29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hujan Ikan Sapu-Sapu  |  Cerpen Rizan Panda

Rizan Panda by Rizan Panda
September 7, 2025
in Cerpen
Hujan Ikan Sapu-Sapu  |  Cerpen Rizan Panda

Ilustrasi tatkala.co

SUNGAI yang dahulu tenang dengan air mengalir jernih, kini hitam dan bau tengik. Tidak ada lagi suara riang anak-anak yang mandi sore di sana, begitu juga dengan ibu-ibu mereka yang mencuci pakaian. Air itu pekat, bahkan ikan sapu-sapu yang terkenal bisa hidup di air terjorok sekalipun, mengapung mati di pinggiran hilir.

Sudah lebih dari seminggu aroma tidak sedap itu terendus. Aroma yang berasal dari sungai itu menyeruak, mendobrak lubang hidung siapa pun yang tinggal dekat sana. Semula, warga desa tak acuh dengan kondisi sungai, karena mereka lebih fokus pada keseharian mereka yang sudah tidak berpusat pada sungai.

Dahulu, seluruh warga desa turun ke sungai untuk mengambil air, menjala, atau hanya sekadar mandi-mandi dan mencuci. Aliran airnya yang tidak begitu deras dan penuh dengan bebatuan besar menjadikan sungai itu urat nadi desa. Seiring berkembangnya zaman, pabrik-pabrik segala jenis mulai berdiri di sekitaran sungai.

Dengan sewenang-wenang, satu demi satu dari pabrik itu membuang limbah hasil produksi ke sungai. Saat pabrik masih bisa dihitung jari, sungai masih tidak apa-apa. Masih banyak warga desa yang turun ke sungai, meski air sungai kala itu sudah mulai keruh. Anak-anak juga masih dengan marak turun, berlomba menangkapi ikan yang tinggal di sana.

Nahas bagi sungai dan warga desa, pabrik-pabrik itu kian menjamur. Jumlahnya kini tidak dapat lagi dihitung dengan jemari tangan. Hampir seluruh pabrik menggelontorkan limbah mereka ke sungai.

“Makin banyak pabrik di desa kita, berarti, desa kita semakin maju!” Pak Kades berpidato dengan lantang.

Matahari dengan semangat membagikan sinar UV pada barisan orang yang apel pagi itu. Kantor kepala desa yang letaknya tidak jauh dari sungai menyebabkan apel pagi itu begitu menyiksa. Pak Kades sendiri tidak luput dari siksaan itu. Dengan sigap, ia merogoh kantung kemeja batik birunya, mengambil masker yang sudah ia sediakan.

“Bau cuma segini, sih, tidak ada apa-apa dibanding dengan keuntungan yang dibawa pabrik-pabrik. Sudah berapa pemuda desa kita yang kini masuk pabrik?”

Pak Kades menatap pada peserta apel. Riuh rendah suara peserta apel pagi berdengung.

“Tetangga saya sudah lima orang, Pak! Semuanya di pabrik plastik yang baru buka!” ujar seseorang dari barisan.

“Anak saya juga! Jadi satpam di sana!”

“Kalo anaknya tetangga saya, keterima di pabrik obat nyamuk depan perumahan elit, yang di sana itu, lho!”

“Wah, kalau anak tetanggaku…”

Suara-suara itu semakin banyak, dengan bangga menyebut pencapaian tetangga-tetangganya atau anaknya sendiri. Pak Kades mendeham keras pada mikrofon, mengakibatkan peserta apel dengan serentak hening. Ia kemudian tertawa lantang.

“Lihat, saudara-saudara. Betapa banyak manfaatnya bagi desa kita. Bau hanya sedikit begini, sih, gampang. Pakai saja masker, selesai! Baunya tidak begitu tercium lagi, kan?”

Peserta apel pagi itu menggumam setuju dan manggut-manggut. Sebagian mulai mengenakan masker.

“Nah, kalau begitu, mari kita teruskan pembangunan desa ini dengan memperbanyak pabrik-pabrik yang maju. Semakin banyak pabrik, semakin banyak juga warga desa kita yang bisa bekerja. Kalian semua mau, kan, jadi wong sugih?”

Pak Kades kembali menatap pada peserta apel. Serempak mereka menjawab setuju dengan pertanyaan Pak Kades. Peserta apel kemudian bertepuk riuh, seraya Pak Kades turun dari podium dan kembali ke ruangannya. Apel bubar.

***

”Pak, ini surat dari pabrik plastik yang baru buka. Katanya minta Bapak datang untuk tanda tangan beberapa berkas penting!” Romlah—sekretaris desa—menyodorkan sepucuk amplop pada Pak Kades. Amplop itu tampak tebal. Pak Kades menerimanya dengan sumringah, kemudian menyuruh Romlah untuk meninggalkannya sendirian. Romlah menurut, dan segera meninggalkan Pak Kades di ruangannya.

Pak Kades duduk sambil membuka kancing celananya. Gespernya yang sedari tadi menahan buncitnya, dibiarkan menjuntai ke lantai, menyebabkan perut tambun itu tampil semaunya. Sesekali ia menggaruk perutnya yang masih terbalut kutang putih berbahan tipis. Maskernya ia lepas, lengannya meraih remot pendingin ruangan dan menyetel suhu terendah.

Tak lupa ia juga meraih pengharum ruangan dan menyemprotkannya dengan bebas ke seluruh ruangan. Amplop yang baru saja diserahkan Romlah ia pegang-pegang, diputar-putar, kemudian disobek bagian ujungnya.

Beberapa gepokan biru dan sepucuk surat lahir dari amplop itu. Dengan lihai, gepokan-gepokan biru disembunyikan Pak Kades ke laci mejanya. Ia tersenyum puas. Surat yang terdapat di dalam amplop itu tidak dibaca, melainkan diselipkan semaunya di dalam sebuah fail binder kuning bertuliskan ‘berkas penting’.

Pak Kades meregangkan badannya di atas kursi. Ia menguap lebar sembari menatap jam dinding. Belum jam makan siang, tetapi, pekerjaan sudah selesai semua, batinnya. Kini ia beranjak pada sofa yang biasa dipakai untuk menerima tamu-tamu penting, dan menyalakan televisi yang tertata di dekat sofa.

Sebuah kanal televisi menampilkan berita. Pembawa acara berita menyampaikan ribuan ikan sapu-sapu ditemukan tewas mengambang di sebuah sungai di Kabupaten Bogor. Dugaan penyebabnya adalah limbah dari pabrik yang dibuang ke sungai tanpa melalui proses pengolahan limbah yang sesuai. Tak hanya itu, pembawa acara berita juga menyiarkan liputan langsung dari lokasi kejadian terkait dengan demo warga di sebuah desa di lokasi yang sama dengan kejadian tewasnya ribuan sapu-sapu.

Tampak puluhan orang di televisi bersorak menyampaikan keinginan mereka untuk kembali menghirup udara yang layak—udara yang tidak tercemar bau limbah. Orang-orang di televisi itu juga menyampaikan protes mereka menggunakan poster-poster sederhana dari kardus dan kertas.

Pak Kades mencebik.

“Dasar orang-orang udik! Tidak tahu manfaat besar!” Pak Kades mematikan televisi. Bayangan tambun dirinya terpampang jelas di layar kaca yang hitam.

Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk. Buru-buru Pak Kades mengenakan celananya dengan rapi.

Ternyata Romlah. Di belakangnya ada dua orang berwajah kuning langsat dengan mata yang kecil. Keduanya tampak necis, mengenakan setelan jas lengkap, padahal cuaca sedang sangat terik.

“Kenapa, Rom?” ujar Pak Kades.

“Anu, ini lho, pak. Yang tadi kasih surat buat Bapak,” suara Romlah mengecil, berharap tidak didengar oleh siapapun kecuali Pak Kades.

Dengan semangat yang tiba-tiba muncul, Pak Kades menyambut mereka ramah. Mempersilakan untuk segera masuk dan duduk di sofa. Ketiganya segera masuk. Pak Kades ikut duduk di antara mereka. Romlah menyampaikan niat dua orang berjas necis itu pada Pak Kades. Pak Kades kaget bukan main, karena Romlah menyampaikan sesuatu yang berada di luar dugaannya.

Romlah mengatakan bahwa pabrik plastik milik dua orang berjas itu akan terus membuang limbah ke sungai, tentunya dengan izin dari Pak Kades. Mereka juga menyanggupi untuk terus mengirimkan amplop berisi gepokan biru dan merah kepada Pak Kades secara berkala. Namun, yang mencengangkan adalah ketika Romlah menyampaikan bahwa pabrik tersebut akan melakukan PHK besar-besaran, terutama pada karyawan baru yang berasal dari desa itu. Seluruh karyawan yang di-PHK akan digantikan dengan tenaga kerja asing dari negara asal pabrik.

Terngiang ucapan Pak Kades sendiri yang ia sampaikan ketika apel pagi tadi. Keringat dingin meremang di tengkuknya.

“Tentunya Bapak sudah membaca surat yang tadi saya berikan, ya kan, Pak?” sahut Romlah.

Pak Kades hanya tersenyum getir, kemudian mengangguk. Dua orang berjas itu tersenyum lebar, kemudian bangkit dan menjabat tangan Pak Kades bergantian. Mereka kemudian pamit, meninggalkan Pak Kades yang masih ternganga di sofa. Segera Pak Kades membuka fail binder kuningnya. Sepucuk surat yang baru diselipkan seenaknya itu ia baca. Isinya persis dengan apa yang disampaikan Romlah.

***

Keesokan harinya, Pak Kades tidak masuk kerja. Kepalanya pening, bak dijambak tiada henti. Pagi itu kantor kepala desa dipenuhi dengan warga desa yang kena PHK. Sebagian besar dari mereka marah, mencaci dan memaki Pak Kades yang telah setuju untuk pembangunan pabrik-pabrik di desa itu. Sebagian lagi menangis, karena sudah tidak memiliki pekerjaan apa pun. Massa di kantor kepala desa itu semakin menjalar. Suara mereka semakin menggelegar. Tak sedikit dari mereka yang mulai nekat merusak bangunan kantor.

Batu-batu dilempari ke arah jendela-jendela kaca, berharap Pak Kades keluar dan memberikan penjelasan. Hingga azan zuhur berkumandang, Pak Kades tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.

Warga desa yang resah itu mulai lelah. Beberapa sudah mencoba ikhlas dan kembali ke rumah. Namun, beberapa yang masih terbakar kesal, menyuarakan untuk ramai-ramai turun ke sungai dan memungut bangkai sapu-sapu.

“Untuk apa? Bangkai itu sudah tercemar! Sudah tidak bisa juga kita olah menjadi siomay,”

“Bukan untuk siomay, goblok! Untuk Pak Kades! Kita kasih hadiah langsung ke rumahnya!”

Warga desa berseru riuh, setuju. Ramai-ramai mereka turun ke sungai. Dengan barang bawaan seadanya, mereka mengumpulkan bangkai ikan sapu-sapu pada kantung-kantung plastik. Beberapa orang juga menyerok air sungai yang hitam dan bau itu ke dalam botol plastik bekas mineral. Mereka kemudian berbondong-bondong menghampiri rumah Pak Kades.

Pak Kades yang tengah bersantai itu dikejutkan dengan suara benturan di kaca teras rumahnya. Suara benturan itu diikuti dengan riuh warga yang mengepung halaman rumah Pak Kades. Istri Pak Kades panik, menghampiri suaminya yang tengah terbaring di sofa.

“Pah! Aduuuuuuh! Teras kita! Teras kita dihujani sapu-sapu! Aduh, Pah, gimana doooong? Rumah kita jadi bau banget!”

Pak Kades bangkit dan mengintip dari jendela. Puluhan sapu-sapu berjatuhan, menghujani teras rumahnya yang kini menghitam akibat sisa air yang juga ikut tercampak. [T]

Penulis: Rizan Panda
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi S. Kamar | Penyair Muda, Lagu Kanak-Kanak: Menanam Jagung

Next Post

Prasasti Sira Arya Gajah Para: Membaca dan Menyambung Narasi dari Para Leluhur

Rizan Panda

Rizan Panda

Dokter hewan yang mengaku hobi menulis dan makan siobak saat hari libur. Mukim di Singaraja.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Prasasti Sira Arya Gajah Para: Membaca dan Menyambung Narasi dari Para Leluhur

Prasasti Sira Arya Gajah Para: Membaca dan Menyambung Narasi dari Para Leluhur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co