12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

tatkala by tatkala
February 16, 2026
in Panggung
Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

Para juara Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space

DI Bali, seni tumbuh seperti napas: alami, dekat, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun tidak semua seni mendapat panggung yang sama. Ada seni yang hidup di pusat kota, disorot kamera, dan dibicarakan di ruang-ruang resmi. Ada pula seni yang berjalan pelan di pinggiran, bertahan dalam sunyi, menunggu orang-orang yang cukup sabar untuk mendengarkannya.

Puisi termasuk yang kedua. Ia tidak selalu dirayakan seperti tari dan tabuh. Ia jarang menjadi acara besar yang mengundang kerumunan. Tetapi puisi memiliki kekuatan yang berbeda: ia tidak perlu ramai untuk terasa. Ia hanya perlu satu orang yang membaca, dan satu orang yang benar-benar mendengar. Itu sudah cukup untuk membuat dunia bergeser sedikit.

Di Desa Tegalmengkeb, Selemadeg Timur, Tabanan, pertengahan Pebruari 2026, puisi menemukan panggungnya kembali. Tidak megah. Tidak glamor. Tetapi hangat, manusiawi, dan penuh getaran batin.

Di sanalah Tegalmengkeb Art Space (TAS) menjadi rumah bagi sebuah peristiwa sastra: Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 bertema “Kekuatan Cinta”. Sebuah lomba yang terdengar sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, ia menyimpan sesuatu yang jarang ditemukan di acara-acara seni modern: ketulusan.

Tegalmengkeb Art Space: Ruang Kecil dengan Mimpi Besar

Tegalmengkeb bukan Denpasar. Bukan Ubud. Bukan pusat festival yang setiap akhir pekan dipenuhi poster acara seni. Desa ini tidak berada di jalur wisata populer. Ia jauh dari gemuruh panggung-panggung besar. Tetapi di tempat yang jauh dari keramaian itulah Tegalmengkeb Art Space tumbuh seperti lilin yang dijaga dari angin.

Ruang ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah semacam pernyataan. Bahwa desa pun berhak memiliki pusat kebudayaan. Bahwa seni tidak seharusnya hanya berputar di lingkaran kota dan komunitas tertentu. Bahwa sastra—yang sering dianggap “sunyi”—pun layak memiliki ruang hidup.

Karena itu, ketika Tegalmengkeb Art Space bekerja sama dengan Pesraman Kayu Manis dan Luh Luwih Foundation untuk menggelar lomba baca puisi tingkat Bali, kegiatan ini terasa lebih dari sekadar kompetisi. Ia terasa seperti sebuah gerakan kecil: gerakan mengembalikan sastra ke masyarakat. Dan, menariknya kegiatan ini dilakukan secara swadaya dan swadana, tanpa bantuan pemerintah.

Pendiri Tegalmengkeb Art Space sekaligus Pinisepuh Pesraman Kayu Manis, Mahaprabhu Prahlada Pandya (nomor 3 dari kanan) berfoto bersama para juara

Lomba ini diikuti 40 peserta dari berbagai daerah di Bali. Menariknya, lomba ini bersifat gratis, terbuka untuk umum, dan tarung bebas—tanpa batas usia maupun jenjang pendidikan. Peserta datang dari beragam latar: pelajar, mahasiswa, guru, dosen, hingga masyarakat umum. Mereka membawa suara masing-masing, tetapi juga membawa sesuatu yang lebih penting: cara masing-masing memaknai puisi.

Kekuatan Cinta

Tema lomba tahun ini adalah “Kekuatan Cinta”. Kata “cinta” sering terdengar manis, bahkan klise. Namun cinta yang dimaksud dalam dunia puisi tidak selalu romantis. Cinta bisa berarti keteguhan. Cinta bisa berarti kesetiaan pada sesuatu yang tidak dibalas. Cinta bisa berarti kehilangan yang tetap dipeluk. Cinta bisa berarti keberanian untuk berdamai dengan hidup. Dalam puisi, cinta tidak selalu berbunga-bunga. Ia bisa getir. Ia bisa retak. Ia bisa mengeras. Tetapi justru di sanalah kekuatannya.

Dan mungkin itulah mengapa tema ini terasa tepat untuk sebuah lomba baca puisi. Karena membaca puisi pada dasarnya adalah latihan mencintai: mencintai kata, mencintai rasa, mencintai makna, bahkan mencintai luka yang tidak kita pahami sepenuhnya.

Babak Penyisihan

Tidak semua peserta datang langsung ke Tegalmengkeb sejak awal. Babak penyisihan dilakukan melalui video pembacaan puisi yang dikirimkan peserta kepada panitia. Di era serba digital, video bisa menjadi jembatan. Namun jembatan itu tidak selalu mudah dilewati. Sebab membaca puisi lewat video berarti peserta harus mampu menghadirkan suasana hanya dengan suara dan ekspresi, tanpa energi langsung dari penonton.

Peserta membaca puisi dengan begitu antusias

Di balik layar, dewan juri menyimak satu per satu penampilan peserta. Mereka adalah Wayan Jengki Sunarta, Dewa Jayendra, dan Muda Wijaya. Nama-nama yang tidak asing di dunia sastra dan kesenian, dan tentu tidak mudah untuk memuaskan telinga serta rasa mereka.

Penilaian dilakukan secara ketat berdasarkan aspek ketepatan tafsir puisi, penghayatan, vokal, ekspresi, dan totalitas penampilan. Namun pada akhirnya, semua aspek itu bermuara pada satu pertanyaan: apakah pembaca puisi ini sungguh-sungguh memahami teks yang ia baca?

Pada babak penyisihan, setiap peserta membacakan satu puisi yang telah ditentukan panitia. Puisi-puisi tersebut adalah: “Pohon yang Tinggi Dekat dengan Bulan” (Frans Nadjira), “Prelude” (Umbu Landu Paranggi), “Senja Menggantung di Langit” (Putu Vivi Lestari), “Warna Jiwa dalam Gerimis” (I Wayan Arthawa), “Rumah Hening” (Reina Caesilia). Puisi-puisi itu tidak hanya menuntut artikulasi yang jelas. Ia menuntut perenungan. Menuntut keheningan. Menuntut keberanian untuk tidak hanya “membaca”, tetapi mengalami.

Catatan Dewan Juri

Dari puluhan video yang masuk, dewan juri menyampaikan catatan yang terdengar sederhana, tetapi sangat mendasar: banyak peserta belum benar-benar memahami isi puisi yang dibacakan.

Menurut mereka, peserta perlu membedah puisi terlebih dahulu sebelum tampil agar tafsirnya tepat dan penghayatan tidak meleset.

“Banyak peserta kurang memahami dan menghayati puisi yang dibacakannya,” ujar Wayan Jengki Sunarta.

Catatan ini seperti tamparan halus bagi siapa pun yang mengira membaca puisi hanya soal intonasi dan ekspresi. Karena sesungguhnya, pembacaan puisi yang kuat bukanlah pembacaan yang keras atau penuh gerak. Ia justru lahir dari pemahaman yang dalam. Jika puisi sudah masuk ke batin, maka penghayatan dan ekspresi akan mengikuti dengan sendirinya.

Sepuluh Finalis dan Hari Penentuan

Sepuluh finalis diumumkan pada 10 Pebruari 2026. Mereka kemudian melaju ke babak final untuk memperebutkan gelar Juara I, II, III, serta Juara Harapan. Babak final dilaksanakan pada Minggu, 15 Pebruari 2026, pukul 13.00 Wita, di Tegalmengkeb Art Space, Desa Tegalmengkeb, Selemadeg Timur, Tabanan.

Juara harapan

Hari itu, Tegalmengkeb tidak seperti biasanya. Ada kesibukan yang berbeda. Ada orang-orang yang datang bukan untuk urusan adat atau pasar, melainkan untuk puisi. Dan puisi memang selalu mengubah suasana. Ia membuat orang berjalan lebih pelan. Ia membuat orang berbicara lebih lirih. Seolah semua paham: kata-kata yang akan dibacakan nanti bukan kata-kata biasa.

Pada babak final, finalis membacakan dua puisi: puisi wajib “Melodia” karya Umbu Landu Paranggi, serta satu puisi pilihan yang telah mereka bacakan saat babak penyisihan. “Melodia” bukan puisi yang mudah. Ia tidak bisa ditaklukkan hanya dengan teknik vokal. Ia menuntut rasa yang matang. Menuntut kesabaran dalam jeda. Menuntut kemampuan membiarkan makna bekerja perlahan.

Seni sebagai Jalan Membangun Desa

Ketua Panitia, I Gede Astika, menyampaikan bahwa lomba ini digelar sebagai upaya menghidupkan kembali semangat berkesenian, khususnya sastra, di Tegalmengkeb yang jauh dari pusat kesenian. “Semoga lomba ini bisa berkelanjutan setiap tahun,” ujarnya.

Pernyataan itu bukan sekadar harapan panitia. Ia adalah niat untuk membangun tradisi baru, tradisi sastra yang tumbuh dari desa, bukan menunggu legitimasi dari kota atau pemerintah.

Pendiri Tegalmengkeb Art Space sekaligus Pinisepuh Pesraman Kayu Manis, Mahaprabhu Prahlada Pandya, menegaskan pentingnya kegiatan ini untuk menularkan kecintaan pada sastra, khususnya puisi. Ia melihat puisi sebagai cara membentuk batin yang halus, cara melatih rasa, dan cara menjaga manusia agar tetap manusia.

Para juara berfoto bersama dewan juri

Sementara itu, Kepala Desa Tegalmengkeb, I Dewa Made Widarma, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada TAS yang telah berjuang menghidupkan kembali semangat berkesenian di Tegalmengkeb.

“Dengan kekuatan cinta, mari kita saling bersinergi membangun dan mempromosikan Desa Tegalmengkeb lewat kegiatan seni budaya,” ujarnya.

Di tengah banyaknya desa yang berlomba menonjolkan diri lewat infrastruktur, Tegalmengkeb memberi pesan lain: seni budaya pun bisa menjadi jalan pembangunan.

Ketegangan di Panggung

Babak final dimulai. Satu per satu finalis maju. Setiap langkah menuju mikrofon seperti langkah menuju dirinya sendiri.

Di lomba baca puisi, panggung bukan sekadar tempat tampil. Pangung adalah ruang pembuktian. Pembuktian bahwa seseorang mampu menanggung kata-kata yang ia ucapkan. Bahwa ia tidak hanya melafalkan, tetapi menyampaikan.

Ada finalis yang membaca dengan suara tenang. Tetapi justru di situ letak kekuatannya: penonton dipaksa mendekat secara batin. Ada finalis yang membaca dengan vokal kuat, membelah ruangan, mengirimkan kata-kata seperti panah. Ada pula yang memilih memainkan jeda, membiarkan diam berbicara lebih keras daripada suara.

Puisi-puisi yang dibacakan bukan sekadar rangkaian estetika. Ia membawa renungan. Membawa luka. Membawa harapan. Membawa pertanyaan-pertanyaan yang sering kita sembunyikan dari diri sendiri.

Dewan juri menilai bahwa para finalis tampil maksimal sesuai kemampuan masing-masing. Mereka menegaskan kembali prinsip dasar seni baca puisi: pemahaman adalah fondasi utama. Setelah pemahaman kuat, penghayatan akan lahir dengan sendirinya.

“Penghayatan yang baik tidak dibuat-buat. Ia tidak boleh artifisial. Ia harus muncul dari dalam batin. Karena puisi adalah kejujuran. Dan kejujuran tidak bisa dipalsukan,” tutur Dewa Jayendra, salah seorang juri.

Ketika Puisi Memilih Pemenangnya

Setelah melalui diskusi panjang, perdebatan, dan pertimbangan yang matang, dewan juri akhirnya menetapkan para pemenang: Juara I: Desak Putu Ayu Dina Candradewi (Singaraja), Juara II: I Gusti Agung Putu Sri Purnami Padmawati (Denpasar), Juara III: I Putu Gede Pradipta (Denpasar). Enam Juara Harapan diraih oleh: Ni Made Pritalaras T Mas Jayanti (Jembrana), Ida Ayu Putri Krisna Dewi (Jembrana), Ni Made Dhimahi Shankari Dewi (Singaraja), Ardika Wiraga (Gianyar), Ni Putu Vidya Radhani (Denpasar), Jessica Kaila (Denpasar). Satu finalis, Desak Made Yunda Ariesta (Karangasem), mengundurkan diri karena sakit.

Juara I memperoleh hadiah uang sebesar Rp3 juta, Juara II Rp2 juta, Juara III Rp1 juta, dan enam Juara Harapan masing-masing memperoleh Rp500 ribu. Pada saat babak final, panitia secara spontan juga menambahkan hadiah uang bagi para Juara Harapan sebesar Rp200 ribu. Selain itu, para juara mendapatkan piala dan piagam.

Namun kemenangan terbesar dari lomba semacam ini barangkali bukan piala atau uang pembinaan. Kemenangan terbesar adalah ketika seseorang berhasil membacakan puisi dengan jujur, dan berhasil membuat orang lain ikut merasakan apa yang ia rasakan.

Puisi yang Menolak Mati

Di akhir acara, penonton pulang. Kursi-kursi mulai kosong. Tetapi ada sesuatu yang tertinggal di ruang itu: getaran kata-kata.

Lomba ini selesai dalam satu hari. Tetapi efeknya tidak berhenti di sana. Ia menyisakan kesan bahwa sastra masih punya tempat. Bahwa puisi masih bisa memanggil orang-orang untuk berkumpul, untuk diam bersama, untuk mendengarkan.

Dan Tegalmengkeb Art Space, dengan segala kesederhanaannya, telah membuktikan satu hal penting: pusat kesenian tidak selalu harus berada di pusat kota. Kadang-kadang, pusat kesenian justru lahir di tempat yang jauh, di desa yang tenang, ketika ada orang-orang yang setia menjaga nyala kesenian.

Tema “Kekuatan Cinta” tidak hanya menjadi slogan lomba. Ia benar-benar hadir dalam peristiwa itu—cinta pada seni, cinta pada kata-kata, cinta pada desa, dan cinta pada upaya kecil yang dilakukan dengan sepenuh hati.

Di Tegalmengkeb, puisi tidak sekadar dibaca. Puisi dipanggil pulang. Dan ketika ia pulang, ia membawa serta sesuatu yang lama hilang: rasa. [T]

Penulis: Putu Mudra, orang desa penyuka puisi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa TegalmengkebPuisiseni baca puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyaksikan Bocah SD Peragakan Busana Adat ke Pura di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Next Post

Harmoni di Ujung Utara: Akulturasi dan Sakralitas Imlek di Kota Tua Singaraja

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails
Next Post
Harmoni di Ujung Utara: Akulturasi dan Sakralitas Imlek di Kota Tua Singaraja

Harmoni di Ujung Utara: Akulturasi dan Sakralitas Imlek di Kota Tua Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co