24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
February 23, 2026
in Ulas Musik
‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

Sumber gambar: Youtube

“Kenapa baru memberikan bunga ketika orang itu sudah membiru…?”

Kalimat ini dilontarkan oleh pacar saya setelah dirinya melewati hari yang panjang dengan sesekali mendengarkan lagu “Lalu Biru” karya Eleanor Whisper.  Sebuah lagu dari band asal Medan yang bermarkas di Jakarta — Nama band yang terasa asing di telinga saya. Band ini tidak se-terkenal .feast dengan “Tarot” nyaataupun Barasuara dengan “Terbuang Dalam Waktu” nya. Tapi setelah ia (pacar saya) membagikan lagu ini kepada saya,  feel yang dibawakan terasa setara dengan band luar negeri Cigarette After Sex.

Lagu ini menciptakan diskusi mendalam antara kami berdua, membahas cinta, ketiadaan, dan betapa dungu manusia. Kedunguan seperti apa yang manusia lakukan? ia percaya bahwa manusia memiliki sifat yang kekal yang kami sebut sebagai “keterlambatan”. Konteks keterlambatan disini ia pakai untuk menjelaskan betapa tidak pedulinya manusia dalam memikirkan waktu bersama pasangannya. Apabila kekasihnya sudah tiada dan meninggalkan diri mereka, manusia akan cenderung menyesal dan rindu tak berdaya.

Ini sesuai dengan makna dari lagunya yang merupakan spekulasi saya pribadi. Ferri Neldy (gitaris/vokal band ini) dan rekan-rekannya seolah mengajak saya untuk merebahkan badan dengan menutup mata sembari membayangkan simulasi keterpisahan dengan senyuman seorang gadis yang semakin pudar dan menghilang, meninggalkan seorang lelaki sendirian dan bergejolak memandangi bulan di langit.

Dengan alunan musik rock indie dan lirik puitis sangat membuat suasana melankolis dan berhasil mengangkat tema besar dari lagu tersebut — yaitu kerinduan.

“Bila tubuhku membiru apakah kau datang sayang”

Lirik ini menjadi point utama dari seluruh diskusi kami. Ia merasa bahwa ketika seseorang masih hidup di dunia, tak ada yang spesial. Tawa hanya sekedar tawa dan bercengkrama hanya sebatas obrolan. Bahkan beberapa hanya sekilas saja. Namun apa arti tawa dan cengkrama apabila orang itu sudah tiada? Tentu rasanya akan menjadi berbeda.

Sebenarnya, “tubuh membiru” disini memiliki konteks masing-masing. Bagi saya sendiri “tubuh membiru” memberikan makna “kesedihan dalam diri”. Warna biru identik dengan melankolis dan juga kesedihan. Sehingga sosok aku dalam lagu ini mempertanyakan, “apakah cinta dari dirimu akan datang dikala aku sedih?” Tapi ia mendefinisikan makna “tubuh biru” sebagai “tubuh yang membusuk karena ajal menjemput”. Sehingga sosok aku seolah-oalah bertanya, “Jika aku tiada, apakah dirimu akan datang?”

Perbedaan makna ini menimbulkan perdebatan di antara kami. Ia merasa bahwa hari yang kita jalani hari ini bisa menjadi hari terakhir kita bersama seseorang. Karena kematian dan hari esok adalah misteri terbesar manusia saat ini. Tapi bagi saya sendiri, menganggap hari esok bisa menjadi hari terakhir itu justru membuat kita terus memikirkan kematian itu sendiri. Dan balik lagi, kematian adalah misteri, jadi untuk apa kita terus berfokus kepada kematian itu sendiri?

Pada titik ini, saya masih skeptis atas konsep “keterlambatan manusia” yang ia bawakan. Rasanya aneh saja jika manusia dikatakan “terlambat”. Akan lebih masuk akal apabila manusia dikatakan “menyesal” tak memberikan waktu lebih kepada pasangannya. Tapi setelah saya pikir baik-baik, “terlambat” dan “menyesal” memiliki konteks yang berbeda.

Terlambat memiliki konteks waktu dan peristiwa, sehingga sifatnya adalah objektif. Seperti contoh ketika kita terlambat pergi ke sekolah, konteks yang dibawakan adalah sebuah momen. Sehingga terlambat bekerja seperti sebuah kamera yang menangkap sebuah gambar dan menyimpannya pada kartu memori kita. Sisi lain, menyesal adalah respon emosional, maka akan bersifat sangat subjektif. Memori dari foto yang kita lihat akan menimbulkan reaksi batin di dalam kita — kira-kira seperti itu rasa menyesal bekerja.

Dengan memahami konteks tersebut, saya dan ia akhirnya sama-sama sepakat bahwa manusia sendiri memiliki sifat “keterlambatan” dalam menentukan momentum mereka. Tapi dalam benak saya muncul pertanyaan baru.

“Jika Sudah Tahu Bahwa Kematian akan Datang, Mengapa Manusia Tetap Tak Peduli?”

Sebuah hal yang tak masuk di logika saya ketika saya sadar betapa apatisnya manusia dalam menjalani hidup mereka, apalagi dalam konteks kebersamaan.

Coba pikir, siapa juga yang akan peduli dan terus menerus bertanya “Apakah besok aku mati?” atau “Apakah besok dirinya akan meninggalkanku?” pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya bisa saja dipikirkan. Tapi apakah manusia akan terus menerus memikirkannya? Kalau saya sendiri, tentu akan lelah! Memikirkan kematian setiap hari atau memikirkan pacar saya akan meninggalkan saya suatu hari nanti di setiap malam rasanya tidak relevan, karena saya yakin itu tidak akan terjadi (dalam waktu dekat).

Apa yang saya alami ternyata juga dialami oleh pacar saya dan juga 80 persen populasi manusia di dunia ini. Kadang kala kita melihat banyak kasus pasangan yang berpisah karena tidak cocok atau ajal menjemput, tapi rasanya itu tidak akan terjadi di hidup kita.

Kondisi ini disebut sebagai Optimism Bias, sebuah fenomena dimana seseorang memiliki kecenderungan untuk melebih-lebihkan kemungkinan yang positif dan meremehkan kemungkinan dengan hasil negatif. Dan ini normal secara neurologis,  otak manusia cenderung responsif pada informasi positif agar kita tak terus cemas memikirkan 1000 skenario perpisahan dengan pasangan kita.

Sebenarnya Optimism Bias tidak hanya bekerja pada konteks hubungan, tapi kehidupan manusia itu sendiri. Misalkan sifat apatis masyarakat atas sampah dan bencana di sekitar mereka. Justru menimbulkan sifat apatis dalam diri mereka. Bukan karena mereka jahat, tapi karena respon alami otak untuk membuat kita tidak cemas atas masa depan mereka. Akhirnya manusia malah terlihat seperti “nyaman di keamanan yang palsu” dan tak sadar hal mengerikan akan tiba di depan mereka.

Tapi kita tak bisa menyalahkan manusia sepenuhnya! Otak memang dirancang untuk memproses kemungkinan dan realitas secara berbeda. Kematian bersifat abstrak bagi otak, tapi ketiadaan fisik dari seseorang yang selalu berada di samping diri kita akan terasa lebih menghantam.

Di mana dikau (yang tercinta)
Yang tercinta
Apakah sang malam mendengarkan kata yang kuucap

Lirik ini membuat saya mempertanyakan sebuah arti “ucapan adalah doa”. Orang dulu selalu bilang bahwa berhati-hati lah bercakap, jaga mulut dan omongan. Karena ucapan akan menjadi kenyataan. Tapi yang terjadi adalah ucapan itu bukan yang memuat menjadi kenyataan. Tapi buah pikiran lah yang berperan besar.

Keterlambatan manusia hadir dari pemikiran bahwa waktu yang mereka miliki masih panjang. Optimisme membuat mereka meremehkan waktu, dan dari sini mereka tidak bisa memanfaatkan waktu untuk diri mereka, sesama manusia, maupun alam semesta itu sendiri. Dalam konteks lirik di atas, dirimu tetap ku cari, sosok ku cintai yang selalu ku ucapkan yang padahal sosokmu sudah tak ada.

Pada akhirnya, “Lalu Biru” bukan hanya tentang kehilangan seseorang. Lagu ini seperti cermin yang memantulkan wajah manusia ketika waktu telah lewat dan kesempatan telah hilang.

Diskusi saya dan pacar saya mungkin tidak menemukan jawaban pasti tentang kematian atau tentang mengapa manusia kerap meremehkan waktu. Namun satu hal yang kami pahami: keterlambatan bukan selalu soal tidak tahu, melainkan soal merasa masih punya waktu.

Optimism bias membuat manusia mampu berharap, tetapi juga membuatnya lengah. Kita hidup dengan keyakinan bahwa esok masih tersedia, bahwa orang yang kita cintai akan tetap ada di samping kita. Sampai suatu hari, waktu menjawab dengan caranya sendiri.

Barangkali manusia tidak sepenuhnya salah. Kita tidak bisa hidup dengan terus-menerus membayangkan kehilangan. Kita juga tidak mungkin mencintai dengan dihantui ketakutan setiap detik. Namun mungkin yang bisa kita lakukan adalah menyadari bahwa waktu tidak pernah benar-benar menjadi milik kita.

Mungkin lagu ini tidak meminta kita untuk takut akan kematian. Ia hanya mengingatkan agar kita tidak menunggu sesuatu menjadi “biru” sebelum kita menyadari nilainya.

Karena pada akhirnya, yang paling sunyi bukanlah perpisahan itu sendiri, melainkan kata-kata yang diucapkan ketika pendengarnya sudah tiada. [T]

Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole

Tags: laguulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

Next Post

‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails

‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 21, 2026
0
‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam...

Read moreDetails

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
0
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral...

Read moreDetails

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
0
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

Read moreDetails

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails

The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 1, 2026
0
The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

“Rhythm of the Rain” yang dinyanyikan oleh The Cascades tetaplah lagu yang sama seperti ketika pertama kali kita memutarnya puluhan...

Read moreDetails

Movin’ On dan Pelajaran tentang Keindahan

by Nyoman Sukaya Sukawati
February 18, 2026
0
Movin’ On dan Pelajaran tentang Keindahan

"Yang paling dalam tidak pernah berisik, ia tahu kapan harus berbunyi, dan kapan memberi jeda" * SAYA pertama kali memegang...

Read moreDetails
Next Post
‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

'Basur' Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co