14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lawon | Cerpen Juli Prasetya

Juli Prasetya by Juli Prasetya
August 31, 2025
in Cerpen
Lawon | Cerpen Juli Prasetya

Ilustrasi tatkala.co

KAKI Kunci segera memulai ritual perlonnya, setelah para anak putu Banokeling sudah berkumpul, perlahan ia masuk ke areal makam leluhur Banokeling. Perlon merupakan upacara yang diadakan tiap menjelang bulan sura. Tentu saja upacara ini selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan, media-media lokal, maupun media nasional.

Aku adalah salah satu keturunan dari Mbah Nawen, salah satu Trah Banokeling yang ditugaskan membuat kain Lawon, kain mori yang khusus dibuat dan digunakan oleh keturunan anak putu Banokeling dalam upacara kematian.  Bagi sebagian orang mengira bahwa Menjadi salah satu keturunan dari Kaki Banokeling mungkin dianggap sebagai suatu berkah dan sebuah hal yang istimewa. Namun bagiku sendiri, itu adalah hal yang berat, karena aku mau tidak mau harus belajar membuat kain Lawon yang sulit itu.

Betapa tidak sulit, proses membuat Lawon itu rumit, ia membutuhkan waktu yang tidak sedikit, mesti telaten, dan juga harus memiliki kesabaran tingkat tinggi. Coba kau bayangkan setidaknya untuk membuat satu kain Lawon membutuhkan waktu 4-5 hari. Dan Ini harus aku lakukan di sela-sela kegiatanku menjadi mahasiswa baru yang sibuk. Ya mau bagaimana lagi karena aku merupakan generasi penerus keturunan penenun Lawon tentu saja harus bisa menenun Lawon. Tidak hanya itu, aku juga diwanti-wanti untuk tidak berharap mendapatkan banyak uang atau hal-hal semacam itu dari membuat Lawon, karena kata Nini, Membuat Lawon itu tidak semata-mata untuk mendapatkan keuntungan tetapi merupakan suatu laku hidup untuk mengabdi dan melestarikan tradisi leluhur, Banokeling. Astaga.

Setiap pulang kuliah aku selalu diajak Nini untuk membuat kain Lawon. Padahal sebenarnya aku tidak terlalu suka menjadi penerus Nini. Ya itu alasannya, karena berat, sulit, dan tidak mendapatkan apa-apa, selain capai. Tapi kemudian pikiran itu berubah ketika sekali waktu Nini Nawen, mengatakan suatu hal yang tak bisa kuabaikan begitu saja, dan benar-benar begitu membekas di dalam ingatanku. Hidupku.

“Gita, kamu tahu apa arti Lawon?” kata Nini Nawen suatu kali, aku hanya menggeleng  tak mengerti.  “Lawon itu lelakune wong wadon!”

“Maksudnya?” tanyaku

“Lawon itu memiliki arti kesucian, seperti halnya seorang perawan yang masih suci. Lawon dapat menyempurnakan proses murca, yakni menyatunya raga dengan tanah. Jadi kalau Nini mengartikannya sebagai lelakune wong wadon itu sebenanrya melambangkan laku seorang perempuan untuk menyempurnakan lelaki, menyeimbangkan hidup dan kehidupan ini”

 “Kamu tahu, Nduk, 500 tahun sejarah Banokeling ikut tertenun di kain Lawon ini, walapun mungkin seni menenun kain lawon ini tak pernah tertulis pada jaman itu, tapi tradisi harus tetap diwariskan dan diuri-uri bukan? Itulah sebenarnya tugas penting kita sebagai penenun kain lawon untuk mori para anak putu Banokeling, itulah tugas kita sebagai keturunan orang-orang Banokeling. Menenun benang demi benang, dan tenunan benang itu perlahan menjadi kain lawon, kemudian digunakan sebagai pakaian terakhir anak cucu Banokeling untuk menghadap kepada pemilik hidup yang sejati. Jadi kain lawon dan cara membuatnya itu juga semacam ngelmu yang diwariskan turun temurun kepada kita dari keturunan awal Banokeling!”

 “Kamu tahu kan  Lawon yang digunakan oleh perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan jumlah lapisannya?

“Iya, Ni!”

“Nah dalam menggunakan kain lawon itu harus berjumlah ganjil, kalau laki-laki lima lapis, dan perempuan tujuh lapis. Dan tiap lapisnya itu mengandung makna tertentu, kamu tahu makna-maknanya?”

“Tidak, Ni!”

“Dasar anak jaman sekarang, hanya mengerti apa itu tikpot, sama yutuk!”

“Tiktok kali, sama Youtube!” sergahku

“Iya itu maksudnya!”

“Ikut perkembangan jaman kan perlu, Ni!”

“Iya, Nini paham, tapi kamu juga jangan meninggalkan tradisi leluhur loh!”

“Iya Ni, sudah lanjutkan saja apa tadi makna-makna jumlah lawon!”

“Hemmm, begini, Nduk, lelaki yang menggunakan lima lapis lawon itu mengartikan tingkatan jasa orang tua kepada anak-anaknya. Mulai dari kasih sayang, menafkahi, merawat, mendidik dan menikahkan anaknya. Itu bukan hanya sembarang kain, dan bukan hanya sembarang jumlah lapisan saja, Nduk!”

“Lalu yang perempuan itu sampai tujuh berarti jasa-jasa seorang perempuan lebih banyak ya Ni?”

“Duh cah ayu pinter, nah itu paham. Ya boleh lah dibilang begitu, soalnya jasa seorang ibu kan ditambah dengan melahirkan dan menyusui anak-anaknya. Jadi jasa-jasa perempuan itu lebih banyak dan lebih berat!” kata Nini Nawen sambil mengelus kepalaku dan tersenyum.

Itulah sebabnya sampai sekarang aku masih terus bertahan merepotkan diri dengan seluk beluk tentang lawon. Setelah mendengar penjelasan Nini tentang makna-makna yang terkandung di dalam Lawon. Entah mengapa aku jadi tercerahkan dan malah perlahan jadi mencintai tugasku menjadi penerus penenun lawon dalam trah Banokeling. Lawon bukan hanya sekadar kain, tapi ia juga memiliki simbol dan makna filosofisnya sendiri dan terlebih lawon merupakan pakain terakhir yang dipakai keturunan anak putu Banokeling untuk menghadap kepada yang Maha Agung, Sang pemilik hidup sejati.

Dan kini, di depan alat tenun di rumah Nini, aku menenun kain lawon seorang diri sambil menangis sesenggukan, mengingat kembali kenangan-kenangan dan hari-hari bersama Nini yang  telah kembali kepada Sang Pemilik Hidup Sejati. [T]  

Banyumas, Juni 2024

Penulis: Juli Prasetya
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Peluru Coklat Putih

Next Post

Bulde Wine, Manfaatkan Anggur Buleleng, Juara di Bali

Juli Prasetya

Juli Prasetya

Penulis muda asal Banyumas. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung di Desa Purbadana, Kembaran.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Bulde Wine, Manfaatkan Anggur Buleleng, Juara di Bali

Bulde Wine, Manfaatkan Anggur Buleleng, Juara di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co