23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sing Ngerambang Bangken Dongkang!”: Tingkah Polah Negeri Apatis

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
October 10, 2025
in Esai
“Sing Ngerambang Bangken Dongkang!”: Tingkah Polah Negeri Apatis

Sumber foto: Medsos Sejarahbali

PERNAHKAH Anda mendengar ungkapan “sing ngerambang bangken dongkang”? Secara harfiah berarti “tidak peduli pada bangkai kodok” ─ sebuah metafora yang menggambarkan sikap masa bodoh terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah jelas terlihat di depan mata. Ungkapan ini, getir tapi nyata, kerap dipakai oleh orang-orang yang memilih diam meski melihat persoalan nyata di sekelilingnya.

Belakangan, idiom-idiom semacam ini semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Ada juga ungkapan sarkastik lain seperti “taluh goreng ade hasil” atau “presiden nu hidup nyen kel ganti?”. Ungkapan-ungkapan tersebut lahir dari rasa putus asa bercampur apatis terhadap situasi politik dan sosial. Ungkapan semacam ini menunjukkan bahwa alih-alih melahirkan kritik sehat, sebagian masyarakat justru memilih menertawakan keadaan sebagai bentuk pelarian dari ketidakberdayaan.

Padahal, orang Bali selama ini dikenal dengan sifat lascarya ─ ringan tangan, tulus hati, dan tidak suka memperumit masalah. Lascarya sejatinya adalah sikap ikhlas tanpa pamrih, sebuah keutamaan sosial yang membuat sistem menyama braya mampu hidup selama ratusan tahun. Namun, ketika semangat tulus itu kehilangan arah dan tak disertai kesadaran kritis, ia bisa berubah bentuk menjadi sikap “tidak mau ambil pusing”. Bukan lagi karena ikhlas, melainkan karena merasa “bukan urusan saya”.

Di titik inilah lascarya yang semula mulia justru berpotensi melahirkan apatisme. Diam-diam, tanpa disadari, muncul mentalitas “biarkan saja”, yang kemudian merembet ke ranah sosial, politik, hingga agama. Sebagian orang lebih memilih menghindari konflik, bukan menyelesaikannya. Persoalan dibiarkan berjalan sendiri, selama tidak langsung mengganggu ruang pribadi. Akhirnya, masalah kecil menumpuk menjadi gunung, dan ketika meledak, semua terkejut, padahal sejak awal tanda-tandanya sudah sangat jelas.

Apatis terhadap tanah, misalnya. Dilansir dari detik.com, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bali mencatat, dalam enam tahun terakhir saja, 2019 hingga 2024, Bali kehilangan lebih dari 6.500 hektare sawah. Rata-rata, 1,53 persen lahan sawah lenyap setiap tahun. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan penanda bahwa ruang hidup yang dulu diwariskan dengan doa kini perlahan bergeser menjadi komoditas yang diperjualbelikan.

Tanah Bali semakin hari kian menyempit. Perlahan tapi pasti, lahan-lahan produktif sedikit demi sedikit telah berubah menjadi vila, hotel, hingga tempat-tempat hiburan yang justru dimiliki oleh orang luar Bali atau pihak asing. Alih-alih merawat tanah sebagai bagian dari identitas dan keberlanjutan hidup, banyak orang justru menjualnya demi kekayaan instan. Tanah warisan leluhur kini lebih cepat berpindah tangan ketimbang status WhatsApp. Bangunan-bangunan beton berdiri gagah, sementara pemilik aslinya sibuk menghitung laba yang entah kapan habisnya, dan sebagian dari mereka berkata “suksma leluhur”.

Bukan hanya soal tanah. Dalam kehidupan sosial sehari-hari, apatisme juga terlihat dalam sikap orang Bali. Sampah menumpuk di sudut-sudut desa, saluran air tersumbat hingga menimbulkan banjir, jalan rusak tak kunjung diperbaiki, hingga kabel-kabel semrawut menggantung seperti tak bertuan. Anehnya, semua itu jarang dianggap masalah mendesak. Yang lebih sering muncul justru komentar ringan seperti “nak mule keto” ─ “biasalah, dari dulu juga begitu,” ungkapan sederhana tersebut tanpa disadari seakan menjadi pembenaran atas ketidakpedulian kolektif. Dalam banyak kasus, urusan kebersihan, tata ruang, atau infrastruktur dianggap tugas pemerintah semata. Sikap seperti ini menunjukkan betapa budaya gotong-royong (menyama braya) yang dulu begitu kuat kini perlahan digantikan oleh mentalitas “asal tidak ganggu hidup saya, biarkan saja.”

Ilustrasi: Beluluk

Lebih jauh lagi, apatisme itu merambah hingga ke ranah politik. Banyak orang Bali seolah merasa urusan politik terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari, sehingga keputusan-keputusan penting diserahkan begitu saja kepada segelintir elit. Saat musim pemilu datang, perhatian masyarakat justru lebih banyak tertuju pada hal-hal seremonial: siapa yang menyumbang bansos, siapa yang membagikan kaos, di mana bisa mendapat nasi bungkus, atau panggung hiburan apa yang disediakan. Pesta demokrasi berubah menjadi sekadar hajatan tanpa kesadaran.

Setelah surat suara dicoblos dan tinta di jari mulai pudar, kepedulian pun ikut hilang. Tidak ada dorongan untuk mengawasi kebijakan, tidak ada keberanian untuk bertanya, dan tidak ada ruang kritis untuk menuntut pertanggungjawaban. Ketika izin hotel baru keluar dengan mudah, ketika pajak pribadi dan adat melonjak, atau ketika tanah leluhur tiba-tiba berpindah tangan ke pihak asing, masyarakat hanya bisa mengeluh di media sosial, seolah semua itu terjadi secara tiba-tiba. Padahal, segala perubahan itu bermula dari suara yang mereka berikan, atau justru dari diam yang mereka pilih.

Apatisme itu juga merembet dalam kehidupan beragama. Dalam ajaran Hindu, terdapat tiga pilar utama yang menjadi penopang keyakinan: tattwa (filsafat dan pemahaman), susila (etika dan perilaku), serta upacara (ritual). Idealnya, ketiganya berjalan seimbang. Namun dalam praktik nyata, keseimbangan itu mulai goyah. Upacara semakin dikedepankan, sementara tattwa dan susila perlahan tergeser ke pinggir.

Masyarakat berlomba membuat upacara sebesar mungkin, rela mengeluarkan banyak biaya agar terlihat megah, bahkan tak jarang berutang demi menjaga gengsi ritual. Namun, di tengah kesibukan menata sesajen, makna filosofis yang seharusnya menyertai setiap proses justru sering terabaikan. Tattwa yang mengajak manusia untuk memahami hakikat hidup, dan susila yang menuntun pada perilaku yang jujur, tertib, dan penuh welas asih, perlahan menjadi sekadar pengetahuan hafalan, bukan laku sehari-hari yang dipraktikkan.

Apatisme terhadap tanah, sosial, politik, dan agama pada akhirnya bukan hanya merugikan, tetapi juga menggerus martabat orang Bali. Perlahan namun pasti, masyarakat bisa kehilangan kendali atas tanah leluhur, lingkungan hidup, suara politik, bahkan jati diri budaya yang selama ini dibanggakan. Jika dibiarkan, semua itu bisa hilang bukan karena dirampas, tetapi karena dilepas dengan kesadaran yang tumpul.

Oleh karena itu, sudah saatnya sikap apatis ditinggalkan. Kesadaran kritis perlu kembali tumbuh: bahwa menjaga tanah berarti menjaga masa depan generasi, peduli pada lingkungan sosial adalah wujud nyata menyama braya, terlibat dalam urusan politik berarti menjaga kedaulatan bernegara, dan memahami tattwa serta menjalankan susila jauh lebih penting daripada sekadar gengsi terhadap upacara.

Apatisme memang terasa ringan, tidak membuat konflik, tidak membuat lelah. Namun justru di situlah bahayanya. Sebab yang membuat sebuah peradaban bertahan bukanlah mereka yang diam, melainkan mereka yang berani peduli, meski sedikit. Pada akhirnya, muncul pertanyaannya sederhana: apakah Bali akan tetap berdiri sebagai ruang hidup yang berjiwa, atau hanya tinggal menjadi panggung budaya yang indah dilihat, tapi kosong di dalam? [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliManusia Baliorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Next Post

Purbaya Yudhi Sadewa dan Dialektika Baru Politik Ekonomi Indonesia

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Purbaya Yudhi Sadewa dan Dialektika Baru Politik Ekonomi Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co