24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Peluru Coklat Putih

Son Lomri by Son Lomri
August 31, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Peluru Coklat Putih

Ilustrasi tatkala.co

Peluru Coklat Putih

: Randa

Timah timah
Bekas peluru ditembakkan
Di lapang itu,

Kita gali seperti
Menggali kubur dengan
Badan setengah merunduk
Hingga tangan belepotan tanahtanah.

“Bisa dijual itu timah,” katamu.
Lima puluh meter dari tentara kemarin sore
—kurang ajar menembaki gundukan tanah.

Tapi kita mau menjilati
Malam sampai
Ke dubur pagi

Kita berdoa banyak perang terjadi
Hari esok agar banyak peluru bisa digali

Biar besok tidak sulit makan
Biar besok tidak sulit minum arak

Mari kita belajar
Menghitung
Peluru pada tanah
Sebelum mayat mayat
Dadanya terbuka ketika
Hari perang sudah tiba.

Dalam perang,
Peluru tak ada harganya
Seperti nyawa perut kosong
Menatap nyalang hidup
Minum arak sisa semalam
Lalu berjalan sempoyong keluar ke pantai
Untuk menurunkan baju jirah perang
Pada angin pada ombak
Pada gagang panci piring gelas milik ibu

Mari kita hitung waktu mundur,
Pada hari hari maaf di jalanan;

Di jalan raya,
Di sampingnya gereja
Tuhan menatap kita
Seperti domba tersesat
Mencuri coklat di padang rumput
Milik orangorang pelit di toko toko zaman

Tuhan agaknya tersenyum
Menyaksikan pencuri kecil
Sedang menuntaskan rasa laparnya
Mencabik coklat putih panjang
Setelah menjilati malam ke dubur pagi

Di mana lagi waktu chaos itu,
Bisa dilumat seperti coklat
Putih tahun lalu?

Singaraja, Juli 2025

Jalan ke Rumahku


: Randa

Jalan pulang menuju rumahku itu,
Melewati 10 tiang listrik
Dari pangkalan ojek
Pengkolan Minggu

Melewati rumah rumah tetangga
Dengan pagar kayu penuh daun
Juga besi karatan

Melewati beberapa mushola
Dan hamparan luas sawah
Dilingkari gunung-gunung itu,
juga jalan menuju rumahku.

Berbeton jalannya lurus berbelok
Dan sungai warnanya kuning
Mengalir di sisinya menguarkan
Bau tanah—getih kelahiran.

Bayangkan itu, kau
Ikut pulang ke rumahku
Dengan langit biru diiringi lagu
Bin Idris – Bebas Hambatan.

Turun dari kereta, misalnya,
Pergi kita menaiki angkot dari Palima.
Diantar Mang Sopir ke tempat tempat tadi,
Juga tempat duduk kecil terpisah sepanjang jalan
Pinggiran sawah;

Tempat para remaja nakal itu menyandarkan motornya
Usai balap liar sore—lanjut terus mabok malam.

Juga anak-anak kecil,
Belajar nakal menghisap rokoknya sebelum berangkat mengaji
Mereka, juga duduk di sana bergantian sebelum Maghrib.

Tapi beberapa rumah mungkin sudah kosong
Ditinggal anak-anak sebesarku sekarang.

Jauh-pergi melewati hari raya
Melewati hari libur

Meninggalkan tempat duduknya
Dan inti sari botol botol kosong,
Juga rokok melingkar sebaya
Sudah padam.

Sepuluh anak anak kecil itu juga sekarang,
Barangkali sudah besar besar. Pergi,
Melewati tidur siangnya seperti aku.

Tapi di mana aku sekarang,
Di mana mereka
Di mana jalan masuk ke rumahku
Lalu bagaimana kabar ibuku kabar abahku,
Dan tetanggaku juga sawah
Samar aku ingat—sekarang.

Sekarang, rasanya aku hanya bisa mengingat sekilas,
Dan mencium aliran sungai bau basah tanah
Dari kiriman bekal orang tua semakin sedikit.

Tapi, bagaimana kabarmu?

Singaraja, Juli 2025

Kota Tua Pesisir Berjalan di Kakimu

: Pemulung Perempuan

Perempuanku,
Aku mengerti keadaanmu sekarang.
Di kesepian kau duduk dan matamu terlepas
jatuh ke sungai deras.
Sementara di keramaian–asing dengan udara panas
Kota tua pesisir berjalan di kakimu
Menyusul dadamu terjatuh pada jurang
Paling hampa dari hidup yang licin.
Orang-orang mendongak tak pernah ke bawah memang,
Karena habis meliuk malam—pagi hari. Dan,
Ia datang setelahnya meraih sesuatu,
Lalu menemuimu
Di antara sisa sisa bar dan resto
Yang sulit dimengerti di tepi pantai
Dan sawah menggantikan bintang bulan
Kunang kunang,
2–3 kilo sisasisa,
Kau menimbangnya pada nasib.
Aku tahu rasanya dihimpit angka besar uang kecil,
Yang membuat tubuhmu semakin menciut.
Lantas kau pergi pulang-tidur,
Diantar angin dipeluk malam. Dan,
Tubuhmu merebah pada kasur
Sehalus mimpi di kamar rumah gubuk kita.

Singaraja, 2025

Ratu Amélia—Cahyani

: Kekasihku dulu

Telah melewati banyak tahun
Bunga layu masih aku bawa
Ke mana saja. Diselip di kantong,
Diselip di buku.

Baunya masih tetap sama
Kelopaknya utuh
Warnanya merah
Seperti dipotek kali pertama
Disisipkan pada surat
Diantar malu malu kencan kita
Di warung bakso makan dengan uang
Masih patungan.

Bunga layu itu aku bawa
Melewati banyak bentuk jalan hidup

Disimpan seperti ajimat
Penangkal lupa
Penangkal ingkar

Mataku satu perih menahan asing
Rasa ngilu mimpi indah janji janji

Yang sekarang jadi kering,
Tangkainya hilang entah ke mana.

Singaraja, Agustus 2025

Nanti Saja Aku Pulang

Bu,

Masih
ngisi-
Kolom
Tekateki

Singaraja, Agustus 2025

Menumbuhkan Liar Aku

Robek dagingku
Dilempar
Batu karang kayukayu

Di sela daging menganga
Tulangku nyaris nongol

Langit mengerang
Kesakitan

Menjatuhkan banyak sekali bintang
Bintang di pundak
Kaki dengkul—
Merobek kulitku itu,
Membentuk seperti palung.

Dan laut menjerit tumpahkan
Garam angin sakit
Di dalamnya bau tubuhku
Kemarau panjang.

Tanah juga berdarah
Warnanya coklat
Bau getah pepohonan

Engkau 20 sifat wujud
99 nama baik di belantara
Tempat keluh kesah tumbuh
Memborok rasa sakit manusia

Dengar ini bukan doa
Tapi semacam hutang

Aku mau minta hujan
Satu gelas kopi pait
Dua batang rokok eceran
Seporsi tipat pengganjal rasa lapar
Rasa panas rasa dingin

Puahkan kepadaku itu.

Dibayar kontan nanti—
Selepas getahgetah
Mengering seperti
Kulit kulit mati mengering
Terkelupas sekujur tubuhku

Atau kontan
Di hari-hari
Mati
Waktu
Satu
Satunya
Yang setia akan datang. Setelah,
Tak lagi liar hidupku ditutup
Tanah ditaburi bunga bunga duka. Yang,
Merebahkan aku menciumMu mesra
Lebih dekat lebih dalam—tanah.

Puah,
Puahkan kepadaku hujan deras
Tubuhku panas kemarau panjang
Dilewati ular tikus kadal liar dalam kejaran.

Robek. Sumuk.

“Aku tak pernah
mengelak
Aku terus berjalan
Tumbuh
Membau,”

Aku gulma kering di tepi jalan jalan tandus
Yang dilewati mata kaki buta mereka—
Malam tiba gigil tubuhku

Dan,
Aku menutup mata
Membayangkan itu
Kematian dekat
Memeluk satu-satunya
Lebih hangat dan wangi

Dan mereka berhenti berjalan,
Datang kepadaku menabur bunga
Mengembalikan bintang bintang di pundak
Kaki-kengkul di mata kakiku—
Semula, ke langit.

Singaraja, Agustus 2025

.

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hidupkan Malam Banjar Jawa, Singaraja:  STT Yowana Taruna Wirahita Luncurkan Sanggar Seni Adi Bajra Hita

Next Post

Lawon | Cerpen Juli Prasetya

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Lawon | Cerpen Juli Prasetya

Lawon | Cerpen Juli Prasetya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co