22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Kampusku Sarang Hantu [40]: Hantu Perempuan di Lift Kampus

Chusmeru by Chusmeru
November 13, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

PEMBANGUNAN di universitas dan fakultas telah mengubah wajah kampus sebagai tempat menimba ilmu yang nyaman. Perlahan tapi pasti, gedung-gedung tua di tiap fakultas mulai dibongkar dan dibangun gedung baru. Kesan angker dan mistis yang dulu disandang kampus mulai berkurang dengan bangunan baru.

Kesan angker dan mistis sebetulnya bukan hanya ada di kampus. Kantor-kantor pemerintahan yang sebagian merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda juga terkesan angker. Para pegawai sudah menganggap biasa munculnya cerita mistis di bangunan kuno kantor pemerintah.

Namun cerita berbeda datang dari kampus. Bangunan tua di kampus dengan cepat menjadi bahan pergunjingan. Peran mahasiswa dan media sosial yang dengan masif menarasikan cerita mistis di seputaran kampus, membuat kampus seolah menjadi sarang hantu. Pembangunan gedung baru diharapkan dapat mengubah kesan angker kampus.

Proyek pembangunan di fakultas misalnya, begitu memanjakan dosen, pegawai, dan mahasiswa. Pintu gerbang kampus yang dulu hanya berupa pagar besi, kini dibuat gapura dengan desain yang modern. Tempat parkir kendaraan menjadi sangat luas dengan taman yang asri di kanan dan kiri.

Toilet kampus tidak lagi jorok seperti dulu. Kini siapa pun yang ke toilet terasa nyaman. Selain bersih, toilet kampus juga harum aroma parfum. Sepintas toilet yang ada di gedung baru mirip dengan toilet yang ada di hotel berbintang.

Dosen, pegawai, dan mahasiswa kini tak perlu lagi capai-capai berjalan menaiki tangga untuk menuju ruangan di lantai atas. Gedung baru fakultas telah dilengkapi lift untuk naik dan turun warga kampus. Tentu saja ini sangat membantu bagi dosen dan pegawai yang sudah lanjut usia. Menaiki tangga ke lantai atas membuat mereka ngos-ngosan.

Meski sudah berdiri gedung baru di kampus, kisah misteri dan menyeramkan tentang kampus tidak hilang begitu saja. Semua berasal dari cerita dari mulut ke mulut yang dituturkan dosen, pegawai, dan mahasiswa tentang bangunan kampus yang lama. Karenanya, walau sudah berdiri gedung megah, cerita mistis tentang kampus tetap saja membayangi siapa pun.

Lift di kampus sering dianggap sebagai salah satu tempat yang menyeramkan. Jika pegawai ada keperluan di lantai atas, perasaan merinding kerapkali muncul ketika berada di dalam lift sendirian. Begitu pula dosen dan mahasiswa yang kuliah di lantai atas. Suasana mencekam terasa saat berada dalam lift, apalagi pada kuliah sore dan malam hari.

***

Candrika Sari mengajar malam hari. Jadwal yang seharusnya di siang hari terpaksa ia geser menjadi malam, kebetulan di jam siang ia ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Agak malas sebetulnya Candrika Sari mengajar malam hari, apalagi ruang kuliah berada di lantai 4 di mana ia harus menggunakan lift. Jika melewati tangga biasa tentu sangat melelahkan.

Suasana kampus sepi di malam hari. Candrika Sari masuk ke dalam lift sendiri. Agak sedikit merinding. Meski gedung kuliah baru, namun aura menyeramkan tetap dirasakan. Candrika Sari hendak memencet tombol angka 4 ketika tiba-tiba seorang perempuan ikut masuk ke dalam lift. Candrika Sari menunda menutup lift dan mempersilakan perempuan itu masuk lift dan memencet angka 3.

Perempuan itu berpakaian serba putih dengan rambut sebahu. Wajahnya tampak pucat. Sekelebat ia menatap Candrika Sari sambil tersenyum. Namun senyumnya menyeramkan. Candrika Sari merinding, berharap lift melaju cepat menuju lantai 3 agar perempuan itu segera keluar. Tetapi yang ia rasakan lift berjalan sangat lambat.

Lift berhenti di lantai 3. Perempuan itu keluar begitu pintu terbuka. Sekilas ia masih sempat melontarkan senyum kepada Candrika Sari. Bau harum bunga melati mengiringi kepergian perempuan itu. Bulu kuduk Candrika Sari berdiri.

Saat pintu lift tertutup dan hendak naik ke lantai 4, terdengar nyanyian sepenggal lagu. “Malam ini tak ingin aku sendiri, kucari damai bersama bayangmu”. Sebuah penggalan lagu lawas yang dinyanyikan Dian Piesesha. Lagu itu dinyanyikan dengan nada mendayu oleh perempuan yang baru keluar dari lift. Candrika Sari terkejut. Ia sedikit gemetaran.

“Siapa perempuan itu? Apakah hantu..???” tanya Candrika Sari dalam hati di tengah ketakutan.

Pengalaman serupa dialami dosen lain, Ira Wardani. Ia telah mendengar cerita adanya perempuan misterius dari Candrika Sari. Oleh karenanya ia tidak berani sendirian berada di dalam lift. Apalagi bertepatan dengan malam Jumat Kliwon. Ira Wardani menunggu teman dosen lain, Yanuarianto yang mengajar sore hari di lantai 5.

Mereka berdua di dalam lift menuju lantai 5. Tidak ada orang lain yang ikut naik dari lantai 1, hanya Ira Wardani dan Yanuarianto. Namun ketika berada di lantai 2, lift berhenti. Ada orang yang akan menuju lantai atas.

Begitu pintu lift di lantai 2 terbuka, seorang perempuan masuk sambil tertunduk. Bau wangi bunga melati menyertai masuknya perempuan itu. Ira Wardani dan Yanuarianto saling pandang. Tampak wajah Ira Wardani seperti orang ketakutan. Sementara Yanuarianto berdebar mempersilakan perempuan itu masuk yang memencet lantai 3.

Perempuan berambut sebahu itu berdiri di sudut lift membelakangi Ira Wardani dan Yanuarianto. Saat lift berada di lantai 3, pintu lift terbuka. Perempuan misterius itu keluar sambil menatap Ira Wardani dan Yanuarianto. Kemudian ia melempar senyum dengan sorot mata menyeramkan.

Yanuarianto  merinding, sedangkan Ira Wardani menutup mulutnya. Ia ingin menjerit histeris, namun ditahannya sambil menutup mulut dengan telapak tangannya. Pintu lift lantai 3 kembali tertutup. Namun suasana mencekam masih mereka rasakan. Di luar lift, terdengar perempuan itu menyanyikan lagu Kau Selalu di Hatiku. Lagu tahun 1960-an yang dibawakan Ernie Djohan.

“Sambutlah tanganku ini, belailah dengan mesra, kasihmu hanya untukku, hingga akhir nanti”. Sepenggal refrain lagu dinyanyikan perempuan itu dengan suara yang menyedihkan. Lagu lawas itu terdengar sangat menyayat hati. Ira Wardani dan Yanuarianto bertambah merinding.

“Hantu perempuan..,” ucap Ira Wardani dengan nada gemetaran.

“Iya, selalu naik lift menuju lantai 3,” kata Yanuarianto sambil mengusap keringat di keningnya.

Suasana mencekam dan menyeramkan masih mereka rasakan saat tiba di lantai 5 dan keluar dari lift. Mereka serempak menengok ke kiri dan ke kanan, khawatir hantu perempuan itu berada di lantai 5. Ira Wardani usul, setelah kuliah selesai nanti tidak turun menggunakan lift; lewat tangga saja. Yanuarianto  sepakat. Apalagi kuliah berakhir menjelang magrib. Jangan-jangan hantu perempuan itu akan masuk lift dan turun dari lantai 3.

***

Lantai 3 menjadi tempat yang menyeramkan bagi dosen, pegawai, dan mahasiswa yang menggunakan lift. Ketakutan akan bertemu hantu perempuan di dalam lift membuat siapa pun yang akan menuju lantai atas kampus selalu mengajak teman. Meski bersama orang lain, perempuan misterius yang diduga hantu itu kadang masih juga muncul.

Mahasiswa semester tiga Tutiek Handayani mengajak temannya, Caco Mulyana untuk menuju lantai 4. Kuliah dosen Yuli Hapsari sebenarnya pada pagi hari. Namun mereka tetap saja dibayangi ketakutan kalau harus menggunakan lift menuju ruang kuliah.

Pelan-pelan Tutiek Handayani memencet tombol lift angka 4. Tak Berapa lama pintu lift terbuka. Betapa terkejut Tutiek Handayani dan Caco Mulyana. Mereka melihat sosok perempuan berpakaian serba putih dengan rambut sebahu sudah berada di dalam lift. Mereka hendak mengurungkan niat untuk masuk lift, namun satu kaki mereka sudah berada di dalam lift. Terpaksa mereka masuk lif bersama perempuan misterius yang sering diceritakan orang.

Suasana mencekam dirasakan Tutiek Handayani dan Caco Mulyana. Tangan Tutiek mencengkeram lengan Caco. Tutiek begitu ketakutan. Apalagi perempuan itu sempat memandangnya dengan tatapan kosong. Aroma bunga melati tercium dalam lift yang sedang berjalan naik. Caco Mulyana berusaha menahan napas dan tidak menunjukkan rasa takut, agar Tutiek Handayani tidak bertambah takut.

Tepat di lantai 3 lift terhenti. Padahal tidak ada yang memencet angka 3 di dalam lift. Pintu lift masih tertutup rapat. Tetapi tiba-tiba perempuan itu keluar menembus pintu lift yang tertutup. Sebelum meninggalkan lift perempuan itu sempat melemparkan senyum kepada Tutiek Handayani dan Caco Mulyana. Sekejap lalu menghilang.

“Hantu….!!!” teriak Tutiek  dan Caco berbarengan.

Belum hilang kekagetan dan ketakutan mereka, terdengar sayup-sayup suara nyanyian dari luar lift. “Jika tidak hari ini mungkin minggu depan, jika tidak minggu ini mungkin bulan depan, jika tidak bulan ini mungkin tahun depan”. Lagu folk yang biasanya dinyanyikan Batas Senja dengan merdu itu terasa menyeramkan. Suara perempuan itu terdengar lirih dan menyanyikan lagu Batas Senja dengan diiringi isak tangis.

Tutiek Handayani menutup telinganya tak ingin mendengar lagu itu. Padahal lagu Kita Usahakan Lagi itu sering dinyanyikan bersama teman-temannya. Caco Mulyana tidak dapat menyembunyikan lagi ketakutannya. Wajahnya tampak pucat. Suasana di dalam lift sangat mencekam. Begitu lift berhenti di lantai 4 dan pintu terbuka, mereka berhamburan berlarian menuju kelas. Tentu saja kelas menjadi heboh dengan cerita mereka tentang hantu perempuan di dalam lift.

Sejak peristiwa munculnya hantu perempuan yang bernyanyi, lift di kampus menjadi jarang digunakan. Terutama pada malam Jumat Kliwon. Dosen, pegawai, dan mahasiswa memilih berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Mereka takut bertemu hantu perempuan di dalam lift. Suasana ini membuat kampus menjadi tidak nyaman bagi banyak orang.

Menyikapi ketakutan di kampus, pihak pimpinan berinisiatif untuk mendatangi Mbah Ngatini, seorang wanita tokoh masyarakat yang juga tokoh adat di dekat kampus. Harapannya, hantu perempuan itu tidak lagi muncul di lift dan kampus menjadi tenang kembali.

“Itu makhluk halus perempuan yang dulu tinggal di atas pohon sengon di kampus. Pohon itu telah ditebang dan dijadikan bangunan, makanya ia selalu menuju ke lantai 3 di atas,” kata Mbah Ngatini kepada utusan fakultas yang menemuinya.

Mbah Ngatini menyarankan dilakukan ritual pembersihan makhluk halus yang biasa muncul di lift kampus. Semua persyaratan untuk ritual dipersiapkan Mbah Ngatini. Beraneka bunga dan dupa ditaruh di depan pintu lift.

Seekor ayam cemani disiapkan Mbah Ngatini. Ayam cemani adalah ayam yang berwarna hitam dan biasanya masih dere atau muda. Ayam ini di Jawa sering digunakan untuk ritual tolak bala, pembersihan atau pengusiran makhluk halus.

Kali ini ayam cemani dilepasliarkan Mbah Ngatini di hutan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Secara simbolis, hantu perempuan yang biasa muncul dilepas ke dalam hutan oleh Mbah Ngatini. Hantu perempuan yang sering menyanyikan lagu dengan irama sedih itu kini berada di atas pepohonan dalam hutan.

Lift kampus kembali digunakan oleh dosen, pegawai, dan mahasiswa untuk menuju lantai atas. Tidak ada lagi ketakutan untuk bertemu hantu perempuan di dalam lift. Meski suasana mencekam tetap saja masih dirasakan ketika berada di lift sendirian pada malam hari. Apalagi mahasiswa kadang berada di dalam lift sambil bersenandung kecil. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menggambar di T-Shirt, Daur Ulang Kertas dan Ecoprint: Cara Mengantisipasi Bullying dan Menguatkan Kreativitas Anak

Next Post

Menonton “Soft Square” dengan Sok Tahu

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails
Next Post
Menonton “Soft Square” dengan Sok Tahu

Menonton “Soft Square” dengan Sok Tahu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co