25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Isyarat dari Keranda Mayat

Chusmeru by Chusmeru
January 8, 2026
in Fiksi
Isyarat dari Keranda Mayat

USIANYA sudah menginjak angka tujuh puluh. Wartam Kliwon, begitu ia biasa dipanggil; masih tampak sehat dan lincah. Terlahir di hari Kamis Kliwon, ia beruntung masih diberi umur panjang. Beberapa teman kecilnya sudah ada yang terlebih dahulu menghadap Sang Kuasa.

Wartam Kliwon menyadari usianya tak lagi muda. Karenanya ia tinggalkan pekerjaan sebagai petani penggarap sawah milik tetangganya. Ia kini lebih fokus menjalani profesi juru kunci atau penjaga makam yang sudah sejak dulu ia geluti selain sebagai petani. Sebagai juru kunci makam ia tak harus berpanas-panasan di terik matahari.

Penghasilan sebagai penjaga makam tidak terlalu besar. Itu diperolehnya dari iuran warga di desanya. Wartam Kliwon mensyukurinya. Meskipun harga-harga kebutuhan pokok terus melonjak, Wartam Kliwon masih mampu menafkahi istrinya yang sudah lama sakit, menderita kanker payudara. Sedangkan tiga orang anak dan cucu-cucu tidak lagi tinggal bersama Wartam Kliwon.

Rizki yang diperoleh Wartam bukan hanya dari penghasilan bulanan. Kadang ia juga mendapat tambahan penghasilan dari orang-orang yang berziarah. Wartam membantu membersihkan makam sanak famili orang yang berziarah. Mereka memberi uang sekadarnya kepada Wartam. Bukan hanya membersihkan makam, Wartam juga turut membantu membacakan doa kubur bagi yang berziarah. Jika menjelang bulan Ramadan penghasilan tambahan Wartam cukup lumayan untuk bekal lebaran.

Banyak suka duka menjadi juru kunci makam. Sukanya, banyak keluarga yang sedang berduka menjadi senang ketika Wartam memilihkan lokasi pemakaman yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk area makam. Namun Wartam juga kadang menjumpai hal-hal yang kurang berkenan. Saat proses penggalian tanah makam oleh para penggali kubur, mendadak tanah makam di sebelahnya runtuh berguguran. Keluarga yang makam kerabatnya gugur akan komplain kepada Wartam.

Pengalaman kurang menyenangkan pernah diarasakan Wartam. Ia harus ke area pemakaman malam hari, karena ada jenazah korban kecelakaan, pembunuhan, atau bunuh diri yang harus segera dimakamkan. Waktu yang seharusnya ia gunakan untuk istirahat di rumah terpaksa masih harus bekerja malam hari. Belum lagi jika hujan lebat di malam hari, Wartam tetap harus berada di pemakaman, di antara para pengantar jenazah.

Semua pengalaman suka dan duka Wartam jalani secara ikhlas. Ia memang ingin mengabdi kepada masyarakat sebagai juru kunci makam. Kalau pun dari pengabdiannya ia mendapat rizki, maka harus disyukuri. Andai dari pekerjaannya ia dicaci orang, itu pun akan ia terima dengan lapang dada.

***

Wartam Kliwon masih di area tanah makam. Hari sudah menjelang senja. Ia baru saja selesai membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitar batu nisan para penghuni makam. Hal seperti itu ia kerjakan setiap hari. Bila tidak dibersihkan, rumput-rumput liar akan semakin rimbun menutupi batu nisan. Apalagi jika musim hujan tiba, rumput itu begitu cepat tumbuh.

Saat hendak mengunci gudang tempat penyimpanan keranda mayat, Wartam dikejutkan oleh suara gaduh dari dalam gudang. Suara itu begitu jelas terdengar. Wartam mengurungkan niatnya mengunci gudang. Ia masuk ke dalam gudang. Ia kaget sekaligus merinding. Keranda mayat yang berupa kereta dorong itu bergoyang ke kanan dan ke kiri, membentur benda-benda lain di gudang sehingga menimbulkan suara gaduh.

 Wartam mencoba menenangkan diri. Bukan sekali dua kali ia menghadapi kejadian misterius seperti ini. Ia bahkan sering melihat penampakan arwah gentayangan di sekitar tanah makam. Biasanya mereka yang salah pati atau meninggal tidak wajar sering menampakkan diri dalam wujud yang menyeramkan.

Tidak ingin mengalami kejadian yang membuat merinding sendirian, Wartam memutuskan untuk pulang ke rumah. Segera ia mandi. Azan magrib berkumandang dari masjid tak jauh dari rumahnya. Setelah salat magrib Wartam bersiap makan malam. Baru saja ia selesai menyantap makanan, terdengar pengumuman yang terdengar dari pengeras suara masjid.

“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Telah meninggal dunia Bapak Suyanto, warga RT 6 RW 2 di rumah sakit,” kata Pak Kayim yang biasa mengumumkan warga yang meninggal dunia lewat pengeras suara masjid. Pak Kayim juga yang bertugas memimpin prosesi pemakaman warga yang meninggal di desa.

Betapa terkejut Wartam mendengar berita duka itu. Ia teringat kejadian sore tadi di gudang makam. Ia teringat kembali keranda mayat yang bergerak menimbulkan suara gaduh di dalam gudang. Apakah suara gaduh keranda mayat itu sebagai isyarat kematian bagi warganya, pikir Wartam.

Jika ada warga yang meninggal, maka Wartam kembali disibukkan dengan pekerjaan mencari lahan yang masih kosong untuk lubang jenazah. Ia pula yang harus menyiapkan keranda mayat untuk mengangkut jenazah. Pekerjaan yang rutin ia lakukan.

Hari-hari selajutnya Wartam seperti biasa sudah berada di area tanah pemakaman pagi hari. Rumput di sekitar tanah makam belum terlalu rimbun. Namun daun kering dari pohon bunga kamboja dan pohon sengon yang ada di pemakaman berjatuhan mengotori batu nisan. Wartam mengambil sapu lidi untuk menyapu dedaunan kering itu. Dikumpulkannya daun-daun kering di beberapa sudut tanah makam untuk ia bakar.

Tengah asyik membakar daun-daun kering, Wartam dikejutkan dengan suara gaduh dari dalam gudang penyimpanan keranda mayat. Tidak terlalu keras, namun terdengar jelas dari sudut tanah makam. Dengan sedikit berdebar, Wartam membuka pintu gudang. Ia lihat keranda mayat bergoyang pelan. Tidak seperti beberapa hari yang lalu ketika terdengar suara sangat gaduh lantaran keranda mayat bergoyang kencang. Kali ini pelan, meski tetap mengeluarkan bunyi gaduh.

“Siapa lagi yang akan meninggal?” tanya Wartam lirih kepada dirinya sendiri.

Kini Wartam mulai menghubungkan kegaduhan keranda mayat di dalam gudang dengan warga yang akan meninggal. Seolah keranda mayat itu memberi tahu Wartam untuk bersiap mengeluarkannya untuk mengusung jenazah.

Malam hari Wartam duduk di depan rumah sambil mengisap rokoknya. Sambil membayangkan keranda yang bergoyang pelan, ia menunggu pengumuman dari masjid. Namun hingga larut malam Pak Kayim belum mengumumkan warga yang meninggal. Wartam beranjak ke kamar untuk tidur. Ia tak lagi menunggu pengumuman. Setiap orang juga akan meninggal, entah kapan waktunya, pikir Wartam.

Menjelang subuh Wartam bangun tidur. Itu kebiasaan dia setiap hari. Pukul berapa pun ia berangkat tidur, menjelang subuh pasti sudah bangun. Secangkir kopi dan sebatang rokok ia habiskan sebelum berkumandang azan subuh di masjid. Istrinya bersiap memasak nasi di dapur. Meski menderita kanker ganas, istri Wartam masih dapat melakukan pekerjaan ringan di rumah. Pekerjaan lainnya diatasi oleh Wartam, termasuk menyapu halaman rumah.

Waktu subuh sudah lama berlalu. Semburat matahari mulai tampak di arah timur. Wartam membersihkan halaman rumahnya. Sesaat kemudian terdengar suara Pak Kayim mengumumkan dari pengeras suara masjid.

“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Telah meninggal dunia ananda Dimas Raditya warga RT 1 RW 4 di rumah sakit,” kata Pak Kayim yang terdengar jelas ke wilayah sekitar masjid.

Wartam Kliwon menghentikan menyapu halaman rumah. Ia tertegun. Ternyata suara gaduh keranda mayat yang tidak terlalu keras sebagai isyarat anak kecil yang meninggal dunia. Wartam bergegas menyelesaikan menyapu halaman rumah untuk bersiap ke kuburan. Ia harus menyiapkan peralatan pemakaman sekaligus mencari lahan kosong untuk jenazah.

                                                                        ***

Kematian adalah rahasia Tuhan. Tidak seorang pun tahu kapan ia akan meninggalkan dunia ini. Kalaupun Wartam mendapat isyarat kematian seseorang dari keranda mayat yang gaduh, bukan berarti ia tahu persis siapa yang akan masuk ke dalam liang kubur. Wartam hanya menduga-duga akan ada warga yang meninggal.

Pagi yang mendung dan berkabut. Udara terasa lebih dingin dari hari biasanya. Wartam sedikit malas untuk pergi ke tanah makam. Ia masih duduk di depan rumah sambil merokok. Istrinya mengingatkan Wartam.

“Belum berangkat ke kuburan, Pak?” tanya istri Wartam.

“Sebentar lagi, Bu,” jawab Wartam singkat.

Wartam mengambil cangkul yang ia simpan di samping rumah. Tak lupa ia gunakan tudung atau caping untuk mengurangi sengat matahari siang nanti. Setelah berpamitan dengan istrinya, Wartam melangkah menuju tanah makam. Matahari sedikit demi sedikit menyingkirkan mendung dan kabut yang membuat Wartam bermalas-malasan.

Tanah makam tidak terlalu kotor. Angin sedari kemarin memang hanya bertiup sepoi basa, sehingga tidak banyak daun yang berjatuhan. Wartam memandangi satu per satu batu nisan di kuburan. Hal itu selalu ia lakukan setiap akan memulai pekerjaan membersihkan kuburan.

Saat matanya tertuju ke gudang tempat menyimpan keranda dan peralatan pemakaman, ia dikejutkan dengan pintu gudang yang bergerak, seperti ada yang mengguncang dari dalam. Selanjutnya terdengar “Brraakkk”, seperti benda jatuh. Wartam terkejut. Ia segera menuju gudang.

 Kaget bukan kepalang ketika pintu gudang dibuka. Payung yang biasanya digunakan untuk mengantar jenazah ke pemakaman jatuh menimpa keranda mayat. Bukan hanya itu, payung jenazah yang terbuat dari bahan kertas itu dalam keadaan terbuka. Bulu kuduk Wartam berdiri.

“Isyarat apa lagi ini?” tanya Wartam sambil berbisik entah kepada siapa.

Selama ini ia hanya mendapat isyarat suara gaduh keranda mayat sebagai pertanda akan ada warga yang meninggal. Kali ini ia melihat payung jenazah yang jatuh dan terbuka. Segera ia benahi payung jenazah itu dan ditutupnya kembali. Aura mistis ia rasakan saat meletakkan kembali payung jenazah ke tempat penyimpanan.

Wartam memutuskan untuk pulang ke rumah lebih cepat. Tidak seperti biasanya, ia merasa ada yang berbeda dari isyarat payung jenazah yang terjatuh tadi. Melihat suaminya pulang lebih awal, istri Wartam sedikit heran.

“Kok pulang cepat, Pak?” tanya istri Wartam.

“Ada yang aneh, Bu. Payung jenazah di gudang jatuh dan terbuka,” ujar Wartam sambil duduk dan minum air putih untuk menenangkan diri.

 “Mungkin akan ada orang penting yang meninggal, Pak,” kata istrinya.

“Orang penting…? Siapa?” tanya Wartam tak paham maksud istrinya.

“Orang penting yang selama ini mengayomi warga,” jawab istrinya membuat Wartam berpikir dan menerka orang penting itu.

Belum tuntas Wartam dan istrinya membahas payung jenazah yang terjatuh, terdengar pengumuman dari masjid. Pak Kayim menyampaikan kabar duka. Sumitro, kepala desa meninggal dunia beberapa saat yang lalu. Wartam dan istrinya saling pandang. Terjawab sudah isyarat payung jenazah yang jatuh. Kepala desa yang selama ini mengayomi warga meninggal dunia.

Semakin bertambah isyarat kematian yang diperoleh Wartam dari gudang di tanah makam. Hanya saja ia tak dapat menerka siapa yang akan meninggal. Pengetahuan tentang tafsir isyarat kematian tidak pernah ia pelajari. Orang tuanya dulu juga tidak pernah mengajarkan hal itu.

 Wartam hanya dapat mengira akan ada warga yang meninggal ketika terjadi kegaduhan di dalam gudang tanah makam. Seperti sore ini, Wartam dikagetkan dengan suara gaduh di dalam gudang. Suara itu begitu menganggunya. Seolah bukan hanya suara keranda mayat yang bergoyang. Bising dan berkepanjangan. Tidak seperti biasanya, suara gaduh ini terus terjadi tiada henti.

Dibukanya pintu gudang. Betapa terkejut Wartam. Dilihatnya keranda mayat yang bergerak maju mundur, ke kanan dan ke kiri. Keranda mayat itu seolah kalap, menabrak beberapa perlengkapan pemakaman yang berjatuhan. Wartam mengucap istighfar. Keringat di keningnya mengucur. Ia merinding. Baru kali ini ia menyaksikan keranda mayat yang bergerak seperti orang mengamuk.

Bingung, kaget, dan takut. Itu yang dirasakan Wartam. Kali ini Wartam tidak ingin menerka siapa yang akan meninggal dunia. Persaannya tidak enak. Ada sesuatu yang tak seperti biasanya. Ia merasa bersedih. Seolah ia akan kehilangan orang yang sangat dicintainya.

 Burung kedasih tampak bertengger di atas pohon sengon. Kicauannya panjang dan menyayat hati. Burung kedasih dipercaya warga sebagai simbol kematian. Belum pernah Wartam mendengar burung itu berkicau di atas kepalanya. Ia merasakan begitu dekat dengan kematian.

Tiba-tiba ia teringat istrinya di rumah. Sebelum Wartam berangkat bekerja, istrinya sempat mengeluh pusing, demam, dan sesak nafas. Wartam pikir istrinya terserang flu. Ia sudah membelikan obat flu yang dijual bebas di toko dekat rumahnya. Istrinya juga sudah meminum obat itu. Namun perasaan Wartam tak karuan. Ia takut terjadi sesuatu pada istrinya.

Bergegas Wartam meninggalkan tanah pemakaman. Ia berharap istrinya baik-baik saja. Begitu sampai rumah ia panggil nama istrinya. Tidak terdengar sahutan. Wartam curiga sambil cemas. Ia buka pintu kamar. Terkejut bukan kepalang. Istri Wartam terbaring di tempat tidur. Nafasnya tersengal-sengal. Ia tatap suaminya dengan sorot mata yang sayu, menyedihkan.

“Buu.. kamu kenapa..???” Wartam mendekat dan memeluk istrinya.

 Istri Wartam tak menjawab. Mulutnya terbuka, ingin mengatakan sesuatu namun tak mampu. Wartam memegang tangan dan kaki istrinya. Terasa dingin semua. Istri Wartam kesulitan bernafas. Penuh sayang ia tatap Wartam. Perlahan ia melafalkan kalimat Sahadat dan Tauhid.” Laa ilaaha illallah”, ucap istri Wartam. Ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Wartam berteriak memanggil-manggil nama istrinya. Ia goyang tubuh istrinya yang telah tiada, menghadap Sang Pencipta. Wartam tak percaya istrinya berpulang ke rumah Tuhan secepat itu. Ia mencoba menengangkan diri.

“Innalillahi wainnailaihi rojiun,” ucap Wartam tegar sambil menutup mata istrinya.

Tetangga berdatangan. Wartam tak mampu menahan air mata yang perlahan menetes di pipinya. Ia begitu bersedih. Sama sekali tak menyangka, keranda mayat yang gaduh dan kicau burung kedasih sebagai isyarat kematian istrinya. Dan ia pun tak tahu, isyarat apa yang akan ia temui ketika ia akan dipanggil menghadap Ilahi, mendampingi istrinya di alam baka kelak. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

GUBERNUR BALI TIDAK AKAN MENYETUJUI PERUBAHAN HARI PERAYAAN NYEPI

Next Post

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co