23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
January 27, 2026
in Esai
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky

Abstrak

Perang Yarmuk yang terjadi pada tahun 636 M merupakan salah satu peristiwa militer paling menentukan dalam sejarah awal Islam sekaligus sejarah Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium). Kekalahan telak pasukan Romawi yang berada di bawah otoritas Kaisar Heraclius dari pasukan Muslim bukan hanya menandai runtuhnya dominasi Bizantium di wilayah Syam, tetapi juga melahirkan konsekuensi teologis, politis, dan kultural yang bersifat jangka panjang.

Artikel ini tidak memandang Perang Yarmuk semata sebagai peristiwa militer, melainkan sebagai sumber legitimasi religius dan sebagai titik awal produksi ingatan kolektif yang membentuk relasi Islam–Kristen hingga masa kontemporer. Dengan menggunakan pendekatan sejarah kritis dan perspektif ushuluddin, tulisan ini menelusuri bagaimana kekalahan Bizantium berkontribusi pada lahirnya polemik teologis Kristen terhadap Islam, termasuk tuduhan bahwa Al-Qur’an merupakan hasil penjiplakan terhadap Bible, upaya delegitimasi kenabian Muhammad, serta reproduksi wacana permusuhan yang terus diwariskan dalam sejarah panjang perjumpaan dua agama besar dunia.

Pendahuluan

Sejarah pada hakikatnya tidak pernah bersifat netral. Ia selalu ditulis, ditafsirkan, dan diwariskan melalui kepentingan, trauma kolektif, serta kebutuhan akan legitimasi kekuasaan dan iman. Dalam konteks relasi Islam–Kristen, Perang Yarmuk menempati posisi sebagai salah satu simpul sejarah yang terus diingat, diperdebatkan, dan direproduksi dalam berbagai bentuk narasi.

Dalam tradisi Islam, Yarmuk dikenang sebagai kemenangan yang menegaskan pertolongan ilahi dan legitimasi risalah Islam, sementara dalam historiografi Kristen Bizantium, peristiwa ini dipahami sebagai tragedi geopolitik sekaligus krisis teologis yang mengguncang fondasi kekaisaran Kristen Timur. Perang yang berlangsung di lembah Sungai Yarmuk, wilayah Syam, pada tahun 636 M ini berakhir dengan kekalahan telak tentara Romawi Timur.

Kekalahan tersebut tidak sekadar berarti kehilangan wilayah strategis, melainkan juga runtuhnya klaim teologis Bizantium sebagai imperium Kristen yang dipilih dan dilindungi oleh Tuhan. Dalam konteks inilah Perang Yarmuk tidak dapat dipahami hanya sebagai konflik antar pasukan, melainkan sebagai benturan dua klaim legitimasi ketuhanan yang saling meniadakan. Artikel ini berangkat dari pertanyaan mendasar mengenai bagaimana Perang Yarmuk diproduksi sebagai ingatan kolektif dan bagaimana kekalahan Bizantium tersebut memengaruhi sikap teologis Kristen terhadap Islam dan Al-Qur’an hingga hari ini.

Perang Yarmuk dalam Konteks Sejarah

Untuk memahami signifikansi Perang Yarmuk, perlu dilihat latar belakang politik dan religius pada awal abad ke-7. Kekaisaran Bizantium pada masa itu berada dalam kondisi kelelahan struktural akibat perang panjang melawan Persia Sassania yang berlangsung selama beberapa dekade. Meskipun Kaisar Heraclius berhasil merebut kembali Yerusalem pada tahun 630 M dan mengembalikan Salib Suci ke kota tersebut, kemenangan itu tidak sepenuhnya memulihkan stabilitas kekaisaran.

Struktur ekonomi melemah, wilayah perbatasan rapuh, dan konflik internal gereja terus menggerogoti legitimasi kekuasaan. Pada saat yang sama, komunitas Muslim yang baru terbentuk di Jazirah Arab mulai mengalami konsolidasi politik dan religius setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ pada tahun 632 M. Ekspansi Muslim ke wilayah Syam tidak dapat dipahami semata sebagai ambisi teritorial, melainkan sebagai perjumpaan langsung dengan struktur kekuasaan religius Kristen Bizantium yang selama berabad-abad memosisikan dirinya sebagai pelindung iman Kristen sejati. Dalam konteks ini, benturan militer yang terjadi di Yarmuk merupakan benturan dua tatanan dunia yang masing-masing mengklaim legitimasi ilahi.

Jalannya Perang Yarmuk sendiri memperlihatkan ketimpangan jumlah pasukan antara tentara Romawi dan pasukan Muslim. Tentara Bizantium secara kuantitatif jauh lebih besar dan didukung oleh tradisi militer yang mapan. Namun pasukan Muslim yang dipimpin oleh para komandan seperti Khalid bin Walid mampu mengimbangi bahkan mengungguli kekuatan tersebut melalui strategi militer yang fleksibel, mobilitas pasukan yang tinggi, serta moral tempur yang didorong oleh keyakinan religius yang kuat. Sejarawan modern umumnya sepakat bahwa kekalahan Romawi di Yarmuk bersifat katastrofik, karena secara efektif mengakhiri kekuasaan Bizantium atas Suriah dan Palestina, wilayah yang sebelumnya menjadi pusat penting bagi politik dan teologi Kristen Timur.

Yarmuk dan Krisis Legitimasi Teologis Kristen

Dalam kerangka teologi Bizantium, kekaisaran dan iman Kristen merupakan dua entitas yang saling terkait dan saling menopang. Kekaisaran dipandang sebagai manifestasi kehendak Tuhan di dunia, sementara kemenangan militer dianggap sebagai tanda restu ilahi. Oleh karena itu, kekalahan di Yarmuk tidak hanya dibaca sebagai kegagalan strategi atau kepemimpinan militer, tetapi sebagai krisis iman yang mendalam.

Pertanyaan yang muncul dalam kesadaran teologis Bizantium adalah bagaimana mungkin sebuah imperium Kristen dapat dikalahkan oleh komunitas yang oleh banyak penulis Kristen awal dipandang sebagai “bidah Arab” atau bahkan sebagai kelompok pagan yang baru mengenal monoteisme. Jawaban atas pertanyaan ini tidak bersifat tunggal. Sebagian penulis Kristen awal menafsirkan kekalahan tersebut sebagai hukuman Tuhan atas dosa internal gereja dan penyimpangan moral umat. Namun seiring berjalannya waktu, narasi ini bergeser dari refleksi internal menuju delegitimasi Islam itu sendiri sebagai agama yang dianggap tidak sah.

Pergeseran ini tampak jelas dalam literatur polemik Kristen abad pertengahan, di mana Islam sering digambarkan sebagai ajaran sesat, sekte Kristen yang menyimpang, atau produk manipulasi seorang nabi palsu. Citra Islam sebagai “agama palsu” ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan merupakan respons terhadap trauma kekalahan geopolitik yang kemudian dialihkan ke dalam konflik teologis. Dengan mendeligitimasi Islam secara teologis, kekalahan militer Bizantium dapat dijelaskan tanpa harus menggugat klaim dasar bahwa kekaisaran Kristen berada di bawah perlindungan Tuhan.

Tuduhan Penjiplakan Al-Qur’an terhadap Bible

Salah satu tuduhan yang paling bertahan lama dalam polemik Kristen terhadap Islam adalah anggapan bahwa Al-Qur’an merupakan hasil penjiplakan terhadap Bible. Tuduhan ini telah muncul sejak polemik Kristen awal, seperti dalam karya Yohanes dari Damaskus pada abad ke-8, seorang teolog Kristen yang hidup di bawah kekuasaan Islam namun menulis dari perspektif apologetika gereja.

Argumen utama yang digunakan dalam tuduhan ini bertumpu pada keberadaan tokoh-tokoh yang sama dalam Al-Qur’an dan Bible, seperti Musa, Ibrahim, dan Isa, kesamaan kisah-kisah moral, serta kemiripan nilai-nilai etika yang diajarkan. Namun pendekatan semacam ini cenderung mengabaikan perbedaan mendasar antara kedua kitab suci tersebut, baik dalam struktur wahyu, konsep ketuhanan, posisi Yesus dalam teologi masing-masing, maupun epistemologi teks suci itu sendiri.

Dari perspektif ushuluddin Islam, Al-Qur’an tidak pernah mengklaim kebaruan absolut dalam narasi sejarah kenabian. Sebaliknya, ia menegaskan dirinya sebagai kelanjutan sekaligus koreksi terhadap wahyu-wahyu sebelumnya dalam kerangka wahdat al-risalah, yaitu kesatuan misi kenabian. Kesamaan kisah tidak dipahami sebagai bukti penjiplakan, melainkan sebagai indikasi konsistensi pesan tauhid sepanjang sejarah manusia. Al-Qur’an bahkan secara eksplisit mengkritik distorsi teks dan teologi yang terjadi dalam tradisi sebelumnya, sebuah kritik yang oleh sebagian tradisi Kristen dipahami sebagai ancaman langsung terhadap otoritas gereja dan fondasi teologinya.

Nabi Muhammad dan Delegitimasi Personal

Ketika upaya mengalahkan Islam secara militer mengalami kegagalan, polemik Kristen terhadap Islam mengalami pergeseran fokus ke wilayah personal, khususnya terhadap sosok Nabi Muhammad ﷺ. Dalam literatur polemik Kristen, Nabi Muhammad sering digambarkan sebagai figur yang digerakkan oleh ambisi politik, memanipulasi wahyu demi kepentingan kekuasaan, atau menyebarkan agama melalui kekerasan. Tuduhan-tuduhan ini kemudian direproduksi dan diperluas dalam tradisi orientalisme modern, sering kali tanpa pembacaan historis yang komprehensif dan adil. Fenomena ini dapat dibaca sebagai mekanisme psikologis dan teologis: jika Islam diakui sebagai agama yang sah secara moral dan teologis, maka kekalahan Bizantium di Yarmuk menjadi semakin sulit dijelaskan dalam kerangka teologi Kristen imperialis.

Narasi delegitimasi terhadap Nabi Muhammad tidak berhenti pada abad pertengahan, melainkan berlanjut hingga era modern, terutama dalam wacana Barat pasca-Perang Salib dan kolonialisme. Dalam banyak kasus, citra negatif tentang Nabi Muhammad direproduksi bukan sebagai hasil kajian ilmiah yang netral, melainkan sebagai warisan polemik lama yang terus diperbarui sesuai konteks zaman.

Produksi Ingatan dan Pewarisan Kebencian

Perang Yarmuk dengan demikian menjadi bagian dari memori laten dalam relasi Islam–Kristen. Ia tidak selalu disebut secara eksplisit dalam wacana teologis atau politik, tetapi hidup dalam sikap, prasangka, dan narasi yang diwariskan lintas generasi. Dalam teori ingatan kolektif, kekalahan besar jarang diingat sebagai fakta sejarah yang objektif; sebaliknya, ia diproduksi sebagai luka identitas yang membentuk cara suatu komunitas memandang dirinya dan pihak lain. Dalam konteks ini, Yarmuk berfungsi sebagai trauma historis yang memengaruhi produksi wacana tentang Islam dalam sebagian tradisi Kristen.

Namun penting untuk ditegaskan bahwa kebencian terhadap Islam atau Nabi Muhammad bukanlah sikap seluruh umat Kristen. Ia lebih tepat dipahami sebagai produk dari elite teolog tertentu, kepentingan politik, dan struktur kekuasaan yang merasa terancam oleh perubahan tatanan dunia. Sejarah relasi Islam–Kristen juga memperlihatkan fase-fase koeksistensi, dialog, dan kerja sama yang signifikan, seperti yang terjadi di Andalusia dan wilayah Timur Tengah pada masa awal Islam, di mana komunitas Muslim dan Kristen hidup berdampingan dalam kerangka sosial yang relatif inklusif.

Penutup

Perang Yarmuk pada akhirnya merupakan lebih dari sekadar pertempuran militer abad ke-7. Ia adalah titik balik sejarah yang melahirkan krisis legitimasi, produksi ingatan kolektif, dan polemik teologis yang panjang. Kekalahan Bizantium tidak hanya mengubah peta politik kawasan Mediterania Timur, tetapi juga memengaruhi cara sebagian tradisi Kristen memandang Islam, Al-Qur’an, dan Nabi Muhammad hingga hari ini.

Dengan pendekatan sejarah kritis dan ushuluddin, dapat disimpulkan bahwa banyak tuduhan terhadap Islam lebih merupakan respons terhadap trauma sejarah dan kehilangan hegemoni religio-politik, daripada hasil kajian teks yang objektif dan berimbang. Memahami Perang Yarmuk sebagai peristiwa sejarah sekaligus fenomena produksi ingatan membuka peluang bagi pembacaan yang lebih jujur dan dialog yang lebih adil antara dua tradisi iman besar dunia.[T]

Referensi:

Al-Balādhurī, Futūḥ al-Buldān

Al-Ṭabarī, Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk

Al-Wāqidī, Kitāb al-Maghāzī

Ibn Kathīr, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah

Ibn Khaldūn, Muqaddimah

Theophanes the Confessor, The Chronicle of Theophanes

John of Damascus, De Haeresibus

 Sophronius of Jerusalem, Synodical Letter

Fred M. Donner, The Early Islamic Conquests

Hugh Kennedy, The Great Arab Conquests

Walter E. Kaegi, Heraclius: Emperor of Byzantium

John Haldon, Byzantium in the Seventh Century

Kenneth Cragg, The Call of the Minaret

Norman Daniel, Islam and the West

W. Montgomery Watt, Muhammad at Mecca

W. Montgomery Watt, Muhammad at Medina

Gabriel Said Reynolds, The Qur’an and Its Biblical Subtext

.

Tags: agamaIslamKristenperangTeologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lima Remaja, Satu Cerita: It’s Stellar Memulai Langkah Lewat ‘Berdansa dalam Cerita’

Next Post

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co