13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Isyarat dari Keranda Mayat

Chusmeru by Chusmeru
January 8, 2026
in Fiksi
Isyarat dari Keranda Mayat

USIANYA sudah menginjak angka tujuh puluh. Wartam Kliwon, begitu ia biasa dipanggil; masih tampak sehat dan lincah. Terlahir di hari Kamis Kliwon, ia beruntung masih diberi umur panjang. Beberapa teman kecilnya sudah ada yang terlebih dahulu menghadap Sang Kuasa.

Wartam Kliwon menyadari usianya tak lagi muda. Karenanya ia tinggalkan pekerjaan sebagai petani penggarap sawah milik tetangganya. Ia kini lebih fokus menjalani profesi juru kunci atau penjaga makam yang sudah sejak dulu ia geluti selain sebagai petani. Sebagai juru kunci makam ia tak harus berpanas-panasan di terik matahari.

Penghasilan sebagai penjaga makam tidak terlalu besar. Itu diperolehnya dari iuran warga di desanya. Wartam Kliwon mensyukurinya. Meskipun harga-harga kebutuhan pokok terus melonjak, Wartam Kliwon masih mampu menafkahi istrinya yang sudah lama sakit, menderita kanker payudara. Sedangkan tiga orang anak dan cucu-cucu tidak lagi tinggal bersama Wartam Kliwon.

Rizki yang diperoleh Wartam bukan hanya dari penghasilan bulanan. Kadang ia juga mendapat tambahan penghasilan dari orang-orang yang berziarah. Wartam membantu membersihkan makam sanak famili orang yang berziarah. Mereka memberi uang sekadarnya kepada Wartam. Bukan hanya membersihkan makam, Wartam juga turut membantu membacakan doa kubur bagi yang berziarah. Jika menjelang bulan Ramadan penghasilan tambahan Wartam cukup lumayan untuk bekal lebaran.

Banyak suka duka menjadi juru kunci makam. Sukanya, banyak keluarga yang sedang berduka menjadi senang ketika Wartam memilihkan lokasi pemakaman yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk area makam. Namun Wartam juga kadang menjumpai hal-hal yang kurang berkenan. Saat proses penggalian tanah makam oleh para penggali kubur, mendadak tanah makam di sebelahnya runtuh berguguran. Keluarga yang makam kerabatnya gugur akan komplain kepada Wartam.

Pengalaman kurang menyenangkan pernah diarasakan Wartam. Ia harus ke area pemakaman malam hari, karena ada jenazah korban kecelakaan, pembunuhan, atau bunuh diri yang harus segera dimakamkan. Waktu yang seharusnya ia gunakan untuk istirahat di rumah terpaksa masih harus bekerja malam hari. Belum lagi jika hujan lebat di malam hari, Wartam tetap harus berada di pemakaman, di antara para pengantar jenazah.

Semua pengalaman suka dan duka Wartam jalani secara ikhlas. Ia memang ingin mengabdi kepada masyarakat sebagai juru kunci makam. Kalau pun dari pengabdiannya ia mendapat rizki, maka harus disyukuri. Andai dari pekerjaannya ia dicaci orang, itu pun akan ia terima dengan lapang dada.

***

Wartam Kliwon masih di area tanah makam. Hari sudah menjelang senja. Ia baru saja selesai membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitar batu nisan para penghuni makam. Hal seperti itu ia kerjakan setiap hari. Bila tidak dibersihkan, rumput-rumput liar akan semakin rimbun menutupi batu nisan. Apalagi jika musim hujan tiba, rumput itu begitu cepat tumbuh.

Saat hendak mengunci gudang tempat penyimpanan keranda mayat, Wartam dikejutkan oleh suara gaduh dari dalam gudang. Suara itu begitu jelas terdengar. Wartam mengurungkan niatnya mengunci gudang. Ia masuk ke dalam gudang. Ia kaget sekaligus merinding. Keranda mayat yang berupa kereta dorong itu bergoyang ke kanan dan ke kiri, membentur benda-benda lain di gudang sehingga menimbulkan suara gaduh.

 Wartam mencoba menenangkan diri. Bukan sekali dua kali ia menghadapi kejadian misterius seperti ini. Ia bahkan sering melihat penampakan arwah gentayangan di sekitar tanah makam. Biasanya mereka yang salah pati atau meninggal tidak wajar sering menampakkan diri dalam wujud yang menyeramkan.

Tidak ingin mengalami kejadian yang membuat merinding sendirian, Wartam memutuskan untuk pulang ke rumah. Segera ia mandi. Azan magrib berkumandang dari masjid tak jauh dari rumahnya. Setelah salat magrib Wartam bersiap makan malam. Baru saja ia selesai menyantap makanan, terdengar pengumuman yang terdengar dari pengeras suara masjid.

“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Telah meninggal dunia Bapak Suyanto, warga RT 6 RW 2 di rumah sakit,” kata Pak Kayim yang biasa mengumumkan warga yang meninggal dunia lewat pengeras suara masjid. Pak Kayim juga yang bertugas memimpin prosesi pemakaman warga yang meninggal di desa.

Betapa terkejut Wartam mendengar berita duka itu. Ia teringat kejadian sore tadi di gudang makam. Ia teringat kembali keranda mayat yang bergerak menimbulkan suara gaduh di dalam gudang. Apakah suara gaduh keranda mayat itu sebagai isyarat kematian bagi warganya, pikir Wartam.

Jika ada warga yang meninggal, maka Wartam kembali disibukkan dengan pekerjaan mencari lahan yang masih kosong untuk lubang jenazah. Ia pula yang harus menyiapkan keranda mayat untuk mengangkut jenazah. Pekerjaan yang rutin ia lakukan.

Hari-hari selajutnya Wartam seperti biasa sudah berada di area tanah pemakaman pagi hari. Rumput di sekitar tanah makam belum terlalu rimbun. Namun daun kering dari pohon bunga kamboja dan pohon sengon yang ada di pemakaman berjatuhan mengotori batu nisan. Wartam mengambil sapu lidi untuk menyapu dedaunan kering itu. Dikumpulkannya daun-daun kering di beberapa sudut tanah makam untuk ia bakar.

Tengah asyik membakar daun-daun kering, Wartam dikejutkan dengan suara gaduh dari dalam gudang penyimpanan keranda mayat. Tidak terlalu keras, namun terdengar jelas dari sudut tanah makam. Dengan sedikit berdebar, Wartam membuka pintu gudang. Ia lihat keranda mayat bergoyang pelan. Tidak seperti beberapa hari yang lalu ketika terdengar suara sangat gaduh lantaran keranda mayat bergoyang kencang. Kali ini pelan, meski tetap mengeluarkan bunyi gaduh.

“Siapa lagi yang akan meninggal?” tanya Wartam lirih kepada dirinya sendiri.

Kini Wartam mulai menghubungkan kegaduhan keranda mayat di dalam gudang dengan warga yang akan meninggal. Seolah keranda mayat itu memberi tahu Wartam untuk bersiap mengeluarkannya untuk mengusung jenazah.

Malam hari Wartam duduk di depan rumah sambil mengisap rokoknya. Sambil membayangkan keranda yang bergoyang pelan, ia menunggu pengumuman dari masjid. Namun hingga larut malam Pak Kayim belum mengumumkan warga yang meninggal. Wartam beranjak ke kamar untuk tidur. Ia tak lagi menunggu pengumuman. Setiap orang juga akan meninggal, entah kapan waktunya, pikir Wartam.

Menjelang subuh Wartam bangun tidur. Itu kebiasaan dia setiap hari. Pukul berapa pun ia berangkat tidur, menjelang subuh pasti sudah bangun. Secangkir kopi dan sebatang rokok ia habiskan sebelum berkumandang azan subuh di masjid. Istrinya bersiap memasak nasi di dapur. Meski menderita kanker ganas, istri Wartam masih dapat melakukan pekerjaan ringan di rumah. Pekerjaan lainnya diatasi oleh Wartam, termasuk menyapu halaman rumah.

Waktu subuh sudah lama berlalu. Semburat matahari mulai tampak di arah timur. Wartam membersihkan halaman rumahnya. Sesaat kemudian terdengar suara Pak Kayim mengumumkan dari pengeras suara masjid.

“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Telah meninggal dunia ananda Dimas Raditya warga RT 1 RW 4 di rumah sakit,” kata Pak Kayim yang terdengar jelas ke wilayah sekitar masjid.

Wartam Kliwon menghentikan menyapu halaman rumah. Ia tertegun. Ternyata suara gaduh keranda mayat yang tidak terlalu keras sebagai isyarat anak kecil yang meninggal dunia. Wartam bergegas menyelesaikan menyapu halaman rumah untuk bersiap ke kuburan. Ia harus menyiapkan peralatan pemakaman sekaligus mencari lahan kosong untuk jenazah.

                                                                        ***

Kematian adalah rahasia Tuhan. Tidak seorang pun tahu kapan ia akan meninggalkan dunia ini. Kalaupun Wartam mendapat isyarat kematian seseorang dari keranda mayat yang gaduh, bukan berarti ia tahu persis siapa yang akan masuk ke dalam liang kubur. Wartam hanya menduga-duga akan ada warga yang meninggal.

Pagi yang mendung dan berkabut. Udara terasa lebih dingin dari hari biasanya. Wartam sedikit malas untuk pergi ke tanah makam. Ia masih duduk di depan rumah sambil merokok. Istrinya mengingatkan Wartam.

“Belum berangkat ke kuburan, Pak?” tanya istri Wartam.

“Sebentar lagi, Bu,” jawab Wartam singkat.

Wartam mengambil cangkul yang ia simpan di samping rumah. Tak lupa ia gunakan tudung atau caping untuk mengurangi sengat matahari siang nanti. Setelah berpamitan dengan istrinya, Wartam melangkah menuju tanah makam. Matahari sedikit demi sedikit menyingkirkan mendung dan kabut yang membuat Wartam bermalas-malasan.

Tanah makam tidak terlalu kotor. Angin sedari kemarin memang hanya bertiup sepoi basa, sehingga tidak banyak daun yang berjatuhan. Wartam memandangi satu per satu batu nisan di kuburan. Hal itu selalu ia lakukan setiap akan memulai pekerjaan membersihkan kuburan.

Saat matanya tertuju ke gudang tempat menyimpan keranda dan peralatan pemakaman, ia dikejutkan dengan pintu gudang yang bergerak, seperti ada yang mengguncang dari dalam. Selanjutnya terdengar “Brraakkk”, seperti benda jatuh. Wartam terkejut. Ia segera menuju gudang.

 Kaget bukan kepalang ketika pintu gudang dibuka. Payung yang biasanya digunakan untuk mengantar jenazah ke pemakaman jatuh menimpa keranda mayat. Bukan hanya itu, payung jenazah yang terbuat dari bahan kertas itu dalam keadaan terbuka. Bulu kuduk Wartam berdiri.

“Isyarat apa lagi ini?” tanya Wartam sambil berbisik entah kepada siapa.

Selama ini ia hanya mendapat isyarat suara gaduh keranda mayat sebagai pertanda akan ada warga yang meninggal. Kali ini ia melihat payung jenazah yang jatuh dan terbuka. Segera ia benahi payung jenazah itu dan ditutupnya kembali. Aura mistis ia rasakan saat meletakkan kembali payung jenazah ke tempat penyimpanan.

Wartam memutuskan untuk pulang ke rumah lebih cepat. Tidak seperti biasanya, ia merasa ada yang berbeda dari isyarat payung jenazah yang terjatuh tadi. Melihat suaminya pulang lebih awal, istri Wartam sedikit heran.

“Kok pulang cepat, Pak?” tanya istri Wartam.

“Ada yang aneh, Bu. Payung jenazah di gudang jatuh dan terbuka,” ujar Wartam sambil duduk dan minum air putih untuk menenangkan diri.

 “Mungkin akan ada orang penting yang meninggal, Pak,” kata istrinya.

“Orang penting…? Siapa?” tanya Wartam tak paham maksud istrinya.

“Orang penting yang selama ini mengayomi warga,” jawab istrinya membuat Wartam berpikir dan menerka orang penting itu.

Belum tuntas Wartam dan istrinya membahas payung jenazah yang terjatuh, terdengar pengumuman dari masjid. Pak Kayim menyampaikan kabar duka. Sumitro, kepala desa meninggal dunia beberapa saat yang lalu. Wartam dan istrinya saling pandang. Terjawab sudah isyarat payung jenazah yang jatuh. Kepala desa yang selama ini mengayomi warga meninggal dunia.

Semakin bertambah isyarat kematian yang diperoleh Wartam dari gudang di tanah makam. Hanya saja ia tak dapat menerka siapa yang akan meninggal. Pengetahuan tentang tafsir isyarat kematian tidak pernah ia pelajari. Orang tuanya dulu juga tidak pernah mengajarkan hal itu.

 Wartam hanya dapat mengira akan ada warga yang meninggal ketika terjadi kegaduhan di dalam gudang tanah makam. Seperti sore ini, Wartam dikagetkan dengan suara gaduh di dalam gudang. Suara itu begitu menganggunya. Seolah bukan hanya suara keranda mayat yang bergoyang. Bising dan berkepanjangan. Tidak seperti biasanya, suara gaduh ini terus terjadi tiada henti.

Dibukanya pintu gudang. Betapa terkejut Wartam. Dilihatnya keranda mayat yang bergerak maju mundur, ke kanan dan ke kiri. Keranda mayat itu seolah kalap, menabrak beberapa perlengkapan pemakaman yang berjatuhan. Wartam mengucap istighfar. Keringat di keningnya mengucur. Ia merinding. Baru kali ini ia menyaksikan keranda mayat yang bergerak seperti orang mengamuk.

Bingung, kaget, dan takut. Itu yang dirasakan Wartam. Kali ini Wartam tidak ingin menerka siapa yang akan meninggal dunia. Persaannya tidak enak. Ada sesuatu yang tak seperti biasanya. Ia merasa bersedih. Seolah ia akan kehilangan orang yang sangat dicintainya.

 Burung kedasih tampak bertengger di atas pohon sengon. Kicauannya panjang dan menyayat hati. Burung kedasih dipercaya warga sebagai simbol kematian. Belum pernah Wartam mendengar burung itu berkicau di atas kepalanya. Ia merasakan begitu dekat dengan kematian.

Tiba-tiba ia teringat istrinya di rumah. Sebelum Wartam berangkat bekerja, istrinya sempat mengeluh pusing, demam, dan sesak nafas. Wartam pikir istrinya terserang flu. Ia sudah membelikan obat flu yang dijual bebas di toko dekat rumahnya. Istrinya juga sudah meminum obat itu. Namun perasaan Wartam tak karuan. Ia takut terjadi sesuatu pada istrinya.

Bergegas Wartam meninggalkan tanah pemakaman. Ia berharap istrinya baik-baik saja. Begitu sampai rumah ia panggil nama istrinya. Tidak terdengar sahutan. Wartam curiga sambil cemas. Ia buka pintu kamar. Terkejut bukan kepalang. Istri Wartam terbaring di tempat tidur. Nafasnya tersengal-sengal. Ia tatap suaminya dengan sorot mata yang sayu, menyedihkan.

“Buu.. kamu kenapa..???” Wartam mendekat dan memeluk istrinya.

 Istri Wartam tak menjawab. Mulutnya terbuka, ingin mengatakan sesuatu namun tak mampu. Wartam memegang tangan dan kaki istrinya. Terasa dingin semua. Istri Wartam kesulitan bernafas. Penuh sayang ia tatap Wartam. Perlahan ia melafalkan kalimat Sahadat dan Tauhid.” Laa ilaaha illallah”, ucap istri Wartam. Ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Wartam berteriak memanggil-manggil nama istrinya. Ia goyang tubuh istrinya yang telah tiada, menghadap Sang Pencipta. Wartam tak percaya istrinya berpulang ke rumah Tuhan secepat itu. Ia mencoba menengangkan diri.

“Innalillahi wainnailaihi rojiun,” ucap Wartam tegar sambil menutup mata istrinya.

Tetangga berdatangan. Wartam tak mampu menahan air mata yang perlahan menetes di pipinya. Ia begitu bersedih. Sama sekali tak menyangka, keranda mayat yang gaduh dan kicau burung kedasih sebagai isyarat kematian istrinya. Dan ia pun tak tahu, isyarat apa yang akan ia temui ketika ia akan dipanggil menghadap Ilahi, mendampingi istrinya di alam baka kelak. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

GUBERNUR BALI TIDAK AKAN MENYETUJUI PERUBAHAN HARI PERAYAAN NYEPI

Next Post

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Bermain dengan Jin Tengah Malam

by Chusmeru
May 7, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Tanda Merah di Paha

by Chusmeru
April 16, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co