24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton “Soft Square” dengan Sok Tahu

Jaswanto by Jaswanto
November 13, 2025
in Ulas Pentas
Menonton “Soft Square” dengan Sok Tahu

Pertunjukan "Soft Square" karya Razan Wirjosandjojo di B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

RAZAN masuk ke dalam kain persegi merah muda (“aneh) yang menyerupai sarung kasur beritsleting dan berbulu tebal. Ia lalu beringsut ke panggung pementasan dengan merangkak, berguling, merayap, hingga mengesot dengan pola persegi—dengan diselingi berbagai gerak lainnya. Sebagai penonton awam, saya garuk-garuk kepala.

Di pertengahan tari yang berjalan lambat itu, Razan keluar dari kain dengan kostum merah muda—yang juga terlihat tebal. Selanjutnya, ia dengan gerakan pelan lantas merespon benda-benda persegi, seperti memindahkan kaca dengan mulut, mengembangkan handuk, dan menari-nari dengan kombinasi benda-benda tersebut.

Itulah sedikit gambaran yang masih saya ingat dari pertunjukan bertajuk “Soft Square” karya Razan Wirjosandjojo yang dipentaskannya dalam program “Panggung Tumbuh” serangkaian Bali Performing Arts Meeting (B-PART) 2025, 4 November 2025, di Masa Masa, Ginyar, Bali.

Suasana panggung pementasan “Soft Square” karya Razan Wirjosandjojo di B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pada awal pertunjukan, saya nyaris tak memiliki bayangan apa-apa mengenai karya yang juga pernah dipentaskan Razan di Kaba Festival X 2025 itu. Tetapi setelah membaca sedikit sinopsis karya di akun Instagram B-PART, saya menjadi penonton sok tahu. Dan berikut kesok-tahuan saya mengenai repertoar Soft Square.

Kesoktahuan Pertama

Saya beranggapan, bagi Razan, persegi itu tidak lagi kaku. Ia bernapas, mengembang, dan bergetar di bawah kulit tubuh manusia. Dalam Soft Square, geometri yang biasanya terasa dingin dan matematis mendadak menjadi lembut, bahkan emosional. Karya ini seperti sebuah eksperimen tentang bagaimana keteraturan bisa didekonstruksi melalui tubuh, suara, dan kesunyian.

Razan memulai dengan ruang yang tampak bersih. Tak ada properti mencolok, hanya tubuh, kostum aneh, dan cahaya yang berubah perlahan. Tapi dari situ, ia menata sesuatu yang jauh lebih kompleks: sebuah percakapan antara tubuh dan ruang, antara ketegangan dan kehalusan.

Pertunjukan “Soft Square” karya Razan Wirjosandjojo di B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Garis-garis persegi yang semula imajiner perlahan terasa nyata—ditarik oleh tubuh, direntangkan oleh gerak, lalu dilenturkan hingga kehilangan ujungnya. Di titik-titik itulah “soft” dari Soft Square menemukan maknanya: bukan tentang kelembutan semata, melainkan tentang kemampuan bentuk untuk menyesuaikan diri, untuk tetap hidup di tengah perubahan.

Dalam pertunjukan ini, seolah Razan menjadikan tubuhnya laboratorium. Ia seperti menelusuri bagaimana persegi, sebagai simbol keteraturan dan kontrol dalam kehidupan modern, menyusup ke dalam perilaku manusia. Persegi ada di mana-mana—di ruang kerja, layar ponsel, jalan-jalan kota, bahkan dalam pola pikir kita, dalam kehidupan manusia sebagaimana Razan katakan.

Melalui serangkaian gerak yang repetitif namun terukur, Razan memperlihatkan bagaimana tubuh pun akhirnya dibentuk oleh tatanan persegi: lurus, sistematis, efisien. Tapi di saat yang sama, ia juga menunjukkan bagaimana tubuh bisa memberontak—dengan cara melentur, mengalir, dan menggeliat keluar dari garis-garis yang membatasi.

Ada sesuatu yang kontemplatif dalam cara Razan menata ritme tubuhnya. Tidak ada puncak dramatik, tak ada narasi linear. Justru dalam repetisi, kita menemukan denyut kehidupan yang paling jujur.

Bunyi dalam Soft Square tak kalah signifikan. Getaran halus, lembut, membentuk lanskap akustik yang ambigu—antara mekanis dan organik. Dalam konteks inilah “tembok empuk” dan “petak lunak” yang disebut Razan terasa hidup: sebuah kontradiksi yang membentuk pengalaman.

Pertunjukan “Soft Square” karya Razan Wirjosandjojo di B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Tekanan tidak hadir dari kerasnya gerak, tetapi justru dari kelenturan dan keheningan. Di sini, keheningan bekerja seperti ruang kosong dalam kaligrafi Jepang: ia bukan ketiadaan, melainkan napas di antara garis.

Kesoktahuan Kedua

Sebagai penonton, saya merasa diajak bukan untuk mengikuti cerita, melainkan untuk merasakan tekanan dari yang lembut. Tidak semua orang nyaman di situ, saya kira. Sebab saya juga merasa ada jarak yang lahir dari sifat reflektif karya ini—Razan seolah berdialog lebih dengan pikirannya sendiri daripada dengan audiens.

Tapi jarak itu bisa juga dibaca sebagai bagian dari pernyataan artistik: bahwa keteraturan modern membuat kita terpisah dari keintiman, bahkan terhadap diri sendiri. Dalam tubuh yang terus bernegosiasi antara batas dan kelenturan itu, Razan mengajak kita menatap bagaimana sistem sosial dan spasial membentuk gerak kita sehari-hari.

Pertunjukan “Soft Square” karya Razan Wirjosandjojo di B-PART 2025 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Meski demikian, kepekaan ruang dan tubuh yang ditunjukkan Razan patut dicatat sebagai pencapaian. Karya ini berani berdiri di antara konsep dan pengalaman, antara ide dan sensasi. Ia menolak menjadi “karya tari yang menjelaskan sesuatu,” dan lebih memilih menjadi perenungan yang tak selesai. Dengan itu, Soft Square membuka ruang baru dalam wacana koreografi kontemporer Indonesia—ruang yang berpikir bukan hanya lewat ide, tapi lewat keheningan dan napas tubuh.

Di akhir pertunjukan, tubuh Razan mengendur. Cahaya perlahan memudar, garis-garis imajiner menghilang. Persegi yang tadi tegas kini lenyap, meninggalkan jejak samar di udara. Saat itu, kita menyadari: mungkin keteraturan memang tidak pernah hilang—ia hanya belajar menjadi lembut.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: B-Partseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 Kampusku Sarang Hantu [40]: Hantu Perempuan di Lift Kampus

Next Post

Indonesia Performance Camp 2025 Hadirkan Workshop Dramaturgi Postdramatic di Sumatera Barat

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails
Next Post
Indonesia Performance Camp 2025 Hadirkan Workshop Dramaturgi Postdramatic di Sumatera Barat

Indonesia Performance Camp 2025 Hadirkan Workshop Dramaturgi Postdramatic di Sumatera Barat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co