23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Purbaya Yudhi Sadewa dan Dialektika Baru Politik Ekonomi Indonesia

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
October 10, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

FENOMENA menarik sedang terjadi di awal masa pemerintahan baru menuju 2029. Nama Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan yang baru beberapa bulan menjabat, mendadak mencuri sorotan publik. Dari kebijakan yang mengguncang pasar hingga gaya komunikasinya yang blak-blakan, Purbaya tampak menampilkan wajah teknokrat yang tak biasa yaitu keras pada angka, tapi santai di depan kamera.

Namun yang lebih menarik, kiprah Purbaya kini dipandang sebagai ujian bagi arah politik ekonomi nasional, bahwa apakah Indonesia benar-benar memasuki era “penyeimbangan baru” antara populisme politik dan rasionalitas teknokratis?

Sebab di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto dikenal sebagai figur dengan orientasi populis-sosialis, dengan gagasan besar seperti makan bergizi gratis, subsidi pangan, dan penguatan kedaulatan ekonomi rakyat.

Kombinasi ini melahirkan satu pertanyaan strategis, bahwa apakah duet Prabowo–Purbaya adalah bentuk keseimbangan antara ideologi “kiri” dan “kanan” dalam tata ekonomi Indonesia modern?

Purbaya dengan Tekanan Fiskal merepresentasikan Ketegasan Gaya Baru

Purbaya muncul bukan sebagai birokrat konvensional, tetapi sebagai teknokrat yang berani menantang status quo. Ia menegur bank yang dianggap “malas menyalurkan kredit”, menggeser triliunan dana negara dari rekening pasif, dan menuntut efisiensi dari lembaga pemerintah. Dalam istilah ekonomi politik, Purbaya sedang memainkan peran “disciplinarian technocrat”, yaitu penjaga disiplin fiskal yang menganggap stabilitas makro sebagai moralitas publik.[1]

Kebijakan efisiensi yang ia dorong kerap berujung kontroversi. Purbaya tahu, fiskal adalah panggung politik yang sebenarnya. Setiap pemangkasan, setiap transfer yang ditunda, selalu berarti gesekan antara pusat dan daerah, antara teknokrat dan politisi.

Hal itu terbukti ketika dalam pekan terakhir, belasan gubernur dari berbagai provinsi yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) mendatangi kantornya di Jakarta. Aksi yang oleh media disebut “18 Gubernur Geruduk Menkeu” menjadi simbol ketegangan lama bahwa perebutan kontrol atas uang negara antara pusat dan daerah.

Para gubernur memprotes rencana pemotongan Dana Transfer ke Daerah (TKD) dalam APBN 2026, yang mereka nilai akan menjerat fiskal daerah dan menghambat pembangunan.

Purbaya tak gentar. Dengan tenang, ia menegaskan bahwa “daerah harus terlebih dahulu memperbaiki kualitas belanja publik sebelum menuntut tambahan anggaran.”

Bahkan dengan seloroh khasnya, ia berkata takut “dipukul gubernur” karena kebijakan efisiensi ini, bahwa pernyataan ringan tapi sarat makna: bahwa negara kini memasuki era baru, di mana disiplin fiskal harus berdiri di atas politik daerah.

Di sinilah letak keunikan Purbaya. Ia berani menegaskan garis tegas antara efisiensi dan populisme fiskal bahwa sesuatu yang jarang dilakukan pejabat keuangan di tengah tekanan politik yang besar.

Ideologi Kanan dan Kiri adalah dialektika Indonesia yang Tak Pernah Usai

Dalam politik ekonomi Indonesia, “kiri” dan “kanan” tidak pernah hadir secara murni. “Kiri” berarti keberpihakan pada rakyat kecil, intervensi negara, dan perlindungan sosial. “Sementara kanan” berarti disiplin fiskal, keterbukaan pasar, dan efisiensi anggaran.

Selama satu dekade terakhir, Indonesia bergerak di antara dua poros itu yang mencari keseimbangan antara developmental state ala Asia Timur dan populisme sosial khas demokrasi elektoral.

Prabowo datang membawa semangat “kerakyatan” yang kuat, namun ia membutuhkan figur seperti Purbaya untuk menyeimbangkan ambisi besar itu dengan realitas fiskal. Sebaliknya, Purbaya memerlukan legitimasi politik dari Prabowo untuk melindungi kebijakan rasionalnya dari resistensi birokrasi dan kepentingan daerah.

Hubungan ini menyerupai dialektika klasik dalam ekonomi politik, yaitu antara moralitas redistributif dan disiplin teknokratis. Bila berjalan selaras, kombinasi ini bisa menjadi kekuatan. Tapi bila keduanya berlawanan arah, maka hasilnya adalah tarik-ulur kebijakan yang melelahkan seperti yang terjadi di masa-masa reformasi fiskal sebelumnya.

Jejak Jokowi dan Luhut yang membayangi Purbaya

Namun, memahami Purbaya tidak cukup hanya dari hubungan dengan Prabowo.

Jejak panjangnya sebagai teknokrat mengarah ke masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Saat krisis ekonomi akibat COVID-19, Purbaya menjabat sebagai Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang adalah salah satu pilar yang menyelamatkan sistem keuangan nasional dari potensi krisis sistemik.

Di masa itu pula, ia dikenal dekat dengan Luhut Binsar Pandjaitan, tokoh sentral dalam orkestrasi kebijakan ekonomi lintas sektor. Banyak pengamat meyakini bahwa kepercayaan Jokowi dan dukungan Luhut memainkan peran dalam mengantarkan Purbaya ke panggung kabinet baru.

Bahkan, tidak sedikit yang membaca kehadiran Purbaya sebagai “jembatan kesinambungan” antara dua rezim yaitu dari teknokrasi Jokowi ke populisme Prabowo. Sebuah transisi kekuasaan yang lembut atau mungkin, strategi politik yang cermat agar mesin ekonomi nasional tetap stabil di tengah perubahan politik besar.

Sehingga Purbaya bukan sekadar Menteri Keuangan. Ia adalah simbol dari kesinambungan bahwa ia representasi kepentingan teknokratik yang telah menstruktur kebijakan ekonomi sejak era Jokowi, kini bernegosiasi dengan populisme baru Prabowo.

Potret Politik Fiskal di Era Baru

Krisis kecil yang muncul dari “aksi 18 gubernur” sesungguhnya membuka perdebatan besar, bahwa siapa yang berdaulat atas uang negara?

Selama dua dekade terakhir, transfer ke daerah menjadi instrumen utama pemerataan fiskal dan simbol otonomi daerah. Namun, banyak studi menunjukkan belanja daerah kerap tak efisien, bahkan tidak produktif.

Purbaya membaca kenyataan itu dengan tajam, bahwa negara tidak bisa terus “menyiram uang” ke daerah tanpa perbaikan tata kelola. Ia tahu, membenahi struktur fiskal daerah sama pentingnya dengan menekan inflasi.

Tapi langkah ini tak lepas dari risiko politik.

Ketika teknokrasi menabrak kepentingan elektoral, perlawanan pasti muncul. Kepala daerah yang sebagian besar memiliki ambisi politik nasional tentu tak ingin dipotong sumber dayanya. Maka pertemuan panas di kantor Kementerian Keuangan itu bukan sekadar urusan APBN, melainkan pertarungan simbolik antara pusat dan daerah, antara efisiensi dan patronase politik.

Respons Purbaya yang dingin namun tegas menunjukkan satu hal: ia siap menanggung biaya politik dari kebijakan rasional. Dalam konteks pemerintahan Prabowo yang cenderung populis, keberanian semacam ini menjadi penting sekaligus berisiko.

Teknokrasi, Populisme, dan Risiko Friksi

Kombinasi Prabowo–Purbaya adalah eksperimen politik ekonomi yang menarik. Di satu sisi, Prabowo mengusung legitimasi moral dari basis rakyat yaitu ide besar yang menyentuh sisi emosional publik. Di sisi lain, Purbaya membawa disiplin teknokratik yang berbasis data, efisiensi, dan kehati-hatian fiskal. Namun sejarah Indonesia mengajarkan bahwa duet semacam ini jarang bertahan lama tanpa koordinasi yang kuat.

Dulu, kombinasi antara pemimpin politik karismatik dan teknokrat rasional sering berakhir dengan ketegangan, terutama ketika pertumbuhan ekonomi dihadapkan pada tekanan populisme jangka pendek.

Purbaya akan terus diuji, bahwa apakah ia mampu atau tidak ia menjaga kredibilitas fiskal tanpa kehilangan sensitivitas sosial. Dan Prabowo pun diuji bahwa sejauh mana ia siap menahan dorongan populis demi stabilitas ekonomi jangka panjang.

Prediksi Kepemimpinan Gaya “Koboi” Purbaya yang Menjadi Peluang dan Risiko bagi Politik Ekonomi Indonesia

Fenomena Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan yang dikenal dengan gaya “koboi”, yang mengartikan berani, blak-blakan, dan kadang melanggar norma birokrasi mendorong pertanyaan strategis, bahwa apa arti gaya kepemimpinan semacam ini bagi ekonomi Indonesia dalam jangka menengah dan panjang? Apakah ini membawa inovasi dan efisiensi, atau justru menimbulkan risiko politik dan fiskal?

Gaya kepemimpinan “koboi” atau maverick leadership dalam literatur manajemen dan kepemimpinan dipahami sebagai pendekatan di mana seorang pemimpin menekankan tindakan cepat, keputusan tegas, dan keberanian menantang status quo.[2] Menurut teori kepemimpinan transformasional, pemimpin semacam ini mampu memotivasi bawahan melalui visi dan keberanian pribadi, sering kali menghasilkan perubahan signifikan dalam sistem yang stagnan.[3] Namun teori transactional leadership juga mengingatkan bahwa tanpa mekanisme kontrol dan koordinasi, keputusan impulsif bisa menimbulkan disfungsi organisasi.[4]

Dalam konteks Purbaya, gaya ini terlihat jelas saat ia menegur bank “malas” menyalurkan kredit, memindahkan triliunan dana negara, dan menolak permintaan transfer daerah sebelum kualitas belanja publik diperbaiki. Tindakan ini menunjukkan ciri pemimpin high-risk, high-reward yaitu keputusan cepat dan tegas yang bisa menghasilkan efisiensi besar, tapi juga memicu resistensi politik.

Jika dibandingkan secara internasional, beberapa kasus serupa memberi pelajaran menarik. Seperti John Connally, Menteri Keuangan AS era Nixon, dikenal dengan gaya agresif dan blak-blakan, mendorong reformasi fiskal dan devaluasi dolar pada 1971, yang menyeimbangkan neraca ekonomi AS tetapi menimbulkan kontroversi politik.[5] Di Asia, Lee Kuan Yew di Singapura menunjukkan kombinasi otoriter dan pragmatis, bahwa ia berani mengambil keputusan drastis demi efisiensi birokrasi dan pembangunan, yang berbuah hasil ekonomi luar biasa.[6] Di India, kebijakan “Shock Therapy” Manmohan Singh di era reformasi 1991—meski bukan koboi personal, menunjukkan bahwa keputusan teknokrat tegas di tengah krisis dapat memecahkan kebuntuan ekonomi, tapi selalu berisiko memicu friksi politik.[7]

Dalam konteks Indonesia, implikasi gaya kepemimpinan koboi Purbaya bersifat ambivalen. Di satu sisi, keputusan tegas seperti menertibkan transfer ke daerah atau memaksa bank menyalurkan kredit dapat memperkuat disiplin fiskal, mengurangi kebocoran anggaran, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Gaya ini juga memberikan sinyal kuat kepada pasar bahwa pemerintah serius dalam menjaga stabilitas dan kredibilitas anggaran negara, bahwa ini hal yang penting untuk menarik investasi domestik dan asing.

Namun risiko politik tetap tinggi. Indonesia adalah negara demokratis dengan desentralisasi fiskal yang kuat. Setiap kebijakan yang dipersepsikan menekan daerah atau kelompok kepentingan tertentu dapat memicu konflik politik, demonstrasi, atau bahkan ketidakpatuhan birokrasi. Jika gaya koboi Purbaya tidak diimbangi koordinasi politik yang cermat, kebijakan yang tampak efisien secara teknokratis bisa merusak legitimasi pemerintah dan menghambat implementasi.

Risiko psikologis dan kepemimpinan jangka panjang juga perlu diperhatikan. Pemimpin koboi yang terlalu dominan bisa menurunkan kapasitas lembaga untuk membangun prosedur permanen, karena bawahan mungkin menunggu arahan ad-hoc. Efek ini terlihat di beberapa negara di mana reformasi ekonomi impulsif jangka pendek berhasil, tapi institusi jangka panjang menjadi lemah.

Berdasarkan penelitian tentang kepemimpinan maverick di sektor publik, kesuksesan bergantung pada tiga faktor, antara lain; (1) kredibilitas teknokratik pemimpin, (2) dukungan politik dari elite, dan (3) mekanisme kontrol internal agar keputusan drastis tidak menimbulkan disfungsi.[8]  Purbaya, dengan rekam jejak di era Jokowi dan kedekatan dengan Luhut, memiliki dua faktor pertama. Faktor ketiga yaitu kontrol internal dan koordinasi lintas kementerian serta daerah akan menjadi kunci untuk menentukan apakah gaya koboi ini akan menghasilkan harmoni atau friksi.

Secara prediktif, jika Purbaya mampu menjaga keseimbangan antara keberanian tindakan dan koordinasi institusional, gaya koboi bisa menjadi driver reformasi fiskal dan efisiensi ekonomi. Ia bisa menjadi katalisator yang mendorong modernisasi birokrasi dan tata kelola publik. Namun jika ketegangan dengan elite politik dan kepala daerah meningkat, risiko tarik-ulur kebijakan bisa menimbulkan ketidakpastian pasar, stagnasi fiskal, atau konflik sosial.

Sehingga gaya kepemimpinan Purbaya adalah pedang bermata dua, bahwa ia berpotensi inovasi dan efisiensi besar, tetapi risiko politik dan implementasi tetap nyata. Sejarah global menunjukkan bahwa pemimpin maverick yang sukses adalah mereka yang mampu memadukan keberanian dengan strategi institusional, bukan sekadar bertindak solo. Indonesia kini sedang diuji, bahwa apakah gaya koboi Purbaya akan menjadi contoh reformasi fiskal yang kuat, atau ujian ketegangan politik yang panjang.

Harmoni yang Rawan Retak

Indonesia kini berdiri di persimpangan antara kesinambungan dan perubahan.

Purbaya adalah simbol teknokrasi yang dibentuk oleh Jokowi dan Luhut, tetapi kini harus bekerja di bawah visi politik Prabowo.

Hubungan mereka, sejauh ini, masih produktif namun di baliknya tersimpan potensi friksi yang besar. Apakah duet kanan–kiri ini akan menjadi harmoni baru bagi politik ekonomi Indonesia, atau justru membuka tekanan laten antara populisme dan teknokrasi? Waktu yang akan menjawab. Untuk saat ini, publik hanya bisa mengamati seorang presiden yang berpikir besar tentang rakyat, seorang menteri yang berpikir tajam tentang angka, dan dua bayangan lama  Jokowi dan Luhut yang masih memantau dari kejauhan.

Tiga generasi kekuasaan, satu panggung ekonomi nasional.

Dan mungkin, justru dari tarik-ulur itulah lahir resep keseimbangan baru politik-ekonomi Indonesia pasca-2029. [T]


[1] Roberts, The logic of discipline: Global capitalism and the architecture of government.

[2] Lewis dkk., Mavericks: How bold leadership changes the world.

[3] Lewis dkk., Mavericks: How bold leadership changes the world.

[4] Nash, Transformation and Transactional Leadership in Mental Health and Substance Abuse Organizations.

[5] Stein, Pivotal decade: How the United States traded factories for finance in the seventies.

[6] Tan, “The ideology of pragmatism: Neo-liberal globalisation and political authoritarianism in Singapore.”

[7] Singh, Economic Reforms in India: Problems & Prospects.

[8] Obicci, “Corrupt elites, administrative cadres and public service in Africa: Islands of vanity.”

Penulis: Ruben Cornelius Siagian
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomikeuanganmenteri keuanganPolitikpolitik ekonomi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Sing Ngerambang Bangken Dongkang!”: Tingkah Polah Negeri Apatis

Next Post

Museum Bali: Tetangga Sunyi di Tengah Ramainya Lapangan Puputan di Denpasar

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails
Next Post
Museum Bali: Tetangga Sunyi di Tengah Ramainya Lapangan Puputan di Denpasar

Museum Bali: Tetangga Sunyi di Tengah Ramainya Lapangan Puputan di Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co