12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suara Perempuan dalam Sastra : Menulis sebagai Pena Penyembuh dalam Perjalanan Dee Lestari

Putu Ayu Sunia Dewi by Putu Ayu Sunia Dewi
August 14, 2025
in Khas
Suara Perempuan dalam Sastra : Menulis sebagai Pena Penyembuh dalam Perjalanan Dee Lestari

Sunia Dewi (penulis) bersama Dee Lestari di Singaraja Literary Festival 2025

Dee Lestari: Melampaui Batasan, Menyembuhkan dengan Kata-Kata

Dari panggung musik yang dipenuhi sorotan lampu hingga keheningan pena di atas kertas, Dee Lestari telah membuktikan bahwa kata-kata adalah senjata ampuh yang dapat mengubah perspektif dan menginspirasi generasi. Perjalanan kreatifnya, yang melintasi dua jagat seni yang berbeda, bukan sekadar transisi karier, melainkan sebuah pencarian makna yang mendalam. Kehadirannya sebagai narasumber dalam Diskusi Kisah-Kisah Ajaib yang Menyembuhkan di Literary Festival sukses menegaskan esensi dari karyanya bahwa tulisan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, baik bagi penulisnya maupun pembacanya. Melalui perjalanan hidupnya, Dee Lestari membuka mata kita pada sebuah kebenaran universal bahwa seni, dalam bentuknya yang paling murni, adalah jembatan menuju pemahaman diri dan koneksi spiritual.

Bagi Dee Lestari, menulis menjadi skill yang digunakan seumur hidup dan essential dalam menjalani hidup. Dengan menulis, kita dapat menuangkan dan meluapkan segala perasaan hanya dengan serangkaian kata-kata. Ketika menulis diawal, tentunya tidak semua orang mampu berada dipuncak keberhasilan dalam menulis, hal ini memerlukan waktu saat menulis belum berhasil, Dee Lestari tetap mencoba lagi hingga tulisan tersebut saat ini dikenal oleh masyarakat luas. Hal ini Dee sebut dengan teknik “trial and error”. Dengan mencoba berkali-kali akan menumbuhkan pengalaman dalam menulis hingga berhasil disukai oleh khalayak banyak orang. Sebab, setiap orang menjalani prosesnya, dengan terus menulis dan mencoba lagi ketika belum berhasil, disinilah kita dapat mengukur kualitas kita dalam menulis.

Dee Lestari membaca puisi di acara Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Sunia

Dee Lestari menjadi sosok perempuan yang sangat dikagumi oleh penggemar yang gemar dalam menulis. Melalui karyanya dalam menulis, mencerminkan setiap kata yang dituangkan ketika membaca untuk terus berkarya dan tidak pernah berhenti dalam menulis. Setiap orang memiliki genre yang disukai dalam menulis, itulah yang disampaikan Dee Lestari saat mengisi acara MTN Asah Bakat (Penulis Novel) tepatnya di Singaraja Literary Festival, 26 Juli 2025. Saya merasa sangat gembira karena bekesempatan hadir secara langsung sebagai finalis untuk hadir dan bisa belajar banyak ilmu dari Dee Lestari.

Alasan mengapa menulis menjadi hal yang menarik dalam kehidupan Dee Lestari hingga akhirnya ia terjun menjadi seorang penulis profesional adalah sebuah kisah yang berakar jauh di masa kecilnya. Sejak kelas 5 SD, ia sudah merasakan dorongan kuat untuk menuangkan pikiran dan imajinasinya ke dalam tulisan. Pada usia di mana banyak anak lain fokus pada permainan, Dee sudah sibuk dengan dunia batinnya, membangun karakter, dan merangkai cerita. Menulis, baginya, bukanlah sebuah pilihan yang terencana, melainkan sebuah kebutuhan yang tumbuh secara alami dari dalam diri.

Dee Lestari menjelaskan, “Saya menulis karena saya merasa membutuhkan banyak hal dalam kehidupan maupun cara menjalani kehidupan.”

Ungkapan itu menjadi kunci untuk memahami seluruh perjalanan kreatifnya. Menulis adalah cara Dee untuk memproses emosi, memahami kompleksitas dunia, dan menemukan cara terbaik untuk menjalani hidup. Ini adalah sebuah proses terapi diri yang membantunya mengolah pengalaman, baik yang pahit maupun yang manis, menjadi sesuatu yang bermakna. Lebih dari sekadar hobi atau profesi, menulis telah menjadi semacam kompas spiritual yang membimbingnya.

Di balik karir bermusiknya yang sukses, hasrat untuk menulis tidak pernah pudar. Ini adalah api yang terus menyala, mendorongnya untuk terus bereksperimen dengan kata-kata, bahkan ketika ia berada di puncak popularitasnya sebagai penyanyi. Transisi dari dunia musik ke dunia sastra, yang mungkin tampak mengejutkan bagi banyak orang, sebenarnya adalah evolusi yang logis bagi Dee. Ini adalah langkah maju menuju otentisitas, dimana ia bisa sepenuhnya mengeksplorasi kedalaman pikirannya tanpa batasan genre atau format. Menulis memberinya kebebasan untuk mengekspresikan diri secara utuh, mengenali dirinya sendiri, dan, seperti yang ia katakan, “bertemu dengan alam inspirasi.”

Mengulas Perjalanan Menulis: Dari Pemicu Kreatif hingga Pencapaian Gemilang

Perjalanan menulis Dee Lestari adalah kisah tentang ketekunan, eksplorasi, dan pengakuan. Dimulai sejak masa kanak-kanak, ia telah mengasah kemampuannya dalam merangkai kata dan membangun narasi. Ketika ia memutuskan untuk menerbitkan karya pertamanya, Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh pada tahun 2001, ia tidak hanya memperkenalkan sebuah novel, melainkan sebuah fenomena baru dalam sastra Indonesia. Novel ini memadukan fiksi ilmiah dengan filsafat, spiritualitas, dan romansa, sebuah perpaduan yang belum pernah ada sebelumnya dan berhasil memikat jutaan pembaca.

Sejak saat itu, produktivitas Dee Lestari sebagai penulis terus meningkat. Hingga saat ini, ia telah menerbitkan setidaknya 18 novel, sebuah angka yang luar biasa dan mencerminkan dedikasi yang tinggi terhadap dunia sastra. Karya antaloginya telah mendapat beberapa penghargaan, antara lain Karya Sastra Terbaik Tempo dan 5 Besar Khatulistiwa Award untuk Filosofi Kopi, serta Penghargaan Badan Bahasa untuk Madre. Karyanya tidak terbatas pada satu genre. Ia telah menjelajahi berbagai tema, dari seri fiksi ilmiah Supernova yang kompleks hingga cerita-cerita yang lebih personal dan mendalam seperti Perahu Kertas, Aroma Karsa, trilogi Rapijali dan Rectoverso. Keragaman ini membuktikan fleksibilitas dan kedalaman imajinasinya.

Pencapaian Dee Lestari tidak hanya diukur dari kuantitas karyanya, tetapi juga dari kualitas dan pengakuan yang diterimanya. Ia telah memenangkan berbagai penghargaan bergengsi dalam dunia sastra. Penghargaan-penghargaan ini bukan sekadar piala atau sertifikat, melainkan validasi dari industri dan kritikus bahwa karyanya memiliki nilai artistik dan relevansi yang tinggi. Karyanya berhasil menjembatani kesenjangan antara sastra populer dan sastra yang dianggap “berat,” membuatnya menjadi sosok yang dihormati di kedua dunia tersebut.

Cermin Jiwa Seorang Penulis

Salah satu buku yang paling mencerminkan filosofi hidup dan pandangan Dee Lestari tentang menulis adalah Tanpa Rencana. Buku ini bukanlah novel fiksi, melainkan kumpulan esai dan tulisan non-fiksi yang menyentuh berbagai topik, dari spiritualitas, kreativitas, hingga isu-isu sosial. Melalui buku ini, Dee mengajak pembaca untuk melihat dunia dari sudut pandangnya yang unik dan reflektif.

Tanpa Rencana adalah bukti nyata dari kutipan Dee tentang menulis sebagai “penyembuhan bagi diri sendiri.” Setiap esai di dalamnya terasa seperti sebuah sesi terapi, di mana ia mengupas isu-isu personal dan universal dengan kejujuran yang menawan. Ia membahas bagaimana menghadapi ketidakpastian hidup, pentingnya menerima diri sendiri, dan menemukan makna di tengah kekacauan. Penulisan Dee dalam buku ini sangat pribadi dan intim, membuat pembaca merasa seperti sedang berdialog langsung dengannya. Buku ini juga berisi kumpulan perenungan mendalam tentang hdidup, kematian, kehilagan, penerimaan, dan spiritualitas, kembali berhasil diolah Dee menjadi cerita pendek serta puisi naratif yang renyah, lincah sekaligus menyentuh.,

Buku ini merupakan karya antalogi keempat yang menunjukkan bahwa di balik karya-karya fiksinya yang imajinatif dan kompleks, ada seorang penulis yang sangat grounded, yang peduli dengan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa Rencana menjadi semacam manual untuk menjalani hidup dengan lebih sadar dan penuh rasa syukur. Dengan gaya bahasa yang lugas namun puitis, Dee berhasil mengubah pengalaman-pengalaman biasa menjadi pelajaran-pelajaran berharga dan penuh makna. Ini adalah buku yang membuktikan bahwa menulis bukanlah sekadar alat untuk bercerita, tetapi juga sebuah cara untuk merefleksikan dan memahami kehidupan.

Perempuan dan Sastra: Menulis sebagai Pemberdayaan Diri dalam Dunia Patriarki

Kisah Dee Lestari juga tidak bisa dilepaskan dari konteksnya sebagai seorang perempuan dalam dunia menulis yang, seperti banyak bidang lainnya, masih sangat dipengaruhi oleh sistem patriarki. Dalam masyarakat yang sering kali membatasi ruang gerak dan suara perempuan, Dee Lestari muncul sebagai sosok yang berhasil mendobrak batasan-batasan tersebut. Ia menggunakan tulisannya sebagai platform untuk menyuarakan pemikiran, gagasan, dan emosi yang seringkali diabaikan.

Dee Lestari memberikan materi dalam program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Asah Bakat Penulisan Novel serangkaian acara Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Sunia

“Menulis itu adalah penyembuhan bagi diri sendiri,” kata Dee. Ungkapan ini menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Bagi perempuan, menulis bisa menjadi sebuah tindakan revolusioner, sebuah cara untuk merebut kembali narasi hidup mereka dari tangan orang lain. Di tengah tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial, menulis menawarkan sebuah ruang privat di mana perempuan bisa menjadi diri mereka sendiri, tanpa perlu meminta izin. Ini adalah cara untuk mengolah trauma, merayakan pencapaian, dan menemukan identitas yang autentik. Menulis menjadi alat penyembuhan yang sangat personal, yang memungkinkan perempuan untuk menemukan kekuatan dari dalam diri.

Dee Lestari tidak hanya menulis tentang perempuan, tetapi ia juga menulis sebagai perempuan, dengan perspektif dan sensitivitas yang unik. Melalui karakter-karakter perempuan yang kuat dan kompleks dalam novel-novelnya, ia menantang stereotip dan menunjukkan bahwa perempuan adalah pribadi yang multidimensi. Karyanya memberikan inspirasi bagi pembaca perempuan untuk berani bermimpi, berani bersuara, dan berani menjadi diri sendiri.

Lebih dari itu, Dee juga berbicara tentang menulis sebagai cara untuk terkoneksi dengan spiritualitas dan lingkungan. Dalam dunia yang sering kali didominasi oleh logika dan materialisme, ia mengingatkan kita bahwa ada dimensi lain dalam kehidupan yang tidak terlihat oleh mata. Menulis, baginya, adalah sebuah jembatan ke dunia batin, ke alam imajinasi, dan ke sumber inspirasi yang tidak terbatas. Ini adalah sebuah tindakan yang melampaui batasan genre dan konvensi, sebuah cara untuk “berkarya secara manusia secara utuh,” menceritakan hal yang baik, dan menyebarkan energi positif melalui kata-kata.

Warisan Kata-Kata yang Abadi

Perjalanan Dee Lestari dari dunia musik ke jagat sastra adalah sebuah kisah tentang evolusi diri dan kekuatan kata-kata. Ia telah membuktikan bahwa menulis bukan sekadar profesi, melainkan sebuah panggilan jiwa yang dapat membawa penyembuhan, pemahaman diri, dan koneksi spiritual. Melalui karyanya yang beragam, ia berhasil menginspirasi jutaan pembaca untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda, untuk berani mengekspresikan diri, dan untuk menemukan kekuatan dalam setiap kata yang mereka tulis atau baca.

Sebagai seorang penulis perempuan, Dee Lestari juga menjadi simbol pemberdayaan. Ia menunjukkan bahwa di tengah sistem patriarki, menulis bisa menjadi alat revolusi yang senyap namun kuat, sebuah cara untuk merebut kembali narasi dan menemukan identitas diri yang otentik. Kisah Dee Lestari adalah pengingat bahwa di dalam diri setiap orang, ada sebuah cerita yang menunggu untuk ditulis, dan di dalam cerita itu, terdapat kekuatan untuk menyembuhkan, menginspirasi, dan mengubah dunia, satu kata pada satu waktu. [T]

Penulis: Putu Ayu Sunia Dewi
Editor: Adnyana Ole

Artikel ditulis serangkaian acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali. Ditulis oleh penulis yang lolos open call residensi penulis festival di Singaraja Literary Festival 2025

  • BACA JUGA:
Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina — Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025
Menemukan Keaslian Dee Lestari pada “Tanpa Rencana”
Bertemu Dee Lestari di UWRF 2024, Bertemu “Tanpa Rencana”, Sebuah Karya yang Jujur
Resep Manis Menulis Prosa ala Henry Manampiring dan Dee Lestari
Tags: Dee LestarinovelsastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Vibrasi Alami

Next Post

Agni Ariatama Pentaskan “Mānuṣa Bhīma – Pakeliran 369”: Inovasi Estetika Kesadaran Vibrasi Semesta dalam Disertasi Penciptaan Seni ISI Bali

Putu Ayu Sunia Dewi

Putu Ayu Sunia Dewi

Mahasiswa S2 di dua perguruan tinggi yaitu Politeknik Negeri Bali mengambil konsentrasi bisnis digital dan Inti International College Malaysia mengambil jurusan informasi teknologi. Saat ini terlibat aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia sebagai ketua departemen sumber daya manusia PPI TV . Penulis dapat dihubungi di putuayusuniadewi@gmail.com

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Agni Ariatama Pentaskan “Mānuṣa Bhīma – Pakeliran 369”: Inovasi Estetika Kesadaran Vibrasi Semesta dalam Disertasi Penciptaan Seni ISI Bali

Agni Ariatama Pentaskan “Mānuṣa Bhīma – Pakeliran 369”: Inovasi Estetika Kesadaran Vibrasi Semesta dalam Disertasi Penciptaan Seni ISI Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co