22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Purbaya Yudhi Sadewa dan Dialektika Baru Politik Ekonomi Indonesia

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
October 10, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

FENOMENA menarik sedang terjadi di awal masa pemerintahan baru menuju 2029. Nama Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan yang baru beberapa bulan menjabat, mendadak mencuri sorotan publik. Dari kebijakan yang mengguncang pasar hingga gaya komunikasinya yang blak-blakan, Purbaya tampak menampilkan wajah teknokrat yang tak biasa yaitu keras pada angka, tapi santai di depan kamera.

Namun yang lebih menarik, kiprah Purbaya kini dipandang sebagai ujian bagi arah politik ekonomi nasional, bahwa apakah Indonesia benar-benar memasuki era “penyeimbangan baru” antara populisme politik dan rasionalitas teknokratis?

Sebab di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto dikenal sebagai figur dengan orientasi populis-sosialis, dengan gagasan besar seperti makan bergizi gratis, subsidi pangan, dan penguatan kedaulatan ekonomi rakyat.

Kombinasi ini melahirkan satu pertanyaan strategis, bahwa apakah duet Prabowo–Purbaya adalah bentuk keseimbangan antara ideologi “kiri” dan “kanan” dalam tata ekonomi Indonesia modern?

Purbaya dengan Tekanan Fiskal merepresentasikan Ketegasan Gaya Baru

Purbaya muncul bukan sebagai birokrat konvensional, tetapi sebagai teknokrat yang berani menantang status quo. Ia menegur bank yang dianggap “malas menyalurkan kredit”, menggeser triliunan dana negara dari rekening pasif, dan menuntut efisiensi dari lembaga pemerintah. Dalam istilah ekonomi politik, Purbaya sedang memainkan peran “disciplinarian technocrat”, yaitu penjaga disiplin fiskal yang menganggap stabilitas makro sebagai moralitas publik.[1]

Kebijakan efisiensi yang ia dorong kerap berujung kontroversi. Purbaya tahu, fiskal adalah panggung politik yang sebenarnya. Setiap pemangkasan, setiap transfer yang ditunda, selalu berarti gesekan antara pusat dan daerah, antara teknokrat dan politisi.

Hal itu terbukti ketika dalam pekan terakhir, belasan gubernur dari berbagai provinsi yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) mendatangi kantornya di Jakarta. Aksi yang oleh media disebut “18 Gubernur Geruduk Menkeu” menjadi simbol ketegangan lama bahwa perebutan kontrol atas uang negara antara pusat dan daerah.

Para gubernur memprotes rencana pemotongan Dana Transfer ke Daerah (TKD) dalam APBN 2026, yang mereka nilai akan menjerat fiskal daerah dan menghambat pembangunan.

Purbaya tak gentar. Dengan tenang, ia menegaskan bahwa “daerah harus terlebih dahulu memperbaiki kualitas belanja publik sebelum menuntut tambahan anggaran.”

Bahkan dengan seloroh khasnya, ia berkata takut “dipukul gubernur” karena kebijakan efisiensi ini, bahwa pernyataan ringan tapi sarat makna: bahwa negara kini memasuki era baru, di mana disiplin fiskal harus berdiri di atas politik daerah.

Di sinilah letak keunikan Purbaya. Ia berani menegaskan garis tegas antara efisiensi dan populisme fiskal bahwa sesuatu yang jarang dilakukan pejabat keuangan di tengah tekanan politik yang besar.

Ideologi Kanan dan Kiri adalah dialektika Indonesia yang Tak Pernah Usai

Dalam politik ekonomi Indonesia, “kiri” dan “kanan” tidak pernah hadir secara murni. “Kiri” berarti keberpihakan pada rakyat kecil, intervensi negara, dan perlindungan sosial. “Sementara kanan” berarti disiplin fiskal, keterbukaan pasar, dan efisiensi anggaran.

Selama satu dekade terakhir, Indonesia bergerak di antara dua poros itu yang mencari keseimbangan antara developmental state ala Asia Timur dan populisme sosial khas demokrasi elektoral.

Prabowo datang membawa semangat “kerakyatan” yang kuat, namun ia membutuhkan figur seperti Purbaya untuk menyeimbangkan ambisi besar itu dengan realitas fiskal. Sebaliknya, Purbaya memerlukan legitimasi politik dari Prabowo untuk melindungi kebijakan rasionalnya dari resistensi birokrasi dan kepentingan daerah.

Hubungan ini menyerupai dialektika klasik dalam ekonomi politik, yaitu antara moralitas redistributif dan disiplin teknokratis. Bila berjalan selaras, kombinasi ini bisa menjadi kekuatan. Tapi bila keduanya berlawanan arah, maka hasilnya adalah tarik-ulur kebijakan yang melelahkan seperti yang terjadi di masa-masa reformasi fiskal sebelumnya.

Jejak Jokowi dan Luhut yang membayangi Purbaya

Namun, memahami Purbaya tidak cukup hanya dari hubungan dengan Prabowo.

Jejak panjangnya sebagai teknokrat mengarah ke masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Saat krisis ekonomi akibat COVID-19, Purbaya menjabat sebagai Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang adalah salah satu pilar yang menyelamatkan sistem keuangan nasional dari potensi krisis sistemik.

Di masa itu pula, ia dikenal dekat dengan Luhut Binsar Pandjaitan, tokoh sentral dalam orkestrasi kebijakan ekonomi lintas sektor. Banyak pengamat meyakini bahwa kepercayaan Jokowi dan dukungan Luhut memainkan peran dalam mengantarkan Purbaya ke panggung kabinet baru.

Bahkan, tidak sedikit yang membaca kehadiran Purbaya sebagai “jembatan kesinambungan” antara dua rezim yaitu dari teknokrasi Jokowi ke populisme Prabowo. Sebuah transisi kekuasaan yang lembut atau mungkin, strategi politik yang cermat agar mesin ekonomi nasional tetap stabil di tengah perubahan politik besar.

Sehingga Purbaya bukan sekadar Menteri Keuangan. Ia adalah simbol dari kesinambungan bahwa ia representasi kepentingan teknokratik yang telah menstruktur kebijakan ekonomi sejak era Jokowi, kini bernegosiasi dengan populisme baru Prabowo.

Potret Politik Fiskal di Era Baru

Krisis kecil yang muncul dari “aksi 18 gubernur” sesungguhnya membuka perdebatan besar, bahwa siapa yang berdaulat atas uang negara?

Selama dua dekade terakhir, transfer ke daerah menjadi instrumen utama pemerataan fiskal dan simbol otonomi daerah. Namun, banyak studi menunjukkan belanja daerah kerap tak efisien, bahkan tidak produktif.

Purbaya membaca kenyataan itu dengan tajam, bahwa negara tidak bisa terus “menyiram uang” ke daerah tanpa perbaikan tata kelola. Ia tahu, membenahi struktur fiskal daerah sama pentingnya dengan menekan inflasi.

Tapi langkah ini tak lepas dari risiko politik.

Ketika teknokrasi menabrak kepentingan elektoral, perlawanan pasti muncul. Kepala daerah yang sebagian besar memiliki ambisi politik nasional tentu tak ingin dipotong sumber dayanya. Maka pertemuan panas di kantor Kementerian Keuangan itu bukan sekadar urusan APBN, melainkan pertarungan simbolik antara pusat dan daerah, antara efisiensi dan patronase politik.

Respons Purbaya yang dingin namun tegas menunjukkan satu hal: ia siap menanggung biaya politik dari kebijakan rasional. Dalam konteks pemerintahan Prabowo yang cenderung populis, keberanian semacam ini menjadi penting sekaligus berisiko.

Teknokrasi, Populisme, dan Risiko Friksi

Kombinasi Prabowo–Purbaya adalah eksperimen politik ekonomi yang menarik. Di satu sisi, Prabowo mengusung legitimasi moral dari basis rakyat yaitu ide besar yang menyentuh sisi emosional publik. Di sisi lain, Purbaya membawa disiplin teknokratik yang berbasis data, efisiensi, dan kehati-hatian fiskal. Namun sejarah Indonesia mengajarkan bahwa duet semacam ini jarang bertahan lama tanpa koordinasi yang kuat.

Dulu, kombinasi antara pemimpin politik karismatik dan teknokrat rasional sering berakhir dengan ketegangan, terutama ketika pertumbuhan ekonomi dihadapkan pada tekanan populisme jangka pendek.

Purbaya akan terus diuji, bahwa apakah ia mampu atau tidak ia menjaga kredibilitas fiskal tanpa kehilangan sensitivitas sosial. Dan Prabowo pun diuji bahwa sejauh mana ia siap menahan dorongan populis demi stabilitas ekonomi jangka panjang.

Prediksi Kepemimpinan Gaya “Koboi” Purbaya yang Menjadi Peluang dan Risiko bagi Politik Ekonomi Indonesia

Fenomena Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan yang dikenal dengan gaya “koboi”, yang mengartikan berani, blak-blakan, dan kadang melanggar norma birokrasi mendorong pertanyaan strategis, bahwa apa arti gaya kepemimpinan semacam ini bagi ekonomi Indonesia dalam jangka menengah dan panjang? Apakah ini membawa inovasi dan efisiensi, atau justru menimbulkan risiko politik dan fiskal?

Gaya kepemimpinan “koboi” atau maverick leadership dalam literatur manajemen dan kepemimpinan dipahami sebagai pendekatan di mana seorang pemimpin menekankan tindakan cepat, keputusan tegas, dan keberanian menantang status quo.[2] Menurut teori kepemimpinan transformasional, pemimpin semacam ini mampu memotivasi bawahan melalui visi dan keberanian pribadi, sering kali menghasilkan perubahan signifikan dalam sistem yang stagnan.[3] Namun teori transactional leadership juga mengingatkan bahwa tanpa mekanisme kontrol dan koordinasi, keputusan impulsif bisa menimbulkan disfungsi organisasi.[4]

Dalam konteks Purbaya, gaya ini terlihat jelas saat ia menegur bank “malas” menyalurkan kredit, memindahkan triliunan dana negara, dan menolak permintaan transfer daerah sebelum kualitas belanja publik diperbaiki. Tindakan ini menunjukkan ciri pemimpin high-risk, high-reward yaitu keputusan cepat dan tegas yang bisa menghasilkan efisiensi besar, tapi juga memicu resistensi politik.

Jika dibandingkan secara internasional, beberapa kasus serupa memberi pelajaran menarik. Seperti John Connally, Menteri Keuangan AS era Nixon, dikenal dengan gaya agresif dan blak-blakan, mendorong reformasi fiskal dan devaluasi dolar pada 1971, yang menyeimbangkan neraca ekonomi AS tetapi menimbulkan kontroversi politik.[5] Di Asia, Lee Kuan Yew di Singapura menunjukkan kombinasi otoriter dan pragmatis, bahwa ia berani mengambil keputusan drastis demi efisiensi birokrasi dan pembangunan, yang berbuah hasil ekonomi luar biasa.[6] Di India, kebijakan “Shock Therapy” Manmohan Singh di era reformasi 1991—meski bukan koboi personal, menunjukkan bahwa keputusan teknokrat tegas di tengah krisis dapat memecahkan kebuntuan ekonomi, tapi selalu berisiko memicu friksi politik.[7]

Dalam konteks Indonesia, implikasi gaya kepemimpinan koboi Purbaya bersifat ambivalen. Di satu sisi, keputusan tegas seperti menertibkan transfer ke daerah atau memaksa bank menyalurkan kredit dapat memperkuat disiplin fiskal, mengurangi kebocoran anggaran, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Gaya ini juga memberikan sinyal kuat kepada pasar bahwa pemerintah serius dalam menjaga stabilitas dan kredibilitas anggaran negara, bahwa ini hal yang penting untuk menarik investasi domestik dan asing.

Namun risiko politik tetap tinggi. Indonesia adalah negara demokratis dengan desentralisasi fiskal yang kuat. Setiap kebijakan yang dipersepsikan menekan daerah atau kelompok kepentingan tertentu dapat memicu konflik politik, demonstrasi, atau bahkan ketidakpatuhan birokrasi. Jika gaya koboi Purbaya tidak diimbangi koordinasi politik yang cermat, kebijakan yang tampak efisien secara teknokratis bisa merusak legitimasi pemerintah dan menghambat implementasi.

Risiko psikologis dan kepemimpinan jangka panjang juga perlu diperhatikan. Pemimpin koboi yang terlalu dominan bisa menurunkan kapasitas lembaga untuk membangun prosedur permanen, karena bawahan mungkin menunggu arahan ad-hoc. Efek ini terlihat di beberapa negara di mana reformasi ekonomi impulsif jangka pendek berhasil, tapi institusi jangka panjang menjadi lemah.

Berdasarkan penelitian tentang kepemimpinan maverick di sektor publik, kesuksesan bergantung pada tiga faktor, antara lain; (1) kredibilitas teknokratik pemimpin, (2) dukungan politik dari elite, dan (3) mekanisme kontrol internal agar keputusan drastis tidak menimbulkan disfungsi.[8]  Purbaya, dengan rekam jejak di era Jokowi dan kedekatan dengan Luhut, memiliki dua faktor pertama. Faktor ketiga yaitu kontrol internal dan koordinasi lintas kementerian serta daerah akan menjadi kunci untuk menentukan apakah gaya koboi ini akan menghasilkan harmoni atau friksi.

Secara prediktif, jika Purbaya mampu menjaga keseimbangan antara keberanian tindakan dan koordinasi institusional, gaya koboi bisa menjadi driver reformasi fiskal dan efisiensi ekonomi. Ia bisa menjadi katalisator yang mendorong modernisasi birokrasi dan tata kelola publik. Namun jika ketegangan dengan elite politik dan kepala daerah meningkat, risiko tarik-ulur kebijakan bisa menimbulkan ketidakpastian pasar, stagnasi fiskal, atau konflik sosial.

Sehingga gaya kepemimpinan Purbaya adalah pedang bermata dua, bahwa ia berpotensi inovasi dan efisiensi besar, tetapi risiko politik dan implementasi tetap nyata. Sejarah global menunjukkan bahwa pemimpin maverick yang sukses adalah mereka yang mampu memadukan keberanian dengan strategi institusional, bukan sekadar bertindak solo. Indonesia kini sedang diuji, bahwa apakah gaya koboi Purbaya akan menjadi contoh reformasi fiskal yang kuat, atau ujian ketegangan politik yang panjang.

Harmoni yang Rawan Retak

Indonesia kini berdiri di persimpangan antara kesinambungan dan perubahan.

Purbaya adalah simbol teknokrasi yang dibentuk oleh Jokowi dan Luhut, tetapi kini harus bekerja di bawah visi politik Prabowo.

Hubungan mereka, sejauh ini, masih produktif namun di baliknya tersimpan potensi friksi yang besar. Apakah duet kanan–kiri ini akan menjadi harmoni baru bagi politik ekonomi Indonesia, atau justru membuka tekanan laten antara populisme dan teknokrasi? Waktu yang akan menjawab. Untuk saat ini, publik hanya bisa mengamati seorang presiden yang berpikir besar tentang rakyat, seorang menteri yang berpikir tajam tentang angka, dan dua bayangan lama  Jokowi dan Luhut yang masih memantau dari kejauhan.

Tiga generasi kekuasaan, satu panggung ekonomi nasional.

Dan mungkin, justru dari tarik-ulur itulah lahir resep keseimbangan baru politik-ekonomi Indonesia pasca-2029. [T]


[1] Roberts, The logic of discipline: Global capitalism and the architecture of government.

[2] Lewis dkk., Mavericks: How bold leadership changes the world.

[3] Lewis dkk., Mavericks: How bold leadership changes the world.

[4] Nash, Transformation and Transactional Leadership in Mental Health and Substance Abuse Organizations.

[5] Stein, Pivotal decade: How the United States traded factories for finance in the seventies.

[6] Tan, “The ideology of pragmatism: Neo-liberal globalisation and political authoritarianism in Singapore.”

[7] Singh, Economic Reforms in India: Problems & Prospects.

[8] Obicci, “Corrupt elites, administrative cadres and public service in Africa: Islands of vanity.”

Penulis: Ruben Cornelius Siagian
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomikeuanganmenteri keuanganPolitikpolitik ekonomi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Sing Ngerambang Bangken Dongkang!”: Tingkah Polah Negeri Apatis

Next Post

Museum Bali: Tetangga Sunyi di Tengah Ramainya Lapangan Puputan di Denpasar

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Museum Bali: Tetangga Sunyi di Tengah Ramainya Lapangan Puputan di Denpasar

Museum Bali: Tetangga Sunyi di Tengah Ramainya Lapangan Puputan di Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co