7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Nadia Pranasiwi Justie Dewantari by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
in Tualang
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Gerbang “Arbeit Macht Frei” menyambut pengunjung ke kamp Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari sana, tepatnya di kota Oświęcim, tersimpan memori kelam peninggalan Perang Dunia II.

Setelah sempat mengulik sejarah Holokaus melalui internet, terbesit keinginan kuat untuk napak tilas ke lokasi operasi Nazi, tempat jutaan orang ditahan dan menderita. Di sela kesibukan exchange, saya akhirnya memutuskan untuk mengunjungi kompleks kamp konsentrasi dan pemusnahan terbesar milik Nazi di dunia: Auschwitz.

Meskipun Agustus biasanya membawa kehangatan musim panas di Eropa, sore itu, suasananya dingin dan mencekam. Tepat pukul 16.30 ketika saya menginjakkan kaki di kamp konsentrasi Auschwitz I setelah menempuh perjalanan 1,5 jam menggunakan bus dari Krakow, Polandia. Gerbang terkenal bertuliskan “Arbeit Macht Frei” (berarti “Kerja Membuatmu Bebas”) yang dulunya menyambut jutaan orang yang dijanjikan hidup baru, kini menyambut puluhan pengunjung yang tergabung dalam satu guided tour, termasuk saya.

Kamp konsentrasi Auschwitz dibagi menjadi tiga: Auschwitz I (kamp utama), Auschwitz II-Birkenau, dan Auschwitz III-Monowitz. Pada tur ini, saya berkesempatan mengunjungi kamp Auschwitz I dan II, dengan terlebih dahulu membeli tiket dari jauh-jauh hari mengingat banyaknya orang yang berebut ingin berziarah kemanusiaan di kamp konsentrasi tersebut.  Tiket masuk ke Auschwitz untuk harga pelajar yakni 160 Złoty atau sekitar Rp750.000,00 yang bisa diperoleh secara daring.

Auschwitz I terdiri dari 28 blok bangunan bata merah yang tersusun rapi dan kokoh. Kamp ini dulunya digunakan sebagai pusat administrasi. Masing-masing blok diberi nomor 1–28 dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Beberapa blok yang terkenal, di antaranya blok 10 (tempat dilakukannya eksperimen medis yang kejam oleh dokter-dokter Nazi) dan blok 11 (terdapat sel-sel penjara sempit untuk hukuman berat).

Blok lain yang meninggalkan kesan mendalam adalah blok 4 dan 5, di mana disimpan peninggalan asli korban kekejaman Nazi, seperti tumpukan rambut manusia, sepatu, kacamata, koper, dan sebagainya. Sungguh miris melihat bukti-bukti fisik tersebut, terbayang penderitaan yang dialami korban.

Blok bangunan di kamp Auschwitz I yang rapi dan kokoh

Sepenggal kisah yang diceritakan oleh pemandu membekas di benak saya: awalnya, orang-orang yang dijanjikan pekerjaan dan hidup baru itu tidak diminta untuk memberi identitas pada koper mereka. Namun, mereka mulai curiga dan bertanya bagaimana barang-barang tersebut bisa kembali jika tidak ada identitasnya?

Lantas, guna meyakinkan rombongan selanjutnya bahwa mereka benar-benar akan dipindahkan ke tempat tinggal baru, Nazi memerintahkan mereka menuliskan nama dan alamat selengkap mungkin pada koper. Sebuah upaya untuk memberi harapan palsu, padahal koper-koper itu tidak akan pernah kembali ke tangan pemiliknya.

Tur berlanjut ke kamp Auschwitz II-Birkenau menggunakan shuttle bus yang disediakan setiap 15 menit. Rombongan pengunjung disambut gerbang kematian alias “Gate of Death”, lengkap dengan rel kereta api yang masuk langsung ke dalam kamp. Dulunya, jutaan orang yang baru tiba lantas berbaris untuk diseleksi di peron. Di sinilah keputusan antara hidup dan mati ditentukan secara kilat: apabila dianggap dapat bekerja, mereka dijadikan tahanan, sementara anak-anak, lansia, dan orang yang sakit dikirim langsung ke kamar gas, tempat eksekusi dilakukan.

Gate of Death”, pintu masuk menuju kamp Auschwitz II-Birkenau

Awalnya, saya mengira kondisi hidup di sel penjara kamp Auschwitz I sudah sangat buruk. Ternyata, di kamp Auschwitz II jauh lebih memprihatinkan: kamar tanpa jendela berisi puluhan tempat tidur sempit bertingkat tiga, masing-masing tingkatnya untuk enam orang. Tanpa alas tidur apalagi bantal, sulit membayangkan bagaimana mereka bertahan di tengah ruang sesak itu, terutama saat musim dingin tiba.

Tur berakhir dengan kunjungan ke kamar gas tempat eksekusi dulunya dilakukan. Tidak jauh dari sana, terdapat monumen berisi deretan plakat batu dalam berbagai bahasa untuk memperingati tragedi Holokaus. Dalam bahasa Indonesia, terbaca “Biarlah tempat ini selamanya menjadi jeritan keputusasaan dan peringatan bagi umat manusia, di mana Nazi membantai sekitar satu setengah juta laki-laki, perempuan, dan anak-anak, terutama kaum Yahudi, dari berbagai negara di Eropa. Auschwitz-Birkenau 1940-1945.”

Monumen Internasional untuk Para Korban Fasisme

Sepanjang perjalanan, saya merasa sesak setiap mencoba memposisikan diri saya di sepatu korban, membayangkan seberapa besar penderitaan yang mereka rasakan. Sungguh pengalaman yang sangat emosional berziarah ke tempat yang menjadi saksi titik rendah kemanusiaan.

Miris rasanya menyadari tragedi ini bukan masa prasejarah yang jauh, melainkan baru 80 tahun yang lalu, zaman di mana kemanusiaan seharusnya sudah dijunjung tinggi. Saya pulang dengan hati yang berat, tetapi mendapatkan pelajaran berharga terkait pentingnya memahami sejarah dan lebih menghargai arti kebebasan yang kita miliki sekarang. [T]

Penulis: Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia
Tags: catatan perjalananNaziPolandia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Next Post

Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Nadia Pranasiwi Justie Dewantari

Nadia Pranasiwi Justie Dewantari

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Related Posts

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails
Next Post
Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co