23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sing Ngerambang Bangken Dongkang!”: Tingkah Polah Negeri Apatis

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
October 10, 2025
in Esai
“Sing Ngerambang Bangken Dongkang!”: Tingkah Polah Negeri Apatis

Sumber foto: Medsos Sejarahbali

PERNAHKAH Anda mendengar ungkapan “sing ngerambang bangken dongkang”? Secara harfiah berarti “tidak peduli pada bangkai kodok” ─ sebuah metafora yang menggambarkan sikap masa bodoh terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah jelas terlihat di depan mata. Ungkapan ini, getir tapi nyata, kerap dipakai oleh orang-orang yang memilih diam meski melihat persoalan nyata di sekelilingnya.

Belakangan, idiom-idiom semacam ini semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Ada juga ungkapan sarkastik lain seperti “taluh goreng ade hasil” atau “presiden nu hidup nyen kel ganti?”. Ungkapan-ungkapan tersebut lahir dari rasa putus asa bercampur apatis terhadap situasi politik dan sosial. Ungkapan semacam ini menunjukkan bahwa alih-alih melahirkan kritik sehat, sebagian masyarakat justru memilih menertawakan keadaan sebagai bentuk pelarian dari ketidakberdayaan.

Padahal, orang Bali selama ini dikenal dengan sifat lascarya ─ ringan tangan, tulus hati, dan tidak suka memperumit masalah. Lascarya sejatinya adalah sikap ikhlas tanpa pamrih, sebuah keutamaan sosial yang membuat sistem menyama braya mampu hidup selama ratusan tahun. Namun, ketika semangat tulus itu kehilangan arah dan tak disertai kesadaran kritis, ia bisa berubah bentuk menjadi sikap “tidak mau ambil pusing”. Bukan lagi karena ikhlas, melainkan karena merasa “bukan urusan saya”.

Di titik inilah lascarya yang semula mulia justru berpotensi melahirkan apatisme. Diam-diam, tanpa disadari, muncul mentalitas “biarkan saja”, yang kemudian merembet ke ranah sosial, politik, hingga agama. Sebagian orang lebih memilih menghindari konflik, bukan menyelesaikannya. Persoalan dibiarkan berjalan sendiri, selama tidak langsung mengganggu ruang pribadi. Akhirnya, masalah kecil menumpuk menjadi gunung, dan ketika meledak, semua terkejut, padahal sejak awal tanda-tandanya sudah sangat jelas.

Apatis terhadap tanah, misalnya. Dilansir dari detik.com, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bali mencatat, dalam enam tahun terakhir saja, 2019 hingga 2024, Bali kehilangan lebih dari 6.500 hektare sawah. Rata-rata, 1,53 persen lahan sawah lenyap setiap tahun. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan penanda bahwa ruang hidup yang dulu diwariskan dengan doa kini perlahan bergeser menjadi komoditas yang diperjualbelikan.

Tanah Bali semakin hari kian menyempit. Perlahan tapi pasti, lahan-lahan produktif sedikit demi sedikit telah berubah menjadi vila, hotel, hingga tempat-tempat hiburan yang justru dimiliki oleh orang luar Bali atau pihak asing. Alih-alih merawat tanah sebagai bagian dari identitas dan keberlanjutan hidup, banyak orang justru menjualnya demi kekayaan instan. Tanah warisan leluhur kini lebih cepat berpindah tangan ketimbang status WhatsApp. Bangunan-bangunan beton berdiri gagah, sementara pemilik aslinya sibuk menghitung laba yang entah kapan habisnya, dan sebagian dari mereka berkata “suksma leluhur”.

Bukan hanya soal tanah. Dalam kehidupan sosial sehari-hari, apatisme juga terlihat dalam sikap orang Bali. Sampah menumpuk di sudut-sudut desa, saluran air tersumbat hingga menimbulkan banjir, jalan rusak tak kunjung diperbaiki, hingga kabel-kabel semrawut menggantung seperti tak bertuan. Anehnya, semua itu jarang dianggap masalah mendesak. Yang lebih sering muncul justru komentar ringan seperti “nak mule keto” ─ “biasalah, dari dulu juga begitu,” ungkapan sederhana tersebut tanpa disadari seakan menjadi pembenaran atas ketidakpedulian kolektif. Dalam banyak kasus, urusan kebersihan, tata ruang, atau infrastruktur dianggap tugas pemerintah semata. Sikap seperti ini menunjukkan betapa budaya gotong-royong (menyama braya) yang dulu begitu kuat kini perlahan digantikan oleh mentalitas “asal tidak ganggu hidup saya, biarkan saja.”

Ilustrasi: Beluluk

Lebih jauh lagi, apatisme itu merambah hingga ke ranah politik. Banyak orang Bali seolah merasa urusan politik terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari, sehingga keputusan-keputusan penting diserahkan begitu saja kepada segelintir elit. Saat musim pemilu datang, perhatian masyarakat justru lebih banyak tertuju pada hal-hal seremonial: siapa yang menyumbang bansos, siapa yang membagikan kaos, di mana bisa mendapat nasi bungkus, atau panggung hiburan apa yang disediakan. Pesta demokrasi berubah menjadi sekadar hajatan tanpa kesadaran.

Setelah surat suara dicoblos dan tinta di jari mulai pudar, kepedulian pun ikut hilang. Tidak ada dorongan untuk mengawasi kebijakan, tidak ada keberanian untuk bertanya, dan tidak ada ruang kritis untuk menuntut pertanggungjawaban. Ketika izin hotel baru keluar dengan mudah, ketika pajak pribadi dan adat melonjak, atau ketika tanah leluhur tiba-tiba berpindah tangan ke pihak asing, masyarakat hanya bisa mengeluh di media sosial, seolah semua itu terjadi secara tiba-tiba. Padahal, segala perubahan itu bermula dari suara yang mereka berikan, atau justru dari diam yang mereka pilih.

Apatisme itu juga merembet dalam kehidupan beragama. Dalam ajaran Hindu, terdapat tiga pilar utama yang menjadi penopang keyakinan: tattwa (filsafat dan pemahaman), susila (etika dan perilaku), serta upacara (ritual). Idealnya, ketiganya berjalan seimbang. Namun dalam praktik nyata, keseimbangan itu mulai goyah. Upacara semakin dikedepankan, sementara tattwa dan susila perlahan tergeser ke pinggir.

Masyarakat berlomba membuat upacara sebesar mungkin, rela mengeluarkan banyak biaya agar terlihat megah, bahkan tak jarang berutang demi menjaga gengsi ritual. Namun, di tengah kesibukan menata sesajen, makna filosofis yang seharusnya menyertai setiap proses justru sering terabaikan. Tattwa yang mengajak manusia untuk memahami hakikat hidup, dan susila yang menuntun pada perilaku yang jujur, tertib, dan penuh welas asih, perlahan menjadi sekadar pengetahuan hafalan, bukan laku sehari-hari yang dipraktikkan.

Apatisme terhadap tanah, sosial, politik, dan agama pada akhirnya bukan hanya merugikan, tetapi juga menggerus martabat orang Bali. Perlahan namun pasti, masyarakat bisa kehilangan kendali atas tanah leluhur, lingkungan hidup, suara politik, bahkan jati diri budaya yang selama ini dibanggakan. Jika dibiarkan, semua itu bisa hilang bukan karena dirampas, tetapi karena dilepas dengan kesadaran yang tumpul.

Oleh karena itu, sudah saatnya sikap apatis ditinggalkan. Kesadaran kritis perlu kembali tumbuh: bahwa menjaga tanah berarti menjaga masa depan generasi, peduli pada lingkungan sosial adalah wujud nyata menyama braya, terlibat dalam urusan politik berarti menjaga kedaulatan bernegara, dan memahami tattwa serta menjalankan susila jauh lebih penting daripada sekadar gengsi terhadap upacara.

Apatisme memang terasa ringan, tidak membuat konflik, tidak membuat lelah. Namun justru di situlah bahayanya. Sebab yang membuat sebuah peradaban bertahan bukanlah mereka yang diam, melainkan mereka yang berani peduli, meski sedikit. Pada akhirnya, muncul pertanyaannya sederhana: apakah Bali akan tetap berdiri sebagai ruang hidup yang berjiwa, atau hanya tinggal menjadi panggung budaya yang indah dilihat, tapi kosong di dalam? [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliManusia Baliorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Next Post

Purbaya Yudhi Sadewa dan Dialektika Baru Politik Ekonomi Indonesia

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Purbaya Yudhi Sadewa dan Dialektika Baru Politik Ekonomi Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co