3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
February 19, 2026
in Panggung
Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

Tari Dhanwantari│Foto: Dok. Mang Adi

SORE itu, di atas panggung utama, lima penari perempuan berdiri dalam sikap anggun nan tegas. Jemari mereka lentik, sorot mata tajam namun teduh. Di belakangnya, videotron menampilkan nama yang sarat makna: Dhanwantari. Pada Jumat, 13 Februari 2026, tepat di puncak peringatan Hari Ulang Tahun SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) ke-17, tarian itu resmi diluncurkan.

Tari Dhanwantari lahir dari kesadaran akan pentingnya simbol. Kepala SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar, I Komang Rika Adi Putra, M.Pd., melihat bahwa di usia ke-17, sekolah yang berdiri sejak 2009 di bawah naungan Yayasan Bali Medika Denpasar itu membutuhkan ikon yang merepresentasikan jati dirinya. Selama ini, sekolah-sekolah di Bali lazim memiliki tari maskot sebagai identitas artistik yang melekat pada setiap perayaan dan momentum penting. Sementara Kesbam belum memilikinya.

Ia menginisiasi proses panjang penciptaan tari maskot dengan seleksi yang tidak mudah. Koreografer dan komposer dari berbagai kabupaten dipertimbangkan. Setelah melalui berbagai perhitungan, pilihan jatuh kepada dua seniman dari Gianyar: I Komang Adi Pranata, S.Pd., M.Sn. atau akrab disapa Mang Adi sebagai koreografer, dan I Wayan Agus Suardiana Putra, S.Pd., M.Pd. atau akrab disapa Yancul (Wayan Muncul) yang juga pengajar di Kesbam sebagai komposer.

Di antara para penari, dari kiri ke kanan: I Wayan Agus Suardiana Putra (Komposer), I Komang Rika Adi Putra (Kepala Sekolah), & I Komang Adi Pranata (Koreografer)│Foto: Dok. Mang Adi

Pemilihan nama Dhanwantari bukan tanpa alasan. Dalam khazanah Hindu, Dhanwantari dikenal sebagai awatara Dewa Wisnu yang membawa kesehatan dan pengobatan. Ia muncul dalam kisah pengadukan lautan susu (Samudramanthana), ketika para dewa dan asura mencari amrta ─ air suci kehidupan. Dari pusaran samudra itu, Dhanwantari tampil membawa kendi berisi amrta serta ramuan obat. Sejak saat itu, ia dihormati sebagai pembawa ilmu pengobatan, pencetus ilahi Ayurveda, dan tabib para dewa.

Filosofi inilah yang menjadi ruh tarian. Dalam konteks sekolah kesehatan, Dhanwantari bukan sekadar figur mitologis, melainkan simbol cita-cita. Ia melambangkan penyatuan ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan kasih sayang ─ tiga hal yang menjadi fondasi tenaga kesehatan. Menjaga keseimbangan pikiran, jiwa, dan raga. Menjaga diri sendiri, sekaligus peduli pada orang lain.

Tari Dhanwantari│Foto: Dok. Mang Adi

Bagi I Komang Adi Pranata alias Mang Adi, proses menerjemahkan filosofi itu ke dalam gerak adalah tantangan sekaligus kehormatan. Koreografer yang dikenal lewat Komunitas Manubada dan berbagai karyanya di event-event besar itu mengaku merasakan kesan mendalam selama proses penciptaan.

“Saya merasa sangat berkesan, senang, dan berbahagia bisa terlibat dalam proses ini. Semoga karya ini benar-benar bisa menjadi identitas yang kuat bagi SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar,” ujarnya.

Ia menggarap Tari Dhanwantari sebagai tarian putri dengan karakter agung dan mulia. Gerakannya tegas namun tetap anggun, memancarkan wibawa tanpa kehilangan kelembutan. Ada simbolisasi membawa kendi, meracik ramuan, hingga gestur memberi berkah ─ semua dirangkai dalam struktur koreografi yang dinamis, tetapi tidak terlampau rumit agar memungkinkan dipelajari oleh siswa Kesbam lainnya.

Menariknya, menurut Mang Adi, hampir tidak ada kendala berarti selama proses kreatifnya. “Semua berjalan dengan santai, asyik, dan seru,” katanya. Kolaborasi antara dirinya dan komposer berlangsung cair. Diskusi-diskusi kecil mengalir tanpa beban, tetapi tetap fokus pada satu tujuan: melahirkan karya monumental yang membumi dan mudah diwariskan.

Mang Adi membantu persiapan Tari Dhanwantari│Foto: Dok. Mang Adi

Di sisi musikal, I Wayan Agus Suardiana Putra alias Yancul menghadapi tantangan tersendiri. Ia menyadari bahwa gending tari maskot ini bukan sekadar musik pengiring, melainkan penopang karakter.

“Saya turut merasa bangga dipilih sebagai komposer Tari Dhanwantari, karena dapat berkontribusi untuk kemajuan KESBAM dan meninggalkan kenangan hidup atas nama saya di sini,” tuturnya.

Namun kebanggaan itu dibarengi kehati-hatian. Ia memikirkan secara matang komposisi yang tepat. “Gending tarinya harus bagus, nyaman ditarikan, dan mudah dipelajari oleh siswa Kesbam,” katanya. Sebagai pengajar di sekolah tersebut, ia memahami betul kemampuan dan kebutuhan siswa.

Mang Adi membantu persiapan Tari Dhanwantari│Foto: Dok. Mang Adi

Ada satu momen unik dalam proses penciptaan musiknya. Untuk pertama kalinya, Yancul menggunakan MIDI (Musical Instrument Digital Interface) dengan bantuan I Putu Widatama sebagai penerjemah di aplikasi DAW (Digital Audio Workstation). Jika biasanya ia harus mengoordinasikan puluhan penabuh untuk menghasilkan sebuah garapan, kini cukup satu ‘penabuh digital’.

“Biasanya susah mengurus penabuh yang berjumlah puluhan orang untuk membuat karya. Sekarang cukup satu orang ‘penabuh digital’ sudah bisa membuat karya tabuh. Secara kasar, komposisi ini rampung dalam empat kali pertemuan. Total enam kali pertemuan termasuk rekaman instrumen suling dan proses mixing & mastering.” ungkapnya.

Bagi Yancul, ini adalah karya gending tari maskot pertamanya. Nilai emosionalnya tak bisa diabaikan. Ia menyebut keterlibatannya sebagai bagian dari sejarah sekolah tempatnya bekerja. Ia juga mengaku bangga dapat berkolaborasi dengan koreografer profesional seperti I Komang Adi Pranata.

Tari Dhanwantari│Foto: Dok. Mang Adi

 

Proses kreatif di balik layar tak kalah menarik. Lima penari terpilih melalui seleksi ketat, di antaranya Bunga Lestari, Ni Luh Putu Nindy Pratiwi, Gusti Ayu Semara Dewi, Ni Kadek Anintya Kusuma, dan Ni Luh Nagita Putri. Mereka menjadi penari pertama yang menarikan Dhanwantari.

Bunga Lestari mengaku bangga dipercaya menjadi penari maskot perdana. “Setelah melalui proses seleksi yang diikuti banyak peserta, saya dipercaya untuk menjadi penari maskot ini. Menjadi kehormatan tersendiri bagi saya,” katanya.

Namun kehormatan itu dibayar dengan disiplin. Selama kurang lebih dua bulan, mereka berlatih hingga malam. Rasa lelah dan badan pegal menjadi teman sehari-hari. “Bukan perjalanan yang mudah. Kami berlatih hingga malam, melewati rasa lelah dan badan yang terasa sakit hampir setiap hari. Tapi semua terbayar ketika akhirnya kami bisa menarikan maskot ini untuk pertama kalinya,” ujar Bunga.

Justru di tengah kelelahan itu, kekompakan tumbuh. Dari awalnya canggung, perlahan mereka saling menguatkan. Ikatan tim terbentuk bukan hanya lewat gerakan yang seragam, tetapi juga rasa percaya satu sama lain.

Tari Dhanwantari│Foto: Dok. Mang Adi

 

Ni Luh Nagita Putri merasakan hal serupa. Ia menyebut pengalaman ini sebagai momen yang sangat berharga. “Saya sangat senang, bangga, dan bersyukur diberi kepercayaan menjadi penari pertama dalam tarian ini. Bagi saya, pengalaman ini tidak hanya menambah keterampilan menari, tetapi juga melatih rasa percaya diri, tanggung jawab, dan kekompakan,” tuturnya.

Menurut Nagita, keunikan Tari Dhanwantari terletak pada gerakan yang memiliki ciri khas dan memberi ruang ekspresi pada setiap penari. Meski koreografi telah ditata, setiap individu tetap menghadirkan warna.

“Setiap penari memiliki gaya dan ekspresi yang membuat tarian ini lebih hidup dan dinamis. Gerakan-gerakan cepat yang cukup ekstrem justru menjadi pemacu semangat.” katanya.

Penari Dhanwantari bersama I Komang Adi Pranata (Koreografer)│Foto: Dok. Mang Adi

 

Peluncuran Tari Dhanwantari pada HUT Kesbam ke-17 menjadi momen simbolik. Di panggung itu, para penari tidak hanya menampilkan estetika, tetapi juga menegaskan arah dan karakter sekolah lewat tarian. SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar yang dikenal sebagai salah satu sekolah kesehatan terkemuka di Bali dengan akreditasi A, dengan empat jurusan ─ Keperawatan dan Caregiving, Farmasi Klinis dan Komunitas, Teknologi Laboratorium Medik, serta Manajemen Perkantoran (Rumah Sakit) ─ kini memiliki identitas artistik atas visi dan misinya.

Tari Dhanwantari secara tersirat menjadi simbolis perjalanan siswa Kesbam. Mereka datang sebagai remaja yang belajar, ditempa disiplin dan ilmu. Kelak, mereka diharapkan menjadi tenaga kesehatan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga berkarakter dan penuh empati. Seperti Dhanwantari yang membawa amrta, mereka diharapkan membawa ‘air kehidupan’ bagi masyarakat ─ dalam bentuk pelayanan, kepedulian, dan pengabdian.

Di usia ke-17 tahun, yang kerap dimaknai sebagai fase kedewasaan, SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar menandai langkahnya dengan sebuah karya. Tari Dhanwantari bukan sekadar koreografi yang ditarikan di panggung-panggung seremoni. Ia adalah pernyataan nilai dan penanda identitas.

Nilai tentang ilmu yang tidak boleh terlepas dari moral. Tentang kesehatan yang bukan hanya urusan fisik, tetapi juga jiwa. Tentang sekolah yang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Budarsana

Tags: kesenian baliseni tariSMK Kesehatan Bali Medikatari kebesaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co