23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni Sastra dan Seni Rupa

Hartanto by Hartanto
September 16, 2025
in Ulas Rupa
Seni Sastra dan Seni Rupa

Don Quixote karya Salvador Dali

SESUNGGUHNYA sangatlah menarik diskusi yang diinisiasi oleh perupa Made Kaek bekerja sama dengan Sawidji Gallerey & Studio pada 1 Juni 2025 lalu. Diskusi berlangsung sore hari di Sawidji Studio. ‘Senyawa’ antara sastra dan senirupa sebenarnya sudah berlangsung lama dan bukan hal baru. Kendatipun demikian, perbincangan semacam ini tetap menarik bagi saya.

Salvador Dalí pernah membuat karya rupa (saya selalu keberatan menyebut ilustrasi) untuk karya sastra. Ketika itu, Dalí berkarya atas dasar karya sastra “Alice’s Adventures in Wonderland” karya Lewis Carroll. Dalam prosesnya, ia menginterpretasikan kisah tersebut melalui lensa surealis yang khas—misalnya, dengan memadukan elemen-elemen aneh dan bentuk-bentuk abstrak yang mengubah cara kita memandang realitas. Pendekatan Dalí dalam menggabungkan unsur sastra dengan ekspresi visual ini menunjukkan betapa lintas batas antara sastra dan seni lukis dapat menghasilkan interpretasi yang baru dan memukau.

Menurut ‘pembacaan’ saya, manakala Dali berkarya rupa untuk “Alice’s Adventures in Wonderland”, tampak Dalí mengeksplorasi berbagai medium seni yang mengandung unsur naratif, sehingga karyanya tidak semata-mata terbatas pada konsep lukisan tradisional, tetapi juga melintasi batasan-batasan disiplin seni. Keterlibatannya dalam proyek-proyek lintas disiplin ini mengilhami banyak seniman dan pengamat seni untuk mengeksplorasi kembali hubungan antara teks dan visual secara mendalam.

Contoh lain karya Dali dalam merespon karya sastra klasik lainnya, yang cukup terkenal adalah  karya rupanya yang merespon “Divine Comedy”  karya Dante Alighieri. Dalí awalnya diminta oleh pemerintah Italia untuk membuat karya rupa dalam rangka peringatan 700 tahun kelahiran Dante, tetapi proyek ini akhirnya tidak digunakan secara resmi. Meskipun begitu, karya yang ia buat tetap menjadi bagian penting dari interpretasi visual terhadap karya sastra klasik.

Dalí juga mengerjakan karya rupa untuk “Don Quixote”karya Miguel de Cervantes, di mana ia menggunakan teknik yang lebih eksperimental dan ekspresif untuk menangkap semangat petualangan dan absurditas dalam kisah tersebut. Pendekatan Dalí terhadap karya sastra, selalu mencerminkan gaya surealisnya yang khas, dengan simbolisme yang kaya dan interpretasi yang sering kali menggugah imajinasi.

Tidak  hanya Dali, Pablo Picasso juga terinspirasi membuat karya rupa sketsa  Don Quixote pada tahun 1955. Karya Pablo Picasso ini tentang pahlawan sastra Spanyol dan sahabat karibnya, Sancho Panza. Sketsa ini ditampilkan pada jurnal mingguan Prancis Les Lettres Francaises edisi 18-24 Agustus untuk merayakan ulang tahun ke-350 bagian pertama Don Quixote karya Cervantes. Bagian pertama ditulis tahun 1605 yang kedua ditulis tahun 1615.

Mengutip dari https://www.pablopicasso.org/, Lukisan tersebut menggambarkan Don Quixote de la Mancha, kudanya Rocinante, pengawalnya Sancho Panza, dan keledainya Dapple, matahari, dan beberapa kincir angin. Garis-garis tebal, hampir seperti coretan, yang menyusun figur-figur tersebut tampak mencolok dengan latar belakang putih polos. Sosok-sosok tersebut hampir singkat dan cacat, serta dramatis.

Sancho Panza menatap Don Quixote yang tinggi, memanjang, dan kurus kering. Terlihat, ia sedang menatap ke depan. Don Quixote dan Rocinante berdiri dengan gagah, tetapi tampak agak lelah. Sosok yang dilukis dengan sapuan kuas tebal itu tampaknya telah diubah beberapa kali karena Picasso melukis badan, lengan, dan bahu Don Quixote, dengan apik.

Selain berkarya untuk karya sastra Don Quixote, Picasso juga berkarya seri sketsa berdasarkan mitos “metamorphosis” karya Ovid. Dunia mitologi Yunani-Romawi tampaknya memukau Picasso. “Metamorfosis” adalah puisi dalam bahasa Latin, yang terdiri dari 15 buku. Ini, merupakan cerita dari mitologi Yunani dan Romawi, yang ditulis dalam bentuk syair. Ovid menggambarkan secara khusus cinta para dewa.

Picasso membuat karya rupa ini pada tahun 1930, setelah diminta oleh penerbit Swiss Albert Skira. Dalam satu bulan, ia menghasilkan tiga puluh ‘cukilan’, yang dicetak oleh Louis Fort. Tema Metamorfosis sejajar dengan kehidupan Picasso, sosok wanita itu pasti terinspirasi oleh kehidupan pendamping dan inspirasinya saat itu: Marie-Thérèse Walter. Kekhasan cetakan ini terletak pada kesederhanaannya. Dalam beberapa goresan, Picasso menelusuri jalinan tubuh dan garis yang membangkitkan kembali seni menggambar yang lebih klasik, yang sudah dapat diamati sejak tahun 1920-an.

Begitulah hubungan sastra dan senirupa yang memang sudah terjalin sejak lama. Keduanya, sama-sama media komunikasi – verbal dan visual. Di Bali sendiri, sudah sering karya sastra ‘bersenyawa’ dengan karya rupa. Misalnya, ‘senyawa’ antara karya rupa pelukis Made Gunawan dan puisi-puisi penyair Sahadewa pada buku “Gajah Mina”. Prof. Darma Putra menyebut Alih Kreasi Puisi, Lukisan, dan Sketsa ini dengan ‘Pasatmian”.

Semantara itu, perupa I Wayan Sujana ‘Suklu’ juga pernah berkolaborasi dengan penulis Ni Made Sri Andani. Buku Karya alih media itu bertajuk “Sang Inisiator”. Selain itu, Perupa Suklu dan penyair Anak Agung Sagung Masruscitadewi juga melakukan ‘senyawa karya’ pada buku berjudul “Nawa Sena”. Suklu menamai kolaborasi itu sebagai ‘intermingle’, sedangkan Gung Mas panggilan akrab AA Sg Masruscitadewi – memberi istilah ‘Lango’. Yang terakhir, penyair Tan Lioe Ie mengistilahkan dengan “eksphrasis”, pada karya-karya puisinya yang terstimulasi dari karya senirupa dan karya seni yang lain. Dan masih banyak lagi kolaborasi alih wahana karya rupa dan Sastra dengan berbagai bidang seni.

Dalam sebuah kesempatan, saya sempat mempertanyakan mengapa senirupa tak dimasukkan dalam perhargaan seni semacam Nobel atau Pulitzer pada almarhum penyair Frans Nadjira. Kendati kualitas penghargaan juga terbilang relative, namun Nobel dan Pulitzer terbilang cukup popular dan prestisius. Ketika itu, saya sempat mempertanyakan bahwa sesungguhnyalah karya senirupa tak jauh berbeda dengan seni sastra. Keduanya sama-sama medium ekspresi dari produk pemikiran senimannya.

Kita bisa mengambil contoh karya visual, lukisan  Picasso, yang bertajuk Guernica. Menurut saya, karya ini memenuhi kriteria Nobel yang antara lain ; menumbuhkan kesadaran masyarakat melalui pengetahuan, sains, dan humanism. Karya ini memuat konten yang cukup genial dari Picasso. Dunia, memahami dan mengakui ‘kelebihan’ dari karya rupa ini.

Guernica dianggap sebagai pernyataan antiperang paling kuat dalam seni modern.  Tokoh-tokoh utama – seorang wanita dengan lengan terentang, seekor banteng, seekor kuda yang menderita – disempurnakan dalam sketsa demi sketsa. Kemudian dipindahkan ke kanvas yang luas, yang juga dikerjakan ulang beberapa kali. Warna gelap dan tema monokrom digunakan untuk menggambarkan masa-masa sulit, dan penderitaan yang sedang dialami. Picasso mengungkapnya sebagai tindakan brutal dan penghancuran diri dan mengecamnya sebagai tindakan fasisme. Karya tersebut tidak hanya berupa laporan atau lukisan praktis, tetapi juga tetap menjadi gambaran politik yang sangat kuat dalam seni modern saat itu. Sejak awal, Picasso memilih untuk tidak menggambarkan kengerian Guernica dalam istilah realis atau romantis.

Sayang, penghargaan Nobel hanya ada lima kategori: Fisika, Kimia, Fisiologi atau Kedokteran, Sastra, dan Perdamaian. Ada pula penghargaan Economic Sciences, yang didirikan pada tahun 1968 oleh bank sentral Swedia. Kriteria penting dari Penghargaan Nobel adalah, pemenang harus memiliki pencapaian luar biasa yang memberikan manfaat besar bagi umat manusia, seperti penelitian inovatif, penemuan teknologi baru, atau kontribusi sosial yang berdampak luas.

Masih menurut penilaian subyektif saya, Guernika memenuhi kriteria ini. Kemudian, bagi karya sastra – karya juga  harus memiliki dampak besar dalam dunia sastra dan memberikan wawasan baru tentang kehidupan, kemanusiaan, atau budaya. Oleh karenanya, banyak pemenang Nobel Sastra adalah penulis yang mengangkat isu sosial, politik, atau kemanusiaan dalam karya mereka. Pada kesempatan lain, saya ingin menggali lebih dalam hubungan antara Guernica, Spanyol dan Hindia Belanda (Pra Indonesia).

Memang, ada banyak penghargaan seni rupa terkenal di dunia yang memberikan apresiasi kepada seniman visual atas kontribusi mereka. Namun, menurut subyekjtif penilaian saya, popularitasnya tak sebanding dengan Nobel dan Pulitzer. Misalnya penghargaan Turner Prize – Penghargaan seni kontemporer yang diberikan setiap tahun oleh Tate Britain di Inggris, khusus untuk seniman asal Britania Raya. Selain itu ada juga Praemium Imperiale – Penghargaan internasional yang diberikan oleh Japan Art Association untuk berbagai disiplin seni, termasuk seni rupa.

Yang cukup popular dan prestisius adlah Venice Biennale Golden Lion – Penghargaan utama dalam Venice Biennale yang merupakan salah satu pameran seni kontemporer paling bergengsi di dunia. Ada juga Hugo Boss Prize – yang diberikan oleh Guggenheim Museum kepada seniman kontemporer yang menunjukkan inovasi luar biasa dalam seni visual, dan masih ada beberapa penghargaan seni visual lainnya.

Penghargaan-penghargaan internasional untuk karya seni rupa ini juga menjadi topik dialog saya dengan Bang Frans Nadjira. Namun, Perbincangan saya dan bang Frans Nadjira waktu itu, terputus, karena wartawan senior almarhum Mahar Effendi datang bersama putranya. Bang Mahar bersiap therapy pada bang Frans, itu dilakukannya setiap hari. Rasa penasaran saya tersebut mengendap puluhan tahun, dan teman-teman yang saya ajak mendiskusikan hal ini, punya penilaian yang berbeda-beda. Tak ada kesimpulan pasti yang kudapati. Sampai pada acara diskusi 1 Juni 2025 lalu, penjelasan Prof. Darma Putra juga tak bisa saya ‘cerna’ dengan baik. Persoalannya sederhana, saya sedikit mengalami ‘gangguan’ pendengaran. Sehingga saya gagal menangkap ‘esensi’ pembicaraan (mohon maaf sebesar-besarnya Prof.). Saya tidak tahu, apakah tindakan anestesi selama 8 jam, membuat pendengaran saya terganggu, atau saya yang kurang rajin membersihkan telinga, entahlah.

Menurut saya, analisis unsur-unsur bahasa visual dalam seni rupa bisa membuka banyak pemahaman tentang bagaimana karya seni “berbicara” tanpa kata. Sebab, seni visual juga memiliki sarana ‘daya ungkap’, yang sering saya sebut sebagai ‘kosa rupa’, ini bisa kita padankan dengan ‘kosa kata’. .Ada beberapa unsur utama yang biasanya dianalisis: bisa kita mulai dari Garis. Unsur ini Menciptakan bentuk, arah, dan gerak. Garis bisa tegas, lembut, putus-putus, melingkar, dan masing-masing memberikan nuansa berbeda.

Selanjutnya,Warna – yang berfungsi menyampaikan emosi, kontras, harmoni, atau fokus visual. Kombinasi warna juga bisa menciptakan makna simbolik tergantung konteks budaya. Kemudian, Bentuk dan bidang – dua dimensi atau tiga dimensi, abstrak atau realistik; bentuk menentukan struktur utama karya seni. Unsur yang lain adalah Tekstur – bisa nyata (fisik) atau semu (ilusi visual). Tekstur memberikan sensasi sentuhan secara visual. Tak jauh berbeda dengan penciptaan Ruang – Ilusi kedalaman dan perspektif.

Ruang bisa padat, sempit, terbuka, atau berlapis-lapis. Lalu Gelap-terang (value) –  Kontras antara terang dan gelap acap dilakukan perupa untuk menciptakan dramatisasi, kedalaman, atau penekanan visual. Yang tak kalah pentingnya adalah Komposisi atau tata letak– Ini adalah bagaimana semua unsur diatur dalam karya, termasuk keseimbangan, irama, penekanan, dan harmoni. Seperti sudah saya sebut di atas tadi, bahasa visual ini lah acap saya sebut sebagai ‘kosa rupa’. Ini bisa diartikan sebagai ‘kosakata’ dalam seni rupa, – yang digunakan seniman untuk menyampaikan ide, emosi, dan pesan tanpa perlu kata-kata (bahasa verbal).

Atas dasar inilah, hingga kini saya tetap mempertanyakan soal penghargaan terhadap karya seni rupa. Sebab, menurut pemahaman saya – senirupa maupun seni sastra memiliki cara penyampaian pesan yang berbeda, dan perbedaan itu membuat keduanya memiliki kekuatan unik masing-masing. Keduanya, sama-sama wahana ekspresi atau bisa disebut sebagai produk intelektualitas senimannya.

Senirupa mengkomunikasikan ide atau gagasan, pesan, imajinasi dan emosi melalui elemen visual seperti warna, bentuk, dan tekstur seperti yang sudah saya sebut diatas. Karena pendekatannya yang tidak bergantung pada bahasa, karya seni rupa seringkali dapat langsung dirasakan dan diresapi oleh orang dari berbagai latar belakang budaya. Misalnya, bentuk dan warna dalam sebuah lukisan bisa membangkitkan reaksi emosional yang hampir instingtif, tanpa perlu diterjemahkan melalui kata-kata. Hal ini membuat perspektif yang disajikan oleh senirupa sering dianggap lebih “universal” atau mudah diakses secara lintas budaya . Mengutip dari buku “Visual Thinking” karya Rudolf Arnheim ia mengatakan ; “Sangat penting, individu mengeksplorasi bagaimana memahami dan memproses informasi visual dalam seni dan desain”.

Di sisi lain, sastra menyalurkan pengalaman manusia melalui bahasa, narasi, dan struktur cerita yang kompleks. Karya sastra memiliki kekuatan untuk menyelami lapisan-lapisan makna yang mendalam, menggunakan simbolisme dan kiasan yang dapat menuntut pembaca untuk melakukan interpretasi secara intelektual dan kontekstual. Walaupun penggunaan bahasa dapat menjadi penghalang bagi beberapa orang—terutama jika ada keterbatasan dalam penerjemahan atau pemahaman konteks budaya—sastra justru menawarkan kekayaan perspektif yang mengungkap nuansa mendalam tentang realitas kehidupan dan pengalaman manusia.

Jadi, apakah senirupa memiliki perspektif yang lebih luas dan universal dibanding sastra? Secara teknis, seni rupa memang cenderung memiliki keunggulan dalam hal penyampaian pesan secara instan dan non-verbal, yang memungkinkan resonansi emosional secara langsung. Namun, hal ini tidak mengurangi kekayaan sastra yang mampu menggali kompleksitas pikiran dan budaya secara mendalam. Keduanya menawarkan cara pandang yang berbeda: senirupa menyampaikan kesan secara visual dan intuitif, sementara sastra menantang pembacanya untuk aktif menginterpretasikan makna di balik kata-kata. Dalam konteks ini, “luas” dan “universal” bukanlah kategori yang mutlak, melainkan bergantung pada bagaimana masing-masing individu berinteraksi dengan medium seni dan pengalaman pribadi yang mereka bawa . Dan yang juga menarik, manakala terjadi ‘senyawa’ kedua bidang seni ini. Penggabungan bahasa verbal dan bahasa visual.

Pertanyaan-pertanyaanku yang belum terjawab, biarlah terus berkembang di dalam tempurung kepala ku. Agar aku juga kian paham tentang ‘perbedaan’ yang bisa jadi mengandung ‘persamaan’ dalam hal-hal yang hingga saat ini belum terpikirkan. Karena seni, sebagai kekayaan produk budaya dalam masyarakat  adalah sesuatu yang unik dan dinamis. Sebab, setiap masyarakat memiliki nilai, simbol, dan perspektif estetika yang unik dan variatif. Sebagai produk budaya, seni juga mengalami dinamika adaptasi di tengah perkembangan zaman. Banyak seniman modern yang menggabungkan elemen tradisional dan kontemporer sehingga identitas suatu budaya tetap hidup meskipun dihadapkan pada arus globalisasi. Adaptasi ini memastikan bahwa nilai-nilai budaya yang termanifestasi dalam seni tetap relevan dan bisa dinikmati oleh masyarakat luas, baik secara lokal maupun global.

(Pemisahan antara persepsi visual dan pemikiran logis adalah kesalahpahaman. Melihat, bukan sekadar menerima informasi, tetapi juga memahami dan memberi makna pada apa yang kita lihat. “Visual Thinking” oleh Rudolf Arnheim)

  • Sejumlah referensi dan foto-foto diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Salvador DalisastraSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selain Perut Kembung, Telat Makan Bisa Menyebabkan Obesitas — Lho, Kok?

Next Post

Dimas dan Gendys, Kekompakan yang Sempurna Menghasilkan Medali Emas Cabor Dance Sport pada Porprov Bali 2025

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Dimas dan Gendys, Kekompakan yang Sempurna Menghasilkan Medali Emas Cabor Dance Sport pada Porprov Bali 2025

Dimas dan Gendys, Kekompakan yang Sempurna Menghasilkan Medali Emas Cabor Dance Sport pada Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co