23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
in Tualang
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Penulis di Gunung Fuji / Foto Dok.Penulis

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di atas bidang putih. Namun, di balik simbol sederhana itu, Jepang menyimpan lapisan pengalaman yang jauh lebih kompleks: ketertiban yang sunyi, keindahan yang tertata, dan kebudayaan yang hidup berdampingan dengan modernitas. Perjalanan saya ke Jepang bersama sebuah rombongan travel bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan sebuah ziarah pengalaman, menyusuri ruang, waktu, dan makna.

Langkah Pertama di Tanah Jepang

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Kansai ( Kansai Kokusai Kūkō), Osaka. Kesan pertama yang saya rasakan justru bukan hiruk-pikuk sebagaimana lazimnya bandara internasional, melainkan kesunyian yang rapi dan tertib. Segalanya berjalan dengan presisi: antrean, suara pengumuman, hingga langkah kaki para penumpang. Suasana ini sangat kontras dengan bandara-bandara di Indonesia yang akrab dengan riuh dan spontanitas.

Saat itu Jepang tengah memasuki musim dingin, dengan suhu sekitar 11 derajat Celsius. Anehnya, udara dingin itu tidak terasa menyiksa. Tanpa jaket pun, saya masih bisa menahannya—mungkin karena rasa antusias yang lebih hangat daripada cuaca itu sendiri.

Zebra cross, Shibuya | Foto Dok. Penulis

Perjalanan pun dimulai menuju pusat kota Osaka, tepatnya kawasan Shinsaibashi dan Dōtonbori. Dua kawasan ini dikenal sebagai denyut nadi kehidupan malam dan surga kuliner. Di tengah gemerlap lampu neon dan deretan restoran, mengalir sebuah sungai yang tenang, seolah menjadi penyeimbang hiruk-pikuk kota. Di atasnya berdiri papan iklan Glico yang ikonik, sebuah penanda visual yang selama ini hanya saya kenal dari layar dan foto. Berfoto di depan papan itu terasa seperti menegaskan: ya, saya benar-benar ada di sini.

Omiyage dan Makna Berbagi

Dari Dōtonbori, kami menuju pusat oleh-oleh atau omiyage. Dalam budaya Jepang, omiyage bukan sekadar buah tangan, melainkan simbol berbagi berkah dari perjalanan. Membawa pulang sesuatu berarti membawa cerita, pengalaman, dan rasa terima kasih.

Toko yang kami kunjungi adalah Don Quijote, sebuah toko serba ada yang penuh warna dan energi. Di sana, rak-rak tinggi dipenuhi berbagai barang—mulai dari makanan khas hingga suvenir unik. Saya menyadari bahwa di Jepang, bahkan aktivitas belanja pun terasa teratur dan efisien.

Kyoto: Percakapan dengan Sejarah

Perjalanan berlanjut menuju Kyoto, kota yang kerap disebut sebagai jantung kebudayaan Jepang. Di sinilah masa lalu dan masa kini saling menatap tanpa saling meniadakan.

Di belakang Tower Sky Tree, Tokyo | Foto Dok.Penulis

Kami mengunjungi Kiyomizu-dera, kuil Buddha kuno yang dibangun pada tahun 798 Masehi. Nama kuil ini berarti “air murni”, dan dari pelatarannya terbentang pemandangan pepohonan berwarna merah dan kuning—warna musim gugur yang seolah melukis alam dengan kuas waktu. Dari ketinggian, kota Kyoto terlihat tenang, seakan sedang berbisik tentang usia panjangnya.

Tak jauh dari sana, kami juga mengunjungi Fushimi Inari Taisha, kuil Shinto yang didedikasikan untuk Dewa Inari. Ribuan gerbang torii  merah berjajar membentuk lorong-lorong panjang yang menanjak. Selama ini, gerbang-gerbang itu hanya saya lihat melalui foto dan film. Namun, berjalan di antaranya secara langsung memberikan sensasi yang berbeda—seperti memasuki ruang spiritual yang berlapis-lapis. Patung-patung rubah (kitsune), simbol Inari, berdiri diam seolah menjadi penjaga antara dunia manusia dan yang ilahi.

Shirakawago: Kesederhanaan yang Bertahan

Hari kedua membawa kami ke Prefektur Gifu, tempat kami bermalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Desa Shirakawago. Desa ini terkenal dengan rumah-rumah tradisional beratap jerami curam bergaya Gasshō-zukuri, yang berarti “tangan berdoa”. Arsitektur ini bukan sekadar estetika, melainkan jawaban cerdas terhadap alam dan cuaca ekstrem.

Shirakawago telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Saya berharap dapat menyaksikan salju turun di desa ini, namun kenyataannya hujanlah yang menyambut. Meski demikian, suasana desa tetap memancarkan ketenangan. Di sini, saya belajar bahwa keindahan tidak selalu hadir sesuai harapan, tetapi tetap layak dinikmati dalam bentuk apa pun.

Salju Pertama dan Air Mata Diam

Dari Shirakawago, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Gunung Fuji. Di tengah perjalanan, salju turun dengan lebat. Inilah pertama kalinya saya melihat salju secara langsung. Kami berhenti di sebuah rest area, bermain salju meski hanya sebentar. Sentuhan dinginnya di telapak tangan terasa nyata; dan entah mengapa, momen itu membuat saya terharu. Saya merasa kecil di hadapan keindahan ciptaan Tuhan yang selama ini hanya saya kenal dari cerita dan gambar.

Di Kuil Asakusa | Foto Dok.Penulis

Takayama dan Jejak Zaman Edo

Perjalanan membawa kami ke Takayama, tepatnya kawasan Takayama Sanmachi. Jalanan tua dengan bangunan kayu khas zaman Edo berjejer rapi. Toko-toko tradisional, kedai sake, dan kerajinan tangan menciptakan suasana yang seolah menghentikan waktu. Di sini, sejarah tidak dipajang di museum, melainkan hidup dalam keseharian.

Menjelang sore, kami menuju Nagano untuk beristirahat. Tubuh lelah, tetapi pikiran justru penuh.

Fuji, Kawaguchi, dan Sunyi yang Megah

Hari keempat dimulai dengan kembali ke kawasan Gunung Fuji. Kami singgah di Danau Kawaguchi, yang menawarkan pantulan Gunung Fuji di permukaan airnya yang tenang. Udara semakin dingin, bahkan mencapai minus 9 derajat Celsius saat kami naik hingga Stasiun ke-5 (Gōgōme). Dingin itu menusuk, namun keindahannya terasa agung dan sunyi.

Kami juga mengunjungi Oshino Hakkai, desa dengan mata air jernih dari lelehan salju Gunung Fuji. Airnya bening, hampir seperti cermin. Daun-daun kuning yang gugur menambah kesan damai, seolah alam sedang mengajak untuk berhenti sejenak dan mendengarkan.

Hari itu ditutup dengan berbelanja di Gotemba Premium Outlet sebelum menuju Tokyo, kota metropolitan yang menjadi wajah modern Jepang.

Tokyo dan Kebebasan Menjelajah

Hari kelima adalah free day. Tanpa bus dan tanpa pemandu, saya menjelajah Tokyo dengan transportasi umum. Saya memilih menuju Kamakura, kota pesisir yang menawarkan pemandangan laut dan perjalanan kereta yang melintasi pantai. Ketertiban sistem transportasi Jepang kembali membuat saya kagum; segala sesuatu berjalan tepat waktu, tanpa tergesa.

Sore harinya, saya kembali ke Shibuya. Persimpangan pejalan kaki yang terkenal itu dipenuhi manusia dari berbagai arah, namun tetap teratur. Di sana berdiri Patung Hachikō, simbol kesetiaan yang melampaui waktu. Kisahnya sederhana, tetapi menggugah: menunggu, meski tahu tak akan bertemu lagi.

Hari Terakhir: Perpisahan yang Tenang

Hari keenam, hari terakhir di Jepang, kami mengunjungi Tokyo Skytree, menara tertinggi di Jepang. Dari ketinggian, kota Tokyo tampak seperti jaringan kehidupan yang kompleks namun teratur.

Kami melanjutkan ke Asakusa Kannon Temple, kuil tertua di Tokyo. Saya mengenakan kimono merah dan berjalan menyusuri Nakamise Street, menikmati jajanan tradisional sambil menyerap suasana spiritual yang lembut.

Perjalanan ditutup di Odaiba Diver City. Saya sempat tertinggal rombongan dan naik kereta otomatis tanpa masinis. Dari atas rel layang, pemandangan kota dan jembatan terlihat sangat indah. Di Odaiba, Patung Gundam dan Patung Liberty berdiri sebagai simbol perjumpaan budaya. Senja turun perlahan, diiringi musik lembut dan angin sore yang menenangkan.

Pertanyaan yang Tertinggal

Malam itu, kami menuju bandara untuk kembali ke Jakarta melalui Kuala Lumpur. Perjalanan ini bukan sekadar tentang destinasi, melainkan tentang pengalaman, budaya, dan pelajaran hidup. Jepang mengajarkan saya tentang disiplin, ketenangan, dan harmoni antara tradisi dan modernitas.

Fushimi Inari, Kyoto | Foto Dok.Penulis

Apakah saya bisa kembali ke sini? Jika bisa, saya ingin menelusuri lebih banyak sudut yang belum saya jamah. Pertanyaan itu terus terngiang; dan mungkin, justru itulah tanda bahwa sebuah perjalanan telah meninggalkan jejak yang tak mudah pudar. [T]

Penulis: Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
Editor: Adnyana Ole

Tags: catatan perjalananJepangNegeri Sakura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Isyarat dari Keranda Mayat

Next Post

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi

Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi

Alumni Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP Untirta, Banten

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails
Next Post
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co