24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tejavaganza 2025, Titik Temu Anak Muda Masa Depan Tejakula

Son Lomri by Son Lomri
November 19, 2025
in Panggung
Tejavaganza 2025, Titik Temu Anak Muda Masa Depan Tejakula

Pementasan wayang wong di Tejavaganza 2025

LAPANGAN dan wantilan SMAN 1 Tejakula jadi tempat pertemuan yang hangat bagi anak muda masa depan yang berasal dari desa-desa di Kecamatan Tejakula, Buleleng.

Dua hari SMAN 1 Tejakula menjadi pusat perhelatan Tejavaganza 2025, mulai 15 November hingga Minggu malam, 16 November.

Selama dua hari itu, dan pada puncaknya Minggu malam, berderet stand-stand UMKM dari Pagi Motley, Lapak Buku Mahima, Bai Pure, Rumah Usaha Cerik, Mai Nongki, Yudha Trigona, dan Babi Samsam Mamak Rendi, menghadap ke panggung besar di lapangan utama dengan cahaya bohlam-bohlam menyala di tengah-tengahnya.

Para pengunjung yang notabene adalah anak muda siswa sekolah dan pemuda dari sekaa teruna, sedang melaksanakan satu pesta, juga tempat untuk menerka masa depan sebagaimana tema dari ajang itu: “Tumbuh Bergerak Menginspirasi”.

“Tejavaganza adalah festival pemuda di Kecamatan Tejakula sekaligus menjadi wadah atau ruang pemuda untuk bisa mengekspresikan dirinya,” kata Kadek Sudantara, ketua pelaksana.

Festival ini digelar untuk pertama kalinya, diinisasi oleh salah satu anggota DPRD Kabupaten Buleleng dapil Tejakula yaitu Dewa Komang Yudiastara, dengan tujuan mempererat hubungan antar pelajar dan pemuda, menggali potensi generasi muda, dan tentunya menjadi ruang pemuda untuk berkolaborasi selain mampu menjadi festival berkelanjutan di Kecamatan Tejakula yang menyenangkan.

Siswa, remaja dan pemuda dari desa-desa di Kecamatan Tejakula riang gembira dalam Tajavaganza 2025 | Foto: Son

Dan di malam terakhir ada pertunjukan macam-macam, sebelum paginya sudah digelar olahraga lari dengan tajuk Fun Run, bersama Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna bersama istrinya.

Menyoal lari, Supriatna memang punya hobi olahraga pagi-pagi di akhir pekan untuk sehat jasmaniah, ini bagian penting untuk dicontoh dari seorang wakil bupati. Olahraga sangat baik, dan lari baik untuk kesehatan jantung. Yang buruk adalah lari dari kenyataan.

Karena setelah lari pagi, dilanjutkan Talk Show sore dengan judul besar “Merajut Masa Depan”, bersama I Ketut Sumayana, seorang founder dan Komisaris PT. Langit Bali Sejahter), I Nengah Suarmanayasa yang Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi Undiksha, dan I Made Andika Putra yang dikenal sebagai CEO Pagi Motley sebagai narasumber berpengalaman di dunia kerja.

Talk Show Merajut Masa Depan di Tejavaganza 2025

Di talk show itulah titik temu masa muda kini untuk masa depan digelar, yang pesertanya juga masih sama dari siswa SMAN 1 Tejakula dan siswa sekolah lain di Tejakula —yang siap menyongsong masa depannya setelah tamat sekolah. Tapi siapa berani jawab masa depan itu mudah dijalani setelah lulus SMA?

Ketiga narasumber itu menceritakan kisahnya yang layak ditiru, bahwa hidup adalah perjuangan. Harus berjuang.

Seperti I Ketut Sumayana mengisahkan dirinya waktu muda di zaman dirinya masih kuliah, pernah jadi bartender dan waitress, dan siang sampai sore jadi tukang kebun.

Cerita itu kemudian di-notice pembicara I Nengah Suarmanayasa bahwa hidup memang harus merangkak lebih dulu, sabar dan berdarah-darah sebelum petik hasilnya kelak hari. Yang kesemuanya dibungkus dengan rasa sabar dan serius mau.

Siswa, remaja dan pemuda dari desa-desa di Kecamatan Tejakula riang gembira dalam Tajavaganza 2025 | Foto: Son

“Anak muda itu, harus sakit-sakit dahulu berenang ketepian [menuju kesuksesan]. Jadi, healing-nya nanti jangan hari ini. Hari ini itu harus menunda kesenangan [zona nyaman],” kata I Nengah Suarmanayasa, mengingatkan anak muda harus lebih keras lagi dalam mewujudkan cita-citanya, jangan mudah menyerah dan terlena.

Sebagaimana menu makanan di sebuah warung nasi padang (naspad), cita-cita juga beragam. Tapi cita-cita tidak saja tinggal touch screen pada sebuah layar hape atau etalase naspad, harus digapai dengan nyata dan lelah, letih, adalah wajar setelah memilih mau yang mana. Karena cita-cita tidak bisa diantar, ia harus dijemput.

Dan kalau memilih mau berwiraswasta, misalnya, setelah lulus sekolah atau lanjut kuliah sambil nyari cuan, setidaknya wajib punya mental kuat. Atau tempalah mental sendiri sekuat-kuatnya melalui pengalaman dan belajar masih muda.

“Adik-adik paling tidak harus punya mental tahan banting, itu satu. Kemudian yang kedua, harus konsisten, disiplin, dan komitmen,” lanjut I Ketut Sumayana.

Menyoal komitmen, Ketut Sumayana juga menekankan kembali komitmen ketika merintis usaha kecil-kecilan tidak boleh tergiur dengan rejeki nomplok ketika usaha sedang naik puncak.

Alih-alih uang usaha atau perusahaan sedang dirintis digunakan untuk keperluan pengembangan usaha lebih dahsyat, digunakan untuk keperluan tidak penting-penting amat, misalnya, beli mobil—atau hape terbaru demi gengsi, justru menjadi penyakit pengusaha muda.

Modern Dance di Tejavaganza 2025 | foto Son

Usaha jadi bangkrut atau merosot modal habis sudah digunakan di awal, lari ngutang di bank sebagai hari terakhir kere adalah buah hasil dari tidak kuatnya komitmen sebagai seorang perintis.

Jadi, komitmen dalam usaha itu, harus ditanamkan di dalam diri sebagai pondasi yang kuat untuk perjalanan panjang menghadapi rintangan—jalan meliuk dan ketidakpastian musim—menuju kesuksesan lebih besar tentunya, jangan tergoda oleh apapun karena keseriusan harus stabil.

“Dan titik kehancuran yang lain pada anak muda, adalah gengsi.” tegas Ketut Sumayana anak muda atau pengusaha muda tidak boleh gengsian.

Selain dua pembicara yang menunjukkan diri sudah menerapkan—gengsi itu harus dihapus dan komitmen itu harus dijaga, I Made Andika Putra, CEO Pagi Motley, juga sepil kisahnya mendirikan Pagi Motley adalah urusan panjang tanpa gengsi.

Salah satunya, tentang kecermatan dalam melihat peluang sebagai jangka panjang yang sehat itu penting, tidak saja melulu tentang keuntungan pribadi, tapi harus menguntungkan lingkungan sekitar dan masyarakat setempat.

Ia bergerak pada pewarna alam melalui kulit batang pohon dan daun-daun, menjadikannya warna alami fashion yang ramah. Hampir sembilan belas tahun Andika begulat dengan dunia kreatif fashion.

Salah satu atraksi bartender di Tejavaganza 2025

Mengapa Andika bergerak di ranah itu? Karena melihat peluang. Tidak banyak usaha yang dilakoninya itu orang-orang mau lakukan, atau memang tidak terfikirkan kebanyakan orang pada hal-hal kecil seperti kulit batang pohon dan daun-daun juga sabut kelapa, bisa menjadi suatu yang berarti dalam dunia seni.

Sembilan belas tahun bukan waktu sebentar. Pagi Motley dikenal banyak orang kini dan produknya biasa diekspor ke luar negeri itu, tidak jauh dari hasil komitmennya yang kuat sejak awal merintis.

Pula tidak saja soal uang yang hendak ia capai satu-satunya, ada prinsip yang ditanamkan Andika pada usahanya. Yaitu gerak Pagi Motley pada ingatan kolektif tentang kesehatan bumi akhir-akhir ini di tengah aktivitas manusia dalam bertahan hidup sambil merusak alam, bisa berujung krisis iklim.

“Alam mesti dipotek secukupnya,” kata Andika.

Itu juga mengapa Andika tidak memilih akar sebagai bahan dasar pada pewarnaan di setiap kainnya, agar pohon bisa terus hidup—bertunas—yang baru dari akar pada tanah. Dan di sanalah peluang yang lain; apa yang ditawarkan dari sebuah produk selain mengupayakan orang-orang sekitar agar bisa bekerja, juga adalah keramahan untuk lingkungan lebih regeneratif.

“Teman-teman [peserta], kan, masih muda, modalnya cuman dua sebenarnya; nekat dan percaya diri. Sisanya bisa dipelajarin sambil jalan,” lanjut Andika.

Dan ia menyarankan juga terkait bagusnya soal karir, alangkah bagusnya awal-awal ikut/bekerja ke orang terlebih dahulu, untuk memahami bagaimana cara produksi, sales, marketing, dan bagaimana sumber daya manusianya, dan merawat sumber daya manusianya itu seperti apa. Cara seperti itu penting untuk mendapatkan pengalaman belajar pada yang ahli untuk menjadi ahli di kemudian hari.

Apa-apa yang disampaikan Andika itu di-oke-kan I Ketut Sumayana. Ketut Sumayana menambahkan soal waktu juga penting untuk diperhatikan, yaitu belajar.

Dua puluh empat jam manusia punya waktu dalam sehari, tapi, bagaimana waktu digunakan itu menjadi perbedaan setiap orang sebagai tabungannya untuk masa depan.

Semisal dalam dua puluh empat jam, anak muda jika menggunakan waktu sekadar untuk scrolling Instagram like atau nge-tiktok sambil rebahan, adalah masalah yang bisa bikin otak tidak kreatif alias brain root. Malas.

Sehingga, action dalam waktu dua puluh empat jam itu perlu, dunia membutuhkan orang-orang bergerak, walaupun bekerja bisa melalui hape sambil rebahan.

“Waktu sekarang mumpung masih muda, gunakanlah untuk belajar dan mencari pengalaman sebanyaknya.” kata I Ketut Sumayana.

Dewa Komang Yudi, inisiatir Tejavaganza 2025

Menentukan langkah kaki mau ke mana dalam masa depan, penting ditentukan sekarang. Karena langkah dalam waktu akan menumbuhkan apa-apa yang bisa dipanen sebagai pencapaian.

Lantas, I Ketut Sumayana menyarankan ke pada peserta, kalau bisa setamat sekolah, kuliahlah sambil bekerja. Di sana kita bisa belajar manajamen waktu.

“Saya pernah kuliah sambil bekerja jadi bartender dan waiterss, siang-sore jadi tukang kebun.” tutup I Ketut Sumayana anak muda tidak boleh gengsidong. Terjang.

Titik Temu Bakat adalah Tejavaganza

Selang satu hari sebelum malam terakhir, Tejavaganza 2025 sudah menggelar beberapa mata lomba—yang mempertemukan para anak muda bertemu pada kreativitas positif.

Ada lomba english story telling contest, debat, konten kreatif, lomba baca puisi, dan karaoke. Yang kesemua pesertanya adalah siswa masih SMA.  Dan di malam terakhir Minggu malam, tibalah siapa juaranya.

Untuk lomba english story telling contest dimenangkan oleh Ni Luh De Putri Pebriyanti sebagi juara 1, Ayu Kompyang Juliani juara 2, I Putu Gilang Divayana Putra sebagai juara 3.  

Debat, dimenangkan oleh Kadek Angelika Melani Putri sebagai juara 1, Ketut Amylaura Franciska Putri juara 2, dan Komang Ringo Okakanggo juara 3.

Kemudian untuk baca puisi diraih oleh Kadek Sri Devi Adnyani sebagai juara 1, Luh Novita Aryanti juara 2, dan Kadek Ayu Lestariana juara 3.

Sementara karaoke, didendangkan oleh Putu Arin Kirani Putri juara 1, Kadek Ayu Lestari juara 2, dan Komang Wigrha Sriya Rastiarini juara 3. Selamat.

Dan malam pentas seni tiba. Radius dua puluh meter dari panggung, di satu ruang kelas, 22 anak-anak sedang bersiap mau tampil. Topeng di meja diambil, ekor dipasang di pantat—berperan jadi kera.

Mereka 22 anak-anak dari Komunitas Sisprilink (Siswa Pemerhati Lingkungan) Tejakula, akan pentas Wayang Wong Anak-Anak dengan kisah; Gugurnya Kumbakarna dalam evos Ramayana.

Waktu tampil lima menit lagi. Putu Ngurah Buwana Natha Narariya, berdiri di samping panggung utama, memanggul topeng seberat dua kilo, lalu dipasangkan oleh bapaknya Ketut Eta Swatara, sekaligus pelatih Wayang Wong Anak-Anak dari Sisprilink.

“Jadi Kumbakarna,” kata Natha tentang perannya itu.

Peperangan akan terjadi antara kerajaan Alengka dengan Rama di atas panggung. Di sini, Kumbakarna adalah seorang ksatria sejati dalam membela bangsanya sendiri, kerajaan Alengka, walaupun kakaknya, Rahwana, salah sudah menculik Dewi Sinta kekasih Rama. Dan dalam cerita ini, Wimbakarna rela gugur di medan pertempuran dirujak pasukan Rama, untuk membela bangsa sendiri, Alengka.

Pementasan wayang wong di Tejavaganza 2025

Dan Sugriwa yang diperankan Arsa ketika itu, juga bersiap mau naik panggung lebih dulu pada babak awal cerita. Begitu tetabuhan terdengar dengan tempo pelan, kencang, bahu Arsa dinaikkan seperti seorang ksatria, lalu naik ke atas panggung diikuti pasukannya. Sugriwa adalah raja kera sekutunya Rama bakal menyerang Alengka.

Sugriwa masuk dengan pasukan Hanoman dan keranya ke atas panggung, bersiap diri mau perang dengan pasukan Wimbakarna. Dan mula-mula mereka latihan perang dengan gerak tarian khas kera. Begitu selesai, mereka turun ke panggung setelah titah dalam peperangan sudah didengar semua pasukan kera.

Kumbakarna dan pasukannya kemudian masuk giliran melanjutkan cerita. Mereka juga demikian berlatih siap diri mau perang mempertahankan benteng harga diri Alengka. Dan puncak konflik meletus, peperangan terjadi ketika pasukan Sugriwa datang menyerang Alengka bersama pasukan keranya. Tetabuhan menjadi cepat.

Dan di akhir babak, tibalah Kumbakarna pada batas kematiannya di depan anak panah datang menancap tepat di dada. O, gugur Kumbakarna hujan kesedihan bangsa Alengka.

“Tarian topeng ini adalah tarian sakral tari Wayang Wong, Tejakula. Diperkirakan telah ada pada abad ke-17. Dan sampai sekarang topeng yang masih sakral masih tersimpan baik di istana Kandi Pura,” kata Ketut Eta Swatara usai pementasan.

Dan sekitar tahun 70-an, para seniman/tokoh Tejakula bersepakat untuk membuat tari Wayang Wong duplikat. Nah, pada pementasan inilah adalah wujud dari duplikatnya, digunakan sebagai rekreatif, dipentaskan anak-anak.

Adapun perbedaan pertunjukan Wayang Wong di panggung hiburan dengan yang di pura, adalah yang sakral tidak sakral. Yang di pura dipentaskan secara khusus dan sakral dengan menggunakan pakaian dan topeng yang ada di pura.

Pementasan musik di Tejavaganza 2025

Sementara yang di luar pura, adalah imitasi dan tidak sakral, termasuk itu topeng dan pakaiannya. Dan dipentaskan kalau memang ada undangan atau sedang ada permintaan untuk pentas. Dan mengapa yang dipilih anak-anak untuk pentas, tujuannya untuk kaderisasi.

“Takutnya nanti itu (Wayang Wong) hilang tanpa penerus. Jadi, sejak dini anak-anak ini dilatih tarian-tarian dasarnya, agar budaya tetap lestari.” tutup Ketut Eta Swatara.

Dan usai Wayang Wong Anak-Anak tampil, beberapa penonton ada yang minum kopi/es teh/air mineral/es jeruk dan makannya Babi Samsam Mamak Rendi di bawah lampu-lampu pesta, sambil menonton; Zamzam Rock, Sky of Justice, Yudi Rajaphala, dan Harmonia tampil—setelah modern dance dan juggling and fire sudah pentas beberapa jam yang lalu. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: TejakulaTejavaganza 2025wayang wong
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Sejak Padi Mengakar’: Sebuah Gugatan yang Artistik

Next Post

Ekonomi Politik Jokowi: Antara Ketahanan dan Ketimpangan

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ekonomi Politik Jokowi: Antara Ketahanan dan Ketimpangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co