3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sejauh yang Tak Pernah Ibu Capai | Cerpen Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi by Ni Kadek Putri Santiadi
December 13, 2025
in Cerpen
Sejauh yang Tak Pernah Ibu Capai | Cerpen Putri Santiadi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TAHUN pertamaku di bangku SMA sudah berakhir. Besok, para orang tua akan datang ke sekolah untuk mengambil rapor. Malam itu, aku meminta ibu untuk mengosongkan jadwal kerja.

“Ibu, besok rapor akan dibagikan secara serentak. Ibu bisa datang?” tanyaku pelan di sela makan malam. 

“Iya Naya. Besok pagi Ibu ke sekolah,” jawabnya sambil menyuapkan sisa nasi terakhir di piring.

Ayah hanya mengangguk tanpa niat menimpali. Malam itu, ia tampak sibuk, pandangannya terpaku pada layar ponsel, jemarinya tak berhenti bergerak menanggapi pesan-pesan yang berdatangan. Begitu selesai, ia biasanya pergi entah ke mana, dan baru kembali saat langit sudah kembali biru. Aku tahu, kalau urusan sekolah menuntut kehadiran orang tua, hanya ibu yang bisa aku andalkan.

Keesokan harinya.

Namaku dipanggil lantang dari dalam ruangan kelas. “Tanaya Divya!” Suara wali kelasku menggema, membuat ibu segera melangkah masuk dengan wajah penuh harap. Ia menarik kursi di depan meja guru, lalu ibu Pita menyambut dengan senyum tipis dan jabatan tangan yang hangat.

“Bagaimana hasil belajar anak saya, Bu?” tanya ibu dengan suara sedikit bergetar.

Ibu Pita mengangguk pelan sebelum akhirnya berkata, “Selamat! Hasil belajar anak ibu sangat memuaskan. Tanaya sangat pintar, Bu. Ia berhasil memperoleh peringkat satu umum. Sebagai bentuk apresiasi, pihak sekolah memberikan beasiswa.”

Ibu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia masih menggenggam tangan ibu Pita, seakan berita itu terlalu indah untuk dipercaya. Sebelum ibu sempat bicara, guruku kembali menjelaskan, “Tanaya tidak perlu membayar uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) selama enam bulan ke depan. Ini rapor beserta sertifikatnya, Bu. Sampaikan salam saya untuk Tanaya, ya. Saya yakin dia bisa konsisten dalam belajar.” Ia menyerahkan buku rapor dengan lembut ke tangan ibu.

Ibu membuka rapor itu dengan hati-hati, halaman demi halaman seperti lembar emas. Seketika wajahnya berubah cerah dan tersenyum sumringah. “Terima kasih atas bimbingannya, Bu. Tanaya pasti sering merepotkan Ibu,” ucapnya pelan, sebelum benar-benar meninggalkan ruangan kelas. Saking terharunya, pesan singkatku belum dijawab olehnya. Padahal aku sudah mengetik dengan tangan gemetar: “Ibu, bagaimana hasilnya? Aku naik kelas kan?”

Beberapa waktu kemudian, suara motor ibu terdengar begitu jelas. Aku menghampirinya dengan tergesa-gesa. Ibu langsung memelukku kuat-kuat. Air matanya mengalir.

“Ibu…nilaiku buruk ya? Kenapa menangis?” tanyaku panik.

“Tanaya Divya, begitu kata gurumu. Sejak kapan kamu belajar sekeras ini, Naya? Kamu dapat ini.” Ibu menunjukkan sertifikat itu tepat di depan mataku.

Aku terlonjak kaget dan menjerit kecil. “Bu! Aku… aku benarkah ini? Akhirnya, kita tidak perlu khawatir lagi!”

Aku memeluk ibu semakin erat, hingga ia berkata lirih, “Naya…Ibu tidak akan mengulang kesalahan yang dulu, Nak. Bahkan jika beasiswa ini tidak ada, kamu tetap akan melanjutkan sekolah, Naya.”

Aku tidak mengerti maksudnya. Namun, ibu mulai bercerita tentang masa mudanya bertahun-tahun yang lalu.

…….

Namaku Sukrina, begitu ibu memulai kisahnya. Tinggal menghitung hari menjelang kelulusan SMP, aku selalu berdiskusi dengan bapak mengenai sekolah impianku. Duduk di bangku SMA bagi anak perempuan kala itu terasa mustahil, tapi aku tetap bersikeras.

Sepulang sekolah, aku menghampiri bapak yang tengah sibuk mengikat kayu bakar di ladang belakang rumah. Aku berbicara dengan pelan, “Pak, sudah kupikirkan. Aku ingin sekolah di SMA Eka Pratama.”

“Tidak. Bapak hanya ingin kamu sekolah di SMA Jangala!”

“Tapi…prestasiku yang gemilang tidak akan berkembang di sana. Aku juga ingin berada di sekolah favorit seperti kakak. Kenapa kakak diberikan izin, Pak?” tanyaku dengan nada sedikit keras.

Krak…Krak…

Kayu digenggamannya jatuh berserakan. Ia semakin meninggikan suara, membuatku tak kuasa menahan tangis.

“Dia laki-laki. Kamu perempuan. Sudah jelas berbeda, sekolah jauh-jauh akan membuatmu susah, Sukrina!”

“Tapi…”

“Sudah! Beradu denganmu tak akan pernah selesai. Cepat pulang, sudah sandikala. Ibu akan semakin marah jika melihat tungku kosong.”

Aku berlari pulang, sesekali menyeka air mata yang menetes di pipi. Setibanya di rumah, kulihat ibu sudah sibuk di dapur. Langkahku terasa semakin berat, dan suaraku bergetar saat memanggil, “Ibu…aku baru selesai membantu bapak di ladang.”

Praang…..

Wajan melayang tepat di hadapanku. Segala umpatan keluar dari mulutnya, tak terkendali. Adegan ini sudah sering kujalani. Setiap kali ia marah, rasanya aku selalu tak punya pilihan. Sekadar bermain dan bergurau dengan teman pun terasa mustahil.

Ibuku bekerja dari pagi hingga sore. Ia mengantar kayu bakar sampai jauh dari kota kami. Ikut bersama orang-orang, mengendarai mobil kol atau truk, mengangkat kayu ke bak, lalu menurunkannya lagi. Kadang ia pulang larut malam jika mengantar pesanan terlalu jauh. Tak jarang, ia juga ikut membelah gelondongan kayu yang besar dan kuat. Aku pernah ikut menemaninya, tapi di pertengahan jalan aku sudah tak sanggup melanjutkan. Sementara ibu, aku melihatnya masih bisa tertawa bersama teman-temannya di antara tumpukan kayu bakar itu.

Dengan cepat aku menunda amarahnya, “Ibu, aku akan memasak.”

Ia berlalu meninggalkan dapur yang berantakan. Aku menarik napas lega, lalu menyiapkan makan malam untuk kami. Wajan kunaikan ke kompor, memotong sayur-sayuran yang ku bawa dari ladang, dan menggoreng telur. Hanya masakan sederhana dengan nasi bercampur jagung, kesukaan ibu. Ketika semua siap, aku memanggil, “Ibu! Ayo makan. Bapak dan kakak juga sudah datang dari ladang.”

Kami makan bersama sebelum kembali ke pekerjaan masing-masing.

Beberapa waktu kemudian, aku kembali memikirkan cara untuk membujuk bapak. Aku membiarkannya merebahkan diri dan membersihkan tubuh terlebih dahulu, agar pikirannya lebih tenang. Keputusanku sudah bulat, aku tak akan mengikuti perintah bapak.

…….

Malam itu, aku menghampiri bapak dan kakak yang tengah sibuk memperbaiki motor Astrea mereka di teras rumah. “Pak…” suaraku terhenti di tenggorokan.

“Sudahlah, Dik, jangan keras kepala! Bapak hanya ingin kau sekolah, itu sudah bagus. Ikut saja pilihan bapak, toh juga sama-sama sekolah namanya.”

“Kak, sekolah pilihanku lebih bagus. Murid-muridnya pintar, aku yakin bisa lebih berkembang dibandingkan di sekolah pilihan Bapak, yang isinya anak-anak…..”

 “Cukup! Lebih baik kau tidak sekolah saja, belajar di rumah, atau membantu ibu di dapur.” Untuk pertama kalinya, aku mendengar kakak berteriak, sambil menunjuk dengan tegas.

“Kenapa kakak boleh sekolah di sana, sedangkan aku tidak?” Suaraku gemetar karena menahan tangis yang hampir pecah.

“Ya sudah kalau itu maumu….” Bapak mulai bersuara parau, tapi aku tak bisa menahan semangatku. “Aku sekolah ya, Pak,” suaraku terdengar semakin melemah.

“Tidak! Kau tak perlu sekolah!” Kalimat itu keluar begitu ringan, menghancurkan semangat yang membara beberapa detik lalu.

“Sekolah itu hanya angan-angan, Nak.” Bapak melanjutkan ucapan yang sebelumnya tertahan. Ia mengelus pundakku dengan lembut, kemudian aku ditinggalkan seorang diri dengan perasaan berkecamuk. Ibu juga tak akan bisa membantuku, ucapan bapak adalah perintah baginya.

Bapak benar-benar tidak pernah sekalipun mendatangi sekolah pilihanku, hingga tahun ajaran baru dimulai.

……

Aku mengusap pipi ibu yang basah ketika cerita selesai.

“Naya….Ibu cerita ini supaya kamu semakin semangat belajarnya.”

Hanya anggukan yang bisa kuberikan. Aku menahan agar tak menangis lebih keras dari tangis ibu. Meski begitu, aku berjanji akan selalu melanjutkan mimpi-mimpi ibu, walau ia sendiri berkata tak memiliki cita-cita besar, hanya ingin merasakan bangku SMA. Usianya yang sudah rentan hanya bisa mengambil paket C, itu pun jika ibu mau. Namun, kini ia hanya ingin aku tak menyesali pilihanku dan memanfaatkan setiap waktu belajar di sekolah.

“Naya, setelah penolakan itu, ibu tak punya pilihan lain selain bekerja. Kakek ingin ibu menikah dengan kerabat dekatnya, tapi ibu menolak. Hingga akhirnya, ibu bertemu dengan ayahmu dan memutuskan melarikan diri. Kakek dan nenekmu bukan orang jahat, hanya saja mereka ingin ibu tak pernah jauh, karena ibu seorang perempuan. Mereka memberikan pilihan yang tak pernah ibu sukai, agar Ibu tetap dekat dengan mereka.” Begitulah penjelasan ibu sebelum ia bersiap untuk kerja.

Sejenak, kami terdiam. Ibu menatap sertifikat di tanganku, lalu tersenyum. Senyum yang penuh luka sekaligus harapan baru. Pada akhirnya, Ibu terpaksa menerima nasibnya, dan meninggalkan bangku sekolah saat teman-temannya masih sibuk menulis mimpi di buku catatan mereka.

“Naya, kamu berbeda dari ibu. Kamu punya kesempatan yang tidak sempat ibu genggam. Jangan lepaskan itu, Nak.”

Aku memeluk ibu erat-erat.

“Ibu…..mulai hari ini, aku belajar bukan hanya untuk diriku, tapi juga untuk mimpi yang ibu kubur dulu.”

Ibu mengusap rambutku lembut dan perlahan mencium keningku. “Kalau begitu, terbanglah sejauh yang kamu mau. Ibu akan selalu ada di sini.”

Aku merasa mimpi itu bukan lagi milikku seorang. Itu adalah mimpi dua perempuan, yang satu pernah direnggut haknya, dan satu lagi sedang tumbuh untuk membawanya terbang. Dan pagi itu, aku telah berjanji dalam hati: Aku akan memilih jalanku sendiri, karena ibu tak pernah bisa memilih jalannya dahulu. [T]

Penulis: Putri Santiadi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Beri Aku Waktu Ibu

Next Post

Tipat Tahu dan Mikrokosmos Gianyar

Ni Kadek Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Tipat Tahu dan Mikrokosmos Gianyar

Tipat Tahu dan Mikrokosmos Gianyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co