23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Museum Bali: Tetangga Sunyi di Tengah Ramainya Lapangan Puputan di Denpasar

Ni Wayan Suwini by Ni Wayan Suwini
October 10, 2025
in Tualang
Museum Bali: Tetangga Sunyi di Tengah Ramainya Lapangan Puputan di Denpasar

Di Museum Bali

MUSEUM, bagi sebagian anak muda, sering dianggap sebagai tempat yang membosankan. Jika pun mereka datang, alasannya sering kali bukan karena ingin mempelajari sejarah, melainkan sekadar mencari sudut estetik untuk bahan unggahan di media sosial. Padahal, di balik tembok-tembok tua museum tersimpan berbagai cerita panjang peradaban yang membentuk kita hingga saat ini.

Museum memang tak seramai mal atau tempat-tempat nongkrong lainnya, tetapi keberadaannya punya arti besar mengenai bagaimana generasi sekarang memahami identitasnya. Museum bukan sekadar tempat menyimpan benda peninggalan-peninggalan sebelumnya. Ia adalah ruang untuk meningat, tempat waktu berhenti sejenak agar manusia bisa menetap masa lalu sebelum melangkah ke depan.

Dan, di tengah riuhnya pusat Kota Denpasar, berdiri kokoh satu tempat yang menjaga semua ingatan itu dengan tenang, yaitu Museum Bali.

Berlokasi di sisi Lapangan Puputan Badung, lebih tepatnya di Jalan Mayor Wisnu. Berbeda dengan fasilitas edukasi perpustakaan kontainer yang dekat dengan Patung Catur Muka yang merupakan salah satu patokan ikonik Lapangan Puputang Badung, Museum Bali justru berada di sisi lain dari Lapangan Puputan Badung yang sebenarnya berdekatan dengan Pura Jagatnatha.

Museum Bali

Lokasinya cukup strategis, siapa pun yang pernah jogging dengan mengitari lapangan atau hanya sekadar mencari jajanan di deretan stand makanan pasti pernah melirik sebuah tempat luas di sebrangnya dengan ukiran khas Bali yang berdiri dengan megah. Bangunan itu sekilas tampak seperti pura, tetapi sebenarnya menyimpan berbagai koleksi budaya dari masa ke masa.

Memasuki kawasan museum, pengunjung akan langsung melihat loket tiket yang ada di sebelah kanan setelah melewati gerbang masuk museum. Tiket masuk diatur dengan tarif yang berbeda-beda, khusus untuk pelajar dan mahasiswa akan diberikan potongan harga setiap pembelian tiket jika mereka menunjukkan kartu pelajar maupun kartu tanda mahasiswa masing-masing.

Museum ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00 sore, kecuali pada hari Jumat yang memiliki jam operasional lebih singkat yaitu sampai pukul 13.30 siang, dan biasanya museum akan tutup pada hari libur resmi.

Pintu masuk Museum Bali

Pagi itu, suasana museum cukup ramai, ada rombongan anak SD yang sedang berkunjung, beberapa pengunjung lokal, serta ada rombongan wisatawan asing yang jumlahnya cukup banyak. Menurut petugas loket, bahwa rata-rata pengunjung per hari bisa mencapai 40 orang, sebagian besar memang rombongan dari beberapa sekolah yang memang sudah direncanakan oleh pihak sekolah kunjungannya.

“Biasanya anak-anak sekolah, yang paling banyak anak TK dan SD yang memang sudah dijadwalkan pihak sekolah untuk berkunjung. Kalau kunjungan pribadi atau individu ada juga, tapi jumlahnya lebih sedikit,” ungkap penjaga tiket.

Selain itu, ada juga wisatawan asing yang kerap berkunjung dan berkeliling tanpa pemandu, karena sebagian besar koleksi sudah dilengkapi dengan keterangan dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia.

Setelah melakukan pembelian tiket, penjaga tiket akan memberikan sedikit informasi terkait rute yang harus disinggahi terlebih dahulu. Sesuai saran petugas, perjalanan menjelajah dimuali dari Gedung Timur yang merupakan gedung paling dekat dengan loket tiket.

Gedung Timur memiliki 2 lantai, di lantai pertama, tersimpan artefak dari masa pra-aksara, mulai dari alat berburu hingga peralatan batu sederhana pada masa itu. Sementara di lantai dua memamerkan koleksi benda yang berkaitan dengan puncak-puncak kebudayaan Bali dalam berbagai aspek kehidupan yang meliputi ritual agama dan juga beberapa peninggalan alata tau teknologi pada masa itu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.  

Lalu, berpindah ke gedung lainnya yang berada di halaman yang berbeda, yaitu Gedung Buleleng, Karangasem, dan Tabanan. Ketiga gedung tersebut berada di halaman yang terpisah dengan Gedung Timur dan beberapa gedung-gedung lainnya, namun masih ada di dalam lingkungan Museum.

Papan petunjuk di Museum Bali

Gedung pertama yang akan terlihat adalah Gedung Buleleng, gedung ini sebagian besar memamerkan berbagai macam mata uang yang ada di Bali saat itu, selain itu, pengunjung juga dapat menelusuri perjalanan sejarah mata uang di Bali, dari alat tukar sederhana hingga masuknya uang kepeng dari China melalui hubungan perdagangan kala itu.

Gedung selanjutnya adalah Gedung Karangasem, gedung ini memamerkan berbagai bentuk Cili, simbol kesuburan yang menggambarkan Dewi Sri dengan bentuk perempuan bergelung. Gedung terakhir yaitu Gedung Tabanan, gedung ini menyimpan berbagai mahakarya berupa keris dengan sejarah dan kegunaannya dalam kegiatan masyarakat di Bali.

Selain itu, ketika baru masuk ke gedung ini, kita akan disambut oleh beberapa karya dalam bentuk patung berupa barong, penari topeng, dan lain-lainnya. Menariknya, untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman, sebagian koleksi dilengkapi dengan kode QR.

Gedung Pameran di Museum Bali

Pengunjung cukup memindai dengan gawai untuk mendapatkan informasi tambahan secara digital yang dilengkapi dengan video, audio, bahkan sudah berisi keterangan dalam berbahasa Inggris untuk wisatawan asing. Upaya sederhana ini membuat museum terasa lebih dekat dengan generasi muda yang akrab dengan teknologi.

Namun, masih ada pertanyaan besar yang muncul, mengapa museum tetap jarang dikunjungi anak muda? Jawaban dan beberapa pendapat langsung diberikan oleh salah satu anak muda yang memang akhir-akhir ini kesehariannya berkutat di Museum.

Ia merupakan salah satu mahasiswa program studi sejarah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia yang sedang magang di Museum Bali, lebih tepatnya di bagian perpustakaan. Ia bernama Gusti Ayu Putu Raka Puspa Sari (20), kerap dipanggil Gek Raka.

“Rasanya sih campur aduk, ada hari-hari yang bikin aku bosan karena tugasnya monoton, tapi ada juga momen-momen seru ketika aku bisa terlibat langsung dalam proses katalogisasi koleksi baru, dan aku bisa tau hal-hal yang sebelumnya aku ga tau, jadinya hari-hariku lebih bermanfaat deh,” ungkapnya ketika ditanya mengenai pengalamannya magang di Museum Bali.

Gek Raka di Museum Bali

Ia juga mengungkapkan pendapatnya terkait museum itu membosankan bagi anak muda, “kalau anak muda bilang museum itu membosankan, menurutku ada benarnya juga, terutama kalau mereka belum pernah ke museum yang interaktif atau modern. Tapi, sekarang tuh kan udah banyak museum yang punya inovasi dengan teknologi atau pajangan yang menarik, nah kalau mereka udah coba datengin pasti pandangan mereka berubah,” jawabnya tidak menampik pikiran generasinya terhadap museum.

Baginya, museum penting untuk generasi sekarang, karena ini bisa menjadikan salah satu jembatan dalam memahami sejarah dan budata kita sendiri. Dengan mengunjungi museum, orang bisa belajar dari masa lalu, mengapresiasi karya seni, dan memahami nilai-nilai yang membentuk masyarakat saat ini.

“Selain itu, museum penting banget untuk membangun rasa cinta tanah air dan kesadara sejarah di kalangan generasi muda. Toh di sini tempatnya udah strategis, gampang ditemui, banyak dagang juga di depan museum. Jadi kalau mau keliling-keliling lapangan dulu bisa, makan dulu bisa, abistu singgah ke museum deh,” ujarnya dengan semangat.

Museum Bali mungkin tidak seramai kafe atau tempat wisata modern lainnya, tapi ia tetap berdiri dengan tenang, menjaga napas masa lalu agar tidak padam. Di balik setiap etalase kaca, tersimpan cerita tentang manusia, tanah kelahiran, dan waktu. Tentang bagaimana sejarah tidak hanya tercerita melalui buku, tapu juga di setiao batu, kain, logam yang pernah digunakan oleh tangan leluhur. Mungkin museum tidak butuh menjadi tempat yang ramai, ia hanya butuh dikunjungi dengan perasaan ingin tahu yang dapat menyadarkan generasi untuk belajar tidak melupakan sejarah.[T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole

Tags: balidenpasarmuseum bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Purbaya Yudhi Sadewa dan Dialektika Baru Politik Ekonomi Indonesia

Next Post

“Dengerin, Nyanyiin, Lega”: Kuasa Sebuah Lagu

Ni Wayan Suwini

Ni Wayan Suwini

Lahir 04 Februari 2005. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
“Dengerin, Nyanyiin, Lega”: Kuasa Sebuah Lagu

"Dengerin, Nyanyiin, Lega": Kuasa Sebuah Lagu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co