6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 11, 2025
in Panggung
Menonton Ucok Homicide yang Tetap Setia pada Dentuman Hip-hop di Singaraja Literary Festival 2025

Penampilan Ucok Homicide di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

“CINTA pertama saya adalah hip-hop.”

Kalimat itu keluar dari Herry Sutresna, atau lebih dikenal dengan Morgue Vanguard atau Ucok Homicide, tanpa ragu. Di tengah ragam proyek musik yang telah ia jalani selama puluhan tahun, hip-hop tetap menjadi titik mula dan poros yang tak tergantikan.

Malam itu, sekitar pukul sepuluh, gedung kesenian Sasana Budaya, Buleleng, Bali, menjelma ruang dengan denyut lampu merah, hijau, dan biru yang menari di panggung secara bergantian. Cahaya-cahaya itu jatuh di antara siluet penonton, sesekali memantul di wajah Herry Sutresna.

Diawali Marlowe Bandem dan Adi Pratama dengan set DJ yang santai, nyaris menyerupai suasana kafe larut malam—untuk yang ini, udara seperti dipenuhi kesan yang lebih pekat. Proyektor dari utara menembakkan visuan-visual cadas, horor, retakan-retakan noise ala 90-an, cuplikan video yang membawa kembali aroma tahun 1998—masa ketika jalanan Indonesia bergetar oleh perlawanan dan aparat bersiaga di setiap sudut.

Penampilan Ucok Homicide di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Visual yang memberi pesan akan ada ledakan malam ini. Intronya berjalan lama, membentuk ruang dengar yang perlahan mengikat perhatian. Hingga kemudian, giliran panggung diserahkan pada sosok yang telah lama membawa gema perlawanan di setiap katanya, the one and only, Ucok, mantan vokalis Homicide.

Kehadiran Ucok membelah riuh. Meski pencahayaan remang-remang, sorot kamera dari segala arah menembus gelap, menangkap tiap geraknya. Umur hanyalah angka, kata orang-orang, penampilan Ucok tak kalah dengan pemuda-pemuda di luar sana. Malam itu, ia menutup uban di kepalanya dengan topi berlambang bendera Palestina—menunjukan kepada siapa ia berpihak.

Ucok membuka dengan salam dan ucapan terima kasih atas undangan di Singaraja Literary Festival (SLF) 2025, lalu dengan nada sedikit getir, ia menyinggung kota kelahirannya, Bandung, yang menurutnya tak punya ruang sehebat ini, ruang yang berhasil mempertemukan penulis, dan para pencinta sastra.

Banyak sajak dihujamkan malam itu, salah satunya berjudul “Jeruji”. Kata-kata yang terdengar seperti tusukan demi tusukan yang menelusuri luka sosial dan politik. Ia menggaungkan tentang generasi yang mungkin hanya akan menjadi “pabrik”, tentang masa depan yang penuh tirani. Setiap barisnya disampaikan dengan nada geram yang tak sekadar lantang, tapi berat juga, bak batu yang dilempar tepat ke tengah arus.

Penampilan Ucok Homicide dan Marlowe Bandem di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Penonton tak sekadar mendengar, mereka menanggung gema yang menggetarkan dada. Lalu “Barisan Nisan”, sebuah lontaran panjang yang menggabungkan satire dan kritik sosial. Di antara kata-kata yang diucapnya, terselip ironi betapa indahnya dunia yang berdiri di atas “barisan nisan yang dikebiri matahari”. Pesannya getir, mengoyak suasana penonton yang hadir.

Namun, puncak malam itu datang ketika Ucok membawakan “Sajak Suara” karya Wiji Thukul, sang legenda yang hilang. Sebelum memulai, ia menutup pengantarnya dengan kalimat menggetarkan. “Selamat kepada kalian semua, semoga kalian berbahagia, karena kalian telah memilih penculik sebagai pemimpin kalian saat ini”.

Suara seraknya menghidupkan kembali perlawanan yang terkandung dalam teks “Sajak Suara”, memproklamasikan bahwa suara tak bisa diredam, dan bagian “aku akan memburumu seperti kutukan” dengan nada yang mengeras, entah, itu bukan sekadar teriakan, tapi itu seperti benar-benar kutukan yang dilempar tengah malam. Penonton terpukau, seolah setiap kata menjadi bara yang melompat ke panggung.

Malam itu, Ucok membawakan lima puisi dengan gema yang menggetarkan, yakni Jeruji, Barisan Nisan, Wicirna Sahana, Sajak Suara, dan Kabut.

Ucok dan Hip-hop

Ucok pertama kali jatuh cinta pada hip-hop pada tahun 1983, saat usianya baru menginjak sembilan tahun. Musik itu bukan sekadar terdengar di sekitarnya, tapi ia memilihnya secara sadar. Sebelum tergabung dalam grup mana pun, ia sudah kerap tampil solo, membawakan hip-hop di berbagai panggung kecil.

Lahir di Sungailiat, Bangka, pada 21 Juni 1974, Ucok menghabiskan masa kecilnya berpindah-pindah. Meski sempat tinggal di Banten, ia menyebut Bandung sebagai tempat yang paling membentuk cara pandangnya. “Mungkin kalau bukan di Bandung, saya tidak akan seperti sekarang,” ujarnya. Kota itu tidak hanya memberi ruang tumbuh, tapi juga mempertemukannya dengan komunitas yang membuka wawasan terhadap musik, sastra, dan gerakan sosial.

Penampilan Ucok Homicide di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Pada era 1990-an, hip-hop bukanlah genre yang populer di Indonesia. Di tengah dominasi punk, metal, dan pop, hip-hop seperti anak tiri—tidak banyak yang menggandrunginya secara serius. “Nyaris tidak ada grup hip-hop independen yang punya album waktu itu,” kenang Ucok. Banyak yang hanya mengikut tren, tanpa benar-benar menjalani esensinya. Karena itu, membangun sebuah grup hip-hop adalah perjuangan yang tidak mudah.

Ucok tahu betul betapa sulitnya menemukan orang yang satu frekuensi. Ia sering datang ke festival-festival musik, bukan sekadar untuk menonton, tapi mencari rekan seperjuangan ─ orang-orang yang mencintai hip-hop bukan sebagai gaya, tapi sebagai jalan hidup.

Tahun 1994, Ucok mendirikan Homicide, grup hip-hop independen yang kemudian menjadi tonggak penting dalam sejarah musik bawah tanah Indonesia. Bersama Homicide, Ucok merilis sejumlah album yang sarat kritik sosial dan muatan politik, di antaranya Godzkilla Necronometry, Barisan Nisan, The Nekrophone Dayz, dan Illsurrekshun. Lirik-lirik mereka tajam, penuh amarah, tapi juga cerdas dan reflektif—menunjukkan bahwa hip-hop bisa menjadi ruang perlawanan yang bermakna.

Meski Homicide resmi berhenti pada tahun 2007, semangat itu tidak pernah padam. Beberapa album lama seperti Barisan Nisan dan Godzkilla Necronometry bahkan dirilis ulang dan di-remaster oleh Ucok, sebagai bentuk kecintaannya pada rilisan fisik dan warisan karya.

Penampilan Ucok Homicide di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Ucok juga mendirikan Grimloc Records, label rekaman yang konsisten merilis karya-karya independen, termasuk rilisan Homicide dan proyek-proyek eksperimental lainnya. Melalui label ini, ia membangun ekosistem musik alternatif yang mandiri dan berani bersuara.

Di luar musik, Ucok juga dikenal sebagai seorang aktivis politik yang aktif dalam berbagai gerakan sosial. Bagi Ucok, musik bukan sekadar hiburan, tapi alat untuk menyuarakan keresahan, membangun kesadaran, dan memobilisasi kemuakan terhadap ketidakadilan.

Setelah Homicide bubar, Ucok kembali ke panggung dengan semangat yang sama melalui proyek Bars of Death pada tahun 2014. Proyek ini melahirkan lagu seperti All Cops Are Gods, yang masuk dalam kompilasi Memobilisasi Kemuakan rilisan Grimloc dalam format digital. Hingga kini, Bars of Death masih berjalan, menjadi wadah baru untuk menyuarakan keresahan lama dengan cara yang lebih eksploratif.

Ucok juga sempat berkolaborasi dengan berbagai musisi dalam sejumlah proyek seperti Fateh (2014, bersama DJ Still), Demi Masa (2018, bersama Doyz), dan Morbid Funk (2020, bersama Bars of Death). Ia tak berhenti mencipta, bereksperimen, dan memperluas cakrawala musikalnya.

Penampilan Ucok Homicide di panggung Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF

Selain bermusik, Ucok juga menulis. Buku Setelah Boombox Usai Menyalak (2016) dan Flip Da Skrip: Kumpulan Catatan Rap Nerd dalam Satu Dekade (2017) menjadi bukti bahwa kecintaannya pada kata-kata tak berhenti di lirik lagu. Pendidikan formalnya di Sastra Inggris Universitas Padjadjaran dan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB juga tampak mewarnai ketajaman narasi dan kedalaman visual dalam karya-karyanya.

Hari ini, nama Ucok Homicide atau Morgue Vanguard tetap diperhitungkan, bukan karena nostalgia masa lalu, tapi karena konsistensinya dalam merawat api: api perlawanan, kejujuran, dan cinta terhadap hip-hop. Ia bukan sekadar musisi, tapi juga seorang kurator suara zaman, yang terus menggali makna dari dentuman musik dan bait-bait protes.

Dan, seperti yang Ucok bilang di awal: cinta pertamanya itu tak pernah pudar. Bagi Ucok, hip-hop adalah rumah—tempat ia tumbuh, bersuara, dan selalu kembali.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna dan Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Jaswanto

“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
Menonton Ayu Laksmi di Panggung Singaraja Literary Festival 2025
Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan
Menelusuri “Jejak Sunyi-Petualangan Puitis” Umbu Landu Paranggi dari Karya-karyanya
Siklus Hidup Warna Warni dalam Pertunjukkan Ayu Laksmi
Tags: Herry SutresnaHip-hopMorgue VanguardSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Ucok Homicide
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merdeka dalam Bayang Semu, Padahal Kita Merdeka karena Bersatu

Next Post

Puisi Bagus Didapat dari Tema yang Dekat: Resep Menulis Puisi ala Oka Rusmini

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

Sasolahan “I Sigir Jlema Tuah Asibak” bakal menutup perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII yang telah berlangsung selama sebukan penuh, 1-28...

Read moreDetails

Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

by Nyoman Budarsana
February 26, 2026
0
Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

LAMPU panggung menyala. Seorang penari perempuan masuk panggung. Ia membaca puisi bahasa Bali. Suaranya menggema dari panggung ke seluruh ruangan....

Read moreDetails

‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

MESKI tetap menampilkan suasana magis ala Bali, Drama "Basur" yang dipentaskan Teater Jineng SMA Negeri 1 Tabanan (Smasta) sesungguhnya lebih...

Read moreDetails

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

SANGGAR Nong Nong Kling adalah kelompok seni pertunjukan yang lebih sering mementaskan drama gong, misalnya di ajang Pesta Kesenian Bali...

Read moreDetails

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 21, 2026
0
Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

SELASA pagi, 10 Februari 2026, ruang rapat Gedung A lantai 2 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) mendadak berubah fungsi....

Read moreDetails

Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

by Dede Putra Wiguna
February 19, 2026
0
Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

SORE itu, di atas panggung utama, lima penari perempuan berdiri dalam sikap anggun nan tegas. Jemari mereka lentik, sorot mata...

Read moreDetails

Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 17, 2026
0
Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

PESERTA Wimbakara (Lomba) Musikalisasi Puisi Bali serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 di Gedung Ksirarnbawa, Taman Budaya Bali,...

Read moreDetails

Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

by tatkala
February 16, 2026
0
Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

DI Bali, seni tumbuh seperti napas: alami, dekat, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun tidak semua seni mendapat panggung...

Read moreDetails

Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

by Radha Dwi Pradnyani
February 15, 2026
0
Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

DI tengah arus modernisasi dan industri hiburan yang masif, upaya pelestarian kesenian terus dihidupkan melalui berbagai ruang kolaborasi. Salah satunya...

Read moreDetails

‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

by Nyoman Budarsana
February 11, 2026
0
‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

PANGGUNG gelap, kecuali panggung di sisi kiri. Di situ cahaya jatuh pada bangunan berbentuk pondok beratap alang-alang. Di teras pondok...

Read moreDetails
Next Post
Puisi Bagus Didapat dari Tema yang Dekat: Resep Menulis Puisi ala Oka Rusmini

Puisi Bagus Didapat dari Tema yang Dekat: Resep Menulis Puisi ala Oka Rusmini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co