4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
in Panggung
‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

Drama Bali modern 'Mlantjaran ka Sasak' dari Sanggar Nong Nong Kling, Singaraja

SANGGAR Nong Nong Kling adalah kelompok seni pertunjukan yang lebih sering mementaskan drama gong, misalnya di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Namun, dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 ini, sanggar itu mementaskan teater atau drama Bali modern dengan begitu apik.

Meski sama-sama menggunakan bahasa Bali, drama gong dan drama Bali modern punya perbedaan terutama dari segi bentuk pemanggungan. Jika drama gong memiliki pakem yang cukup ketat, drama modern justru menantang munculnya gagasan-gagasan baru, bahkan sering memberontak pakem yang biasa dijadikan pedoman para seniman drama  sebelumnya.

Sanggar Nong Nong Kling tampaknya bisa menyesuaikan konsep panggung dari kebiasaan bermain drama gong menjadi drama modern ketika menyajikan Drama Bali Modern berjudul  “Mlantjaran ka Sasak” dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Jumat 20 Pebruari 2026.

Dalam penyajiannya sekitar satu jam itu, mereka menawarkan konsep-konsep baru, sehingga tak hanya menghibur, tetapi mampu menyampaikan pesan kepada penonton. Yang menarik, musik bukan dimainkan secara mandiri di sebuah panggung khusus, tetapi para pemain yang langsung memainkan musik melalui mulut, tembang dan celetukan-celetukan bermakna. Mereka biasa menyebutnya dengan istilah gamelan bungut, atau gamelan mulut.

Pertunjukan Sanggar Nong Nong Kling yang didukung sekitar 42 pemain itu mirip seperti sajian kesenian kecak, genjek, yang mengandalkan suara mulut sebagai iringan. Terkadang ngongkek, berbicara salaing sahutin, menyanyi bersama, terkadang pula melantunkan tembang yang menceritakan kisah dari adegan itu.

Dalam penyajiannya, mereka juga berhasil menguasai panggung Gedung Ksirarnawa, panggung presenium yang tergolong besar. Maka wajar, setiap adegannya selalu mendapat apresiasi pengunjung Bulan Bahasa Bali itu.

Drama Bali modern ‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Sanggar Nong Nong Kling, Singaraja

Sebagian besar pemain memang terbiasa bermaian drama gong, juga biasa menari Bali. Bisa disebut tubuh mereka masih tampak “tradisional”, namun sepertinya tubuh semacam itulah yang menjadi modal Nong Nong Kling untuk menghidupkan pertunjukan mereka.

Yang menarik, tata artistik juga digarap secara serius sebagaimana cara kerja artistik drama modern. Selain sepeda ontel yang masuk ke tengah panggung, properti lain yang diatur secara simbolik juga membuat garapan drama modern itu menjadi enak ditonton. Tentu saja, karena, selain kerap memainkan drama gong, sejumlah pemain, seperti Mang Aji, juga kerap ikut bermain dalam tetaer modern garapan Teater Selem Putih.

Drama ini mengisahkan di daerah Denbukit/ Buleleng sekitar tahun 1936 ada orang berkasta sudah tua. Beliau memiliki anak bernama Ida Ayu Priya, dan memiliki punakawan bernama Luh Sari dan I Made Sarati untuk punakawan pria. Dayu Priya senang belajar dan bersekolah, sama dengan I Made Sarati. Keduanya kemudian belajar hingga ke Jawa, sehingga keduanya berhasil pintar.

I Made Sarati adalah orang sudra atau jaba. Pada suatu hari sekolahnya libur, Dayu Priya jelan-jalan ke Sasak bersama Luh Sari dan Made Sarati. Itu karena perintah dari Ajiknya Dayu Priya agar Sarati ikut anaknya Dayu Priya ke Sasak. Di Sasak, Dayu Priya dan Made Sarati sudah tumbuh benih cinta. Namun, karena perbedaan kasta mereka tidak mau menyatakan cinta.

“Carita ini diangkat dari Novel berbahasa Bali merupakan karya Wayan Badra atau Gede Srawana nama di pena, Novel ini sempat dimuat di majalah Djatadjoe sekitar 1935-1939, lalu dibukukan tahun 1978,” kata Mang Ajik didampingi Mang Epo selaku sutradara di sela-sela pementasan itu.

Memang, sanggar asal Buleleng ini identik dengan pertunjukan drama gong tradisional, namun kali ini justru menyajikan sajian seni kekinian yang berhasil memkat pengunjung festival Bahasa, aksara dan sastra itu. Novel “Mlantjaran ka Sasak” itu diangkat ke dalam sebuah garapan drama modern dengan menggunakan konsep teater rakyat, seperti Lenong. Maka, wajar, sanggar yang memiliki besik drama gong itu, tampak tampil sederhana, tetapi penuh dengan kreativitas dan inovasi.

Anak-anak yang berperan sebagai penabuh dalam pementasan drama gong, kini terlibat sebagai pemain yang tak hanya melengkapi setiap adegan, tetapi juga berfungsi sebagai pengiring drama itu melalui suara-suara mulut. Terlebih, penyajian drama ini membutuhkan pemain yang cukup banyak, sehingga keterlibatan para penabuh itu menjadi solusi. “Karena itu, kami memakai konsep garapan Rengganis, kesenian tradisional dari daerah Penglatan, Buleleng. Kami adaptasi dari kesenian klasik itu,” kata Mang Ajik.

Memang, sajian drama modern ini mirip, seperti genggong, kecak bahkan genjek. Hanya saja, dipaduk dengan narasinya, sehingga pesan-pesan itu sampai kepada penonton. Sebut saja ketika ketika Dayu Priya dan Made Sarati ingin berjalan-jalan ke Sasak maka lagu yang ditembangkan menceritakan kisah mereka sudah sampai di Sasak. “Pertujukan ini murni menampilkan koreografi dan alur cerita yang utuh,” ujarnya.

Drama Bali modern ‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Sanggar Nong Nong Kling, Singaraja

Karena itu, dekorasi menjadi bagian terkecil dari penyajiannya. Dekosasi dibuat minimalis, seperti menggunakan latar dari kain hitam, level, dan sepeda untuk mendukung adegan agar lebih reel dan nyata. Level itu memiliki multi fungsi, yakni bisa menjadi kapal, menjadi kamar khusus untuk adegan di penginapan. “Itu karena kami ingin menggarap pertunjukannya. Kami ingin pertunjukan ini dinamis dan tidak bertele-tele. Artinya, mengandalkan kekuatan dari para actor, sehingga meminalisir penggunaan property yang hanya sebagai simbol-simbol saja,” ungkapnya.

Drama ini menceritakan masalah sistem kasta di Bali yang ditentang oleh orang-orang yang berkasta. Padahal, orang-orang di Bali itu menghormati hak dasar sebagai manusia yang memiliki hak asasi. Seorang jaba cinta terhadap orang berkasta itu sah-sah saja, dan tidak ada sekat. “Dalam drama ini, kami ingin tegaskan, sekarang ini penting ada rasa keadailan. Semua orang berhak mendapat pendidikan, kesehatan, dan sama dihadapan hukum. Itu sesungguhnya pesan yang ingin disampaikan dalam sasolah drama ini,” jelasnya.

Ilmu pengetahuan itu sangat berharga sekali, ketimbang berkutat pada kasta itu sendiri. Ilmu pengetahuan itu lebih penting dari memperdebatkan kasta itu sendiri. Ilmu pengatahuan itu berharga, siapapun boleh mencari ilmu pengetahuan. “Dulu saat novel ini dibuat masih kental-kentalnya kasta itu dihormati di Bali,” ceritanya.

Ketua sanggar yang juga sutradara, Nyoman Suardika alias Mang Epo mengatakan, drama ini lebih banyak menampilkan pemain-pemain muda. Karena drama ini digarap seperti kolosal yang harius 41 orang, maka mengambil sekaa tabuh drama itu. “Kami tidak memnggunakan alat music gamelan, juga sebagai upaya meminalisir pembawaan property jauh-jauah ke Denpasar, maka membuat musik dengan lirik sesederhana mungkin, namun tetap bisa menyampaika pesan,” ucapnya.

Nong Nong Kling yang identik dengan drama gong, maka kali ini merasa ada tantangan menyajikan drama modern. “Kebetulan anak-anak sanggar ini tak hanya bermain drama gong, tetapi sudah ada yang pernah ikut di teater di kampus ataupun luar kampus, sehingga sudah mempunyai bibit-bibit drama modern tersebut, maka dari itu kami tidak merasa ada tantangan yang serius. Mudah-mudahan masyarakat seniman modern bisa menikmatinya, harapnya.

Drama Bali modern ‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Sanggar Nong Nong Kling, Singaraja

Mang Epo mengatakan, dari cerita ini tentu ada manfaatnya baik untuk pemain itu sendiri ataupun penonton. Pertama jelas pelestarian Bahasa Bali, karena di puri atau geria sekarang ini sudah menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi, sehingga ini ajang untuk pelestarian budaya. Kedua ini suatau agak kritikan dimana cerita ini kesetaraan. Artinya tidak memperdebatkan kasta itu. Ketiga karena ini ajang Bulan Bahasa Bali, maka secara otomatis anak-anak dipakasakan untuk belajar Bahasa Bali, Sastra dan termasuk aksara. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bulan Bahasa BaliBulan Bahasa Bali 2026drama bahasa baliDrama Bali ModernSanggar Nong Nong Klingteater bahasa bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

Next Post

‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails
Next Post
‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

'Lalu Biru'; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co