14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Agus Nantika dan Canvas Beton: Cerita di Balik Mural Ubud Writers & Readers Festival 2025

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
November 6, 2025
in Persona
Agus Nantika dan Canvas Beton: Cerita di Balik Mural Ubud Writers & Readers Festival 2025

Agus Nantika dari Canvas Beton di UWRF 2025 │Foto: tatkala.co/Dede

JIKA Anda sempat berkunjung ke Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025, Anda pasti menemukan mural-mural yang menghiasi berbagai sudut lokasi acara. Dari tembok di sekitar Jalan Penestanan, hingga Taman Baca Ubud, karya-karya itu turut menambah semarak festival yang tahun ini mengusung tema Aham Brahmasmi. Namun, tidak banyak yang tahu siapa di balik mural-mural tersebut. Mereka adalah Canvas Beton, kelompok mural yang didirikan oleh Agus Nantika (26), seniman muda asal Denpasar.

Canvas Beton berdiri sejak Juli 2023. Agus Nantika mengaku tak begitu ingat tanggal pastinya, tapi ia tahu betul bahwa gagasan membentuk kelompok mural ini lahir dari semangat untuk bekerja bersama dan belajar dari satu sama lain. Kini, ada 13 orang yang bergabung di Canvas Beton.

“Di Canvas Beton tidak semuanya pelukis, tapi semuanya suka lukisan,” ujar Agus sambil tersenyum.

Bagi Agus, keahlian teknis bukanlah syarat utama untuk bergabung. Yang lebih penting adalah kemauan untuk belajar dan mampu bekerja sama dalam tim. “Tidak harus andal melukis. Yang penting mau berproses dan belajar bersama,” katanya. Prinsip inilah yang membuat Canvas Beton terasa seperti ruang belajar bagi anak-anak muda yang ingin menyalurkan minatnya dalam seni visual.

 

Canvas Beton melukis mural di Jalan Penestanan │Foto: tatkala.co/Dede

Kembali ke UWRF 2025, perhelatan tahun ini menjadi pengalaman pertama Canvas Beton terlibat di festival sastra terbesar di Bali itu. Meski demikian, Agus sendiri bukan orang baru di lingkungan UWRF. Sejak 2020, ia dan beberapa teman kampusnya sudah beberapa kali ikut berpartisipasi, baik dalam proyek dekorasi maupun pameran seni di berbagai festival di Ubud.

“Meskipun ini festival sastra, saya rasa memang tetap perlu sentuhan seni visual di dalamnya, untuk menambah daya tarik dan estetika ruang,” ujarnya.

Agus Nantika mengatakan, untuk proyek UWRF tahun ini, konsep desain dan warna sudah disiapkan sejak awal oleh panitia. Tugas Canvas Beton adalah menerjemahkannya ke berbagai media mural, mulai dari tembok, triplek, hingga papan-papan penunjuk acara.

“Ketika konsep diberikan ke kami, kami cek dulu warna dan desainnya agar identik. Setelah itu, tinggal eksekusi,” ucap Agus, singkat.

Mural karya Canvas Beton di Taman Baca, Ubud │Foto: tatkala.co/Dede

Dari 13 anggota tim, enam orang turun langsung melukis mural di lokasi. Menariknya, sebagian besar dari mereka masih berstatus pelajar sekolah menengah, berusia 17–18 tahun. “Semuanya muda-muda, saya aja yang tua sendiri,” ujarnya sambil tertawa.

Keterlibatan anak-anak sekolah ini tentu membawa tantangan tersendiri. Waktu pengerjaan harus menyesuaikan jadwal belajar. Mereka baru bisa bekerja selepas sekolah, sehingga proses pengerjaan menjadi lebih panjang. “Kebetulan waktu melukis di Taman Baca, kami juga ada proyek lain di Pedungan, Denpasar. Jadi harus bagi waktu dan tenaga,” kata Agus.

Ia menambahkan, pengerjaan mural di tembok Jalan Penestanan sepanjang hampir lima belas meter sudah dikerjakan sedari tiga bulan sebelum festival bergulir. Sementara mural di Taman Baca dikerjakan beberapa minggu menjelang acara.

“Untuk pengerjaan di venue memang cukup mendadak juga. Tapi justru di sana serunya. Ketika kita terdesak, pekerjaan malah cepat selesai, kayak bikin skripsi,” candanya.

Mural karya Canvas Beton │Foto: tatkala.co/Dede

Meski mural-mural itu tidak secara langsung berkaitan dengan sastra, bagi Agus, keberadaannya tetap penting sebagai unsur dekoratif dan informatif. “Lewat mural ─ hiasan panggung, dan tanda penunjuk arah di venue, kami membantu menciptakan suasana festival yang lebih hidup,” tegasnya.

Ia lalu menambahkan dengan nada bangga, “Intinya, kalau sudah lihat ada hal yang dilukis atau digambar di UWRF, sudah pasti itu karya Canvas Beton.”

Di sela obrolan, Agus menyeruput kopi panasnya sambil menyalakan sebatang rokok. Ia tampak santai, tapi ucapannya selalu mengalir penuh keyakinan. Ia bercerita bahwa tujuan utama membentuk Canvas Beton adalah untuk mewadahi anak-anak muda yang gemar melukis agar punya tempat berekspresi. Ia mengajak kawan, adik, dan kerabatnya untuk bergabung.

“Canvas Beton sebenarnya cuma wadah bagi mereka untuk mencurahkan ekspresi. Kalau pun menjadi komersial, hasilnya dibagi secara adil. Jadi mereka dibayar untuk menjalankan hobinya,” terangnya.

Canvas Beton melukis mural di Jalan Penestanan │Foto: tatkala.co/Dede

Agus Nantika sendiri baru saja lulus dari Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI). Sebelumnya, ia menempuh pendidikan di SMK Negeri 1 Sukawati, atau lebih dikenal dengan nama SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia) ─ sekolah seni yang banyak melahirkan seniman terkenal di Bali.

Ketika tidak ada proyek mural, Agus tetap melukis dan sesekali berpameran. Namun belakangan, waktunya lebih banyak tersita untuk proyek Canvas Beton. “Jadi ya tetap ngelukis, karena memang nggak ada hal lain selain itu,” ujarnya sambil tertawa.

Kini, Canvas Beton terus berkembang dan mulai dikenal sebagai kelompok mural yang konsisten berkarya di ruang publik. Dari dinding jalan, sekolah, hingga panggung festival, karya mereka menjadi penanda bahwa seni rupa tak selalu harus berada di galeri. Ia bisa hadir di tembok, di antara pejalan kaki, atau di tengah hiruk pikuk festival sastra. “Kalau mau mempercantik tembok rumah, kantor, atau tempat usaha, tinggal hubungi kami,” kata Agus sambil terkekeh. Anda bisa menemukan mereka di Instagram @canvasbeton. Satu hal yang pasti, mereka akan siap “mencorat-coret” tembok Anda ─ dengan harga yang, kata Agus, “menyame.” [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

Agus Nantika, Mural, dan Canvas Beton: Tidak Asal Coret, Tapi Kalau Ada Panggilan, Ia Siap Mencoret
Tags: MuralSeni Rupaseni rupa BaliUbud Writers and Readers FestivalUWRFUWRF 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yudiati Kuniko Menyembuhkan Luka lewat ‘Hana: Jangan Biarkan Mereka Lihat Lukamu’ –Dari Sesi Peluncuran Buku di UWRF 2025

Next Post

ISI Bali Perkenalkan Melukis Wayang Kamasan di Media Plexsiglas dan Pot Gerabah Kepada Anak-anak anak Sanggar Sinar Pande Kamasan Klungkung

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
ISI Bali Perkenalkan Melukis Wayang Kamasan di Media Plexsiglas dan Pot Gerabah Kepada Anak-anak anak Sanggar Sinar Pande Kamasan Klungkung

ISI Bali Perkenalkan Melukis Wayang Kamasan di Media Plexsiglas dan Pot Gerabah Kepada Anak-anak anak Sanggar Sinar Pande Kamasan Klungkung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co