3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Museum Bali: Tetangga Sunyi di Tengah Ramainya Lapangan Puputan di Denpasar

Ni Wayan Suwini by Ni Wayan Suwini
October 10, 2025
in Tualang
Museum Bali: Tetangga Sunyi di Tengah Ramainya Lapangan Puputan di Denpasar

Di Museum Bali

MUSEUM, bagi sebagian anak muda, sering dianggap sebagai tempat yang membosankan. Jika pun mereka datang, alasannya sering kali bukan karena ingin mempelajari sejarah, melainkan sekadar mencari sudut estetik untuk bahan unggahan di media sosial. Padahal, di balik tembok-tembok tua museum tersimpan berbagai cerita panjang peradaban yang membentuk kita hingga saat ini.

Museum memang tak seramai mal atau tempat-tempat nongkrong lainnya, tetapi keberadaannya punya arti besar mengenai bagaimana generasi sekarang memahami identitasnya. Museum bukan sekadar tempat menyimpan benda peninggalan-peninggalan sebelumnya. Ia adalah ruang untuk meningat, tempat waktu berhenti sejenak agar manusia bisa menetap masa lalu sebelum melangkah ke depan.

Dan, di tengah riuhnya pusat Kota Denpasar, berdiri kokoh satu tempat yang menjaga semua ingatan itu dengan tenang, yaitu Museum Bali.

Berlokasi di sisi Lapangan Puputan Badung, lebih tepatnya di Jalan Mayor Wisnu. Berbeda dengan fasilitas edukasi perpustakaan kontainer yang dekat dengan Patung Catur Muka yang merupakan salah satu patokan ikonik Lapangan Puputang Badung, Museum Bali justru berada di sisi lain dari Lapangan Puputan Badung yang sebenarnya berdekatan dengan Pura Jagatnatha.

Museum Bali

Lokasinya cukup strategis, siapa pun yang pernah jogging dengan mengitari lapangan atau hanya sekadar mencari jajanan di deretan stand makanan pasti pernah melirik sebuah tempat luas di sebrangnya dengan ukiran khas Bali yang berdiri dengan megah. Bangunan itu sekilas tampak seperti pura, tetapi sebenarnya menyimpan berbagai koleksi budaya dari masa ke masa.

Memasuki kawasan museum, pengunjung akan langsung melihat loket tiket yang ada di sebelah kanan setelah melewati gerbang masuk museum. Tiket masuk diatur dengan tarif yang berbeda-beda, khusus untuk pelajar dan mahasiswa akan diberikan potongan harga setiap pembelian tiket jika mereka menunjukkan kartu pelajar maupun kartu tanda mahasiswa masing-masing.

Museum ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00 sore, kecuali pada hari Jumat yang memiliki jam operasional lebih singkat yaitu sampai pukul 13.30 siang, dan biasanya museum akan tutup pada hari libur resmi.

Pintu masuk Museum Bali

Pagi itu, suasana museum cukup ramai, ada rombongan anak SD yang sedang berkunjung, beberapa pengunjung lokal, serta ada rombongan wisatawan asing yang jumlahnya cukup banyak. Menurut petugas loket, bahwa rata-rata pengunjung per hari bisa mencapai 40 orang, sebagian besar memang rombongan dari beberapa sekolah yang memang sudah direncanakan oleh pihak sekolah kunjungannya.

“Biasanya anak-anak sekolah, yang paling banyak anak TK dan SD yang memang sudah dijadwalkan pihak sekolah untuk berkunjung. Kalau kunjungan pribadi atau individu ada juga, tapi jumlahnya lebih sedikit,” ungkap penjaga tiket.

Selain itu, ada juga wisatawan asing yang kerap berkunjung dan berkeliling tanpa pemandu, karena sebagian besar koleksi sudah dilengkapi dengan keterangan dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia.

Setelah melakukan pembelian tiket, penjaga tiket akan memberikan sedikit informasi terkait rute yang harus disinggahi terlebih dahulu. Sesuai saran petugas, perjalanan menjelajah dimuali dari Gedung Timur yang merupakan gedung paling dekat dengan loket tiket.

Gedung Timur memiliki 2 lantai, di lantai pertama, tersimpan artefak dari masa pra-aksara, mulai dari alat berburu hingga peralatan batu sederhana pada masa itu. Sementara di lantai dua memamerkan koleksi benda yang berkaitan dengan puncak-puncak kebudayaan Bali dalam berbagai aspek kehidupan yang meliputi ritual agama dan juga beberapa peninggalan alata tau teknologi pada masa itu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.  

Lalu, berpindah ke gedung lainnya yang berada di halaman yang berbeda, yaitu Gedung Buleleng, Karangasem, dan Tabanan. Ketiga gedung tersebut berada di halaman yang terpisah dengan Gedung Timur dan beberapa gedung-gedung lainnya, namun masih ada di dalam lingkungan Museum.

Papan petunjuk di Museum Bali

Gedung pertama yang akan terlihat adalah Gedung Buleleng, gedung ini sebagian besar memamerkan berbagai macam mata uang yang ada di Bali saat itu, selain itu, pengunjung juga dapat menelusuri perjalanan sejarah mata uang di Bali, dari alat tukar sederhana hingga masuknya uang kepeng dari China melalui hubungan perdagangan kala itu.

Gedung selanjutnya adalah Gedung Karangasem, gedung ini memamerkan berbagai bentuk Cili, simbol kesuburan yang menggambarkan Dewi Sri dengan bentuk perempuan bergelung. Gedung terakhir yaitu Gedung Tabanan, gedung ini menyimpan berbagai mahakarya berupa keris dengan sejarah dan kegunaannya dalam kegiatan masyarakat di Bali.

Selain itu, ketika baru masuk ke gedung ini, kita akan disambut oleh beberapa karya dalam bentuk patung berupa barong, penari topeng, dan lain-lainnya. Menariknya, untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman, sebagian koleksi dilengkapi dengan kode QR.

Gedung Pameran di Museum Bali

Pengunjung cukup memindai dengan gawai untuk mendapatkan informasi tambahan secara digital yang dilengkapi dengan video, audio, bahkan sudah berisi keterangan dalam berbahasa Inggris untuk wisatawan asing. Upaya sederhana ini membuat museum terasa lebih dekat dengan generasi muda yang akrab dengan teknologi.

Namun, masih ada pertanyaan besar yang muncul, mengapa museum tetap jarang dikunjungi anak muda? Jawaban dan beberapa pendapat langsung diberikan oleh salah satu anak muda yang memang akhir-akhir ini kesehariannya berkutat di Museum.

Ia merupakan salah satu mahasiswa program studi sejarah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia yang sedang magang di Museum Bali, lebih tepatnya di bagian perpustakaan. Ia bernama Gusti Ayu Putu Raka Puspa Sari (20), kerap dipanggil Gek Raka.

“Rasanya sih campur aduk, ada hari-hari yang bikin aku bosan karena tugasnya monoton, tapi ada juga momen-momen seru ketika aku bisa terlibat langsung dalam proses katalogisasi koleksi baru, dan aku bisa tau hal-hal yang sebelumnya aku ga tau, jadinya hari-hariku lebih bermanfaat deh,” ungkapnya ketika ditanya mengenai pengalamannya magang di Museum Bali.

Gek Raka di Museum Bali

Ia juga mengungkapkan pendapatnya terkait museum itu membosankan bagi anak muda, “kalau anak muda bilang museum itu membosankan, menurutku ada benarnya juga, terutama kalau mereka belum pernah ke museum yang interaktif atau modern. Tapi, sekarang tuh kan udah banyak museum yang punya inovasi dengan teknologi atau pajangan yang menarik, nah kalau mereka udah coba datengin pasti pandangan mereka berubah,” jawabnya tidak menampik pikiran generasinya terhadap museum.

Baginya, museum penting untuk generasi sekarang, karena ini bisa menjadikan salah satu jembatan dalam memahami sejarah dan budata kita sendiri. Dengan mengunjungi museum, orang bisa belajar dari masa lalu, mengapresiasi karya seni, dan memahami nilai-nilai yang membentuk masyarakat saat ini.

“Selain itu, museum penting banget untuk membangun rasa cinta tanah air dan kesadara sejarah di kalangan generasi muda. Toh di sini tempatnya udah strategis, gampang ditemui, banyak dagang juga di depan museum. Jadi kalau mau keliling-keliling lapangan dulu bisa, makan dulu bisa, abistu singgah ke museum deh,” ujarnya dengan semangat.

Museum Bali mungkin tidak seramai kafe atau tempat wisata modern lainnya, tapi ia tetap berdiri dengan tenang, menjaga napas masa lalu agar tidak padam. Di balik setiap etalase kaca, tersimpan cerita tentang manusia, tanah kelahiran, dan waktu. Tentang bagaimana sejarah tidak hanya tercerita melalui buku, tapu juga di setiao batu, kain, logam yang pernah digunakan oleh tangan leluhur. Mungkin museum tidak butuh menjadi tempat yang ramai, ia hanya butuh dikunjungi dengan perasaan ingin tahu yang dapat menyadarkan generasi untuk belajar tidak melupakan sejarah.[T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole

Tags: balidenpasarmuseum bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Purbaya Yudhi Sadewa dan Dialektika Baru Politik Ekonomi Indonesia

Next Post

“Dengerin, Nyanyiin, Lega”: Kuasa Sebuah Lagu

Ni Wayan Suwini

Ni Wayan Suwini

Lahir 04 Februari 2005. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

by Julio Saputra
May 20, 2026
0
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

Read moreDetails

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails
Next Post
“Dengerin, Nyanyiin, Lega”: Kuasa Sebuah Lagu

"Dengerin, Nyanyiin, Lega": Kuasa Sebuah Lagu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co