30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Nadia Pranasiwi Justie Dewantari by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
in Tualang
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Gerbang “Arbeit Macht Frei” menyambut pengunjung ke kamp Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari sana, tepatnya di kota Oświęcim, tersimpan memori kelam peninggalan Perang Dunia II.

Setelah sempat mengulik sejarah Holokaus melalui internet, terbesit keinginan kuat untuk napak tilas ke lokasi operasi Nazi, tempat jutaan orang ditahan dan menderita. Di sela kesibukan exchange, saya akhirnya memutuskan untuk mengunjungi kompleks kamp konsentrasi dan pemusnahan terbesar milik Nazi di dunia: Auschwitz.

Meskipun Agustus biasanya membawa kehangatan musim panas di Eropa, sore itu, suasananya dingin dan mencekam. Tepat pukul 16.30 ketika saya menginjakkan kaki di kamp konsentrasi Auschwitz I setelah menempuh perjalanan 1,5 jam menggunakan bus dari Krakow, Polandia. Gerbang terkenal bertuliskan “Arbeit Macht Frei” (berarti “Kerja Membuatmu Bebas”) yang dulunya menyambut jutaan orang yang dijanjikan hidup baru, kini menyambut puluhan pengunjung yang tergabung dalam satu guided tour, termasuk saya.

Kamp konsentrasi Auschwitz dibagi menjadi tiga: Auschwitz I (kamp utama), Auschwitz II-Birkenau, dan Auschwitz III-Monowitz. Pada tur ini, saya berkesempatan mengunjungi kamp Auschwitz I dan II, dengan terlebih dahulu membeli tiket dari jauh-jauh hari mengingat banyaknya orang yang berebut ingin berziarah kemanusiaan di kamp konsentrasi tersebut.  Tiket masuk ke Auschwitz untuk harga pelajar yakni 160 Złoty atau sekitar Rp750.000,00 yang bisa diperoleh secara daring.

Auschwitz I terdiri dari 28 blok bangunan bata merah yang tersusun rapi dan kokoh. Kamp ini dulunya digunakan sebagai pusat administrasi. Masing-masing blok diberi nomor 1–28 dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Beberapa blok yang terkenal, di antaranya blok 10 (tempat dilakukannya eksperimen medis yang kejam oleh dokter-dokter Nazi) dan blok 11 (terdapat sel-sel penjara sempit untuk hukuman berat).

Blok lain yang meninggalkan kesan mendalam adalah blok 4 dan 5, di mana disimpan peninggalan asli korban kekejaman Nazi, seperti tumpukan rambut manusia, sepatu, kacamata, koper, dan sebagainya. Sungguh miris melihat bukti-bukti fisik tersebut, terbayang penderitaan yang dialami korban.

Blok bangunan di kamp Auschwitz I yang rapi dan kokoh

Sepenggal kisah yang diceritakan oleh pemandu membekas di benak saya: awalnya, orang-orang yang dijanjikan pekerjaan dan hidup baru itu tidak diminta untuk memberi identitas pada koper mereka. Namun, mereka mulai curiga dan bertanya bagaimana barang-barang tersebut bisa kembali jika tidak ada identitasnya?

Lantas, guna meyakinkan rombongan selanjutnya bahwa mereka benar-benar akan dipindahkan ke tempat tinggal baru, Nazi memerintahkan mereka menuliskan nama dan alamat selengkap mungkin pada koper. Sebuah upaya untuk memberi harapan palsu, padahal koper-koper itu tidak akan pernah kembali ke tangan pemiliknya.

Tur berlanjut ke kamp Auschwitz II-Birkenau menggunakan shuttle bus yang disediakan setiap 15 menit. Rombongan pengunjung disambut gerbang kematian alias “Gate of Death”, lengkap dengan rel kereta api yang masuk langsung ke dalam kamp. Dulunya, jutaan orang yang baru tiba lantas berbaris untuk diseleksi di peron. Di sinilah keputusan antara hidup dan mati ditentukan secara kilat: apabila dianggap dapat bekerja, mereka dijadikan tahanan, sementara anak-anak, lansia, dan orang yang sakit dikirim langsung ke kamar gas, tempat eksekusi dilakukan.

Gate of Death”, pintu masuk menuju kamp Auschwitz II-Birkenau

Awalnya, saya mengira kondisi hidup di sel penjara kamp Auschwitz I sudah sangat buruk. Ternyata, di kamp Auschwitz II jauh lebih memprihatinkan: kamar tanpa jendela berisi puluhan tempat tidur sempit bertingkat tiga, masing-masing tingkatnya untuk enam orang. Tanpa alas tidur apalagi bantal, sulit membayangkan bagaimana mereka bertahan di tengah ruang sesak itu, terutama saat musim dingin tiba.

Tur berakhir dengan kunjungan ke kamar gas tempat eksekusi dulunya dilakukan. Tidak jauh dari sana, terdapat monumen berisi deretan plakat batu dalam berbagai bahasa untuk memperingati tragedi Holokaus. Dalam bahasa Indonesia, terbaca “Biarlah tempat ini selamanya menjadi jeritan keputusasaan dan peringatan bagi umat manusia, di mana Nazi membantai sekitar satu setengah juta laki-laki, perempuan, dan anak-anak, terutama kaum Yahudi, dari berbagai negara di Eropa. Auschwitz-Birkenau 1940-1945.”

Monumen Internasional untuk Para Korban Fasisme

Sepanjang perjalanan, saya merasa sesak setiap mencoba memposisikan diri saya di sepatu korban, membayangkan seberapa besar penderitaan yang mereka rasakan. Sungguh pengalaman yang sangat emosional berziarah ke tempat yang menjadi saksi titik rendah kemanusiaan.

Miris rasanya menyadari tragedi ini bukan masa prasejarah yang jauh, melainkan baru 80 tahun yang lalu, zaman di mana kemanusiaan seharusnya sudah dijunjung tinggi. Saya pulang dengan hati yang berat, tetapi mendapatkan pelajaran berharga terkait pentingnya memahami sejarah dan lebih menghargai arti kebebasan yang kita miliki sekarang. [T]

Penulis: Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia
Tags: catatan perjalananNaziPolandia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Next Post

Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Nadia Pranasiwi Justie Dewantari

Nadia Pranasiwi Justie Dewantari

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Related Posts

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
0
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

Read moreDetails

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
0
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails
Next Post
Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846–1950 | Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846–1950 | Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co