14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
in Tualang
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Penulis di Gunung Fuji / Foto Dok.Penulis

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di atas bidang putih. Namun, di balik simbol sederhana itu, Jepang menyimpan lapisan pengalaman yang jauh lebih kompleks: ketertiban yang sunyi, keindahan yang tertata, dan kebudayaan yang hidup berdampingan dengan modernitas. Perjalanan saya ke Jepang bersama sebuah rombongan travel bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan sebuah ziarah pengalaman, menyusuri ruang, waktu, dan makna.

Langkah Pertama di Tanah Jepang

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Kansai ( Kansai Kokusai Kūkō), Osaka. Kesan pertama yang saya rasakan justru bukan hiruk-pikuk sebagaimana lazimnya bandara internasional, melainkan kesunyian yang rapi dan tertib. Segalanya berjalan dengan presisi: antrean, suara pengumuman, hingga langkah kaki para penumpang. Suasana ini sangat kontras dengan bandara-bandara di Indonesia yang akrab dengan riuh dan spontanitas.

Saat itu Jepang tengah memasuki musim dingin, dengan suhu sekitar 11 derajat Celsius. Anehnya, udara dingin itu tidak terasa menyiksa. Tanpa jaket pun, saya masih bisa menahannya—mungkin karena rasa antusias yang lebih hangat daripada cuaca itu sendiri.

Zebra cross, Shibuya | Foto Dok. Penulis

Perjalanan pun dimulai menuju pusat kota Osaka, tepatnya kawasan Shinsaibashi dan Dōtonbori. Dua kawasan ini dikenal sebagai denyut nadi kehidupan malam dan surga kuliner. Di tengah gemerlap lampu neon dan deretan restoran, mengalir sebuah sungai yang tenang, seolah menjadi penyeimbang hiruk-pikuk kota. Di atasnya berdiri papan iklan Glico yang ikonik, sebuah penanda visual yang selama ini hanya saya kenal dari layar dan foto. Berfoto di depan papan itu terasa seperti menegaskan: ya, saya benar-benar ada di sini.

Omiyage dan Makna Berbagi

Dari Dōtonbori, kami menuju pusat oleh-oleh atau omiyage. Dalam budaya Jepang, omiyage bukan sekadar buah tangan, melainkan simbol berbagi berkah dari perjalanan. Membawa pulang sesuatu berarti membawa cerita, pengalaman, dan rasa terima kasih.

Toko yang kami kunjungi adalah Don Quijote, sebuah toko serba ada yang penuh warna dan energi. Di sana, rak-rak tinggi dipenuhi berbagai barang—mulai dari makanan khas hingga suvenir unik. Saya menyadari bahwa di Jepang, bahkan aktivitas belanja pun terasa teratur dan efisien.

Kyoto: Percakapan dengan Sejarah

Perjalanan berlanjut menuju Kyoto, kota yang kerap disebut sebagai jantung kebudayaan Jepang. Di sinilah masa lalu dan masa kini saling menatap tanpa saling meniadakan.

Di belakang Tower Sky Tree, Tokyo | Foto Dok.Penulis

Kami mengunjungi Kiyomizu-dera, kuil Buddha kuno yang dibangun pada tahun 798 Masehi. Nama kuil ini berarti “air murni”, dan dari pelatarannya terbentang pemandangan pepohonan berwarna merah dan kuning—warna musim gugur yang seolah melukis alam dengan kuas waktu. Dari ketinggian, kota Kyoto terlihat tenang, seakan sedang berbisik tentang usia panjangnya.

Tak jauh dari sana, kami juga mengunjungi Fushimi Inari Taisha, kuil Shinto yang didedikasikan untuk Dewa Inari. Ribuan gerbang torii  merah berjajar membentuk lorong-lorong panjang yang menanjak. Selama ini, gerbang-gerbang itu hanya saya lihat melalui foto dan film. Namun, berjalan di antaranya secara langsung memberikan sensasi yang berbeda—seperti memasuki ruang spiritual yang berlapis-lapis. Patung-patung rubah (kitsune), simbol Inari, berdiri diam seolah menjadi penjaga antara dunia manusia dan yang ilahi.

Shirakawago: Kesederhanaan yang Bertahan

Hari kedua membawa kami ke Prefektur Gifu, tempat kami bermalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Desa Shirakawago. Desa ini terkenal dengan rumah-rumah tradisional beratap jerami curam bergaya Gasshō-zukuri, yang berarti “tangan berdoa”. Arsitektur ini bukan sekadar estetika, melainkan jawaban cerdas terhadap alam dan cuaca ekstrem.

Shirakawago telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Saya berharap dapat menyaksikan salju turun di desa ini, namun kenyataannya hujanlah yang menyambut. Meski demikian, suasana desa tetap memancarkan ketenangan. Di sini, saya belajar bahwa keindahan tidak selalu hadir sesuai harapan, tetapi tetap layak dinikmati dalam bentuk apa pun.

Salju Pertama dan Air Mata Diam

Dari Shirakawago, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Gunung Fuji. Di tengah perjalanan, salju turun dengan lebat. Inilah pertama kalinya saya melihat salju secara langsung. Kami berhenti di sebuah rest area, bermain salju meski hanya sebentar. Sentuhan dinginnya di telapak tangan terasa nyata; dan entah mengapa, momen itu membuat saya terharu. Saya merasa kecil di hadapan keindahan ciptaan Tuhan yang selama ini hanya saya kenal dari cerita dan gambar.

Di Kuil Asakusa | Foto Dok.Penulis

Takayama dan Jejak Zaman Edo

Perjalanan membawa kami ke Takayama, tepatnya kawasan Takayama Sanmachi. Jalanan tua dengan bangunan kayu khas zaman Edo berjejer rapi. Toko-toko tradisional, kedai sake, dan kerajinan tangan menciptakan suasana yang seolah menghentikan waktu. Di sini, sejarah tidak dipajang di museum, melainkan hidup dalam keseharian.

Menjelang sore, kami menuju Nagano untuk beristirahat. Tubuh lelah, tetapi pikiran justru penuh.

Fuji, Kawaguchi, dan Sunyi yang Megah

Hari keempat dimulai dengan kembali ke kawasan Gunung Fuji. Kami singgah di Danau Kawaguchi, yang menawarkan pantulan Gunung Fuji di permukaan airnya yang tenang. Udara semakin dingin, bahkan mencapai minus 9 derajat Celsius saat kami naik hingga Stasiun ke-5 (Gōgōme). Dingin itu menusuk, namun keindahannya terasa agung dan sunyi.

Kami juga mengunjungi Oshino Hakkai, desa dengan mata air jernih dari lelehan salju Gunung Fuji. Airnya bening, hampir seperti cermin. Daun-daun kuning yang gugur menambah kesan damai, seolah alam sedang mengajak untuk berhenti sejenak dan mendengarkan.

Hari itu ditutup dengan berbelanja di Gotemba Premium Outlet sebelum menuju Tokyo, kota metropolitan yang menjadi wajah modern Jepang.

Tokyo dan Kebebasan Menjelajah

Hari kelima adalah free day. Tanpa bus dan tanpa pemandu, saya menjelajah Tokyo dengan transportasi umum. Saya memilih menuju Kamakura, kota pesisir yang menawarkan pemandangan laut dan perjalanan kereta yang melintasi pantai. Ketertiban sistem transportasi Jepang kembali membuat saya kagum; segala sesuatu berjalan tepat waktu, tanpa tergesa.

Sore harinya, saya kembali ke Shibuya. Persimpangan pejalan kaki yang terkenal itu dipenuhi manusia dari berbagai arah, namun tetap teratur. Di sana berdiri Patung Hachikō, simbol kesetiaan yang melampaui waktu. Kisahnya sederhana, tetapi menggugah: menunggu, meski tahu tak akan bertemu lagi.

Hari Terakhir: Perpisahan yang Tenang

Hari keenam, hari terakhir di Jepang, kami mengunjungi Tokyo Skytree, menara tertinggi di Jepang. Dari ketinggian, kota Tokyo tampak seperti jaringan kehidupan yang kompleks namun teratur.

Kami melanjutkan ke Asakusa Kannon Temple, kuil tertua di Tokyo. Saya mengenakan kimono merah dan berjalan menyusuri Nakamise Street, menikmati jajanan tradisional sambil menyerap suasana spiritual yang lembut.

Perjalanan ditutup di Odaiba Diver City. Saya sempat tertinggal rombongan dan naik kereta otomatis tanpa masinis. Dari atas rel layang, pemandangan kota dan jembatan terlihat sangat indah. Di Odaiba, Patung Gundam dan Patung Liberty berdiri sebagai simbol perjumpaan budaya. Senja turun perlahan, diiringi musik lembut dan angin sore yang menenangkan.

Pertanyaan yang Tertinggal

Malam itu, kami menuju bandara untuk kembali ke Jakarta melalui Kuala Lumpur. Perjalanan ini bukan sekadar tentang destinasi, melainkan tentang pengalaman, budaya, dan pelajaran hidup. Jepang mengajarkan saya tentang disiplin, ketenangan, dan harmoni antara tradisi dan modernitas.

Fushimi Inari, Kyoto | Foto Dok.Penulis

Apakah saya bisa kembali ke sini? Jika bisa, saya ingin menelusuri lebih banyak sudut yang belum saya jamah. Pertanyaan itu terus terngiang; dan mungkin, justru itulah tanda bahwa sebuah perjalanan telah meninggalkan jejak yang tak mudah pudar. [T]

Penulis: Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
Editor: Adnyana Ole

Tags: catatan perjalananJepangNegeri Sakura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Isyarat dari Keranda Mayat

Next Post

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi

Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi

Alumni Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP Untirta, Banten

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co