13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kekerasan: Tatkala Aspirasi Berujung Tragedi

Chusmeru by Chusmeru
September 7, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

BERAWAL dari kekecewaan rakyat dan mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah. Janji menyediakan jutaan lapangan kerja ternyata hanya retorika kampanye politik. Pengangguran tetap tinggi, pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di mana-mana.

Pemerintahan baru yang diharapkan membawa perubahan menuju masyarakat yang sejahtera ternyata jauh panggang dari api. Begitu kabinet terbentuk, pajak menjadi monster untuk menguras uang rakyat. Sementara harga-harga kebutuhan pokok merangkak setiap hari.

Upaya pemberantasan korupsi di lembaga pemerintahan hanya isapan jempol belaka. Korupsi masih saja terjadi di instansi pemerintah dan legislatif. Lembaga antirasuah KPK serius melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT), tetapi upaya ini justru mendapat kritik dari elite di pemerintahan dan partai politik.

Efisiensi anggaran negara dilakukan dengan dalih untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun alih-alih melakukan penghematan, pemerintah justru menyetujui kenaikan tunjangan anggota DPR di tengah kondisi ekonomi rakyat yang melemah. Di tengah efisiensi, para pejabat dan anggota DPR malah mempertontonkan gaya hidup hedon. Apa artinya efisiensi jika pemerintah justru menambah jumlah kementerian dan badan-badan negara yang buntutnya menambah anggaran pemerintah.

Wajar jika kemudian mahasiswa dan rakyat melakukan unjuk rasa, aksi, atau demonstrasi sebagai reaksi terhadap berbagai kondisi di atas. Hanya sayang, tatkala aksi awal yang murni menyalurkan aspirasi politik kepada kekuasaan berujung tragedi. Unjuk rasa menimbulkan jatuhnya korban jiwa di Jakarta, Yogya, Semarang, dan Makassar.

Unjuk rasa, aksi, dan demonstrasi yang terjadi beberapa hari lalu adalah merupakan kekecewaan yang terakumulasi dan termobilisasi. Sebagaimana proses komunikasi, secara linier ada stimulus pasti ada respons. Ada pemerintahan yang abai terhadap rakyatnya, dan ada aksi yang menuntut tanggung jawab pemerintah.

Tragedi yang terjadi di tengah aksi mahasiswa dan rakyat tidak lantas dijadikan dalih untuk membungkam aspirasi politik. Jika terjadi pembungkaman, sama artinya menciptakan tragedi baru. Selain itu, manakala terjadi kericuhan dalam aksi tersebut, mengapa mahasiswa dan rakyat selalu dituding sebagai pelaku kekerasan? Mengapa polisi dan aparat keamanan yang juga melakukan tindakan represif tak pernah diakui sebagai pelaku kekerasan?

Kekerasan Struktural

Kekerasan yang baru saja terjadi memang mengundang keprihatinan. Terlepas dari analisis, tudingan, dan spekulasi bahwa aksi massa tersebut disusupi, ditunggangi, didanai, atau pun diprovokasi. Dalam berbagai aksi pun tudingan tersebut selalu sulit untuk dibuktikan. Seolah pemerintah sibuk mencari kambing hitam, sementara akar masalah tidak terselesaikan dengan tuntas.

Kekerasan mestinya tidak terjadi dalam negara yang yang demokratis, adil, tenteram, dan sejahtera. Kekerasan bukan semata rakyat yang marah dan melakukan perusakan maupun penjarahan. Kekerasan juga dapat terjadi secara struktural, tidak terlihat pelakunya secara langsung, tetapi dampaknya sangat dirasakan oleh rakyat banyak.

Adalah Johan Galtung, yang tahun 1969 sudah berbicara tentang kekerasan struktural. Bentuk kekerasan ini sangat samar, karena bisa berada di ranah sosial, ekonomi, dan politik. Sulit dikenali secara langsung, tak seperti kekerasan massa. Bentuknya macam-macam, seperti korupsi, ketidaksetaraan akses pendidikan dan kesehatan, serta kebijakan hukum yang diskriminatif.

Mestinya kekerasan tidak terjadi di Indonesia, karena setiap orang dengan bangga mengatakan Indonesia sebagai negara demokratis. Bupati, walikota, gubernur, presiden, dan anggota legislatif dipilih secara langsung oleh rakyat secara demokratis. Buat apa lagi ada kekerasan bila semua terpilih secara demokratis.

Masalahnya, ketika sudah terpilih, kepada siapa mereka berpihak? Kepada rakyat atau pada kekuasaan yang telah diperolehnya? Betapa pun majunya demokrasi sebagai sistem politik, tidak akan pernah mencapai kesempurnaan. Selalu ada peluang untuk manipulasi atau merekayasa demokrasi untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya (Djiwandono, 1996). Jadi, elite politik yang mengklaim telah mendukung demokrasi sejatinya sedang berjuang untuk kepentingan politik pribadi dan kelompoknya belaka.

Dalam masyarakat yang berkeadilan seharusnya tidak terjadi kekerasan. Pertanyaannya, keadilan untuk siapa? Sulit dijelaskan, karena nyatanya rakyat memang sulit mendapat keadilan. Ibaratnya, maling ayam digebuki warga satu kampung, koruptor tidur nyaman dengan berbagai fasilitas di rumah tahanan. Rakyat lapor kehilangan ayam, tetapi keluar biaya seharga kambing.

Rakyat semestinya hidup tenteram dalam negara demokrasi. Akan tetapi, bagaimana dapat hidup tenteram bila tiap hari berpikir akan makan apa, berpikir biaya sekolah anak-anak, dan selalu bertanya besok harga apa lagi yang akan naik. Pemerintah yang tidak mampu menyediakan pendidikan, pangan, dan kesehatan yang murah bagi rakyatnya sebenarnya juga melakukan kekerasan struktural.

Kekerasan struktural bukan hanya menampar kehidupan rakyat, namun dapat membunuh secara perlahan. Bagaimana akan hidup tenteram jika selalu dibayangi oleh hantu yang bernama pajak. Bagi yang berpunya, pajak kendaraan roda dua dan roda empat lumayan mencekik leher. Bagi rakyat yang tak berpunya, pajak bumi dan bangunan juga membuat hidup tak tenteram. Orang lantas bilang, mulai dari makan hingga tidur pun terkena pajak.

Kesejahteraan yang diharapkan mampu membawa rakyat pada kehidupan aman, sentosa, makmur, dan selamat juga dapat sirna oleh kekerasan struktural. Guru yang mestinya hidup sejahtera malah dianggap beban negara. Buruh yang semestinya dapat hidup sehat dan sejahtera terpukul oleh kekerasan struktural tatkala terjadi korupsi BPJS Ketanagakerjaan. Konsepsi tentang aman menjadi absurd ketika aparat keamanan sendiri bertindak brutal kepada rakyat.

Reorientasi Demokrasi

Demokrasi perlu ditinjau kembali. Tidak ada yang salah dari demokrasi. Namun demokrasi perlu ditinjau ulang agar rakyat memiliki ruang untuk bersikap kritis kepada pengambil kebijakan. Perlu ada evaluasi dan reorientasi demokrasi, utamanya dalam praktiknya. Indonesia selalu merasa bangga sebagai negara demokrasi. Namun praktiknya jauh dari konsep demokrasi. Pemerintah berbicara kebebasan berpendapat, tetapi mahasiswa dan aktivis yang terlibat aksi ditangkap polisi.

Rezim dan elit politik selalu berkoar-koar tentang demokrasi, namun yang terjadi justru involusi kehidupan politik. Demokrasi yang seolah-olah. Demokrasi yang bukan ini, bukan itu. Involusi demokrasi terjadi saat rezim secara berulang mengatakan memperjuangkan kepentingan rakyat, tetapi secara substansial tidak melakukan perubahan apa pun.

Demokrasi adalah daulat rakyat, bukan daulat penguasa. Maka ketika tentara dilibatkan dalam persoalan unjuk rasa rakyat, sesungguhnya pemerintah telah melakukan pembangkangan dan pengkhianatan demokrasi. Seruan mahasiswa agar tentara kembali ke barak adalah kehendak daulat rakyat, kehendak demokrasi sesungguhnya.

 Harus diakui, relativisme kultural telah menutup semua peluang kekuatan demokratik, partai politik, maupun individu untuk memberi kontribusi pada pemeliharaan sistem politik ( Anggoro, 1996). Kesempatan rakyat mengartikulasikan kepentingannya untuk menyampaikan aspirasinya tidak pernah terbentuk secara mantap. Di tengah partai politik yang menyebut diri modern, namun tetap saja tradisional dalam memainkan peran. Inilah involusi kehidupan politik. Rakyat hendak menyampaikan aspirasi, namun lembaga politik sibuk berbagi kekuasaan dan kue ekonomi.

Demokrasi Indonesia memang perlu ditinjau kembali. Perlu reorientasi. Demokrasi di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Demokrasi tidak lagi menciptakan masyarakat egaliter, tetapi eliter. Kedaulatan bukan di tangan rakyat, namun di tangan elite. Sikap opisisi dan kritis selalu dimaknai sebagai ancaman terhadap otoritas rezim. Karenanya, cara-cara represif akan dilakukan bagi mereka yang bersikap kritis kepada rezim.

Hegemoni dan sentralisasi kekuasaan begitu besar pada satu orang atau sekelompok kecil orang. Rakyat seolah tak memiliki andil dan akses dalam pengambilan kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Rakyat tak perlu ditanya siapa menteri dan wakil menteri, siapa kepala badan yang akan dipilih penguasa. Bahkan rakyat tak punya peluang untuk menilai kinerja orang-orang di lingkaran kekuasaan. Sentralisasi kekuasaan memang pada akhirnya membuat orgasme politik para elite.

Partai politik yang merepresentasikan demokrasi tidak mampu menghasilkan orang-orang yang benar-benar memperjuangkan nasib rakyat pemilihnya. Terjadi disartikulasi kepentingan. Karena kepentingan wakil rakyat bukan lagi perbaikan nasib rakyatnya, namun perbaikan ekonomi dirinya setelah menjadi wakil rakyat. Itu bisa terjadi lantaran kapitalisasi politik. Menjadi anggota DPR dan DPRD perlu biaya banyak. Maka setelah duduk di parlemen, mereka harus mengembalikan biaya politik itu, bila perlu menambah pundi-pundi rupiahnya.

Reorientasi demokrasi perlu menyasar partai politik dan lembaga legislatif. Partai politik sebagai pemasok sumber daya manusia di parlemen perlu reorientasi. Rekrutmen anggota legislatif di pusat dan di daerah perlu ditinjau kembali. Selama ini partai politik dipandang berkontribusi terhadap munculnya anggota DPR dan DPRD yang snob serta selebriti politik yang hedon.

Tragedi sudah terjadi. Mahasiswa yang menyampaikan aspirasi secara kritis lewat unjuk rasa dituding melakukan kekerasan. Rakyat yang frustrasi merusak dan menjarah dituduh melakukan kekerasan. Polisi yang represif menciptakan kekerasan. Pemerintah yang menindas rakyat dengan pajak yang berat adalah bentuk kekerasan. Lantas siapa sesungguhnya yang melakukan kekerasan? [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Jaswanto

Tags: demokrasikekerasan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prasasti Sira Arya Gajah Para: Membaca dan Menyambung Narasi dari Para Leluhur

Next Post

Dari Tatapan Rangga ke “Screenshot” Kekerasan: Transformasi Ruang Sosial Remaja dalam Sinema Indonesia (2002 – 2022)

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Dari Tatapan Rangga ke “Screenshot” Kekerasan: Transformasi Ruang Sosial Remaja dalam Sinema Indonesia (2002 – 2022)

Dari Tatapan Rangga ke "Screenshot" Kekerasan: Transformasi Ruang Sosial Remaja dalam Sinema Indonesia (2002 – 2022)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co