu tak punya pilihan lain selain bekerja. Kakek ingin ibu menikah dengan kerabat dekatnya, tapi ibu menolak. Hingga akhirnya, ibu bertemu dengan ayahmu dan memutuskan melarikan diri. Kakek dan nenekmu bukan orang jahat, hanya saja mereka ingin ibu tak pernah jauh, karena ibu seorang perempuan. Mereka memberikan pilihan yang tak pernah ibu sukai, agar Ibu tetap dekat dengan mereka.” Begitulah penjelasan ibu sebelum ia bersiap untuk kerja.

Sejenak, kami terdiam. Ibu menatap sertifikat di tanganku, lalu tersenyum. Senyum yang penuh luka sekaligus harapan baru. Pada akhirnya, Ibu terpaksa menerima nasibnya, dan meninggalkan bangku sekolah saat teman-temannya masih sibuk menulis mimpi di buku catatan mereka.

“Naya, kamu berbeda dari ibu. Kamu punya kesempatan yang tidak sempat ibu genggam. Jangan lepaskan itu, Nak.”

Aku memeluk ibu erat-erat.

“Ibu…..mulai hari ini, aku belajar bukan hanya untuk diriku, tapi juga untuk mimpi yang ibu kubur dulu.”

Ibu mengusap rambutku lembut dan perlahan mencium keningku. “Kalau begitu, terbanglah sejauh yang kamu mau. Ibu akan selalu ada di sini.”

Aku merasa mimpi itu bukan lagi milikku seorang. Itu adalah mimpi dua perempuan, yang satu pernah direnggut haknya, dan satu lagi sedang tumbuh untuk membawanya terbang. Dan pagi itu, aku telah berjanji dalam hati: Aku akan memilih jalanku sendiri, karena ibu tak pernah bisa memilih jalannya dahulu. [T]

Penulis: Putri Santiadi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Beri Aku Waktu Ibu

Next Post

Tipat Tahu dan Mikrokosmos Gianyar

Ni Kadek Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Tipat Tahu dan Mikrokosmos Gianyar

Tipat Tahu dan Mikrokosmos Gianyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co