23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni Sastra dan Seni Rupa

Hartanto by Hartanto
September 16, 2025
in Ulas Rupa
Seni Sastra dan Seni Rupa

Don Quixote karya Salvador Dali

SESUNGGUHNYA sangatlah menarik diskusi yang diinisiasi oleh perupa Made Kaek bekerja sama dengan Sawidji Gallerey & Studio pada 1 Juni 2025 lalu. Diskusi berlangsung sore hari di Sawidji Studio. ‘Senyawa’ antara sastra dan senirupa sebenarnya sudah berlangsung lama dan bukan hal baru. Kendatipun demikian, perbincangan semacam ini tetap menarik bagi saya.

Salvador Dalí pernah membuat karya rupa (saya selalu keberatan menyebut ilustrasi) untuk karya sastra. Ketika itu, Dalí berkarya atas dasar karya sastra “Alice’s Adventures in Wonderland” karya Lewis Carroll. Dalam prosesnya, ia menginterpretasikan kisah tersebut melalui lensa surealis yang khas—misalnya, dengan memadukan elemen-elemen aneh dan bentuk-bentuk abstrak yang mengubah cara kita memandang realitas. Pendekatan Dalí dalam menggabungkan unsur sastra dengan ekspresi visual ini menunjukkan betapa lintas batas antara sastra dan seni lukis dapat menghasilkan interpretasi yang baru dan memukau.

Menurut ‘pembacaan’ saya, manakala Dali berkarya rupa untuk “Alice’s Adventures in Wonderland”, tampak Dalí mengeksplorasi berbagai medium seni yang mengandung unsur naratif, sehingga karyanya tidak semata-mata terbatas pada konsep lukisan tradisional, tetapi juga melintasi batasan-batasan disiplin seni. Keterlibatannya dalam proyek-proyek lintas disiplin ini mengilhami banyak seniman dan pengamat seni untuk mengeksplorasi kembali hubungan antara teks dan visual secara mendalam.

Contoh lain karya Dali dalam merespon karya sastra klasik lainnya, yang cukup terkenal adalah  karya rupanya yang merespon “Divine Comedy”  karya Dante Alighieri. Dalí awalnya diminta oleh pemerintah Italia untuk membuat karya rupa dalam rangka peringatan 700 tahun kelahiran Dante, tetapi proyek ini akhirnya tidak digunakan secara resmi. Meskipun begitu, karya yang ia buat tetap menjadi bagian penting dari interpretasi visual terhadap karya sastra klasik.

Dalí juga mengerjakan karya rupa untuk “Don Quixote”karya Miguel de Cervantes, di mana ia menggunakan teknik yang lebih eksperimental dan ekspresif untuk menangkap semangat petualangan dan absurditas dalam kisah tersebut. Pendekatan Dalí terhadap karya sastra, selalu mencerminkan gaya surealisnya yang khas, dengan simbolisme yang kaya dan interpretasi yang sering kali menggugah imajinasi.

Tidak  hanya Dali, Pablo Picasso juga terinspirasi membuat karya rupa sketsa  Don Quixote pada tahun 1955. Karya Pablo Picasso ini tentang pahlawan sastra Spanyol dan sahabat karibnya, Sancho Panza. Sketsa ini ditampilkan pada jurnal mingguan Prancis Les Lettres Francaises edisi 18-24 Agustus untuk merayakan ulang tahun ke-350 bagian pertama Don Quixote karya Cervantes. Bagian pertama ditulis tahun 1605 yang kedua ditulis tahun 1615.

Mengutip dari https://www.pablopicasso.org/, Lukisan tersebut menggambarkan Don Quixote de la Mancha, kudanya Rocinante, pengawalnya Sancho Panza, dan keledainya Dapple, matahari, dan beberapa kincir angin. Garis-garis tebal, hampir seperti coretan, yang menyusun figur-figur tersebut tampak mencolok dengan latar belakang putih polos. Sosok-sosok tersebut hampir singkat dan cacat, serta dramatis.

Sancho Panza menatap Don Quixote yang tinggi, memanjang, dan kurus kering. Terlihat, ia sedang menatap ke depan. Don Quixote dan Rocinante berdiri dengan gagah, tetapi tampak agak lelah. Sosok yang dilukis dengan sapuan kuas tebal itu tampaknya telah diubah beberapa kali karena Picasso melukis badan, lengan, dan bahu Don Quixote, dengan apik.

Selain berkarya untuk karya sastra Don Quixote, Picasso juga berkarya seri sketsa berdasarkan mitos “metamorphosis” karya Ovid. Dunia mitologi Yunani-Romawi tampaknya memukau Picasso. “Metamorfosis” adalah puisi dalam bahasa Latin, yang terdiri dari 15 buku. Ini, merupakan cerita dari mitologi Yunani dan Romawi, yang ditulis dalam bentuk syair. Ovid menggambarkan secara khusus cinta para dewa.

Picasso membuat karya rupa ini pada tahun 1930, setelah diminta oleh penerbit Swiss Albert Skira. Dalam satu bulan, ia menghasilkan tiga puluh ‘cukilan’, yang dicetak oleh Louis Fort. Tema Metamorfosis sejajar dengan kehidupan Picasso, sosok wanita itu pasti terinspirasi oleh kehidupan pendamping dan inspirasinya saat itu: Marie-Thérèse Walter. Kekhasan cetakan ini terletak pada kesederhanaannya. Dalam beberapa goresan, Picasso menelusuri jalinan tubuh dan garis yang membangkitkan kembali seni menggambar yang lebih klasik, yang sudah dapat diamati sejak tahun 1920-an.

Begitulah hubungan sastra dan senirupa yang memang sudah terjalin sejak lama. Keduanya, sama-sama media komunikasi – verbal dan visual. Di Bali sendiri, sudah sering karya sastra ‘bersenyawa’ dengan karya rupa. Misalnya, ‘senyawa’ antara karya rupa pelukis Made Gunawan dan puisi-puisi penyair Sahadewa pada buku “Gajah Mina”. Prof. Darma Putra menyebut Alih Kreasi Puisi, Lukisan, dan Sketsa ini dengan ‘Pasatmian”.

Semantara itu, perupa I Wayan Sujana ‘Suklu’ juga pernah berkolaborasi dengan penulis Ni Made Sri Andani. Buku Karya alih media itu bertajuk “Sang Inisiator”. Selain itu, Perupa Suklu dan penyair Anak Agung Sagung Masruscitadewi juga melakukan ‘senyawa karya’ pada buku berjudul “Nawa Sena”. Suklu menamai kolaborasi itu sebagai ‘intermingle’, sedangkan Gung Mas panggilan akrab AA Sg Masruscitadewi – memberi istilah ‘Lango’. Yang terakhir, penyair Tan Lioe Ie mengistilahkan dengan “eksphrasis”, pada karya-karya puisinya yang terstimulasi dari karya senirupa dan karya seni yang lain. Dan masih banyak lagi kolaborasi alih wahana karya rupa dan Sastra dengan berbagai bidang seni.

Dalam sebuah kesempatan, saya sempat mempertanyakan mengapa senirupa tak dimasukkan dalam perhargaan seni semacam Nobel atau Pulitzer pada almarhum penyair Frans Nadjira. Kendati kualitas penghargaan juga terbilang relative, namun Nobel dan Pulitzer terbilang cukup popular dan prestisius. Ketika itu, saya sempat mempertanyakan bahwa sesungguhnyalah karya senirupa tak jauh berbeda dengan seni sastra. Keduanya sama-sama medium ekspresi dari produk pemikiran senimannya.

Kita bisa mengambil contoh karya visual, lukisan  Picasso, yang bertajuk Guernica. Menurut saya, karya ini memenuhi kriteria Nobel yang antara lain ; menumbuhkan kesadaran masyarakat melalui pengetahuan, sains, dan humanism. Karya ini memuat konten yang cukup genial dari Picasso. Dunia, memahami dan mengakui ‘kelebihan’ dari karya rupa ini.

Guernica dianggap sebagai pernyataan antiperang paling kuat dalam seni modern.  Tokoh-tokoh utama – seorang wanita dengan lengan terentang, seekor banteng, seekor kuda yang menderita – disempurnakan dalam sketsa demi sketsa. Kemudian dipindahkan ke kanvas yang luas, yang juga dikerjakan ulang beberapa kali. Warna gelap dan tema monokrom digunakan untuk menggambarkan masa-masa sulit, dan penderitaan yang sedang dialami. Picasso mengungkapnya sebagai tindakan brutal dan penghancuran diri dan mengecamnya sebagai tindakan fasisme. Karya tersebut tidak hanya berupa laporan atau lukisan praktis, tetapi juga tetap menjadi gambaran politik yang sangat kuat dalam seni modern saat itu. Sejak awal, Picasso memilih untuk tidak menggambarkan kengerian Guernica dalam istilah realis atau romantis.

Sayang, penghargaan Nobel hanya ada lima kategori: Fisika, Kimia, Fisiologi atau Kedokteran, Sastra, dan Perdamaian. Ada pula penghargaan Economic Sciences, yang didirikan pada tahun 1968 oleh bank sentral Swedia. Kriteria penting dari Penghargaan Nobel adalah, pemenang harus memiliki pencapaian luar biasa yang memberikan manfaat besar bagi umat manusia, seperti penelitian inovatif, penemuan teknologi baru, atau kontribusi sosial yang berdampak luas.

Masih menurut penilaian subyektif saya, Guernika memenuhi kriteria ini. Kemudian, bagi karya sastra – karya juga  harus memiliki dampak besar dalam dunia sastra dan memberikan wawasan baru tentang kehidupan, kemanusiaan, atau budaya. Oleh karenanya, banyak pemenang Nobel Sastra adalah penulis yang mengangkat isu sosial, politik, atau kemanusiaan dalam karya mereka. Pada kesempatan lain, saya ingin menggali lebih dalam hubungan antara Guernica, Spanyol dan Hindia Belanda (Pra Indonesia).

Memang, ada banyak penghargaan seni rupa terkenal di dunia yang memberikan apresiasi kepada seniman visual atas kontribusi mereka. Namun, menurut subyekjtif penilaian saya, popularitasnya tak sebanding dengan Nobel dan Pulitzer. Misalnya penghargaan Turner Prize – Penghargaan seni kontemporer yang diberikan setiap tahun oleh Tate Britain di Inggris, khusus untuk seniman asal Britania Raya. Selain itu ada juga Praemium Imperiale – Penghargaan internasional yang diberikan oleh Japan Art Association untuk berbagai disiplin seni, termasuk seni rupa.

Yang cukup popular dan prestisius adlah Venice Biennale Golden Lion – Penghargaan utama dalam Venice Biennale yang merupakan salah satu pameran seni kontemporer paling bergengsi di dunia. Ada juga Hugo Boss Prize – yang diberikan oleh Guggenheim Museum kepada seniman kontemporer yang menunjukkan inovasi luar biasa dalam seni visual, dan masih ada beberapa penghargaan seni visual lainnya.

Penghargaan-penghargaan internasional untuk karya seni rupa ini juga menjadi topik dialog saya dengan Bang Frans Nadjira. Namun, Perbincangan saya dan bang Frans Nadjira waktu itu, terputus, karena wartawan senior almarhum Mahar Effendi datang bersama putranya. Bang Mahar bersiap therapy pada bang Frans, itu dilakukannya setiap hari. Rasa penasaran saya tersebut mengendap puluhan tahun, dan teman-teman yang saya ajak mendiskusikan hal ini, punya penilaian yang berbeda-beda. Tak ada kesimpulan pasti yang kudapati. Sampai pada acara diskusi 1 Juni 2025 lalu, penjelasan Prof. Darma Putra juga tak bisa saya ‘cerna’ dengan baik. Persoalannya sederhana, saya sedikit mengalami ‘gangguan’ pendengaran. Sehingga saya gagal menangkap ‘esensi’ pembicaraan (mohon maaf sebesar-besarnya Prof.). Saya tidak tahu, apakah tindakan anestesi selama 8 jam, membuat pendengaran saya terganggu, atau saya yang kurang rajin membersihkan telinga, entahlah.

Menurut saya, analisis unsur-unsur bahasa visual dalam seni rupa bisa membuka banyak pemahaman tentang bagaimana karya seni “berbicara” tanpa kata. Sebab, seni visual juga memiliki sarana ‘daya ungkap’, yang sering saya sebut sebagai ‘kosa rupa’, ini bisa kita padankan dengan ‘kosa kata’. .Ada beberapa unsur utama yang biasanya dianalisis: bisa kita mulai dari Garis. Unsur ini Menciptakan bentuk, arah, dan gerak. Garis bisa tegas, lembut, putus-putus, melingkar, dan masing-masing memberikan nuansa berbeda.

Selanjutnya,Warna – yang berfungsi menyampaikan emosi, kontras, harmoni, atau fokus visual. Kombinasi warna juga bisa menciptakan makna simbolik tergantung konteks budaya. Kemudian, Bentuk dan bidang – dua dimensi atau tiga dimensi, abstrak atau realistik; bentuk menentukan struktur utama karya seni. Unsur yang lain adalah Tekstur – bisa nyata (fisik) atau semu (ilusi visual). Tekstur memberikan sensasi sentuhan secara visual. Tak jauh berbeda dengan penciptaan Ruang – Ilusi kedalaman dan perspektif.

Ruang bisa padat, sempit, terbuka, atau berlapis-lapis. Lalu Gelap-terang (value) –  Kontras antara terang dan gelap acap dilakukan perupa untuk menciptakan dramatisasi, kedalaman, atau penekanan visual. Yang tak kalah pentingnya adalah Komposisi atau tata letak– Ini adalah bagaimana semua unsur diatur dalam karya, termasuk keseimbangan, irama, penekanan, dan harmoni. Seperti sudah saya sebut di atas tadi, bahasa visual ini lah acap saya sebut sebagai ‘kosa rupa’. Ini bisa diartikan sebagai ‘kosakata’ dalam seni rupa, – yang digunakan seniman untuk menyampaikan ide, emosi, dan pesan tanpa perlu kata-kata (bahasa verbal).

Atas dasar inilah, hingga kini saya tetap mempertanyakan soal penghargaan terhadap karya seni rupa. Sebab, menurut pemahaman saya – senirupa maupun seni sastra memiliki cara penyampaian pesan yang berbeda, dan perbedaan itu membuat keduanya memiliki kekuatan unik masing-masing. Keduanya, sama-sama wahana ekspresi atau bisa disebut sebagai produk intelektualitas senimannya.

Senirupa mengkomunikasikan ide atau gagasan, pesan, imajinasi dan emosi melalui elemen visual seperti warna, bentuk, dan tekstur seperti yang sudah saya sebut diatas. Karena pendekatannya yang tidak bergantung pada bahasa, karya seni rupa seringkali dapat langsung dirasakan dan diresapi oleh orang dari berbagai latar belakang budaya. Misalnya, bentuk dan warna dalam sebuah lukisan bisa membangkitkan reaksi emosional yang hampir instingtif, tanpa perlu diterjemahkan melalui kata-kata. Hal ini membuat perspektif yang disajikan oleh senirupa sering dianggap lebih “universal” atau mudah diakses secara lintas budaya . Mengutip dari buku “Visual Thinking” karya Rudolf Arnheim ia mengatakan ; “Sangat penting, individu mengeksplorasi bagaimana memahami dan memproses informasi visual dalam seni dan desain”.

Di sisi lain, sastra menyalurkan pengalaman manusia melalui bahasa, narasi, dan struktur cerita yang kompleks. Karya sastra memiliki kekuatan untuk menyelami lapisan-lapisan makna yang mendalam, menggunakan simbolisme dan kiasan yang dapat menuntut pembaca untuk melakukan interpretasi secara intelektual dan kontekstual. Walaupun penggunaan bahasa dapat menjadi penghalang bagi beberapa orang—terutama jika ada keterbatasan dalam penerjemahan atau pemahaman konteks budaya—sastra justru menawarkan kekayaan perspektif yang mengungkap nuansa mendalam tentang realitas kehidupan dan pengalaman manusia.

Jadi, apakah senirupa memiliki perspektif yang lebih luas dan universal dibanding sastra? Secara teknis, seni rupa memang cenderung memiliki keunggulan dalam hal penyampaian pesan secara instan dan non-verbal, yang memungkinkan resonansi emosional secara langsung. Namun, hal ini tidak mengurangi kekayaan sastra yang mampu menggali kompleksitas pikiran dan budaya secara mendalam. Keduanya menawarkan cara pandang yang berbeda: senirupa menyampaikan kesan secara visual dan intuitif, sementara sastra menantang pembacanya untuk aktif menginterpretasikan makna di balik kata-kata. Dalam konteks ini, “luas” dan “universal” bukanlah kategori yang mutlak, melainkan bergantung pada bagaimana masing-masing individu berinteraksi dengan medium seni dan pengalaman pribadi yang mereka bawa . Dan yang juga menarik, manakala terjadi ‘senyawa’ kedua bidang seni ini. Penggabungan bahasa verbal dan bahasa visual.

Pertanyaan-pertanyaanku yang belum terjawab, biarlah terus berkembang di dalam tempurung kepala ku. Agar aku juga kian paham tentang ‘perbedaan’ yang bisa jadi mengandung ‘persamaan’ dalam hal-hal yang hingga saat ini belum terpikirkan. Karena seni, sebagai kekayaan produk budaya dalam masyarakat  adalah sesuatu yang unik dan dinamis. Sebab, setiap masyarakat memiliki nilai, simbol, dan perspektif estetika yang unik dan variatif. Sebagai produk budaya, seni juga mengalami dinamika adaptasi di tengah perkembangan zaman. Banyak seniman modern yang menggabungkan elemen tradisional dan kontemporer sehingga identitas suatu budaya tetap hidup meskipun dihadapkan pada arus globalisasi. Adaptasi ini memastikan bahwa nilai-nilai budaya yang termanifestasi dalam seni tetap relevan dan bisa dinikmati oleh masyarakat luas, baik secara lokal maupun global.

(Pemisahan antara persepsi visual dan pemikiran logis adalah kesalahpahaman. Melihat, bukan sekadar menerima informasi, tetapi juga memahami dan memberi makna pada apa yang kita lihat. “Visual Thinking” oleh Rudolf Arnheim)

  • Sejumlah referensi dan foto-foto diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Salvador DalisastraSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selain Perut Kembung, Telat Makan Bisa Menyebabkan Obesitas — Lho, Kok?

Next Post

Dimas dan Gendys, Kekompakan yang Sempurna Menghasilkan Medali Emas Cabor Dance Sport pada Porprov Bali 2025

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails
Next Post
Dimas dan Gendys, Kekompakan yang Sempurna Menghasilkan Medali Emas Cabor Dance Sport pada Porprov Bali 2025

Dimas dan Gendys, Kekompakan yang Sempurna Menghasilkan Medali Emas Cabor Dance Sport pada Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co