2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Museum Bali: Tetangga Sunyi di Tengah Ramainya Lapangan Puputan di Denpasar

Ni Wayan Suwini by Ni Wayan Suwini
October 10, 2025
in Tualang
Museum Bali: Tetangga Sunyi di Tengah Ramainya Lapangan Puputan di Denpasar

Di Museum Bali

MUSEUM, bagi sebagian anak muda, sering dianggap sebagai tempat yang membosankan. Jika pun mereka datang, alasannya sering kali bukan karena ingin mempelajari sejarah, melainkan sekadar mencari sudut estetik untuk bahan unggahan di media sosial. Padahal, di balik tembok-tembok tua museum tersimpan berbagai cerita panjang peradaban yang membentuk kita hingga saat ini.

Museum memang tak seramai mal atau tempat-tempat nongkrong lainnya, tetapi keberadaannya punya arti besar mengenai bagaimana generasi sekarang memahami identitasnya. Museum bukan sekadar tempat menyimpan benda peninggalan-peninggalan sebelumnya. Ia adalah ruang untuk meningat, tempat waktu berhenti sejenak agar manusia bisa menetap masa lalu sebelum melangkah ke depan.

Dan, di tengah riuhnya pusat Kota Denpasar, berdiri kokoh satu tempat yang menjaga semua ingatan itu dengan tenang, yaitu Museum Bali.

Berlokasi di sisi Lapangan Puputan Badung, lebih tepatnya di Jalan Mayor Wisnu. Berbeda dengan fasilitas edukasi perpustakaan kontainer yang dekat dengan Patung Catur Muka yang merupakan salah satu patokan ikonik Lapangan Puputang Badung, Museum Bali justru berada di sisi lain dari Lapangan Puputan Badung yang sebenarnya berdekatan dengan Pura Jagatnatha.

Museum Bali

Lokasinya cukup strategis, siapa pun yang pernah jogging dengan mengitari lapangan atau hanya sekadar mencari jajanan di deretan stand makanan pasti pernah melirik sebuah tempat luas di sebrangnya dengan ukiran khas Bali yang berdiri dengan megah. Bangunan itu sekilas tampak seperti pura, tetapi sebenarnya menyimpan berbagai koleksi budaya dari masa ke masa.

Memasuki kawasan museum, pengunjung akan langsung melihat loket tiket yang ada di sebelah kanan setelah melewati gerbang masuk museum. Tiket masuk diatur dengan tarif yang berbeda-beda, khusus untuk pelajar dan mahasiswa akan diberikan potongan harga setiap pembelian tiket jika mereka menunjukkan kartu pelajar maupun kartu tanda mahasiswa masing-masing.

Museum ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00 sore, kecuali pada hari Jumat yang memiliki jam operasional lebih singkat yaitu sampai pukul 13.30 siang, dan biasanya museum akan tutup pada hari libur resmi.

Pintu masuk Museum Bali

Pagi itu, suasana museum cukup ramai, ada rombongan anak SD yang sedang berkunjung, beberapa pengunjung lokal, serta ada rombongan wisatawan asing yang jumlahnya cukup banyak. Menurut petugas loket, bahwa rata-rata pengunjung per hari bisa mencapai 40 orang, sebagian besar memang rombongan dari beberapa sekolah yang memang sudah direncanakan oleh pihak sekolah kunjungannya.

“Biasanya anak-anak sekolah, yang paling banyak anak TK dan SD yang memang sudah dijadwalkan pihak sekolah untuk berkunjung. Kalau kunjungan pribadi atau individu ada juga, tapi jumlahnya lebih sedikit,” ungkap penjaga tiket.

Selain itu, ada juga wisatawan asing yang kerap berkunjung dan berkeliling tanpa pemandu, karena sebagian besar koleksi sudah dilengkapi dengan keterangan dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia.

Setelah melakukan pembelian tiket, penjaga tiket akan memberikan sedikit informasi terkait rute yang harus disinggahi terlebih dahulu. Sesuai saran petugas, perjalanan menjelajah dimuali dari Gedung Timur yang merupakan gedung paling dekat dengan loket tiket.

Gedung Timur memiliki 2 lantai, di lantai pertama, tersimpan artefak dari masa pra-aksara, mulai dari alat berburu hingga peralatan batu sederhana pada masa itu. Sementara di lantai dua memamerkan koleksi benda yang berkaitan dengan puncak-puncak kebudayaan Bali dalam berbagai aspek kehidupan yang meliputi ritual agama dan juga beberapa peninggalan alata tau teknologi pada masa itu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.  

Lalu, berpindah ke gedung lainnya yang berada di halaman yang berbeda, yaitu Gedung Buleleng, Karangasem, dan Tabanan. Ketiga gedung tersebut berada di halaman yang terpisah dengan Gedung Timur dan beberapa gedung-gedung lainnya, namun masih ada di dalam lingkungan Museum.

Papan petunjuk di Museum Bali

Gedung pertama yang akan terlihat adalah Gedung Buleleng, gedung ini sebagian besar memamerkan berbagai macam mata uang yang ada di Bali saat itu, selain itu, pengunjung juga dapat menelusuri perjalanan sejarah mata uang di Bali, dari alat tukar sederhana hingga masuknya uang kepeng dari China melalui hubungan perdagangan kala itu.

Gedung selanjutnya adalah Gedung Karangasem, gedung ini memamerkan berbagai bentuk Cili, simbol kesuburan yang menggambarkan Dewi Sri dengan bentuk perempuan bergelung. Gedung terakhir yaitu Gedung Tabanan, gedung ini menyimpan berbagai mahakarya berupa keris dengan sejarah dan kegunaannya dalam kegiatan masyarakat di Bali.

Selain itu, ketika baru masuk ke gedung ini, kita akan disambut oleh beberapa karya dalam bentuk patung berupa barong, penari topeng, dan lain-lainnya. Menariknya, untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman, sebagian koleksi dilengkapi dengan kode QR.

Gedung Pameran di Museum Bali

Pengunjung cukup memindai dengan gawai untuk mendapatkan informasi tambahan secara digital yang dilengkapi dengan video, audio, bahkan sudah berisi keterangan dalam berbahasa Inggris untuk wisatawan asing. Upaya sederhana ini membuat museum terasa lebih dekat dengan generasi muda yang akrab dengan teknologi.

Namun, masih ada pertanyaan besar yang muncul, mengapa museum tetap jarang dikunjungi anak muda? Jawaban dan beberapa pendapat langsung diberikan oleh salah satu anak muda yang memang akhir-akhir ini kesehariannya berkutat di Museum.

Ia merupakan salah satu mahasiswa program studi sejarah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia yang sedang magang di Museum Bali, lebih tepatnya di bagian perpustakaan. Ia bernama Gusti Ayu Putu Raka Puspa Sari (20), kerap dipanggil Gek Raka.

“Rasanya sih campur aduk, ada hari-hari yang bikin aku bosan karena tugasnya monoton, tapi ada juga momen-momen seru ketika aku bisa terlibat langsung dalam proses katalogisasi koleksi baru, dan aku bisa tau hal-hal yang sebelumnya aku ga tau, jadinya hari-hariku lebih bermanfaat deh,” ungkapnya ketika ditanya mengenai pengalamannya magang di Museum Bali.

Gek Raka di Museum Bali

Ia juga mengungkapkan pendapatnya terkait museum itu membosankan bagi anak muda, “kalau anak muda bilang museum itu membosankan, menurutku ada benarnya juga, terutama kalau mereka belum pernah ke museum yang interaktif atau modern. Tapi, sekarang tuh kan udah banyak museum yang punya inovasi dengan teknologi atau pajangan yang menarik, nah kalau mereka udah coba datengin pasti pandangan mereka berubah,” jawabnya tidak menampik pikiran generasinya terhadap museum.

Baginya, museum penting untuk generasi sekarang, karena ini bisa menjadikan salah satu jembatan dalam memahami sejarah dan budata kita sendiri. Dengan mengunjungi museum, orang bisa belajar dari masa lalu, mengapresiasi karya seni, dan memahami nilai-nilai yang membentuk masyarakat saat ini.

“Selain itu, museum penting banget untuk membangun rasa cinta tanah air dan kesadara sejarah di kalangan generasi muda. Toh di sini tempatnya udah strategis, gampang ditemui, banyak dagang juga di depan museum. Jadi kalau mau keliling-keliling lapangan dulu bisa, makan dulu bisa, abistu singgah ke museum deh,” ujarnya dengan semangat.

Museum Bali mungkin tidak seramai kafe atau tempat wisata modern lainnya, tapi ia tetap berdiri dengan tenang, menjaga napas masa lalu agar tidak padam. Di balik setiap etalase kaca, tersimpan cerita tentang manusia, tanah kelahiran, dan waktu. Tentang bagaimana sejarah tidak hanya tercerita melalui buku, tapu juga di setiao batu, kain, logam yang pernah digunakan oleh tangan leluhur. Mungkin museum tidak butuh menjadi tempat yang ramai, ia hanya butuh dikunjungi dengan perasaan ingin tahu yang dapat menyadarkan generasi untuk belajar tidak melupakan sejarah.[T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Wayan Suwini
Editor: Adnyana Ole

Tags: balidenpasarmuseum bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Purbaya Yudhi Sadewa dan Dialektika Baru Politik Ekonomi Indonesia

Next Post

“Dengerin, Nyanyiin, Lega”: Kuasa Sebuah Lagu

Ni Wayan Suwini

Ni Wayan Suwini

Lahir 04 Februari 2005. Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails
Next Post
“Dengerin, Nyanyiin, Lega”: Kuasa Sebuah Lagu

"Dengerin, Nyanyiin, Lega": Kuasa Sebuah Lagu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co