14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
February 23, 2026
in Ulas Musik
‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

Sumber gambar: Youtube

“Kenapa baru memberikan bunga ketika orang itu sudah membiru…?”

Kalimat ini dilontarkan oleh pacar saya setelah dirinya melewati hari yang panjang dengan sesekali mendengarkan lagu “Lalu Biru” karya Eleanor Whisper.  Sebuah lagu dari band asal Medan yang bermarkas di Jakarta — Nama band yang terasa asing di telinga saya. Band ini tidak se-terkenal .feast dengan “Tarot” nyaataupun Barasuara dengan “Terbuang Dalam Waktu” nya. Tapi setelah ia (pacar saya) membagikan lagu ini kepada saya,  feel yang dibawakan terasa setara dengan band luar negeri Cigarette After Sex.

Lagu ini menciptakan diskusi mendalam antara kami berdua, membahas cinta, ketiadaan, dan betapa dungu manusia. Kedunguan seperti apa yang manusia lakukan? ia percaya bahwa manusia memiliki sifat yang kekal yang kami sebut sebagai “keterlambatan”. Konteks keterlambatan disini ia pakai untuk menjelaskan betapa tidak pedulinya manusia dalam memikirkan waktu bersama pasangannya. Apabila kekasihnya sudah tiada dan meninggalkan diri mereka, manusia akan cenderung menyesal dan rindu tak berdaya.

Ini sesuai dengan makna dari lagunya yang merupakan spekulasi saya pribadi. Ferri Neldy (gitaris/vokal band ini) dan rekan-rekannya seolah mengajak saya untuk merebahkan badan dengan menutup mata sembari membayangkan simulasi keterpisahan dengan senyuman seorang gadis yang semakin pudar dan menghilang, meninggalkan seorang lelaki sendirian dan bergejolak memandangi bulan di langit.

Dengan alunan musik rock indie dan lirik puitis sangat membuat suasana melankolis dan berhasil mengangkat tema besar dari lagu tersebut — yaitu kerinduan.

“Bila tubuhku membiru apakah kau datang sayang”

Lirik ini menjadi point utama dari seluruh diskusi kami. Ia merasa bahwa ketika seseorang masih hidup di dunia, tak ada yang spesial. Tawa hanya sekedar tawa dan bercengkrama hanya sebatas obrolan. Bahkan beberapa hanya sekilas saja. Namun apa arti tawa dan cengkrama apabila orang itu sudah tiada? Tentu rasanya akan menjadi berbeda.

Sebenarnya, “tubuh membiru” disini memiliki konteks masing-masing. Bagi saya sendiri “tubuh membiru” memberikan makna “kesedihan dalam diri”. Warna biru identik dengan melankolis dan juga kesedihan. Sehingga sosok aku dalam lagu ini mempertanyakan, “apakah cinta dari dirimu akan datang dikala aku sedih?” Tapi ia mendefinisikan makna “tubuh biru” sebagai “tubuh yang membusuk karena ajal menjemput”. Sehingga sosok aku seolah-oalah bertanya, “Jika aku tiada, apakah dirimu akan datang?”

Perbedaan makna ini menimbulkan perdebatan di antara kami. Ia merasa bahwa hari yang kita jalani hari ini bisa menjadi hari terakhir kita bersama seseorang. Karena kematian dan hari esok adalah misteri terbesar manusia saat ini. Tapi bagi saya sendiri, menganggap hari esok bisa menjadi hari terakhir itu justru membuat kita terus memikirkan kematian itu sendiri. Dan balik lagi, kematian adalah misteri, jadi untuk apa kita terus berfokus kepada kematian itu sendiri?

Pada titik ini, saya masih skeptis atas konsep “keterlambatan manusia” yang ia bawakan. Rasanya aneh saja jika manusia dikatakan “terlambat”. Akan lebih masuk akal apabila manusia dikatakan “menyesal” tak memberikan waktu lebih kepada pasangannya. Tapi setelah saya pikir baik-baik, “terlambat” dan “menyesal” memiliki konteks yang berbeda.

Terlambat memiliki konteks waktu dan peristiwa, sehingga sifatnya adalah objektif. Seperti contoh ketika kita terlambat pergi ke sekolah, konteks yang dibawakan adalah sebuah momen. Sehingga terlambat bekerja seperti sebuah kamera yang menangkap sebuah gambar dan menyimpannya pada kartu memori kita. Sisi lain, menyesal adalah respon emosional, maka akan bersifat sangat subjektif. Memori dari foto yang kita lihat akan menimbulkan reaksi batin di dalam kita — kira-kira seperti itu rasa menyesal bekerja.

Dengan memahami konteks tersebut, saya dan ia akhirnya sama-sama sepakat bahwa manusia sendiri memiliki sifat “keterlambatan” dalam menentukan momentum mereka. Tapi dalam benak saya muncul pertanyaan baru.

“Jika Sudah Tahu Bahwa Kematian akan Datang, Mengapa Manusia Tetap Tak Peduli?”

Sebuah hal yang tak masuk di logika saya ketika saya sadar betapa apatisnya manusia dalam menjalani hidup mereka, apalagi dalam konteks kebersamaan.

Coba pikir, siapa juga yang akan peduli dan terus menerus bertanya “Apakah besok aku mati?” atau “Apakah besok dirinya akan meninggalkanku?” pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya bisa saja dipikirkan. Tapi apakah manusia akan terus menerus memikirkannya? Kalau saya sendiri, tentu akan lelah! Memikirkan kematian setiap hari atau memikirkan pacar saya akan meninggalkan saya suatu hari nanti di setiap malam rasanya tidak relevan, karena saya yakin itu tidak akan terjadi (dalam waktu dekat).

Apa yang saya alami ternyata juga dialami oleh pacar saya dan juga 80 persen populasi manusia di dunia ini. Kadang kala kita melihat banyak kasus pasangan yang berpisah karena tidak cocok atau ajal menjemput, tapi rasanya itu tidak akan terjadi di hidup kita.

Kondisi ini disebut sebagai Optimism Bias, sebuah fenomena dimana seseorang memiliki kecenderungan untuk melebih-lebihkan kemungkinan yang positif dan meremehkan kemungkinan dengan hasil negatif. Dan ini normal secara neurologis,  otak manusia cenderung responsif pada informasi positif agar kita tak terus cemas memikirkan 1000 skenario perpisahan dengan pasangan kita.

Sebenarnya Optimism Bias tidak hanya bekerja pada konteks hubungan, tapi kehidupan manusia itu sendiri. Misalkan sifat apatis masyarakat atas sampah dan bencana di sekitar mereka. Justru menimbulkan sifat apatis dalam diri mereka. Bukan karena mereka jahat, tapi karena respon alami otak untuk membuat kita tidak cemas atas masa depan mereka. Akhirnya manusia malah terlihat seperti “nyaman di keamanan yang palsu” dan tak sadar hal mengerikan akan tiba di depan mereka.

Tapi kita tak bisa menyalahkan manusia sepenuhnya! Otak memang dirancang untuk memproses kemungkinan dan realitas secara berbeda. Kematian bersifat abstrak bagi otak, tapi ketiadaan fisik dari seseorang yang selalu berada di samping diri kita akan terasa lebih menghantam.

Di mana dikau (yang tercinta)
Yang tercinta
Apakah sang malam mendengarkan kata yang kuucap

Lirik ini membuat saya mempertanyakan sebuah arti “ucapan adalah doa”. Orang dulu selalu bilang bahwa berhati-hati lah bercakap, jaga mulut dan omongan. Karena ucapan akan menjadi kenyataan. Tapi yang terjadi adalah ucapan itu bukan yang memuat menjadi kenyataan. Tapi buah pikiran lah yang berperan besar.

Keterlambatan manusia hadir dari pemikiran bahwa waktu yang mereka miliki masih panjang. Optimisme membuat mereka meremehkan waktu, dan dari sini mereka tidak bisa memanfaatkan waktu untuk diri mereka, sesama manusia, maupun alam semesta itu sendiri. Dalam konteks lirik di atas, dirimu tetap ku cari, sosok ku cintai yang selalu ku ucapkan yang padahal sosokmu sudah tak ada.

Pada akhirnya, “Lalu Biru” bukan hanya tentang kehilangan seseorang. Lagu ini seperti cermin yang memantulkan wajah manusia ketika waktu telah lewat dan kesempatan telah hilang.

Diskusi saya dan pacar saya mungkin tidak menemukan jawaban pasti tentang kematian atau tentang mengapa manusia kerap meremehkan waktu. Namun satu hal yang kami pahami: keterlambatan bukan selalu soal tidak tahu, melainkan soal merasa masih punya waktu.

Optimism bias membuat manusia mampu berharap, tetapi juga membuatnya lengah. Kita hidup dengan keyakinan bahwa esok masih tersedia, bahwa orang yang kita cintai akan tetap ada di samping kita. Sampai suatu hari, waktu menjawab dengan caranya sendiri.

Barangkali manusia tidak sepenuhnya salah. Kita tidak bisa hidup dengan terus-menerus membayangkan kehilangan. Kita juga tidak mungkin mencintai dengan dihantui ketakutan setiap detik. Namun mungkin yang bisa kita lakukan adalah menyadari bahwa waktu tidak pernah benar-benar menjadi milik kita.

Mungkin lagu ini tidak meminta kita untuk takut akan kematian. Ia hanya mengingatkan agar kita tidak menunggu sesuatu menjadi “biru” sebelum kita menyadari nilainya.

Karena pada akhirnya, yang paling sunyi bukanlah perpisahan itu sendiri, melainkan kata-kata yang diucapkan ketika pendengarnya sudah tiada. [T]

Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole

Tags: laguulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

Next Post

‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

'Basur' Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co