13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
in Tualang
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Penulis di Gunung Fuji / Foto Dok.Penulis

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di atas bidang putih. Namun, di balik simbol sederhana itu, Jepang menyimpan lapisan pengalaman yang jauh lebih kompleks: ketertiban yang sunyi, keindahan yang tertata, dan kebudayaan yang hidup berdampingan dengan modernitas. Perjalanan saya ke Jepang bersama sebuah rombongan travel bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan sebuah ziarah pengalaman, menyusuri ruang, waktu, dan makna.

Langkah Pertama di Tanah Jepang

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Kansai ( Kansai Kokusai Kūkō), Osaka. Kesan pertama yang saya rasakan justru bukan hiruk-pikuk sebagaimana lazimnya bandara internasional, melainkan kesunyian yang rapi dan tertib. Segalanya berjalan dengan presisi: antrean, suara pengumuman, hingga langkah kaki para penumpang. Suasana ini sangat kontras dengan bandara-bandara di Indonesia yang akrab dengan riuh dan spontanitas.

Saat itu Jepang tengah memasuki musim dingin, dengan suhu sekitar 11 derajat Celsius. Anehnya, udara dingin itu tidak terasa menyiksa. Tanpa jaket pun, saya masih bisa menahannya—mungkin karena rasa antusias yang lebih hangat daripada cuaca itu sendiri.

Zebra cross, Shibuya | Foto Dok. Penulis

Perjalanan pun dimulai menuju pusat kota Osaka, tepatnya kawasan Shinsaibashi dan Dōtonbori. Dua kawasan ini dikenal sebagai denyut nadi kehidupan malam dan surga kuliner. Di tengah gemerlap lampu neon dan deretan restoran, mengalir sebuah sungai yang tenang, seolah menjadi penyeimbang hiruk-pikuk kota. Di atasnya berdiri papan iklan Glico yang ikonik, sebuah penanda visual yang selama ini hanya saya kenal dari layar dan foto. Berfoto di depan papan itu terasa seperti menegaskan: ya, saya benar-benar ada di sini.

Omiyage dan Makna Berbagi

Dari Dōtonbori, kami menuju pusat oleh-oleh atau omiyage. Dalam budaya Jepang, omiyage bukan sekadar buah tangan, melainkan simbol berbagi berkah dari perjalanan. Membawa pulang sesuatu berarti membawa cerita, pengalaman, dan rasa terima kasih.

Toko yang kami kunjungi adalah Don Quijote, sebuah toko serba ada yang penuh warna dan energi. Di sana, rak-rak tinggi dipenuhi berbagai barang—mulai dari makanan khas hingga suvenir unik. Saya menyadari bahwa di Jepang, bahkan aktivitas belanja pun terasa teratur dan efisien.

Kyoto: Percakapan dengan Sejarah

Perjalanan berlanjut menuju Kyoto, kota yang kerap disebut sebagai jantung kebudayaan Jepang. Di sinilah masa lalu dan masa kini saling menatap tanpa saling meniadakan.

Di belakang Tower Sky Tree, Tokyo | Foto Dok.Penulis

Kami mengunjungi Kiyomizu-dera, kuil Buddha kuno yang dibangun pada tahun 798 Masehi. Nama kuil ini berarti “air murni”, dan dari pelatarannya terbentang pemandangan pepohonan berwarna merah dan kuning—warna musim gugur yang seolah melukis alam dengan kuas waktu. Dari ketinggian, kota Kyoto terlihat tenang, seakan sedang berbisik tentang usia panjangnya.

Tak jauh dari sana, kami juga mengunjungi Fushimi Inari Taisha, kuil Shinto yang didedikasikan untuk Dewa Inari. Ribuan gerbang torii  merah berjajar membentuk lorong-lorong panjang yang menanjak. Selama ini, gerbang-gerbang itu hanya saya lihat melalui foto dan film. Namun, berjalan di antaranya secara langsung memberikan sensasi yang berbeda—seperti memasuki ruang spiritual yang berlapis-lapis. Patung-patung rubah (kitsune), simbol Inari, berdiri diam seolah menjadi penjaga antara dunia manusia dan yang ilahi.

Shirakawago: Kesederhanaan yang Bertahan

Hari kedua membawa kami ke Prefektur Gifu, tempat kami bermalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Desa Shirakawago. Desa ini terkenal dengan rumah-rumah tradisional beratap jerami curam bergaya Gasshō-zukuri, yang berarti “tangan berdoa”. Arsitektur ini bukan sekadar estetika, melainkan jawaban cerdas terhadap alam dan cuaca ekstrem.

Shirakawago telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Saya berharap dapat menyaksikan salju turun di desa ini, namun kenyataannya hujanlah yang menyambut. Meski demikian, suasana desa tetap memancarkan ketenangan. Di sini, saya belajar bahwa keindahan tidak selalu hadir sesuai harapan, tetapi tetap layak dinikmati dalam bentuk apa pun.

Salju Pertama dan Air Mata Diam

Dari Shirakawago, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Gunung Fuji. Di tengah perjalanan, salju turun dengan lebat. Inilah pertama kalinya saya melihat salju secara langsung. Kami berhenti di sebuah rest area, bermain salju meski hanya sebentar. Sentuhan dinginnya di telapak tangan terasa nyata; dan entah mengapa, momen itu membuat saya terharu. Saya merasa kecil di hadapan keindahan ciptaan Tuhan yang selama ini hanya saya kenal dari cerita dan gambar.

Di Kuil Asakusa | Foto Dok.Penulis

Takayama dan Jejak Zaman Edo

Perjalanan membawa kami ke Takayama, tepatnya kawasan Takayama Sanmachi. Jalanan tua dengan bangunan kayu khas zaman Edo berjejer rapi. Toko-toko tradisional, kedai sake, dan kerajinan tangan menciptakan suasana yang seolah menghentikan waktu. Di sini, sejarah tidak dipajang di museum, melainkan hidup dalam keseharian.

Menjelang sore, kami menuju Nagano untuk beristirahat. Tubuh lelah, tetapi pikiran justru penuh.

Fuji, Kawaguchi, dan Sunyi yang Megah

Hari keempat dimulai dengan kembali ke kawasan Gunung Fuji. Kami singgah di Danau Kawaguchi, yang menawarkan pantulan Gunung Fuji di permukaan airnya yang tenang. Udara semakin dingin, bahkan mencapai minus 9 derajat Celsius saat kami naik hingga Stasiun ke-5 (Gōgōme). Dingin itu menusuk, namun keindahannya terasa agung dan sunyi.

Kami juga mengunjungi Oshino Hakkai, desa dengan mata air jernih dari lelehan salju Gunung Fuji. Airnya bening, hampir seperti cermin. Daun-daun kuning yang gugur menambah kesan damai, seolah alam sedang mengajak untuk berhenti sejenak dan mendengarkan.

Hari itu ditutup dengan berbelanja di Gotemba Premium Outlet sebelum menuju Tokyo, kota metropolitan yang menjadi wajah modern Jepang.

Tokyo dan Kebebasan Menjelajah

Hari kelima adalah free day. Tanpa bus dan tanpa pemandu, saya menjelajah Tokyo dengan transportasi umum. Saya memilih menuju Kamakura, kota pesisir yang menawarkan pemandangan laut dan perjalanan kereta yang melintasi pantai. Ketertiban sistem transportasi Jepang kembali membuat saya kagum; segala sesuatu berjalan tepat waktu, tanpa tergesa.

Sore harinya, saya kembali ke Shibuya. Persimpangan pejalan kaki yang terkenal itu dipenuhi manusia dari berbagai arah, namun tetap teratur. Di sana berdiri Patung Hachikō, simbol kesetiaan yang melampaui waktu. Kisahnya sederhana, tetapi menggugah: menunggu, meski tahu tak akan bertemu lagi.

Hari Terakhir: Perpisahan yang Tenang

Hari keenam, hari terakhir di Jepang, kami mengunjungi Tokyo Skytree, menara tertinggi di Jepang. Dari ketinggian, kota Tokyo tampak seperti jaringan kehidupan yang kompleks namun teratur.

Kami melanjutkan ke Asakusa Kannon Temple, kuil tertua di Tokyo. Saya mengenakan kimono merah dan berjalan menyusuri Nakamise Street, menikmati jajanan tradisional sambil menyerap suasana spiritual yang lembut.

Perjalanan ditutup di Odaiba Diver City. Saya sempat tertinggal rombongan dan naik kereta otomatis tanpa masinis. Dari atas rel layang, pemandangan kota dan jembatan terlihat sangat indah. Di Odaiba, Patung Gundam dan Patung Liberty berdiri sebagai simbol perjumpaan budaya. Senja turun perlahan, diiringi musik lembut dan angin sore yang menenangkan.

Pertanyaan yang Tertinggal

Malam itu, kami menuju bandara untuk kembali ke Jakarta melalui Kuala Lumpur. Perjalanan ini bukan sekadar tentang destinasi, melainkan tentang pengalaman, budaya, dan pelajaran hidup. Jepang mengajarkan saya tentang disiplin, ketenangan, dan harmoni antara tradisi dan modernitas.

Fushimi Inari, Kyoto | Foto Dok.Penulis

Apakah saya bisa kembali ke sini? Jika bisa, saya ingin menelusuri lebih banyak sudut yang belum saya jamah. Pertanyaan itu terus terngiang; dan mungkin, justru itulah tanda bahwa sebuah perjalanan telah meninggalkan jejak yang tak mudah pudar. [T]

Penulis: Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
Editor: Adnyana Ole

Tags: catatan perjalananJepangNegeri Sakura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Isyarat dari Keranda Mayat

Next Post

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi

Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi

Alumni Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP Untirta, Banten

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co