21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hujan Ikan Sapu-Sapu  |  Cerpen Rizan Panda

Rizan Panda by Rizan Panda
September 7, 2025
in Cerpen
Hujan Ikan Sapu-Sapu  |  Cerpen Rizan Panda

Ilustrasi tatkala.co

SUNGAI yang dahulu tenang dengan air mengalir jernih, kini hitam dan bau tengik. Tidak ada lagi suara riang anak-anak yang mandi sore di sana, begitu juga dengan ibu-ibu mereka yang mencuci pakaian. Air itu pekat, bahkan ikan sapu-sapu yang terkenal bisa hidup di air terjorok sekalipun, mengapung mati di pinggiran hilir.

Sudah lebih dari seminggu aroma tidak sedap itu terendus. Aroma yang berasal dari sungai itu menyeruak, mendobrak lubang hidung siapa pun yang tinggal dekat sana. Semula, warga desa tak acuh dengan kondisi sungai, karena mereka lebih fokus pada keseharian mereka yang sudah tidak berpusat pada sungai.

Dahulu, seluruh warga desa turun ke sungai untuk mengambil air, menjala, atau hanya sekadar mandi-mandi dan mencuci. Aliran airnya yang tidak begitu deras dan penuh dengan bebatuan besar menjadikan sungai itu urat nadi desa. Seiring berkembangnya zaman, pabrik-pabrik segala jenis mulai berdiri di sekitaran sungai.

Dengan sewenang-wenang, satu demi satu dari pabrik itu membuang limbah hasil produksi ke sungai. Saat pabrik masih bisa dihitung jari, sungai masih tidak apa-apa. Masih banyak warga desa yang turun ke sungai, meski air sungai kala itu sudah mulai keruh. Anak-anak juga masih dengan marak turun, berlomba menangkapi ikan yang tinggal di sana.

Nahas bagi sungai dan warga desa, pabrik-pabrik itu kian menjamur. Jumlahnya kini tidak dapat lagi dihitung dengan jemari tangan. Hampir seluruh pabrik menggelontorkan limbah mereka ke sungai.

“Makin banyak pabrik di desa kita, berarti, desa kita semakin maju!” Pak Kades berpidato dengan lantang.

Matahari dengan semangat membagikan sinar UV pada barisan orang yang apel pagi itu. Kantor kepala desa yang letaknya tidak jauh dari sungai menyebabkan apel pagi itu begitu menyiksa. Pak Kades sendiri tidak luput dari siksaan itu. Dengan sigap, ia merogoh kantung kemeja batik birunya, mengambil masker yang sudah ia sediakan.

“Bau cuma segini, sih, tidak ada apa-apa dibanding dengan keuntungan yang dibawa pabrik-pabrik. Sudah berapa pemuda desa kita yang kini masuk pabrik?”

Pak Kades menatap pada peserta apel. Riuh rendah suara peserta apel pagi berdengung.

“Tetangga saya sudah lima orang, Pak! Semuanya di pabrik plastik yang baru buka!” ujar seseorang dari barisan.

“Anak saya juga! Jadi satpam di sana!”

“Kalo anaknya tetangga saya, keterima di pabrik obat nyamuk depan perumahan elit, yang di sana itu, lho!”

“Wah, kalau anak tetanggaku…”

Suara-suara itu semakin banyak, dengan bangga menyebut pencapaian tetangga-tetangganya atau anaknya sendiri. Pak Kades mendeham keras pada mikrofon, mengakibatkan peserta apel dengan serentak hening. Ia kemudian tertawa lantang.

“Lihat, saudara-saudara. Betapa banyak manfaatnya bagi desa kita. Bau hanya sedikit begini, sih, gampang. Pakai saja masker, selesai! Baunya tidak begitu tercium lagi, kan?”

Peserta apel pagi itu menggumam setuju dan manggut-manggut. Sebagian mulai mengenakan masker.

“Nah, kalau begitu, mari kita teruskan pembangunan desa ini dengan memperbanyak pabrik-pabrik yang maju. Semakin banyak pabrik, semakin banyak juga warga desa kita yang bisa bekerja. Kalian semua mau, kan, jadi wong sugih?”

Pak Kades kembali menatap pada peserta apel. Serempak mereka menjawab setuju dengan pertanyaan Pak Kades. Peserta apel kemudian bertepuk riuh, seraya Pak Kades turun dari podium dan kembali ke ruangannya. Apel bubar.

***

”Pak, ini surat dari pabrik plastik yang baru buka. Katanya minta Bapak datang untuk tanda tangan beberapa berkas penting!” Romlah—sekretaris desa—menyodorkan sepucuk amplop pada Pak Kades. Amplop itu tampak tebal. Pak Kades menerimanya dengan sumringah, kemudian menyuruh Romlah untuk meninggalkannya sendirian. Romlah menurut, dan segera meninggalkan Pak Kades di ruangannya.

Pak Kades duduk sambil membuka kancing celananya. Gespernya yang sedari tadi menahan buncitnya, dibiarkan menjuntai ke lantai, menyebabkan perut tambun itu tampil semaunya. Sesekali ia menggaruk perutnya yang masih terbalut kutang putih berbahan tipis. Maskernya ia lepas, lengannya meraih remot pendingin ruangan dan menyetel suhu terendah.

Tak lupa ia juga meraih pengharum ruangan dan menyemprotkannya dengan bebas ke seluruh ruangan. Amplop yang baru saja diserahkan Romlah ia pegang-pegang, diputar-putar, kemudian disobek bagian ujungnya.

Beberapa gepokan biru dan sepucuk surat lahir dari amplop itu. Dengan lihai, gepokan-gepokan biru disembunyikan Pak Kades ke laci mejanya. Ia tersenyum puas. Surat yang terdapat di dalam amplop itu tidak dibaca, melainkan diselipkan semaunya di dalam sebuah fail binder kuning bertuliskan ‘berkas penting’.

Pak Kades meregangkan badannya di atas kursi. Ia menguap lebar sembari menatap jam dinding. Belum jam makan siang, tetapi, pekerjaan sudah selesai semua, batinnya. Kini ia beranjak pada sofa yang biasa dipakai untuk menerima tamu-tamu penting, dan menyalakan televisi yang tertata di dekat sofa.

Sebuah kanal televisi menampilkan berita. Pembawa acara berita menyampaikan ribuan ikan sapu-sapu ditemukan tewas mengambang di sebuah sungai di Kabupaten Bogor. Dugaan penyebabnya adalah limbah dari pabrik yang dibuang ke sungai tanpa melalui proses pengolahan limbah yang sesuai. Tak hanya itu, pembawa acara berita juga menyiarkan liputan langsung dari lokasi kejadian terkait dengan demo warga di sebuah desa di lokasi yang sama dengan kejadian tewasnya ribuan sapu-sapu.

Tampak puluhan orang di televisi bersorak menyampaikan keinginan mereka untuk kembali menghirup udara yang layak—udara yang tidak tercemar bau limbah. Orang-orang di televisi itu juga menyampaikan protes mereka menggunakan poster-poster sederhana dari kardus dan kertas.

Pak Kades mencebik.

“Dasar orang-orang udik! Tidak tahu manfaat besar!” Pak Kades mematikan televisi. Bayangan tambun dirinya terpampang jelas di layar kaca yang hitam.

Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk. Buru-buru Pak Kades mengenakan celananya dengan rapi.

Ternyata Romlah. Di belakangnya ada dua orang berwajah kuning langsat dengan mata yang kecil. Keduanya tampak necis, mengenakan setelan jas lengkap, padahal cuaca sedang sangat terik.

“Kenapa, Rom?” ujar Pak Kades.

“Anu, ini lho, pak. Yang tadi kasih surat buat Bapak,” suara Romlah mengecil, berharap tidak didengar oleh siapapun kecuali Pak Kades.

Dengan semangat yang tiba-tiba muncul, Pak Kades menyambut mereka ramah. Mempersilakan untuk segera masuk dan duduk di sofa. Ketiganya segera masuk. Pak Kades ikut duduk di antara mereka. Romlah menyampaikan niat dua orang berjas necis itu pada Pak Kades. Pak Kades kaget bukan main, karena Romlah menyampaikan sesuatu yang berada di luar dugaannya.

Romlah mengatakan bahwa pabrik plastik milik dua orang berjas itu akan terus membuang limbah ke sungai, tentunya dengan izin dari Pak Kades. Mereka juga menyanggupi untuk terus mengirimkan amplop berisi gepokan biru dan merah kepada Pak Kades secara berkala. Namun, yang mencengangkan adalah ketika Romlah menyampaikan bahwa pabrik tersebut akan melakukan PHK besar-besaran, terutama pada karyawan baru yang berasal dari desa itu. Seluruh karyawan yang di-PHK akan digantikan dengan tenaga kerja asing dari negara asal pabrik.

Terngiang ucapan Pak Kades sendiri yang ia sampaikan ketika apel pagi tadi. Keringat dingin meremang di tengkuknya.

“Tentunya Bapak sudah membaca surat yang tadi saya berikan, ya kan, Pak?” sahut Romlah.

Pak Kades hanya tersenyum getir, kemudian mengangguk. Dua orang berjas itu tersenyum lebar, kemudian bangkit dan menjabat tangan Pak Kades bergantian. Mereka kemudian pamit, meninggalkan Pak Kades yang masih ternganga di sofa. Segera Pak Kades membuka fail binder kuningnya. Sepucuk surat yang baru diselipkan seenaknya itu ia baca. Isinya persis dengan apa yang disampaikan Romlah.

***

Keesokan harinya, Pak Kades tidak masuk kerja. Kepalanya pening, bak dijambak tiada henti. Pagi itu kantor kepala desa dipenuhi dengan warga desa yang kena PHK. Sebagian besar dari mereka marah, mencaci dan memaki Pak Kades yang telah setuju untuk pembangunan pabrik-pabrik di desa itu. Sebagian lagi menangis, karena sudah tidak memiliki pekerjaan apa pun. Massa di kantor kepala desa itu semakin menjalar. Suara mereka semakin menggelegar. Tak sedikit dari mereka yang mulai nekat merusak bangunan kantor.

Batu-batu dilempari ke arah jendela-jendela kaca, berharap Pak Kades keluar dan memberikan penjelasan. Hingga azan zuhur berkumandang, Pak Kades tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.

Warga desa yang resah itu mulai lelah. Beberapa sudah mencoba ikhlas dan kembali ke rumah. Namun, beberapa yang masih terbakar kesal, menyuarakan untuk ramai-ramai turun ke sungai dan memungut bangkai sapu-sapu.

“Untuk apa? Bangkai itu sudah tercemar! Sudah tidak bisa juga kita olah menjadi siomay,”

“Bukan untuk siomay, goblok! Untuk Pak Kades! Kita kasih hadiah langsung ke rumahnya!”

Warga desa berseru riuh, setuju. Ramai-ramai mereka turun ke sungai. Dengan barang bawaan seadanya, mereka mengumpulkan bangkai ikan sapu-sapu pada kantung-kantung plastik. Beberapa orang juga menyerok air sungai yang hitam dan bau itu ke dalam botol plastik bekas mineral. Mereka kemudian berbondong-bondong menghampiri rumah Pak Kades.

Pak Kades yang tengah bersantai itu dikejutkan dengan suara benturan di kaca teras rumahnya. Suara benturan itu diikuti dengan riuh warga yang mengepung halaman rumah Pak Kades. Istri Pak Kades panik, menghampiri suaminya yang tengah terbaring di sofa.

“Pah! Aduuuuuuh! Teras kita! Teras kita dihujani sapu-sapu! Aduh, Pah, gimana doooong? Rumah kita jadi bau banget!”

Pak Kades bangkit dan mengintip dari jendela. Puluhan sapu-sapu berjatuhan, menghujani teras rumahnya yang kini menghitam akibat sisa air yang juga ikut tercampak. [T]

Penulis: Rizan Panda
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi S. Kamar | Penyair Muda, Lagu Kanak-Kanak: Menanam Jagung

Next Post

Prasasti Sira Arya Gajah Para: Membaca dan Menyambung Narasi dari Para Leluhur

Rizan Panda

Rizan Panda

Dokter hewan yang mengaku hobi menulis dan makan siobak saat hari libur. Mukim di Singaraja.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Prasasti Sira Arya Gajah Para: Membaca dan Menyambung Narasi dari Para Leluhur

Prasasti Sira Arya Gajah Para: Membaca dan Menyambung Narasi dari Para Leluhur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co