4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
February 23, 2026
in Ulas Musik
‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

Sumber gambar: Youtube

“Kenapa baru memberikan bunga ketika orang itu sudah membiru…?”

Kalimat ini dilontarkan oleh pacar saya setelah dirinya melewati hari yang panjang dengan sesekali mendengarkan lagu “Lalu Biru” karya Eleanor Whisper.  Sebuah lagu dari band asal Medan yang bermarkas di Jakarta — Nama band yang terasa asing di telinga saya. Band ini tidak se-terkenal .feast dengan “Tarot” nyaataupun Barasuara dengan “Terbuang Dalam Waktu” nya. Tapi setelah ia (pacar saya) membagikan lagu ini kepada saya,  feel yang dibawakan terasa setara dengan band luar negeri Cigarette After Sex.

Lagu ini menciptakan diskusi mendalam antara kami berdua, membahas cinta, ketiadaan, dan betapa dungu manusia. Kedunguan seperti apa yang manusia lakukan? ia percaya bahwa manusia memiliki sifat yang kekal yang kami sebut sebagai “keterlambatan”. Konteks keterlambatan disini ia pakai untuk menjelaskan betapa tidak pedulinya manusia dalam memikirkan waktu bersama pasangannya. Apabila kekasihnya sudah tiada dan meninggalkan diri mereka, manusia akan cenderung menyesal dan rindu tak berdaya.

Ini sesuai dengan makna dari lagunya yang merupakan spekulasi saya pribadi. Ferri Neldy (gitaris/vokal band ini) dan rekan-rekannya seolah mengajak saya untuk merebahkan badan dengan menutup mata sembari membayangkan simulasi keterpisahan dengan senyuman seorang gadis yang semakin pudar dan menghilang, meninggalkan seorang lelaki sendirian dan bergejolak memandangi bulan di langit.

Dengan alunan musik rock indie dan lirik puitis sangat membuat suasana melankolis dan berhasil mengangkat tema besar dari lagu tersebut — yaitu kerinduan.

“Bila tubuhku membiru apakah kau datang sayang”

Lirik ini menjadi point utama dari seluruh diskusi kami. Ia merasa bahwa ketika seseorang masih hidup di dunia, tak ada yang spesial. Tawa hanya sekedar tawa dan bercengkrama hanya sebatas obrolan. Bahkan beberapa hanya sekilas saja. Namun apa arti tawa dan cengkrama apabila orang itu sudah tiada? Tentu rasanya akan menjadi berbeda.

Sebenarnya, “tubuh membiru” disini memiliki konteks masing-masing. Bagi saya sendiri “tubuh membiru” memberikan makna “kesedihan dalam diri”. Warna biru identik dengan melankolis dan juga kesedihan. Sehingga sosok aku dalam lagu ini mempertanyakan, “apakah cinta dari dirimu akan datang dikala aku sedih?” Tapi ia mendefinisikan makna “tubuh biru” sebagai “tubuh yang membusuk karena ajal menjemput”. Sehingga sosok aku seolah-oalah bertanya, “Jika aku tiada, apakah dirimu akan datang?”

Perbedaan makna ini menimbulkan perdebatan di antara kami. Ia merasa bahwa hari yang kita jalani hari ini bisa menjadi hari terakhir kita bersama seseorang. Karena kematian dan hari esok adalah misteri terbesar manusia saat ini. Tapi bagi saya sendiri, menganggap hari esok bisa menjadi hari terakhir itu justru membuat kita terus memikirkan kematian itu sendiri. Dan balik lagi, kematian adalah misteri, jadi untuk apa kita terus berfokus kepada kematian itu sendiri?

Pada titik ini, saya masih skeptis atas konsep “keterlambatan manusia” yang ia bawakan. Rasanya aneh saja jika manusia dikatakan “terlambat”. Akan lebih masuk akal apabila manusia dikatakan “menyesal” tak memberikan waktu lebih kepada pasangannya. Tapi setelah saya pikir baik-baik, “terlambat” dan “menyesal” memiliki konteks yang berbeda.

Terlambat memiliki konteks waktu dan peristiwa, sehingga sifatnya adalah objektif. Seperti contoh ketika kita terlambat pergi ke sekolah, konteks yang dibawakan adalah sebuah momen. Sehingga terlambat bekerja seperti sebuah kamera yang menangkap sebuah gambar dan menyimpannya pada kartu memori kita. Sisi lain, menyesal adalah respon emosional, maka akan bersifat sangat subjektif. Memori dari foto yang kita lihat akan menimbulkan reaksi batin di dalam kita — kira-kira seperti itu rasa menyesal bekerja.

Dengan memahami konteks tersebut, saya dan ia akhirnya sama-sama sepakat bahwa manusia sendiri memiliki sifat “keterlambatan” dalam menentukan momentum mereka. Tapi dalam benak saya muncul pertanyaan baru.

“Jika Sudah Tahu Bahwa Kematian akan Datang, Mengapa Manusia Tetap Tak Peduli?”

Sebuah hal yang tak masuk di logika saya ketika saya sadar betapa apatisnya manusia dalam menjalani hidup mereka, apalagi dalam konteks kebersamaan.

Coba pikir, siapa juga yang akan peduli dan terus menerus bertanya “Apakah besok aku mati?” atau “Apakah besok dirinya akan meninggalkanku?” pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya bisa saja dipikirkan. Tapi apakah manusia akan terus menerus memikirkannya? Kalau saya sendiri, tentu akan lelah! Memikirkan kematian setiap hari atau memikirkan pacar saya akan meninggalkan saya suatu hari nanti di setiap malam rasanya tidak relevan, karena saya yakin itu tidak akan terjadi (dalam waktu dekat).

Apa yang saya alami ternyata juga dialami oleh pacar saya dan juga 80 persen populasi manusia di dunia ini. Kadang kala kita melihat banyak kasus pasangan yang berpisah karena tidak cocok atau ajal menjemput, tapi rasanya itu tidak akan terjadi di hidup kita.

Kondisi ini disebut sebagai Optimism Bias, sebuah fenomena dimana seseorang memiliki kecenderungan untuk melebih-lebihkan kemungkinan yang positif dan meremehkan kemungkinan dengan hasil negatif. Dan ini normal secara neurologis,  otak manusia cenderung responsif pada informasi positif agar kita tak terus cemas memikirkan 1000 skenario perpisahan dengan pasangan kita.

Sebenarnya Optimism Bias tidak hanya bekerja pada konteks hubungan, tapi kehidupan manusia itu sendiri. Misalkan sifat apatis masyarakat atas sampah dan bencana di sekitar mereka. Justru menimbulkan sifat apatis dalam diri mereka. Bukan karena mereka jahat, tapi karena respon alami otak untuk membuat kita tidak cemas atas masa depan mereka. Akhirnya manusia malah terlihat seperti “nyaman di keamanan yang palsu” dan tak sadar hal mengerikan akan tiba di depan mereka.

Tapi kita tak bisa menyalahkan manusia sepenuhnya! Otak memang dirancang untuk memproses kemungkinan dan realitas secara berbeda. Kematian bersifat abstrak bagi otak, tapi ketiadaan fisik dari seseorang yang selalu berada di samping diri kita akan terasa lebih menghantam.

Di mana dikau (yang tercinta)
Yang tercinta
Apakah sang malam mendengarkan kata yang kuucap

Lirik ini membuat saya mempertanyakan sebuah arti “ucapan adalah doa”. Orang dulu selalu bilang bahwa berhati-hati lah bercakap, jaga mulut dan omongan. Karena ucapan akan menjadi kenyataan. Tapi yang terjadi adalah ucapan itu bukan yang memuat menjadi kenyataan. Tapi buah pikiran lah yang berperan besar.

Keterlambatan manusia hadir dari pemikiran bahwa waktu yang mereka miliki masih panjang. Optimisme membuat mereka meremehkan waktu, dan dari sini mereka tidak bisa memanfaatkan waktu untuk diri mereka, sesama manusia, maupun alam semesta itu sendiri. Dalam konteks lirik di atas, dirimu tetap ku cari, sosok ku cintai yang selalu ku ucapkan yang padahal sosokmu sudah tak ada.

Pada akhirnya, “Lalu Biru” bukan hanya tentang kehilangan seseorang. Lagu ini seperti cermin yang memantulkan wajah manusia ketika waktu telah lewat dan kesempatan telah hilang.

Diskusi saya dan pacar saya mungkin tidak menemukan jawaban pasti tentang kematian atau tentang mengapa manusia kerap meremehkan waktu. Namun satu hal yang kami pahami: keterlambatan bukan selalu soal tidak tahu, melainkan soal merasa masih punya waktu.

Optimism bias membuat manusia mampu berharap, tetapi juga membuatnya lengah. Kita hidup dengan keyakinan bahwa esok masih tersedia, bahwa orang yang kita cintai akan tetap ada di samping kita. Sampai suatu hari, waktu menjawab dengan caranya sendiri.

Barangkali manusia tidak sepenuhnya salah. Kita tidak bisa hidup dengan terus-menerus membayangkan kehilangan. Kita juga tidak mungkin mencintai dengan dihantui ketakutan setiap detik. Namun mungkin yang bisa kita lakukan adalah menyadari bahwa waktu tidak pernah benar-benar menjadi milik kita.

Mungkin lagu ini tidak meminta kita untuk takut akan kematian. Ia hanya mengingatkan agar kita tidak menunggu sesuatu menjadi “biru” sebelum kita menyadari nilainya.

Karena pada akhirnya, yang paling sunyi bukanlah perpisahan itu sendiri, melainkan kata-kata yang diucapkan ketika pendengarnya sudah tiada. [T]

Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole

Tags: laguulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

Next Post

‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails
Next Post
‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

'Basur' Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co