24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
February 19, 2026
in Panggung
Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

Tari Dhanwantari│Foto: Dok. Mang Adi

SORE itu, di atas panggung utama, lima penari perempuan berdiri dalam sikap anggun nan tegas. Jemari mereka lentik, sorot mata tajam namun teduh. Di belakangnya, videotron menampilkan nama yang sarat makna: Dhanwantari. Pada Jumat, 13 Februari 2026, tepat di puncak peringatan Hari Ulang Tahun SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) ke-17, tarian itu resmi diluncurkan.

Tari Dhanwantari lahir dari kesadaran akan pentingnya simbol. Kepala SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar, I Komang Rika Adi Putra, M.Pd., melihat bahwa di usia ke-17, sekolah yang berdiri sejak 2009 di bawah naungan Yayasan Bali Medika Denpasar itu membutuhkan ikon yang merepresentasikan jati dirinya. Selama ini, sekolah-sekolah di Bali lazim memiliki tari maskot sebagai identitas artistik yang melekat pada setiap perayaan dan momentum penting. Sementara Kesbam belum memilikinya.

Ia menginisiasi proses panjang penciptaan tari maskot dengan seleksi yang tidak mudah. Koreografer dan komposer dari berbagai kabupaten dipertimbangkan. Setelah melalui berbagai perhitungan, pilihan jatuh kepada dua seniman dari Gianyar: I Komang Adi Pranata, S.Pd., M.Sn. atau akrab disapa Mang Adi sebagai koreografer, dan I Wayan Agus Suardiana Putra, S.Pd., M.Pd. atau akrab disapa Yancul (Wayan Muncul) yang juga pengajar di Kesbam sebagai komposer.

Di antara para penari, dari kiri ke kanan: I Wayan Agus Suardiana Putra (Komposer), I Komang Rika Adi Putra (Kepala Sekolah), & I Komang Adi Pranata (Koreografer)│Foto: Dok. Mang Adi

Pemilihan nama Dhanwantari bukan tanpa alasan. Dalam khazanah Hindu, Dhanwantari dikenal sebagai awatara Dewa Wisnu yang membawa kesehatan dan pengobatan. Ia muncul dalam kisah pengadukan lautan susu (Samudramanthana), ketika para dewa dan asura mencari amrta ─ air suci kehidupan. Dari pusaran samudra itu, Dhanwantari tampil membawa kendi berisi amrta serta ramuan obat. Sejak saat itu, ia dihormati sebagai pembawa ilmu pengobatan, pencetus ilahi Ayurveda, dan tabib para dewa.

Filosofi inilah yang menjadi ruh tarian. Dalam konteks sekolah kesehatan, Dhanwantari bukan sekadar figur mitologis, melainkan simbol cita-cita. Ia melambangkan penyatuan ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan kasih sayang ─ tiga hal yang menjadi fondasi tenaga kesehatan. Menjaga keseimbangan pikiran, jiwa, dan raga. Menjaga diri sendiri, sekaligus peduli pada orang lain.

Tari Dhanwantari│Foto: Dok. Mang Adi

Bagi I Komang Adi Pranata alias Mang Adi, proses menerjemahkan filosofi itu ke dalam gerak adalah tantangan sekaligus kehormatan. Koreografer yang dikenal lewat Komunitas Manubada dan berbagai karyanya di event-event besar itu mengaku merasakan kesan mendalam selama proses penciptaan.

“Saya merasa sangat berkesan, senang, dan berbahagia bisa terlibat dalam proses ini. Semoga karya ini benar-benar bisa menjadi identitas yang kuat bagi SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar,” ujarnya.

Ia menggarap Tari Dhanwantari sebagai tarian putri dengan karakter agung dan mulia. Gerakannya tegas namun tetap anggun, memancarkan wibawa tanpa kehilangan kelembutan. Ada simbolisasi membawa kendi, meracik ramuan, hingga gestur memberi berkah ─ semua dirangkai dalam struktur koreografi yang dinamis, tetapi tidak terlampau rumit agar memungkinkan dipelajari oleh siswa Kesbam lainnya.

Menariknya, menurut Mang Adi, hampir tidak ada kendala berarti selama proses kreatifnya. “Semua berjalan dengan santai, asyik, dan seru,” katanya. Kolaborasi antara dirinya dan komposer berlangsung cair. Diskusi-diskusi kecil mengalir tanpa beban, tetapi tetap fokus pada satu tujuan: melahirkan karya monumental yang membumi dan mudah diwariskan.

Mang Adi membantu persiapan Tari Dhanwantari│Foto: Dok. Mang Adi

Di sisi musikal, I Wayan Agus Suardiana Putra alias Yancul menghadapi tantangan tersendiri. Ia menyadari bahwa gending tari maskot ini bukan sekadar musik pengiring, melainkan penopang karakter.

“Saya turut merasa bangga dipilih sebagai komposer Tari Dhanwantari, karena dapat berkontribusi untuk kemajuan KESBAM dan meninggalkan kenangan hidup atas nama saya di sini,” tuturnya.

Namun kebanggaan itu dibarengi kehati-hatian. Ia memikirkan secara matang komposisi yang tepat. “Gending tarinya harus bagus, nyaman ditarikan, dan mudah dipelajari oleh siswa Kesbam,” katanya. Sebagai pengajar di sekolah tersebut, ia memahami betul kemampuan dan kebutuhan siswa.

Mang Adi membantu persiapan Tari Dhanwantari│Foto: Dok. Mang Adi

Ada satu momen unik dalam proses penciptaan musiknya. Untuk pertama kalinya, Yancul menggunakan MIDI (Musical Instrument Digital Interface) dengan bantuan I Putu Widatama sebagai penerjemah di aplikasi DAW (Digital Audio Workstation). Jika biasanya ia harus mengoordinasikan puluhan penabuh untuk menghasilkan sebuah garapan, kini cukup satu ‘penabuh digital’.

“Biasanya susah mengurus penabuh yang berjumlah puluhan orang untuk membuat karya. Sekarang cukup satu orang ‘penabuh digital’ sudah bisa membuat karya tabuh. Secara kasar, komposisi ini rampung dalam empat kali pertemuan. Total enam kali pertemuan termasuk rekaman instrumen suling dan proses mixing & mastering.” ungkapnya.

Bagi Yancul, ini adalah karya gending tari maskot pertamanya. Nilai emosionalnya tak bisa diabaikan. Ia menyebut keterlibatannya sebagai bagian dari sejarah sekolah tempatnya bekerja. Ia juga mengaku bangga dapat berkolaborasi dengan koreografer profesional seperti I Komang Adi Pranata.

Tari Dhanwantari│Foto: Dok. Mang Adi

 

Proses kreatif di balik layar tak kalah menarik. Lima penari terpilih melalui seleksi ketat, di antaranya Bunga Lestari, Ni Luh Putu Nindy Pratiwi, Gusti Ayu Semara Dewi, Ni Kadek Anintya Kusuma, dan Ni Luh Nagita Putri. Mereka menjadi penari pertama yang menarikan Dhanwantari.

Bunga Lestari mengaku bangga dipercaya menjadi penari maskot perdana. “Setelah melalui proses seleksi yang diikuti banyak peserta, saya dipercaya untuk menjadi penari maskot ini. Menjadi kehormatan tersendiri bagi saya,” katanya.

Namun kehormatan itu dibayar dengan disiplin. Selama kurang lebih dua bulan, mereka berlatih hingga malam. Rasa lelah dan badan pegal menjadi teman sehari-hari. “Bukan perjalanan yang mudah. Kami berlatih hingga malam, melewati rasa lelah dan badan yang terasa sakit hampir setiap hari. Tapi semua terbayar ketika akhirnya kami bisa menarikan maskot ini untuk pertama kalinya,” ujar Bunga.

Justru di tengah kelelahan itu, kekompakan tumbuh. Dari awalnya canggung, perlahan mereka saling menguatkan. Ikatan tim terbentuk bukan hanya lewat gerakan yang seragam, tetapi juga rasa percaya satu sama lain.

Tari Dhanwantari│Foto: Dok. Mang Adi

 

Ni Luh Nagita Putri merasakan hal serupa. Ia menyebut pengalaman ini sebagai momen yang sangat berharga. “Saya sangat senang, bangga, dan bersyukur diberi kepercayaan menjadi penari pertama dalam tarian ini. Bagi saya, pengalaman ini tidak hanya menambah keterampilan menari, tetapi juga melatih rasa percaya diri, tanggung jawab, dan kekompakan,” tuturnya.

Menurut Nagita, keunikan Tari Dhanwantari terletak pada gerakan yang memiliki ciri khas dan memberi ruang ekspresi pada setiap penari. Meski koreografi telah ditata, setiap individu tetap menghadirkan warna.

“Setiap penari memiliki gaya dan ekspresi yang membuat tarian ini lebih hidup dan dinamis. Gerakan-gerakan cepat yang cukup ekstrem justru menjadi pemacu semangat.” katanya.

Penari Dhanwantari bersama I Komang Adi Pranata (Koreografer)│Foto: Dok. Mang Adi

 

Peluncuran Tari Dhanwantari pada HUT Kesbam ke-17 menjadi momen simbolik. Di panggung itu, para penari tidak hanya menampilkan estetika, tetapi juga menegaskan arah dan karakter sekolah lewat tarian. SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar yang dikenal sebagai salah satu sekolah kesehatan terkemuka di Bali dengan akreditasi A, dengan empat jurusan ─ Keperawatan dan Caregiving, Farmasi Klinis dan Komunitas, Teknologi Laboratorium Medik, serta Manajemen Perkantoran (Rumah Sakit) ─ kini memiliki identitas artistik atas visi dan misinya.

Tari Dhanwantari secara tersirat menjadi simbolis perjalanan siswa Kesbam. Mereka datang sebagai remaja yang belajar, ditempa disiplin dan ilmu. Kelak, mereka diharapkan menjadi tenaga kesehatan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga berkarakter dan penuh empati. Seperti Dhanwantari yang membawa amrta, mereka diharapkan membawa ‘air kehidupan’ bagi masyarakat ─ dalam bentuk pelayanan, kepedulian, dan pengabdian.

Di usia ke-17 tahun, yang kerap dimaknai sebagai fase kedewasaan, SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar menandai langkahnya dengan sebuah karya. Tari Dhanwantari bukan sekadar koreografi yang ditarikan di panggung-panggung seremoni. Ia adalah pernyataan nilai dan penanda identitas.

Nilai tentang ilmu yang tidak boleh terlepas dari moral. Tentang kesehatan yang bukan hanya urusan fisik, tetapi juga jiwa. Tentang sekolah yang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Budarsana

Tags: kesenian baliseni tariSMK Kesehatan Bali Medikatari kebesaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
0
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

Read moreDetails

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
0
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

Read moreDetails

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

Read moreDetails

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

Read moreDetails

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

Read moreDetails

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu...

Read moreDetails

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

by Nyoman Budarsana
June 19, 2026
0
Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan...

Read moreDetails

Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

by Nyoman Budarsana
June 18, 2026
0
Tiongkok di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Perpaduan Seni Musik Pertunjukan, Tarian Tradisional hingga Pameran Warisan Budaya Tak Benda

MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang...

Read moreDetails

Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

by Nyoman Budarsana
June 15, 2026
0
Timor Leste di BWCC Pesta Kesenian Bali 2026:  Tarian Klasik dan Ragam Budaya Unik

INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah...

Read moreDetails

Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

by Ingga Adelia
June 15, 2026
0
Komunitas Aghumi Gelar Beranda Pustaka: Ruang Budaya Hidup Meriahkan Pesta Kesenian Bali hingga Festival Seni Bali Jani 2026

DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co