1 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [39]: Makelar Tanah Ditolak Bumi

Chusmeru by Chusmeru
November 6, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

BANYAK yang menganggap bekerja di perguruan tinggi pasti bergaji besar. Anggapan itu berkaca dari mereka yang bekerja sebagai guru di SD, SMP, dan SMA. Jika gaji guru saja sudah cukup buat hidup sehari-hari, maka mereka yang bekerja di perguruan tinggi, entah dosen maupun pegawai pasti gajinya juga tinggi.

Kenyataannya, gaji dosen dan pegawai di kampus tidak setinggi anggapan orang. Sama dengan pegawai lain, dosen dan pegawai di kampus boleh dikata pas-pasan saja. Cukup untuk hidup sehari-hari. Tidak berlebih. Kecuali dosen atau pegawai yang menduduki jabatan di kampus, akan mendapat tunjangan jabatan yang jumlahnya juga tidak terlalu besar.

Apalagi pegawai administrasi di kampus. Gajinya justru lebih kecil dibanding mereka yang bekerja di perusahaan. Dengan pendidikan yang hanya tamat SMA, pegawai di kampus tak mungkin dapat hidup mewah. Tak heran jika banyak pegawai yang memiliki kerja sambilan dengan membuka warung kelontong di rumah atau menjual jasa servis barang elektronik.

Sopandi adalah pegawai biasa di sebuah perguruan tinggi. Ia tidak memiliki jabatan. Pendidikannya hanya tamat SMA dan belum lama bekerja. Gaji sebulan jauh dari kata cukup jika untuk menghidupi istri dan dua orang anaknya. Ia tidak memiliki bakat bisnis seperti teman lain yang membuka warung makan di dekat kampus.

Sopandi hanya memiliki keterampilan berbicara. Setiap kali berbicara dengan orang lain, Sopandi menarik perhatian. Ia banyak memiliki teman, baik di lingkungan tempat tinggalnya maupun di kampus. Sopandi banyak dikenal oleh dosen, bahkan dosen dari fakultas lain. Pergaulannya yang luas memang membuat Sopandi banyak punya kenalan.

Menyebut nama Sopandi di kampus hampir pasti semua orang mengenalnya. Pejabat kampus pun mengenal Sopandi sebagai pegawai yang supel, mudah bergaul, sopan, dan pandai membujuk orang lain. Keterampilan Sopandi dalam berkomunikasi tidak pernah ia pelajari dari buku atau latihan. Sejak kecil ia memang sudah memiliki keterampilan berbicara.

Berbekal keterampilan berbicara dan membujuk orang lain itulah Sopandi memilih kerja sampingan sebagai makelar atau calo tanah. Minat masyarakat terhadap tanah di daerahnya cukup tinggi. Ada yang memang membutuhkan untuk dibangun rumah, ada pula yang sekadar berinvestasi. Harga tanah di daerahnya setiap tahun juga membumbung tinggi.

Semakin banyak kampus yang berdiri di daerahnya membuat tanah menjadi investasi bagi orang yang berduit. Tempat kos dan kafe banyak bermunculan. Bukan hanya minat untuk beli, masyarakat yang berminat menjual tanah pun semakin meningkat. Untuk itulah Sopandi memutuskan untuk menjadi makelar tanah saja.

***

Banyak cara yang dilakukan Sopandi untuk menjadi makelar tanah. Di lingkungan kampus, ia tahu betul kapan harus menawarkan tanah kepada dosen-dosen. Tahun anggaran baru menjadi saat yang tepat baginya untuk menawarkan dosen maupun pegawai untuk membeli tanah yang ia makelari.

“Ada tanah yang strategis mau dijual. Murah dan aksesnya bagus..,”.  Begitu biasanya kata-kata Sopandi yang sering digunakan untuk membujuk orang agar mau membeli tanah yang ditawarkan. Jika tidak mempan, Sopandi memiliki jurus lain agar calon pembeli berminat terhadap tawarannya.

Dosen-dosen muda acapkali menjadi sasaran bujukan Sopandi. Mereka biasanya belum memiliki rumah. Tanah dengan ukuran kecil banyak diminati. Kalau terbentur dengan anggaran yang tidak mencukupi, Sopandi juga bersedia membantu dosen untuk mengurus pinjaman uang di bank. Prinsipnya, jika ada orang yang meminta jasanya untuk menjualkan tanah, maka harus berhasil mendapatkan pembeli.

Pendapatan dari pekerjaan sampingan Sopandi sebagai makelar tanah cukup lumayan. Bahkan jika berhasil menjual tanah yang luas, komisi yang ia terima lebih besar dari gajinya sebulan. Sopandi biasanya mendapat uang komisi 2,5% dari hasil transaksi penjualan tanah. Bila ia mampu membantu menjual tanah seharga ratusan juta atau miliaran rupiah, maka komisi yang ia terima sangat banyak untuk ukuran pegawai biasa di kampus.

Musim Pemilu akan menjadi masa yang menjanjikan bagi Sopandi. Banyak calon anggota legislatif (caleg) yang meminta bantuannya menjual tanah sebagai modal kampanye. Jika sudah begini, maka ia akan segera mencari investor tanah. Para pebisnis dari kota besar juga banyak yang melakukan investasi tanah, dan mereka sering menggunakan jasa Sopandi. Tanah yang dibutuhkan pebisnis biasanya bukan hanya ratusan meter, tetapi dalam hitungan hektare.

Kesuksesan Sopandi menjadi makelar tanah telah mengubah segalanya. Semua kebutuhan rumah tangganya tercukupi dari hasil komisi penjualan tanah. Penampilan Sopandi juga berbeda dengan pegawai teman-teman kerjanya. Sopandi telah mampu membeli mobil dan merenovasi rumahnya.

Gaya hidup Sopandi mulai berubah drastis. Sebagai pegawai administrasi di kampus, penampilan dan gaya hidupnya nyaris melebihi para dosen. Sopandi mulai hidup berfoya-foya.  Hampir setiap minggu ia bersama teman-temannya mengunjungi tempat hiburan malam. Kadang pulang dini hari dalam keadaan mabuk, karena terlalu banyak mengkonsumsi minuman beralkohol.

Kesetiaan istrinya yang merangkak bersama dari nol, dari kehidupan yang serba kekurangan, tak dibalasnya dengan kasih sayang yang sebanding. Bagi Sopandi, membelikan barang-barang perhiasan bagi istrinya dianggap cukup untuk membahagiakan seorang istri. Perangai Sopandi mulai goyah. Ia mulai bermain mata dengan wanita lain.

Sopandi selingkuh. Bukan hanya dengan seorang wanita, tetapi beberapa. Kehidupannya berubah drastis. Pergaulannya dengan para pebisnis membuatnya lupa daratan. Sopandi mengingkari kesetiaan istrinya. Banyak teman-teman pegawai di kampus yang mengingatkan Sopandi, tetapi ia tak peduli.

“Sadarlah Sopandi.. Ingat istri dan anak-anakmu..,” saran Wardiman teman sekantornya di kampus.

“Aku selalu ingat istri dan anak-anakku. Semua keperluan mereka sudah aku cukupi..!!” kata Sopandi dengan nada sedikit congkak.

Kalau sudah begini, teman-teman Sopandi hanya bisa mengelus dada. Kelimpahan materi telah mengubah hidup Sopandi. Lelaki yang dulu hidup begitu sederhana, kini menjadi pongah. Pegawai yang dulu sangat rajin bekerja di kampus, kini sering meninggalkan kantor untuk urusan jual beli tanah.

***

Sopandi berubah drastis. Sebagai makelar tanah ia bukan hanya menunggu ada orang yang menjual atau membeli tanah. Kini ia lebih agresif mendatangi pemilik tanah sekiranya ada investor yang berminat membeli tanah di pedesaan. Bahkan Sopandi tak jarang memaksa petani untuk menjual tanah yang diinginkan pembeli.

Suatu ketika seorang pengusaha besar dari Jakarta membutuhkan lahan luas untuk mendirikan pabrik dan gudang. Sopandi diminta untuk mencari lahan itu. Layaknya peluru lepas dari selongsong, Sopandi bergerak cepat ke sebuah desa. Sawah menghijau menjadi incaran Sopandi. Bergegas ia temui Prayitno, pemilik sawah yang telah lanjut usia.

“Maaf, Pak Sopandi. Saya tidak berniat menujual sawah saya..,” kata Prayitno saat Sopandi membujuk untuk menjual sawahnya.

“Ini teman saya siap membeli dengan harga yang sangat tinggi, Pak Prayitno..,” bujuk Sopandi.

“Tapi saya tidak mau jual sawah saya. Lagi pula sawah ini masuk zona hijau, nggak bisa didirikan bangunan,” ujar Prayitno tetap bertahan.

“Ahhh.., itu masalah sepele. Nanti saya akan urus agar bisa jadi zona kuning,” kata Sopandi meyakinkan Prayitno.

“Ini sawah warisan dari kakek saya, Pak Sopandi. Saya tidak akan jual sampai kapan pun..!!” Prayitno mulai kesal dengan bujuk rayu Sopandi.

Kali ini Sopandi tak berkutik. Prayitno tetap kukuh tak mau menjual sawahnya. Padahal pengusaha dari Jakarta itu sangat menginginkan sawah itu, karena letaknya yang sangat strategis di tepi jalan besar. Sopandi tidak kehabisan akal. Ia mencari kesempatan pada waktu lain untuk kembali mendatangi rumah Prayitno.

Sopandi tetap ngotot agar Prayitno mau menjual sawahnya. Terbayang di benaknya begitu banyak uang komisi yang akan diterimanya jika sawah itu bisa dibeli pengusaha dari Jakarta. Hidupnya akan bergelimang rupiah. Itu berarti ia bisa berfoya-foya menghabiskan uang di tempat hiburan malam. Atau bercengkerama dengan wanita selingkuhannya.

Teman-teman Sopandi di kampus tak tinggal diam melihat perilakunya yang semakin agresif sebagai makelar tanah. Mereka mengingatkan Sopandi agar tidak memaksa orang lain untuk menjual tanah. Jual beli tanah bagi masyarakat Jawa berkaitan dengan pulung, keberuntungan. Tidak boleh ada paksaan. Keserakahan terhadap tanah dapat berakibat buruk. Namun Sopandi menganggap nasihat teman-temannya bagai angin lalu.

“Ahh.. takhayul itu..!!!” kata Sopandi ketus menanggapi nasihat temannya.

Teman-teman Sopandi pasrah. Istri Sopandi juga tak mampu lagi menasihati suaminya yang telah hilang kendali. Berkali-kali istri Sopandi mendapat cerita dari tetangganya tentang wanita selingkuhan suaminya. Menangis. Itu yang dapat dilakukan istri Sopandi ketika suaminya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan bau aroma wanita lain.

Sopandi bukan hanya diingatkan oleh teman dan istrinya. Sepertinya semesta juga mengingatkan sepak terjangnya. Entah mengapa, keanehan terjadi. Lantai di bawah meja kerja Sopandi di kampus tiba-tiba retak. Bukan hanya itu, lantai keramik di seputar meja kerja Sopandi terasa panas. Sedangkan meja kerja teman-temannya biasa saja, tidak terjadi keanehan apa pun.

Banyak yang mengaitkan peristiwa di bawah meja kerja Sopandi dengan hal gaib. Wardiman mengatakan jika Sopandi sedang ditolak bumi, karena perilakunya yang rakus sebagai makelar tanah. Seolah bumi marah ketika Sopandi memaksa orang untuk menjual tanah. Sopandi tak percaya dengan anggapan itu. Ia masih tetap pongah menjadi makelar tanah, berburu, dan memaksa pemiliknya untuk menjual tanahnya.

Peringatan demi peringatan, nasihat demi nasihat, bukan membuat Sopandi sadar. Ia semakin menjadi-jadi. Sopandi kian serakah menjadi makelar tanah. Ia menggaet beberapa pengusaha besar untuk membeli lahan petani. Hampir tiap hari Sopandi keluar masuk pedesaan untuk memaksa petani menjual sawahnya.

Alam semesta mungkin masih bisa bersabar dengan ulah Sopandi, tetapi tidak dengan tubuhnya. Suatu malam Sopandi pulang ke rumah dengan terhuyung-huyung. Bau alkohol begitu kuat tercium dari mulutnya. Sopandi terjungkal di depan pintu rumah. Ia muntah. Darah segar keluar dari mulutnya. Sopandi gontai, dan tersungkur di lantai rumahnya.

Belum sempat dilarikan ke rumah sakit, Sopandi menghembuskan napas terakhir. Istri dan anak-anaknya menjerit histeris. Lelaki yang dulu sabar, sederhana, dan sangat sayang kepada keluarga telah pergi selamanya. Kesedihan istri Sopandi bukan semata lantaran ditinggal mati suaminya, namun lantaran suaminya pergi dalam keadaan yang berbeda; pongah, serakah, pemabuk, dan bergelimang wanita.

Prosesi pemakaman Sopandi dihadiri sanak keluarga, tetangga, dan rekan-rekan kerjanya di kampus. Semua kehilangan Sopandi yang pandai berbicara. Sopandi yang mudah bergaul. Dan Sopandi yang di hari-hari terakhirnya menjadi lelaki yang tak bisa menerima nasihat orang lain.

Liang lahat sudah disiapkan para penggali kubur. Perlahan jenazah Sopandi hendak dimasukkan ke dalam kubur. Namun semua yang hadir di pemakaman terkejut. Mayat Sopandi tak dapat masuk ke liang kubur. Padahal para penggali kubur sebelumnya sudah mengukur panjang tubuh Sopandi. Mereka kemudian menggali kembali liang kubur agar lebih panjang. Namun saat mayat Sopandi akan diturunkan, lubang kubur kembali tak mencukupi untuk memasukkan jenazah Sopandi.

Semua peziarah saling pandang. Suasana mencekam dan merinding mewarnai prosesi pemakaman Sopandi. Berulang kali penggali kubur menambah ukuran galian lubang, berkali-kali pula mayat Sopandi tak dapat dimasukkan ke dalam liang lahat. Mereka saling berbisik, mayat Sopandi ditolak bumi. Seorang tokoh masyarakat di desa mencoba menenangkan.

“Bapak ibu sekalian, kita ikhlaskan dan kita doakan almarhum dapat diterima di sisi Tuhan..,” kata tokoh masyarakat itu seraya memimpin doa.

Berakhirnya doa, mayat Sopandi berhasil dimasukkan ke liang kubur. Semua menarik napas lega. Entah apa yang akan dilakukan Sopandi di alam baka sana. Mungkin ia masih akan berburu lahan yang tak pernah cukup buatnya. Atau mungkin ia merasa sepi dan terlunta-lunta di alam baka, karena semua penghuni menolaknya, sebagaimana ia ditolak bumi. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Paradoks BPHTB dalam PPJB: Ketika Keadilan Fiskal Mengabaikan Kepastian Hukum

Next Post

Yudiati Kuniko Menyembuhkan Luka lewat ‘Hana: Jangan Biarkan Mereka Lihat Lukamu’ –Dari Sesi Peluncuran Buku di UWRF 2025

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Ajian Jaran Goyang

by Chusmeru
August 20, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails
Next Post
Yudiati Kuniko Menyembuhkan Luka lewat ‘Hana: Jangan Biarkan Mereka Lihat Lukamu’ –Dari Sesi Peluncuran Buku di UWRF 2025

Yudiati Kuniko Menyembuhkan Luka lewat ‘Hana: Jangan Biarkan Mereka Lihat Lukamu’ --Dari Sesi Peluncuran Buku di UWRF 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co