UDARA di Desa Silangjana, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, terasa seperti embun yang baru saja diperas dari rahim pegunungan. Dingin, jernih, dan memeluk kulit dengan lembut menggerakkan pori-pori tuk timbul. Matahari sudah terbit, tapi sianarnya belum benar-benar menguasai sekeliling.
Bayangan pepohonan masih memanjang, menutupi sebagian jalan. Jalan menuju Air Terjun Candi Kuning tidak diiringi papan nama besar atau gerbang yang megah. Hanya jalan setapak selebar satu motor, berliku-liku, seolah sedang menyembunyikan sesuatu yang tak ingin sembarang orang temukan.

Pintu masuk menuju Air Terjuan Candi Kuning | Foto: Arix
Di ujung perjalanan, ada rumah sederhana dan terbentang lahan parkir yang juga tidak terlalu luas. Tidak ada loket, tidak ada petugas berseragam penagih uang parkir dan karcis, yang ada hanya sebuah meja kayu yang using dengan kotak donasi bertuliskan “Seikhlasnya.”
Di belakang berdiri seorang perempuan berwajah ramah. Namanya Komang Ayu. Ia penjaga setempat. Sapanya hangat, seperti sudah mengenal sejak lama, walau baru bertemu. Di zaman di mana setiap panorama alam sering diukur dengan harga tiket, keberadaan tempat seperti ini terasa langka.
Jalan menuju air terjun dimulai dengan menurun, di kanan terlihat pemandangan bukit, di kiri tebing yang ditumbuhi beberpa pepohonan jaka, cengkeh, dan rumpun-rumpun salak,. Pohon-pohon ini bukan sekedar hiasan alam, tapi bagian dari denyut ekonomi warga, menunggu masa panen pengepulnya. Tangga dari batu alam disusun rapi memandu Langkah, tapi licinnya lumut memaksa setiap pijakan dilakukan dengan kesadaran penuh.

Jalan setapak berbatu menuju Air Terjuan Candi Kuning | Foto: Arix
Sesekali, aliran air kecil menyilang didepan, membentuk curug-curug mungil yang jernihnya menggoda untuk merendam kaki. Sepanjang jalan, suara air terdengar makin jelas, bercampur dengan kicauan burung yang seolah berpantulan di dinding tebing.
Udara berubah menjadi lebih lembab tercampur dengan aroma dedaunan basah menusuk hidung. Beberapa meter sebelum tujuan, kabut air mulai terasa di kulit, rintik halus yang bukan hujan, melainkan sisa pecahan air terjun yang menghantam batu dan kembali terbang di udara.
Lalu tibalah pemandangan itu, Candi Kuning. Airnya jatuh dari ketinggian 100 meter membelah udara dengan suara berat, menenangkan. Di kedua sisi, tebing-tebing menjulang dilapisi lumut dan pepohonan, di tengahnya sinar matahari pagi menyerap, menciptakan semburat kuning keemasan. Apa mungkin inilah alasan namanya, cahaya itu membuat dinding tebing seperti altar emas di tengah hutan.
Di beberapa sudut, pelangi kecil melayang, hadiah dari pertemuan air dan cahaya. Tidak ada keramaian. Hanya bunyi air, burung, dan sesekali desir angin. Airnya cukup deras untuk memunculkan percikan yang dinginnya sampai ke tulang.

Air Terjuan Candi Kuning | Foto: Arix
Bebatuan besar di kaki air terjun seperti tahta alami, sebagian terselimuti lumut halus. Ada sebuah jembatan kayu melintas di salah satu sisi, agak renta, dengan beberapa papan yang mulai goyah. Menurut Komang Ayu, jembatan itu akan segera diperbaiki.
Di balik keindahan yang seolah liar ini, ada tangan-tangan yang menjaga. Air terjun Candi Kuning berada di bawah pengelolaan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Lila Dharma Kerti, dibantu pemerintah Desa Silangjana.
Pokdarwis adalah denyut sukarela warga, mereka gotong royong membersihkan, memperbaiki, dan menjaga kawasan, walau sebagian besar biayanya hanya berasal dari donasi pengunjung. Semua dirancang untuk menunjang wisata, tanpa merusak keseimbangan alam yang sudah ada.
Di banyak tempat, pembangunan sering kali berarti mengikis keaslian. Tapi di sini, warga desa tampaknya mengerti bahwa daya tarik Candi Kuning bukan semata air terjunnya, melainkan seluruh pengalaman menuju ke sana. Jalan sempit berlumut tipis, udara sejuk, suara burung bertebaran, hingga kehangatan senyum penjaga tanpa karcis.
Dan, ketika sang surya sudah naik lebih tinggi, cahaya makin terang, tapi membuat suasana terlihat lebih teduh dalam perjalanan kembali. Langkah terasa lebih ringan, walau medan tetap licin.
Ada rasa yang tertinggal, syukur, karena alam seperti ini masih terjaga. kagum, karena masih ada masyarakat yang mau menjaganya. Dan harapan, karena mungkin suatu hari nanti, ketika pengunjung lebih banyak dan fasilitas lebih baik, keaslian ini masih akan tetap menyapa setiap orang yang datang.

Air Terjuan Candi Kuning | Foto: Arix
Tidak semua keindahan harus dibingkai tiket masuk atau papan promosi besar-besaran, kadang keindahan terbaik adalah yang ditemukan dalam kesederhanaan. Jika panas terik mengeringkan kota, atau pikiran terasa penuh oleh hiruk-pikuk pekerjaan, datanglah ke sini.
Ikuti jalan yang berliku, dengarkan bisik hutan, biarkan cahaya keemasan dan embun air terjun Candi Kuning membersihkan lelahmu. [T]
Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























