3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sejauh yang Tak Pernah Ibu Capai | Cerpen Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi by Ni Kadek Putri Santiadi
December 13, 2025
in Cerpen
Sejauh yang Tak Pernah Ibu Capai | Cerpen Putri Santiadi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TAHUN pertamaku di bangku SMA sudah berakhir. Besok, para orang tua akan datang ke sekolah untuk mengambil rapor. Malam itu, aku meminta ibu untuk mengosongkan jadwal kerja.

“Ibu, besok rapor akan dibagikan secara serentak. Ibu bisa datang?” tanyaku pelan di sela makan malam. 

“Iya Naya. Besok pagi Ibu ke sekolah,” jawabnya sambil menyuapkan sisa nasi terakhir di piring.

Ayah hanya mengangguk tanpa niat menimpali. Malam itu, ia tampak sibuk, pandangannya terpaku pada layar ponsel, jemarinya tak berhenti bergerak menanggapi pesan-pesan yang berdatangan. Begitu selesai, ia biasanya pergi entah ke mana, dan baru kembali saat langit sudah kembali biru. Aku tahu, kalau urusan sekolah menuntut kehadiran orang tua, hanya ibu yang bisa aku andalkan.

Keesokan harinya.

Namaku dipanggil lantang dari dalam ruangan kelas. “Tanaya Divya!” Suara wali kelasku menggema, membuat ibu segera melangkah masuk dengan wajah penuh harap. Ia menarik kursi di depan meja guru, lalu ibu Pita menyambut dengan senyum tipis dan jabatan tangan yang hangat.

“Bagaimana hasil belajar anak saya, Bu?” tanya ibu dengan suara sedikit bergetar.

Ibu Pita mengangguk pelan sebelum akhirnya berkata, “Selamat! Hasil belajar anak ibu sangat memuaskan. Tanaya sangat pintar, Bu. Ia berhasil memperoleh peringkat satu umum. Sebagai bentuk apresiasi, pihak sekolah memberikan beasiswa.”

Ibu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia masih menggenggam tangan ibu Pita, seakan berita itu terlalu indah untuk dipercaya. Sebelum ibu sempat bicara, guruku kembali menjelaskan, “Tanaya tidak perlu membayar uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) selama enam bulan ke depan. Ini rapor beserta sertifikatnya, Bu. Sampaikan salam saya untuk Tanaya, ya. Saya yakin dia bisa konsisten dalam belajar.” Ia menyerahkan buku rapor dengan lembut ke tangan ibu.

Ibu membuka rapor itu dengan hati-hati, halaman demi halaman seperti lembar emas. Seketika wajahnya berubah cerah dan tersenyum sumringah. “Terima kasih atas bimbingannya, Bu. Tanaya pasti sering merepotkan Ibu,” ucapnya pelan, sebelum benar-benar meninggalkan ruangan kelas. Saking terharunya, pesan singkatku belum dijawab olehnya. Padahal aku sudah mengetik dengan tangan gemetar: “Ibu, bagaimana hasilnya? Aku naik kelas kan?”

Beberapa waktu kemudian, suara motor ibu terdengar begitu jelas. Aku menghampirinya dengan tergesa-gesa. Ibu langsung memelukku kuat-kuat. Air matanya mengalir.

“Ibu…nilaiku buruk ya? Kenapa menangis?” tanyaku panik.

“Tanaya Divya, begitu kata gurumu. Sejak kapan kamu belajar sekeras ini, Naya? Kamu dapat ini.” Ibu menunjukkan sertifikat itu tepat di depan mataku.

Aku terlonjak kaget dan menjerit kecil. “Bu! Aku… aku benarkah ini? Akhirnya, kita tidak perlu khawatir lagi!”

Aku memeluk ibu semakin erat, hingga ia berkata lirih, “Naya…Ibu tidak akan mengulang kesalahan yang dulu, Nak. Bahkan jika beasiswa ini tidak ada, kamu tetap akan melanjutkan sekolah, Naya.”

Aku tidak mengerti maksudnya. Namun, ibu mulai bercerita tentang masa mudanya bertahun-tahun yang lalu.

…….

Namaku Sukrina, begitu ibu memulai kisahnya. Tinggal menghitung hari menjelang kelulusan SMP, aku selalu berdiskusi dengan bapak mengenai sekolah impianku. Duduk di bangku SMA bagi anak perempuan kala itu terasa mustahil, tapi aku tetap bersikeras.

Sepulang sekolah, aku menghampiri bapak yang tengah sibuk mengikat kayu bakar di ladang belakang rumah. Aku berbicara dengan pelan, “Pak, sudah kupikirkan. Aku ingin sekolah di SMA Eka Pratama.”

“Tidak. Bapak hanya ingin kamu sekolah di SMA Jangala!”

“Tapi…prestasiku yang gemilang tidak akan berkembang di sana. Aku juga ingin berada di sekolah favorit seperti kakak. Kenapa kakak diberikan izin, Pak?” tanyaku dengan nada sedikit keras.

Krak…Krak…

Kayu digenggamannya jatuh berserakan. Ia semakin meninggikan suara, membuatku tak kuasa menahan tangis.

“Dia laki-laki. Kamu perempuan. Sudah jelas berbeda, sekolah jauh-jauh akan membuatmu susah, Sukrina!”

“Tapi…”

“Sudah! Beradu denganmu tak akan pernah selesai. Cepat pulang, sudah sandikala. Ibu akan semakin marah jika melihat tungku kosong.”

Aku berlari pulang, sesekali menyeka air mata yang menetes di pipi. Setibanya di rumah, kulihat ibu sudah sibuk di dapur. Langkahku terasa semakin berat, dan suaraku bergetar saat memanggil, “Ibu…aku baru selesai membantu bapak di ladang.”

Praang…..

Wajan melayang tepat di hadapanku. Segala umpatan keluar dari mulutnya, tak terkendali. Adegan ini sudah sering kujalani. Setiap kali ia marah, rasanya aku selalu tak punya pilihan. Sekadar bermain dan bergurau dengan teman pun terasa mustahil.

Ibuku bekerja dari pagi hingga sore. Ia mengantar kayu bakar sampai jauh dari kota kami. Ikut bersama orang-orang, mengendarai mobil kol atau truk, mengangkat kayu ke bak, lalu menurunkannya lagi. Kadang ia pulang larut malam jika mengantar pesanan terlalu jauh. Tak jarang, ia juga ikut membelah gelondongan kayu yang besar dan kuat. Aku pernah ikut menemaninya, tapi di pertengahan jalan aku sudah tak sanggup melanjutkan. Sementara ibu, aku melihatnya masih bisa tertawa bersama teman-temannya di antara tumpukan kayu bakar itu.

Dengan cepat aku menunda amarahnya, “Ibu, aku akan memasak.”

Ia berlalu meninggalkan dapur yang berantakan. Aku menarik napas lega, lalu menyiapkan makan malam untuk kami. Wajan kunaikan ke kompor, memotong sayur-sayuran yang ku bawa dari ladang, dan menggoreng telur. Hanya masakan sederhana dengan nasi bercampur jagung, kesukaan ibu. Ketika semua siap, aku memanggil, “Ibu! Ayo makan. Bapak dan kakak juga sudah datang dari ladang.”

Kami makan bersama sebelum kembali ke pekerjaan masing-masing.

Beberapa waktu kemudian, aku kembali memikirkan cara untuk membujuk bapak. Aku membiarkannya merebahkan diri dan membersihkan tubuh terlebih dahulu, agar pikirannya lebih tenang. Keputusanku sudah bulat, aku tak akan mengikuti perintah bapak.

…….

Malam itu, aku menghampiri bapak dan kakak yang tengah sibuk memperbaiki motor Astrea mereka di teras rumah. “Pak…” suaraku terhenti di tenggorokan.

“Sudahlah, Dik, jangan keras kepala! Bapak hanya ingin kau sekolah, itu sudah bagus. Ikut saja pilihan bapak, toh juga sama-sama sekolah namanya.”

“Kak, sekolah pilihanku lebih bagus. Murid-muridnya pintar, aku yakin bisa lebih berkembang dibandingkan di sekolah pilihan Bapak, yang isinya anak-anak…..”

 “Cukup! Lebih baik kau tidak sekolah saja, belajar di rumah, atau membantu ibu di dapur.” Untuk pertama kalinya, aku mendengar kakak berteriak, sambil menunjuk dengan tegas.

“Kenapa kakak boleh sekolah di sana, sedangkan aku tidak?” Suaraku gemetar karena menahan tangis yang hampir pecah.

“Ya sudah kalau itu maumu….” Bapak mulai bersuara parau, tapi aku tak bisa menahan semangatku. “Aku sekolah ya, Pak,” suaraku terdengar semakin melemah.

“Tidak! Kau tak perlu sekolah!” Kalimat itu keluar begitu ringan, menghancurkan semangat yang membara beberapa detik lalu.

“Sekolah itu hanya angan-angan, Nak.” Bapak melanjutkan ucapan yang sebelumnya tertahan. Ia mengelus pundakku dengan lembut, kemudian aku ditinggalkan seorang diri dengan perasaan berkecamuk. Ibu juga tak akan bisa membantuku, ucapan bapak adalah perintah baginya.

Bapak benar-benar tidak pernah sekalipun mendatangi sekolah pilihanku, hingga tahun ajaran baru dimulai.

……

Aku mengusap pipi ibu yang basah ketika cerita selesai.

“Naya….Ibu cerita ini supaya kamu semakin semangat belajarnya.”

Hanya anggukan yang bisa kuberikan. Aku menahan agar tak menangis lebih keras dari tangis ibu. Meski begitu, aku berjanji akan selalu melanjutkan mimpi-mimpi ibu, walau ia sendiri berkata tak memiliki cita-cita besar, hanya ingin merasakan bangku SMA. Usianya yang sudah rentan hanya bisa mengambil paket C, itu pun jika ibu mau. Namun, kini ia hanya ingin aku tak menyesali pilihanku dan memanfaatkan setiap waktu belajar di sekolah.

“Naya, setelah penolakan itu, ibu tak punya pilihan lain selain bekerja. Kakek ingin ibu menikah dengan kerabat dekatnya, tapi ibu menolak. Hingga akhirnya, ibu bertemu dengan ayahmu dan memutuskan melarikan diri. Kakek dan nenekmu bukan orang jahat, hanya saja mereka ingin ibu tak pernah jauh, karena ibu seorang perempuan. Mereka memberikan pilihan yang tak pernah ibu sukai, agar Ibu tetap dekat dengan mereka.” Begitulah penjelasan ibu sebelum ia bersiap untuk kerja.

Sejenak, kami terdiam. Ibu menatap sertifikat di tanganku, lalu tersenyum. Senyum yang penuh luka sekaligus harapan baru. Pada akhirnya, Ibu terpaksa menerima nasibnya, dan meninggalkan bangku sekolah saat teman-temannya masih sibuk menulis mimpi di buku catatan mereka.

“Naya, kamu berbeda dari ibu. Kamu punya kesempatan yang tidak sempat ibu genggam. Jangan lepaskan itu, Nak.”

Aku memeluk ibu erat-erat.

“Ibu…..mulai hari ini, aku belajar bukan hanya untuk diriku, tapi juga untuk mimpi yang ibu kubur dulu.”

Ibu mengusap rambutku lembut dan perlahan mencium keningku. “Kalau begitu, terbanglah sejauh yang kamu mau. Ibu akan selalu ada di sini.”

Aku merasa mimpi itu bukan lagi milikku seorang. Itu adalah mimpi dua perempuan, yang satu pernah direnggut haknya, dan satu lagi sedang tumbuh untuk membawanya terbang. Dan pagi itu, aku telah berjanji dalam hati: Aku akan memilih jalanku sendiri, karena ibu tak pernah bisa memilih jalannya dahulu. [T]

Penulis: Putri Santiadi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Beri Aku Waktu Ibu

Next Post

Tipat Tahu dan Mikrokosmos Gianyar

Ni Kadek Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Tipat Tahu dan Mikrokosmos Gianyar

Tipat Tahu dan Mikrokosmos Gianyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co