10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Nadia Pranasiwi Justie Dewantari by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
in Tualang
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Gerbang “Arbeit Macht Frei” menyambut pengunjung ke kamp Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari sana, tepatnya di kota Oświęcim, tersimpan memori kelam peninggalan Perang Dunia II.

Setelah sempat mengulik sejarah Holokaus melalui internet, terbesit keinginan kuat untuk napak tilas ke lokasi operasi Nazi, tempat jutaan orang ditahan dan menderita. Di sela kesibukan exchange, saya akhirnya memutuskan untuk mengunjungi kompleks kamp konsentrasi dan pemusnahan terbesar milik Nazi di dunia: Auschwitz.

Meskipun Agustus biasanya membawa kehangatan musim panas di Eropa, sore itu, suasananya dingin dan mencekam. Tepat pukul 16.30 ketika saya menginjakkan kaki di kamp konsentrasi Auschwitz I setelah menempuh perjalanan 1,5 jam menggunakan bus dari Krakow, Polandia. Gerbang terkenal bertuliskan “Arbeit Macht Frei” (berarti “Kerja Membuatmu Bebas”) yang dulunya menyambut jutaan orang yang dijanjikan hidup baru, kini menyambut puluhan pengunjung yang tergabung dalam satu guided tour, termasuk saya.

Kamp konsentrasi Auschwitz dibagi menjadi tiga: Auschwitz I (kamp utama), Auschwitz II-Birkenau, dan Auschwitz III-Monowitz. Pada tur ini, saya berkesempatan mengunjungi kamp Auschwitz I dan II, dengan terlebih dahulu membeli tiket dari jauh-jauh hari mengingat banyaknya orang yang berebut ingin berziarah kemanusiaan di kamp konsentrasi tersebut.  Tiket masuk ke Auschwitz untuk harga pelajar yakni 160 Złoty atau sekitar Rp750.000,00 yang bisa diperoleh secara daring.

Auschwitz I terdiri dari 28 blok bangunan bata merah yang tersusun rapi dan kokoh. Kamp ini dulunya digunakan sebagai pusat administrasi. Masing-masing blok diberi nomor 1–28 dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Beberapa blok yang terkenal, di antaranya blok 10 (tempat dilakukannya eksperimen medis yang kejam oleh dokter-dokter Nazi) dan blok 11 (terdapat sel-sel penjara sempit untuk hukuman berat).

Blok lain yang meninggalkan kesan mendalam adalah blok 4 dan 5, di mana disimpan peninggalan asli korban kekejaman Nazi, seperti tumpukan rambut manusia, sepatu, kacamata, koper, dan sebagainya. Sungguh miris melihat bukti-bukti fisik tersebut, terbayang penderitaan yang dialami korban.

Blok bangunan di kamp Auschwitz I yang rapi dan kokoh

Sepenggal kisah yang diceritakan oleh pemandu membekas di benak saya: awalnya, orang-orang yang dijanjikan pekerjaan dan hidup baru itu tidak diminta untuk memberi identitas pada koper mereka. Namun, mereka mulai curiga dan bertanya bagaimana barang-barang tersebut bisa kembali jika tidak ada identitasnya?

Lantas, guna meyakinkan rombongan selanjutnya bahwa mereka benar-benar akan dipindahkan ke tempat tinggal baru, Nazi memerintahkan mereka menuliskan nama dan alamat selengkap mungkin pada koper. Sebuah upaya untuk memberi harapan palsu, padahal koper-koper itu tidak akan pernah kembali ke tangan pemiliknya.

Tur berlanjut ke kamp Auschwitz II-Birkenau menggunakan shuttle bus yang disediakan setiap 15 menit. Rombongan pengunjung disambut gerbang kematian alias “Gate of Death”, lengkap dengan rel kereta api yang masuk langsung ke dalam kamp. Dulunya, jutaan orang yang baru tiba lantas berbaris untuk diseleksi di peron. Di sinilah keputusan antara hidup dan mati ditentukan secara kilat: apabila dianggap dapat bekerja, mereka dijadikan tahanan, sementara anak-anak, lansia, dan orang yang sakit dikirim langsung ke kamar gas, tempat eksekusi dilakukan.

Gate of Death”, pintu masuk menuju kamp Auschwitz II-Birkenau

Awalnya, saya mengira kondisi hidup di sel penjara kamp Auschwitz I sudah sangat buruk. Ternyata, di kamp Auschwitz II jauh lebih memprihatinkan: kamar tanpa jendela berisi puluhan tempat tidur sempit bertingkat tiga, masing-masing tingkatnya untuk enam orang. Tanpa alas tidur apalagi bantal, sulit membayangkan bagaimana mereka bertahan di tengah ruang sesak itu, terutama saat musim dingin tiba.

Tur berakhir dengan kunjungan ke kamar gas tempat eksekusi dulunya dilakukan. Tidak jauh dari sana, terdapat monumen berisi deretan plakat batu dalam berbagai bahasa untuk memperingati tragedi Holokaus. Dalam bahasa Indonesia, terbaca “Biarlah tempat ini selamanya menjadi jeritan keputusasaan dan peringatan bagi umat manusia, di mana Nazi membantai sekitar satu setengah juta laki-laki, perempuan, dan anak-anak, terutama kaum Yahudi, dari berbagai negara di Eropa. Auschwitz-Birkenau 1940-1945.”

Monumen Internasional untuk Para Korban Fasisme

Sepanjang perjalanan, saya merasa sesak setiap mencoba memposisikan diri saya di sepatu korban, membayangkan seberapa besar penderitaan yang mereka rasakan. Sungguh pengalaman yang sangat emosional berziarah ke tempat yang menjadi saksi titik rendah kemanusiaan.

Miris rasanya menyadari tragedi ini bukan masa prasejarah yang jauh, melainkan baru 80 tahun yang lalu, zaman di mana kemanusiaan seharusnya sudah dijunjung tinggi. Saya pulang dengan hati yang berat, tetapi mendapatkan pelajaran berharga terkait pentingnya memahami sejarah dan lebih menghargai arti kebebasan yang kita miliki sekarang. [T]

Penulis: Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia
Tags: catatan perjalananNaziPolandia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Next Post

Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Nadia Pranasiwi Justie Dewantari

Nadia Pranasiwi Justie Dewantari

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co