3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ekonomi Politik Jokowi: Antara Ketahanan dan Ketimpangan

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
November 19, 2025
in Opini
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

Ribut-ribut soal hutang kereta api cepat Jakarta Bandung WHOOS mengingatkan kita akan politik ekonomi dua periode masa presiden Joko Widodo. Apa benar hutang meningkat signifikan  demi pemerataan pembangunan disatu pihak tetapi beban hutang yang mesti ditanggung rakyat disisi lain? 

Tulisan ini mengulas dinamika ekonomi politik Indonesia selama satu dekade pemerintahan Presiden Joko Widodo (2014–2024), sebagai cerminan dan persfektif bagi pemerintahan Presiden Prabowo di pemerintaan nya sekarang. Dalam periode ini, Indonesia mengalami kemajuan signifikan dalam pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri, dan stabilitas makroekonomi. Namun, di balik ketahanan tersebut, muncul persoalan ketimpangan sosial, pelemahan demokrasi, dan konsentrasi kekuasaan ekonomi pada segelintir kelompok.

*

Satu dekade pemerintahan Presiden Joko Widodo (2014–2024) menandai babak penting dalam sejarah ekonomi politik Indonesia. Dalam kurun sepuluh tahun itu, Indonesia menghadapi berbagai tantangan besar—pandemi COVID-19, perang dagang global, serta fluktuasi harga energi dunia. Namun di tengah turbulensi tersebut, ekonomi nasional tetap menunjukkan daya tahan yang kuat. Rata-rata pertumbuhan ekonomi selama sepuluh tahun berada di kisaran 5 (lima) persen, sementara tingkat kemiskinan berhasil ditekan hingga di bawah sembilan persen menurut laporan Bappenas tahun 2024. Keberhasilan ini menjadi fondasi penting menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.

Sejak awal masa pemerintahannya, Jokowi membawa visi besar “membangun dari pinggiran” sebagai arah kebijakan ekonomi-politik nasional. Pembangunan infrastruktur jalan tol, pelabuhan, bandara, hingga konektivitas digital ke wilayah 3T tidak hanya merupakan proyek fisik, tetapi strategi integrasi ekonomi nasional.

Menurut Airlangga Hartarto (Forum Ekonomi Nasional, 2024), fondasi ekonomi Indonesia kini lebih kokoh karena hilirisasi industri dan pembangunan infrastruktur membuka rantai nilai baru bagi daerah. Sri Mulyani Indrawati juga menilai satu dekade pemerintahan Jokowi sebagai “fase konsolidasi fiskal yang menegaskan kehadiran negara dalam pembangunan yang inklusif” (Kinerja Fiskal 2024, Kemenkeu).

Kinerja ekonomi yang stabil ini memperlihatkan bahwa Jokowi tak hanya menekankan pertumbuhan, tetapi juga daya tahan terhadap gejolak global. Di sisi fiskal, kebijakan pembiayaan tetap diarahkan untuk menjaga keberlanjutan tanpa mengorbankan ruang sosial.

Politik dan Ekonomi: Konsolidasi Kekuasaan Pembangunan

Tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan ekonomi Jokowi sangat bergantung pada stabilitas politik yang ia bangun. Koalisi besar yang menopang pemerintahannya memungkinkan agenda pembangunan berjalan tanpa guncangan besar. Namun, konsolidasi kekuasaan yang terlalu kuat juga melahirkan kritik. Dalam pandangan Fadli Zon (Catatan Politik Ekonomi DPR, 2024), arah pembangunan Jokowi memperlihatkan karakter state capitalism, di mana negara berperan dominan tetapi memberi ruang luas bagi konglomerasi besar. Sebaliknya, Puan Maharani dalam Dialog Fraksi PDI Perjuangan (2024) menilai bahwa kolaborasi antara negara dan swasta adalah keniscayaan dalam pembangunan skala besar, dan tugas negara adalah memastikan manfaatnya menjangkau rakyat.

Meski makroekonomi menunjukkan hasil positif, tantangan pemerataan masih besar. Pembangunan infrastruktur memang berhasil menghubungkan wilayah, tetapi efek ekonominya belum merata. Laporan INDEF (2024) menunjukkan bahwa 58 persen investasi nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara wilayah timur tumbuh di bawah 3 persen.

Rizal Ramli (Wawancara CNBC Indonesia, 2024) mengingatkan bahwa banyak proyek besar belum memberikan dampak langsung pada produktivitas ekonomi karena pembiayaannya bersumber dari utang yang tinggi. Namun pemerintah melalui Kementerian Keuangan menegaskan bahwa pembiayaan dilakukan secara hati-hati dan digunakan untuk investasi jangka panjang.  Rasio Gini memang turun dari 0,41 menjadi 0,38, tetapi kesenjangan sosial dan akses layanan dasar masih menjadi pekerjaan besar.

Banyak pengamat menyebut kebijakan ekonomi Jokowi sebagai bentuk neo-developmentalisme, yaitu pendekatan yang menggabungkan intervensi negara dengan mekanisme pasar. Negara menjadi motor penggerak pembangunan, sementara swasta menjadi mitra operasional. 

Menurut Prof. Dwi Andreas Santosa (Diskusi Ekonomi Politik IPB, 2024), Jokowi berhasil menghidupkan kembali semangat negara pembangunan, namun belum sepenuhnya lepas dari ketergantungan pada investasi asing dan impor teknologi.

Satu dekade politik ekonomi Jokowi

Satu dekade Jokowi menunjukkan bahwa stabilitas politik adalah prasyarat pertumbuhan ekonomi. Namun setelah fondasi fisik dan kelembagaan dibangun, tantangan berikutnya adalah membangun pemerataan sosial dan kemandirian struktural.

Megawati Soekarnoputri (Pidato Refleksi Satu Dekade, 2024) menyebut bahwa pembangunan Jokowi telah menegakkan semangat kemandirian bangsa, namun pembangunan manusia dan karakter bangsa harus menjadi prioritas berikutnya.

Sementara Rocky Gerung (Catatan Reflektif, 2024) menilai dekade Jokowi sebagai “era pembangunan fisik tanpa cukup pembangunan etik,” menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi seharusnya diiringi dengan demokratisasi ekonomi rakyat.

Bicara soal satu dekade pemerintahan Presiden Joko Widodo sejumlah pengamat ekonomi menggambarkan paradoks antara ketahanan ekonomi dan ketimpangan sosial. Di permukaan, stabilitas makroekonomi relatif terjaga pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 (lima) persen per tahun, inflasi terkendali, dan pembangunan infrastruktur berjalan masif di berbagai wilayah. Namun di balik itu, struktur ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketimpangan yang dalam.

Ekonom senior INDEF,  Didin Damanhuri, dalam seminar nasional bertema “Evaluasi Satu Dekade Pemerintahan Jokowi” yang diselenggarakan INDEF pada 3 Oktober 2024 di Hotel Millenium, Jakarta, menyebut pertumbuhan ekonomi Jokowi lebih rendah dibandingkan pemerintahan sebelumnya. Rata-rata hanya 5%, lebih rendah dari era SBY (5,7%) dan Soeharto (7%). Menurutnya, sektor pertanian dan industri pengolahan tumbuh lebih lambat dibandingkan sektor jasa dan keuangan, menyebabkan kesenjangan ekonomi meningkat.

Didin menilai arah kebijakan Jokowi terlalu berorientasi pada pembangunan fisik dan pertumbuhan PDB, tanpa menghasilkan efek berantai yang signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja atau peningkatan kesejahteraan masyarakat kelas bawah. Meski keberhasilan hilirisasi dan infrastruktur diakui, strategi itu dinilai lebih menguntungkan investor besar daripada pelaku ekonomi rakyat (INDEF, 2024).

Dari sisi pemerintah, narasi yang dibangun adalah keberhasilan menekan inflasi dan meningkatkan status Indonesia menjadi negara berpendapatan menengah atas. Namun di sisi lain, utang pemerintah meningkat hingga lebih dari Rp 8.000 triliun pada 2024, sementara tingkat pengangguran terbuka tetap di kisaran 5–6 persen. Stabilitas makro yang terjaga belum otomatis mencerminkan pemerataan kesejahteraan.

Politik Ekonomi dan Oligarki Kebijakan

Kritik terhadap ekonomi Jokowi tak bisa dilepaskan dari dimensi politik kekuasaan. Sejak periode kedua, pemerintahan ini cenderung memperlihatkan konsolidasi kekuasaan yang kuat, dengan melemahnya peran oposisi dan menurunnya daya kontrol legislatif. Pola ini memperkuat persepsi bahwa “pembangunan di era Jokowi bersifat sentralistik” lebih banyak dikendalikan dari pusat kekuasaan ketimbang melalui mekanisme partisipatif masyarakat.

Gerakan masyarakat sipil, termasuk Gerakan Rakyat Kawal Masyarakat Adat (GERAK MASA), menilai kebijakan Jokowi justru menjauh dari amanat konstitusi. Mereka menuduh pemerintah mengabaikan hak-hak masyarakat adat dengan melahirkan berbagai produk hukum seperti UU Minerba, UU Cipta Kerja, UU IKN, dan revisi KUHP, yang dinilai menguntungkan korporasi besar dan mempersempit ruang hidup masyarakat adat (AMAN, 2023).

Marepus Corner (2023) mencatat bahwa 55 persen anggota DPR berlatar belakang pengusaha, dengan 26 persen di antaranya pengusaha besar. Dominasi kepentingan ekonomi di parlemen memperkuat watak oligarkis pembuatan kebijakan. Dalam situasi seperti ini, ekonomi politik di bawah Jokowi menunjukkan kecenderungan simbiosis antara kekuasaan politik dan modal besar, menciptakan bentuk baru dari kapitalisme kroni (crony capitalism) dalam balutan modernisasi pembangunan. Dalam praktiknya, kebijakan ekonomi yang tampak populis sering kali disertai dengan pendekatan politik yang mengurangi partisipasi publik. Pemerintah tampil kuat, namun ruang demokrasi melemah. Kritik dan oposisi sering dianggap penghambat pembangunan, padahal sesungguhnya keduanya merupakan bagian penting dari koreksi kebijakan.

Menutup analisis politik ekonomi selama satu dekade Jokowi menjabat sebagai Presiden RI ke delapan telah meninggalkan jejak besar: stabilitas ekonomi yang kuat dan infrastruktur yang luas, namun juga ketimpangan sosial yang makin mencolok. Pemerintah berhasil menjaga perekonomian dari guncangan pandemi, tetapi gagal memperkuat basis produksi rakyat dan memperkecil kesenjangan antarwilayah.

Sebagaimana dikatakan Prof. Didin Damanhuri, pembangunan ekonomi tidak boleh berhenti pada angka pertumbuhan, tetapi harus berani menata ulang arah kebijakan agar tidak dikuasai logika kapital semata (Seminar INDEF, 2024). Dalam konteks ini, keberhasilan Jokowi tidak bisa diukur hanya dari kecepatan pembangunan, melainkan dari sejauh mana kebijakan itu memperkuat kemandirian rakyat.

Sebagai penulis, saya melihat satu dekade Jokowi sebagai periode penting dalam sejarah ekonomi politik Indonesia masa dimana ketika stabilitas menjadi berhala baru, dan pemerataan tertinggal di belakang retorika pembangunan. Tantangan terbesar pasca-Jokowi adalah mengembalikan orientasi pembangunan kepada prinsip keadilan sosial, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi. Ekonomi politik yang sehat seharusnya berpihak pada manusia, bukan pada modal. Bila negara ingin benar-benar tangguh, maka ketahanan harus tumbuh bersama keadilan, bukan berdiri di atas ketimpangan. apalagi hutang. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I MADE PRIA DHARSANA
Kaji Ulang Tata Ruang Bali — Tata Ruang, Bukan Tata Uang
Tags: Jokowipolitik ekonomi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tejavaganza 2025, Titik Temu Anak Muda Masa Depan Tejakula

Next Post

Ulasan Wayang Wong RRI Surakarta: Teknologi Visual yang Merampas Ruang

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails
Next Post
Ulasan Wayang Wong RRI Surakarta: Teknologi Visual yang Merampas Ruang

Ulasan Wayang Wong RRI Surakarta: Teknologi Visual yang Merampas Ruang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co