14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sejauh yang Tak Pernah Ibu Capai | Cerpen Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi by Ni Kadek Putri Santiadi
December 13, 2025
in Cerpen
Sejauh yang Tak Pernah Ibu Capai | Cerpen Putri Santiadi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TAHUN pertamaku di bangku SMA sudah berakhir. Besok, para orang tua akan datang ke sekolah untuk mengambil rapor. Malam itu, aku meminta ibu untuk mengosongkan jadwal kerja.

“Ibu, besok rapor akan dibagikan secara serentak. Ibu bisa datang?” tanyaku pelan di sela makan malam. 

“Iya Naya. Besok pagi Ibu ke sekolah,” jawabnya sambil menyuapkan sisa nasi terakhir di piring.

Ayah hanya mengangguk tanpa niat menimpali. Malam itu, ia tampak sibuk, pandangannya terpaku pada layar ponsel, jemarinya tak berhenti bergerak menanggapi pesan-pesan yang berdatangan. Begitu selesai, ia biasanya pergi entah ke mana, dan baru kembali saat langit sudah kembali biru. Aku tahu, kalau urusan sekolah menuntut kehadiran orang tua, hanya ibu yang bisa aku andalkan.

Keesokan harinya.

Namaku dipanggil lantang dari dalam ruangan kelas. “Tanaya Divya!” Suara wali kelasku menggema, membuat ibu segera melangkah masuk dengan wajah penuh harap. Ia menarik kursi di depan meja guru, lalu ibu Pita menyambut dengan senyum tipis dan jabatan tangan yang hangat.

“Bagaimana hasil belajar anak saya, Bu?” tanya ibu dengan suara sedikit bergetar.

Ibu Pita mengangguk pelan sebelum akhirnya berkata, “Selamat! Hasil belajar anak ibu sangat memuaskan. Tanaya sangat pintar, Bu. Ia berhasil memperoleh peringkat satu umum. Sebagai bentuk apresiasi, pihak sekolah memberikan beasiswa.”

Ibu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia masih menggenggam tangan ibu Pita, seakan berita itu terlalu indah untuk dipercaya. Sebelum ibu sempat bicara, guruku kembali menjelaskan, “Tanaya tidak perlu membayar uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) selama enam bulan ke depan. Ini rapor beserta sertifikatnya, Bu. Sampaikan salam saya untuk Tanaya, ya. Saya yakin dia bisa konsisten dalam belajar.” Ia menyerahkan buku rapor dengan lembut ke tangan ibu.

Ibu membuka rapor itu dengan hati-hati, halaman demi halaman seperti lembar emas. Seketika wajahnya berubah cerah dan tersenyum sumringah. “Terima kasih atas bimbingannya, Bu. Tanaya pasti sering merepotkan Ibu,” ucapnya pelan, sebelum benar-benar meninggalkan ruangan kelas. Saking terharunya, pesan singkatku belum dijawab olehnya. Padahal aku sudah mengetik dengan tangan gemetar: “Ibu, bagaimana hasilnya? Aku naik kelas kan?”

Beberapa waktu kemudian, suara motor ibu terdengar begitu jelas. Aku menghampirinya dengan tergesa-gesa. Ibu langsung memelukku kuat-kuat. Air matanya mengalir.

“Ibu…nilaiku buruk ya? Kenapa menangis?” tanyaku panik.

“Tanaya Divya, begitu kata gurumu. Sejak kapan kamu belajar sekeras ini, Naya? Kamu dapat ini.” Ibu menunjukkan sertifikat itu tepat di depan mataku.

Aku terlonjak kaget dan menjerit kecil. “Bu! Aku… aku benarkah ini? Akhirnya, kita tidak perlu khawatir lagi!”

Aku memeluk ibu semakin erat, hingga ia berkata lirih, “Naya…Ibu tidak akan mengulang kesalahan yang dulu, Nak. Bahkan jika beasiswa ini tidak ada, kamu tetap akan melanjutkan sekolah, Naya.”

Aku tidak mengerti maksudnya. Namun, ibu mulai bercerita tentang masa mudanya bertahun-tahun yang lalu.

…….

Namaku Sukrina, begitu ibu memulai kisahnya. Tinggal menghitung hari menjelang kelulusan SMP, aku selalu berdiskusi dengan bapak mengenai sekolah impianku. Duduk di bangku SMA bagi anak perempuan kala itu terasa mustahil, tapi aku tetap bersikeras.

Sepulang sekolah, aku menghampiri bapak yang tengah sibuk mengikat kayu bakar di ladang belakang rumah. Aku berbicara dengan pelan, “Pak, sudah kupikirkan. Aku ingin sekolah di SMA Eka Pratama.”

“Tidak. Bapak hanya ingin kamu sekolah di SMA Jangala!”

“Tapi…prestasiku yang gemilang tidak akan berkembang di sana. Aku juga ingin berada di sekolah favorit seperti kakak. Kenapa kakak diberikan izin, Pak?” tanyaku dengan nada sedikit keras.

Krak…Krak…

Kayu digenggamannya jatuh berserakan. Ia semakin meninggikan suara, membuatku tak kuasa menahan tangis.

“Dia laki-laki. Kamu perempuan. Sudah jelas berbeda, sekolah jauh-jauh akan membuatmu susah, Sukrina!”

“Tapi…”

“Sudah! Beradu denganmu tak akan pernah selesai. Cepat pulang, sudah sandikala. Ibu akan semakin marah jika melihat tungku kosong.”

Aku berlari pulang, sesekali menyeka air mata yang menetes di pipi. Setibanya di rumah, kulihat ibu sudah sibuk di dapur. Langkahku terasa semakin berat, dan suaraku bergetar saat memanggil, “Ibu…aku baru selesai membantu bapak di ladang.”

Praang…..

Wajan melayang tepat di hadapanku. Segala umpatan keluar dari mulutnya, tak terkendali. Adegan ini sudah sering kujalani. Setiap kali ia marah, rasanya aku selalu tak punya pilihan. Sekadar bermain dan bergurau dengan teman pun terasa mustahil.

Ibuku bekerja dari pagi hingga sore. Ia mengantar kayu bakar sampai jauh dari kota kami. Ikut bersama orang-orang, mengendarai mobil kol atau truk, mengangkat kayu ke bak, lalu menurunkannya lagi. Kadang ia pulang larut malam jika mengantar pesanan terlalu jauh. Tak jarang, ia juga ikut membelah gelondongan kayu yang besar dan kuat. Aku pernah ikut menemaninya, tapi di pertengahan jalan aku sudah tak sanggup melanjutkan. Sementara ibu, aku melihatnya masih bisa tertawa bersama teman-temannya di antara tumpukan kayu bakar itu.

Dengan cepat aku menunda amarahnya, “Ibu, aku akan memasak.”

Ia berlalu meninggalkan dapur yang berantakan. Aku menarik napas lega, lalu menyiapkan makan malam untuk kami. Wajan kunaikan ke kompor, memotong sayur-sayuran yang ku bawa dari ladang, dan menggoreng telur. Hanya masakan sederhana dengan nasi bercampur jagung, kesukaan ibu. Ketika semua siap, aku memanggil, “Ibu! Ayo makan. Bapak dan kakak juga sudah datang dari ladang.”

Kami makan bersama sebelum kembali ke pekerjaan masing-masing.

Beberapa waktu kemudian, aku kembali memikirkan cara untuk membujuk bapak. Aku membiarkannya merebahkan diri dan membersihkan tubuh terlebih dahulu, agar pikirannya lebih tenang. Keputusanku sudah bulat, aku tak akan mengikuti perintah bapak.

…….

Malam itu, aku menghampiri bapak dan kakak yang tengah sibuk memperbaiki motor Astrea mereka di teras rumah. “Pak…” suaraku terhenti di tenggorokan.

“Sudahlah, Dik, jangan keras kepala! Bapak hanya ingin kau sekolah, itu sudah bagus. Ikut saja pilihan bapak, toh juga sama-sama sekolah namanya.”

“Kak, sekolah pilihanku lebih bagus. Murid-muridnya pintar, aku yakin bisa lebih berkembang dibandingkan di sekolah pilihan Bapak, yang isinya anak-anak…..”

 “Cukup! Lebih baik kau tidak sekolah saja, belajar di rumah, atau membantu ibu di dapur.” Untuk pertama kalinya, aku mendengar kakak berteriak, sambil menunjuk dengan tegas.

“Kenapa kakak boleh sekolah di sana, sedangkan aku tidak?” Suaraku gemetar karena menahan tangis yang hampir pecah.

“Ya sudah kalau itu maumu….” Bapak mulai bersuara parau, tapi aku tak bisa menahan semangatku. “Aku sekolah ya, Pak,” suaraku terdengar semakin melemah.

“Tidak! Kau tak perlu sekolah!” Kalimat itu keluar begitu ringan, menghancurkan semangat yang membara beberapa detik lalu.

“Sekolah itu hanya angan-angan, Nak.” Bapak melanjutkan ucapan yang sebelumnya tertahan. Ia mengelus pundakku dengan lembut, kemudian aku ditinggalkan seorang diri dengan perasaan berkecamuk. Ibu juga tak akan bisa membantuku, ucapan bapak adalah perintah baginya.

Bapak benar-benar tidak pernah sekalipun mendatangi sekolah pilihanku, hingga tahun ajaran baru dimulai.

……

Aku mengusap pipi ibu yang basah ketika cerita selesai.

“Naya….Ibu cerita ini supaya kamu semakin semangat belajarnya.”

Hanya anggukan yang bisa kuberikan. Aku menahan agar tak menangis lebih keras dari tangis ibu. Meski begitu, aku berjanji akan selalu melanjutkan mimpi-mimpi ibu, walau ia sendiri berkata tak memiliki cita-cita besar, hanya ingin merasakan bangku SMA. Usianya yang sudah rentan hanya bisa mengambil paket C, itu pun jika ibu mau. Namun, kini ia hanya ingin aku tak menyesali pilihanku dan memanfaatkan setiap waktu belajar di sekolah.

“Naya, setelah penolakan itu, ibu tak punya pilihan lain selain bekerja. Kakek ingin ibu menikah dengan kerabat dekatnya, tapi ibu menolak. Hingga akhirnya, ibu bertemu dengan ayahmu dan memutuskan melarikan diri. Kakek dan nenekmu bukan orang jahat, hanya saja mereka ingin ibu tak pernah jauh, karena ibu seorang perempuan. Mereka memberikan pilihan yang tak pernah ibu sukai, agar Ibu tetap dekat dengan mereka.” Begitulah penjelasan ibu sebelum ia bersiap untuk kerja.

Sejenak, kami terdiam. Ibu menatap sertifikat di tanganku, lalu tersenyum. Senyum yang penuh luka sekaligus harapan baru. Pada akhirnya, Ibu terpaksa menerima nasibnya, dan meninggalkan bangku sekolah saat teman-temannya masih sibuk menulis mimpi di buku catatan mereka.

“Naya, kamu berbeda dari ibu. Kamu punya kesempatan yang tidak sempat ibu genggam. Jangan lepaskan itu, Nak.”

Aku memeluk ibu erat-erat.

“Ibu…..mulai hari ini, aku belajar bukan hanya untuk diriku, tapi juga untuk mimpi yang ibu kubur dulu.”

Ibu mengusap rambutku lembut dan perlahan mencium keningku. “Kalau begitu, terbanglah sejauh yang kamu mau. Ibu akan selalu ada di sini.”

Aku merasa mimpi itu bukan lagi milikku seorang. Itu adalah mimpi dua perempuan, yang satu pernah direnggut haknya, dan satu lagi sedang tumbuh untuk membawanya terbang. Dan pagi itu, aku telah berjanji dalam hati: Aku akan memilih jalanku sendiri, karena ibu tak pernah bisa memilih jalannya dahulu. [T]

Penulis: Putri Santiadi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Beri Aku Waktu Ibu

Next Post

Tipat Tahu dan Mikrokosmos Gianyar

Ni Kadek Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Tipat Tahu dan Mikrokosmos Gianyar

Tipat Tahu dan Mikrokosmos Gianyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co