14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
in Panggung
‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

Drama Bali modern 'Mlantjaran ka Sasak' dari Sanggar Nong Nong Kling, Singaraja

SANGGAR Nong Nong Kling adalah kelompok seni pertunjukan yang lebih sering mementaskan drama gong, misalnya di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Namun, dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 ini, sanggar itu mementaskan teater atau drama Bali modern dengan begitu apik.

Meski sama-sama menggunakan bahasa Bali, drama gong dan drama Bali modern punya perbedaan terutama dari segi bentuk pemanggungan. Jika drama gong memiliki pakem yang cukup ketat, drama modern justru menantang munculnya gagasan-gagasan baru, bahkan sering memberontak pakem yang biasa dijadikan pedoman para seniman drama  sebelumnya.

Sanggar Nong Nong Kling tampaknya bisa menyesuaikan konsep panggung dari kebiasaan bermain drama gong menjadi drama modern ketika menyajikan Drama Bali Modern berjudul  “Mlantjaran ka Sasak” dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Jumat 20 Pebruari 2026.

Dalam penyajiannya sekitar satu jam itu, mereka menawarkan konsep-konsep baru, sehingga tak hanya menghibur, tetapi mampu menyampaikan pesan kepada penonton. Yang menarik, musik bukan dimainkan secara mandiri di sebuah panggung khusus, tetapi para pemain yang langsung memainkan musik melalui mulut, tembang dan celetukan-celetukan bermakna. Mereka biasa menyebutnya dengan istilah gamelan bungut, atau gamelan mulut.

Pertunjukan Sanggar Nong Nong Kling yang didukung sekitar 42 pemain itu mirip seperti sajian kesenian kecak, genjek, yang mengandalkan suara mulut sebagai iringan. Terkadang ngongkek, berbicara salaing sahutin, menyanyi bersama, terkadang pula melantunkan tembang yang menceritakan kisah dari adegan itu.

Dalam penyajiannya, mereka juga berhasil menguasai panggung Gedung Ksirarnawa, panggung presenium yang tergolong besar. Maka wajar, setiap adegannya selalu mendapat apresiasi pengunjung Bulan Bahasa Bali itu.

Drama Bali modern ‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Sanggar Nong Nong Kling, Singaraja

Sebagian besar pemain memang terbiasa bermaian drama gong, juga biasa menari Bali. Bisa disebut tubuh mereka masih tampak “tradisional”, namun sepertinya tubuh semacam itulah yang menjadi modal Nong Nong Kling untuk menghidupkan pertunjukan mereka.

Yang menarik, tata artistik juga digarap secara serius sebagaimana cara kerja artistik drama modern. Selain sepeda ontel yang masuk ke tengah panggung, properti lain yang diatur secara simbolik juga membuat garapan drama modern itu menjadi enak ditonton. Tentu saja, karena, selain kerap memainkan drama gong, sejumlah pemain, seperti Mang Aji, juga kerap ikut bermain dalam tetaer modern garapan Teater Selem Putih.

Drama ini mengisahkan di daerah Denbukit/ Buleleng sekitar tahun 1936 ada orang berkasta sudah tua. Beliau memiliki anak bernama Ida Ayu Priya, dan memiliki punakawan bernama Luh Sari dan I Made Sarati untuk punakawan pria. Dayu Priya senang belajar dan bersekolah, sama dengan I Made Sarati. Keduanya kemudian belajar hingga ke Jawa, sehingga keduanya berhasil pintar.

I Made Sarati adalah orang sudra atau jaba. Pada suatu hari sekolahnya libur, Dayu Priya jelan-jalan ke Sasak bersama Luh Sari dan Made Sarati. Itu karena perintah dari Ajiknya Dayu Priya agar Sarati ikut anaknya Dayu Priya ke Sasak. Di Sasak, Dayu Priya dan Made Sarati sudah tumbuh benih cinta. Namun, karena perbedaan kasta mereka tidak mau menyatakan cinta.

“Carita ini diangkat dari Novel berbahasa Bali merupakan karya Wayan Badra atau Gede Srawana nama di pena, Novel ini sempat dimuat di majalah Djatadjoe sekitar 1935-1939, lalu dibukukan tahun 1978,” kata Mang Ajik didampingi Mang Epo selaku sutradara di sela-sela pementasan itu.

Memang, sanggar asal Buleleng ini identik dengan pertunjukan drama gong tradisional, namun kali ini justru menyajikan sajian seni kekinian yang berhasil memkat pengunjung festival Bahasa, aksara dan sastra itu. Novel “Mlantjaran ka Sasak” itu diangkat ke dalam sebuah garapan drama modern dengan menggunakan konsep teater rakyat, seperti Lenong. Maka, wajar, sanggar yang memiliki besik drama gong itu, tampak tampil sederhana, tetapi penuh dengan kreativitas dan inovasi.

Anak-anak yang berperan sebagai penabuh dalam pementasan drama gong, kini terlibat sebagai pemain yang tak hanya melengkapi setiap adegan, tetapi juga berfungsi sebagai pengiring drama itu melalui suara-suara mulut. Terlebih, penyajian drama ini membutuhkan pemain yang cukup banyak, sehingga keterlibatan para penabuh itu menjadi solusi. “Karena itu, kami memakai konsep garapan Rengganis, kesenian tradisional dari daerah Penglatan, Buleleng. Kami adaptasi dari kesenian klasik itu,” kata Mang Ajik.

Memang, sajian drama modern ini mirip, seperti genggong, kecak bahkan genjek. Hanya saja, dipaduk dengan narasinya, sehingga pesan-pesan itu sampai kepada penonton. Sebut saja ketika ketika Dayu Priya dan Made Sarati ingin berjalan-jalan ke Sasak maka lagu yang ditembangkan menceritakan kisah mereka sudah sampai di Sasak. “Pertujukan ini murni menampilkan koreografi dan alur cerita yang utuh,” ujarnya.

Drama Bali modern ‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Sanggar Nong Nong Kling, Singaraja

Karena itu, dekorasi menjadi bagian terkecil dari penyajiannya. Dekosasi dibuat minimalis, seperti menggunakan latar dari kain hitam, level, dan sepeda untuk mendukung adegan agar lebih reel dan nyata. Level itu memiliki multi fungsi, yakni bisa menjadi kapal, menjadi kamar khusus untuk adegan di penginapan. “Itu karena kami ingin menggarap pertunjukannya. Kami ingin pertunjukan ini dinamis dan tidak bertele-tele. Artinya, mengandalkan kekuatan dari para actor, sehingga meminalisir penggunaan property yang hanya sebagai simbol-simbol saja,” ungkapnya.

Drama ini menceritakan masalah sistem kasta di Bali yang ditentang oleh orang-orang yang berkasta. Padahal, orang-orang di Bali itu menghormati hak dasar sebagai manusia yang memiliki hak asasi. Seorang jaba cinta terhadap orang berkasta itu sah-sah saja, dan tidak ada sekat. “Dalam drama ini, kami ingin tegaskan, sekarang ini penting ada rasa keadailan. Semua orang berhak mendapat pendidikan, kesehatan, dan sama dihadapan hukum. Itu sesungguhnya pesan yang ingin disampaikan dalam sasolah drama ini,” jelasnya.

Ilmu pengetahuan itu sangat berharga sekali, ketimbang berkutat pada kasta itu sendiri. Ilmu pengetahuan itu lebih penting dari memperdebatkan kasta itu sendiri. Ilmu pengatahuan itu berharga, siapapun boleh mencari ilmu pengetahuan. “Dulu saat novel ini dibuat masih kental-kentalnya kasta itu dihormati di Bali,” ceritanya.

Ketua sanggar yang juga sutradara, Nyoman Suardika alias Mang Epo mengatakan, drama ini lebih banyak menampilkan pemain-pemain muda. Karena drama ini digarap seperti kolosal yang harius 41 orang, maka mengambil sekaa tabuh drama itu. “Kami tidak memnggunakan alat music gamelan, juga sebagai upaya meminalisir pembawaan property jauh-jauah ke Denpasar, maka membuat musik dengan lirik sesederhana mungkin, namun tetap bisa menyampaika pesan,” ucapnya.

Nong Nong Kling yang identik dengan drama gong, maka kali ini merasa ada tantangan menyajikan drama modern. “Kebetulan anak-anak sanggar ini tak hanya bermain drama gong, tetapi sudah ada yang pernah ikut di teater di kampus ataupun luar kampus, sehingga sudah mempunyai bibit-bibit drama modern tersebut, maka dari itu kami tidak merasa ada tantangan yang serius. Mudah-mudahan masyarakat seniman modern bisa menikmatinya, harapnya.

Drama Bali modern ‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Sanggar Nong Nong Kling, Singaraja

Mang Epo mengatakan, dari cerita ini tentu ada manfaatnya baik untuk pemain itu sendiri ataupun penonton. Pertama jelas pelestarian Bahasa Bali, karena di puri atau geria sekarang ini sudah menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi, sehingga ini ajang untuk pelestarian budaya. Kedua ini suatau agak kritikan dimana cerita ini kesetaraan. Artinya tidak memperdebatkan kasta itu. Ketiga karena ini ajang Bulan Bahasa Bali, maka secara otomatis anak-anak dipakasakan untuk belajar Bahasa Bali, Sastra dan termasuk aksara. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bulan Bahasa BaliBulan Bahasa Bali 2026drama bahasa baliDrama Bali ModernSanggar Nong Nong Klingteater bahasa bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

Next Post

‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails
Next Post
‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

'Lalu Biru'; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co