23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lawon | Cerpen Juli Prasetya

Juli Prasetya by Juli Prasetya
August 31, 2025
in Cerpen
Lawon | Cerpen Juli Prasetya

Ilustrasi tatkala.co

KAKI Kunci segera memulai ritual perlonnya, setelah para anak putu Banokeling sudah berkumpul, perlahan ia masuk ke areal makam leluhur Banokeling. Perlon merupakan upacara yang diadakan tiap menjelang bulan sura. Tentu saja upacara ini selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan, media-media lokal, maupun media nasional.

Aku adalah salah satu keturunan dari Mbah Nawen, salah satu Trah Banokeling yang ditugaskan membuat kain Lawon, kain mori yang khusus dibuat dan digunakan oleh keturunan anak putu Banokeling dalam upacara kematian.  Bagi sebagian orang mengira bahwa Menjadi salah satu keturunan dari Kaki Banokeling mungkin dianggap sebagai suatu berkah dan sebuah hal yang istimewa. Namun bagiku sendiri, itu adalah hal yang berat, karena aku mau tidak mau harus belajar membuat kain Lawon yang sulit itu.

Betapa tidak sulit, proses membuat Lawon itu rumit, ia membutuhkan waktu yang tidak sedikit, mesti telaten, dan juga harus memiliki kesabaran tingkat tinggi. Coba kau bayangkan setidaknya untuk membuat satu kain Lawon membutuhkan waktu 4-5 hari. Dan Ini harus aku lakukan di sela-sela kegiatanku menjadi mahasiswa baru yang sibuk. Ya mau bagaimana lagi karena aku merupakan generasi penerus keturunan penenun Lawon tentu saja harus bisa menenun Lawon. Tidak hanya itu, aku juga diwanti-wanti untuk tidak berharap mendapatkan banyak uang atau hal-hal semacam itu dari membuat Lawon, karena kata Nini, Membuat Lawon itu tidak semata-mata untuk mendapatkan keuntungan tetapi merupakan suatu laku hidup untuk mengabdi dan melestarikan tradisi leluhur, Banokeling. Astaga.

Setiap pulang kuliah aku selalu diajak Nini untuk membuat kain Lawon. Padahal sebenarnya aku tidak terlalu suka menjadi penerus Nini. Ya itu alasannya, karena berat, sulit, dan tidak mendapatkan apa-apa, selain capai. Tapi kemudian pikiran itu berubah ketika sekali waktu Nini Nawen, mengatakan suatu hal yang tak bisa kuabaikan begitu saja, dan benar-benar begitu membekas di dalam ingatanku. Hidupku.

“Gita, kamu tahu apa arti Lawon?” kata Nini Nawen suatu kali, aku hanya menggeleng  tak mengerti.  “Lawon itu lelakune wong wadon!”

“Maksudnya?” tanyaku

“Lawon itu memiliki arti kesucian, seperti halnya seorang perawan yang masih suci. Lawon dapat menyempurnakan proses murca, yakni menyatunya raga dengan tanah. Jadi kalau Nini mengartikannya sebagai lelakune wong wadon itu sebenanrya melambangkan laku seorang perempuan untuk menyempurnakan lelaki, menyeimbangkan hidup dan kehidupan ini”

 “Kamu tahu, Nduk, 500 tahun sejarah Banokeling ikut tertenun di kain Lawon ini, walapun mungkin seni menenun kain lawon ini tak pernah tertulis pada jaman itu, tapi tradisi harus tetap diwariskan dan diuri-uri bukan? Itulah sebenarnya tugas penting kita sebagai penenun kain lawon untuk mori para anak putu Banokeling, itulah tugas kita sebagai keturunan orang-orang Banokeling. Menenun benang demi benang, dan tenunan benang itu perlahan menjadi kain lawon, kemudian digunakan sebagai pakaian terakhir anak cucu Banokeling untuk menghadap kepada pemilik hidup yang sejati. Jadi kain lawon dan cara membuatnya itu juga semacam ngelmu yang diwariskan turun temurun kepada kita dari keturunan awal Banokeling!”

 “Kamu tahu kan  Lawon yang digunakan oleh perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan jumlah lapisannya?

“Iya, Ni!”

“Nah dalam menggunakan kain lawon itu harus berjumlah ganjil, kalau laki-laki lima lapis, dan perempuan tujuh lapis. Dan tiap lapisnya itu mengandung makna tertentu, kamu tahu makna-maknanya?”

“Tidak, Ni!”

“Dasar anak jaman sekarang, hanya mengerti apa itu tikpot, sama yutuk!”

“Tiktok kali, sama Youtube!” sergahku

“Iya itu maksudnya!”

“Ikut perkembangan jaman kan perlu, Ni!”

“Iya, Nini paham, tapi kamu juga jangan meninggalkan tradisi leluhur loh!”

“Iya Ni, sudah lanjutkan saja apa tadi makna-makna jumlah lawon!”

“Hemmm, begini, Nduk, lelaki yang menggunakan lima lapis lawon itu mengartikan tingkatan jasa orang tua kepada anak-anaknya. Mulai dari kasih sayang, menafkahi, merawat, mendidik dan menikahkan anaknya. Itu bukan hanya sembarang kain, dan bukan hanya sembarang jumlah lapisan saja, Nduk!”

“Lalu yang perempuan itu sampai tujuh berarti jasa-jasa seorang perempuan lebih banyak ya Ni?”

“Duh cah ayu pinter, nah itu paham. Ya boleh lah dibilang begitu, soalnya jasa seorang ibu kan ditambah dengan melahirkan dan menyusui anak-anaknya. Jadi jasa-jasa perempuan itu lebih banyak dan lebih berat!” kata Nini Nawen sambil mengelus kepalaku dan tersenyum.

Itulah sebabnya sampai sekarang aku masih terus bertahan merepotkan diri dengan seluk beluk tentang lawon. Setelah mendengar penjelasan Nini tentang makna-makna yang terkandung di dalam Lawon. Entah mengapa aku jadi tercerahkan dan malah perlahan jadi mencintai tugasku menjadi penerus penenun lawon dalam trah Banokeling. Lawon bukan hanya sekadar kain, tapi ia juga memiliki simbol dan makna filosofisnya sendiri dan terlebih lawon merupakan pakain terakhir yang dipakai keturunan anak putu Banokeling untuk menghadap kepada yang Maha Agung, Sang pemilik hidup sejati.

Dan kini, di depan alat tenun di rumah Nini, aku menenun kain lawon seorang diri sambil menangis sesenggukan, mengingat kembali kenangan-kenangan dan hari-hari bersama Nini yang  telah kembali kepada Sang Pemilik Hidup Sejati. [T]  

Banyumas, Juni 2024

Penulis: Juli Prasetya
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Peluru Coklat Putih

Next Post

Bulde Wine, Manfaatkan Anggur Buleleng, Juara di Bali

Juli Prasetya

Juli Prasetya

Penulis muda asal Banyumas. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung di Desa Purbadana, Kembaran.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Bulde Wine, Manfaatkan Anggur Buleleng, Juara di Bali

Bulde Wine, Manfaatkan Anggur Buleleng, Juara di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co