2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sing Ngerambang Bangken Dongkang!”: Tingkah Polah Negeri Apatis

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
October 10, 2025
in Esai
“Sing Ngerambang Bangken Dongkang!”: Tingkah Polah Negeri Apatis

Sumber foto: Medsos Sejarahbali

PERNAHKAH Anda mendengar ungkapan “sing ngerambang bangken dongkang”? Secara harfiah berarti “tidak peduli pada bangkai kodok” ─ sebuah metafora yang menggambarkan sikap masa bodoh terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah jelas terlihat di depan mata. Ungkapan ini, getir tapi nyata, kerap dipakai oleh orang-orang yang memilih diam meski melihat persoalan nyata di sekelilingnya.

Belakangan, idiom-idiom semacam ini semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Ada juga ungkapan sarkastik lain seperti “taluh goreng ade hasil” atau “presiden nu hidup nyen kel ganti?”. Ungkapan-ungkapan tersebut lahir dari rasa putus asa bercampur apatis terhadap situasi politik dan sosial. Ungkapan semacam ini menunjukkan bahwa alih-alih melahirkan kritik sehat, sebagian masyarakat justru memilih menertawakan keadaan sebagai bentuk pelarian dari ketidakberdayaan.

Padahal, orang Bali selama ini dikenal dengan sifat lascarya ─ ringan tangan, tulus hati, dan tidak suka memperumit masalah. Lascarya sejatinya adalah sikap ikhlas tanpa pamrih, sebuah keutamaan sosial yang membuat sistem menyama braya mampu hidup selama ratusan tahun. Namun, ketika semangat tulus itu kehilangan arah dan tak disertai kesadaran kritis, ia bisa berubah bentuk menjadi sikap “tidak mau ambil pusing”. Bukan lagi karena ikhlas, melainkan karena merasa “bukan urusan saya”.

Di titik inilah lascarya yang semula mulia justru berpotensi melahirkan apatisme. Diam-diam, tanpa disadari, muncul mentalitas “biarkan saja”, yang kemudian merembet ke ranah sosial, politik, hingga agama. Sebagian orang lebih memilih menghindari konflik, bukan menyelesaikannya. Persoalan dibiarkan berjalan sendiri, selama tidak langsung mengganggu ruang pribadi. Akhirnya, masalah kecil menumpuk menjadi gunung, dan ketika meledak, semua terkejut, padahal sejak awal tanda-tandanya sudah sangat jelas.

Apatis terhadap tanah, misalnya. Dilansir dari detik.com, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bali mencatat, dalam enam tahun terakhir saja, 2019 hingga 2024, Bali kehilangan lebih dari 6.500 hektare sawah. Rata-rata, 1,53 persen lahan sawah lenyap setiap tahun. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan penanda bahwa ruang hidup yang dulu diwariskan dengan doa kini perlahan bergeser menjadi komoditas yang diperjualbelikan.

Tanah Bali semakin hari kian menyempit. Perlahan tapi pasti, lahan-lahan produktif sedikit demi sedikit telah berubah menjadi vila, hotel, hingga tempat-tempat hiburan yang justru dimiliki oleh orang luar Bali atau pihak asing. Alih-alih merawat tanah sebagai bagian dari identitas dan keberlanjutan hidup, banyak orang justru menjualnya demi kekayaan instan. Tanah warisan leluhur kini lebih cepat berpindah tangan ketimbang status WhatsApp. Bangunan-bangunan beton berdiri gagah, sementara pemilik aslinya sibuk menghitung laba yang entah kapan habisnya, dan sebagian dari mereka berkata “suksma leluhur”.

Bukan hanya soal tanah. Dalam kehidupan sosial sehari-hari, apatisme juga terlihat dalam sikap orang Bali. Sampah menumpuk di sudut-sudut desa, saluran air tersumbat hingga menimbulkan banjir, jalan rusak tak kunjung diperbaiki, hingga kabel-kabel semrawut menggantung seperti tak bertuan. Anehnya, semua itu jarang dianggap masalah mendesak. Yang lebih sering muncul justru komentar ringan seperti “nak mule keto” ─ “biasalah, dari dulu juga begitu,” ungkapan sederhana tersebut tanpa disadari seakan menjadi pembenaran atas ketidakpedulian kolektif. Dalam banyak kasus, urusan kebersihan, tata ruang, atau infrastruktur dianggap tugas pemerintah semata. Sikap seperti ini menunjukkan betapa budaya gotong-royong (menyama braya) yang dulu begitu kuat kini perlahan digantikan oleh mentalitas “asal tidak ganggu hidup saya, biarkan saja.”

Ilustrasi: Beluluk

Lebih jauh lagi, apatisme itu merambah hingga ke ranah politik. Banyak orang Bali seolah merasa urusan politik terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari, sehingga keputusan-keputusan penting diserahkan begitu saja kepada segelintir elit. Saat musim pemilu datang, perhatian masyarakat justru lebih banyak tertuju pada hal-hal seremonial: siapa yang menyumbang bansos, siapa yang membagikan kaos, di mana bisa mendapat nasi bungkus, atau panggung hiburan apa yang disediakan. Pesta demokrasi berubah menjadi sekadar hajatan tanpa kesadaran.

Setelah surat suara dicoblos dan tinta di jari mulai pudar, kepedulian pun ikut hilang. Tidak ada dorongan untuk mengawasi kebijakan, tidak ada keberanian untuk bertanya, dan tidak ada ruang kritis untuk menuntut pertanggungjawaban. Ketika izin hotel baru keluar dengan mudah, ketika pajak pribadi dan adat melonjak, atau ketika tanah leluhur tiba-tiba berpindah tangan ke pihak asing, masyarakat hanya bisa mengeluh di media sosial, seolah semua itu terjadi secara tiba-tiba. Padahal, segala perubahan itu bermula dari suara yang mereka berikan, atau justru dari diam yang mereka pilih.

Apatisme itu juga merembet dalam kehidupan beragama. Dalam ajaran Hindu, terdapat tiga pilar utama yang menjadi penopang keyakinan: tattwa (filsafat dan pemahaman), susila (etika dan perilaku), serta upacara (ritual). Idealnya, ketiganya berjalan seimbang. Namun dalam praktik nyata, keseimbangan itu mulai goyah. Upacara semakin dikedepankan, sementara tattwa dan susila perlahan tergeser ke pinggir.

Masyarakat berlomba membuat upacara sebesar mungkin, rela mengeluarkan banyak biaya agar terlihat megah, bahkan tak jarang berutang demi menjaga gengsi ritual. Namun, di tengah kesibukan menata sesajen, makna filosofis yang seharusnya menyertai setiap proses justru sering terabaikan. Tattwa yang mengajak manusia untuk memahami hakikat hidup, dan susila yang menuntun pada perilaku yang jujur, tertib, dan penuh welas asih, perlahan menjadi sekadar pengetahuan hafalan, bukan laku sehari-hari yang dipraktikkan.

Apatisme terhadap tanah, sosial, politik, dan agama pada akhirnya bukan hanya merugikan, tetapi juga menggerus martabat orang Bali. Perlahan namun pasti, masyarakat bisa kehilangan kendali atas tanah leluhur, lingkungan hidup, suara politik, bahkan jati diri budaya yang selama ini dibanggakan. Jika dibiarkan, semua itu bisa hilang bukan karena dirampas, tetapi karena dilepas dengan kesadaran yang tumpul.

Oleh karena itu, sudah saatnya sikap apatis ditinggalkan. Kesadaran kritis perlu kembali tumbuh: bahwa menjaga tanah berarti menjaga masa depan generasi, peduli pada lingkungan sosial adalah wujud nyata menyama braya, terlibat dalam urusan politik berarti menjaga kedaulatan bernegara, dan memahami tattwa serta menjalankan susila jauh lebih penting daripada sekadar gengsi terhadap upacara.

Apatisme memang terasa ringan, tidak membuat konflik, tidak membuat lelah. Namun justru di situlah bahayanya. Sebab yang membuat sebuah peradaban bertahan bukanlah mereka yang diam, melainkan mereka yang berani peduli, meski sedikit. Pada akhirnya, muncul pertanyaannya sederhana: apakah Bali akan tetap berdiri sebagai ruang hidup yang berjiwa, atau hanya tinggal menjadi panggung budaya yang indah dilihat, tapi kosong di dalam? [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliManusia Baliorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Era Agensi Buatan dan Paradoks Otentisitas Digital

Next Post

Purbaya Yudhi Sadewa dan Dialektika Baru Politik Ekonomi Indonesia

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Purbaya Yudhi Sadewa dan Dialektika Baru Politik Ekonomi Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co