23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Agus Nantika dan Canvas Beton: Cerita di Balik Mural Ubud Writers & Readers Festival 2025

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
November 6, 2025
in Persona
Agus Nantika dan Canvas Beton: Cerita di Balik Mural Ubud Writers & Readers Festival 2025

Agus Nantika dari Canvas Beton di UWRF 2025 │Foto: tatkala.co/Dede

JIKA Anda sempat berkunjung ke Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025, Anda pasti menemukan mural-mural yang menghiasi berbagai sudut lokasi acara. Dari tembok di sekitar Jalan Penestanan, hingga Taman Baca Ubud, karya-karya itu turut menambah semarak festival yang tahun ini mengusung tema Aham Brahmasmi. Namun, tidak banyak yang tahu siapa di balik mural-mural tersebut. Mereka adalah Canvas Beton, kelompok mural yang didirikan oleh Agus Nantika (26), seniman muda asal Denpasar.

Canvas Beton berdiri sejak Juli 2023. Agus Nantika mengaku tak begitu ingat tanggal pastinya, tapi ia tahu betul bahwa gagasan membentuk kelompok mural ini lahir dari semangat untuk bekerja bersama dan belajar dari satu sama lain. Kini, ada 13 orang yang bergabung di Canvas Beton.

“Di Canvas Beton tidak semuanya pelukis, tapi semuanya suka lukisan,” ujar Agus sambil tersenyum.

Bagi Agus, keahlian teknis bukanlah syarat utama untuk bergabung. Yang lebih penting adalah kemauan untuk belajar dan mampu bekerja sama dalam tim. “Tidak harus andal melukis. Yang penting mau berproses dan belajar bersama,” katanya. Prinsip inilah yang membuat Canvas Beton terasa seperti ruang belajar bagi anak-anak muda yang ingin menyalurkan minatnya dalam seni visual.

 

Canvas Beton melukis mural di Jalan Penestanan │Foto: tatkala.co/Dede

Kembali ke UWRF 2025, perhelatan tahun ini menjadi pengalaman pertama Canvas Beton terlibat di festival sastra terbesar di Bali itu. Meski demikian, Agus sendiri bukan orang baru di lingkungan UWRF. Sejak 2020, ia dan beberapa teman kampusnya sudah beberapa kali ikut berpartisipasi, baik dalam proyek dekorasi maupun pameran seni di berbagai festival di Ubud.

“Meskipun ini festival sastra, saya rasa memang tetap perlu sentuhan seni visual di dalamnya, untuk menambah daya tarik dan estetika ruang,” ujarnya.

Agus Nantika mengatakan, untuk proyek UWRF tahun ini, konsep desain dan warna sudah disiapkan sejak awal oleh panitia. Tugas Canvas Beton adalah menerjemahkannya ke berbagai media mural, mulai dari tembok, triplek, hingga papan-papan penunjuk acara.

“Ketika konsep diberikan ke kami, kami cek dulu warna dan desainnya agar identik. Setelah itu, tinggal eksekusi,” ucap Agus, singkat.

Mural karya Canvas Beton di Taman Baca, Ubud │Foto: tatkala.co/Dede

Dari 13 anggota tim, enam orang turun langsung melukis mural di lokasi. Menariknya, sebagian besar dari mereka masih berstatus pelajar sekolah menengah, berusia 17–18 tahun. “Semuanya muda-muda, saya aja yang tua sendiri,” ujarnya sambil tertawa.

Keterlibatan anak-anak sekolah ini tentu membawa tantangan tersendiri. Waktu pengerjaan harus menyesuaikan jadwal belajar. Mereka baru bisa bekerja selepas sekolah, sehingga proses pengerjaan menjadi lebih panjang. “Kebetulan waktu melukis di Taman Baca, kami juga ada proyek lain di Pedungan, Denpasar. Jadi harus bagi waktu dan tenaga,” kata Agus.

Ia menambahkan, pengerjaan mural di tembok Jalan Penestanan sepanjang hampir lima belas meter sudah dikerjakan sedari tiga bulan sebelum festival bergulir. Sementara mural di Taman Baca dikerjakan beberapa minggu menjelang acara.

“Untuk pengerjaan di venue memang cukup mendadak juga. Tapi justru di sana serunya. Ketika kita terdesak, pekerjaan malah cepat selesai, kayak bikin skripsi,” candanya.

Mural karya Canvas Beton │Foto: tatkala.co/Dede

Meski mural-mural itu tidak secara langsung berkaitan dengan sastra, bagi Agus, keberadaannya tetap penting sebagai unsur dekoratif dan informatif. “Lewat mural ─ hiasan panggung, dan tanda penunjuk arah di venue, kami membantu menciptakan suasana festival yang lebih hidup,” tegasnya.

Ia lalu menambahkan dengan nada bangga, “Intinya, kalau sudah lihat ada hal yang dilukis atau digambar di UWRF, sudah pasti itu karya Canvas Beton.”

Di sela obrolan, Agus menyeruput kopi panasnya sambil menyalakan sebatang rokok. Ia tampak santai, tapi ucapannya selalu mengalir penuh keyakinan. Ia bercerita bahwa tujuan utama membentuk Canvas Beton adalah untuk mewadahi anak-anak muda yang gemar melukis agar punya tempat berekspresi. Ia mengajak kawan, adik, dan kerabatnya untuk bergabung.

“Canvas Beton sebenarnya cuma wadah bagi mereka untuk mencurahkan ekspresi. Kalau pun menjadi komersial, hasilnya dibagi secara adil. Jadi mereka dibayar untuk menjalankan hobinya,” terangnya.

Canvas Beton melukis mural di Jalan Penestanan │Foto: tatkala.co/Dede

Agus Nantika sendiri baru saja lulus dari Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI). Sebelumnya, ia menempuh pendidikan di SMK Negeri 1 Sukawati, atau lebih dikenal dengan nama SSRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia) ─ sekolah seni yang banyak melahirkan seniman terkenal di Bali.

Ketika tidak ada proyek mural, Agus tetap melukis dan sesekali berpameran. Namun belakangan, waktunya lebih banyak tersita untuk proyek Canvas Beton. “Jadi ya tetap ngelukis, karena memang nggak ada hal lain selain itu,” ujarnya sambil tertawa.

Kini, Canvas Beton terus berkembang dan mulai dikenal sebagai kelompok mural yang konsisten berkarya di ruang publik. Dari dinding jalan, sekolah, hingga panggung festival, karya mereka menjadi penanda bahwa seni rupa tak selalu harus berada di galeri. Ia bisa hadir di tembok, di antara pejalan kaki, atau di tengah hiruk pikuk festival sastra. “Kalau mau mempercantik tembok rumah, kantor, atau tempat usaha, tinggal hubungi kami,” kata Agus sambil terkekeh. Anda bisa menemukan mereka di Instagram @canvasbeton. Satu hal yang pasti, mereka akan siap “mencorat-coret” tembok Anda ─ dengan harga yang, kata Agus, “menyame.” [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

BACA JUGA:

Agus Nantika, Mural, dan Canvas Beton: Tidak Asal Coret, Tapi Kalau Ada Panggilan, Ia Siap Mencoret
Tags: MuralSeni Rupaseni rupa BaliUbud Writers and Readers FestivalUWRFUWRF 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yudiati Kuniko Menyembuhkan Luka lewat ‘Hana: Jangan Biarkan Mereka Lihat Lukamu’ –Dari Sesi Peluncuran Buku di UWRF 2025

Next Post

ISI Bali Perkenalkan Melukis Wayang Kamasan di Media Plexsiglas dan Pot Gerabah Kepada Anak-anak anak Sanggar Sinar Pande Kamasan Klungkung

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
ISI Bali Perkenalkan Melukis Wayang Kamasan di Media Plexsiglas dan Pot Gerabah Kepada Anak-anak anak Sanggar Sinar Pande Kamasan Klungkung

ISI Bali Perkenalkan Melukis Wayang Kamasan di Media Plexsiglas dan Pot Gerabah Kepada Anak-anak anak Sanggar Sinar Pande Kamasan Klungkung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co