22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
in Tualang
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Penulis di Gunung Fuji / Foto Dok.Penulis

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di atas bidang putih. Namun, di balik simbol sederhana itu, Jepang menyimpan lapisan pengalaman yang jauh lebih kompleks: ketertiban yang sunyi, keindahan yang tertata, dan kebudayaan yang hidup berdampingan dengan modernitas. Perjalanan saya ke Jepang bersama sebuah rombongan travel bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan sebuah ziarah pengalaman, menyusuri ruang, waktu, dan makna.

Langkah Pertama di Tanah Jepang

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Kansai ( Kansai Kokusai Kūkō), Osaka. Kesan pertama yang saya rasakan justru bukan hiruk-pikuk sebagaimana lazimnya bandara internasional, melainkan kesunyian yang rapi dan tertib. Segalanya berjalan dengan presisi: antrean, suara pengumuman, hingga langkah kaki para penumpang. Suasana ini sangat kontras dengan bandara-bandara di Indonesia yang akrab dengan riuh dan spontanitas.

Saat itu Jepang tengah memasuki musim dingin, dengan suhu sekitar 11 derajat Celsius. Anehnya, udara dingin itu tidak terasa menyiksa. Tanpa jaket pun, saya masih bisa menahannya—mungkin karena rasa antusias yang lebih hangat daripada cuaca itu sendiri.

Zebra cross, Shibuya | Foto Dok. Penulis

Perjalanan pun dimulai menuju pusat kota Osaka, tepatnya kawasan Shinsaibashi dan Dōtonbori. Dua kawasan ini dikenal sebagai denyut nadi kehidupan malam dan surga kuliner. Di tengah gemerlap lampu neon dan deretan restoran, mengalir sebuah sungai yang tenang, seolah menjadi penyeimbang hiruk-pikuk kota. Di atasnya berdiri papan iklan Glico yang ikonik, sebuah penanda visual yang selama ini hanya saya kenal dari layar dan foto. Berfoto di depan papan itu terasa seperti menegaskan: ya, saya benar-benar ada di sini.

Omiyage dan Makna Berbagi

Dari Dōtonbori, kami menuju pusat oleh-oleh atau omiyage. Dalam budaya Jepang, omiyage bukan sekadar buah tangan, melainkan simbol berbagi berkah dari perjalanan. Membawa pulang sesuatu berarti membawa cerita, pengalaman, dan rasa terima kasih.

Toko yang kami kunjungi adalah Don Quijote, sebuah toko serba ada yang penuh warna dan energi. Di sana, rak-rak tinggi dipenuhi berbagai barang—mulai dari makanan khas hingga suvenir unik. Saya menyadari bahwa di Jepang, bahkan aktivitas belanja pun terasa teratur dan efisien.

Kyoto: Percakapan dengan Sejarah

Perjalanan berlanjut menuju Kyoto, kota yang kerap disebut sebagai jantung kebudayaan Jepang. Di sinilah masa lalu dan masa kini saling menatap tanpa saling meniadakan.

Di belakang Tower Sky Tree, Tokyo | Foto Dok.Penulis

Kami mengunjungi Kiyomizu-dera, kuil Buddha kuno yang dibangun pada tahun 798 Masehi. Nama kuil ini berarti “air murni”, dan dari pelatarannya terbentang pemandangan pepohonan berwarna merah dan kuning—warna musim gugur yang seolah melukis alam dengan kuas waktu. Dari ketinggian, kota Kyoto terlihat tenang, seakan sedang berbisik tentang usia panjangnya.

Tak jauh dari sana, kami juga mengunjungi Fushimi Inari Taisha, kuil Shinto yang didedikasikan untuk Dewa Inari. Ribuan gerbang torii  merah berjajar membentuk lorong-lorong panjang yang menanjak. Selama ini, gerbang-gerbang itu hanya saya lihat melalui foto dan film. Namun, berjalan di antaranya secara langsung memberikan sensasi yang berbeda—seperti memasuki ruang spiritual yang berlapis-lapis. Patung-patung rubah (kitsune), simbol Inari, berdiri diam seolah menjadi penjaga antara dunia manusia dan yang ilahi.

Shirakawago: Kesederhanaan yang Bertahan

Hari kedua membawa kami ke Prefektur Gifu, tempat kami bermalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Desa Shirakawago. Desa ini terkenal dengan rumah-rumah tradisional beratap jerami curam bergaya Gasshō-zukuri, yang berarti “tangan berdoa”. Arsitektur ini bukan sekadar estetika, melainkan jawaban cerdas terhadap alam dan cuaca ekstrem.

Shirakawago telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Saya berharap dapat menyaksikan salju turun di desa ini, namun kenyataannya hujanlah yang menyambut. Meski demikian, suasana desa tetap memancarkan ketenangan. Di sini, saya belajar bahwa keindahan tidak selalu hadir sesuai harapan, tetapi tetap layak dinikmati dalam bentuk apa pun.

Salju Pertama dan Air Mata Diam

Dari Shirakawago, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Gunung Fuji. Di tengah perjalanan, salju turun dengan lebat. Inilah pertama kalinya saya melihat salju secara langsung. Kami berhenti di sebuah rest area, bermain salju meski hanya sebentar. Sentuhan dinginnya di telapak tangan terasa nyata; dan entah mengapa, momen itu membuat saya terharu. Saya merasa kecil di hadapan keindahan ciptaan Tuhan yang selama ini hanya saya kenal dari cerita dan gambar.

Di Kuil Asakusa | Foto Dok.Penulis

Takayama dan Jejak Zaman Edo

Perjalanan membawa kami ke Takayama, tepatnya kawasan Takayama Sanmachi. Jalanan tua dengan bangunan kayu khas zaman Edo berjejer rapi. Toko-toko tradisional, kedai sake, dan kerajinan tangan menciptakan suasana yang seolah menghentikan waktu. Di sini, sejarah tidak dipajang di museum, melainkan hidup dalam keseharian.

Menjelang sore, kami menuju Nagano untuk beristirahat. Tubuh lelah, tetapi pikiran justru penuh.

Fuji, Kawaguchi, dan Sunyi yang Megah

Hari keempat dimulai dengan kembali ke kawasan Gunung Fuji. Kami singgah di Danau Kawaguchi, yang menawarkan pantulan Gunung Fuji di permukaan airnya yang tenang. Udara semakin dingin, bahkan mencapai minus 9 derajat Celsius saat kami naik hingga Stasiun ke-5 (Gōgōme). Dingin itu menusuk, namun keindahannya terasa agung dan sunyi.

Kami juga mengunjungi Oshino Hakkai, desa dengan mata air jernih dari lelehan salju Gunung Fuji. Airnya bening, hampir seperti cermin. Daun-daun kuning yang gugur menambah kesan damai, seolah alam sedang mengajak untuk berhenti sejenak dan mendengarkan.

Hari itu ditutup dengan berbelanja di Gotemba Premium Outlet sebelum menuju Tokyo, kota metropolitan yang menjadi wajah modern Jepang.

Tokyo dan Kebebasan Menjelajah

Hari kelima adalah free day. Tanpa bus dan tanpa pemandu, saya menjelajah Tokyo dengan transportasi umum. Saya memilih menuju Kamakura, kota pesisir yang menawarkan pemandangan laut dan perjalanan kereta yang melintasi pantai. Ketertiban sistem transportasi Jepang kembali membuat saya kagum; segala sesuatu berjalan tepat waktu, tanpa tergesa.

Sore harinya, saya kembali ke Shibuya. Persimpangan pejalan kaki yang terkenal itu dipenuhi manusia dari berbagai arah, namun tetap teratur. Di sana berdiri Patung Hachikō, simbol kesetiaan yang melampaui waktu. Kisahnya sederhana, tetapi menggugah: menunggu, meski tahu tak akan bertemu lagi.

Hari Terakhir: Perpisahan yang Tenang

Hari keenam, hari terakhir di Jepang, kami mengunjungi Tokyo Skytree, menara tertinggi di Jepang. Dari ketinggian, kota Tokyo tampak seperti jaringan kehidupan yang kompleks namun teratur.

Kami melanjutkan ke Asakusa Kannon Temple, kuil tertua di Tokyo. Saya mengenakan kimono merah dan berjalan menyusuri Nakamise Street, menikmati jajanan tradisional sambil menyerap suasana spiritual yang lembut.

Perjalanan ditutup di Odaiba Diver City. Saya sempat tertinggal rombongan dan naik kereta otomatis tanpa masinis. Dari atas rel layang, pemandangan kota dan jembatan terlihat sangat indah. Di Odaiba, Patung Gundam dan Patung Liberty berdiri sebagai simbol perjumpaan budaya. Senja turun perlahan, diiringi musik lembut dan angin sore yang menenangkan.

Pertanyaan yang Tertinggal

Malam itu, kami menuju bandara untuk kembali ke Jakarta melalui Kuala Lumpur. Perjalanan ini bukan sekadar tentang destinasi, melainkan tentang pengalaman, budaya, dan pelajaran hidup. Jepang mengajarkan saya tentang disiplin, ketenangan, dan harmoni antara tradisi dan modernitas.

Fushimi Inari, Kyoto | Foto Dok.Penulis

Apakah saya bisa kembali ke sini? Jika bisa, saya ingin menelusuri lebih banyak sudut yang belum saya jamah. Pertanyaan itu terus terngiang; dan mungkin, justru itulah tanda bahwa sebuah perjalanan telah meninggalkan jejak yang tak mudah pudar. [T]

Penulis: Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
Editor: Adnyana Ole

Tags: catatan perjalananJepangNegeri Sakura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Isyarat dari Keranda Mayat

Next Post

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi

Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi

Alumni Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP Untirta, Banten

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co