24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yudiati Kuniko Menyembuhkan Luka lewat ‘Hana: Jangan Biarkan Mereka Lihat Lukamu’ –Dari Sesi Peluncuran Buku di UWRF 2025

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
November 6, 2025
in Khas
Yudiati Kuniko Menyembuhkan Luka lewat ‘Hana: Jangan Biarkan Mereka Lihat Lukamu’ –Dari Sesi Peluncuran Buku di UWRF 2025

Peluncuran buku ‘Hana: Jangan Biarkan Mereka Lihat Lukamu’ │Foto: tatkala.co/Dede

“Buku ini prosesnya hampir lima tahun, jadi keyboard saya banyak eror karena kebanyakan kena air mata,” ujar Yudiati Kuniko, separuh berkelakar, separuh menahan emosi.

Sabtu pagi, 1 November 2025, suasana Rumah Kayu di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) terasa tenang dan hangat. Pagi itu tengah berlangsung acara peluncuran buku Hana: Jangan Biarkan Mereka Lihat Lukamu. Sesi ini menghadirkan sang penulis, Yudiati Kuniko, bersama moderator Ndari ─ penulis, blogger, sekaligus penjual buku.

Bagi Yudiati, momen ini bukan sekadar peluncuran karya, melainkan perayaan perjalanan panjang untuk berdamai dengan masa lalu. Lima tahun lamanya, ia menulis kisah yang lahir dari luka, kehilangan, dan upaya memaafkan ─ kisah yang akhirnya membawanya pada penyembuhan diri.

Nama Yudiati Kuniko mungkin baru dikenal di dunia sastra, namun perjalanannya di dunia tulis-menulis sudah dimulai sejak lama. Perempuan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mengawali karier kepenulisannya lewat antologi Sepenggal Kisah Kita (Elfa Mediatama, 2021). Sejak itu, ia turut berkontribusi dalam 15 antologi lain, termasuk Kita dan Kata yang Tak Terucap (Mekar Cipta Lestari), hasil kolaborasi Komunitas Semut Merah Kaizen ─ komunitas alumni dari Kaizen Writing Workshop.

“Dulu saya memang suka menulis, bahkan pernah juara mengarang waktu kecil, tapi tidak pernah terpikir untuk serius,” kenang Yudiati.

“Semua berawal dari pandemi. Saya lebih banyak di rumah, mulai belajar menulis lagi, ikut-ikut workshop, termasuk kelas Kaizen Writing bersama Dee Lestari. Dari sanalah saya belajar menulis dengan benar,” jelasnya.

Di luar dunia menulis, Yudiati adalah seorang pekerja yang sibuk. Ia bekerja sebagai akuntan dan konsultan pajak, serta menjabat sebagai Kepala Departemen Pajak di PT Frisian Flag Indonesia ─ bagian dari FrieslandCampina Global. Namun di sela kesibukan itu, ia terus menulis, menyusun kata demi kata yang akhirnya melahirkan novel perdananya, Hana: Jangan Biarkan Mereka Lihat Lukamu.

Yudiati Kuniko (kiri) dan Ndari (kanan) │Foto: tatkala.co/Dede

Tentang Hana dan Luka yang Tak Terlihat

Novel Hana berkisah tentang seorang perempuan Jepang yang hidupnya dibentuk oleh perang, kehilangan, dan cinta yang tak selalu membawa bahagia. Lahir dari seorang geisha (penghibur profesional), Hana tumbuh dalam bayang-bayang kelam Hutan Aokigahara ─ hutan yang dikenal sebagai tempat bunuh diri di Jepang. Hidup membawanya berpindah dari Yokohama ke Pulau Oshima, lalu ke Tokyo, hingga akhirnya ke Indonesia bersama Rumaga, seorang pengusaha asal Banjarmasin.

Namun, kebahagiaan tak bertahan lama. Pengkhianatan, kehilangan anak, dan konflik keluarga terus menghantui hidup Hana. Di usia senja, saat segalanya terasa menekan, ia kembali ke Hutan Aokigahara dengan niat mengakhiri hidup. Di sanalah ia mengalami pertemuan supranatural yang mengguncang batinnya ─ pertemuan yang memaksanya mempertanyakan makna hidup, cinta, dan pengampunan.

Menurut moderator Ndari, kisah dalam Hana bukan sekadar fiksi. “Ketika saya baca buku ini, rasanya memang berat untuk dituliskan, karena banyak topik yang sensitif dan personal. Apalagi novel ini semi-autobiografi, lahir dari pengalaman langsung Kak Yudi.”

Yudiati mengakui hal itu. “Saya bercita-cita, sebelum mati, saya mau punya satu buku. Akhirnya saya menulis novel ini,” katanya pelan.

“Buku ini adalah kisah tentang ibu saya. Kebetulan kisahnya memang tragis. Ketika saya menjadi ibu, saya akhirnya mengerti, setiap ibu pasti punya masa di mana ia melukai perasaan anaknya, meski tanpa sengaja,” ungkapnya.

Bagi Yudiati, menulis Hana berarti menggali kembali masa kecil yang penuh diam dan jarak. Ia menuliskan sosok ibunya dengan segala kekurangan ─ tanpa glorifikasi, tanpa menyembunyikan sisi rapuh seorang manusia.

“Saya ingin menuliskan karakter ibu dengan segala kekurangannya. Apa yang membuatnya tidak pernah memeluk saya, tidak pernah menangis. Jadi saya mau bilang, menjadi ibu tidak harus sempurna. Setiap insan pasti bisa membuat kesalahan, dan itu manusiawi,” ucapnya sembari menahan tangis.

Peluncuran buku ‘Hana: Jangan Biarkan Mereka Lihat Lukamu’ │Foto: tatkala.co/Dede

 

Ia bercerita, selama proses menulis, banyak mentor yang ragu dengan keberaniannya. “Mereka bertanya, ‘yakin mau menulis tentang ibu yang bunuh diri?’ Itu topik yang berat, tidak banyak bisa diterima di Indonesia,” tuturnya.

“Apalagi saya muslim, sementara ibu saya orang Jepang, dulu beragama Buddha, lalu beralih identitas menjadi muslim. Berbeda dengan kultur Indonesia, bagi orang Jepang, bunuh diri justru dianggap hal yang membanggakan, dan itu yang saya angkat dalam cerita ini, dengan beberapa penambahan dramatisasi,” lanjutnya.

Yudiati menuturkan, ia tak pernah melihat air mata ibunya seumur hidup. “Ibu saya meninggal di usia 74 tahun. Tidak pernah menangis, tidak pernah memeluk. Tapi ketika saya tahu kisah hidupnya, saya baru sadar betapa luar biasanya Ibu. Ia hidup di negeri asing, kehilangan suami di usia muda, tapi tetap bisa membesarkan saya dan adik saya.”

“Ibu saya janda sejak saya umur tiga tahun, ketika bapak meninggal. Dulu saya sempat berpikir saya anak pungut, karena dinginnya hubungan kami. Tapi ternyata ia hanya sedang berjuang. Ia luar biasa,” ungkapnya.

Haru di Rumah Kayu

Momen paling mengharukan terjadi di tengah acara ketika putri Yudiati, Aisyah, membacakan sepenggal kisah dari novel Hana. Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca. Ia mengaku, itu kali pertama membaca karya ibunya.

Penonton yang hadir ikut terdiam, lalu bertepuk tangan panjang. Banyak yang terenyuh, memahami bahwa kisah dalam buku ini bukan sekadar fiksi, melainkan pengalaman hidup yang nyata.

Momen saat Aisyah membacakan sepenggal kisah dari novel ‘Hana’ │Foto: tatkala.co/Dede

 

“Buku ini banyak bongkar-pasang. Ada bab yang dulu di belakang saya pindah ke depan, dan banyak revisi lainnya. Prosesnya panjang, apalagi saya bukan penulis profesional,” ujar Yudiati, tersenyum kecil.

Ndari, sang moderator turut menimpali, “Bagi saya, Kak Yudi sangat jujur dalam bercerita. Tidak ada ‘hero’ dalam buku ini. Ketika menulis tentang ibu dengan segala ketidaksempurnaannya, pasti ada banyak gejolak dari orang-orang terdekat. Tapi saya salut dengan keberanian dan kejujurannya.”

Di akhir sesi, Yudiati mengaku bahwa proses menulis Hana telah menjadi media penyembuhan baginya. “Awalnya banyak keraguan. Tapi setelah menulisnya, saya merasa lega. Saya mencintai dan membenci ibu saya dalam waktu bersamaan. Tapi setelah buku ini selesai, saya merasa sembuh dari banyak hal.”

Ia terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan dengan suara bergetar.

“Ternyata, setelah saya menuliskannya, saya bisa memaafkan ibu sepenuhnya. Saya baru menyadari, ternyata seberat itu menjadi ibu saya. Dan novel ini, tanpa saya sadari, menjadi media penyembuh luka batin.”

Bagi Yudiati Kuniko, menulis bukan hanya tentang menciptakan cerita, tetapi juga tentang menemukan diri sendiri ─ tentang keberanian menatap luka, lalu menuliskannya agar tak lagi menyakitkan. Novel Hana: Jangan Biarkan Mereka Lihat Lukamu menjadi bukti bahwa dari kesedihan yang terdalam pun, selalu bisa tumbuh keindahan ─ keindahan yang lahir dari kejujuran, pengampunan, dan cinta yang akhirnya menemukan jalan pulang. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuUbud Writers and Readers FestivalUWRFUWRF 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [39]: Makelar Tanah Ditolak Bumi

Next Post

Agus Nantika dan Canvas Beton: Cerita di Balik Mural Ubud Writers & Readers Festival 2025

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Agus Nantika dan Canvas Beton: Cerita di Balik Mural Ubud Writers & Readers Festival 2025

Agus Nantika dan Canvas Beton: Cerita di Balik Mural Ubud Writers & Readers Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co