17 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Nadia Pranasiwi Justie Dewantari by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
in Tualang
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Gerbang “Arbeit Macht Frei” menyambut pengunjung ke kamp Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari sana, tepatnya di kota Oświęcim, tersimpan memori kelam peninggalan Perang Dunia II.

Setelah sempat mengulik sejarah Holokaus melalui internet, terbesit keinginan kuat untuk napak tilas ke lokasi operasi Nazi, tempat jutaan orang ditahan dan menderita. Di sela kesibukan exchange, saya akhirnya memutuskan untuk mengunjungi kompleks kamp konsentrasi dan pemusnahan terbesar milik Nazi di dunia: Auschwitz.

Meskipun Agustus biasanya membawa kehangatan musim panas di Eropa, sore itu, suasananya dingin dan mencekam. Tepat pukul 16.30 ketika saya menginjakkan kaki di kamp konsentrasi Auschwitz I setelah menempuh perjalanan 1,5 jam menggunakan bus dari Krakow, Polandia. Gerbang terkenal bertuliskan “Arbeit Macht Frei” (berarti “Kerja Membuatmu Bebas”) yang dulunya menyambut jutaan orang yang dijanjikan hidup baru, kini menyambut puluhan pengunjung yang tergabung dalam satu guided tour, termasuk saya.

Kamp konsentrasi Auschwitz dibagi menjadi tiga: Auschwitz I (kamp utama), Auschwitz II-Birkenau, dan Auschwitz III-Monowitz. Pada tur ini, saya berkesempatan mengunjungi kamp Auschwitz I dan II, dengan terlebih dahulu membeli tiket dari jauh-jauh hari mengingat banyaknya orang yang berebut ingin berziarah kemanusiaan di kamp konsentrasi tersebut.  Tiket masuk ke Auschwitz untuk harga pelajar yakni 160 Złoty atau sekitar Rp750.000,00 yang bisa diperoleh secara daring.

Auschwitz I terdiri dari 28 blok bangunan bata merah yang tersusun rapi dan kokoh. Kamp ini dulunya digunakan sebagai pusat administrasi. Masing-masing blok diberi nomor 1–28 dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Beberapa blok yang terkenal, di antaranya blok 10 (tempat dilakukannya eksperimen medis yang kejam oleh dokter-dokter Nazi) dan blok 11 (terdapat sel-sel penjara sempit untuk hukuman berat).

Blok lain yang meninggalkan kesan mendalam adalah blok 4 dan 5, di mana disimpan peninggalan asli korban kekejaman Nazi, seperti tumpukan rambut manusia, sepatu, kacamata, koper, dan sebagainya. Sungguh miris melihat bukti-bukti fisik tersebut, terbayang penderitaan yang dialami korban.

Blok bangunan di kamp Auschwitz I yang rapi dan kokoh

Sepenggal kisah yang diceritakan oleh pemandu membekas di benak saya: awalnya, orang-orang yang dijanjikan pekerjaan dan hidup baru itu tidak diminta untuk memberi identitas pada koper mereka. Namun, mereka mulai curiga dan bertanya bagaimana barang-barang tersebut bisa kembali jika tidak ada identitasnya?

Lantas, guna meyakinkan rombongan selanjutnya bahwa mereka benar-benar akan dipindahkan ke tempat tinggal baru, Nazi memerintahkan mereka menuliskan nama dan alamat selengkap mungkin pada koper. Sebuah upaya untuk memberi harapan palsu, padahal koper-koper itu tidak akan pernah kembali ke tangan pemiliknya.

Tur berlanjut ke kamp Auschwitz II-Birkenau menggunakan shuttle bus yang disediakan setiap 15 menit. Rombongan pengunjung disambut gerbang kematian alias “Gate of Death”, lengkap dengan rel kereta api yang masuk langsung ke dalam kamp. Dulunya, jutaan orang yang baru tiba lantas berbaris untuk diseleksi di peron. Di sinilah keputusan antara hidup dan mati ditentukan secara kilat: apabila dianggap dapat bekerja, mereka dijadikan tahanan, sementara anak-anak, lansia, dan orang yang sakit dikirim langsung ke kamar gas, tempat eksekusi dilakukan.

Gate of Death”, pintu masuk menuju kamp Auschwitz II-Birkenau

Awalnya, saya mengira kondisi hidup di sel penjara kamp Auschwitz I sudah sangat buruk. Ternyata, di kamp Auschwitz II jauh lebih memprihatinkan: kamar tanpa jendela berisi puluhan tempat tidur sempit bertingkat tiga, masing-masing tingkatnya untuk enam orang. Tanpa alas tidur apalagi bantal, sulit membayangkan bagaimana mereka bertahan di tengah ruang sesak itu, terutama saat musim dingin tiba.

Tur berakhir dengan kunjungan ke kamar gas tempat eksekusi dulunya dilakukan. Tidak jauh dari sana, terdapat monumen berisi deretan plakat batu dalam berbagai bahasa untuk memperingati tragedi Holokaus. Dalam bahasa Indonesia, terbaca “Biarlah tempat ini selamanya menjadi jeritan keputusasaan dan peringatan bagi umat manusia, di mana Nazi membantai sekitar satu setengah juta laki-laki, perempuan, dan anak-anak, terutama kaum Yahudi, dari berbagai negara di Eropa. Auschwitz-Birkenau 1940-1945.”

Monumen Internasional untuk Para Korban Fasisme

Sepanjang perjalanan, saya merasa sesak setiap mencoba memposisikan diri saya di sepatu korban, membayangkan seberapa besar penderitaan yang mereka rasakan. Sungguh pengalaman yang sangat emosional berziarah ke tempat yang menjadi saksi titik rendah kemanusiaan.

Miris rasanya menyadari tragedi ini bukan masa prasejarah yang jauh, melainkan baru 80 tahun yang lalu, zaman di mana kemanusiaan seharusnya sudah dijunjung tinggi. Saya pulang dengan hati yang berat, tetapi mendapatkan pelajaran berharga terkait pentingnya memahami sejarah dan lebih menghargai arti kebebasan yang kita miliki sekarang. [T]

Penulis: Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia
Tags: catatan perjalananNaziPolandia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Next Post

Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Nadia Pranasiwi Justie Dewantari

Nadia Pranasiwi Justie Dewantari

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Dari Piring Makan ke Masa Depan Indonesia: Gizi Optimal sebagai Fondasi Generasi Emas 2045

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Suara dari Dalam Lemari

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

by Chusmeru
September 17, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

by Sugi Lanus
September 17, 2026
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co