2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suara Perempuan dalam Sastra : Menulis sebagai Pena Penyembuh dalam Perjalanan Dee Lestari

Putu Ayu Sunia Dewi by Putu Ayu Sunia Dewi
August 14, 2025
in Khas
Suara Perempuan dalam Sastra : Menulis sebagai Pena Penyembuh dalam Perjalanan Dee Lestari

Sunia Dewi (penulis) bersama Dee Lestari di Singaraja Literary Festival 2025

Dee Lestari: Melampaui Batasan, Menyembuhkan dengan Kata-Kata

Dari panggung musik yang dipenuhi sorotan lampu hingga keheningan pena di atas kertas, Dee Lestari telah membuktikan bahwa kata-kata adalah senjata ampuh yang dapat mengubah perspektif dan menginspirasi generasi. Perjalanan kreatifnya, yang melintasi dua jagat seni yang berbeda, bukan sekadar transisi karier, melainkan sebuah pencarian makna yang mendalam. Kehadirannya sebagai narasumber dalam Diskusi Kisah-Kisah Ajaib yang Menyembuhkan di Literary Festival sukses menegaskan esensi dari karyanya bahwa tulisan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, baik bagi penulisnya maupun pembacanya. Melalui perjalanan hidupnya, Dee Lestari membuka mata kita pada sebuah kebenaran universal bahwa seni, dalam bentuknya yang paling murni, adalah jembatan menuju pemahaman diri dan koneksi spiritual.

Bagi Dee Lestari, menulis menjadi skill yang digunakan seumur hidup dan essential dalam menjalani hidup. Dengan menulis, kita dapat menuangkan dan meluapkan segala perasaan hanya dengan serangkaian kata-kata. Ketika menulis diawal, tentunya tidak semua orang mampu berada dipuncak keberhasilan dalam menulis, hal ini memerlukan waktu saat menulis belum berhasil, Dee Lestari tetap mencoba lagi hingga tulisan tersebut saat ini dikenal oleh masyarakat luas. Hal ini Dee sebut dengan teknik “trial and error”. Dengan mencoba berkali-kali akan menumbuhkan pengalaman dalam menulis hingga berhasil disukai oleh khalayak banyak orang. Sebab, setiap orang menjalani prosesnya, dengan terus menulis dan mencoba lagi ketika belum berhasil, disinilah kita dapat mengukur kualitas kita dalam menulis.

Dee Lestari membaca puisi di acara Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Sunia

Dee Lestari menjadi sosok perempuan yang sangat dikagumi oleh penggemar yang gemar dalam menulis. Melalui karyanya dalam menulis, mencerminkan setiap kata yang dituangkan ketika membaca untuk terus berkarya dan tidak pernah berhenti dalam menulis. Setiap orang memiliki genre yang disukai dalam menulis, itulah yang disampaikan Dee Lestari saat mengisi acara MTN Asah Bakat (Penulis Novel) tepatnya di Singaraja Literary Festival, 26 Juli 2025. Saya merasa sangat gembira karena bekesempatan hadir secara langsung sebagai finalis untuk hadir dan bisa belajar banyak ilmu dari Dee Lestari.

Alasan mengapa menulis menjadi hal yang menarik dalam kehidupan Dee Lestari hingga akhirnya ia terjun menjadi seorang penulis profesional adalah sebuah kisah yang berakar jauh di masa kecilnya. Sejak kelas 5 SD, ia sudah merasakan dorongan kuat untuk menuangkan pikiran dan imajinasinya ke dalam tulisan. Pada usia di mana banyak anak lain fokus pada permainan, Dee sudah sibuk dengan dunia batinnya, membangun karakter, dan merangkai cerita. Menulis, baginya, bukanlah sebuah pilihan yang terencana, melainkan sebuah kebutuhan yang tumbuh secara alami dari dalam diri.

Dee Lestari menjelaskan, “Saya menulis karena saya merasa membutuhkan banyak hal dalam kehidupan maupun cara menjalani kehidupan.”

Ungkapan itu menjadi kunci untuk memahami seluruh perjalanan kreatifnya. Menulis adalah cara Dee untuk memproses emosi, memahami kompleksitas dunia, dan menemukan cara terbaik untuk menjalani hidup. Ini adalah sebuah proses terapi diri yang membantunya mengolah pengalaman, baik yang pahit maupun yang manis, menjadi sesuatu yang bermakna. Lebih dari sekadar hobi atau profesi, menulis telah menjadi semacam kompas spiritual yang membimbingnya.

Di balik karir bermusiknya yang sukses, hasrat untuk menulis tidak pernah pudar. Ini adalah api yang terus menyala, mendorongnya untuk terus bereksperimen dengan kata-kata, bahkan ketika ia berada di puncak popularitasnya sebagai penyanyi. Transisi dari dunia musik ke dunia sastra, yang mungkin tampak mengejutkan bagi banyak orang, sebenarnya adalah evolusi yang logis bagi Dee. Ini adalah langkah maju menuju otentisitas, dimana ia bisa sepenuhnya mengeksplorasi kedalaman pikirannya tanpa batasan genre atau format. Menulis memberinya kebebasan untuk mengekspresikan diri secara utuh, mengenali dirinya sendiri, dan, seperti yang ia katakan, “bertemu dengan alam inspirasi.”

Mengulas Perjalanan Menulis: Dari Pemicu Kreatif hingga Pencapaian Gemilang

Perjalanan menulis Dee Lestari adalah kisah tentang ketekunan, eksplorasi, dan pengakuan. Dimulai sejak masa kanak-kanak, ia telah mengasah kemampuannya dalam merangkai kata dan membangun narasi. Ketika ia memutuskan untuk menerbitkan karya pertamanya, Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh pada tahun 2001, ia tidak hanya memperkenalkan sebuah novel, melainkan sebuah fenomena baru dalam sastra Indonesia. Novel ini memadukan fiksi ilmiah dengan filsafat, spiritualitas, dan romansa, sebuah perpaduan yang belum pernah ada sebelumnya dan berhasil memikat jutaan pembaca.

Sejak saat itu, produktivitas Dee Lestari sebagai penulis terus meningkat. Hingga saat ini, ia telah menerbitkan setidaknya 18 novel, sebuah angka yang luar biasa dan mencerminkan dedikasi yang tinggi terhadap dunia sastra. Karya antaloginya telah mendapat beberapa penghargaan, antara lain Karya Sastra Terbaik Tempo dan 5 Besar Khatulistiwa Award untuk Filosofi Kopi, serta Penghargaan Badan Bahasa untuk Madre. Karyanya tidak terbatas pada satu genre. Ia telah menjelajahi berbagai tema, dari seri fiksi ilmiah Supernova yang kompleks hingga cerita-cerita yang lebih personal dan mendalam seperti Perahu Kertas, Aroma Karsa, trilogi Rapijali dan Rectoverso. Keragaman ini membuktikan fleksibilitas dan kedalaman imajinasinya.

Pencapaian Dee Lestari tidak hanya diukur dari kuantitas karyanya, tetapi juga dari kualitas dan pengakuan yang diterimanya. Ia telah memenangkan berbagai penghargaan bergengsi dalam dunia sastra. Penghargaan-penghargaan ini bukan sekadar piala atau sertifikat, melainkan validasi dari industri dan kritikus bahwa karyanya memiliki nilai artistik dan relevansi yang tinggi. Karyanya berhasil menjembatani kesenjangan antara sastra populer dan sastra yang dianggap “berat,” membuatnya menjadi sosok yang dihormati di kedua dunia tersebut.

Cermin Jiwa Seorang Penulis

Salah satu buku yang paling mencerminkan filosofi hidup dan pandangan Dee Lestari tentang menulis adalah Tanpa Rencana. Buku ini bukanlah novel fiksi, melainkan kumpulan esai dan tulisan non-fiksi yang menyentuh berbagai topik, dari spiritualitas, kreativitas, hingga isu-isu sosial. Melalui buku ini, Dee mengajak pembaca untuk melihat dunia dari sudut pandangnya yang unik dan reflektif.

Tanpa Rencana adalah bukti nyata dari kutipan Dee tentang menulis sebagai “penyembuhan bagi diri sendiri.” Setiap esai di dalamnya terasa seperti sebuah sesi terapi, di mana ia mengupas isu-isu personal dan universal dengan kejujuran yang menawan. Ia membahas bagaimana menghadapi ketidakpastian hidup, pentingnya menerima diri sendiri, dan menemukan makna di tengah kekacauan. Penulisan Dee dalam buku ini sangat pribadi dan intim, membuat pembaca merasa seperti sedang berdialog langsung dengannya. Buku ini juga berisi kumpulan perenungan mendalam tentang hdidup, kematian, kehilagan, penerimaan, dan spiritualitas, kembali berhasil diolah Dee menjadi cerita pendek serta puisi naratif yang renyah, lincah sekaligus menyentuh.,

Buku ini merupakan karya antalogi keempat yang menunjukkan bahwa di balik karya-karya fiksinya yang imajinatif dan kompleks, ada seorang penulis yang sangat grounded, yang peduli dengan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa Rencana menjadi semacam manual untuk menjalani hidup dengan lebih sadar dan penuh rasa syukur. Dengan gaya bahasa yang lugas namun puitis, Dee berhasil mengubah pengalaman-pengalaman biasa menjadi pelajaran-pelajaran berharga dan penuh makna. Ini adalah buku yang membuktikan bahwa menulis bukanlah sekadar alat untuk bercerita, tetapi juga sebuah cara untuk merefleksikan dan memahami kehidupan.

Perempuan dan Sastra: Menulis sebagai Pemberdayaan Diri dalam Dunia Patriarki

Kisah Dee Lestari juga tidak bisa dilepaskan dari konteksnya sebagai seorang perempuan dalam dunia menulis yang, seperti banyak bidang lainnya, masih sangat dipengaruhi oleh sistem patriarki. Dalam masyarakat yang sering kali membatasi ruang gerak dan suara perempuan, Dee Lestari muncul sebagai sosok yang berhasil mendobrak batasan-batasan tersebut. Ia menggunakan tulisannya sebagai platform untuk menyuarakan pemikiran, gagasan, dan emosi yang seringkali diabaikan.

Dee Lestari memberikan materi dalam program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Asah Bakat Penulisan Novel serangkaian acara Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Sunia

“Menulis itu adalah penyembuhan bagi diri sendiri,” kata Dee. Ungkapan ini menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Bagi perempuan, menulis bisa menjadi sebuah tindakan revolusioner, sebuah cara untuk merebut kembali narasi hidup mereka dari tangan orang lain. Di tengah tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial, menulis menawarkan sebuah ruang privat di mana perempuan bisa menjadi diri mereka sendiri, tanpa perlu meminta izin. Ini adalah cara untuk mengolah trauma, merayakan pencapaian, dan menemukan identitas yang autentik. Menulis menjadi alat penyembuhan yang sangat personal, yang memungkinkan perempuan untuk menemukan kekuatan dari dalam diri.

Dee Lestari tidak hanya menulis tentang perempuan, tetapi ia juga menulis sebagai perempuan, dengan perspektif dan sensitivitas yang unik. Melalui karakter-karakter perempuan yang kuat dan kompleks dalam novel-novelnya, ia menantang stereotip dan menunjukkan bahwa perempuan adalah pribadi yang multidimensi. Karyanya memberikan inspirasi bagi pembaca perempuan untuk berani bermimpi, berani bersuara, dan berani menjadi diri sendiri.

Lebih dari itu, Dee juga berbicara tentang menulis sebagai cara untuk terkoneksi dengan spiritualitas dan lingkungan. Dalam dunia yang sering kali didominasi oleh logika dan materialisme, ia mengingatkan kita bahwa ada dimensi lain dalam kehidupan yang tidak terlihat oleh mata. Menulis, baginya, adalah sebuah jembatan ke dunia batin, ke alam imajinasi, dan ke sumber inspirasi yang tidak terbatas. Ini adalah sebuah tindakan yang melampaui batasan genre dan konvensi, sebuah cara untuk “berkarya secara manusia secara utuh,” menceritakan hal yang baik, dan menyebarkan energi positif melalui kata-kata.

Warisan Kata-Kata yang Abadi

Perjalanan Dee Lestari dari dunia musik ke jagat sastra adalah sebuah kisah tentang evolusi diri dan kekuatan kata-kata. Ia telah membuktikan bahwa menulis bukan sekadar profesi, melainkan sebuah panggilan jiwa yang dapat membawa penyembuhan, pemahaman diri, dan koneksi spiritual. Melalui karyanya yang beragam, ia berhasil menginspirasi jutaan pembaca untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda, untuk berani mengekspresikan diri, dan untuk menemukan kekuatan dalam setiap kata yang mereka tulis atau baca.

Sebagai seorang penulis perempuan, Dee Lestari juga menjadi simbol pemberdayaan. Ia menunjukkan bahwa di tengah sistem patriarki, menulis bisa menjadi alat revolusi yang senyap namun kuat, sebuah cara untuk merebut kembali narasi dan menemukan identitas diri yang otentik. Kisah Dee Lestari adalah pengingat bahwa di dalam diri setiap orang, ada sebuah cerita yang menunggu untuk ditulis, dan di dalam cerita itu, terdapat kekuatan untuk menyembuhkan, menginspirasi, dan mengubah dunia, satu kata pada satu waktu. [T]

Penulis: Putu Ayu Sunia Dewi
Editor: Adnyana Ole

Artikel ditulis serangkaian acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali. Ditulis oleh penulis yang lolos open call residensi penulis festival di Singaraja Literary Festival 2025

  • BACA JUGA:
Kisah Dee Lestari Mengejar Lumba-lumba di Pantai Lovina — Catatan Proses Kreatif dari Singaraja Literary Festival 2025
Menemukan Keaslian Dee Lestari pada “Tanpa Rencana”
Bertemu Dee Lestari di UWRF 2024, Bertemu “Tanpa Rencana”, Sebuah Karya yang Jujur
Resep Manis Menulis Prosa ala Henry Manampiring dan Dee Lestari
Tags: Dee LestarinovelsastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Vibrasi Alami

Next Post

Agni Ariatama Pentaskan “Mānuṣa Bhīma – Pakeliran 369”: Inovasi Estetika Kesadaran Vibrasi Semesta dalam Disertasi Penciptaan Seni ISI Bali

Putu Ayu Sunia Dewi

Putu Ayu Sunia Dewi

Mahasiswa S2 di dua perguruan tinggi yaitu Politeknik Negeri Bali mengambil konsentrasi bisnis digital dan Inti International College Malaysia mengambil jurusan informasi teknologi. Saat ini terlibat aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia sebagai ketua departemen sumber daya manusia PPI TV . Penulis dapat dihubungi di putuayusuniadewi@gmail.com

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Agni Ariatama Pentaskan “Mānuṣa Bhīma – Pakeliran 369”: Inovasi Estetika Kesadaran Vibrasi Semesta dalam Disertasi Penciptaan Seni ISI Bali

Agni Ariatama Pentaskan “Mānuṣa Bhīma – Pakeliran 369”: Inovasi Estetika Kesadaran Vibrasi Semesta dalam Disertasi Penciptaan Seni ISI Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co