23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

tatkala by tatkala
February 16, 2026
in Panggung
Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

Para juara Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space

DI Bali, seni tumbuh seperti napas: alami, dekat, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun tidak semua seni mendapat panggung yang sama. Ada seni yang hidup di pusat kota, disorot kamera, dan dibicarakan di ruang-ruang resmi. Ada pula seni yang berjalan pelan di pinggiran, bertahan dalam sunyi, menunggu orang-orang yang cukup sabar untuk mendengarkannya.

Puisi termasuk yang kedua. Ia tidak selalu dirayakan seperti tari dan tabuh. Ia jarang menjadi acara besar yang mengundang kerumunan. Tetapi puisi memiliki kekuatan yang berbeda: ia tidak perlu ramai untuk terasa. Ia hanya perlu satu orang yang membaca, dan satu orang yang benar-benar mendengar. Itu sudah cukup untuk membuat dunia bergeser sedikit.

Di Desa Tegalmengkeb, Selemadeg Timur, Tabanan, pertengahan Pebruari 2026, puisi menemukan panggungnya kembali. Tidak megah. Tidak glamor. Tetapi hangat, manusiawi, dan penuh getaran batin.

Di sanalah Tegalmengkeb Art Space (TAS) menjadi rumah bagi sebuah peristiwa sastra: Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 bertema “Kekuatan Cinta”. Sebuah lomba yang terdengar sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, ia menyimpan sesuatu yang jarang ditemukan di acara-acara seni modern: ketulusan.

Tegalmengkeb Art Space: Ruang Kecil dengan Mimpi Besar

Tegalmengkeb bukan Denpasar. Bukan Ubud. Bukan pusat festival yang setiap akhir pekan dipenuhi poster acara seni. Desa ini tidak berada di jalur wisata populer. Ia jauh dari gemuruh panggung-panggung besar. Tetapi di tempat yang jauh dari keramaian itulah Tegalmengkeb Art Space tumbuh seperti lilin yang dijaga dari angin.

Ruang ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah semacam pernyataan. Bahwa desa pun berhak memiliki pusat kebudayaan. Bahwa seni tidak seharusnya hanya berputar di lingkaran kota dan komunitas tertentu. Bahwa sastra—yang sering dianggap “sunyi”—pun layak memiliki ruang hidup.

Karena itu, ketika Tegalmengkeb Art Space bekerja sama dengan Pesraman Kayu Manis dan Luh Luwih Foundation untuk menggelar lomba baca puisi tingkat Bali, kegiatan ini terasa lebih dari sekadar kompetisi. Ia terasa seperti sebuah gerakan kecil: gerakan mengembalikan sastra ke masyarakat. Dan, menariknya kegiatan ini dilakukan secara swadaya dan swadana, tanpa bantuan pemerintah.

Pendiri Tegalmengkeb Art Space sekaligus Pinisepuh Pesraman Kayu Manis, Mahaprabhu Prahlada Pandya (nomor 3 dari kanan) berfoto bersama para juara

Lomba ini diikuti 40 peserta dari berbagai daerah di Bali. Menariknya, lomba ini bersifat gratis, terbuka untuk umum, dan tarung bebas—tanpa batas usia maupun jenjang pendidikan. Peserta datang dari beragam latar: pelajar, mahasiswa, guru, dosen, hingga masyarakat umum. Mereka membawa suara masing-masing, tetapi juga membawa sesuatu yang lebih penting: cara masing-masing memaknai puisi.

Kekuatan Cinta

Tema lomba tahun ini adalah “Kekuatan Cinta”. Kata “cinta” sering terdengar manis, bahkan klise. Namun cinta yang dimaksud dalam dunia puisi tidak selalu romantis. Cinta bisa berarti keteguhan. Cinta bisa berarti kesetiaan pada sesuatu yang tidak dibalas. Cinta bisa berarti kehilangan yang tetap dipeluk. Cinta bisa berarti keberanian untuk berdamai dengan hidup. Dalam puisi, cinta tidak selalu berbunga-bunga. Ia bisa getir. Ia bisa retak. Ia bisa mengeras. Tetapi justru di sanalah kekuatannya.

Dan mungkin itulah mengapa tema ini terasa tepat untuk sebuah lomba baca puisi. Karena membaca puisi pada dasarnya adalah latihan mencintai: mencintai kata, mencintai rasa, mencintai makna, bahkan mencintai luka yang tidak kita pahami sepenuhnya.

Babak Penyisihan

Tidak semua peserta datang langsung ke Tegalmengkeb sejak awal. Babak penyisihan dilakukan melalui video pembacaan puisi yang dikirimkan peserta kepada panitia. Di era serba digital, video bisa menjadi jembatan. Namun jembatan itu tidak selalu mudah dilewati. Sebab membaca puisi lewat video berarti peserta harus mampu menghadirkan suasana hanya dengan suara dan ekspresi, tanpa energi langsung dari penonton.

Peserta membaca puisi dengan begitu antusias

Di balik layar, dewan juri menyimak satu per satu penampilan peserta. Mereka adalah Wayan Jengki Sunarta, Dewa Jayendra, dan Muda Wijaya. Nama-nama yang tidak asing di dunia sastra dan kesenian, dan tentu tidak mudah untuk memuaskan telinga serta rasa mereka.

Penilaian dilakukan secara ketat berdasarkan aspek ketepatan tafsir puisi, penghayatan, vokal, ekspresi, dan totalitas penampilan. Namun pada akhirnya, semua aspek itu bermuara pada satu pertanyaan: apakah pembaca puisi ini sungguh-sungguh memahami teks yang ia baca?

Pada babak penyisihan, setiap peserta membacakan satu puisi yang telah ditentukan panitia. Puisi-puisi tersebut adalah: “Pohon yang Tinggi Dekat dengan Bulan” (Frans Nadjira), “Prelude” (Umbu Landu Paranggi), “Senja Menggantung di Langit” (Putu Vivi Lestari), “Warna Jiwa dalam Gerimis” (I Wayan Arthawa), “Rumah Hening” (Reina Caesilia). Puisi-puisi itu tidak hanya menuntut artikulasi yang jelas. Ia menuntut perenungan. Menuntut keheningan. Menuntut keberanian untuk tidak hanya “membaca”, tetapi mengalami.

Catatan Dewan Juri

Dari puluhan video yang masuk, dewan juri menyampaikan catatan yang terdengar sederhana, tetapi sangat mendasar: banyak peserta belum benar-benar memahami isi puisi yang dibacakan.

Menurut mereka, peserta perlu membedah puisi terlebih dahulu sebelum tampil agar tafsirnya tepat dan penghayatan tidak meleset.

“Banyak peserta kurang memahami dan menghayati puisi yang dibacakannya,” ujar Wayan Jengki Sunarta.

Catatan ini seperti tamparan halus bagi siapa pun yang mengira membaca puisi hanya soal intonasi dan ekspresi. Karena sesungguhnya, pembacaan puisi yang kuat bukanlah pembacaan yang keras atau penuh gerak. Ia justru lahir dari pemahaman yang dalam. Jika puisi sudah masuk ke batin, maka penghayatan dan ekspresi akan mengikuti dengan sendirinya.

Sepuluh Finalis dan Hari Penentuan

Sepuluh finalis diumumkan pada 10 Pebruari 2026. Mereka kemudian melaju ke babak final untuk memperebutkan gelar Juara I, II, III, serta Juara Harapan. Babak final dilaksanakan pada Minggu, 15 Pebruari 2026, pukul 13.00 Wita, di Tegalmengkeb Art Space, Desa Tegalmengkeb, Selemadeg Timur, Tabanan.

Juara harapan

Hari itu, Tegalmengkeb tidak seperti biasanya. Ada kesibukan yang berbeda. Ada orang-orang yang datang bukan untuk urusan adat atau pasar, melainkan untuk puisi. Dan puisi memang selalu mengubah suasana. Ia membuat orang berjalan lebih pelan. Ia membuat orang berbicara lebih lirih. Seolah semua paham: kata-kata yang akan dibacakan nanti bukan kata-kata biasa.

Pada babak final, finalis membacakan dua puisi: puisi wajib “Melodia” karya Umbu Landu Paranggi, serta satu puisi pilihan yang telah mereka bacakan saat babak penyisihan. “Melodia” bukan puisi yang mudah. Ia tidak bisa ditaklukkan hanya dengan teknik vokal. Ia menuntut rasa yang matang. Menuntut kesabaran dalam jeda. Menuntut kemampuan membiarkan makna bekerja perlahan.

Seni sebagai Jalan Membangun Desa

Ketua Panitia, I Gede Astika, menyampaikan bahwa lomba ini digelar sebagai upaya menghidupkan kembali semangat berkesenian, khususnya sastra, di Tegalmengkeb yang jauh dari pusat kesenian. “Semoga lomba ini bisa berkelanjutan setiap tahun,” ujarnya.

Pernyataan itu bukan sekadar harapan panitia. Ia adalah niat untuk membangun tradisi baru, tradisi sastra yang tumbuh dari desa, bukan menunggu legitimasi dari kota atau pemerintah.

Pendiri Tegalmengkeb Art Space sekaligus Pinisepuh Pesraman Kayu Manis, Mahaprabhu Prahlada Pandya, menegaskan pentingnya kegiatan ini untuk menularkan kecintaan pada sastra, khususnya puisi. Ia melihat puisi sebagai cara membentuk batin yang halus, cara melatih rasa, dan cara menjaga manusia agar tetap manusia.

Para juara berfoto bersama dewan juri

Sementara itu, Kepala Desa Tegalmengkeb, I Dewa Made Widarma, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada TAS yang telah berjuang menghidupkan kembali semangat berkesenian di Tegalmengkeb.

“Dengan kekuatan cinta, mari kita saling bersinergi membangun dan mempromosikan Desa Tegalmengkeb lewat kegiatan seni budaya,” ujarnya.

Di tengah banyaknya desa yang berlomba menonjolkan diri lewat infrastruktur, Tegalmengkeb memberi pesan lain: seni budaya pun bisa menjadi jalan pembangunan.

Ketegangan di Panggung

Babak final dimulai. Satu per satu finalis maju. Setiap langkah menuju mikrofon seperti langkah menuju dirinya sendiri.

Di lomba baca puisi, panggung bukan sekadar tempat tampil. Pangung adalah ruang pembuktian. Pembuktian bahwa seseorang mampu menanggung kata-kata yang ia ucapkan. Bahwa ia tidak hanya melafalkan, tetapi menyampaikan.

Ada finalis yang membaca dengan suara tenang. Tetapi justru di situ letak kekuatannya: penonton dipaksa mendekat secara batin. Ada finalis yang membaca dengan vokal kuat, membelah ruangan, mengirimkan kata-kata seperti panah. Ada pula yang memilih memainkan jeda, membiarkan diam berbicara lebih keras daripada suara.

Puisi-puisi yang dibacakan bukan sekadar rangkaian estetika. Ia membawa renungan. Membawa luka. Membawa harapan. Membawa pertanyaan-pertanyaan yang sering kita sembunyikan dari diri sendiri.

Dewan juri menilai bahwa para finalis tampil maksimal sesuai kemampuan masing-masing. Mereka menegaskan kembali prinsip dasar seni baca puisi: pemahaman adalah fondasi utama. Setelah pemahaman kuat, penghayatan akan lahir dengan sendirinya.

“Penghayatan yang baik tidak dibuat-buat. Ia tidak boleh artifisial. Ia harus muncul dari dalam batin. Karena puisi adalah kejujuran. Dan kejujuran tidak bisa dipalsukan,” tutur Dewa Jayendra, salah seorang juri.

Ketika Puisi Memilih Pemenangnya

Setelah melalui diskusi panjang, perdebatan, dan pertimbangan yang matang, dewan juri akhirnya menetapkan para pemenang: Juara I: Desak Putu Ayu Dina Candradewi (Singaraja), Juara II: I Gusti Agung Putu Sri Purnami Padmawati (Denpasar), Juara III: I Putu Gede Pradipta (Denpasar). Enam Juara Harapan diraih oleh: Ni Made Pritalaras T Mas Jayanti (Jembrana), Ida Ayu Putri Krisna Dewi (Jembrana), Ni Made Dhimahi Shankari Dewi (Singaraja), Ardika Wiraga (Gianyar), Ni Putu Vidya Radhani (Denpasar), Jessica Kaila (Denpasar). Satu finalis, Desak Made Yunda Ariesta (Karangasem), mengundurkan diri karena sakit.

Juara I memperoleh hadiah uang sebesar Rp3 juta, Juara II Rp2 juta, Juara III Rp1 juta, dan enam Juara Harapan masing-masing memperoleh Rp500 ribu. Pada saat babak final, panitia secara spontan juga menambahkan hadiah uang bagi para Juara Harapan sebesar Rp200 ribu. Selain itu, para juara mendapatkan piala dan piagam.

Namun kemenangan terbesar dari lomba semacam ini barangkali bukan piala atau uang pembinaan. Kemenangan terbesar adalah ketika seseorang berhasil membacakan puisi dengan jujur, dan berhasil membuat orang lain ikut merasakan apa yang ia rasakan.

Puisi yang Menolak Mati

Di akhir acara, penonton pulang. Kursi-kursi mulai kosong. Tetapi ada sesuatu yang tertinggal di ruang itu: getaran kata-kata.

Lomba ini selesai dalam satu hari. Tetapi efeknya tidak berhenti di sana. Ia menyisakan kesan bahwa sastra masih punya tempat. Bahwa puisi masih bisa memanggil orang-orang untuk berkumpul, untuk diam bersama, untuk mendengarkan.

Dan Tegalmengkeb Art Space, dengan segala kesederhanaannya, telah membuktikan satu hal penting: pusat kesenian tidak selalu harus berada di pusat kota. Kadang-kadang, pusat kesenian justru lahir di tempat yang jauh, di desa yang tenang, ketika ada orang-orang yang setia menjaga nyala kesenian.

Tema “Kekuatan Cinta” tidak hanya menjadi slogan lomba. Ia benar-benar hadir dalam peristiwa itu—cinta pada seni, cinta pada kata-kata, cinta pada desa, dan cinta pada upaya kecil yang dilakukan dengan sepenuh hati.

Di Tegalmengkeb, puisi tidak sekadar dibaca. Puisi dipanggil pulang. Dan ketika ia pulang, ia membawa serta sesuatu yang lama hilang: rasa. [T]

Penulis: Putu Mudra, orang desa penyuka puisi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa TegalmengkebPuisiseni baca puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyaksikan Bocah SD Peragakan Busana Adat ke Pura di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Next Post

Harmoni di Ujung Utara: Akulturasi dan Sakralitas Imlek di Kota Tua Singaraja

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails
Next Post
Harmoni di Ujung Utara: Akulturasi dan Sakralitas Imlek di Kota Tua Singaraja

Harmoni di Ujung Utara: Akulturasi dan Sakralitas Imlek di Kota Tua Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co