6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prasasti Sira Arya Gajah Para: Membaca dan Menyambung Narasi dari Para Leluhur

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
September 7, 2025
in Khas
Prasasti Sira Arya Gajah Para: Membaca dan Menyambung Narasi dari Para Leluhur

Pembacaan prasasti | Foto: penulis

SEHARI sebelum Saraswati, Jumat 5 September 2025, masyarakat pengempon Merajan Sira Àrya Gajah Para di Desa Tagtag Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, melaksanakan pembacaan prasasti. Prasasti tersebut ditulis pada daun lontar dengan ukuran panjang kurang lebih 45cm jumlah baris dalam satu lembar adalah tiga baris serta berjumlah 45 lembar.

Prasasti tersebut menjelaskan mengenai perjalanan leluhur mereka yang semulanya berasal dari Arya Gajah Para. Namun sayang, angka tahun termasuk nama si penulis tidak tertulis pada prasasti itu. Sebagai naskah yang sangat disucikan, prasasti ini disimpan pada sebuah kotak berukir dengan cat emas, disebut dengan keropak. Dalam satu keropak terdapat lontar lainnya, seperti mengenai wariga dan usada.

Pembacaan saat itu dilakukan oleh I Wayan Eka Septiawan dan saya sendiri. Serta penerjemahan (ngartos) dilakukan oleh I Made Arik Wiraputra. Serta disaksikan oleh Panglingsir Puri Kukuh I Gusti Ngurah Artha Wijaya.

Sebelum pembacaan dimulai, prosesi diawali dengan matur piuning oleh jero mangku dan diikuti oleh seluruh krama pangempon.Selanjutnya prasasti tersebut katedunang (diturunkan) dari bale piyasan dan dilanjutkan dengan identifikasi naskah.

 Identifikasi naskah bertujuan untuk memastikan kondisi naskah. Biasanya naskah seperti babad, prasasti dan sejenisnya memiliki kondisi yang memprihatinkan. Sebab ia disimpan dan tak pernah disentuh dalam waktu yg cukup panjang. Sehingga, terlebih pada prasasti yg ditulis pada daun lontar akan lebih cepat mengalami kerusakan.

Setelah diidentifikasi, prosesi dilanjutkan dengan matur piuing oleh sang pembaca. Tujuannya agar mendapatkan kelancaran dan keselamatan saat melaksanakan pembacaan.

Struktur teks jika saya simak, dimulai dengan mantra pemujaan kepada para leluhur dalam bahasa Sanskerta. Sehingga cara membacanya dengan menggunakan nada (tembang) nyruti. Hal ini cukup lumrah dalam beberapa prasasti dan naskah sejenisnya. Setelah memanjatkan puja dalam bahasa Sanskerta, puja dilanjutkan dalam bahasa Kawi. Karena bahasa yang digunakan sudah berbeda, maka nada pembacaan menggunakan teknik phalawakya.

Dokumentasi pembacaan prasasti. Foto: Penulis

Kemudian, teks menceritakan Raja Mayadanawa, kelahiran Ràja Sri Masula-Masuli (raja kembar buncing), kelahiran Ni Diah Soka putra dari Sang Antabhoga, hingga kisah maharaja Bedahulu yang berkepala babi. Arikwiraputra menjelaskan, Raja Bedahulu memiliki kepala yang berbeda, karena saat itu pemerintahan Bali tidak berkenan tunduk terhadap Majapahit sebagai pemerintahan tertinggi saat itu. Sehingga kata bedahulu berarti berkepala berbeda dan dapat dimaknai ketidaktundukan terhadap atasan/pusat pemerintahan.

Di tengah pembacaan, Arik Wiraputra dan Eka Septiawan menjelaskan bahwa cerita yang diceritakan merupakan kisah umum mengenai masa terkahir Bali Kuno dan masuknya Majapahit ke Bali. Ia menjelaskan jika pembacaan terus dilanjutkan lempir demi lempir maka akan menghabiskan waktu yang cukup lama. Sementara itu, tujuan pembacaan prasasti adalah untuk memastikan kisah leluhur semeton Arya Gajah Para dapat sampai di Tagtag.

Maka atas persetujuan para tetua, pembacaan dilanjutkan pada tahap yang lebih penting, termasuk cerita yang menjelaskan mengenai leluhur Arya Gajah Para. Dijelaskan bahwa leluhur mereka berasal dari daerah Gelgel, kemudian menuju Penebel dan dilanjutkan menuju Desa Tagtag. Di Desa Tagtag inilah lahir leluhur mereka yang  berjumlah sembilan orang. Serta melahirkan sentana (keturunan) hingga saat ini.

Prasasti ditulis menggunakan aksara Bali wreastra dan swalalita. Penulisan menggunakan model pasang jajar sambung dan pasang jajar tumpuk. Penulisan dengan pasang jajar tumpuk cukup sering dijumpai pada naskah yang berusia cukup tua. Contoh penulisan dengan pasang jajar tumpuk adalah pada kata pnebel, jruk, krangasem. Kata-kata tersebut jika ditulis menggunakan model pasang jajar sambung menjadi penebel, jeruk, karangasem. Terdapat perbedaan, tapi tetap dapat dipahami referen yang diacu.

Pembacaan disimak dengan baik oleh krama pengempon. Hal seperti ini dilakukan agar setiap generasi memahami asal mereka sebenarnya. Sehingga keterjalinan pemahamam setiap generasi tetap terikat. Diakhir pembacaan, krama pengempon meminta agar naskah ini nantinya dapat dialih aksara dan alih bahasa. Tujuannya agar mereka mempunyai arsip dalam bahasa yang mudah dipahami. Sehingga ingatan dan pemahaman mereka akan tetap terjaga.

Arikwiraputra pada akhir kesempatan menjelaskan bahwa Prasasti adalah sejenis maklumat yang hanya dikeluarkan oleh raja. Prasasti biasanya ditulis pada media batu dan tembaga. Di Bali jika suatu naskah jika menjelaskan mengenai asal usul leluhur mereka maka naskah tersebut akan disebut prasasti. Padahal naskah seperti ini dapat disebut sebagai bancangah.

Bancangah dalam bahasa Bali dapat dimaknai sebagai ‘pecahan’ karena menceritakan mengenai ‘pecahan suatu leluhur’ yang menyebar ke tempat yang berbeda. Serta bancangah tersebut disusun berdasarkan naskah babad atau historiografi tradisional. [T]

Penulis: IGP Weda Adi Wangsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Arya Gajah ParaDesa Kukuhlontarprasasti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan Ikan Sapu-Sapu  |  Cerpen Rizan Panda

Next Post

Kekerasan: Tatkala Aspirasi Berujung Tragedi

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Kekerasan: Tatkala Aspirasi Berujung Tragedi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co