3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Kampusku Sarang Hantu [40]: Hantu Perempuan di Lift Kampus

Chusmeru by Chusmeru
November 13, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

PEMBANGUNAN di universitas dan fakultas telah mengubah wajah kampus sebagai tempat menimba ilmu yang nyaman. Perlahan tapi pasti, gedung-gedung tua di tiap fakultas mulai dibongkar dan dibangun gedung baru. Kesan angker dan mistis yang dulu disandang kampus mulai berkurang dengan bangunan baru.

Kesan angker dan mistis sebetulnya bukan hanya ada di kampus. Kantor-kantor pemerintahan yang sebagian merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda juga terkesan angker. Para pegawai sudah menganggap biasa munculnya cerita mistis di bangunan kuno kantor pemerintah.

Namun cerita berbeda datang dari kampus. Bangunan tua di kampus dengan cepat menjadi bahan pergunjingan. Peran mahasiswa dan media sosial yang dengan masif menarasikan cerita mistis di seputaran kampus, membuat kampus seolah menjadi sarang hantu. Pembangunan gedung baru diharapkan dapat mengubah kesan angker kampus.

Proyek pembangunan di fakultas misalnya, begitu memanjakan dosen, pegawai, dan mahasiswa. Pintu gerbang kampus yang dulu hanya berupa pagar besi, kini dibuat gapura dengan desain yang modern. Tempat parkir kendaraan menjadi sangat luas dengan taman yang asri di kanan dan kiri.

Toilet kampus tidak lagi jorok seperti dulu. Kini siapa pun yang ke toilet terasa nyaman. Selain bersih, toilet kampus juga harum aroma parfum. Sepintas toilet yang ada di gedung baru mirip dengan toilet yang ada di hotel berbintang.

Dosen, pegawai, dan mahasiswa kini tak perlu lagi capai-capai berjalan menaiki tangga untuk menuju ruangan di lantai atas. Gedung baru fakultas telah dilengkapi lift untuk naik dan turun warga kampus. Tentu saja ini sangat membantu bagi dosen dan pegawai yang sudah lanjut usia. Menaiki tangga ke lantai atas membuat mereka ngos-ngosan.

Meski sudah berdiri gedung baru di kampus, kisah misteri dan menyeramkan tentang kampus tidak hilang begitu saja. Semua berasal dari cerita dari mulut ke mulut yang dituturkan dosen, pegawai, dan mahasiswa tentang bangunan kampus yang lama. Karenanya, walau sudah berdiri gedung megah, cerita mistis tentang kampus tetap saja membayangi siapa pun.

Lift di kampus sering dianggap sebagai salah satu tempat yang menyeramkan. Jika pegawai ada keperluan di lantai atas, perasaan merinding kerapkali muncul ketika berada di dalam lift sendirian. Begitu pula dosen dan mahasiswa yang kuliah di lantai atas. Suasana mencekam terasa saat berada dalam lift, apalagi pada kuliah sore dan malam hari.

***

Candrika Sari mengajar malam hari. Jadwal yang seharusnya di siang hari terpaksa ia geser menjadi malam, kebetulan di jam siang ia ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Agak malas sebetulnya Candrika Sari mengajar malam hari, apalagi ruang kuliah berada di lantai 4 di mana ia harus menggunakan lift. Jika melewati tangga biasa tentu sangat melelahkan.

Suasana kampus sepi di malam hari. Candrika Sari masuk ke dalam lift sendiri. Agak sedikit merinding. Meski gedung kuliah baru, namun aura menyeramkan tetap dirasakan. Candrika Sari hendak memencet tombol angka 4 ketika tiba-tiba seorang perempuan ikut masuk ke dalam lift. Candrika Sari menunda menutup lift dan mempersilakan perempuan itu masuk lift dan memencet angka 3.

Perempuan itu berpakaian serba putih dengan rambut sebahu. Wajahnya tampak pucat. Sekelebat ia menatap Candrika Sari sambil tersenyum. Namun senyumnya menyeramkan. Candrika Sari merinding, berharap lift melaju cepat menuju lantai 3 agar perempuan itu segera keluar. Tetapi yang ia rasakan lift berjalan sangat lambat.

Lift berhenti di lantai 3. Perempuan itu keluar begitu pintu terbuka. Sekilas ia masih sempat melontarkan senyum kepada Candrika Sari. Bau harum bunga melati mengiringi kepergian perempuan itu. Bulu kuduk Candrika Sari berdiri.

Saat pintu lift tertutup dan hendak naik ke lantai 4, terdengar nyanyian sepenggal lagu. “Malam ini tak ingin aku sendiri, kucari damai bersama bayangmu”. Sebuah penggalan lagu lawas yang dinyanyikan Dian Piesesha. Lagu itu dinyanyikan dengan nada mendayu oleh perempuan yang baru keluar dari lift. Candrika Sari terkejut. Ia sedikit gemetaran.

“Siapa perempuan itu? Apakah hantu..???” tanya Candrika Sari dalam hati di tengah ketakutan.

Pengalaman serupa dialami dosen lain, Ira Wardani. Ia telah mendengar cerita adanya perempuan misterius dari Candrika Sari. Oleh karenanya ia tidak berani sendirian berada di dalam lift. Apalagi bertepatan dengan malam Jumat Kliwon. Ira Wardani menunggu teman dosen lain, Yanuarianto yang mengajar sore hari di lantai 5.

Mereka berdua di dalam lift menuju lantai 5. Tidak ada orang lain yang ikut naik dari lantai 1, hanya Ira Wardani dan Yanuarianto. Namun ketika berada di lantai 2, lift berhenti. Ada orang yang akan menuju lantai atas.

Begitu pintu lift di lantai 2 terbuka, seorang perempuan masuk sambil tertunduk. Bau wangi bunga melati menyertai masuknya perempuan itu. Ira Wardani dan Yanuarianto saling pandang. Tampak wajah Ira Wardani seperti orang ketakutan. Sementara Yanuarianto berdebar mempersilakan perempuan itu masuk yang memencet lantai 3.

Perempuan berambut sebahu itu berdiri di sudut lift membelakangi Ira Wardani dan Yanuarianto. Saat lift berada di lantai 3, pintu lift terbuka. Perempuan misterius itu keluar sambil menatap Ira Wardani dan Yanuarianto. Kemudian ia melempar senyum dengan sorot mata menyeramkan.

Yanuarianto  merinding, sedangkan Ira Wardani menutup mulutnya. Ia ingin menjerit histeris, namun ditahannya sambil menutup mulut dengan telapak tangannya. Pintu lift lantai 3 kembali tertutup. Namun suasana mencekam masih mereka rasakan. Di luar lift, terdengar perempuan itu menyanyikan lagu Kau Selalu di Hatiku. Lagu tahun 1960-an yang dibawakan Ernie Djohan.

“Sambutlah tanganku ini, belailah dengan mesra, kasihmu hanya untukku, hingga akhir nanti”. Sepenggal refrain lagu dinyanyikan perempuan itu dengan suara yang menyedihkan. Lagu lawas itu terdengar sangat menyayat hati. Ira Wardani dan Yanuarianto bertambah merinding.

“Hantu perempuan..,” ucap Ira Wardani dengan nada gemetaran.

“Iya, selalu naik lift menuju lantai 3,” kata Yanuarianto sambil mengusap keringat di keningnya.

Suasana mencekam dan menyeramkan masih mereka rasakan saat tiba di lantai 5 dan keluar dari lift. Mereka serempak menengok ke kiri dan ke kanan, khawatir hantu perempuan itu berada di lantai 5. Ira Wardani usul, setelah kuliah selesai nanti tidak turun menggunakan lift; lewat tangga saja. Yanuarianto  sepakat. Apalagi kuliah berakhir menjelang magrib. Jangan-jangan hantu perempuan itu akan masuk lift dan turun dari lantai 3.

***

Lantai 3 menjadi tempat yang menyeramkan bagi dosen, pegawai, dan mahasiswa yang menggunakan lift. Ketakutan akan bertemu hantu perempuan di dalam lift membuat siapa pun yang akan menuju lantai atas kampus selalu mengajak teman. Meski bersama orang lain, perempuan misterius yang diduga hantu itu kadang masih juga muncul.

Mahasiswa semester tiga Tutiek Handayani mengajak temannya, Caco Mulyana untuk menuju lantai 4. Kuliah dosen Yuli Hapsari sebenarnya pada pagi hari. Namun mereka tetap saja dibayangi ketakutan kalau harus menggunakan lift menuju ruang kuliah.

Pelan-pelan Tutiek Handayani memencet tombol lift angka 4. Tak Berapa lama pintu lift terbuka. Betapa terkejut Tutiek Handayani dan Caco Mulyana. Mereka melihat sosok perempuan berpakaian serba putih dengan rambut sebahu sudah berada di dalam lift. Mereka hendak mengurungkan niat untuk masuk lift, namun satu kaki mereka sudah berada di dalam lift. Terpaksa mereka masuk lif bersama perempuan misterius yang sering diceritakan orang.

Suasana mencekam dirasakan Tutiek Handayani dan Caco Mulyana. Tangan Tutiek mencengkeram lengan Caco. Tutiek begitu ketakutan. Apalagi perempuan itu sempat memandangnya dengan tatapan kosong. Aroma bunga melati tercium dalam lift yang sedang berjalan naik. Caco Mulyana berusaha menahan napas dan tidak menunjukkan rasa takut, agar Tutiek Handayani tidak bertambah takut.

Tepat di lantai 3 lift terhenti. Padahal tidak ada yang memencet angka 3 di dalam lift. Pintu lift masih tertutup rapat. Tetapi tiba-tiba perempuan itu keluar menembus pintu lift yang tertutup. Sebelum meninggalkan lift perempuan itu sempat melemparkan senyum kepada Tutiek Handayani dan Caco Mulyana. Sekejap lalu menghilang.

“Hantu….!!!” teriak Tutiek  dan Caco berbarengan.

Belum hilang kekagetan dan ketakutan mereka, terdengar sayup-sayup suara nyanyian dari luar lift. “Jika tidak hari ini mungkin minggu depan, jika tidak minggu ini mungkin bulan depan, jika tidak bulan ini mungkin tahun depan”. Lagu folk yang biasanya dinyanyikan Batas Senja dengan merdu itu terasa menyeramkan. Suara perempuan itu terdengar lirih dan menyanyikan lagu Batas Senja dengan diiringi isak tangis.

Tutiek Handayani menutup telinganya tak ingin mendengar lagu itu. Padahal lagu Kita Usahakan Lagi itu sering dinyanyikan bersama teman-temannya. Caco Mulyana tidak dapat menyembunyikan lagi ketakutannya. Wajahnya tampak pucat. Suasana di dalam lift sangat mencekam. Begitu lift berhenti di lantai 4 dan pintu terbuka, mereka berhamburan berlarian menuju kelas. Tentu saja kelas menjadi heboh dengan cerita mereka tentang hantu perempuan di dalam lift.

Sejak peristiwa munculnya hantu perempuan yang bernyanyi, lift di kampus menjadi jarang digunakan. Terutama pada malam Jumat Kliwon. Dosen, pegawai, dan mahasiswa memilih berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Mereka takut bertemu hantu perempuan di dalam lift. Suasana ini membuat kampus menjadi tidak nyaman bagi banyak orang.

Menyikapi ketakutan di kampus, pihak pimpinan berinisiatif untuk mendatangi Mbah Ngatini, seorang wanita tokoh masyarakat yang juga tokoh adat di dekat kampus. Harapannya, hantu perempuan itu tidak lagi muncul di lift dan kampus menjadi tenang kembali.

“Itu makhluk halus perempuan yang dulu tinggal di atas pohon sengon di kampus. Pohon itu telah ditebang dan dijadikan bangunan, makanya ia selalu menuju ke lantai 3 di atas,” kata Mbah Ngatini kepada utusan fakultas yang menemuinya.

Mbah Ngatini menyarankan dilakukan ritual pembersihan makhluk halus yang biasa muncul di lift kampus. Semua persyaratan untuk ritual dipersiapkan Mbah Ngatini. Beraneka bunga dan dupa ditaruh di depan pintu lift.

Seekor ayam cemani disiapkan Mbah Ngatini. Ayam cemani adalah ayam yang berwarna hitam dan biasanya masih dere atau muda. Ayam ini di Jawa sering digunakan untuk ritual tolak bala, pembersihan atau pengusiran makhluk halus.

Kali ini ayam cemani dilepasliarkan Mbah Ngatini di hutan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Secara simbolis, hantu perempuan yang biasa muncul dilepas ke dalam hutan oleh Mbah Ngatini. Hantu perempuan yang sering menyanyikan lagu dengan irama sedih itu kini berada di atas pepohonan dalam hutan.

Lift kampus kembali digunakan oleh dosen, pegawai, dan mahasiswa untuk menuju lantai atas. Tidak ada lagi ketakutan untuk bertemu hantu perempuan di dalam lift. Meski suasana mencekam tetap saja masih dirasakan ketika berada di lift sendirian pada malam hari. Apalagi mahasiswa kadang berada di dalam lift sambil bersenandung kecil. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menggambar di T-Shirt, Daur Ulang Kertas dan Ecoprint: Cara Mengantisipasi Bullying dan Menguatkan Kreativitas Anak

Next Post

Menonton “Soft Square” dengan Sok Tahu

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

by Salman Alade
May 24, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails
Next Post
Menonton “Soft Square” dengan Sok Tahu

Menonton “Soft Square” dengan Sok Tahu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co