6 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prasasti Sira Arya Gajah Para: Membaca dan Menyambung Narasi dari Para Leluhur

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
September 7, 2025
in Khas
Prasasti Sira Arya Gajah Para: Membaca dan Menyambung Narasi dari Para Leluhur

Pembacaan prasasti | Foto: penulis

SEHARI sebelum Saraswati, Jumat 5 September 2025, masyarakat pengempon Merajan Sira Àrya Gajah Para di Desa Tagtag Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, melaksanakan pembacaan prasasti. Prasasti tersebut ditulis pada daun lontar dengan ukuran panjang kurang lebih 45cm jumlah baris dalam satu lembar adalah tiga baris serta berjumlah 45 lembar.

Prasasti tersebut menjelaskan mengenai perjalanan leluhur mereka yang semulanya berasal dari Arya Gajah Para. Namun sayang, angka tahun termasuk nama si penulis tidak tertulis pada prasasti itu. Sebagai naskah yang sangat disucikan, prasasti ini disimpan pada sebuah kotak berukir dengan cat emas, disebut dengan keropak. Dalam satu keropak terdapat lontar lainnya, seperti mengenai wariga dan usada.

Pembacaan saat itu dilakukan oleh I Wayan Eka Septiawan dan saya sendiri. Serta penerjemahan (ngartos) dilakukan oleh I Made Arik Wiraputra. Serta disaksikan oleh Panglingsir Puri Kukuh I Gusti Ngurah Artha Wijaya.

Sebelum pembacaan dimulai, prosesi diawali dengan matur piuning oleh jero mangku dan diikuti oleh seluruh krama pangempon.Selanjutnya prasasti tersebut katedunang (diturunkan) dari bale piyasan dan dilanjutkan dengan identifikasi naskah.

 Identifikasi naskah bertujuan untuk memastikan kondisi naskah. Biasanya naskah seperti babad, prasasti dan sejenisnya memiliki kondisi yang memprihatinkan. Sebab ia disimpan dan tak pernah disentuh dalam waktu yg cukup panjang. Sehingga, terlebih pada prasasti yg ditulis pada daun lontar akan lebih cepat mengalami kerusakan.

Setelah diidentifikasi, prosesi dilanjutkan dengan matur piuing oleh sang pembaca. Tujuannya agar mendapatkan kelancaran dan keselamatan saat melaksanakan pembacaan.

Struktur teks jika saya simak, dimulai dengan mantra pemujaan kepada para leluhur dalam bahasa Sanskerta. Sehingga cara membacanya dengan menggunakan nada (tembang) nyruti. Hal ini cukup lumrah dalam beberapa prasasti dan naskah sejenisnya. Setelah memanjatkan puja dalam bahasa Sanskerta, puja dilanjutkan dalam bahasa Kawi. Karena bahasa yang digunakan sudah berbeda, maka nada pembacaan menggunakan teknik phalawakya.

Dokumentasi pembacaan prasasti. Foto: Penulis

Kemudian, teks menceritakan Raja Mayadanawa, kelahiran Ràja Sri Masula-Masuli (raja kembar buncing), kelahiran Ni Diah Soka putra dari Sang Antabhoga, hingga kisah maharaja Bedahulu yang berkepala babi. Arikwiraputra menjelaskan, Raja Bedahulu memiliki kepala yang berbeda, karena saat itu pemerintahan Bali tidak berkenan tunduk terhadap Majapahit sebagai pemerintahan tertinggi saat itu. Sehingga kata bedahulu berarti berkepala berbeda dan dapat dimaknai ketidaktundukan terhadap atasan/pusat pemerintahan.

Di tengah pembacaan, Arik Wiraputra dan Eka Septiawan menjelaskan bahwa cerita yang diceritakan merupakan kisah umum mengenai masa terkahir Bali Kuno dan masuknya Majapahit ke Bali. Ia menjelaskan jika pembacaan terus dilanjutkan lempir demi lempir maka akan menghabiskan waktu yang cukup lama. Sementara itu, tujuan pembacaan prasasti adalah untuk memastikan kisah leluhur semeton Arya Gajah Para dapat sampai di Tagtag.

Maka atas persetujuan para tetua, pembacaan dilanjutkan pada tahap yang lebih penting, termasuk cerita yang menjelaskan mengenai leluhur Arya Gajah Para. Dijelaskan bahwa leluhur mereka berasal dari daerah Gelgel, kemudian menuju Penebel dan dilanjutkan menuju Desa Tagtag. Di Desa Tagtag inilah lahir leluhur mereka yang  berjumlah sembilan orang. Serta melahirkan sentana (keturunan) hingga saat ini.

Prasasti ditulis menggunakan aksara Bali wreastra dan swalalita. Penulisan menggunakan model pasang jajar sambung dan pasang jajar tumpuk. Penulisan dengan pasang jajar tumpuk cukup sering dijumpai pada naskah yang berusia cukup tua. Contoh penulisan dengan pasang jajar tumpuk adalah pada kata pnebel, jruk, krangasem. Kata-kata tersebut jika ditulis menggunakan model pasang jajar sambung menjadi penebel, jeruk, karangasem. Terdapat perbedaan, tapi tetap dapat dipahami referen yang diacu.

Pembacaan disimak dengan baik oleh krama pengempon. Hal seperti ini dilakukan agar setiap generasi memahami asal mereka sebenarnya. Sehingga keterjalinan pemahamam setiap generasi tetap terikat. Diakhir pembacaan, krama pengempon meminta agar naskah ini nantinya dapat dialih aksara dan alih bahasa. Tujuannya agar mereka mempunyai arsip dalam bahasa yang mudah dipahami. Sehingga ingatan dan pemahaman mereka akan tetap terjaga.

Arikwiraputra pada akhir kesempatan menjelaskan bahwa Prasasti adalah sejenis maklumat yang hanya dikeluarkan oleh raja. Prasasti biasanya ditulis pada media batu dan tembaga. Di Bali jika suatu naskah jika menjelaskan mengenai asal usul leluhur mereka maka naskah tersebut akan disebut prasasti. Padahal naskah seperti ini dapat disebut sebagai bancangah.

Bancangah dalam bahasa Bali dapat dimaknai sebagai ‘pecahan’ karena menceritakan mengenai ‘pecahan suatu leluhur’ yang menyebar ke tempat yang berbeda. Serta bancangah tersebut disusun berdasarkan naskah babad atau historiografi tradisional. [T]

Penulis: IGP Weda Adi Wangsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Arya Gajah ParaDesa Kukuhlontarprasasti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan Ikan Sapu-Sapu  |  Cerpen Rizan Panda

Next Post

Kekerasan: Tatkala Aspirasi Berujung Tragedi

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

by Jaswanto
July 6, 2026
0
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

Read moreDetails

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
0
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

Read moreDetails

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
July 2, 2026
0
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring...

Read moreDetails

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
0
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

Read moreDetails

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
0
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

Read moreDetails

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
0
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

Read moreDetails

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
0
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

Read moreDetails

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
0
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

Read moreDetails

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
0
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

Read moreDetails

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Kekerasan: Tatkala Aspirasi Berujung Tragedi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co