2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sing Ngerambang Bangken Dongkang!”: Tingkah Polah Negeri Apatis

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
October 10, 2025
in Esai
“Sing Ngerambang Bangken Dongkang!”: Tingkah Polah Negeri Apatis

Sumber foto: Medsos Sejarahbali

PERNAHKAH Anda mendengar ungkapan “sing ngerambang bangken dongkang”? Secara harfiah berarti “tidak peduli pada bangkai kodok” ─ sebuah metafora yang menggambarkan sikap masa bodoh terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah jelas terlihat di depan mata. Ungkapan ini, getir tapi nyata, kerap dipakai oleh orang-orang yang memilih diam meski melihat persoalan nyata di sekelilingnya.

Belakangan, idiom-idiom semacam ini semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Ada juga ungkapan sarkastik lain seperti “taluh goreng ade hasil” atau “presiden nu hidup nyen kel ganti?”. Ungkapan-ungkapan tersebut lahir dari rasa putus asa bercampur apatis terhadap situasi politik dan sosial. Ungkapan semacam ini menunjukkan bahwa alih-alih melahirkan kritik sehat, sebagian masyarakat justru memilih menertawakan keadaan sebagai bentuk pelarian dari ketidakberdayaan.

Padahal, orang Bali selama ini dikenal dengan sifat lascarya ─ ringan tangan, tulus hati, dan tidak suka memperumit masalah. Lascarya sejatinya adalah sikap ikhlas tanpa pamrih, sebuah keutamaan sosial yang membuat sistem menyama braya mampu hidup selama ratusan tahun. Namun, ketika semangat tulus itu kehilangan arah dan tak disertai kesadaran kritis, ia bisa berubah bentuk menjadi sikap “tidak mau ambil pusing”. Bukan lagi karena ikhlas, melainkan karena merasa “bukan urusan saya”.

Di titik inilah lascarya yang semula mulia justru berpotensi melahirkan apatisme. Diam-diam, tanpa disadari, muncul mentalitas “biarkan saja”, yang kemudian merembet ke ranah sosial, politik, hingga agama. Sebagian orang lebih memilih menghindari konflik, bukan menyelesaikannya. Persoalan dibiarkan berjalan sendiri, selama tidak langsung mengganggu ruang pribadi. Akhirnya, masalah kecil menumpuk menjadi gunung, dan ketika meledak, semua terkejut, padahal sejak awal tanda-tandanya sudah sangat jelas.

Apatis terhadap tanah, misalnya. Dilansir dari detik.com, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bali mencatat, dalam enam tahun terakhir saja, 2019 hingga 2024, Bali kehilangan lebih dari 6.500 hektare sawah. Rata-rata, 1,53 persen lahan sawah lenyap setiap tahun. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan penanda bahwa ruang hidup yang dulu diwariskan dengan doa kini perlahan bergeser menjadi komoditas yang diperjualbelikan.

Tanah Bali semakin hari kian menyempit. Perlahan tapi pasti, lahan-lahan produktif sedikit demi sedikit telah berubah menjadi vila, hotel, hingga tempat-tempat hiburan yang justru dimiliki oleh orang luar Bali atau pihak asing. Alih-alih merawat tanah sebagai bagian dari identitas dan keberlanjutan hidup, banyak orang justru menjualnya demi kekayaan instan. Tanah warisan leluhur kini lebih cepat berpindah tangan ketimbang status WhatsApp. Bangunan-bangunan beton berdiri gagah, sementara pemilik aslinya sibuk menghitung laba yang entah kapan habisnya, dan sebagian dari mereka berkata “suksma leluhur”.

Bukan hanya soal tanah. Dalam kehidupan sosial sehari-hari, apatisme juga terlihat dalam sikap orang Bali. Sampah menumpuk di sudut-sudut desa, saluran air tersumbat hingga menimbulkan banjir, jalan rusak tak kunjung diperbaiki, hingga kabel-kabel semrawut menggantung seperti tak bertuan. Anehnya, semua itu jarang dianggap masalah mendesak. Yang lebih sering muncul justru komentar ringan seperti “nak mule keto” ─ “biasalah, dari dulu juga begitu,” ungkapan sederhana tersebut tanpa disadari seakan menjadi pembenaran atas ketidakpedulian kolektif. Dalam banyak kasus, urusan kebersihan, tata ruang, atau infrastruktur dianggap tugas pemerintah semata. Sikap seperti ini menunjukkan betapa budaya gotong-royong (menyama braya) yang dulu begitu kuat kini perlahan digantikan oleh mentalitas “asal tidak ganggu hidup saya, biarkan saja.”

Ilustrasi: Beluluk

Lebih jauh lagi, apatisme itu merambah hingga ke ranah politik. Banyak orang Bali seolah merasa urusan politik terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari, sehingga keputusan-keputusan penting diserahkan begitu saja kepada segelintir elit. Saat musim pemilu datang, perhatian masyarakat justru lebih banyak tertuju pada hal-hal seremonial: siapa yang menyumbang bansos, siapa yang membagikan kaos, di mana bisa mendapat nasi bungkus, atau panggung hiburan apa yang disediakan. Pesta demokrasi berubah menjadi sekadar hajatan tanpa kesadaran.

Setelah surat suara dicoblos dan tinta di jari mulai pudar, kepedulian pun ikut hilang. Tidak ada dorongan untuk mengawasi kebijakan, tidak ada keberanian untuk bertanya, dan tidak ada ruang kritis untuk menuntut pertanggungjawaban. Ketika izin hotel baru keluar dengan mudah, ketika pajak pribadi dan adat melonjak, atau ketika tanah leluhur tiba-tiba berpindah tangan ke pihak asing, masyarakat hanya bisa mengeluh di media sosial, seolah semua itu terjadi secara tiba-tiba. Padahal, segala perubahan itu bermula dari suara yang mereka berikan, atau justru dari diam yang mereka pilih.

Apatisme itu juga merembet dalam kehidupan beragama. Dalam ajaran Hindu, terdapat tiga pilar utama yang menjadi penopang keyakinan: tattwa (filsafat dan pemahaman), susila (etika dan perilaku), serta upacara (ritual). Idealnya, ketiganya berjalan seimbang. Namun dalam praktik nyata, keseimbangan itu mulai goyah. Upacara semakin dikedepankan, sementara tattwa dan susila perlahan tergeser ke pinggir.

Masyarakat berlomba membuat upacara sebesar mungkin, rela mengeluarkan banyak biaya agar terlihat megah, bahkan tak jarang berutang demi menjaga gengsi ritual. Namun, di tengah kesibukan menata sesajen, makna filosofis yang seharusnya menyertai setiap proses justru sering terabaikan. Tattwa yang mengajak manusia untuk memahami hakikat hidup, dan susila yang menuntun pada perilaku yang jujur, tertib, dan penuh welas asih, perlahan menjadi sekadar pengetahuan hafalan, bukan laku sehari-hari yang dipraktikkan.

Apatisme terhadap tanah, sosial, politik, dan agama pada akhirnya bukan hanya merugikan, tetapi juga menggerus martabat orang Bali. Perlahan namun pasti, masyarakat bisa kehilangan kendali atas tanah leluhur, lingkungan hidup, suara politik, bahkan jati diri budaya yang selama ini dibanggakan. Jika dibiarkan, semua itu bisa hilang bukan karena dirampas, tetapi karena dilepas dengan kesadaran yang tumpul.

Oleh karena itu, sudah saatnya sikap apatis ditinggalkan. Kesadaran kritis perlu kembali tumbuh: bahwa menjaga tanah berarti menjaga masa depan generasi, peduli pada lingkungan sosial adalah wujud nyata menyama braya, terlibat dalam urusan politik berarti menjaga kedaulatan bernegara, dan memahami tattwa serta menjalankan susila jauh lebih penting daripada sekadar gengsi terhadap upacara.

Apatisme memang terasa ringan, tidak membuat konflik, tidak membuat lelah. Namun justru di situlah bahayanya. Sebab yang membuat sebuah peradaban bertahan bukanlah mereka yang diam, melainkan mereka yang berani peduli, meski sedikit. Pada akhirnya, muncul pertanyaannya sederhana: apakah Bali akan tetap berdiri sebagai ruang hidup yang berjiwa, atau hanya tinggal menjadi panggung budaya yang indah dilihat, tapi kosong di dalam? [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliManusia Baliorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Next Post

Purbaya Yudhi Sadewa dan Dialektika Baru Politik Ekonomi Indonesia

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Purbaya Yudhi Sadewa dan Dialektika Baru Politik Ekonomi Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co