2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ekonomi Politik Jokowi: Antara Ketahanan dan Ketimpangan

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
November 19, 2025
in Opini
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

Ribut-ribut soal hutang kereta api cepat Jakarta Bandung WHOOS mengingatkan kita akan politik ekonomi dua periode masa presiden Joko Widodo. Apa benar hutang meningkat signifikan  demi pemerataan pembangunan disatu pihak tetapi beban hutang yang mesti ditanggung rakyat disisi lain? 

Tulisan ini mengulas dinamika ekonomi politik Indonesia selama satu dekade pemerintahan Presiden Joko Widodo (2014–2024), sebagai cerminan dan persfektif bagi pemerintahan Presiden Prabowo di pemerintaan nya sekarang. Dalam periode ini, Indonesia mengalami kemajuan signifikan dalam pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri, dan stabilitas makroekonomi. Namun, di balik ketahanan tersebut, muncul persoalan ketimpangan sosial, pelemahan demokrasi, dan konsentrasi kekuasaan ekonomi pada segelintir kelompok.

*

Satu dekade pemerintahan Presiden Joko Widodo (2014–2024) menandai babak penting dalam sejarah ekonomi politik Indonesia. Dalam kurun sepuluh tahun itu, Indonesia menghadapi berbagai tantangan besar—pandemi COVID-19, perang dagang global, serta fluktuasi harga energi dunia. Namun di tengah turbulensi tersebut, ekonomi nasional tetap menunjukkan daya tahan yang kuat. Rata-rata pertumbuhan ekonomi selama sepuluh tahun berada di kisaran 5 (lima) persen, sementara tingkat kemiskinan berhasil ditekan hingga di bawah sembilan persen menurut laporan Bappenas tahun 2024. Keberhasilan ini menjadi fondasi penting menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.

Sejak awal masa pemerintahannya, Jokowi membawa visi besar “membangun dari pinggiran” sebagai arah kebijakan ekonomi-politik nasional. Pembangunan infrastruktur jalan tol, pelabuhan, bandara, hingga konektivitas digital ke wilayah 3T tidak hanya merupakan proyek fisik, tetapi strategi integrasi ekonomi nasional.

Menurut Airlangga Hartarto (Forum Ekonomi Nasional, 2024), fondasi ekonomi Indonesia kini lebih kokoh karena hilirisasi industri dan pembangunan infrastruktur membuka rantai nilai baru bagi daerah. Sri Mulyani Indrawati juga menilai satu dekade pemerintahan Jokowi sebagai “fase konsolidasi fiskal yang menegaskan kehadiran negara dalam pembangunan yang inklusif” (Kinerja Fiskal 2024, Kemenkeu).

Kinerja ekonomi yang stabil ini memperlihatkan bahwa Jokowi tak hanya menekankan pertumbuhan, tetapi juga daya tahan terhadap gejolak global. Di sisi fiskal, kebijakan pembiayaan tetap diarahkan untuk menjaga keberlanjutan tanpa mengorbankan ruang sosial.

Politik dan Ekonomi: Konsolidasi Kekuasaan Pembangunan

Tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan ekonomi Jokowi sangat bergantung pada stabilitas politik yang ia bangun. Koalisi besar yang menopang pemerintahannya memungkinkan agenda pembangunan berjalan tanpa guncangan besar. Namun, konsolidasi kekuasaan yang terlalu kuat juga melahirkan kritik. Dalam pandangan Fadli Zon (Catatan Politik Ekonomi DPR, 2024), arah pembangunan Jokowi memperlihatkan karakter state capitalism, di mana negara berperan dominan tetapi memberi ruang luas bagi konglomerasi besar. Sebaliknya, Puan Maharani dalam Dialog Fraksi PDI Perjuangan (2024) menilai bahwa kolaborasi antara negara dan swasta adalah keniscayaan dalam pembangunan skala besar, dan tugas negara adalah memastikan manfaatnya menjangkau rakyat.

Meski makroekonomi menunjukkan hasil positif, tantangan pemerataan masih besar. Pembangunan infrastruktur memang berhasil menghubungkan wilayah, tetapi efek ekonominya belum merata. Laporan INDEF (2024) menunjukkan bahwa 58 persen investasi nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara wilayah timur tumbuh di bawah 3 persen.

Rizal Ramli (Wawancara CNBC Indonesia, 2024) mengingatkan bahwa banyak proyek besar belum memberikan dampak langsung pada produktivitas ekonomi karena pembiayaannya bersumber dari utang yang tinggi. Namun pemerintah melalui Kementerian Keuangan menegaskan bahwa pembiayaan dilakukan secara hati-hati dan digunakan untuk investasi jangka panjang.  Rasio Gini memang turun dari 0,41 menjadi 0,38, tetapi kesenjangan sosial dan akses layanan dasar masih menjadi pekerjaan besar.

Banyak pengamat menyebut kebijakan ekonomi Jokowi sebagai bentuk neo-developmentalisme, yaitu pendekatan yang menggabungkan intervensi negara dengan mekanisme pasar. Negara menjadi motor penggerak pembangunan, sementara swasta menjadi mitra operasional. 

Menurut Prof. Dwi Andreas Santosa (Diskusi Ekonomi Politik IPB, 2024), Jokowi berhasil menghidupkan kembali semangat negara pembangunan, namun belum sepenuhnya lepas dari ketergantungan pada investasi asing dan impor teknologi.

Satu dekade politik ekonomi Jokowi

Satu dekade Jokowi menunjukkan bahwa stabilitas politik adalah prasyarat pertumbuhan ekonomi. Namun setelah fondasi fisik dan kelembagaan dibangun, tantangan berikutnya adalah membangun pemerataan sosial dan kemandirian struktural.

Megawati Soekarnoputri (Pidato Refleksi Satu Dekade, 2024) menyebut bahwa pembangunan Jokowi telah menegakkan semangat kemandirian bangsa, namun pembangunan manusia dan karakter bangsa harus menjadi prioritas berikutnya.

Sementara Rocky Gerung (Catatan Reflektif, 2024) menilai dekade Jokowi sebagai “era pembangunan fisik tanpa cukup pembangunan etik,” menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi seharusnya diiringi dengan demokratisasi ekonomi rakyat.

Bicara soal satu dekade pemerintahan Presiden Joko Widodo sejumlah pengamat ekonomi menggambarkan paradoks antara ketahanan ekonomi dan ketimpangan sosial. Di permukaan, stabilitas makroekonomi relatif terjaga pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 (lima) persen per tahun, inflasi terkendali, dan pembangunan infrastruktur berjalan masif di berbagai wilayah. Namun di balik itu, struktur ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketimpangan yang dalam.

Ekonom senior INDEF,  Didin Damanhuri, dalam seminar nasional bertema “Evaluasi Satu Dekade Pemerintahan Jokowi” yang diselenggarakan INDEF pada 3 Oktober 2024 di Hotel Millenium, Jakarta, menyebut pertumbuhan ekonomi Jokowi lebih rendah dibandingkan pemerintahan sebelumnya. Rata-rata hanya 5%, lebih rendah dari era SBY (5,7%) dan Soeharto (7%). Menurutnya, sektor pertanian dan industri pengolahan tumbuh lebih lambat dibandingkan sektor jasa dan keuangan, menyebabkan kesenjangan ekonomi meningkat.

Didin menilai arah kebijakan Jokowi terlalu berorientasi pada pembangunan fisik dan pertumbuhan PDB, tanpa menghasilkan efek berantai yang signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja atau peningkatan kesejahteraan masyarakat kelas bawah. Meski keberhasilan hilirisasi dan infrastruktur diakui, strategi itu dinilai lebih menguntungkan investor besar daripada pelaku ekonomi rakyat (INDEF, 2024).

Dari sisi pemerintah, narasi yang dibangun adalah keberhasilan menekan inflasi dan meningkatkan status Indonesia menjadi negara berpendapatan menengah atas. Namun di sisi lain, utang pemerintah meningkat hingga lebih dari Rp 8.000 triliun pada 2024, sementara tingkat pengangguran terbuka tetap di kisaran 5–6 persen. Stabilitas makro yang terjaga belum otomatis mencerminkan pemerataan kesejahteraan.

Politik Ekonomi dan Oligarki Kebijakan

Kritik terhadap ekonomi Jokowi tak bisa dilepaskan dari dimensi politik kekuasaan. Sejak periode kedua, pemerintahan ini cenderung memperlihatkan konsolidasi kekuasaan yang kuat, dengan melemahnya peran oposisi dan menurunnya daya kontrol legislatif. Pola ini memperkuat persepsi bahwa “pembangunan di era Jokowi bersifat sentralistik” lebih banyak dikendalikan dari pusat kekuasaan ketimbang melalui mekanisme partisipatif masyarakat.

Gerakan masyarakat sipil, termasuk Gerakan Rakyat Kawal Masyarakat Adat (GERAK MASA), menilai kebijakan Jokowi justru menjauh dari amanat konstitusi. Mereka menuduh pemerintah mengabaikan hak-hak masyarakat adat dengan melahirkan berbagai produk hukum seperti UU Minerba, UU Cipta Kerja, UU IKN, dan revisi KUHP, yang dinilai menguntungkan korporasi besar dan mempersempit ruang hidup masyarakat adat (AMAN, 2023).

Marepus Corner (2023) mencatat bahwa 55 persen anggota DPR berlatar belakang pengusaha, dengan 26 persen di antaranya pengusaha besar. Dominasi kepentingan ekonomi di parlemen memperkuat watak oligarkis pembuatan kebijakan. Dalam situasi seperti ini, ekonomi politik di bawah Jokowi menunjukkan kecenderungan simbiosis antara kekuasaan politik dan modal besar, menciptakan bentuk baru dari kapitalisme kroni (crony capitalism) dalam balutan modernisasi pembangunan. Dalam praktiknya, kebijakan ekonomi yang tampak populis sering kali disertai dengan pendekatan politik yang mengurangi partisipasi publik. Pemerintah tampil kuat, namun ruang demokrasi melemah. Kritik dan oposisi sering dianggap penghambat pembangunan, padahal sesungguhnya keduanya merupakan bagian penting dari koreksi kebijakan.

Menutup analisis politik ekonomi selama satu dekade Jokowi menjabat sebagai Presiden RI ke delapan telah meninggalkan jejak besar: stabilitas ekonomi yang kuat dan infrastruktur yang luas, namun juga ketimpangan sosial yang makin mencolok. Pemerintah berhasil menjaga perekonomian dari guncangan pandemi, tetapi gagal memperkuat basis produksi rakyat dan memperkecil kesenjangan antarwilayah.

Sebagaimana dikatakan Prof. Didin Damanhuri, pembangunan ekonomi tidak boleh berhenti pada angka pertumbuhan, tetapi harus berani menata ulang arah kebijakan agar tidak dikuasai logika kapital semata (Seminar INDEF, 2024). Dalam konteks ini, keberhasilan Jokowi tidak bisa diukur hanya dari kecepatan pembangunan, melainkan dari sejauh mana kebijakan itu memperkuat kemandirian rakyat.

Sebagai penulis, saya melihat satu dekade Jokowi sebagai periode penting dalam sejarah ekonomi politik Indonesia masa dimana ketika stabilitas menjadi berhala baru, dan pemerataan tertinggal di belakang retorika pembangunan. Tantangan terbesar pasca-Jokowi adalah mengembalikan orientasi pembangunan kepada prinsip keadilan sosial, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi. Ekonomi politik yang sehat seharusnya berpihak pada manusia, bukan pada modal. Bila negara ingin benar-benar tangguh, maka ketahanan harus tumbuh bersama keadilan, bukan berdiri di atas ketimpangan. apalagi hutang. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I MADE PRIA DHARSANA
Kaji Ulang Tata Ruang Bali — Tata Ruang, Bukan Tata Uang
Tags: Jokowipolitik ekonomi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tejavaganza 2025, Titik Temu Anak Muda Masa Depan Tejakula

Next Post

Ulasan Wayang Wong RRI Surakarta: Teknologi Visual yang Merampas Ruang

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Ulasan Wayang Wong RRI Surakarta: Teknologi Visual yang Merampas Ruang

Ulasan Wayang Wong RRI Surakarta: Teknologi Visual yang Merampas Ruang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co